LOVE IS PAIN | Chapter 10 (END)

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 10 [END]

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :                                                 

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 10

NAE RI’S POV

 

Aku melihatnya, melihat wajahnya yang lelah dan terlihat sangat menderita. Apa aku terlalu kejam untuk membuatnya seperti ini?. Setelah dia tak sadarkan diri, aku segera meminta bantuan Siwon untuk membawanya kerumah.

Aku memandanginya untuk beberapa menit. Dia terbaring diatas kasurnya, aku harus segera pergi darisini sebelum Siwon akhirnya kembali membawakan teh hangat untukku. Pandanganku teralihkan oleh luka yang ada di telapak tangannya akibat pecahan kaca botol minuman keras yang ia jatuhkan.

Segera aku mengambil kotak p3k yang ada diatas meja, membersihkan luka di tangannya dengan alkohol, lalu mempersiapkan kapas dan perban untuk membalut itu. Saat aku meraih tangannya, sebuah tangan lain menggenggam tanganku pelan. Dia tersadar.

“Kajima…” Dia merintih pelan.

Aku tak memperdulikannya dan tetap mencoba untuk segera mengobati telapak tangannya yang terluka. Dia menyingkirkan tanganku dengan sedikit kasar, aku hanya terdiam dan tertunduk, mencoba mengerti keadaannya sekarang.

“Semua itu, percuma. Tak akan mengobati luka ini, karena sakit yang sangat aku rasakan ada disini.”

Dengan perlahan dia meraih tanganku dan meletakkannya tepat diatas dada kanannya. Aku bisa merasakan detakan jantungnya. Air mataku menetes, entah cairan itu keluar begitu saja seakan dapat merasakan setiap sakit yang ada dalam diri laki-laki itu.

“Mianhe….Naeri-ah…”

“Mianhe…jeongmal, mianhe…”

“Maafkan semua sifat bodohku sehingga membuatku kehilangamu.”

“Mianhe…”

“Katakan bahwa kau hanya ingin menghukumku dengan menerima lamaran Siwon untuk menikahimu.”

Dia tak henti-hentinya meminta maaf, dan tetap menggenggam tangannku dalam genggamannya. Aku hanya bisa menunduk dan ikut menangis bersamanya. Hatiku sakit, melihatnya seperti itu. Tapi aku bisa apa?

Pandanganku teralihkan oleh kilauan cincin yang sudah melingkar tepat dijari manis yang sedang ia genggam. Membuatku membuyarkan semua perasaanku untuk laki-laki ini, aku sudah memutuskan sesuatu yang sangat penting yaitu menerima lamaran laki-laki lain, saudaranya. Perlahan aku melepaskan genggamannya.

“Mianhe…Donghae-ah”

“Lihatlah, semuanya sudah terlambat.”

“Mianhe, aku harus mengakhiri semuanya. Sudah cukup sampai disini.”

Aku menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisku, dia melihat benda kecil itu dan hanya bisa menatapnya tanpa bisa berkata apapun. Dengan segera aku beranjak dari kamar miliknya dan mengambil langkah cepat.

Aku menghapus sisa air mata yang masih berada disudut mataku. Samar aku melihat Siwon dari kejauhan, dia tersenyum dan aku membalas senyumnya.

“Dia sudah sadar” Kataku pelan dengan senyum yang terpaksa.

“Jjinja? Baiklah tunggu, aku akan memberikan teh hangat ini untuknya kalau begitu, lalu mengantarmu pulang.”

“Ani, aku sudah memanggil taksi untuk kemari. Kau bisa menemaninya.”

“Baiklah, hati-hati.”

Dia mengecup pelan keningku dan berlalu memasuki kamar Donghae.

——————

Sudah tiga minggu setelah kejadian itu aku memilih menghindari Donghae, seperti yang pernah aku lakukan. Tapi kali ini karena aku ingin menyiapkan semua perasaanku untuk menyiapkan pernikahanku yang akan diadakan 3 hari lagi. Sangat cepat? Memang, karena aku tak ingin menunda semuanya lebih lama lagi, karena pasti Donghae akan merasa sakit lebih lama.

Untuk menghindari Donghae, aku juga mengambil cuti 3 minggu. Membuat alasan pada Siwon untuk mempersiapkan pernikahan kami. Aku tak pernah tahu tentang apa saja di perusahaan itu selama 3 minggu ini karena itu hanya membuatku ingin segera bekerja kembali. Aku rasa aku memang sudah tepat untuk memilih menjauh dari perusahaan itu 3 minggu ini.

Tentu saja, dia masih sering mencoba untuk bertemu denganku. Bersamaan dengan itu hatiku juga semakin terluka dengan pernikahan ini. Membatalkan semua? Tentu tidak, aku sudah yakin untuk melakukan ini. Baiklah, aku memang bersalah untuk semua ini.

“Kau yakin akan menikahi Siwon?” Hyemi terus memandangiku yang mempersiapkan gaun rancanganku.

“Eoh, tentu saja. Ah, aku sangat gugup untuk acara 3 hari lagi itu. Ah…eottokhe?” Aku mencoba bersemangat dan tersenyum.

“Ya…Kim Nae Ri. Jangan memasang senyum palsu itu.” Hyemi sudah terlalu hafal, dan dengan bodohnya aku terus mencoba menutupi semua kesedihanku.

“Hyemi-ah, sudahlah. Terlambat jika aku menyesali semuanya, 3 hari lagi semua akan dimulai. Hidup baruku bersama Siwon.”

“Belum terlambat, aku yakin Siwon pasti mengetahui perasaanmu sebenarnya karena dia mengenalmu bukan hanya 2 tahun.”

Hyemi menggenggam tanganku erat, mencoba menguatkanku.

“Entahlah, bahkan perasaan yang dulu sangat menggebu untuk Siwon tiba-tiba sirna. Dan seakan lenyap, aku masih mencoba untuk menata semuanya kembali dari awal. Mencoba mencintainya, dari awal.”

“Dia terlalu bahagia untuk pernikahan ini.” Tambahku.

“Dan kau tak sadar telah menyakiti hati laki-laki lain?”

“Aku yakin dia pasti mendapatkan wanita yang lebih pantas untuknya.”

“Kau memang keras kepala, Nae Ri-ah…”

Mianhe…Donghae-ah….

Bogoshippoyo…Lee Donghae…

————————

AUTHOR’S POV

Seorang laki-laki dengan penampilan yang terlihat sangat kacau, wajahnya yang lelah, terus berjalan tanpa mempedulikan karyawan yang menyapanya sepanjang jalan menuju ruang kerja miliknya.

Namun tatapannya teralihkan oleh seorang yeoja yang tersenyum ramah ketika seorang karyawannya menyapa yeoja itu dan terlihat menggoda yeoja itu. Ya, Nae Ri yang akan menikah dengan sajangnim di perusahaan itu jelas sedang menjadi perhatian utama di perusahaan itu.

Yeoja itu memalingkan pandangannya dan melihat seorang namja yang telah lama ia acuhkan. Mata mereka beradu, wanita itu seakan mengerti setiap perasaan yang ada dalam diri namja yang berada beberapa meter didepannya.

Namun Donghae terus melangkahkan kakinya, menuju suatu tempat yang bahkan tak asing bagi mereka berdua. Kali ini Naeri mengikuti langkah namja itu, ia bahkan khawatir Donghae akan berbuat bodoh. Naeri terus berjalan dan berada tepat disebelah namja yang sangat ia rindukan itu.

“Mianhe….” Naeri menatap lurus memandangi setiap jalanan kota Seoul yang terlihat dari gedung berlantai 7 itu.

“Gomawo…” Tambah Naeri

“Mianhe….jjeongmal…” Seperti terkena sebuah tusukan benda tajam, Naeri terhentak dan menangis.

Donghae lantas meraih tubuh Naeri dan membenamkannya kedalam pelukan. Mereka berpelukan dan menikmati setiap kerinduan, amarah dan semua hal yang telah membuat semuanya hancur.

“Berjanjilah untuk tidak terus bersedih…” Satu kalimat keluar dari mulut Lee Donghae.

“Belajarlah untuk menyukai tomat dan pinggiran roti, karena mulai sekarang tak akan ada lagi yang akan tersenyum dan memasukkan itu kedalam mulutnya ketika kau merengek.”

“Jangan pernah membuat begitu banyak sampah kertas di meja kerjamu, atau pergi ke restaurant fastfood untuk memakan cheese burger tak sehatmu itu.”

“Dan jangan berbuat ceroboh ketika kau sedang emosi, jangan pernah datang kesini. Aku takut kau akan terjatuh dilantai, bukan diatas tubuhku.” Donghae tersenyum, lebih tepatnya tertawa kecil dengan air mata yang perlahan menetes.

Naeri pun ikut tertawa kecil mengingat itu semua, mereka masih berpelukan. Seketika mereka melepaskan pelukan satu sama lain dan saling menatap.

“Mianhe, aku tak akan pernah sanggup datang ke pernikahan kalian.”

Naeri menatap raut muka namja dihadapannya itu, dia memang tersenyum namun Naeri tahu perasaannya.

“Jangan salah paham.” Donghae mencoba mencairkan suasana.

“Aku harus segera berangkat ke Paris, besok.”

DEG!! Bola mata Naeri membesar mendengar kalimat Donghae.

“Mwo…?” Tanya Naeri terbata.

“Sebenarnya aku berusaha untuk menemuimu untuk melihat wajah bodohmu yang sudah 3 minggu tak aku lihat di kantor, karena aku akan segera meninggalkan Seoul dan tinggal disana.”

“Karena sepertinya kau masih sibuk mempersiapkan pernikahanmu.”

“Tapi aku sudah lega bisa berpamitan lansung kepadamu.” Donghae terus tersenyum disaat raut wajah datar Naeri tergambar jelas.

“Keputusan ini aku ambil 3 minggu yang lalu, kau jelas tak mengetahui berita ini karena cuti yang kau ambil. Perusahaan ini membuka kerjasama dengan majalah fashion di Paris, tak mungkin Siwon kesana. Jadi aku yang akan menggantikannya memipin kantor yang ada di Paris.”

“Dan sekaligus ini cara untuk bisa membuat kakak iparku tenang dengan pernikahannya bersama saudara laki-lakiku, karena bisa saja aku mencoba merusak pernikahan kalian haha”

“Kau masih bisa tertawa, Lee Donghae?.” Naeri masih menatap Donghae yang lantas terdiam mendengar pertanyaan darinya.

“Naeri-ah, jebal….aku hanya tak ingin ada air mata lagi. Aku hanya ingin tertawa bersamamu kali ini, menertawakan setiap takdir yang sudah mempermainkan kita.”

“Aku harap kita bisa bersatu dikehidupan selanjutnya. Chukkae, semoga pernikahanmu bahagia” Donghae tersenyum dan mulai beranjak pergi.

Naeri memandangi punggung namja yang perlahan menjauh.

“Donghae-ah!!! Kau boleh menciumku, Lee Donghae!!!” Donghae menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara begitu jelas.

“Aku memintamu untuk menciumku, sekarang….” Naeri memandangi namja yang ada didepannya itu.

Donghae membalikkan tubuhnya, perlahan berjalan mendekati kembali yeoja yang sudah berlinang air mata itu. Dia mempercepat langkahnya dan dengan segera melayangkan sebuah senyuman tepat di bibir Naeri.

Donghae memegang rahang Naeri pelan, begitu juga dengan Naeri yang memeluk pelan punggung Donghae. Mereka larut dalam kerinduan, beradu dalam amarah, kecewa, luka dan seakan tak ingin melepas ciuman mereka.

—————–

Naeri’s wedding….

Donghae membawa koper besar miliknya dan segera beranjak memasuki bandara Incheon. Dia memandangi kota Seoul yang mulai tak terlihat dari kaca pesawat yang ia tumpangi. Semua kesedihannya ia tinggal disana, dan meninggalkan kebahagian untuk yeoja yang ia cintai. Hari ini dia meninggalkan Seoul disaat sebuah pernikahan akan segera dimulai untuk dua orang yang ia kenal.

Disisi lain, Naeri berjalan perlahan menuju altar. Siwon yang sudah menatapnya dengan senyuman merekah meliaht yeoja yang dicintainya terlihat sangat cantik. Raut muka Naeri terlihat kosong, ia hanya terus berjalan membawa sebuket bunga dalam tangannya. Siwon terdiam melihat yeoja yang ada didepannya dengan raut muka seperti itu.

“Sampai maut memisahkan….” Siwon mengakhiri janji pernikahan yang baru saja ia ucapkan.

Kali ini tiba giliran Naeri untuk segera mengucapkan janji pernikahannya. Bibirnya terasa kaku untuk mengucapkan kalimat demi kalimat yang harus ia ucapkan. Dia menunduk, lalu sebulir air mata jatuh dari sudut matanya. Siwon memandangi yeoja yang masih terdiam dan belum mengucapkan satu kata pun.

———————-

2 bulan kemudian

Seorang laki-laki keluar dari bandara Incheon dengan mobil audi putihnya menuju sebuah perusahaan majalah fashion ternama di Seoul. Dengan sebuket mawar merah yang ada di tangannya, ia lantas berjalan dengan sangat bersemangat menuju lantai 7 atap gedung perusahaan milik ayahnya itu.

“Eoh…tentu saja aku akan segera kesini” Namja itu memegangi ponsel miliknya dan berbicara dengan seseorang.

“Kau juga sudah sampai di Paris?” Tanyanya.

“Baiklah, hati-hati disana. Aku khawatir kau akan digoda banyak wanita-wanita karena ketampananmu.”

“Molla…sepertinya dia memang sangat menunggu kedatanganku.”

“Segeralah mencari pasangan, agar kita berempat bisa menikah bersama.”

“Aish…..neo, arrasseo….mian, mian.”

“Kkeunta…” Dia mengakhiri pembicaraannya ketika melihat seorang yeoja tersenyum kearahnya.

Seorang yeoja dengan cardigan abu-abu, rambut high messy bunnya dan sedikit lingkaran hitam menandakan ia sangat kurang tertidur karena tak sabar menunggu kedatangan namja itu tersenyum ketika melihat seorang namja mendekatinya.

“Siwon, dia sudah sampai disana?” Tanya yeoja itu.

“Eoh…baru saja dia menelponku.”

“Jjinja?”

“Eoh, hya…neo, bukan bertanya mengenai kabarku tapi bertanya tentang Hyungku.”

“Aish…jjinja”

“Dia bahkan berkata banyak karyawan disana yang terlihat tertarik padanya.” Goda namja itu.

“Kau tak cemburu, Kim Naeri?” Namja itu terus mendekat, menyembunyikan sebuket bunga pada punggungnya saat yeoja yang ada dihadapannya hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaannya dan lantas melayangkan sebuah ciuman hangat dibibir namja itu dengan tawa renyah dari bibir mereka.

“I really do miss you, Lee Donghae.” Naeri menatap namja yang ada di hadapannya.

Donghae lantas memberikan sebuket bunga mawar merah yang ada ditangannya.

——————–

[flashback]

“Sampai maut memisahkan….” Siwon mengakhiri janji pernikahan yang baru saja ia ucapkan.

Kali ini tiba giliran Naeri untuk segera mengucapkan janji pernikahannya. Bibirnya terasa kaku untuk mengucapkan kalimat demi kalimat yang harus ia ucapkan. Dia menunduk, lalu sebulir air mata jatuh dari sudut matanya. Siwon memandangi yeoja yang masih terdiam dan belum mengucapkan satu kata pun.

“Saya, Kim Naeri…..” Naeri berusaha membuka mulutnya untuk membaca janji suci pernikahannya.

“Stop it Kim Naeri!” Bentak Siwon, Naeri lantas terkaget dan memandangi namja itu dengan airmata yang mengalir.

“Kau tak sanggup mengatakan janji suci itu?”

“Apa kita harus membatalkan semua?” Seringai muncul di sudut bibir Siwon, membuat semua para tamu undangan terkaget.

“Siwon-ah, mianhe….chakkaman, aku akan segera mengucapkannya.” Naeri bersiap untuk membaca janji suci pernikahannya.

Namun Siwon menarik tangan Naeri dan berusaha mencegah yeoja itu dan memandanginya tajam.

“Hentikan, aku bahkan tak pernah melihat ketulusanmu untuk membaca janji suci itu.” Siwon tersenyum.

“Sepertinya untuk hal ini aku tak bisa menjadi yang pertama.” Siwon tersenyum, membuat Naeri terdiam.

Siwon lantas beranjak meninggalkan altar gereja dan membuat para tamu undangan termasuk appa dan eomma nya dan Naeri terkaget. Tidak dengan Hyemi yang perlahan tersenyum melihat keputusan Siwon.

Sebelum acara tersebut berlangsung, Hyemi telah menemui Siwon untuk bertanya apakah ia tahu perasaan Naeri yang sebenarnya. Hyemi menceritakan semuanya, semua penderitaan Naeri dan membuat Siwon tersadar bahwa memang tak ada lagi cinta dari Naeri untuknya.

Siwon tak sepenuhnya mempercainya kata-kata Hyemi sebelum akhirnya ia membuktikan sendiri, Naeri yang terdiam, perlahan menangis ketika ingin mengucapkan janji suci pernikahan mereka.

Pernikahan itu batal, Naeri tak pernah menikahi Siwon. Naeri perlahan mendekati Siwon yang duduk diatas bangku taman di dekat gereja itu.

“Siwon-ah, apa yang kau lakukan disini. Segeralah masuk, jangan membuat semuanya berantakan.” Ajak Naeri.

“Kenapa kau tak pernah menolak ajakanku untuk menikah?”

“Apa maksudmu? Kajja…” Naeri menggenggam tangan Siwon dan mengajaknya untuk masuk ke dalam geraja.

Siwon membalas genggaman tangan Naeri dan menatap yeoja yang sangat dicintainya itu.

“Apa kau benar-benar menderita dengan semua ini?” Tanya Siwon.

“Siwon-ah…ani, aku bahagia.” Sebuah senyuman kecil terlihat di sudut bibir Naeri.

“Dasar pembohong” Siwon tersenyum pelan.

“Maaf, telah membuatmu menderita. Aku rasa memang kau telah melupakan semua perasaanmu untuk namja bernama Siwon.”

“Siwon-ah….”

“Gwencana, setidaknya kau jatuh pada laki-laki yang tepat meskipun bukan bersamaku.”

“Mianhe….” Naeri menatap Siwon.

Siwon memeluk Naeri perlahan, dan telah merelakan setiap kenyataan yang harus ia hadapi.

“Bolehkah aku meminta 1 permintaan?” Tanya Siwon.

Naeri mengangguk.

“Boleh aku menciummu untuk terakhir kalinya?”

Naeri lantas mendekat dan melayangkan sebuah ciuman hangat tepat dibibir Siwon. Mereka berciuman, lebih hangat. Bukan ciuman penuh nafsu ataupun lainnya, namun lebih kepada rasa bersalah dan penyesalan antara mereka berdua. Semua yang pernah terjadi diantara mereka berdua.

Naeri melepas ciuman mereka berdua, dan mengecup pelan pipi kanan Siwon. Semua telah berakhir, rasa cinta Naeri kepada namja itu. Dia telah melupakan semua masa lalunya dan telah mencapai mimpinya untuk menjadi desainer terkenal tanpa harus mencoba menjauhi namja yang pernah melukainya.

Pernikahan mereka tak pernah berlangsung, Naeri tetap bekerja di perusahaan itu dan menunggu laki-laki yang sangat ia cintai kembali ke Seoul. Siwon pun merasa bahwa Naeri memang telah menerima dirinya, namun luka dihati Naeri? Dia bahkan tak pernah tahu apakah itu sudah Naeri lupakan, jika saja Siwon tetap keras kepala dengan pernikahan itu, mungkin saja dia akan membuat Naeri menderita untuk kedua kalinya.

Flashback end…

————-

Naeri terus menggenggam erat tangan Donghae dan berjalan menuju restaurant fastfood favoritnya. Donghae seperti biasa menunjukkan ekspresi muka kecewa karena yeoja itu malah mengajaknya ke tempat itu.

“Hya….Kim Naeri, bukankah aku sudah bilang jangan pernah makanan itu lagi. Aish…neo jjinja sangat keras kepala sekali.” Dengan malas Donghae berjalan ketika Naeri tetap menariknya untuk segera mengambil tempat duduk di kursi favorit mereka.

“Jebaaaal….hanya kali ini saja, eoh?” Naeri menunjukkan eyesmile miliknya.

“Hya….hya, neo! Jangan membuatku ingin segera menciummu sekarang karena eyesmile mu itu.” Donghae perlahan mendekat.

“Aish……” Naeri menoyor pelan kepala Donghae dan lantas pergi menjauh untuk segera memesan makanan mereka.

“1 cheese burger, 1 strawberry waffels, dan 2 iced americano with two shots of sugar.” Naeri meletakkan makanan yang ia pesan diatas meja mereka.

Dengan perlahan Naeri membuka cheese burger miliknya dan mengerucutkan kedua bibirnya. Donghae yang melihat kekasihnya itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

“Arra…arrasseo…sini” Segera Donghae mengambil potongan tomat dan memasukkan kedalam mulutnya.

“Ah…..Gomawo, Donghae-ssi” Naeri sekali lagi menunjukkan eyesmile miliknya.

“Do you want me to kiss you, Naeri-ssi?” Goda Donghae.

“No, Thanks. I just want you to marry me.” Mendengar perkataan Naeri, Donghae lantas tersedak dan dengan segera meminum iced americano miliknya.

“Mwo?” Tanya Donghae dengan bola matanya yang membesar.

“Shiero? Ah….arrasseo, baiklah jangan pernah menikahiku.”

“Call!” Goda Donghae.

“Mworago????” Naeri membesarkan kedua matanya, membuat Donghae seakan ingin tertawa.

Donghae mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, sebuah kotak kecil dengan dua cincin indah berada didalamnya. Naeri terdiam, melihat cincin yang tak asing baginya.

“Kau masih menyimpannya?”

“Tentu saja. Karena tak ada jari yang pas selain milikmu yang bisa memakai cincin ini.” Donghae tersenyum dan mendekatkan benda itu kehadapan Naeri.

“Marry me….”

Donghae mengambil sebuah cincin yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan satunya dan bersiap meletakkan benda itu ke jari manis yeoja yang sangat ia cintai itu.

“Yes, I will…” Naeri melebarkan telapak tangannya dan menunjukkan jari jemari yang lentik untuk dihiasi cincin indah dari namja yang ia cintai.

Naeri tersenyum melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya, ia pun dengan segera memasangkan cincin lainnya ke dalam jari Donghae. Setelah takdir mempermainkan mereka, kini takdir pula yang telah mempersatukan mereka.

Donghae yang dengan sabar mencoba untuk menyembuhkan luka dihati Naeri meskipun dia sendiri pun akhirnya juga menjadi pemberi luka untuk yeoja itu. Donghae yang mencoba mengikuti takdir yang membawa mereka pada kesabaran dan berakhir bahagia.

Naeri dengan segala keyakinannya bahwa cinta itu hanya tentang rasa sakit akhirnya sadar bahwa dia pun akhirnya memang harus berakhir pada pemberi rasa sakit itu sendiri. Naeri dengan segala luka dalam dirinya, mencoba membuka perasaannya untuk laki-laki seperti Donghae, dan pada akhirnya jatuh pada lubang paling dalam di hati laki-laki itu.

Apa itu cinta? Tak ada yang pasti mengenai itu semua. Cinta, adalah jawaban dari apa itu cinta….

Meskipun terkadang cinta adalah luka…

LOVE IS PAIN…

———————————–

MIANHE…..MIANHE…..jangan bunuh author dengan kekecewaan kalian hahaha, maaf kalau endingnya guaring, nggak ada feel, dan mengecewakan. Terima kasih udah mau sabar baca semua FF author alay geje ini haha *kisseu* *cipok*. Oh ya, jangan lupa RCL loh atau author yang bakalan bunuh kalian hahaha just kidd guys! ^^ Ada saran untuk next FF? Author sih lagi proses bikin FF fantasy lagi dan main castnya member EXO, tapi kalau ada saran boleh sih, jadi nanti author bakalan pertimbangkan saran-saran kalian buat next FF di KPDK ini. GOMAWO :))))

 

3 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 10 (END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s