“Miracle…”

 

miracle

 

Starring:

– Infinite Kim Myungsoo (L)

– FT. Island Choi Minhwan

– ex-UKISS Shin Dongho

– Han Jarim (OC)

 

by KHK | Ervina

 

 

“fyush… dingin…”

Jarim menjinjitkan tubuhnya, tersenyum riang menatapku yang berdiri tepat disebelahnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman terbaikku, sembari memainkan butiran salju dengan sepatuku. Seperti sebuah kebohongan, atau sangat familiar dengan isi kisah cerita fiksi yang biasa kutulis, tapi kenyataannya ini keajaiban yang benar-benar terjadi pada diriku. Setiap kali aku menatap mata orang lain, maka aku bisa membaca suasana hatinya. Entah itu mereka yang biasa dekat denganku ataupun mereka yang hanya kebetulan melintas di depanku, aku nyaris bisa melihat semuanya.

Dari semua manusia, aku membagi mereka kedalam tiga jenis. Pertama, manusia yang mempunyai warna hati bening. Manusia jenis ini adalah mereka yang mampu kubaca dengan baik tanpa halangan, persis ketika aku melihat bola kaca. Kedua, manusia yang mempunyai warna hati gelap. Mereka yang biasa menyembunyikan bilah pedang di dalam hatinya, meski begitu namun mereka masih mampu kubaca dengan baik. Dan jenis manusia yang terakhir adalah mereka yang mempunyai warna hati abu-abu, kadang mereka terbaca kadang tidak. Mereka yang jenis ini sangat jarang kutemui, atau mungkin sangat tidak ingin kutemui tapi nyaman jika sudah terlanjur bertemu karena aku tidak harus mengetahui rahasia yang sangat ingin orang lain sembunyikan.

“haruskah kita memesan minuman hangat?”

Jarim kembali menatapku, aku hanya mengangguk dan dia mulai berjalan meninggalkanku. Han Jarim, satu-satunya manusia yang selalu berada disekitarku. Dia sahabat baikku, aku sangat mampu membaca suasana hatinya tapi tak pernah coba kulakukan. Untukku, dia seperti gunung yang tinggi. Gunung yang dengan kokoh dan kuat melindungiku saat badai mulai mencoba menyapu tubuhku yang rapuh. Wanita yang cantik, sahabat yang baik, teman yang setia, dan siswi yang pintar. Walaupun terkadang dia akan berubah jadi sangat menakutkan ketika Minhwan berada disekitarku.

Minhwan?

Akan kuceritakan…

Choi Minhwan, entahlah menurutku dia bukan manusia tapi jadi salah satu jenis malaikat. Siswa yang baik dan patuh, sangat rapi dan sopan, tapi menyimpan sejenis virus canggung di dalam dirinya. Pria yang mempunyai senyuman paling tulus yang pernah kukenal. Selalu menatapku dengan tatapan yang tulus, dia adalah satu manusia yang sangat ingin kucintai.

Han Jarim menyukainya, aku bisa membacanya dengan mudah sekalipun dia tak pernah menceritakannya langsung padaku. Itulah sebabnya mengapa aku akan sangat bahagia sekaligus merasa bersalah ketika Minhwan mulai menempatkanku diposisi pertama lebih dari siapapun dihatinya. Aku ingat saat acara sekolah, dimana semua orang menatapku dengan tatapan aneh karena pakaianku terlihat buruk. Tapi dengan suara pelannya, Minhwan mampu menguatkan hatiku ketika dia berkata ‘tak masalah saat mereka menatapmu aneh, tapi untukku pakaianmu tetap jauh lebih bagus dibanding pakaian terbaik di dunia sekalipun…’ walaupun pada saat itu juga Jarim menatapku dengan tatapan seolah ingin membunuhku, tapi pada kenyataannya aku tetap bahagia. Karena sekeras apapun aku mencoba namun aku tetap tak bisa menemukan kebohongan di dalam hati Minhwan, hanya ketulusan yang terukir jelas disana.

“Shin Dongho, kau benar-benar berkencan dengannya?”

Jarim menyerahkan sekaleng minuman hangat dengan tatapan amat sangat ingin tahunya, aku hanya tersenyum. Rumor itu sudah lama berkeliaran disekitarku, haruskah aku benar-benar berkencan dengannya?

Shin Dongho, jenis manusia lain yang pernah kutemui. Sangat berisik dan lantang ketika berbicara, jenis manusia yang ceria jika kau melihatnya dengan mata awam. Dengan keceriaannya dia mampu menyembunyikan sisi lain dari dirinya dengan sangat dalam dari semua orang. Tapi pada kenyataannya, setiap kali aku melihat matanya aku selalu mampu melihat bongkahan batu besar yang berusaha menyumbat dirinya. Belum kuceritakan? Choi Minhwan dan Shin Dongho sama-sama mahir bermain gitar, dan mereka berdua sama-sama jadi guru latihan gitarku.

Hanya saja sedikit berbeda, Shin Dongho lebih suka memainkah lagu-lagu ceria yang akan selalu berhasil membuat satu kelas ikut bernyanyi bersamanya. Berbeda dengan Choi Minhwan yang hanya akan memainkan gitarnya di pojokan kelas dan selalu aku yang dengan setia jadi penikmatnya. Semua lagu yang dimainkannya selalu bernada ballad yang akan dengan sukses membuatku menyelesaikan satu jenis cerpen sedih saat mendengarkannya. Dan perbedaan mereka yang lain adalah Dongho sangat suka berada disekitarku, berbeda dengan Minhwan yang selalu aku terlebih dulu berusaha ada didekatnya, Dongho sangat suka meminta Jarim pindah tempat duduk hanya karena dia ingin duduk disebelahku sekedar bertanya tentang hal yang kadang tak mudah dimengerti dengan pikiran biasa. Yang pada akhirnya aku lagi-lagi hanya mampu tersenyum saat Jarim mulai menatapnya dengan tatapan jengkel.

Kadang dengan mudah dia berkata ‘haruskah aku menghentikan mimpiku?’ atau kadang dia akan berkata ‘sepertinya akan sulit untukku, haruskah aku tidak melanjutkannya?’ walaupun dia mengucapkannya dengan mudah dan kadang dengan senyuman dibibirnya, tapi aku masih tetap mampu melihat semua rasa lelahnya, keragu-raguannya, bahkan semua tekanan yang sangat ingin dia lepaskan. Pada saat seperti itu aku hanya bisa berkata ‘ingatlah orangtuamu, jika memang begitu berat melangkahkan kakimu untukmu maka cobalah melangkah untuk mereka…’ Aku sangat ingin melindungi dan menyelamatkannya, Shin Dongho. Itu membuat kami selalu terlihat bersama dan akhirnya menciptakan rumor aneh itu, mereka bilang kami pasangan yang cocok. The best couple…

“bukankah kau yang paling tahu?”

“benarkah?” Jarim menatapku penuh selidik. Untunglah, hal yang biasa kulihat dari orang lain tak mampu mereka lihat dariku.

Angin berhembus pelan, namun rasa dingin mulai menerobos masuk ke dalam mantelku. Mungkin butiran salju yang lain akan menyusul turun, aku bahkan tak mampu melihat bintang di langit yang cukup gelap. Kau tahu alasan mengapa kami ada disini sekarang? semuanya karena tugas sekolah yang harus kami selesaikan, tugas kelompok sebenarnya. Tebak, aku satu kelompok bersama Minhwan. Tentu saja Jarim sangat bahagia karenanya, tapi itu tidak cukup berlaku untukku. Dongho sampai memohon pada guru kami agar bertukar kelompok denganku tapi nyatanya itu tidak berhasil, pasalnya dia ingin bertukar dengan Minhwan, tentu saja Jarim amat sangat menentang. Itu bukan alasan sebenarnya mengapa aku tak cukup bahagia, tapi karena ada alasan yang lain. Kim Myungsoo. Jenis manusia berwarna gelap sekaligus abu-abu itu selalu membuatku mengkhawatirkan banyak hal.

Kim Myungsoo, sudah kujelaskan jika dia jenis manusia abu-abu dan gelap disaat yang bersamaan. Tidak setiap saat aku bisa membaca hatinya, tapi setiap kali terbaca maka hanya sisi gelapnya saja yang mampu kulihat, itu sebabnya aku selalu menghindarinya. Manusia yang satu ini sama sekali tidak memiliki ketulusan hati, mungkin tak ada satupun malaikat yang mau berada didekatnya. Dia siswa yang tampan dan populer di sekolah, ku akui senyuman yang terpancar keluar dari bibirnya sangat manis terlepas dari apa yang ada dibaliknya semua orang sangat menyukainya. Bahkan tidak sekali dua kali aku tidak sengaja melihat siswi yang diam-diam memasukan surat cinta ke dalam lokernya. Semua guru juga menyukainya, dia siswa yang pintar dan patuh pada peraturan, ya kau akan melihat sosok manusia sempurna saat melihatnya. Sayangnya itu tidak untukku, tak tersimpan sedikitpun ketulusan di senyum manisnya, tak tersimpan sedikitpun rasa peduli dalam tatapan matanya, bahkan tak sedikitpun ada rasa tulus dalam setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.

Dia jadi manusia yang paling ingin kuhindari, tapi nyatanya aku tak pernah bisa melakukannya. takdirkah? Ya, aku tidak mengerti apa tapi terasa semua hal selalu mendorongku untuk selalu berada disekitarnya. Terdengar seperti sebuah kebohongan, namun nyatanya aku sudah mencintainya sejak 6 tahun yang lalu. Gila bukan? Mengapa justru manusia yang sangat menakutkan yang berhasil mencuri hatiku, mengapa justru manusia jenis ini yang kuikat dalam-dalam di hatiku. Aku mengikatnya terlalu kuat sehingga semakin aku ingin lepas, semakin dia menjeratku dan menyakitiku. Jadi jika aku tak ingin merasakan sakit, maka aku harus dengan rela membiarkannya bersemayam lama di hatiku. Entah itu gila atau apa, tapi aku lebih benci rasa sakit dibanding rasa takut.

“lama menunggu?”

Lamunanku terbuyar begitu kutatap Minhwan sudah tersenyum manis dihadapanku, menatapku dengan tatapan tulusnya mampu memancing bibirku untuk membalasnya dengan senyuman terbaikku. Tetap tidak turun dari motor kesayangannya, mulai menyerahkan beberapa lembar kertas padaku. Seandainya aku bisa sekali saja menendang nama Myungsoo keluar dari hatiku, maka kukira aku akan bisa dengan lebih mudah mempersilahkan masuk nama Minhwan ke dalamnya.

“sedikit, tapi tak apa…”

Jarim tersenyum manis menatapnya. Ya, selalu seperti ini. setiap kali Minhwan bertanya padaku maka Jarim yang akan menjawabnya sekalipun Minhwan tak pernah menatap kearahnya lebih dulu. Inilah bedanya aku dan Jarim, dia dengan mudah membiarkan semua orang tahu tentang perasaannya. Bukan sepertiku yang justru menyembunyikannya dalam-dalam.

“semuanya ada disana, kalian bisa menyelesaikannya kan?”

Lagi-lagi Minhwan menatapku yang kujawab hanya dengan anggukan lalu mulai menatap hasil kerja mereka, ya seperti itulah pembagiannya. Para pria akan mencari data entah dari manapun itu sementara kami para wanita hanya bertugas merekap semuanya menjadi sempurna. Mereka sudah menyelesaikan tugasnya sampai semalaman, maka setelah itu berarti tinggal kami yang menyelesaikan tugas kami sampai pagi. Akan ada waktu yang panjang harus kulewati dengan Jarim, terlepas dari semua hal tentang Minhwan maka seperti kataku Jarim adalah teman yang sempurna. Aku suka menghabiskan banyak waktu bersamanya, dan itu jujur.

“Myungsoo mana?”

“akan segera menyusul,”

Akhirnya Minhwan menatap Jarim untuk menjawab pertanyaannya, aku bisa melihat ribuan kembang api yang indah dimata Jarim sekarang. aku jahat kan? Bagaimana aku bisa berusaha begitu keras untuk mencintai orang yang begitu dicintai sahabat baikku? Tapi begitulah, mencoba mencintai orang yang mencintai kita sangat melelahkan dan membuat frustasi.

“naiklah, aku antar pulang…”

Minhwan menatapku, lagi. tentu saja aku senang, dan jika boleh maka aku akan berkata iya dengan senang hati namun nyatanya aku hanya bisa menatap mata Jarim yang terlihat begitu memohon agar aku menolaknya. Tak ada pilihan lain, akhirnya aku mundur beratur. Aku mulai tersenyum sambil menyiapkan hatiku, juga menyiapkan kalimat yang sebenarnya tak ingin kuucapkan.

“aku menunggu Myungsoo saja…”

Akhirnya, kalimat itu keluar juga. Kalimat yang seketika menyiratkan tatapan kecewa dimata Minhwan tapi justru memancarkan tatapan bahagia diwajah Jarim. Selalu seperti ini, aku bahkan tidak pernah mengerti. Mengapa Myungsoo? Dari ribuan manusia mengapa harus selalu dia? Bukankah sudah kukatakan jika Minhwan dan Dongho adalah guru gitarku? Nah, itu semua karena tugas dari guru music kami. Sebenarnya aku memilih sendiri untuk belajar dari mereka karena satu hal, guru gitar yang terpilih untukku adalah Kim Myungsoo. Itu diacak secara sangat adil dan hanya Tuhan yang tahu siapa yang akan dengan siapa, tapi nyatanya namaku justru terpilih dengan namanya. Dengan kata lain, guru gitar legalku adalah dia. Dari semua yang bisa bermain gitar di kelas, mengapa harus dia?

“sebentar lagi dia akan sampai, hanya tunggu sedikit lagi…”

Jarim melepas syal hijau yang melingkar di lehernya lalu memasangnya di leherku, menatapku dengan senyuman indahnya. Itu hadiah terima kasih kah? Sepertinya tidak, itu 100% dari rasa khawatirnya padaku. Aku mengangguk.

“jika dia tidak datang, kirim pesan maka aku akan menjemputmu…”

Minhwan menatapku dalam, berusaha meyakinkanku jika dia akan datang dengan cepat apapun yang terjadi. Tak akan membiarkanku menunggu sendirian begitu lama. Aku hanya mengangguk, hingga Jarim mulai naik di motor Minhwan dan melambaikan tangannya. Meski tatapan Minhwan seolah enggan meninggalkanku, namun nyatanya dia berlalu juga. Meninggalkanku sendirian disini, disaat seperti ini jika ada Dongho maka aku tak perlu mencemaskan apapun.

“naiklah,”

Aku sedikit terkejut. Hebat, aku sama sekali tak menyadari kedatangannya. Lirikan tajam dari mata elang itu membuatku perlahan mulai melangkahkan kakiku, tak berani menatap matanya lebih dari satu detik karena aku takut bisa menemukan hal yang menakutkan lain dari dirinya. Selain itu, kupikir jantungku akan melompat keluar dari persembunyiannya jika aku berusaha menatap matanya sampai 2 detik saja.

“pegang dengan kuat, kita kejar mereka…”

Segera dilajukannya motornya dengan kecepatan penuh, aku hanya memegang erat jas sekolahnya sambil menutup mataku dalam-dalam. Entah dari mana datangnya keajaiban itu, sekalipun aku sangat takut berada didekatnya tapi aku selalu percaya padanya. Aku percaya jika dia tidak akan menyakitiku, apalagi membawaku kedalam hal yang sulit.

“Myungsoo-ya, hati-hati…” Minhwan mengucapkannya sedikit berteriak, aku membuka mataku. Hebat, kami sudah mengejar Minhwan.

“tahu,”

Myungsoo memelankan laju motornya, sementara Minhwan mengikuti dari belakang. Berusaha menjagaku dari sana, menatapku dengan sangat hati-hati. Tatapannya seolah berkata ‘tak apa aku menjagamu dari sini’. Kutatap lama wajahnya lalu kembali menatap punggung Myungsoo di depanku. Minhwan-ah, bisakah kau menungguku sedikit lebih lama? Aku akan berusaha sekuat tenaga, hanya diam disitu dan jangan melakukan apapun yang akan menyakitimu, hanya tetap pada hatimu, jaga dia agar  tak pergi kemanapun, cukup berdiri disitu dan sisanya serahkan padaku. Biar aku yang mencarimu, biar aku yang berlari padamu, biar aku yang mendatangimu, kumohon. Jika sampai saatnya, akan kuraih tanganmu dan membawamu berlari ketempat dimana tak akan ada orang lain yang bisa datang.

Zzzrrrrttt…

Satu pesan masuk, dan itu dari Jarim. Kubaca dengan hati-hati…

“kau tidak menyadarinya, syal kalian sama! Green couple!”

Aku membulatkan mataku lalu menatap syal yang melingkar dileher Myungsoo, oh my God! What should I do? Dia seolah berkata ‘Hi, nice to meet you!’ Great! Kutolehkan pandanganku kebelakang dan menatap aneh Jarim yang sedang tersenyum riang sambil melambaikan jari-jarinya.

Zzzrrrttt…

Lagi, satu pesan masuk. Aku tak berharap itu dari Jarim. Aku bernafas lega setelah kulihat nama Dongho yang tertera disana.

“bagaimana kalian? Disini sangat sulit, mereka semua menyebalkan!”

Aku tersenyum geli, bisa kubayangkan wajah Dongho saat mengirim pesan itu. hanya kubalas pesanya dengan smiley, aku ingat seperti apa saat dia memohon agar ditukar dengan Minhwan tadi.

“aku pergi ketempat kalian saja kalau begitu,”

“pekerjaan kami sudah nyaris selesai, hanya kerjakan tugasmu saja,”

“sekarang kau dengan Minhwan?”

“tidak, dia dengan Jarim…”

“ah, Myungsoo?”

“heumm…”

“apa ini? kencan?”

“what?!”

“really?”

“whatever…”

“you’re mine!”

“kalau begitu cepat culik aku!”

“hahaa.. sure? Should do I really coming?”

“Shin Dongho?” suara yang tak kuharapkan akhirnya terdengar singkat.

“ne?”

“kau benar-benar kencan dengannya?”

Dia kenapa? Hei, kami tak pernah seakrab itu jika untuk membicarakan hal-hal pribadi seperti ini. sejak kapan dia jadi tertarik pada ceritaku? Toh selama ini yang kulihat darinya hanya tatapan menyebalkan terhadapku, benar! Selama ini yang kutahu cintaku tak berbalas, cinta sendiri pada hal yang sebenarnya kutakuti. Dan jujur aku tak berharap dia membalas rasa sukaku, apalagi memiliki ketertarikan dengan kisahku. Sekejab semuanya berubah menjadi canggung, aku tak berniat menjawab pertanyaannya karena kukira aku tak punya kewajiban untuk menjawabnya. Perlahan kutatap ponselku, mulai kuketik tiap huruf di dalamnya.

“Shin Dongho, menikahlah denganku…”

“what?! Kau sedang melamarku?”

“eum! Aku ingin lari, bisakah kau membawaku?”

Tak ada balasan dari Dongho, kukira dia sedang kebingungan sekarang. ya, aku sangat ingin keluar dari situasi ini. orang yang kucintai tapi ingin kuhindari atau orang yang sangat ingin kucintai tapi tak pernah terjadi? Disaat seperti ini bukankah Dongho orang yang tepat? Semua orang sudah menyetujuinya, lalu mengapa tidak?

“aku melamarnya, Shin Dongho…”

“kau akan menikahinya?”

“I hope soo…”

“selamat,”

“aku akan mengundangmu…”

“I’ll waiting… haruskah kita ke rumahmu?”

“eoh? Kenapa?”

“kukira Minhwan mengantar Jarim ke rumahnya…”

“kau tahu rumahku?”

“pegangan…”

Lagi-lagi Myungsoo mempercepat laju motornya, dan lagi-lagi aku memejamkan mataku. Berharap kami tidak menabrak sesuatu. Tunggu dulu, dia benar-benar tahu rumahku? Tapi bagaimana? Tak ada yang tahu rumahku selain Jarim. Lagipula aku bukan teman yang ramah yang akan dengan senang hati mengundang orang datang ke rumahku.

“kita sampai..” Myungsoo menghentikan motornya, dan aku mulai membuka mataku. Menatap sekelilingku dengan tidak percaya. Dia benar-benar mengantarku sampai di depan gerbang rumahku.

“bagaimana bisa?” aku menatapnya tak mengerti tapi dia hanya tersenyum tipis.

“bagaimana ini? aku rasa aku harus minta maaf..”

“apa? Maaf? Pada siapa? Aku? Kenapa?”

“bukan padamu tapi pada suami masa depanmu, Shin Dongho…”

“ne? wae?”

Myungsoo hanya tersenyum, sial! Aku tak bisa membaca hatinya. Dia terus mendekat dan…

Oh Mom! Dia mendaratkan bibirnya tepat di bibirku…

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Myungsoo menatapku tanpa ekspresi, lama… lalu tersenyum singkat…

“kita hanya siswa SMA, mengapa begitu banyak hal yang kau pikirkan? It’s my first kiss… and I stole your first kiss from him…”

“ne?”

Dia membalik tubuhnya lalu berlalu dengan motornya, aku hanya menatap kepergiannya dengan bingung. Beberapa detik hingga… huaaarrkkkk~~!!! Three second kiss! My first kiss! Why?! Why must him!!! Aku menutup seluruh wajahku dengan kedua tanganku hingga kutatap Jarim yang menatapku dengan tatapan bingung, dan Minhwan yang hanya tertunduk disana. Aku bahkan tak berani menatap matanya. Kubalikan tubuhku dari mereka…

Zzzrrrttt…

Pesan masuk dari Dongho, kubuka dan tersenyum pahit…

“baik, kita menikah…”

 

~~~The End~~~

4 thoughts on ““Miracle…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s