HEARTBREAK [Part 2]

 

HEARTBREAK2

 

[YeSeo Couple]  HEARTBREAK _PART 2_

 

 

Author : ArVi

 

Gendre : Friendship Tragedy, MIX

 

 

 

 

 

Main Cast : 

• Kim Jong Woon

• Song Eun Seo

• Cho Kyuhyun

• Lee Yoorin

• Choi Siwon

• Park Ririn

 

Additional Cast :

• MinJi Cho

• Song Joong Ki

• Lee Sungmin

 

 

Note :

v Song EunSeo – Song Joong Ki   = GNI Group [Mokpo]

v Kim Jong Woon = Taesan Group [Appegujong]

v Cho Kyuhyun – Cho Min Ji = Royal Group [Cheonsang]

 

 

 

 

CERITA MASA LALU

 

 

 

 

“setidaknya ini lebih baik dari pesta yang membosankan.” Dikte dari Joong Ki membuat wajah Ririn anjlok untuk beberapa saat. Namun detik berikutnya ia kembali tersenyum, menunjukan pada semua orang bahwa ia adalah tunangan dari presiden GNI GROUP, dan mengesampingkan ekspresi Siwon yang benar-benar bagai kuda pegasus elegan yang dibakar api cemburu. Lelaki mana yang tak panas melihat gadisnya sendiri harus mengumbar senyum dan melakukan kontak kulit dengan lelaki lain? Tapi bagaimanapun ini kesalahannya, ini rencananya!

Oh siapapun… 

 

Tolong bantu Siwon meredam perasaannya..

 

 

 

“ada masalah, aggashi?” MC mencoba mengatur keadaan dan mengembalikan keadaan pesta.

 

“aku –aku adalah…” Min Ji ingin memperkenalkan diri! Memperkenalkan bahwa ia adalah tuan putri dari Group Royal yang selama ini tak kalian ketahui!

 

 

 

 

“Aku –aku adalah..”

 

 

 

 

 

 

“Dia adalah kekasihku, adik kandung presiden Royal Group , Min Ji Cho”

 

 

 

 

 

 

 

 

HEARTBREAK (Part 2)

 

 

 

Cinta memang anugrah yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, ketika semua lembaran cinta itu datang, kita seperti kehabisan akal dan kekurangan naluri untuk mengungkapkannya. Cinta juga hadir tanpa disangka-sangka bahkan tanpa rencana. Namun kita pun tak bisa mengatakan bahwa akan mencintai seseorang dengan tulus esok hari, sementara sekarang kita belum jatuh hati sedikit pun padanya. 

 

 

 

_”Falling in love is not planned in a life, because it is a surprise from God”_

 

 

 

 

 

 

 

Malam itu, Yoorin berjalan pelan menyusuri lorong-lorong yang menghubungkan aula dan toilet dengan hati gundah, ia mencoba mengElegankan langkahnya agar mempersiapkan diri memasuki ruangan –ekstrim- itu lagi. Yoorin juga mencoba untuk tersenyum, namun bathinnya tetap kalut, sekali itu dalam hidupnya ia menginjakan kaki ditempat semewah ini dan bertemu dengan spesies manusia yang benar-benar buram di matanya. Mereka benar-benar tidak jelas, kadang kehidupan mewah, berkelas, dan berkecukupan sangat menggiurkan untuk Yoorin, tetapi dilubuk hatinya Yoorin merasa kehidupan mereka sangat berisiko.

Dan malam ini ia menipu diri bahwa ia tidak apa-apa dengan atmosfir panas tempat ini.

Astaga.. memikirkannya membuat kepala Yoorin nyaris pusing, kadang ini biasa terjadi jika pikirannya bekerja secara overload.

 

 

 

 

BRUK

 

 

 

 

Namun bertepatan ketika dibelokan sebelum mencapai aula, tubuh Yoorin yang sedikit kehilangan keseimbangan akibat pusing, menambrak sesuatu, bahkan tabrakan dengan bagian tubuh seseorang itu membuatnya terjatuh ke lantai.

 

“Oh Tuhan” ia mencoba berjongkok sigap dan hendak berdiri lagi, meminta maaf atas kecerobohannya. Pasti ia tengah menambrak seorang tamu VIV hari ini.

Yoorin mendongak, ia menatap orang yang tengah berdiri dihadapannya. Dan tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak. Rasa panas dingin tiba-tiba muncul dan menjalari semua syaraf dan urat nadinya. Seperti terhipnotis, Yoorin terkunci oleh tatapan tajam pria itu. Mata yang membuatnya hanyut kedalam kenangan masa lalu.

 

“………….” Mata mereka bertemu, dan seketika Pikiran Yoorin beku mendadak, bahkan ia lupa siapa namannya. Rasa hangat dan dingin secara serentak menguasai suhu tubuhnya. Tubuh Yoorin menegang melihat sosok dihadapannya, namun seolah mengingat dirinya masih menginjak tanah, Yoorin bangkit, membenarkan letak bajunya.

 

“maaf aku menabrakmu, aku tidak sengaja. Karena terburu-buru tuan,”

 

Yoorin membungkukan badannya kemudian hendak berlalu. Tuhan.. ada apa dengan dirinya, kenapa ada sesuatu yang terasa tertarik didalam sana? Jantungnya.. ada apa dengan jantungnya..

 

“…” pria masih tidak bersuara, lebih tepatnya ia hanya menatap tajam penuh selidik kehadapan Yoorin,

Mata itu! mata yang menunjukan betapa matang dan berkarismanya ia, tapi siapa? Yoorin terlihat memicing dan menggeleng, mencoba mencari secuil memory yang berada di kepalanya, tapi nihil..

Ia tak menemukan sedikit pun tentang lelaki ini, hanya saja Jantungnya berontak dan melawan logikanya.

 

“untuk apa kau ditempat ini?”

Perkataan pertama lelaki itu langsung membuat Yoorin menarik nafas sebanyak-banyaknya mencari oksigen untuk ia bicara. Ia mencoba lagi dan lagi untuk bersikap sewajarnya bahwa ia tidak mengenal si berjas ini, tapi hatinya malah berontak dan berkata lain.

 

“aku sekretaris di tempat ini, eum… chogi… apa anda mengenalku?” sangat hati-hati, Meskipun Yoorin terlihat seperti pribadi yang ceroboh, namun sesungguhnya ia adalah pribadi introvek yang sangat menjaga perasaan orang lain.

 

Seketika kali ini wajah –Kyuhyun- lah yang berubah,

Ada apa ini?

 

“bukankah kau -,”Kyuhyun menekankan kalimatnya, setidaknya gadis ini akan bertriak lalu berjingkrak-jingkrak saat bertemu dengannya setelah sekian lama. Namun ternyata yang ia dapat hanya lah ekspresi bodoh seperti menahan sesuatu.

 

“ah.. nampaknya ada sedikit kesalah pahaman, mungkin wajah dan namaku memang mirip dengan banyak orang. Yaah… mungkin.. eum… permisi” entah apa yang membuat Yoorin sesalah tingkah ini. ia memang memiliki pikiran yang serba canggung, tapi ia merasakan sebuah keanehan saat menatap sorot mata pemuda dihadapannya ini.

 

Begitupula dengan Kyuhyun, namja itu bahkan hanya diam tak bergeming, menatap punggung mungil itu menjauh, tanpa menoleh sedikit pun padanya. Tidak! ia tak mungkin salah mengenai orang, dia pasti Lee Yoorin.

 

“hah, akhirnya aku menemukannya” sekretaris Joo datang sambil tergopoh-gopoh membawa map biru ditangannya. “maaf membuat anda menunggu sajangnim, mari” lelaki paruh baya itu menyadarkan Kyuhyun, membuat lelaki itu seketika sadar akan lamunannya yang sedikit kemana-mana,

 

“apa ada masalah, sajangnim?”

 

Kyuhyun tidak menjawab, lelaki itu terlihat menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan berat. Mencoba merilekskan diri.

“tidak, KajJa” sekretaris Joo membungkuk dan mempersilahkan atasannya berjalan terlebih dahulu. Tepat ketika pintu aula itu terbuka, semua mata menoleh kearah mereka, ini dia, Orang yang ditunggu-tunggu telah hadir.

 

“maaf, kami terlambat” Sekretaris Joo membuka salam sopan diikuti Kyuhyun yang membungkuk permohonan rasa hormat dan permintaan maaf karena datang tidak tepat waktu. Dan tepat ketika Kyuhyun mengangkat kepalanya, raut wajah Kyuhyun berubah. Yaah.. karena apa lagi selain MinJi.

 

Matilah kau Min Ji, matilah kau…

Gadis SMA itu semakin menghadapi kegalauan pikirannya, tidak mustahil ia pasti akan mendapat ultimatum tak terampuni dari Kyuhyun, Oh Tuhan..

Entah terencana atau tidak, Min Ji malah memegang erat lengan kekar Siwon, ia bahkan melupakan niatnya untuk protes atas -pengakuan gila- tadi. Dan lihatlah sekarang, baik Siwon, ataupun Ririn, mereka kini sama-sama bingung melihat reaksi tak terduga Min Ji, karena sekarang ia malah memeluk Siwon seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Oh Damn! Jangan ditanya lagi seperti apa reaksi dari wajah Ririn.

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

[GNI GROUP – Relation Night Party]

 

 

 

 

 

“aku berharap penyambutan kami tidak terlalu mengecewakan” Joong Ki berdiri disamping Kyuhyun, dilihatnya lelaki ini dari atas hingga bawah. Pembawaan yang sudah sangat jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat.

 

“aku merasa konsep hotel GNI sangat berkelas.” Tegukan demi tegukan anggur masuk kedalam kerongkongan Kyuhyun. Dalam setiap tegakan itu, ekor matanya tak pernah lepas dari seorang wanita yang tengah berdiri dipojok sana, dengan seorang lelaki.

 

“sejauh mana hubungan mereka” ekspresi Joong Ki langsung berbeda, ia mengerti akan arah pembicaraan Kyuhyun. Kemana Arah mata dan pandangan lelaki itu, Joong Ki bahkan sangat tau.

 

“pertunangan mereka sudah diresmikan 2 bulan lalu, tinggal menunggu waktu kapan GNI dan Taesan siap bergabung dengan ditandai pernikahan mereka”

 

Rahang Kyuhyun mengeras, salah kontrol sedikit saja, gelas ini akan terlempar kesembarang arah. “benarkah?” jawabnya sambil meneguk anggur didalam gelas yang ia pegang.

 

“apa yang membuat mu kembali” gertak Joong Ki dingin, namun sesekali ia tersenyum pada kolega lain yang berlalu lalang menikmati pesta tersebut, reaksi –dibalik layar- yang tidak buruk.

 

“kurasa kau sudah tau jawabannya”

 

“apa karena dia?”

Anggur yang sudah Kyuhyun telan setengah langsung tersangkut ketika menyadari arah pembicaraan mereka kali ini.

 

“kurasa ada beberapa hal yang harus aku rahasiakan sebagai rahasia publik, haha”

 

Sayangnya meskipun Kyuhyun tertawa atau memaksakan untuk tertawa, Joong Ki tetap saja mengetahui isi hati Kyuhyun yang sebenarnya, Kyuhyun memang lebih muda darinya, tapi Joong Ki merasa permainan drama Kyuhyun bahkan lebih keren dari Ririn sekali pun.

 

“kau akan menikah dengan wanita itu?” kini giliran Kyuhyun membuat sebuah pertanyaan pada Joong Ki. Mata Kyuhyun kini terarah pada yeoja yang duduk didepan sana, ia bagai ratu, namun matanya melayang kemana-mana, lebih tepatnya kearah adiknya dan Siwon. Oh ia baru sadar,  jika harus menyiapkan ultimatum pada gadis nakal itu supaya dia tau bagaimana caranya agar tidak berulah dengan sensasi semacam ini.

 

Joong Ki hanya mengubris kecil, lalu menyesap minumannya lagi.

“mungkin ia, mungkin juga benar”

 

“apa maksudmu?” Kyuhyun bertanya akan jawaban ambigu yang ia dapatkan. ditatapnya Joong Ki yang kini mengambil 2 gelas anggur lagi

“anggap saja agar kita bisa lebih lama mengobrol” jawab Joong Ki sambil menyerahkan salah 1 nya pada Kyuhyun.

 

“kau belum menjawab pertanyaanku”

 

Lontaran sedikit menuntut dari Kyuhyun, membuat Joong Ki ikut mengarahkan pandangannya kearah Ririn,

“dia begitu sayang jika dilepaskan”

 

“dan begitu berbahaya jika dipelihara” jawaban yang kelewat enteng namun sangat berarti tajam. “kau ingin mencoba memelihara spesies seperti itu?” kini giliran Joong Ki yang melempar tantangan kearah Kyuhyun. Awalnya lelaki itu nampak berfikir,

Sebelum akhirnya ia mengeluarkan ekspresi membidik,

 

“baiklah, lain kali aku akan mencoba memelihara spesies yang lebih buruk dari itu.”

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

Suasana pesta malam ini terasa menyenangkan, bahkan semuanya seolah hanyut dalam kemewahan dan suasana yang ada, mungkin tidak semua, pengecualian untuk EunSeo.

Ada sesuatu yang membuat perasaannya tak nyaman, terlebih pria disampingnya ini seolah memainkan drama bagai aktor beken. Begitu posesif, tanpa tau tindakannya ini sangat menyiksa, bahkan nyaris membuat EunSeo lupa bahwa mereka tengah memainkan sebuah drama Nonscenario.

 

EunSeo melenggangkan kakinya, keluar dari suasana pesta. Wanita itu menuju ke balkon disisi kiri aula, menghirup udara malam yang selalu ia rindukan. Ia menyukai angin malam, angin yang selalu menerbangkan beban perasaannya dari hari ke hari.

Dak spesial untuk hari ini, Satu hal yang jauh lebih menyiksa ketimbang tindakan pencampakan Yesung selama ini,

ya.. Kyuhyun. Ada sebuah pukulan telak karena keterkejutan bahwa Kyuhyun adalah penguasa Group Royal, tapi itu bukan sebuah fakta yang terlalu mendepaknya dari kesadaran, ada hal yang lebih dari itu,

kenyataan bahwa, -Kyuhyun- kembali kehadapannya.

 

 

 

“Long time no see” sebuah suara membuat tubuh EunSeo menegang.sekujur tubuhnya panas dingin tak terkendali. Pikirannya terkena dilema detik waktu. Detik-detik yang bahkan mempertanyakan jawaban sederhana, berbalik atau tidak.

 

Begitupula dengan Kyuhyun, ia menatap punggung tegak EunSeo yang terbuka bebas, memaksanya menahan guncangan keinginan untuk merasakan sentuhan kulit sempurna yang menyimpan kekejaman dibalik sana. Little dress aksen a-line, dengan aliran warna dark green dan broken blue dengan parfum Salvador Dali beraromakan Agua Vinos, adakah hal yang berubah dari wanita itu?

 

Tepat ketika EunSeo berbalik, matanya memancarkan raut yang sudah Kyuhyun duga. Datar namun menantang. Sorot mata yang benar-benar menenggelamkan.

 

Kyuhyun berjalan mendekati EunSeo, matanya tak pernah lepas dari pahatan terkendali dari Tuhan, pas tak lebih dan tak kurang satupun,

“aku memiliki waktu berapa detik? Sebelum tunanganmu menemukanku dan mematahkan semua persendianku karena mendekati tunangannya” tanya Kyuhyun santai namun mencoba menahan seonggok kerinduan bodoh yang hampir membunuhnya selama lebih dari 7 tahun ini.

 

“hey, apa setelah aku tinggalkan kau berubah menjadi wanita bisu?” Ini pertanyaan santai yang terdengar sangat memuakan. Tapi Bukan EunSeo namanya jika ia tak bisa memutar balikan keadaan. Meski fakta mengatakan ialah yang terbuai emosi kenangan masa lalu, tapi logikanya lebih menjanjikan dari semua fakta-fakta itu,

 

“kau merindukanku?” Balasan tak terduga dari EunSeo,  pertanyaan yang disertai senyuman memabukan bagi Kyuhyun. Karena dirinya bagai tersiram coklat panas yang cair dan melepuh, namun terasa sangat manis. Oh Please Cho Kyuhyun come on!

 

Kyuhyun mencoba mengontrol diri,

“uhm, aku tidak pernah merindukanmu, dan aku tak pernah berniat untuk mengubah sejarah itu menjadi aku merindukanmu malam ini”

 

EunSeo men-deconding jawaban Kyuhyun dengan agak lambat, pikirannya masih berpusat pada hal bodoh apa yang mungkin ia lakukan malam ini sebagai tindakan terburuk sepanjang sejarah. Karena untuk pertama kalinya EunSeo sulit merangkai kalimat yang bisa menjebloskan Kyuhyun dilantai penyesalan sekarang. Atau mungkin Kyuhyun lah yang akan menjebloskannya ke penjara kesombongan karena ia berhasil hidup dengan baik tanpa gadis yang selama ini ia puja.

 

“kembali berfikir bahwa ternyata kau lah yang merindukanku?” dikte sialan!

Ingin rasanya EunSeo melayangkan tinju karate yang selalu Sungmin ajarkan setiap kali ia ingin melampyaskan kemarahannya.

 

“aku rasa kau memiliki hal yang sangat buruk dalam hal kepercayaan diri”

 

Kyuhyun tersenyum gentir, ia merasakan dadanya bergemuruh hebat, namun dalam satu jentikan jari ekspresi EunSeo berubah, membuat Kyuhyun menyimpulkan sendiri bahwa EunSeo belum melupakannya.

 

“Maafkan aku Song EunSeo” EunSeo menatap wajah Kyuhyun yang menghindari tatapannya.

“Tentang pembicaraan terakhir kita saat itu, aku harap kau melupakannya. Aku telah memikirkan banyak hal dan mungkin ini memang jalan terbaik dari apa yang harus kita lewati dulu”

Kyuhyun menatap wajah sempurna yang kini tengah memasang pandangan kosongnya. Dia tidak tau berapa banyak kehancuran yang telah dia timbulkan dalam kehidupan gadis rapuh yang menutupinya dengan kekuasaan yang menyeramkan.

“kuharap kau tidak membenciku”

 

Akhiran ucapan dari Kyuhyun membuat tubuh EunSeo tak bergerak seinci kukupun. Namun selanjutnya EunSeo terlihat menarik nafasnya dengan dalam, lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan klise dari mantan kekasihnya.

“aku benci mengakuinya, tapi kau takan pernah bisa membenci seseorang yang dulu pernah menjadi sosok yang sangat kau butuhkan”

EunSeo mengatakannya dengan tenang, matanya tak pernah lepas dari hamparan halu hilir kota dibawahnya,  dengan dunia malamnya yang terkesan glamour.

 

“Ah, aku melupakan pertanyaan yang seharusnya menjadi pembuka atas teman yang baru bertemu” Teman? Kata itu sangat asing ketika ia berbicara dengan Kyuhyun.

“bagaimana kabarmu?”

 

“buruk” jawabnya singkat, EunSeo memang gadis yang pandai memainkan sandiwara, tapi untuk kali ini ia malas berbohong, ia sudah terlalu kesusahan menahan emosinya.

 

“sangat buruk ketika aku pernah berfikir dengan bodohnya masuk kedalam kehidupanmu, ah ralat, maksudku pernah memasukanmu ke dalam kehidupanku” Lanjut EunSeo dengan penekanan-penenakan yang setimpal.

 

“dengan berkata seperti itu, kau membuatku kembali membencimu.” Jawab Kyuhyun enteng dan menegak Anggur Wine yang sedari tadi ia acuhkan karena terlalu serius dengan alur permainan hati yang dimainkan hatinya ketika berdekatan kembali dengan hati EunSeo.

 

EunSeo tersenyum sebelah mendengar penuturan Kyuhyun,

“rasanya lebih baik seperti ini, kau membenciku, aku membencimu, dan kita hanyalah 2 orang yang saling mengenal dengan kenangan dibelakang” ucapan EunSeo membuat Kyuhyun berfikir mengenai suatu penyesalan. Memandang EunSeo dengan segala perubahan-perubahan kecil hingga besarnya, membuat Kyuhyun merasa pesimis, ketika menyadari gadis itu telah terbang jauh meninggalkan kenangan buruk mereka.

 

“apa aku menganggu,” baik Kyuhyun ataupun EunSeo, mereka sama-sama menoleh kebelakang dan melihat seorang lelaki berjas Hitam berjalan mendekati mereka.

 

“jika  tempat ini milikku, tebakanmu mungkin benar.” Jawab Kyuhyun santaai.

 

Kini 2 namja telah berdiri mengitari tubuh EunSeo, sejujurnya ia benci dalam situasi pelik seperti ini, situasi dimana ia merasa diinginkan banyak orang, tapi sebenarnya tidak.

 

“kau akan diam saja, dan tak berniat mengenalkan T.U.N.A.N.G.A.N.M.U pada beberapa temanmu, mungkin” SHIT!

Ahahaha, benar-benar membuatnya ingin menertawai diri akibat diperdaya oleh 2 lelaki serupa tapi tak sama ini.

 

“baiklah, jika tidak, kenalkan aku Kim Jong Woon.” Yesung memasang senyum percaya diri yang sangat memuakan untuk dilihat, maka tak tanggung-tanggung, Kyuhyun menerima jabatan tangan tersebut dengan senyum kemenangan.

 

“Cho Kyuhyun, mantan kekasih dari tunanganmu”

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

Tak ada hal menyenangkan yang dilakukan oleh 3 anak manusia yang terdiam dibalkon aula pesta, obrolan mereka terlihat sangat profesional, namun kadang menyinggung satu sama lain. Mereka benar-benar memainkan ekspresi dengan pandai, mengecoh siapapun yang melihatnya tanpa memanfaatkan panca indra dengan baik, karena indra penglihatan saja tidak cukup jika ingin tau apa yang sesungguhnya tengah mereka bicarakan.

 

“sajangnim, OLPresiden GNI ingin menemuimu” obrolan tidak enak didengar itu terhenti, tepat ketika sekretaris Joo datang memanggil Kyuhyun.

 

“sebentar”

 

Kyuhyun menyanggupi panggilan sekretaris Joo, tapi sebelumnya ia perlu berpamitan bukan?

 

“aku berharap kita bisa bertemu kembali dilain waktu” Yesung tersenyum sulit diartikan. Karena pada dasarnya setelah saling menjatuhkan dengan kata-kata sindiran manis, baik Kyuhyun ataupun Yesung, sangat sulit menebak maksud dari ekspresi mereka.

 

“ah, aku mungkin juga akan menemui tunanganmu, dilain kesempatan.” Imbuh Kyuhyun lalu melenggang dengan gamlang setelah mengucapkan kalimat yang sangat sialan untuk Yesung. Dia benar-benar typikel manusia yang sangat memuakan.

 

“kau mempunyai penjelasan tentang ini?” Tanya Yesung sambil menatap tidak bersahabat kearah EunSeo.

 

“kau seharusnya berhenti menunjukan ekspresi seolah kau selalu ingin tau kehidupanku, karena kau sama sekali tak berhak untuk itu” Baru saja EunSeo hendak melenggang pergi, Yesung menarik tubuh wanita itu, tangannya yang berisi secangkir Wine terlihat gemertak. Entah apa yang membuatnya lepas kendali seperti ini.

 

“berulang aku tekankan berhenti terlalu percaya diri bahwa kau selalu dirugikan dalam hal ini!” pekikan Yesung seolah menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang bisa bermain-main dengan emosinya.

 

“sekali lagi kau melakukan hal itu aku akan –“

 

 

 

Entah setan apa, kini Yesung mendorong tubuh EunSeo sekuat tenaga, mendorongnya dengan keras dan terhempas di sudut tembok balkon, dan dengan sigap, tangan kirinya menahan kepala EunSeo sebelum menghantam tembok, matanya menatap EunSeo garang. Yesung menatap tepat dimanik mata beku milik wanita itu,  karena pada sebuah kesempatan kadang Yesung  berharap bisa mencairkan bahkan meluluh lantahkan kutub es dimata menenggelamkan itu.

Perlahan jari-jari Yesung membelai rambut yang tergelung indah hingga menampakan lehernya yang jenjang dan sangat menggoda untuk Yesung, jangankan Yesung, siapapun akan tergoda termasuk tidak menutup kemungkinan lelaki –sialan- tadi,

Yesung masih menatap mata EunSeo yang kini mulai menunjukan sebuah tatapan yang sangat ingin membunuh Kim Jong Woon,  membuat Yesung mulai mendekatkan dirinya kewajah EunSeo, hingga wanita beku itu semakin membeku tak berkutik.

Namun akal sehatnya masih bekerja dan ikut menantang Yesung dengan bahasa tubuhnya yang sangat tenang.

 

“sebenarnya kau adalah gadis sialan yang benar-benar memiliki aura mematikan. Kau bisa memotong leherku jika ucapanku ini salah” desis Yesung tepat diwajah EunSeo yang hanya berjarak 7 cm saja.

 

“persiapkan lehermu karena aku akan memotongnya dengan pisau kue cake bergerigi tumpul, aku sangat penasaran dengan warna darah lelaki pendusta sepertimu”

balas EunSeo dengan tangannya yang sudah mulai melawan untuk mendorong tubuh Yesung, tapi sayangnya Yesung tak sebodoh itu, ucapan EunSeo barusan  benar-benar melukai harga diri yang selama ini ia agung-agungkan.

Dan dalam sekali kedip Yesung menjatuhkan gelas Winenya dengan gamblang kearah bawah, tanpa memikirkan kemungkinan terburuk gelas itu akan mengenai seseorang dibawah sana.

Hingga kini tangan kanannya beralih mencengkram leher EunSeo dengan  yang 1 nya,  menahan tangan tunangannya sehingga wanita itu tidak mampu bergerak.

 

“mendengar kata-katamu tadi membuatku semakin terinspirasi untuk terus melumpuhkanmu, calon istriku”

 

Bukan EunSeo namanya jika ia tidak bisa menyiram kobaran api dengan bensin lagi.

“wae?kau marah? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Membunuhku? Didepan semua orang? Pilihan yang sangat bagus, Kim Jong Woon” ejekan EunSeo membuat Yesung geram,

 

“Tak sadarkah kau sedang merubah buaya berdarah dingin menjadi singa pemangsa, nona Song?, tapi sayangnya aku takan membunuhmu, namuun aku akan membunuh siapapun yang berani membebaskanmu dan membawamu pergi dari seorang Kim Jong Woon”

 

“sayangnya aku akan mengubah rencanamu, dan menikamu terlebih dahulu jika kau melukai Kyuhyun” kilatan-kilatan amarah kini menguasai keduannya, tanpa sadar mereka tengah dipermainkan oleh perasaan yang sangat aneh dihati mereka masing-masing.

 

“Kau masih menyukainya? Permainan yang bagus, kalian begitu serasi, pasangan pecundang termanis didunia” cengkramannya semakin keras namun EunSeo tak perduli.

 

“lebih pecundang mana dengan lelaki yang bahkan memiliki perasaan dengan gadis sampah sepertinya, Kim Jong Woon!”

 

Mata Yesung sudah mendelik marah, dan kini cengkraman dileher EunSeo semakin kuat,

 

“dia lebih baik ketimbang gadis berhati sampah sepertimu!”

 

“kalau begitu lepaskan aku, kalian bebas menjadi pasangan tersampah didunia”

 

Ucapan EunSeo begitu tenang dan menyindir, hingga kini tangan Yesung bergerak untuk menamparnya,  bukannya menghindar  tapi EunSeo  terus menatap tangan Yesung yang melayang diatas dengan pergerakan cepat dan penuh amarah. Dia tak takut dengan Yesung, ini sudah terlalu sering mendapatkan tamparan seperti itu, jadi apa gunanya memejamkan mata dan berharap tamparan itu tak terjadi?

 

Tapi beberapa detik kemudian EunSeo merasakan bibir Yesung menyentuh bibirnya dengan lembut, melepaskan cengkraman itu dan membawa tubuh EunSeo kepelukannya. EunSeo terdiam, sebuah perasaan membawanya terbang dan melayang, ciuman yang begitu dalam dan menuntut bahwa dirinya adalah kepemilikan atas Kim Jong Woon.

Benarkah ini perasaan Yesung yang sesungguhnya?

 

“ekhem, para tamu berjarak kurang dari 10 meter dari tempat ini, dan kalian sangat menarik perhatian untuk menjadi tontonan apabila aku membuka tirai ini” Goda Joong Ki yang langsung membuat keduannya menghentikan aktivitas itu, ternyata si lelaki sialan ini tak melakukannya dengan tulus, kembali ini hanya sebuah kamuflase menjijikan yang sangat apik dimainkan oleh Kim Jong Woon.

 

“aku hanya menghukumnya karena berani menemui pria lain yang berstatus mantan kekasihnya didepan mataku”

Perkataan Yesung langsung membuat EunSeo muak semuak muaknya.

 

“baiklah.. aku tak memiliki hak dalam masalah kalian, tapi aku pinjam adikku sebentar sebelum appa memergokimu mencium anak gadisnya dalam kondisi yang tidak tepat seperti ini”

Yesung kembali menampakan senyum dramanya, bahkan ketika EunSeo dan Joong Ki menghilang dari pandangannya.

 

“aku takan pernah membiarkanmu lepas dariku, Song EunSeo”

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Daesang – Seoul]

07.00 pagi, Yoorin Houses

 

 

 

 

 

 

Pagi ini suara perabotan di sebuah rumah sederhana daerah Daesang, terdengar bersahutan dengan suara burung Pioni  yang memecah pagi. Seolah menggantikan fungsi dari ayam untuk berkokok.

Suara prabotan itu tak lain dan tak bukan dari sebuah dapur.

Kehebohan suara sering sekali terjadi setiap paginya, bahkan sangat jarang dari kata tenang.

Dari dalam dapur terdengar suara gadis yang bersenandung kecil, kepalanya berisi handuk sehabis keramas, lalu kedua kakinya memainkan kain pel sambil mengepel lantai dapur. Kedua tangannya sibuk diatas wastafel mencuci segala jenis perabotan, dan kini beralih untuk mengangkat sup yang ia panaskan pagi ini. Kaki-kakinya tak pernah lepas dari selembar kain yang ia gunakan untuk mengepel lantai

 

 

 

 

 

TING

 

 

Suara magicjare membuat –Yoorin- segera beranjak dari depan kompor kearah tempat penanak nasi instan tersebut. Setelah mengontrol suhu dalam magicjare, Ia sekarang beranjak dari dapur dan melepaskan kain pel tadi dari kakinya. Senyum terulas ketika melihat keadaan lantai rumahnya yang sangat kecil ini menjadi enak dipandang lagi.

Setelah itu, ia belum berhenti, diraihnya berkas-berkas dan bulpoint diatas meja dikamarnya, lalu beranjak dikamar mandi, melompat keatas ember cucian dan mulai beraksi.

 

Gadis cantik dan lugu itu terus bersenandung sementara tangannya mencontreng beberapa daftar schedule untuk EunSeo hari ini, membaca jadwal EunSeo yang seperti list daftar belanja. Mengaturnya sesuai jadwal, dengan kaki yang masih asik menginjak-injak pakaian yang ia cuci. Bagaimanapun mesin cuci terlalu dini ia inginkan jika ia baru saja mulai bekerja semenjak kemarin.

 

Setelah dirasa cukup, gadis itu meletakan schedule tugas diatas jendela dan menyelipkan bulpoint dihanduk kepalanya, dilanjutkan dengan menggotong baju – baju itu untuk dijemur.

 

Sambil menjemur pakaian pun Yoorin tak berhenti sampai disitu saja. Ia sekarang terlihat berkomat-kamit menghapalkan  kosakata bahasa ingris yang ia rasa sangat diperlukan untuk ia bekerja nanti. Bagaimana pun ia akan bekerja di tempat semewah GNI! Orang pintarpun kalah beruntung oleh dirinya.

 

“Yoorin a! Yoorin a!” triakan berasal dari arah dalam,

 

“YA! Lee Yoorin!” tubuh Yoorin tersentak dan langsung tanggap akan panggilan itu, ia langsung tergopoh-gopoh meletakan semuanya, lalu menghampiri tuan Lee yang bertriak dari dalam rumah.

 

“dimana telingamu gadis nakal!” sebuah tendangan kursi membuat Yoorin menghindar dan beringsut dari balik pintu,

 

“ap –apa ada yang kau perlukan appa?” tanyanya ragu,

 

“dimana sarapanku! Kau tak tau bagaimana laparnya perutku? Dasar bodoh!” kembali makian itu membuat jantungnya bekerja maksimal, membuat Yoorin membawakan bubur dan sup yang telah ia panaskan.

 

Tuan Lee beranjak dari kasurnya dan menyalakan rokok, lalu duduk didekat jendela dengan asap rokok yang mengepul.

“cepat!” gertaknya pada Yoorin yang berjalan takut-takut seperti siput.

 

“ada lagi yang kau perlukan , appa?” tanya Yoorin berusaha membiasakan diri, toh perlakuan ini bukan yang 1 / 2 kalinya.

 

“tidak. pergilah, uangmu sudah kuletakan diatas meja” Yoorin menunduk.

Setidaknya sekasar apapun sang ayah, ia masih memberinya sebuah tempat untuk berlindung, memperhatikannya dengan caranya sendiri, tak ada yang salah memang, bahkan tuan Lee tetap membiyayai sekolahnya, dan memberikannya uang saku. Itu lebih dari cukup untuk Yoorin.

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Gyeol Appartement – Daegu]

07.00 pagi , Ririn Houses

 

 

 

 

 

 

Tirai terbuka,

Membuat sinar matahari yang tepat bangkit dari arah timur dan menghadap kejendela membuat seorang wanita paruh baya yang tertidur seketika terusik, ia terlihat melakukan pergerakan enggan bangun, namun seolah dipaksa oleh sinar. Sesekali ia menggulung diri lagi dan lagi, tapi akhirnya ia menyerah, bangun adalah pilihan yang tepat.

 

“morning, Omma” sebuah suara membuat wanita paruh baya itu melempar pandangannya kearah yeoja dengan pakaian dinas lengkap, ia meletakan nampan sarapan dinakas dekat tempat tidur. Wajahnya yang cantik dan tegas tersenyum tulus dan teduh, lalu meraih tangan sang ibu,

 

“Omma, maaf aku baru bisa pulang sekarang, anak-anak disekolah itu sangat menyukaiku, mereka ketakutan ketika aku meminta untuk pulang.. Ketika aku ingin pulang, mereka selalu berkata, ‘Songsaenim , jika songsaenim pergi, siapa yang memberikan kami susu? Jika songsaenim pergi siapa yang memandikan kami,’ hahahaha,” tawa Ririn dibalas senyum lebar oleh sang ibu, ia mengelus puncak kepala Ririn.

 

Selanjutnya wanita paruh baya itu menggerakan bibirnya seperti ingin mengeluarkan suara, namun tangannya langsung bergerak membentuk beberapa kosa kata.

 

“jadi Omma ingin melihat bagaimana wajah anak-anak kecil yang aku ajarkan?” Ririn mengangguk antusias, dan mulai bercerita,

Cerita yang tak pernah terjadi.

 

“mereka sangat cantik dan tampan. Mereka selalu bertanya seperti apa wajah Omma.. seperti apa ibu dari gurunya, mereka bahkan memuji Omma sangat cantik di foto”

 

 

 

 

‘Jeongmal’

 

 

Gerakan tangan membentuk kosakata lagi.

 

 

 

“nde, mungkin mereka akan berkata Omma seperti bidadari jika bertatapan langsung.” Senyum nyonya Park mekar, ia tersenyum bahagia mendengar cerita Ririn tentang anak-anak yang ia ajarkan disebuah yayasan SLB, ia senang putrinya melakukan hal yang mulia, mencari uang sambil membagi kasih sayang kepada anak-anak yang membutuhkan.

 

Itu cerita dari Ririn. Sebatas cerita

 

 

Nyonya Park kembali menggerakan tanggannya.

 

“Siwon? Omma ingin menemuinya?  Apa Omma juga merindukannya? Nde.. ia akan menjemputku hari ini” wajah Nyonya Park meredup, mendengar kata ‘Jemput’. Itu artinya putrinya yang baru saja pulang semalam akan pergi lagi.

 

“Omma..” Ririn mengenggam tangan Nyonya Park,

“Omma harus tau, aku sangat menyayangi Omma..” Wajah yang biasanya sangar dan mengerikan itu tiba-tiba berubah luluh jika menyangkut ibunya,

“dan aku akan bekerja lebih keras lagi untuk kesembuhan Omma, aku akan bekerja lebih keras lagi agar Omma bisa membeli TV yang lebih besar dari ini, agar Omma bisa membeli tanah yang lebih besar, bukankah Omma ingin membuat taman bermain untuk anak-anak?”

 

Wajah nyonya Park berubah, ia tersenyum lembut kepada putrinya,

Lalu mengangguk.

 

Dan secara tidak langsung itu membuat air mata Ririn menggenang, ia telah berdosa, membohongi orang yang paling ia sayangi selama hidupnya, orang yang menjadi semangatnya, dan orang yang ia dustai.

“karena aku mencintai Omma lebih dari apapun, hanya Omma yang kumiliki didunia ini, jangankan menanggung semua dosa untuk Omma, nyawa pun aku tak ragu memberikannya untuk Omma, agar Omma bisa hidup bahagia, merasakan indahnya kehidupan tanpa memiliki keterbatasan, meskipun aku bukan manusia yang sempurnya, hanya 1 mimpiku, agar bisa membuat Omma merasa sempurna memiliku , hanya itu Omma..”

 

Air mata meledak dari keduannya, membuat Ririn berhambur kearah sang ibu , memeluknya, dan meresapi aroma orang yang telah melahirkannya, membesarkannya seorang diri tanpa kehadiran seorang ayah. Ayah yang entah dimana, dan tak pernah ingin ia cari. Seumur hidupnya, Ririn merasa bersyukur memiliki seorang ibu, meskipun ibunya menderita tuna wicara, tapi selama Ririn masih bernafas, ia akan melakukan segala hal agar ibunya sembuh, dan agar ibunya bisa tersenyum lagi.

 

Ririn melepaskan pelukannya,

“kajja, kita makan, akan aku suapi” jawabnya, membuat Nyonya Park tersenyum.

 

Baru 2 suapan,  tiba-tiba dari arah pintu muncul seorang pria tinggi tegap dengan sebuket bunga Lili kuning, tersenyum ramah dan hangat, membuat Nyonya park tersenyum lebar.

 

“selamat pagi eommonim, aku datang lagi..” Siwon tersenyum dan menggerakan tubuhnya lucu, dan sanggup membuat Ririn tertawa, lesung pipi namja itu terlihat jelas ketika ia menggodai ibunya,

 

“pagi yang cerah hari ini tuan putri? Mungkin karena aku datang” Godanya lagi sambil memeluk nyonya Park dengan sayang, dan dibalas oleh nyonya Park. Siwon sudah seperti anaknya, ia merasa bersyukur ada Siwon yang mau menerima Ririn dengan keterbatasan mereka, ia bersyukur Tuhan memberikan Siwon untuk mendampingi anaknya ketika ia tidak didekat putrinya.

 

“bagaimana kabarmu, eommonim? Oh, bagaimana kabar Carky? dan Fuu? Apa mereka sering bertengkar memperebutkan remote TV?” Siwon duduk didepan Ririn, menghadap kearah Nyonya Park yang masih duduk diatas Bednya. Terlihat wanita paruh baya itu menggerakan tangannya dan membentuk kalimat.

 

“mereka masih tidur? Aish. , mereka pasti sangat pemalas, awas saja, aku akan memperingatkan mereka untuk ontime 24 jam untuk menjaga eommonim”

 

Ririn langsung terkikik geli, ia menatap wajah karismatik Siwon yang tiba-tiba berubah konyol untuk membuat ibunya tertawa.

 

“sudahlah Siwon, kau tau Carky sudah sebesar apa? Dan Fuu, kau tau cakarnya sudah bisa mencakar kulitmu itu sampai terkelupas” ancam Ririn konyol membuat nyonya Park tertawa sunyi, ia jelas tertawa namun hanya ekspresi tanpa suara.

 

“jeongmal? Apa benar yang dikatakan nenek sihir ini jika Carky dan Fuu sudah berubah menjadi menyeramkan? Benarkah eommonim? Apakah dia semenyeramkan nenek sihir ini?”

 

“Ya, Siwon…” Ririn berenggut manja, yang tentunya langsung membuat nyonya Park kembali tertawa,  tentu saja itu membuat Siwon tersenyum lega. Namja berlesung pipi itu tersenyum manis kepada Ririn.

 

“hahaha, eoh, kau sedang sarapan eommonim? Yummie… kemarikan, biar aku yang menyuapinya” Ririn memberikan mangkuk bubur itu kepada Siwon, membiarkan lelakinya memberikan perhatian penuh kepada sang ibu.

 

Ririn memperhatikan keakraban dan kasih sayang Siwon kepada ibunya, kasih sayang yang mungkin hanya bisa diberikan oleh Siwon seorang, Siwon yang mau menerima dirinya dalam keadaan apapun, Siwon yang membantunya bangkit, Siwon yang selalu ada ketika ia terjatuh, hanya Siwon yang mengetahui, bagaimana kehidupan Ririn yang sesungguhnya, hanya Siwon yang bisa membuka topeng tebal seorang Park Ririn,

 

Kaki kaki jenjang itu melangkah menuju balkon, ia menghirup aroma angin sedalam-dalamnya, angin tempat kelahirannya, angin yang selalu ia rindukan.

Jika mengingat langkahnya sudah sejauh ini, keinginan berhenti pun bukan pilihan yang tepat, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah terus melangkah dan melihat kedepan, menunggu waktu hingga kapankah semua ini akan berakhir,

Ia sudah siap jika dirinya akan jatuh nanti, asalkan Ia pernah membuat ibunya bahagia, ia tak menyesali semua perbuatan dosa yang ia jalani.

 

Beberapa menit berdiri dibalkon sembari merenungi hidupnya, yang mungkin hanya bisa ia lakukan ditempat ini, karena jika sudah kembali ke Seoul ia akan memakai topeng lagi, ia hanya akan memikirkan ambisinya,

 

“aku minta maaf” tiba-tiba sebuah kepala masuk diantara leher belakangnya, dan ada 2 tangan yang menyusup memenuhi liku lenggang proposial tubuhnya.

 

Siwon, lelaki itu selalu membawa kenyamanan tersendiri.

 

“eommonim sedang memberi makan Fuu dan Carky, ia melarangku, katanya agar bajuku tidak kotor” sahut Siwon lagi. Sesungguhnya, Siwon juga merasakan hal yang sama. Kehilangan kedua orang tuannya sekaligus, hingga kehilangan seluruh hak-nya membuat Siwon jengah, merubah pribadinya yang hangat menjadi dingin.

Dan hanya dengan Ririn ia bisa mencari dan membuka kehangatannya lagi. Hanya dengan ibu Ririn ia bisa menumpahkan kasih sayangnya, ia bisa mendapatkan kasih sayang lagi.

 

“bukankah kau berkata dia hanya gadis kecil? Jadi aku memaafkanmu”

“kau masih marah?”

“Beginikah ekspresi orang marah, presdir?” Ririn berbalik sebentar sambil tertawa, menunjukan bahwa rasa kepercayaannya pada Siwon bukan seumur jagung, bahkan jika Siwon benar-benar berpaling darinya, Ririn tidak akan pernah meninggalkan Siwon, perjuangannya untuk terus disisi Siwon membuatnya takan pernah rela melepaskan lelaki ini.

Sedagkan Siwon?

Lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah Ririn yang menurutnya sangat menggemaskan.

 

“Siwon….”

Ririn menyebut nama kekasihnya dengan pelan, sambil terus merasakan angin balkon. Kondisi Siwon yang memeluk Ririn membuat dagu namja itu bisa menempati tempat yang pas diantara tulang belikat Ririn yang terbungkus pakaian dinas lengkap.

 

“hhm..”

 

“aku tidak akan pernah berhenti”  Ungkap Ririn tegas

 

“apa maksudmu”

 

“aku takan berhenti meskipun kau berkhianat setelah semuannya kembali kau dapatkan, aku takan berhenti meskipun kau meninggalkanku setelah kau memanfaatkanku nantinya, aku takan berhenti”

 

DEG

 

 

Perkataan Ririn membuat Siwon terdiam, namja itu lalu membalikan tubuh gadisnya.

“apa kau fikir aku juga akan berhenti?” jawab Siwon

 

“……………………”

Ririn bungkam seribu bahasa saat menatap mata Siwon yang memancarkan aura keteduhan, penuh pengharapan , dan ketulusan. Congkelah matanya seandainya ia salah lihat jika ada banyak ketulusan yang terpancar dari mata Siwon untuknya

 

“aku takan berhenti sekalipun kau mulai meragukanku seperti saat ini, aku juga takan berhenti jika kau tiba-tiba berlari pada lelaki itu, tapi –“

Ucapan Siwon tergantung, ia mencari letak kesetiaan Ririn yang langsung ia temukan, tak butuh waktu lama ia menemukannya, tatapan penuh cinta dan kesetiaan seorang Park Ririn untuk Choi Siwon.

 

“jika kau benar-benar berlari kearah lelaki itu, maka aku akan benar-benar mati di mati suriku Rin ah.. Kehilangan segalanya karena lelaki itu aku bisa bertahan, bisa berusaha untuk mendapatkannya lagi, tapi jika itu kau, jika dia berhasil merebut dirimu dari sisiku, aku tak tau apakah aku bisa bangun lagi dieesokan harinya.”

 

“Siwon…” Butiran-butiran kristal bening turun begitu saja, menghiasi wajah rapuh itu.

 

“jadi, tetaplah disisiku dan membuatku hidup, aku sangat mencintaimu, Park Ririn”

Ungkapan yang berakhir sebuah ciuman dalam dan pembagian kekuatan. Jalan buntu yang mereka lalui masih panjang, bahkan sangat menyakitkan, dan mereka perlu berdua agar bisa merangkak ,meski hanya sedikit demi sedikit.

 

Tanpa mereka sadari, nyonya Park sedari tadi tersenyum dan memperhatikan kedua orang sejoli itu dari bawah, bersama seekor anjing dan kucing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[– mokpo]

[08.00]

 

 

 

 

 

TIN…

 

TIN…

 

TIN…

 

 

 

 

Suara klakson berbunyi nyaring dihamparan luas mobil-mobil mewah yang memadati jalanan utama penghubung seluruh kota dengan kota Mokpo. Dan itu membuat Joong Ki sedikit resah. Jika saja tak ada perang dingin lagi antara dirinya dan EunSeo hari ini, mungkin ia bisa lebih pagi berangkat menuju kantor dan tak perlu terjebak antrian sepanjang ini. Oh Lihatlah, meskipun tak ada rapat penting hari ini, tapi tetap saja, ia baru menjabat sebagai presdir dihari pertama.

 

“kurasa kita akan sedikit terlambat, tuan muda” Pang Hong berbicara dengan cemas, setaunya, Joong Ki adalah salah 1 typikel atasan yang Ontime dalam setiap kesempatan, dan sekarang, lihatlah kemacetan yang mungkin berkilo-kilo meter ini.

 

“apa tak memungkinkan putar arah?”

 

“tidak bisa, mungkin jarak kemacetan depan dan belakang kini hampir sama” OH SHIT! Joong Ki ingin sekali memberikan dana perusahaan lalu membuat jalan raya khusus untuk menuju perusahaannya.

 

Mata Joong Ki berlenggang kesana-kemari dengan kebingungan, bayangkan saja, mobil yang ia naiki berjalan, 1 cm / menit. Kapan sampainya?

 

Ditengah gelisah itu, mata Joong Ki samar-samar melihat hal yang –eung- sedikit agak aneh menurutnya.

 

Seorang gadis SMA tengah mencoba turun melewati gerbang sekolah yang lumayan tinggi, apa yang ia lakukan?

 

Pikiran Joong Ki melayang-layang, apalagi gadis itu terlihat kesusahan untuk turun, atau tidak berani turun, dan ia panik diatas gerbang sekolahnya. Hahaha sungguh pemandangan yang menghilangkan kejenuhan. awalnya Joong Ki tidak memperhatikan wajah gadis SMA itu, ia hanya memperhatikan gerak-gerik yang menurutnya lucu, padahal jarak mereka hanya 100 meter dari tempat mobilnya berhenti.

Tapi

 

TUNGGU!

 

 

Mata Joong Ki seolah meminta kejelasan atas objek yang ia amati. Tepat ketika wajah gadis itu mendongak dan masih kesusahan diatas gerbang karena ROK nya tersangkut, Joong Ki langsung terhenyak, bukankah itu –

Si pembuat onar dipestanya semalam?

 

“hahahaha” Pak Hong terkejut melihat tuannya tertawa secara tiba-tiba,  dan yang membuat ia lebih terkejut lagi saat tuannya itu keluar dari mobil.

 

“tuan muda!”

 

“ten minutes, okkay” Pak Hong terdiam, ia memperhatikan kemana langkah sang majikan. Dan ternyata ia berdiri didepan gerbang SMA Cheonsang.

 

“hey nona, ada pria dibawahmu, apa kau sudah pastikan memakai –sesuatu- itu lebih dari 1?”

 

-MinJi- yang sedari tadi kebingungan mencari cara agar bisa terbebas dari rok sekolahnya yang menyangkut digerbang  tiba-tiba terkejut. Hatinya langsung ketar-ketir ketika kegiatannya ini ternyata ketahuan!

 

Tanpa berbicara lagi, seolah mengerti, Joong Ki langsung mengangkat tangannya dan meraih engsel gerbang yang menjepit ROK sekolah Min Ji, posturnya yang tinggi membuatnya bisa menggapai dengan mudah, lalu menutup kembali engselnya, dan finished!

Rok Min Ji terlepas.

“bisa kau menjelaskan apa yang terjadi pada seorang gadis berseragam yang duduk diatas gerbang?”

 

Ucapan itu menyadarkan Min Ji yang melamun tanpa kedip. Ia sibuk memperhatikan wajah lelaki yang baru saja menolongnya dengan sangat berwibawa, seringainya yang manis langsung melumpuhkan semuannya, seolah Min Ji sedang duduk  menggantung diatas awan bukan diatas Gerbang.

 

“wajahku bukan elemen yang bisa ditonton secara gratis”

 

 

DOENG

 

 

Kalang kabut!

Min Ji terlihat kalang kabut, bahkan lupa bagaimana caranya ia turun dari gerbang padahal  hal itu selalu ia lakukan hampir setiap hari sekali.

 

“kau ingin berkata lupa caranya untuk turun?”

 

Min Ji mematung, namun ia lekas-lekas kembali kekeadaan semula.

 

Dalam sekali lompat, Min Ji berhasil turun dari gerbang, ia mengusap sedikit rok sekolahnya, lalu menatap Joong Ki dengan tatapan remeh.

“jangankah gerbang, aku adalah ahli panjat tebing”

 

Jawaban itu kembali membuat Joong Ki terkaget-kaget. Spesies apa yang ada dihadapannya kali ini?

“ajjushi, seharusnya kau lebih belajar untuk menjaga mata, agar kau tidak asal melihat masa depan istri orang”

 

“MWO?” pusat antariksa langsung berpindah kekepala Joong Ki setelah mendengar ucapan blak-blakan itu.

 

Dengan geram Joong Ki membuka kaca matanya, lalu menatap miring gadis kecil dihadapannya, “kau memanggilku, ajjushi?”

 

Wajah Min Ji menegang, tepat ketika kaca mata hitam itu lolos dari wajah malaikat dihadapannya. Oh Tuhan… malaikat apa yang tengah kau kirimkan kehadapan Min Ji?

 

“bagaimana? Kau terkejut melihat wajah malaikat tanpa sayap?”

 

SHIT!

 

MinJi menghujat dalam hati saat kata hatinya tertebak langsung oleh Joong Ki.

Ya Tuhan.. dia benar-benar seperti pembaca pikiran!

 

“Berhati-hatilah berfikir aggashi, karena aku bisa membaca pikiranmu”

 

 

DOENG!

 

 

 

Kesadaran Min Ji langsung menurun, apa jangan-jangan lelaki ini bisa membaca pikirannya? Apa dia seperti penjahat Roberto dalam edisi Sailormoon? Tapi sayangnya ia tak memiliki tanduk yang runcing.,,..

 

“tsk, kau seperti Wen yang bodoh diserial Sailormoon”

 

 

“OMO!” Wajah Min Ji memucat, ia berfikir bahwa ajjushi tampan ini adalah psikopat dari belahan bumi utara. Yang memakan Tulang dan membuang daging. Tidak! Tidak! itu sangat mengerikan.

 

“ada apa dengan wajahku? Gila saja jika kau mengira aku psikopat dan menculik gadis kecil sepertimu”

 

DAAAR!

 

 

 

Min Ji tak mau berfikir lagi.

 

 

 

“baiklah,  10 menit waktuku terbuang percuma, kalkae” Joong Ki meninggalkan Min Ji yang beku bagai patung liberti, hanya saja salah 1 tangannya tidak memegang benda seperti dipatung itu, telunjuk kanannya malah masuk kedalam bibir dan membeku.

 

Dan ini sudah 10 menit Min Ji melamun tanpa kedip, bahkan hingga kemacetan sudah mereda, tapi ia masih meresapi apa yang terjadi pada dirinya, dan hatinya. otaknya masih terkoneksi untuk mengingat sesuatu, ia merasa pernah melihat wajah itu, bahkan tidak asing lagi.. tapi dimana..

 

“YA! CHO MIN JI!”

 

 

Tiba-tiba guru Yoon datang dari belakang dan langsung menjewer telinga Min Ji. Ini sudah lebih dari ratusan kali gadis ini berlaku seenak jidat. Kalau saja sekolah ini bukan miliknya, mungkin sekolah sudah mendepaknya jauh-jauh hari.

 

 

 

“aaaa. Appo.. appo songsaenim.. maafkan aku…”

 

“aku akan melaporkanmu pada Kyuhyun sajangnim! Kali ini kau takan kuampuni!!”

 

“Songsaenim.. mianhae.. appo appo…”

 

Triakan-triakan Min Ji berhenti ketika gerbang sekolah kembali ditutup.

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

 

Tahap pengenalan cukup, Jja! Say welcome with Mrs.Conflik. 

dan yang paling sulit itu adalah nentuin karakter Kyuhyun biar feelnya dapet. arghh… >_

2 thoughts on “HEARTBREAK [Part 2]

  1. bener bener komplicated

    masing masing memainkan karakter pemain …palsu…..pembohong……

    KYU _ So eun pernah saling cinta
    Yesung _ Yoorin ,,,gmn ceritanya……
    teruuussss…………
    pasangan yang bisa saling mmemiliki…..
    Yesung_so eun_Kyuhyun_ Yoorin_ Jongki_Minji….

  2. yoorin msh misteri, penasaran hubungn jongwoon dgn yoorin…
    penasaran sm ceritany
    eun seo msh suka sm kyuhyun???
    trus kpn yeseo mulai sling suka
    sbnrny knp jongwoon sprt g suka sm eun seo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s