LOVE IS PAIN | Chapter 7

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 7

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 7

AUTHOR’S POV

 

Setelah beberapa menit, Donghae kembali kerumah makan itu dan mendapati Nae Ri belum berada disana.

“Siwon sajangnim juga belum kembali kesini, busajangnim” Salah satu kru mengatakan bahwa Sajangnim juga belum kembali.

“Mwo?” Donghae mencerna kembali perkataan kru tersebut.

“Ya, beliau ikut mencari Kim Nae Ri-ssi beberapa menit lalu dan belum kembali.”

Donghae terdiam mendengar perkataan kru tersebut, karena Siwon yang juga ikut mencari Nae Ri. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali mencari Nae Ri, dan setelah beberapa menit akhirnya ia menemukan sebuah gubuk yang berada beberapa ratus meter dari lokasi pemotretan.

Ia yakin Nae Ri berada didalam sana, Donghae lantas tersenyum dan beranjak menuju gubuk yang pintunya terbuka itu untuk segera membawa Nae Ri pergi dari sana. Dengan segera ia berlari dan menuju gubuk tersebut sebelum akhirnya terdiam, senyumnya berubah menjadi sebuah garis datar ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

———————–

NAE RI’S POV

Sialan, karena mencari sinyal aku harus terjebak dalam gubuk ini. Sendirian dan hujan perlahan mulai turun dan semakin deras sekarang. Apakah Donghae tahu aku disini? Entahlah, saat ini aku hanya bisa mengirimkan permintaan tolong untuknya lewat batin, lucu. Bahkan ponselku sekarang mati karena kehabisa baterai, lengkap sudah penderitaanku hari ini.

Saat hujan mulai turun dengan derasnya, beberapa tetesan air hujan pun menetes masuk kedalam gubuk tua ini. Aku berjalan untuk melindungi diri dari tetesan itu, lalu seketika tubuhku menjadi kaku setelah mendengar bunyi yang sangat aku benci. Petir, halilintar, semua gemuruh itu.

Seketika aku melemas dan menunduk di bagian pojok ruangan dalam gubuk tua itu. Melipat lututku dan terduduk dengan ketakutan. Ya, aku sangat ketakutan malam ini. Tak ada penerangan sama sekali disini, gelap dan hanya terlihat sekilas cahaya dari petir dan kilat yang menyambar.

Tanpa sadar aku menggigil, dan beberapa keringat dingin mengucur begitu saja. Ini yang sering aku alami jika berada diluar kamarku ketika hujan beserta petir sedang terjadi seperti ini.

Mungkin sudah hampir satu jam aku berada disini dan tak ada tanda-tanda seseorang untuk menyelamatkanku dari tempat ini. Apakah mereka melupakan kehadiranku? Dimana Donghae? Aku sangat membutuhkannya saat ini.

Air mata menetes perlahan. Petir memang musuh terbesarku, aku akan berubah menjadi wanita lemah seketika dan seperti anak kecil yang kehilangan permennya lalu menangis.

Saat aku mencoba untuk tenang, tiba-tiba sebuah langkah terdengar mendekati gubuk tua itu, sebuah senyuman tergambar jelas disudut bibirku dan membuatku lantas beranjak dari tempatku dan menuju pintu gubuk yang sedari tadi terbuka itu.

Saat aku menuju pintu itu, sebuah petir menyambar beserta kilatan cahaya yang membuatku semakin ketakukan mendengar suara gelegar dan kilatan cahaya itu. Tanpa aku sadari seseorang segera berjalan menghampiriku dan tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya.

Badannya tegap, bidang, dan beberapa tonjolan didadanya dapat aku rasakan, dengan tubuh yang basah kuyup. Laki-laki. Dia seorang laki-laki. Seketika dia menenangkanku dan membalas pelukanku dengan usapan pelan pada punggung dan rambutku. Aku meras sedikit tenang, memeluknya dan terus memejamkan mataku.

“Donghae…” Sebuah suara dengan sedikit getaran keluar dari mulutku.

Seketika petir sekali lagi menyambar dengan suara yang jauh lebih keras, membuatku semakin merinding dan ketakutan. Namun sebuah kalimat membuatku tenang.

“Pejamkan matamu, dan bayangkan kilat, petir itu adalah kembang api yang indah. Aku akan menutupi telingamu dari suara itu.” Laki-laki itu mendekat setelah mendapatiku ketakukan dan menggigil.

Dia meletakkan kedua tangannya tepat di kedua telingaku. Aku memejamkan mataku.

Aku melepas pelukanku dan menatap laki-laki itu. Namun bola mataku seketika membesar saar sebuah kilatan dengan cahaya menerangi pandanganku. Laki-laki itu, bukan Donghae. Dia bukan Donghae.

Aku terdiam, memandangi setiap siluet wajahnya yang terkadang terlihat jelas ketika cahaya kilatan menerangi pandanganku. Siwon. Laki-laki itu memandangiku dengan tatapan itu untuk kesekian kalinya. Tatapan yang masih sangat sama seperti dulu. Khawatir.

“Neo…gwencana?” Siwon tak menghiraukanku saat aku memanggil nama Donghae didepannya beberapa detik lalu.

Aku masih terdiam melihat keadaannya, begitu basah kuyup karena sepertinya dia tak menggunakan apapun untuk sampai kesini. Kenapa? Apa maksud laki-laki ini? Bukan kewajibannya untuk mencariku dengan keadaan seperti itu.

Ingatanku melayang pada sebuah kenangan yang tak akan pernah aku lupakan beberapa tahun lalu. Keadaan sama yang Siwon alami saat dulu dia menjemputku selesai ekstrakulikuler menggambar karena khawatir saat itu hujan deras sekali dengan petir serta kilat yang menyambar akhirnya dia menjemputku.

Siwon berlari tanpa memakai pelindung apapun hanya untuk menemuiku. Dia terus mencariku sampai menemukanku berada di kelas sendirian dengan tubuh menggigil karena ketakutan.

Aku menatapnya yang terlihat kacau, basah kuyup namun tetap tersenyum ketika dapat menemukanku. Siwon lantas memelukku dan mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan beberapa menit lalu.

“Pejamkan matamu, dan bayangkan kilat, petir itu adalah kembang api yang indah. Aku akan menutupi telingamu dari suara itu.”

Dia melakukan hal yang sama, dan setelah itu dia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahku. Terlihat pipinya yang memerah karena mungkin kedinginan saat itu. Aku merasa sedih melihatnya harus basah kuyup hanya karena mengkhawatirkanku.

Dia sangat hafal apa yang akan terjadi kepadaku ketika hujan deras dengan petir disertai kilat menyambar dan jika aku berada diluar kamarku. Saat itu dia sadar bahwa aku sedang berada diluar kamarku, itu kenapa dia lantas mencariku segera.

Wajahnya semakin mendekat, degupan jantungku mulai cepat, aku memejamkan mataku dan bibir kami yang begitu dingin lantas bertemu, menjadi satu. Dia melayangkan sebuah ciuman. Ciuman pertama kami.

“Kau tahu Nae Ri-ah, hal ini mengingatkanku pada ciuman pertama kita.” Siwon menatapku.

Tentu saja aku ingat, bagaimana aku bisa melupakan itu. Batinku.

Dia mendekat, semakin mendekat dan berhasil membuatku berada dalam kurungannya kali ini, dan tak bisa untuk menghindarinya. Aku masih terdiam, melihat laki-laki yang dulu sangat aku cintai itu.

Aku memandanginya, wajahnya mendekat dan beberapa inchi berada didepanku. Aku hanya terdiam, tak melawan. Entahlah, mungkin setan telah meracuni pikiranku, tapi aku merasa nyaman melihat wajah laki-laki ini. Dia bersiap untuk mendekatkan bibirnya.

—————–

DONGHAE’S POV

 

Setelah mengetahui Siwon ikut mencari Nae Ri, aku pun lantas melanjutkan pencarianku. Tanpa peduli, tak memakai satu pelindung pun dan berteriak memangggil nama Nae Ri.

Setelah beberapa menit, terlihat sebuah gubuk tua beberapa meter dari tempatku berhenti. Pintunya terbuka, sepertinya Nae Ri berlindung disana. Aku tersenyum dan segera beranjak dari tempatku untuk menuju kesana.

Saat hendak melangkah masuk, tiba-tiba senyuman itu menghilang, terganti dengan sebuah gari datar pada bibirku. Aku melihat seorang laki-laki tepat berada didepan seorang perempuan saat sebuah kilatan cahaya menerangi pandanganku.

Sepatu itu, aku rasa aku tahu siapa pemilik flat shoes berwarna tosca itu dengan ponsel yang ada ditangan wanita itu. Meskipun aku tak bisa melihat sepenuhnya namun aku yakin wanita itu adalah Nae Ri. Dan laki-laki yang sedang berada tepat didepannya, mendekatkan wajahnya itu adalah Siwon.

Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Aku masih terdiam melihat kedua orang yang sedang berada dihadapanku. Tanpa aku sadari sebuah senyuman kembali mengembang dari sudut bibirku, membuatku mengambil langkah menjauhi tempat itu.

Aku memilih untuk pergi dan menjauh dari gubuk tua itu, berjalan perlahan dengan hujan yang sedikit demi sedikit mulai reda. Dan menuju rumah makan yang ada di sekitar air terjun itu. Semua kejadian tadi masih teringat dan terekan jelas dalam ingatanku.

Aku segera memutuskan untuk kembali ke villa tempat kami semua bermalam disana sebelum akhirnya kembali ke Seoul besok paginya. Setelah beberapa menit akhirnya aku mendengar bahwa mereka berdua telah sampai di villa ini.

Aku masih berada di dalam kamarku tanpa berniat untuk keluar. 1 jam kemudian terdengar pintu kamarku diketuk, lantas dibuka perlahan. Nae Ri terdiam dan melangkah masuk menuju kamarku dan duduk disampingku tepat diatas ranjang dimana aku masih terdiam memegangi majalah yang aku sedari tadi hanya aku pegangi saja.

“Mian…” Nae Ri mengusap pelan rambutku.

“Untuk apa?” Jawabku dingin.

“Karena membuatmu khawatir” Sahutnya perlahan.

“Aku dengar dari salah satu kru, kau berusaha mencariku tanpa mempedulikan hujan yang begitu deras.” Dia mendekatkan kepalanya dan menaruhnya tepat diatas dadaku.

“Semua Laki-laki yang sangat mencintai wanitanya pasti bahkan akan melakukan hal yang sama.” Seringai muncul dari bibirku, aku bahkan tak menatapnya sama sekali saat ini.

“Bukankah ada yang pertama dalam setiap hal? Dan aku rasa, aku hampir saja menjadi orang pertama yang menyelamatkanmu, tapi gagal.” Dia tersenyum dingin.

Nae Ri tiba-tiba menghentikan usapan tangannya pada dadaku ketika aku mengucapkan kalimat itu.

Bukankah kata-kataku itu benar, Nae Ri? Semua laki-laki yang mencintai wanitanya pasti akan melakukan hal itu. Apa kau masih tak memahami maksudku? Batinku.

——————

NAE RI’S POV

“Semua Laki-laki yang sangat mencintai wanitanya pasti bahkan akan melakukan hal yang sama.” Donghae melontarkan sebuah kalimat yang membuatku seketika terdiam.

Ingatanku melayang pada sebuah nama lain, Siwon. Apa yang dia maksud adalah Siwon? Mencintainya wanitanya?. Aku semakin terdiam. Dan, bahkan dia tak pernah mengetahui bahwa orang pertama yang melakukan hal itu adalah Siwon.

Orang yang tanpa peduli dengan dirinya sendiri memilih untuk mencariku disaat hujan turun dengan derasnya dan menenangkanku.

“Hya…wae? Kenapa kau diam?” Donghae tertawa kecil, dia mulai menatapku setelah mengacuhkanku.

“Apa kau memikirkan namja lain?” Dia menggodaku.

“Mwo?” Sahutku seadanya.

“Tentu saja aku akan melakukan hal itu untuk mencarimu Kim Nae Ri-ssi, bukankah kau adalah wanita yang sangat aku cintai, eoh?” Dia menggerakkan tubuhnya membuatku sedikit bergeser dari dadanya dan membuat keningku terbentur.

“Appo….” Rintihku.

“Appo?” Tanya Donghae meledek.

“Kemarilah, biar aku obati” Seketika Donghae mencium keningku yang terbentur dengan perlahan, terasa hangat.

Aku tersenyum, namun dia masih terdiam.

“Apa kau juga akan menyembuhkanku ketika aku merasa sakit?”

“Tentu saja” Jawabku pasti.

“Dimana? Mana yang sakit?” Tanyaku.

“Disini.”

Aku terdiam saat melihatnya memegangi dada sebelah kanannya, dan memperlihatkan wajah yang begitu dingin. Apa maksudnya? Apa dia sedang merasakan sakit? Apa dia mengetahui tentang kejadian yang aku dan Siwon alami di gubuk tua itu? Apa aku harus menceritakan semuanya kepada Donghae?.

Namun aku memutuskan untuk tidak menceritakan hal itu. Aku tersenyum saat di memegangi dada sebelah kanannya itu. Dan perlahan mendekatinya.

“Apa kau tahu? Bahkan kau akan sakit pada bagian ini.” Aku memencet keras hidungnya lalu berlari.

“Hya…” Donghae berteriak dan mulai mengejarku.

Berhasil, dia segera menarik tanganku dan membuat tubuhku berada dalam pelukannya, suasana sedikit menjadi hangat.

“Biarkan seperti ini, 5 menit saja” Pintanya.

“Eoh, tapi Donghae-ah…neo gwencana?”

“Bukankah kau alergi dingin? Apa kau tak merasa pusing? Aku akan membawakan obat untukmu agar tidak terkena flu” Tanyaku khawatir karena dia mencariku saat hujan deras turun tadi, namun dia masih tetap terdiam memelukku.

“Shiero!!” Tolaknya.

“Hya…neo, kau bisa terkena flu”

“Biarkan saja begitu, karena dengan aku sakit kau bisa lebih perhatian.”

“Dasar anak kecil” Ejekku.

“Hya…lepaskan pelukanmu, aku akan membawakanmu obat.”

Donghae lantas melepas pelukannya dan tersenyum, namun aku rasa senyumannya sedikit berbeda. Dia mendekatiku dan membuatku terjatuh tepat diatas ranjang yang ada di kamarnya itu. Donghae lantas segera berjalan dan berada tepat diatas tubuhku saat ini.

Dia tersenyum, memandangiku yang masih terdiam karena melihat tingkah anehnya. Dia lantas mengunci kedua tanganku dan mendekatkan wajahnya tepat diatas wajahku. Aku hanya bisa terdiam tanpa bisa melawannya.

Namun dia tersenyum, melihat tingkahku yang merasa kebingungan dan melepaskan cengkeramannya pada kedua tanganku dan lantas beranjak dari tempatnya.

“Tenanglah, bukankah aku sudah pernah berkata bahwa aku tak akan menciummu kecuali kau yang meminta.” Aku terdiam mendengar kata-kata Donghae.

Ya, aku masih ingat bagaimana dia melakukan hal yang sama seperti tadi saat kami berada di tangga lantai 7. Dia berusaha membuatku terus besar kepala karena aku merasa dia akan menciumku, namun ternyata tidak. Dan kali ini dia melakukan hal yang sama. Entah kenapa tak ada perintah yang keluar dari bibirku untuk membuatnya menciumku.

Hubungan kami memang baru berjalan, namun aku merasa dia sangat mengerti perasaanku, bahkan aku sendiri merasa aku sangat egois. Donghae yang selalu mengalah dan tak pernah mengetahui perasaanku yang sebenarnya.

Dia memang sudah berjanji untuk menyembuhkan semua sakit yang aku rasakan, namun kenapa sepertinya aku sendiri membiarkan diriku terus merasakan sakit? Entahlah, apa semua ini benar? Bahkan dia tak pernah sedikitpun terlihat marah ketika menghadapiku.

Dia sangat begitu berbeda dengan Siwon yang lebih temperamental, dan menunjukkan rasa sayangnya dengan kemarahan kecil yang keluar dari dirinya. Namun Donghae tidak, dia lebih sabar menghadapiku.

Aku tersenyum memandangi Donghae yang sedang bercermin dan membenarkan letak rambutnya. Lantas aku beranjak dari ranjang itu dan menuju laki-laki itu. Aku memeluknya dari belakang, dia hanya terdiam.

Aku merasa sangat bersalah untuk tidak bercerita kepadanya tentang kejadian itu. Kejadian dimana aku harus bertemu Siwon di gubuk tua itu. Apakah dia memang tak pernah mengetahui itu semua?.

“Bukankah kau ingin mengambilkanku obat?” Tiba-tiba suaranya memecah keheningan.

“Eoh, arra…arra” Aku lantas keluar dari kamarnya dan menuju ruang kesehatan di villa itu untuk mengambil beberapa obat untuk Donghae. Dia akan terkena flue jika merasa kedingingan maka dari itu aku segera mencarikan obat untuknya.

Namun saat hendak membawa obat itu kekamar Donghae, tiba-tiba saja langkahku terhenti melihat sosok laki-laki yang sudah memandangiku dari kejauhan. Terdiam melihat langkahku yang melambat ketika mengetahui keberadaannya itu.

Dia terus memandangiku tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Kamarnya memang berada sebelum kamar Donghae. Aku tak bisa berfikir apa-apa, dan seketika kakiku semakin berat untuk melangkah. Aku masih mengingat kejadian di gubuk itu, masih sangat mengingat perbuatannya.

Tanpa sadar langkahku terhenti, dan berada tepat dihadapannya. Dia terus memandangiku dengan pandangan itu. Aku mengenggam plastik berisikan obat dan segelas air putih untuk Donghae.

“Mian….” Sebuah kata terlontar dari mulutnya.

“Kau boleh menambahkannya kedalam daftar hal yang kau benci, Kim Nae Ri”

“Tolong, jangan pernah mengatakan hal itu Siwon-ssi.” Aku berusaha membuatnya menyudahi kebiasaannya itu.

“Jangan pernah membuatku mengingat semua kenangan tentang kita.”

“Karena semua itu percuma, kita tak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Semuanya sudah rusak.”

“Apa itu semua berasal dari hatimu? Atau hanya mulutmu saja yang berkata seperti itu?” Dia mencoba meyakinkanku.

“Tentu saja.” Tiba-tiba saja Donghae keluar dari dalam kamarnya dan menuju kearah kami.

“Donghae-ah…” Lirih aku berkata.

“Dia tak akan pernah kembali untukmu, karena dia sudah memilikiku” Donghae lantas menarik tanganku dan ingin segera membawaku pergi dari hadapan Siwon.

Namun Siwon tiba-tiba meraih sebelah tanganku dan membuat beberapa tetesan air jatuh dari gelas yang aku pegang. Dua orang laki-laki sedang berusaha meraihku dari masing-masing tangan mereka.

“Ah…kau sekarang mencoba melawan secara terang-terangan?.” Donghae semakin erat menggenggam tanganku.

“Wae? Kau takut Nae Ri akan kembali padaku?.” Siwon mencoba membuat keadaan semakin kacau.

“Kau bercanda? Bahkan dia sudah berkata tak akan pernah kembali padamu.”

“Itu semua adalah kalimat yang keluar dari mulutnya, aku tak yakin hati kecilnya berkata seperti itu.” Siwon menyeringai.

Aku semakin merasa kesakitan ketika tangan dari dua orang laki-laki ini semakin erat menarikku. Aku mencoba menahan, namun sudah tak bisa lagi dan akhirnya aku berusaha memberontak.

“Ap…appo….” Aku merintih kesakitan.

Saat mendengar kata itu tiba-tiba Donghae melepas genggamannya dari tanganku, dan membuatku sedikit bergerak mundur kearah Siwon. Dia memandangiku merasa bersalah. Siwon bahkan tersenyum melihat hal itu.

“Lihatlah, apa yang baru saja kau lakukan Donghae-ah. Bahkan hal sekecil ini saja membuatmu membiarkan Nae Ri berada dalam genggamanku. Bagaimana kalau dia yang memintamu untuk membuatku kembali padanya?.”

“Aku selalu menjadi yang pertama dalam setiap hal dalam kehidupan Nae Ri, bukankah itu hal yang bahkan tak bisa kau lakukan, Donghae-ah?”

“Dan mungkin saja aku menjadi orang pertama yang akan merebutnya darimu.” Aku tak bisa berdiam lagi, Siwon sudah keterlaluan kali ini.

“Siwon-ssi, bisakah kau akhiri semua ini? Dan tolong lepaskan tanganmu itu.” Kata-kataku membuat bola mata Donghae sedikit melebar, begitu juga dengan senyuman Siwon yang berubah menjadi garis datar.

“Hanya karena aku diam melihat tingkah kalian ini dan membuatmu merasa menang bukan berarti aku mengikuti permainan kalian. Aku hanya mencoba untuk bersabar, tapi kelakuanmu sudah keterlaluan kali ini.”

“Dan tolong, jangan menyalah artikan kediamanku seperti beberapa jam yang lalu.” Tanpa sadar aku mencoba memperingatkan Siwon dengan kejadian di gubuk itu tanpa membuat Donghae merasa penasaran, namun tatapan Donghae berubah menjadi tatapan curiga.

Aku mencoba melepas genggaman tangan Siwon lalu menarik lengan Donghae dan segera menuju kekamarnya untuk memberinya obat. Entahlah, aku merasa sangat lelah hari ini dengan kejadian yang menimpaku. Aku mengambil obat dari plastik dan memberikannya kepada Donghae, lalu memberinya segelas air putih namun tanpa sadar air mata menetes perlahan.

Dasar wanita cengeng, batinku.

Aku membutuhkan Hye Mi saat ini, semoga saja persiapan pernikahannya akan berjalan dengan baik sehingga aku tak mengganggunya dengan cerita yang mungkin membuatnya bosan.

Hye Mi-ah….aku merindukanmu.

—————-

Mianhe….karena chapter 7 agak terlambat, soalnya author abis fokus UTS nih. Maklum udah semester 4 jadi banyak materi kuliah yang amat sangat menyita perasaan *curhat* Otte? Semoga suka ya….rencananya sih mau bikin sampe 10 chapter aja, jadi kurang 3 chapter lagi udahan deh hahaha, jangan lupa ya RCL kalau ngga mau dianggep HANTU *hiiiii* READ COMMENT LIKE :)) GOMAWOOOOO

 

 

 

 

 

One thought on “LOVE IS PAIN | Chapter 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s