LOVE IS PAIN | Chapter 9

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 9

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :                                                 

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 9

NAE RI’S POV

 

Pagi ini tak terlalu dingin bagiku karena musim salju akan segera berakhir. Aku mengamati setiap goresan dan desain yang sudah selesai aku kerjakan lalu memasukkannya kedalam tas kerjaku. Hari ini akan menjadi hari tersibukku untuk menentukan konsep majalah bulan ini. Rapat, revisi, dan melihat desain para newbie yang masuk di perusahaan ini beberapa bulan lalu.

Aku seakan melihat diriku sendiri dalam diri mereka, berusaha semampu mungkin menciptakan desain baru dan menarik. Aku beranjak dari meja kerjaku dan menuju dapur untuk memasak sarapan pagi ini. Seperti biasa, eggroll dan segelas kopi menjadi makanan wajibku dipagi hari.

Ingatanku kembali pada sosok Hyemi yang selalu membuatkanku sarapan, dan memandangiku ketika bangun tidur lalu berteriak saat aku lupa mematikan keran di kamar mandi dan masih banyak lainnya. Aku tersenyum, dan meraih ponsel yang ada dimeja makan, menekan tombol hijau.

“Hyemi-ah…..” Dengan bersemangat aku berteriak memanggil nama wanita itu.

“Aku sedang memasak, seperti biasanya.” Tambahku.

“Jjinja?” Bola mataku membesar saat aku mendengar sahabatku itu akan datang kemari.

“Mwo?? Kau sudah diparkiran apartement? Baiklah, arrasseo…aku akan memasak satu porsi lagi untukmu.”

“Dia ikut? Ah….arra, arra aku akan menyiapkan buah untuknya.”

“Kkeunta…” Aku menekan tombol merah lalu meletakkan kembali ponselku.

Setelah selesai menyiapkan semua, aku segera bersiap menuju pintu saat terdengar bunyi bel. Dengan senyuman lebar aku beranjak dan membuka pintu.

“HYEMI-AH…..BOGOSHIPPOYO!!!!” Aku berteriak lalu memeluk sahabat sekaligus saudaraku itu.

“Nado….” Dia membalas pelukanku erat.

“Eomma……” Terdengar rengekan suara anak kecil dari balik tubuh Hyemi.

“Yya!! Park Hyena….” Aku segera meraih anak itu dan menggendongnya.

Kami lantas menuju meja makan dan segera menikmati sarapan kami. Aku memberi Hyena sepotong apel lalu dia memakannya. Hyemi memandangiku dengan tatapan senang.

“Kau benar-benar tak bisa ikut?” Tanya Hyemi.

“Mian…aku benar-benar sudah berusaha tapi sepertinya tak bisa.” Sahutku dengan kecewa.

“Minggu ini sangat banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan.” Aku menghela nafas pelan.

“Arra…arra, Kim Nae Ri desainer utama majalah fashion ternama di Asia milik dua orang yang pernah dekat dengannya.” Hyemi memandangiku dengan sinis.

“Hya!! Neo….” Aku pun tertawa.

“Aku berjanji akan segera menyusul kesana jika memang pekerjaan disini bisa aku tinggalkan. Salam untuk appa dan eomma mu. Ah, dan juga aku punya titipan untuk mereka serta appa eommaku. Besok aku antar kerumahmu.”

“Eoh…” Sahut Hyemi.

“Berapa lama kau disana?” Tanyaku.

“Mungkin hanya 2 minggu saja, karena aku tak bisa meninggalkan suamiku begitu lama.”

“Aish…dasar” Sahutku

“Tentu saja, mana bisa seorang istri tega meninggalkan suami dalam waktu yang lama.”

“Arra….arra”

“Nae Ri-ah…apa kau tak ingin segera menikah?” Hyemi memandangiku yang sedang bermain dengan Park Hyena anak perempuannya yang berumur 2 tahun.

“Sudah 2 tahun, apakah kau tak bisa lebih memikirkan tentang hubungan percintaanmu?”

“Hyemi-ah….bukankah kita sudah berjanji tak akan membahas tentang hal itu?”

“Lagipula aku menikmati waktu 2 tahun itu dengan melupakan semua masalah yang menimpaku.” Tambahku

“Apa lagi yang kau cari? Kau sudah mendapatkan impianmu, Kim Nae Ri sekarang adalah desainer terkenal yang mendapatkan beberapa penghargaan atas desainnya. Dan kau akan hidup sendirian selama hidupmu seperti ini?”

“Cinta membuatmu sakit karena kau terus terbayang oleh masa lalumu dan menutup diri.”

“Aku yakin kau tak benar-benar melupakan namja itu.”

“Dan aku yakin namja itu masih saja berada dalam hidupmu, meskipun kau berusaha menjadi orang lain didepannya selama 2 tahun ini.”

“Hyemi-ah….”

“Nae Ri-ah, sebagai sahabat baikmu aku berharap kau bisa lebih dewasa lagi. Lupakan semua sakit hatimu dan bersikaplah seperti orang dewasa. Ini sudah saatnya kau membuka kembali semuanya dan memulai dari awal.”

“Aku hanya tak ingin melihatmu terus menderita, kau mengalihkan pikiranmu pada pekerjaan padahal hatimu sendiri menderita.”

“Aku mohon, berfikirlah sekali lagi untuk memulai hidup baru.”

Hyemi memandangiku, lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku terus mengingat semua kalimat yang dia katakan. Masa lalu? Melupakannya? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian menyakitkan itu.

Tapi Hyemi benar, aku harus bersikap dewasa. Tapi apa aku siap? 2 tahun mencoba hidup dalam kesendirian setelah banyaknya masalah yang menimpaku.

2 tahun sudah berlalu, impianku sudah terwujud dan 2 tahun itulah waktu untukku memendam semua perasaan cinta untuk siapapun. Dia? Tentu saja dia masih berada dalam hidupku. Berada dalam satu gedung dan harus bersikap seperti orang lain ketika berhadapan dengannya.

Berhadapan dengan orang yang bahkan telah memberi luka ketika dia ingin berusaha menyembuhkan semuanya.

Hubunganku dengan Siwon? Ya, membaik. Kami bahkan lebih dekat seperti seorang teman baik. Donghae? Entahlah, aku bahkan tak pernah terlibat percakapan selain membicarakan masalah kantor, itu pun ketika kami berdua sedang dalam rapat bersama lainnya.

2 tahun membuat semua keadaan berbalik, Siwon lebih dekat denganku dan kami mencoba menghapus semua luka yang pernah ia berikan. Aku mencoba untuk mengerti semua keputusannya. Namun, ada satu luka yang bahkan semakin dalam. Satu luka yang telah menutupi banyak luka yang dulu pernah Siwon berikan.

——————

DONGHAE’S POV

“Sepertinya hubungan kita cukup sampai disini saja.”

“Ah….kau ingin kembali kepadanya?”

“Donghae-ssi, aku tegaskan sekali lagi bahwa hubungan kita cukup sampai disini saja.”

“Kau lupa? Bukankah aku memintamu untuk selalu berada di pihakku dan berada disampingku?”

“Sekarang untuk kedua kalinya kau membuktikan bahwa kau tak bisa berada di pihakku. Dan terimakasih telah berusaha menutupi lukaku, tapi aku rasa ini mulai menganga lagi. Aku tak akan menyalahkanmu lagi, ataupun Siwon. Maaf telah masuk diantara kalian berdua, maaf. Aku akan melupakan semuanya dan memulai untuk lebih fokus pada impianku saja, sepertinya bagiku CINTA TERLALU BERISIKAN LUKA DAN SEBUAH SAKIT.”

“Aku memang meninggalkannya dan membuatnya membenciku. Aku mencoba mendekatinya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia masih mencintaiku. Dan sekarang aku baru saja membuktikan bahwa dia memang mencintaimu dan sudah melupakanku. Tapi ternyata kau lebih mementingkan perasaan penasaranmu itu, Donghae-ah.”

“Sekarang kau bahkan kehilangan kekasihmu atas kemauannya sendiri.”

“Apa kau tahu kejadian yang sebenarnya terjadi seminggu yang lalu?” Donghae lantas menatapku tajam.

“Kami tak pernah berciuman, aku dan Nae Ri tak pernah melakukan hal apapun di gubuk tua itu.”

“Kau tahu? Bahkan dia menyebut namamu ketika mendengar suara langkah berjalan mendekati gubuk itu.”

“Dan sekarang aku tahu bahwa dia memang sudah melupakanku.”

Kejadian 2 tahun yang lalu itu kembali masuk dalam ingatanku. Aku terdiam, mengingat setiap kalimat yang Siwon dan Nae Ri ucapkan kepadaku. Sudah 2 tahun hubunganku dan Nae Ri berakhir, termasuk hubungan apapun selain rekan kerja di kantor ini.

Aku memang masih bisa melihatnya, namun untuk sekedar tersenyum kearahnya tak bisa aku lakukan. Dia sudah mencapai impiannya menjadi desainer terkenal dengan kerja kerasnya sendiri dan itu membuatku sangat bangga.

Dalam waktu 2 tahun itu hubungannya dengan Siwon membaik, namun tidak denganku. Entahlah, aku ikut bahagia melihat itu semua. Atau mungkin saja sudah kembali menjalin hubungan asmara mereka.

Aku memandangi foto yang masih selalu berada di meja kantorku. Foto yang kami ambil saat pernikahan Hyemi sahabatnya. Aku tersenyum, mengambil foto itu lalu mengamati setiap garis wajah Nae Ri. Senyuman itu, eyesmile itu, dan semua keanehan miliknya tak akan pernah bisa aku lihat lagi.

Hal-hal kecil seperti memakan tomat pada burger miliknya, atau pinggiran roti yang tak ia sukai, aku merindukan hal kecil seperti itu. Apakah sekarang sudah ada laki-laki lain yang memakan tomat, atau pinggiran roti yang tak ia sukai?

Aku merindukanmu, Nae Ri-ah. Batinku.

Maaf, karena bersikap bodoh dan membuat diriku kehilagan wanita sepertimu serta memberi luka lagi dalam hatimu.

Aku meletakkan kembali foto itu dan segera beranjak dari kursi, keluar dari ruang kerjaku untuk mengamati karyawan-karyawan di kantor ini.

Aku berjalan perlahan, saat tiba-tiba saja pandanganku teralihkan oleh dua orang sosok yang tertawa bersama dan terlihat akrab.

Siwon dan Nae Ri terlihat tertawa, tanpa sadar aku melihat seorang wanita yang mengalihkan pandangannya kearahku. Nae Ri menatapku, ini kali pertamanya setelah dua tahun dia menatapku dengan tatapan seperti itu. Aku merindukan wanita itu, sangat merindukannya.

Aku terus berjalan dan menuju lantai 7 dimana biasanya aku melihat Nae Ri berada disana, berteriak, menangis dan melakukan hal-hal aneh yang selalu membuatku tertawa melihatnya. Tempat dimana menjadi awal aku dan dia menjalani sebuah hubungan lebih dari atasan dan bawahan.

Aku melihat pemandangan kota Seoul di siang hari ini, semua terlihat padat dan sangat sibuk. Aku tak merasakan dingin yang berlebihan karena musim dingin akan segera berakhir minggu ini.

Selama dua tahun aku mencoba memperbaiki semuanya, tapi aku rasa dia memang sudah melupakanku begitu saja. Aku berharap hubungannya dengan Siwon akan lebih baik. Munafik, aku memang cemburu melihatnya tertawa bersama Siwon seperti itu. Tapi jika dia merasa bahagia, maka itulah jalan untuknya.

——————-

SIWON’S POV

Sudah 2 tahun ini hubunganku dengannya membaik. Kami menjadi lebih dekat satu sama lain, tapi tidak dengan hubungannya dan Donghae yang masih saja tak terlihat membaik.

Aku bahkan tak mengetahui bagaimana perasaannya sebenarnya saat ini. Aku selalu berusaha untuk membuat semuanya jauh lebih baik, namun sepertinya Nae Ri memang tak ingin memikirkan mengenai hubungan asmara.

Sepertinya persaingan masih berlanjut, aku bisa melihat Donghae masih saja mencoba memperbaiki hubungannya dengan Nae Ri dan aku mencoba untuk membuatnya kembali jatuh cinta, tapi sepertinya memang sangat sulit.

Aku melihatnya tertawa saat ini, tapi aku bisa melihat tatapan kosongnya. Dia melihat kearah Donghae, dan sepertinya memang dia masih memiliki perasaan itu untuknya.

“Aku dengar Hyemi akan pergi ke Amerika besok.”

“Eoh..” Jawabnya pasti.

“Kau tak mau ikut?”

“Sebenarnya aku sangat ingin kesana, tapi banyak pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan.”

“Kau bisa mengambil cuti, Nae Ri-ah…”

“Ani…aku harus profesional.”

“Aigoo…desainer terkenal kita sepertinya sangat sibuk.”

“Hya….neo…haha”

“Nae Ri-ah, kau bisa ikut aku makan malam sepulang kerja nanti? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.” Aku tersenyum.

“Baiklah, tapi aku harus menyelesaikan deadline untuk minggu ini jadi kau pergi duluan saja, aku akan menyusul.”

“Arrasseo…” Sahutku pelan, lalu kami berdua berjalan menuju ruang kerja masing-masing.

Hari ini aku akan mengungkapkan semuanya dan mencoba mengakhiri semua penderitaan wanita itu. Dia tak pantas mendapatkan luka lebih, meskipun sebenarnya masih ada luka dalam hatinya.

———————–

AUTHOR’S POV

Sinar matahari sudah tak nampak, senja pun juga sudah hilang. Malam datang, seorang wanita masih sibuk dengan beberapa kertas yang ada di meja kerjanya. Dengan kacamata besar dan segelas kopi dalam tangannya menunggu untuk segera diminum.

Nae Ri tampak sibuk untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, karena dia mempunyai janji dengan Siwon satu jam lagi. Dia berusaha menyelesaikan semuanya dengan cepat, dan setelah 30 menit berlalu akhirnya semuanya selesai.

Dia menghela nafas pelan dan bersandar pada kursi yang ia tempati. Nae Ri lantas melepas highbunnya dan membuat rambutnya tergerai indah. Dia segera membereskan semua yang ada di meja kerjanya lalu beranjak keluar dari ruang kerjanya.

Dia berjalan perlahan, kantor sepi saat itu karena hanya ada beberapa karyawan yang masih berada disana untuk lembur malam itu. Nae Ri terus berjalan, saat dia hendak menuju lift tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Donghae berada di belakangnya.

Dia hanya terdiam, pintu lift terbuka dan mereka pun masuk kedalamnya. Saat didalam lift tak ada suara satu pun dari bibir mereka berdua. Nae Ri hanya menunduk tanpa melihat kearah Donghae yang sudah memandanginya sedari tadi.

“Mian…..” Bola mata Donghae melebar saat mendengar sebuah suara yang bahkan tak pernah ia dengar selembut itu dan setulus itu keluar dari mulut wanita yang sangat dicintainya.

“Mianhe….”

“Mianhe….Donghae-ah” Tambahnya

“Maaf untuk tak mempedulikanmu selama ini.”

“Aku bahkan tak sadar jika butuh waktu 2 tahun untuk mencoba bisa melupakan semua masalah itu. Aku harap kau sudah mengetahui yang sebenarnya mengenai kejadian 2 tahun lalu.”

“Mianhe….”

“Maaf untuk keputusanku saat itu.”

“Nae Ri-ah….” Nae Ri akhirnya mengangkat kepalanya pelan mendengar suara itu.

“Gwencana, kau boleh membenciku untuk hal itu.” Donghae memejamkan matanya pelan, lalu dengan segera keluar dari lift itu.

Nae Ri memandangi punggung laki-laki yang sudah berjalan menjauhinya. Air mata menetes dari sudut matanya. Dia menyesal, menyesali setiap keputusannya saat itu. Bahkan rasa sakitnya telah tersembuhkan saat ini dan berbalik membuatnya merasa bersalah.

Jika saja dia memberi kesempatan laki-laki itu, maka dia bahkan masih bisa melihat tawa dan senyum hangat laki-laki itu untuknya. Bukan sikap seperti yang baru saja laki-laki itu berikan kepadanya.

Nae Ri berjalan perlahan memasuki restaurant dan melihat Siwon dengan pakaian rapi berada di meja yang sudah ia pesan. Ia tersenyum seadanya lalu mendekat.

“Kau lapar? Segeralah memesan makanan.” Siwon tersenyum melihat kedatangan Nae Ri.

“Tunggu, biar aku pesankan saja untukmu. Medium steak dan wine, otte?”

“Jhoa…” Jawab Nae Ri pelan.

Pikirannya masih tentang kejadian yang baru saja ia alami. Setelah makanan datang, dia hanya memotong seadanya lalu memasukkan kedalam mulutnya dan meminum wine dalam gelasnya.

“Nae Ri-ah, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan.” Siwon memecah keheningan.

“Ya, katakan saja.” Sahut Nae Ri pelan.

“Aku tahu mungkin ini berat untukmu, tapi aku hanya berusaha untuk memperbaiki semuanya.”

Siwon lantas menggenggam pelan tangan kiri Nae Ri. Bola mata Nae Ri sedikit membesar, dia terus memandangi Siwon.

“Maaf, untuk semua luka yang pernah aku berikan. Maaf, untuk semua masalah dan kejadian yang pernah menimpamu.”

“Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi…” Siwon melepas genggaman tangannya dan mengambil sebuah benda dari dalam saku celananya.

Siwon membukanya dan terlihat sebuah cincin berlian yang indah dan berkilau dari dalamnya. Nae Ri terdiam melihat sebuah cincin itu dan masih terus terdiam.

“Maukah kau menikah denganku?”

——————-

NAE RI’S POV

Aku hanya memandangi cincin indah itu, cincin yang sekarang berada tepat di jari manisku. Apa aku gila? Tidak, aku harus mengakhiri ini semua. Pasti akan ada yang terluka dari salah satu diantara kami.

Donghae, dia sepertinya menjadi pihak yang akan terluka kali ini. Entahlah, aku bisa bahkan bisa melihat ekspresi muka Siwon yang sangat senang ketika aku menerima lamarannya tadi. Dia bahkan terus tersenyum dan tak hentinya memelukku pelan. Ya, setelah sekian lama akhirnya aku bisa mendapatkan pelukan itu lagi.

Tapi kenapa itu sangat aneh? Bahkan aku tak merasakan bahagia sama sekali. Aku masih mengingat kejadian di lift ketika Donghae berkata aku boleh membencinya, tapi sepertinya aku yang pantas untuk dibenci.

Aku memutuskan untuk menghilangkan penat dan mencoba melupakan masalah ini dulu dengan beranjak dari apartementku dan menuju restaurant fast food favoritku di dekat kantor.

Aku segera memesan satu cheese burger dan americano coffee. Aku memilih untuk duduk diluar daripada didalam karena lebih tenang diluar dengan memandangi beberapa lalu lalang kendaraan malam itu.

Aku meminum coffee kesukaanku dan membuka bungkus cheese burger yang aku pesan. Sebelum memakannya aku membukanya terlebih dahulu menjadi dua bagian untuk memisahkan tomat yang berada didalamnya.

Saat aku hendak memisahkannya tiba-tiba ingatanku kembali melayang, aku mengingat bagaimana Donghae selalu melakukan hal ini padaku, dia memisahkan tomat dari dalam burgerku lalu memakannya.

Aku masih melihat burger yang ada dihadapanku dan belum menyentuh potongan tomat yang berada didalamnya. Siwon akan terlalu cerewet karena aku terlalu memilih makanan meskipun pada akhirnya dia membuang potongan tomat itu, tapi Donghae dengan segera akan memakannya tanpa banyak bicara.

Ada apa denganku? Bahkan saat ini aku merindukan laki-laki itu. Untuk pertama kalinya setelah selalu Siwon yang mengisi ingatanku, kali ini aku benar-benar merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang selalu melakukan hal-hal kecil untukku dan aku merindukan itu saat ini.

———————

Hari ini akan ada perayaan untuk 7 tahun berdirinya perusahaan ini, dan akan diadakan pesta malam harinya. Aku bersiap malam ini untuk pesta itu karena desain special akan diperlihatkan demi memperingati 7 tahun berdirinya perusahaan ini.

Saat aku hendak masuk kamar mandi karena beberapa jam lagi pesta dimulai, tiba-tiba terdengar bunyi ponselku berdering.

“Nae Ri-ah, aku tak bisa menjemputmu nanti malam. Tapi aku sudah meminta tolong seseorang untuk menjemputmu. Aku harus mempersiapkan semuanya di lokasi.”

“Gwencana, arrasseo…”

“Mianhe….”

Aku segera memasukkan ponselku kembali kedalam tasku. Siwon tak bisa menjemputku nanti karena dia memang sangat disibukkan untuk pesta ini. Setelah beberapa menunggu 1 jam akhirnya sebuah mobil terlihat melaju dan memperlambat lajunya.

Aku seakan terdiam melihat mobil yang sedang berhenti tepat dihadapanku. Itu memang mobil milik Siwon, tapi orang yang berada didalamnya bukan pemilik mobil itu. Dengan perlahan aku memasuki mobil itu dan terdiam sesaat melihat laki-laki itu yang juga memasang raut muka yang tenang.

“Kau yang menjemputku?” Tanyaku perlahan.

“Wae?” Jawabnya pelan lalu senyum mengembang dari bibirnya.

“Ani…hanya saja….” Aku tak bisa meneruskan kalimatku lagi.

“Tentu saja aku yang akan menjemput calon istri Hyungku…” Aku terdiam, mencerna kembali kata-kata Donghae.

Dia sudah mengetahui itu semua? Dan dia masih bisa tersenyum bahkan menggodaku? Aku mengalihkan pandanganku kepadanya, dan melihatnya tersenyum.

“Wae? Jangan diam seperti itu, aku akan terlihat gila karena berbicara sendiri.”

“Donghae-ah…..”

“Chukkae….” Dia meneruskan semua kata-katanya dan membahas akan pernikahanku.

“Dia bahkan tak membutuhkan waktu lama untuk mendengar jawaban iya dari mulutmu.”

DEG! Hatiku terasa sakit saat mendengar kalimat yang baru saja ia katakan. Seakan terpental aku kembali mengingat kejadian yang sama, dimana dia meminta untuk menikah denganku namun tak ada respon secepat aku menerima permintaan Siwon untuk menikahiku.

“Aku rasa dia memang selalu menjadi hal yang pertama dalam hidupmu.” Laju mobil terhenti.

Kami terdiam beberapa menit sebelum akhirnya dia membukakan pintu mobil untukku dan membuka seatbelt yang menempel ditubuhku. Dia berada sangat dekat denganku kali ini. Tepat berada dihadapanku, dan memandangiku. Aku hanya bisa terdiam melihatnya.

Pesta dimulai, setelah acara resmi selesai. Semua karyawan berpesta dalam acara malam ini. Aku bahkan tak bisa menikmati pesta ini. Siwon juga terlihat sibuk untuk menemui rekan kerjanya.

Setelah 2 jam berlalu akhirnya dia mendatangiku, lalu mengecup keningku pelan untuk meminta maaf karena telah mengabaikanku. Aku berusaha untuk tak membahas mengenai orang yang menjemputku karena sepertinya dia sendiri yang telah meminta Donghae untuk menjemputku tadi.

Aku berpamitan untuk kekamar mandi, namun langkahku terhenti ketika melihat seorang laki-laki dengan sebotol wine ditangannya berjalan terhuyung dan terlihat sudah mabuk. Laki-laki itu terus berjalan menaiki tangga, aku berjalan tepat dibelakangnya dan mengikuti langkahnya.

Kami berada di atap klub tempat pesta itu berlangsung. Aku melihat laki-laki itu terus meminum isi dalam botol itu dan terdiam melihat kearah langit malam.

“Hya!!! Kim Nae Ri!!!!” Dia berteriak menyebut namaku.

Aku masih terdiam berada dibelakangnya dan terus memandangi laki-laki itu dengan perasaan bersalah.

“Kau tahu? Bahkan aku tak bisa berkata aku cemburu dan aku terluka untuk keputusanmu memilih untuk menikahinya!!!!”

“Kau bahagia?” Dia tertawa.

“Kau bahagia bisa kembali pada laki-laki yang sangat kau cintai?”

Donghae lantas terjatuh dan tertidur ditanah bersamaan dengan botol minuman itu yang pecah lalu tangannya terkena pecahan itu dan darah terlihat mewarnai tangannya. Aku dengan segera berlari kearahnya.

“Wae? Kenapa kau tak bisa menikah denganku? Kenapa kau harus menikah dengannya?” Dia terus terisak, aku tak bisa menahan semua ini lagi dan akhirnya memeluk laki-laki itu yang bahkan sudah sangat mabuk.

“Mianhe….” Kataku pelan dan air mata mengalir dari mataku.

————————

Baru bisa selesaiin chapter 9 hahaha, otte? Bingung ini mau kasih Nae Ri nya Kyuhyun ke Siwon apa Donghae ^^ Ada saran? Jangan lupa RCL or I’ll KILL YOU!!! Mian….Just kidd guys :)) GOMAWO UDAH MAU BACA SAMPAI CHAPTER 9…

3 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s