LOVE IS PAIN | Chapter 8

 

loveispain

Author : nurrinnocent
Title : LOVE IS PAIN | Chapter 8
Genre : Romance, Friendship, etc.
Length : Chaptered
Rated : PG 15+
Main Casts : Kim Nae Ri (OC)
Lee Donghae
Choi Siwon
Support Cast : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)
Disclaimer : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is
mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!
Summary :
Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?
——

 

Chapter 8
NAE RI’S POV

Malam ini adalah pesta pernikahan Hye Mi. Aku dan Donghae datang bersama dengan berpakaian tuksedo serta dress rancanganku yang sudah aku siapkan beberapa minggu yang lalu.
Tuksedo berwarna abu perak untuknya, serta mini dress dengan hiasan dibagian dada yang aku pakai membuat kami terlihat sebagai pasangan paling serasi malam itu, aku rasa. Namun itu semua tak bisa menutupi bahwa Donghae sedikit diam akhir-akhir ini.
Tentu saja setelah kejadian pemotretan seminggu yang lalu membuat hubunganku dan Donghae sedikit renggang. Ini memang caranya, dia akan membuatku lebih menyendiri ketika kami merasa marah satu sama lain. Dan aku menyukai caranya.
Mungkin saja setelah ini dia akan mulai berbicara denganku. Entahlah itu adalah perasaanku saja, karena Hye Mi terlihat sangat romantis dengan suaminya itu, siapa yang tak akan iri.
Bahkan Donghae saja mungkin akan sedikit cerewet membahas tentang sebuah pernikahan dan berakhir dengan pertengkaran kecil antara kami seperti biasanya karena beberapa perbedaan, tanpa sadar sebuah senyuman mengembang dari sudut bibirku.
“Nae Ri-ah…kau tak iri melihat mereka?” Lihatlah? Benar kan kataku, dia pasti akan mulai cerewet.
“Wae? Kau akan mengajakku menikah malam ini?” Aku terkekeh, karena akan ada sedikit kejutan untuknya malam ini.
“Mwo? Kau mau? Baiklah, kajja!” Lihatlah, sepertinya aku salah menggoda laki-laki seperti Donghae.
“Hya….” Protesku, membuatnya tersenyum.
Senyuman yang sudah satu minggu ini tak pernah aku lihat akhirnya malam ini bisa aku nikmati. Senyuman hangat itu.
Kami berdua akhirnya berjalan untuk menemui pasangan pengantin malam ini. Namun sebelum menemui Hye Mi dan suaminya tiba-tiba langkah kami terhenti saat melihat Siwon yang juga berada dikerumunan itu.
Kenapa dia disini? Batinku.
Donghae lantas menggenggam tanganku, dia seperti mengetahui kehadiran Siwon dan seakan tak ingin aku berada didekat Siwon, selangkah pun. Tiba-tiba MC pernikahan Hye Mi membuyarkan semuanya karena ini saatnya untuk acara khusus bagi para kerabat pengantin untuk memberikan ucapan selamat mereka untuk pengantin.
Lantas Hye Mi dan suaminya segera menuju panggung kecil yang ada disudut ruangan itu. Mereka memberikan sambutan mereka, berterima kasih atas kehadiran semua para tamu undangan dan bercerita sedikit kenangan tentang dia dan suaminya dulu. Dan setelah mereka berdua selesai, tibalah kerabat masing-masing pasangan untuk memberikan ucapan.
Bola mataku membesar ketika Hye Mi menyebut namaku. Dan para tamu undangan mengedarkan pandangan mereka seakan mencari sosok Nae Ri. Aku hanya terdiam, dan Donghae tersenyum melihatku seakan menyuruhku untuk segera maju.
Tanpa sadar aku melihat Siwon yang juga menatapku sedaritadi. Aku mencoba menghindari tatapannya dan langsung menuju ke panggung kecil yang ada disudut ruangan itu. Berjalan perlahan dan melihat pandangan para tamu undangan yang sepertinya menyukai penampilanku malam ini karena mereka memandangiku dengan hangat.
Saat aku hendak menuju microfon yang ada dipanggung itu, aku tersenyum ketika Hye Mi mengacungkan kedua jempolnya dan berkata lirih.
“Kau cantik malam ini…” Dia tersenyum dan aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
“Hallo semuanya…” Suaraku sedikit bergetar.
“Bagi kalian yang belum mengenal saya, hmm…nama saya Kim Nae Ri sahabat sekaligus saudara dari pengantin perempuan, Song Hye Mi.” Aku menatap kearah Hye Mi yang tersenyum.
“Hari ini adalah pernikahan sahabat terdekatku sekaligus orang yang selalu membangunkan dan memasak eggroll kesukaanku dipagi hari.”
Semua tamu undangan sedikit tergelitik dan tertawa. Aku semakin yakin bersuara.
“Selamat atas pernikahan kalian, dan disini aku akan sedikit bercerita tentang kenangan bersama Hye Mi.”
“Dia seperti eonni bagiku, karena dia akan segera memarahiku ketika penyakit cengengku kambuh. Dia penolong dan menjadi malaikat pelindungku.”
“Kami tinggal berdua untuk waktu yang lumayan lama dan hidup mandiri. Karena kedua orang tua kami adalah bersahabat dan mereka semua bekerja di Amerika, dalam perusahaan yang sama.”
“Mungkin itu terdengar menyenangkan mempunyai orang tua yang bekerja di luar negeri, dan hidup bersama sahabatmu dalam satu atap, namun tidak.”
“Kami melewati masa sulit dan senang bersama, tanpa bantuan dari orang tua kami meskipun mereka selalu memaksa. Hye Mi lulus dan lantas mendapatkan pekerjaan, tapi aku harus sedikit berusaha dan bersabar sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang aku impikan.”
Mata Donghae tak berpaling sedikitpun, ini kali pertamanya dia tahu tentang semua hal pribadiku. Semua rahasiaku dan semua yang belum pernah aku ceritakan kepadanya. Dia seakan mendengar, mengamati setiap detail kecil kalimat yang aku ucapkan.
Ya, ini memang kesempatanku untuk membuatnya tahu akan semua tentangku. Memang tidak adil disaat aku telah mengetahui semua tentangnya namun dia bahkan tak pernah mengetahui tentang kehidupanku.
“Dia selalu mengingatkanku untuk terus mengejar impianku menjadi desainer terkenal tanpa melihat kenangan buruk masa laluku.” Tiba-tiba aku mengucapkan hal itu dan membuatku teringat akan sebuah nama.
Laki-laki itu juga melakukan hal yang sama seperti Donghae, tak bergerak dan tetap mendengar setiap kalimatku dan memandangiku.
“Dan menjalani hidup yang baru bersama Lee Donghae, aku akan tetap berusaha untuk menjadi sahabatnya yang akan bisa maju tanpa harus merepotkannya sekarang, karena dia sudah mempunyai kehidupan sendiri kali ini.”
“Terimakasih untuk semua dukungan yang telah kau berikan, Song Hye Mi. Kau adalah sahabat yang paling aku kenal, dan semoga pernikahanmu bahagia sampai maut memisahkan kalian.”
“Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian.” Aku tersenyum, semua para tamu undangan bertepuk tangan.
Aku segera mendatangi Hye Mi dan memeluknya pelan.
“Gomawo…” Matanya berkaca-kaca
“Uljjima.., kau harus banyak tersenyum.” Aku meyakinkannya.
“Nae Ri-ah, kau sudah tau Siwon disini?”
“Eoh…”
“Mian…bukan aku yang mengundangnya tapi dia.” Hye Mi melotot kearah suaminya yang hanya tersenyum pasrah.
“Dia adalah rekan bisnisku, jadi tentu saja dia aku undang.” Kata suami Hye Mi.
“Ah….gwencana, lagipula aku kesini bersama namjachinguku” Aku tersenyum.
“Hya…cepatlah akhiri hubungan itu dan pikirkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.” Hye Mi memukulku pelan.
“Arra…arra” Sahutku.
“Chukkae…” Aku lantas segera meninggalkan kedua pasangan itu dan menuju Donghae.
“Jhoa?” Aku menatapnya yakin.
Dia hanya tersenyum, menandakan sebuah kelegaan dalam dirinya setelah sekian lama akhirnya dia mengetahui semua yang menjadi rahasiaku. Dengan segera ia menggait pinggangku pelan, dan aku tersenyum.
“Ada kejutan lain untukmu.” Kataku lirih tepat di telinga kirinya.
“Mwo?” Tanyanya keheranan.
“Kajja” Aku membawanya keluar dari kerumunan orang-orang di hall itu dan lantas menuju ke ruangan khusus tepat disamping hall itu. Terdapat beberapa kerabat dekat Hye Mi dan suaminya disana. Dan dua orang berumur cukup tua sedang bercengkeramah dengan orang tua Hye Mi.
Aku tersenyum dan terus menggenggam tangan Donghae menuju keruangan itu.
“Hya…waegeureyo?” Katanya keheranan.
Setelah sampai diruangan itu, dua orang itu lantas mengalihkan pandangannya kearah datangnya kami berdua. Mereka tersenyum hanghat dan berjalan menuju kearah kami berdua.
“Hya…Kim Nae Ri, wae…?”
“Appa…Eomma….” Aku sedikit berteriak memanggil dua orang yang sedang berjalan membawa segelas wine ditangan mereka.
Donghae yang terdiam lantas semakin memasang wajah bodohnya yang hanya bisa terdiam dengan bola mata yang sedikit melebar.
“Hai…baby” Eomma lantas memelukku pelan dan mengecup kedua pipiku, disertai appa yang tak lupa melakukan hal yang sama.
“Kalian, kenapa tak menginap di apartementku saja?” Protesku.
“Chagiya…eomma dan appa baru saja datang hari ini. Kalau kami tinggal di apartementmu, pasti kau tak akan membiarkan kami tinggal hanya sehari disana.” Eomma berhasil membuka kartu as ku, Donghae hanya tersenyum kecil karena mendengar perkataan eomma.
“But I do really miss u guys.” Aku mengerucutkan bibirku.
“Jeongmaaaal, neomu bogoshippoyo” Tambahku.
“Bukankah appa sudah pernah bilang kau bisa sesukamu ke Amerika jika merindukan kami.” Appa mulai bersuara.
“Kim Sooro-ssi, anda pasti akan mencegah saya kembali ke Korea jika sudah berada disana.” Aku beraegyo ria dan membuat appa tertawa.
“Okay…okay, I can’t make you darl”
“Dan siapa namja tampan ini?” Eomma melihat kearah Donghae.
Ini kali pertamanya aku membawa kekasihku untuk aku kenalkan kepada orang tuaku. Ya, pertama kalinya. Donghae yang menjadi orang pertama. Dan ada alasan lain kenapa aku tak pernah mau untuk terbang menuju Amerika untuk menemui kedua orang tuaku.
Ya, karena alasan itu. Mereka tak akan membiarkanku kembali ke Korea jika sudah berada disana. Saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Siwon. Tentu saja aku menolak untuk menemui mereka disana.
Aku tersenyum, meraih tangannya dan memperkenalkannya kepada kedua orang tuaku.
“Joneun Lee Donghaee imnida..”
“Ah…sepertinya putriku akan berganti marga menjadi Mrs.Lee?” Ledek appa.
Donghae tersenyum dan memandangiku.
“Nae Ri bekerja di perusahaanmu?” Tanya appa.
Tiba-tiba saja aku teringat masalah itu, tentang status persaudaraannya dengan Siwon dan menyebabkan Siwon menjadi sajangnim disana. Appa meskipun terlihat santai namun tetap saja adalah orang tua yang serius.
Meskipun dia hidup di Amerika dengan segala gaya hidup orang tua disana, namun dia tetap memegang teguh prinsip kebudayaan yang ada di Korea untuk mencarikan calon suami terbaik untuk anak perempuannya.
Appa namun bisa memahamiku dengan baik dan menjadi layaknya sahabat bagiku, begitu juga eomma yang mempercayaiku dan tak begitu mengekang kehidupanku.
“Dia adalah busajangnim di perusahaan tempatku bekerja, ah appa bukankah aku sudah pernah bercerita kepadamu.” Aku lantas memotong kesempatan Donghae untuk berbicara.
Donghae masih terdiam.
“Nde…” Sahut Donghae seakan merasa malu mengakuinya.
“Arra…arra” Appa lalu menengguk wine yang ada digelasnya.
“Aish…jjinja, bukankah sudah aku bilang jangan terlalu banyak minum ini” Aku segera mengambil kedua gelas ditangan orang yang aku sayangi itu dan membawa gelas itu pergi.
“Uri Nae Ri memang seperti itu, dia cengeng tapi sifatnya dewasa.” Kata appa.
“Ya, dan kau harus sabar menghadapinya.” Sahut eomma.
“Nde…”
“Bersikaplah santai Donghae-ssi, jangan tegang begitu.” Appa memeluk Donghae dari samping dan menepuk bahunya pelan.
“Ah…chagiya, appa dan eomma tak bisa lama-lama, setelah pesta ini selesai kami harus segera menuju Incheon, karena ada meeting besok sore di kantor.” Eomma membuatku merasa ingin sekali mencegah mereka pergi.
“Baiklah…” Aku berusaha lebih menerima keputusan mereka.
“Gomawo…” Eomma memelukku.
“Donghae-ah, jaga putriku” Appa tersenyum.
———————
DONGHAE’S POV
Aku menatap lembut kearah Nae Ri yang terlihat mengamati pemandangan diluar kaca jendela mobil dan lantas menggenggam hangat tangan kiri Nae Ri.
“Wae?” Tanya Nae Ri.
Aku hanya tersenyum.
“Kau tahu? Baru saja kau menjadi orang pertama dalam sebuah hal.” Nae Ri memandangiku dengan dua buah eyesmile miliknya.
“Mwo?” Sahutku.
“Kau adalah namja yang pertama kali aku perkenalkan kepada kedua orang tuaku.”
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Nae Ri, dan bahkan tak merespon sama sekali. Namun akhirnya aku memutuskan untuk bersuara.
“Hya…Nae Ri-ah, bisakah kau berhenti dengan kata-kata selalu ada yang pertama dalam setiap hal?” Kata-kata yang keluar dari mulutku sangat dingin dan aku tak memandang kearah Nae Ri karena terfokus untuk menyetir mobilku ini.
“Wae? Kau tak suka?” Tanya Nae Ri.
“Ya! Aku tak suka kau mengatakan hal itu, karena akan selalu membuatku ingin menjadi yang pertama, dan juga mengingatkanku pada perkataan Siwon seminggu yang lalu.”
“Ah…mian” Nae Ri terdiam.
SIALAN! Aku teringat kembali kejadian satu minggu yang lalu saat aku memergoki mereka berdua berada di gubuk tua dengan jarak yang sangat dekat. Aku ingin sekali membanting stir dan berhenti sejenak untuk meluapkan amarahku ini. Tapi tak bisa.
Bahkan aku tak bisa marah dihadapan yeoja ini. Entahlah, kenapa aku sangat mencintainya. Apa aku terlalu bodoh untuk ini? Membiarkan kekasihku dengan jarak sedekat itu dan hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka berdua disana.
Aku masih menyesal jika mengingat kejadian itu. Harusnya aku berlari dan bergegas memberinya pukulan dan membawa Nae Ri pergi dari hadapannya. Tapi kenapa aku malah membiarkannya. Hya! Lee Donghae kau bodoh sekali.
“Neo….” Kataku lirih.
“Apakah kau tak pernah tahu kalau aku juga menemukanmu di gubuk tua itu?”
Nae Ri tiba-tiba terdiam, aku melihatnya sekilas dan wajahnya memucat. Dia seakan mengingat kembali kejadian itu.
“Wae? Apa yang kau lakukan bersamanya dengan jarak sedekat itu?” Tanyaku dengan santai sambil menyembunyikan amarahku.
“Nae Ri-ah, kita bukan anak kecil ataupun anak remaja lagi. Aku membutuhkan kepastianmu untuk hubungan yang lebih serius lagi.”
“Donghae-ah….” Kali ini dia mulai bersuara dan memandangiku.
“Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas itu lagi? Jadi kau mendiamkanku bukan karena pertikaian antara kita bertiga di villa itu tapi karena hal yang kau katakan tadi?”
“Eoh…, ada yang ingin kau ceritakan?”
“Tak ada” Jawabnya singkat.
“Jjinja?”
“Kau meragukanku?” Tanyanya.
“Menikahlah denganku” Tanpa pikir panjang aku memintanya untuk menikah denganku.
“Mwo?”
“Wae? Kau tak mau? Apa kau berharap bisa kembali bersamanya?”
“Hya…neo” Elak Nae Ri.
“Kalau begitu menikahlah denganku, jadilh istriku dan orang pertama kali yang aku lihat ketika membuka mata dipagi hari.”
“Hya…Lee Donghae, pernikahan bukan sebuah permainan.”
“Tentu saja, dan sekarang aku memintamu untuk menikah denganku, Kim Nae Ri”
“Sebaiknya kita bicarakan semua ini dengan pikiran tenang, karena kau sepertinya dalam keadaan yang tidak baik.”
“Kenapa kau selalu mengulur waktu? Apa menikah denganku adalah hal yang meragukan sehingga kau membutuhkan waktu panjang?”
“Baiklah, sepertinya aku harus mengakhiri semua ini dan kau harus memilih.”
“Donghae-ah…..”
Amarahku sudah tak bisa tertahan lagi, aku sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan di gubuk tua itu dengan jarak sedekat itu. Apa mereka berciuman? Nae Ri dan Siwon? Benarkah?
Semua pikiran itu sudah berputar dalam otakku. Tanpa aku sadari aku segera memutar stir dan membawanya menuju rumahku, bukan apartement miliknya.
“Donghae-ah bukankah kita akan ke apartementku, kenapa kau memilih jalan memutar?” Nae Ri terlihat kebingungan.
Aku segera mengambil ponsel yang ada di saku celanaku dan menghubungi sebuah nomor. Nae Ri hanya memandangiku tanpa bisa berkata apa-apa. Dia sepertinya tahu aku sedang dalam emosi saat ini.
“Siwon-ah, kau dimana?”
“Hya! Donghae-ah” Nae Ri tiba-tiba berteriak.
“Eodi????” Bentakku.
“Arra, tunggu aku dirumah” Aku mematikan ponsel dan segera melajukan mobilku dengan kecepatan lumayan.
Nae Ri terlihat cemas, entahlah apa yang dia fikirkan. Apakah dia khawatir kejadian itu akan terbongkar? Entahlah, aku hanya sangat penasaran dengan kejadian seminggu yang lalu itu.
———————

SIWON’S POV

Aku bersiap untuk menunggu kedatangan Donghae. Apa yang namja ini mau? Kenapa suaranya terdengarpenuh emosi. Apa dia bersama Nae Ri?
Seketika aku beranjak dari tempat dudukku dan melihat Donghae membawa paksa Nae Ri. Mereka bahkan masih memakai pakaian yang mereka kenakan di pesta pernikahan Hye Mi tadi pagi.
Nae Ri terlihat sedikit pucat, dia sepertinya sangat kebingungan. Nafas Donghae tersengal dan dia memandangiku dengan penuh amarah.
“Neo…bisakah kau menceritakan semua kejadian saat kalian berdua berada di gubuk itu?”
“Mwo? Aku sedikit mengaitkan kedua alisku.
“Hya! Lee Donghae, kau meragukanku?”
“Bagaimana aku tak meragukanku kalau kau sendiri saja meragukan kesungguhanku, Kim Nae Ri!!!” Bentak Donghae, Nae Ri terlihat semakin pucat.
“Hya….Donghae-ah hentikan!” Aku sudah tak bisa bersabar lagi.
Bahkan aku tak pernah membentak Nae Ri semarah apapun. Dan aku tak bisa membiarkan semua itu.
“Wae? Baiklah aku akan memberimu kesempatan. Kau boleh mendekatinya jika kau bercerita semuanya.”
“Mwo?” Sahutku.
“Lee Donghae!!” Teriak Nae Ri.
“Kau akan menyesal” Mata Nae Ri mulai memerah, air mata jatuh disudut matanya.
“Wae? Kalian bahkan seakan menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Sepertinya hubungan kita cukup sampai disini saja.” Nae Ri menatap Donghae yang tiba-tiba terdiam.
“Ah….kau ingin kembali kepadanya?”
“Donghae-ssi, aku tegaskan sekali lagi bahwa hubungan kita cukup sampai disini saja.”
“Kau lupa? Bukankah aku memintamu untuk selalu berada di pihakku dan berada disampingku?”
“Sekarang untuk kedua kalinya kau membuktikan bahwa kau tak bisa berada di pihakku. Dan terimakasih telah berusaha menutupi lukaku, tapi aku rasa ini mulai menganga lagi. Aku tak akan menyalahkanmu lagi, ataupun Siwon. Maaf telah masuk diantara kalian berdua, maaf. Aku akan melupakan semuanya dan memulai untuk lebih fokus pada impianku saja, sepertinya bagiku CINTA TERLALU BERISIKAN LUKA DAN SEBUAH SAKIT.” Nae Ri tersenyum, mengusap air matanya lalu beranjak pergi.
Aku dan Donghae masih terdiam. Bahkan Donghae tak mencoba untuk mengejar Nae Ri.
“Aku memang meninggalkannya dan membuatnya membenciku. Aku mencoba mendekatinya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia masih mencintaiku. Dan sekarang aku baru saja membuktikan bahwa dia memang mencintaimu dan sudah melupakanku. Tapi ternyata kau lebih mementingkan perasaan penasaranmu itu, Donghae-ah.”
“Sekarang kau bahkan kehilangan kekasihmu atas kemauannya sendiri.”
“Apa kau tahu kejadian yang sebenarnya terjadi seminggu yang lalu?” Donghae lantas menatapku tajam.
————————-
WOAAAAAAAAAH MIAN KALO JUELEK HAHAHA, sibuk UTS pikiran kemana-mana dan buntu tapi yasudah semoga suka deh :)) Jangan lupa RCL ya…GOMAWO!!!!

One thought on “LOVE IS PAIN | Chapter 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s