Mr. Appartment (Part 5) (Melepas Cinta Pertama)

 

MA5

Title : mr. Appartment part 5
Author : butterfly agashi

FB : Indah Fitria

Twitter : @iindahfiitriia
Length : chapter
Cast : song yura
lee hyun wu
lee hankang
shin hye jin
kim jongwoon
park jungsu

“ff ini pernah di share di akun fb ku. jika chingudeul merasa pernah baca, berarti chingudeul pernah baca di note ku..”
thanks eon ana and sem and lovely eonni(read: lie ang ang)

haaahhh, ini part yang cukup lama bagi amatiran ini yang  berusaha belajar dengan giat pada guru yang tak disebutkan namanya. dalam part ini aku sangat menggebu-gebu, tapi di part ini pula aku mendapatkan writers block (*yang ga ngerti cari di uncle google).

feels nya engga dapet.. itu memang kebiasaan saya…

tolong komen dengan ending yang readers harapkan -.-

 

————————-part sebelumnya

 

“tidak. Aku tidak akan baik-baik saja. Aku terlalu munafik jika mengaku akan baik-baik saja,” yura kembali menenggelamkan wajahnya kepundak hyunwu. Membiarkan air matanya membasahi sweater dan coat yang digunakan laki-laki itu.

 

“kau akan segera baik-baik saja,” kata hyunwu terakhir kali sebelum membawa yura masuk kedalam mobil. Ia memasangkan seatbelt gadis itu dan melajukan mobilnya dengan santai di jalanan sekitar universitas seoul itu.

 

part 5—————————————

 

“Disaat semuanya memburuk, kau harus tetap mengharapkan sebuah kejadian baik setelah itu. Bahkan saat badai datang menghancurkan pertahananmu, kau harus tetap berharap untuk bisa membangun sebuah pertahanan baru. Karena, jika kau sudah melepaskan rasa harap dalam hidupmu. Saat itulah semua jalan kehidupanmu akan berkahir” –lee hyunwoo

 

 

“apa kau sudah merasa lebih nyaman?” Tanya hyunwu pada yura yang duduk di meja dapur dengan secangkir teh ditangan.

 

“kuharap begitu,” kata yura dengan suara serak.

 

“apa kau ingin minum soju?” hyunwu merasa ragu dengan tawarannya itu.

 

“tidak. Aku tidak pernah suka dengan rasanya.”

 

“kalau begitu bagaimana kalau kita bernyanyi. Atap, diatap apartemen kita ada taman. Kita bisa bernyanyi disana. Menikmati angin dan bintang dilangit musim gugur.”

 

Yura tidak menjawab. Dia terpaku pada gelas yang ada ditangannya.

 

“ayolah,” hyunwu memasangkan syal berwarna biru tua keleher yura dan menarik gadis itu agar bangkit dari tempat duduknya. Dia memapah gadis itu hingga kepintu keluar dan berlari kembali kedalam kamarnya mengambil gitar akustik yang ia pengang dengan sebelah tangan kirinya.

 

Hyunwu menutup pintu apartemen dan mengecek jika pintu itu terkunci dengan baik. Yura masih sama sekali tidak bersemangat. Hyunwu menariknya pelan agar gadis itu bergerak. Di dalam lift yura masih sama, tenggelam dalam pikiran-pikiran yang tidak diketahui hyunwu. Hingga lift sampai di lantai terakhir yura tetap sibuk dengan pikirannya. Hal itu membuat hyunwu sedikit kesal pada hankang, dengan cepat ia menekan salah satu tombol agar pintu lift itu tetap terbuka.

 

Tanpa banyak pertimbangan hyunwu menaikkan yura kesebelah bahunya. Menggotong gadis itu agar cepat tersadar dari pikirannya. Hyunwu sedikit kesulitan karena tangan kirinya masih harus membawa gitar. Yura yang sebelumnya tidak fokus menjadi kaget. Dalam satu gerakan ia langsung berada di disebelah bahu hyunwu. Otaknya yang sebelumnya mati rasa, reflek untuk segera memberontak.

 

“Yaa, apa yang kau lakukan? Mworago?” kata yura setengah berteriak setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.

 

“Diam, dan berhenti bergerak. Kau sudah cukup berat.”

 

“mwo? Ya hyunwu-ya turunkan. Kau pikir aku apa? Karung tepung di toko roti? Cepat turunkan,” yura tidak menggubris perkataan hyunwu.

 

“kau lebih berat dari sekarung gandum. Jadi jangan coba untuk membandingkan nya,” hyun wu lebih tidak peduli dengan semua ucapan yura. Ia tetap membiarkan gadis itu berada disebelah bahunya, melewati tangga di lantai terakhir untuk menuju atap.

 

“Phalli, turunkankan aku.”

 

“Tadi kau sangat tidak bersemangat. Bagaimana sekarang kau bisa ribut sekali seperti ini?”

 

Yura tidak menjawab. Pertanyaan itu kembali melayangkan pikirannya pada hankang. Dia merasa benar-benar munafik sebelumnya. Perkataannya tadi siang dengan hankang kembali tergiang dikepalanya. “oppa tidak perlu menjawabnya. Aku rasa oppa cukup mengetahui perasaan ku ini saja”. “oppa tidak perlu meminta maaf. Aku hanya menyampaikan perasaanku”. Betapa munafiknya ia hingga mengatakan hal seperti itu pada hankang, pikirnya. Tapi nyatanya yura tidak bisa menahan diri. Ia tetap merasa begitu sakit saat hankang pergi dengan wanita bernama shin hyejin itu.

 

“yura-ya,” hankang mengecek apa yura masih mendengarnya dan membuka kenop pintu menuju atap.

 

“ah, ye. apa yang akan kita lakukan di atap?” Tanya yura pada hyunwu. Sangat jelas ia tidak mendengarkan perkataan hyunwu sebelumnya.

 

“kau banar-benar tidak mendengarkanku. Tadi aku sudah bilang kita akan melihat bintang. Malam ini cukup cerah.”

 

Hankang menurunkan tubuh ringan yura diatas rumput di taman atap itu. Gadis itu merasa sedikit asing, tapi ia memilih untuk duduk diam sejenak hingga hyunwu duduk disebelahnya. Udara cukup dingin tapi yura menikmati rasa dingin yang menusuk kulit kakinya. Seolah rasa dingin itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan rasa sakit yang ada di dadanya.

 

“apa kau hanya akan duduk saja disitu? Nikmati langitnya,” kata hyunwu memecah kesunyian.

 

Yura terlihat ragu. Setelah pertimbangan singkat ia berbaring di rumput hijau yang segar itu, menarik nafas panjang sejenak dan memejamkan mata sejenak.

 

“bagaimana bisa.. bagaimana bisa taman ini mempunyai rumput?” yura mengusap rumput hijau yang ia rasa aneh jika berada di taman atap gedung apartemen.

 

“kau juga terkesan? Salah satu alasan Aku dan hyung memilih apartemen ini adalah hal itu. Taman atap dengan rumput hijau. Gagasan yang sangat menarik bukan?”

 

“hyung menyukai taman ini dan dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mempunyai taman atap seperti ini. walaupun taman ini milik seluruh penghuni apartemen,” hyunwu menambahkan perkataannya.

 

“jongwoon-ssi? Apa kau menyukai dia sebanyak itu?” yura memandangi langit kota seoul yang berbintang di musim gugur.

 

“ya. Dia sudah seperti hyung-ku sendiri. Aku bahkan sempat berpikir untuk mencomblanginya dengan noona-ku.”

 

“lalu mengapa tidak jadi? Mengapa jongwoon-ssi pergi ke kanada? kurasa itu bukan hanya jalan-jalan seperti biasanya,” yura mengira-ngira. Ia merasa tertarik dengan kejanggalan yang ia rasakan sebelumnya.

 

“kau benar, keadaan sebenarnya memang tidak seperti itu. Kanada adalah ambisi hyung sejak ia SMA. Dan alasan mengapa aku tidak jadi menjodohkannya dengan noona-ku karena hyung tidak bisa melihat wanita lain selain han hyo jae.”

 

“han hyo jae?”

 

“ya, dia gadis yang membuat hyung menjadikan kanada sebagai ambisinya. Hyo jae-ssi, cinta pertama hyung saat SMA dan gadis itu pindah ke kanada setelah lulus tanpa memberi tahu hyung.”

 

“jongwoon-ssi membuat iri saja,” kata yura dengan biasa, sebenarnya kata-kata itu benar-benar datang dari dalam hantinya. Ia iri pada han hyo jae.

 

“benar sekali. Dia mencampakkan noona-ku yang cantik dan melarikan diri ke kanada. aku harus memberinya pelajaran saat kembali nanti,” hyunwu terkekeh karena kata-katanya sendiri dan menambahkan kalimatnya “jika ia kembali”

 

‘apa aku harus tetap menunggu hankang oppa yang memiliki wanita lain? Atau apa aku harus melepaskannya? hatiku menolak untuk meninggalkannya. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?’ pikir yura dalam hati. Langit malam dan bintang-bintang itu memang membuatnya merasa lebih baik. Tapi ia tetap merasa ada yang salah dengan hatinya dan cara kerja paru-parunya. Paru-parunya terasa lebih kecil sehingga udara yang ia hirup membuatnya merasa sesak.

 

Hyunwu memetik gitarnya perlahan membuat yura yang sebelumnya memandang langit melihkan kan wajahnya. Hyunwu tersenyum, ia ingin menyenangkan gadis yang berbagi apartemen dengannya itu hari ini. hyun wu juga memiliki rasa cinta yang terpendam pada seseorang. sehingga ia tahu bagaimana perasaan yura sekarang. Dan reaksi yura yang murung dan tak bersemangat membuat hyunwu semakin ragu untuk mengejar cintanya itu. Ia merasa tidak percaya diri.

 

Hello, hello, naege gihwereul jwoyo (beri aku kesempatan)

Hello, hello, geure jigeumeun eotteoji mollado (ya, akupun tak tahu saat ini)

Who knows, uri duri (siapa yang tahu? kita berdua?)

(Un myeongilji molla) Mungkin ini takdir

 

 

Hello, nae gyeoteul maemdon geu shigan deureul gyesok (waktu yang kuhabiskan disisimu)

Geu eotteon gippeum gwado bigyo motae no more, (Bisa tidak lebih dibandingkan dengan segala kebahagiaan lain)

geudael ijen pyohyeon halsu eopgo (Aku tidak bisa mengekspresikan diri padamu)

Nae simjangeun da weonhae never let you go (Hati ku menginginkanmu, tidak pernah membiarkan kau pergi )

Ireohge sarangimyeon jeoldae annohchyeo (Jika ini adalah cinta, aku tidak akan membiarkannya pergi )

Who knows (Siapa yang tau?)

Who knows, uri duri (siapa yang tahu? kita berdua)

 

Hello, hello

(hello by shinee)

 

Yura tersenyum geli. Bagaimana bisa hyunwu menyanyikan lagu shinee yang notabene adalah boyband remaja. Ia cukup kagum dengan suara merdu laki-laki itu, tapi ia malu untuk mngakuinya.

“Wu-ya. shine? Kau benar-benar mengagumkan. Kudengar kau bermain drama musikal. Lalu apa itu saja lagu yang bisa kau nyanyikan?” tantang yura, sejenak ia merasa lega karena hyunwu mau menemaninya di hari yang berat itu.

 

Cheotsarangeun areumdawoseo (cinta pertama itu indah)

Cheotsarangeun ggotiramnida (cinta pertama bagaikan bunga)

Bomi omyeon hwahlchag pineun o~ Nuni bushin ggotcheorom

(bunga yang indah merekah ditengah musim semi)

Cheotsarangeun eorinaechorom (cinta pertama muda dan tak berdosa)

Cheotsarangeun seotureumnida (cinta pertama itu asing)

Sarangeurakgimeobsi ju-go kajjil mothanikka (seperti rapuhnya cinta remaja)

illa illa illa, illa illa illa, illa illa illa, gomawoyo my love (terima kasih cintaku)

(illa illa by juniel)

 

Hyunwu menghentikan petikan gitarnya. Bola matanya menangkap sosok yura yang terhanyut dalam nyanyiannya. Kini gadis itu terlihat cantik. Dengan rambut hitam panjang yang tertutup syal yang ia pinjamkan. Jika saja ia bertemu gadis ini lebih dulu, pikirnya.

 

“othe?” tanya hyunwu, membuat yura terbangun dari lamunan akan lagu yang membuatnya terhanyut.

 

“manis sekali, hyunwu-ya apa kau punya keinginan? Aku akan mengabulkannya. karena kau sudah membuat perasaanku menjadi lebih baik,” ucap yura berbinar.

 

“apa kau yakin?” goda hyunwu.

 

“ye.”

 

“aku punya. Tapi bisakah aku menyimpannya untuk lain waktu saja?”

 

“ne, terserah padamu. Hyunwu-ya,” kata gadis itu sembari menggumamkan lirik lagu yang tadi dinyanyikan hyunwu.

 

“kau benar, cinta pertama itu memang indah,” tambah yura dengan wajah yang lebih berbinar.

 

cinta pertama itu indah. Hingga kau akan dengan mudah nya bisa melupakan waktu dimana cinta pertama itu menyakitimu dan menerimanya kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa”

 

——

 

Hari ini cukup menyenangkan bagi Hyunwu. Ya, dia sudah mendapatkan kembali jadwal latihan yang seperti biasanya. Jadwal latihan. Sebenarnya bukan itu yang membuatnya merasa lebih baik, tapi lee hye jin. Gadis yang sudah menguasai hatinya itu bisa dengan mudah ia temui di jam latihan.

 

Hyunwu menikmati caffe latte hangat yang ia pesan. Ia baru saja selesai latihan dan melepas lelahnya di café angel in us coffe yang tak jauh dari kampusnya. Ia masih meminjam mobil noona-nya, hingga wanita itu kembali dari busan. Setelah perjalanan singkatnya di jinan selesai wanita itu masih harus menuju busan untuk urusan yang lain.

 

“hyunwu-ssi?” kata seseorang yang berhasil membuyarkan lamunan laki-laki itu dan membuatnya menjadi kikuk.

 

“ye, lee hye jin?” katanya masih dengan wajah kaget bercampur sumringah.

 

“ah, aku sudah yakin jika itu kau. Boleh aku bergabung?” Tanya hyejin sembari duduk di kursi kayu dihadapan hyunwu.

 

“tentu saja,” kata hyunwu yakin. Ia tidak harus kehilangan momen berharga yang sangat jarang ia dapatkan. Berdua bersama lee hye jin. Mereka mulai membicarakan drama musikal, peran-peran yang mereka anggap menarik, hingga actor yang mereka anggap hebat. Semuanya terasa mengalir begitu saja. Hingga sebuah nada dering memecah suasana cerita yang mereka buat.

 

“yeoboseo, oopa?” hyejin mendekatkan posel itu kesebelah telinganya.

 

“ah, ye. rumah sakit. Ne, arraseo,” tak lama gadis itu menutup teleponnya.

 

“wae?” Tanya hyunwu ramah.

 

“eommaku, dia sedang dirumah sakit dan sekarang sudah jadwalku untuk menjaganya. Terima kasih atas ceritamu hyunwu-ssi. Sampai jumpa lagi,” gadis itu memamerkan senyum manisnya. Dengan sebelah tangan ia membawa tasnya dan melambaikan tangan pada hyunwu dari balik dinding kaca café itu.

 

“aku menyukaimu hyejin-ssi,” kata hyunwu kemudian sebelum mengambil tasnya dan pergi.

 

——

 

Udara dingin dan cuaca berangin di waktu musim gugur adalah salah satu dari banyak penyebab flu di musim itu. Yura merapatkan coat yang ia kenakan dan mengeluarkan sebuah masker dari dalam tasnya. Ia tidak ingin terserang flu saat tidak ada orang yang bisa mengurusinya. Tentu saja ia tidak ingin menyusahkan hyunwu lagi. Laki-laki itu sudah terlalu banyak membantu, pikirnya.

 

Yura masih menunggu kedatangan bis untuk menuju apartemenya. Udara terlalu dingin untuk berjalan kaki. Namun, sepertinya akan sama saja jika ia masih tetap menunggu bis untuk waktu yang cukup lama.

 

“yura-ya,” kata suara taka sing dari dalam mobil. Mobil putih itu membawa orang yang tidak ingin yura temui saat ini.

 

“ah, eh oppa,” yura menjawab dengan canggung.

 

“masuklah, cuaca diluar sangat dingin,” hankang membukakan pintu disebelah kemudi.

 

“ah tidak perlu, aku menunggu bis saja,” kata yura menolak. Ia masih ragu dengan perasaannya sendiri. Apa ia harus berada di mobil yang sama dengan hankang? Padahal ia masih belum bisa meyakinkan perasaannya untuk melupakan laki-laki itu.

 

“apa yang kau lakukan? Seharusnya kau masuk saja ketika oppa minta. Adik kecilku,” hankang mendorong yura masuk kedalam mobilnya. Gadis yang didorong itu pasrah tidak bisa menghindari situasi ini.

 

‘adik kecil’ gumam yura lirih. Ia meneguk ludah dan duduk di mobil itu dengan pandangan keluar jandela. Ia benar-benar harus menyelesaikan perasaannya pada hankang. Setelah reaksi hankang yang tidak berubah sama sekali dan kata ‘adik kecil’ yang digunakannya.

 

“oppa, terima kasih.”

 

“wae?”tanya hankang bingung.

 

“karena masih menganggapku adik dan tidak berubah sama sekali,” hening dan tidak ada pembicaraan lain di dalam mobil itu. Hanya radio yang mengalunkan musik cinta khas musim gugur yang sendu.

 

sebelumnya aku menyembunyikan perasaanku karena satu alasan. Aku takut setelah kau mengetahuinya, kau akan menajuh dan meninggalaknku. Tapi melihat reaksi yang kuterima setelah menyatakannya. Aku lega. Dan sepertinya aku memang harus melepaskanmu. Cinta pertamaku

 

 

——-

 

tidak ada yang tahu kapan perasaanmu akan berubah. Bahkan disaat kau yakin perasaanmu masih bersama orang itu, bisa saja hatimu berkata lain dan mengianati semua kewarasan yang kau miliki”

 

Udara semakin dingin, musim dingin sepertinya tidak akan lama lagi. Dan seperti halnya semua orang yang tidak menyukai suhu rendah, hyunwu menggulung tubuhnya dengan selimut. Ia tahu sudah hampir pukul tujuh, dan aroma kopi sudah tercium dari dapurnya tapi ia hanya belum ingin bangun.

 

hyunwu teringat saat keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan pada pagi beberapa waktu lalu. Ia merasa kikuk dengan situasi itu, mengingat sekarang yura bukan lagi orang yang menumpang di salah satu kamar apartemen nya. aroma kopi tercium lagi, hyunwu membayangkan yura yang tengah memanggang roti dan menyeduh teh. Ia semakin malas untuk keluar dari kamarnya. Dan sekali lagi ia menggulungkan selimut ketubuhnya berguling-guling untuk menghindari sesuatu.

 

——

 

Yura sudah selesai memanggang roti dan tengah menikmati aroma teh chamomile yang masih mengepul dihadapannya. Sekali ia melirik kearah kamar hyunwu. Aneh sekali karena karena laki-laki itu belum bangun. Yura mengangkat gelas tehnya yang sudah tidak terlalu panas. Gadis itu meneguk tehnya saat seorang wanita muda cantik layaknya seorang model masuk ke apartemennya.

 

“mi… mianhae, apa aku salah masuk apartemen? Tapi kode pintunya benar. Ini apartemen adikku kan?” kata wanita itu dengan wajah panik.

 

“ah…ye. hyunwu-ssi eonni?” Tanya yura tidak kalah panik.

 

“hyunwu? Ye, kau mengenal hyunwu. Berarti aku tidak salah masuk apartemen. Tapi, apa yang terjadi disini? Nuguseo?”

 

“ak.. aku.. othokae? Othokae? Sebenarnya.. maksudku.. sebenarnya..” yura teragagap, ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan gadis di depannya.

 

“hyunwu yeoja chingu?” wanita itu mulai menebak.

 

Yura tidak bisa menjawab. Wajahnya semakin memucat. Apa ia harus membangunkan hyunwu yang sepertinya masih tertidur? Apa ia harus mengarang cerita? Mungkin mengarang cerita terlihat lebih baik, tapi cerita seperti apa yang harus ia karang. Kepalanya seperti akan pecah. Mengapa mimpi buruknya harus terjadi di pagi hari yang sangat tenang.

 

“apa kopiku sudah siap chagi-ya?” hyunwu keluar dari kamarnya dengan wajah jahil. Tapi ekspresi itu tidak bertahan lama. karena seketika seelah ia melihat sosok kakaknya ada di dalam apartemen wajah hyunwu berubah grogi. Ia mengutuki mulutnya yang jahil itu. Ya, panggilan chagi itu hanya lelucon di pagi hari yang ingin ia tunjukan pada yura. Tidak ada maksud lain.

 

Yura membelalak kaget. ‘Apa dia sudah gila. Apa ia ingin segera ke neraka’ kutuk yura dalam hati. Ia sudah cukup dikagetkan dengan kehadiran wanita yang mengaku sebagai kakak hyunwu pagi itu. Tapi apa, laki-laki bodoh itu malah keluar dari kamar dengan memanggilnya chagi, apa maksudnya panggilan bodoh itu? Yura memang yakin itu hanya sebuah lelucon. Tapi orang lain tidak akan bisa mengerti, walaupun yura sudah menjelaskannya ribuan kali.

 

“chagi?? Gadis itu? Jadi aku benar, dia yeoja chingumu?” kerutan dikening kakak hyunwu memperjelas betapa terkejutnya.

 

“ah, ehm. Noona kenapa kemari,” hyunwu berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Tentu saja itu tidak sulit mengingat dia adalah actor drama musikal.

 

“mobil, noona kemari mengambil mobil. Kau bilang hanya meminjamnya sebentar. tunggu, jawab aku dulu, siapa gadis itu?”

 

“ah, song yura, namanya song yura,” hyunwu melihat yura sekilas menimbang haruskah ia memperkenal kan yura pada kakaknya.

 

“yura-ya, ini noonaku. Young-in noona. Noonaku tercinta yang ingin sekali kujodohkan dengan jongwoon oppa,” kata hyunwu lagi setelahmelihat sorotan tajam mata noona nya, meminta untuk diperkenalkan.

 

“annyeonghaseyo, yura-imnida. Banggapseumnida young-in eonni,” yura terlihat sedikit grogi, tapi ia tetap menunduk memberi salam, menunjukkan kalau ia orang yang sapan.

 

“ne, lee young-in-imnida. Hubungan kalian?” young-in menautkan alisnya masih mempertanyakan status kedua orang yang ada di depannya.

 

“yura-ya, yura nae yeoja chingu,” kata hyunwu mantap, membuat yura terbelalak dan meneguk ludah.

 

“kau membawa pacarmu ke apartemen? Kita harus bicara lain kali. Hari ini aku sibuk, jadi lain kali saja aku mengintrogasi kalian. Yura-ssi akan lebih baik jika kau menginap di apartemenmu sendiri. Kita masih orang timur,” lee young-in meninggalkan ruangan itu setelah mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja. Sekali gadis itu menoleh kebelakang. Hari ini ia cukup sibuk jadi kejadian ini harus dilupakan terlebih dahulu.

 

“mwo? Yeoja? chingu?” Tanya yura setelah young-in menghilang dari balik pintu.

 

“ye, kau perempuan dan kau juga temanku. Tepat sekali ‘yeoja’ ‘chingu’,” hyunwu beralasan.

 

“yeee?? Kau tahu semua orang bisa salah paham karena ucapanmu itu? Dan ‘chagi’ apa kau sedang tidak waras? Mengapa banyak kata-kata bodoh yang kau ucapkan pagi ini eoh?.”

 

 

-TBC-

 

haaahhhh

othe? readers setiaku?? (read : eon lie, eon weny, isya saeng and eon cho)

wakakakaka

guruku gimana perkembangan muridmu ini eoh?

dan eonni lie, mengapa akhir-akhir ini eonni ngak memberi inspirasi??

*tebar kembang*

isya saeng bersabar yah… ^^

9 thoughts on “Mr. Appartment (Part 5) (Melepas Cinta Pertama)

  1. daebak eonni ….!!!!
    tgl post nya past ultah q,tpi aku baru bca hri ini ….
    ff nyahh keren bgtz …
    i like this …🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s