LOVE IS PAIN | Chapter 6

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 6

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 6

SIWON’S POV

 

Kini semua orang di perusahaan ini pasti sudah mengetahui semuanya. Aku masih mengingat jelas bagaimana Donghae berkata kepadaku tentang hubungannya dengan Nae Ri. Baiklah, aku memang merasa sangat cemburu dengan hubungan mereka. Tapi aku bisa berbuat apa? Bahkan wanita itu sepertinya juga mempunyai perasaan kepada Donghae.

Aku mengingat perkataanku kepada wanita itu semalam, bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tapi apakah dia bisa mengerti itu? Apakah dia tak mengerti bagaimana hidupku setelah 4 tahun meninggalkannya?

Aku memang pantas untuk dibenci. Mereka, dua orang yang berarti dalam hidupku kini bersatu dan saling mencintai. Apakah ini adil? Apakah ini karma untukku? Karma karena telah meninggalkan Nae Ri begitu saja?.

Tok…tok…tok terdengar sebuah ketukan pintu, dan terlihat seorang wanita masuk kedalamnya membawa beberapa berkas kedalam ruanganku. Apa aku harus bertemunya lagi setelah kejadian yang baru saja aku alami?

Dia terlihat tenang, bahkan sudah membiasakan dirinya untuk menatapku. Entahlah, sekarang sepertinya akulah yang berada dalam posisi enggan menatapnya. Karena semakin lama dia berada dihadapanku, rasa rinduku terhadap wanita itu semakin besar.

“Sajangnim, ini beberapa desain para newbie untuk bulan ini. Kamsahamnida” Dia lantas membungkuk dan bersiap untuk meninggalkan ruanganku.

“Nae Ri-ah…” Langkahnya terhenti.

“Apa kau benar-benar sudah melupakanku?” Tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulutku.

Dia masih terdiam, tak bergerak dan masih memegangi kenop pintu ruanganku. Aku beranjak dari kursiku dan berjalan kearahnya.

“Kalau kau melakukan ini hanya untuk menghukumku, maka kau berhasil. Ya, aku terluka melihatmu bersama Donghae” Aku berjalan, semakin mendekat.

Dia mulai beranjak dan membuka kenop pintu itu, namun aku berusaha mencegahnya. Entahlah setan apa yang ada dalam otakku, aku lantas menarik dan memeluknya dari belakang, dia mencoba menghindarinya dan berontak.

Namun aku terus mengencangkan pelukanku dan meletakkan daguku tepat dibahu kirinya, sampai akhirnya dia terdiam dan tak bisa menolak pelukanku.

Jarak kami sudah sangat dekat. Aku bisa merasakan bau parfumnya dengan jelas, parfum yang identik dengan dirinya, ia masih menggunakan itu sampai sekarang.

“Kau masih menggunakan parfum ini?” Aku tersenyum, semakin mengeratkan pelukanku dan tetap meletakkan daguku pada bahunya.

“Siwon-ah, lepaskan” Suaranya bergetar.

“Apa kau lupa aku siapa? Aku adalah yeojachingu saudara laki-lakimu” Dia berontak dan melepaskan pelukanku, dan seketika berbalik menatapku tajam dengan matanya yang mulai berair lalu dia menunduk untuk menutupi itu semua.

“Apa kau tak mengerti perasaanku? Aku yakin kau bahkan tak benar-benar tulus mencintainya, Kim Nae Ri” Aku mendekatinya, menarik tangan kanannya dan mendekatkannya lekat tepat berada dihadapanku.

“Baiklah, aku minta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu. Dan sekarang tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”

“Aku rasa appa akan mengerti, dia pasti akan menerima hubungan kita. Aku sudah dewasa, dan memiliki pekerjaan jadi dia akan menyetujui hubungan kita yang bukan lagi cinta anak remaja seperti dulu” Aku berusaha meyakinkannya, tanpa sadar kedua tanganku sudah mencengkeram kedua bahunya.

“Siwon-ah, appo!!” Dia mengerang kesakitan, namun aku tak memperdulikannya.

“Nae Ri-ah, kembalilah kepadaku” Aku terus memohon.

Dia berusaha melepas cengkeramanku dan berhasil. Nae Ri memegangi bahunya yang kesakitan, aku akhirnya tersadar telah melukai wanita itu secara tidak langsung.

“Nae Ri-ah…mianhe” Aku mencoba mendekatinya namun dia menghindar.

“Kau benar, Donghae bahkan lebih dewasa jauh dibandingkan denganmu dalam hal asmara. Dan kau, hentikan untuk terus menyakitiku. Semuanya sudah berakhir 4 tahun yang lalu. Semuanya. Ya, aku memang belum benar-benar bisa melupakanmu”

“Atau aku harus berkata, semua tentang kenangan bersamamu?” Nae Ri mengeluarkan airmatanya, dia menatapku.

“Siwon-ah, sudahlah…semua sudah berakhir. Aku tak ingin menyakiti Donghae, karena aku tak akan pernah menjadi seseorang sepertimu.”

“Dia sudah berjanji untuk menyembuhkan luka yang kau tinggalkan untukku, dan sekarang aku mohon jangan tambahi luka baru lagi untukku.”

Nae Ri beranjak dan pergi meninggalkan ruanganku. Dengan memegangi lengan kirinya. Aku mungkin keterlaluan, dan telah menyakitinya dengan cengkeramanku. Apa dia benar-benar sudah melupakan semuanya?

Siwon, sadarlah. Dia bukan milikmu, dia adalah milik Donghae, sahabat sekaligus saudaramu sendiri. Aku mendorong semua benda yang ada dimejaku, dan jatuh ke lantai. Meluapkan semua kemarahanku, penyesalan dan semua yang telah aku lakukan terhadap wanita itu.

—————————–

NAE RI’S POV

 

Aku terus menangis, mataku seakan semakin pedih ketika aku berhenti menangis. Kim Nae Ri, kau belum berubah. Kau masih saja menjadi wanita cengeng dihadapan laki-laki itu.

Aku berada di atap seperti biasanya, menikmati setiap perasaan sedihku karena laki-laki itu. Aku terus terisak, mengingat kejadian yang baru saja aku alami.

Siwon, apa kau sudah gila? Apa maksud semua ini? Setelah meninggalkanku begitu saja, sekarang kau datang dan meminta maaf setelah kau tahu aku sedang menjalin hubungan dengan sahabat sekaligus saudaramu?

Aku semakin terluka dan kecewa dengan perbuatan Siwon kepadaku. Apa dia hanya peduli karena aku merasa sakit saat dia mencengkeram bahuku tadi? Apakah dia tak pernah sadar, sebenarnya hatikulah yang lebih terluka 4 tahun silam sampai sekarang.

Kenapa dia terus membuatku dalam posisi yang sulit? Apa itu hobinya? Apa dia menyukai itu semua? Kenapa takdir harus mempermainkan perasaanku kali ini. Bahkan setelah Donghae mengumumkan hubungan kami di hadapan karyawan perusahaan ini, tak membuatku begitu baik.

Banyak karyawan perempuan yang memandangku sebelah mata dan menganggap aku sengaja mendekati Donghae untuk mendapat posisi tinggi. Mereka tahu cita-citaku yang ingin menjadi seorang desainer terkenal dan tak mudah untuk aku mendapatkan itu secara instan di perusahaan sebesar ini.

Sekalipun aku tak pernah berfikiran seperti itu. Desain-desainku memang terpilih dengan cara yang adil dan bersih, tanpa aku harus meminta Donghae meloloskannya. Karena desain yang dibuat para newbie adalah pilihan dan hasil rapat bersama.

Sekarang posisiku adalah yang dirugikan. Mereka menganggapku wanita murahan yang sengaja mendekati Donghae, dan sekarang juga Donghae serta Siwon dalam posisi yang sulit karena Donghae telah membuat semua orang tahu hubungannya dengan Siwon.

Tapi tidak, kali ini Siwon lah yang berada diposisi yang sulit. Karena pasti semua karyawan berfikir Siwon sengaja mengambil kesempatan untuk menjadi sajangnim di perusahaan milik mendiang appa Donghae.

Entahlah, semua perasaan sekarang mencampur dan membuatku kebingungan.

Aku mencoba menghilangkan bekas air mata yang ada di wajahku. Lalu bersiap untuk melanjutkan beberapa pekerjaan. Aku tak boleh terus memikirkan semua hal ini, karena ada yang lebih untukku yaitu impianku.

Perlahan aku berjalan menuju tangga untuk menuju ke ruang kerjaku. Namun langkahku terhenti saat melihat Donghae yang sudah berada tepat dibawah tangga, menatapku dan tersenyum.

Entahlah, aku selalu nyaman ketika laki-laki itu memberiku sebuah senyuman. Dan seketika semua rasa sedihku hilang dan lenyap begitu saja ketika melihat senyumannya.

“Kau disana?” Dia mendekatiku.

“Eoh…” Jawabku pelan.

“Waeyo? Kau menangis?” Donghae berhasil melihat mataku yang sembab.

“Siwon lagi?” Dia terlihat sedikit emosi.

Donghae berusaha meninggalkanku dengan ekspresi mukanya yang emosi. Namun aku mencegahnya, aku menarik lengannya. Berhasil, dia berhenti dan mengerti apa yang aku inginkan.

“Andwe…aku tak ingin ada masalah lagi” Aku mengusap pelan pipi kirinya.

Dia terlihat sedikit tenang, lalu kemudian aku memberinya sebuah senyuman dan tentu saja tergambar jelas eyesmile dari mataku. Dia tersenyum, itu yang selalu dia berikan ketika kau memberikan eyesmile milikku.

“Kau tahu Nae Ri? Bahkan jika suatu saat nanti pada akhirnya kau meninggalkanku, aku tak akan pernah membencimu, selama kau masih memperlihatkan eyesmile itu” Donghae tersenyum.

“Hya….” Aku mencubit pelan perutnya.

Donghae mendekat, jarak kami sekarang hanya beberapa inchi. Entahlah, pikiranku sudah kosong untuk memikirkan hal apa yang akan dia lakukan. Dia terus mendekatiku sampai nafasnya terasa jelas menyentuh permukaan wajahku.

Hidung kami saling bersentuhan, dia mengaitkan tangannya pada pinggangku. Aku memejamkan kedua mataku, ini terasa sangat aneh karena sudah 4 tahun aku tak pernah berfikir akan melakukan hal ini.

Beberapa detik berlalu, namun aku masih merasakan hidung kami bersentuhan. Namun seketika aku membuka mataku saat bibir Donghae menempel tepat di dahiku, hangat dan lembut. Ia lantas tersenyum dan mencubit hidungku. Sepertinya ia ingin membuatku merasa malu telah berfikir macam-macam.

“Aku akan menciummu jika kau menyuruhku untuk melakukannya, Kim Nae Ri-ssi” Dia tersenyum licik.

Dasar, anak kecil. Aku tersenyum lebar saat melihat tingkahnya yang berhasil mengerjaiku.

“Neo….”

Aku melebarkan kedua mataku dan bersiap untuk melayangkan sebuah cubitan pada perutnya.

———————-

DONGHAE’S POV

 

Aku tahu kalau dia belum benar-benar tulus mencintaiku. Cinta? Aku bisa melihat itu semua dari caramu marah, tertawa, menangis, dan berteriak menyebut sebuah nama, bahkan cinta juga bisa berupa sebuah luka yang sulit disembuhkan.

Ya, semua itu masih untuk Siwon. Bahkan aku tak bisa protes untuk hal itu. Ini soal hati dan perasaan dimana tak ada orang lain yang benar-benar bisa merasakan penderitaan orang lain, selain dirinya sendiri.

Aku hanya butuh untuk bersabar. Bersabar menunggu hatinya benar-benar terbuka untukku. Dan melupakan semua kenangannya bersama Siwon. Apa itu mungkin bisa terjadi?

Entahlah, rasanya aku benar-benar sudah gila untuk wanita itu. Ini pertama kalinya aku merasa jatuh cinta dengan tulus kepada seorang wanita. Dulu memang aku suka sekali mempermainkan hait seorang wanita. Bukan salahku karena mereka yang mendekatiku terlebih dahulu.

Aku tersenyum mengingat ekspresi wajahnya saat aku mencoba untuk menciumnya. Apa karena sudah beberapa tahun ia canggung untuk melakukan hal itu? Umur kami memang sudah dewasa, dan sudah siap untuk menikah.

Terkadang perasaan ini muncul begitu saja. Apakah aku mendekati gadis itu hanya untuk membuat Siwon menderita? Rasanya tidak, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku meamng benar-benar tulus mencintai wanita itu.

Ini mungkin gila, tapi aku benar-benar sudah mencintai wanita itu pada pandangan pertama. Saat dia menunjukkan senyuman manisnya beserta eyesmile miliknya itu. Seketika dunia bergerak seperti dalam film, slow motion. Banyak bunga bertebaran dengan banyak kupu-kupu. Aku merasakan hal itu saat meliaht senyumannya untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba saja aku teringat akan hal penting, bahwa semua orang kini tahu hubunganku dengan Siwon. Benar, kali ini dia berada di posisi yang berat. Entahlah apa yang terlintas dalam pikiranku, aku hanya ingin memberinya sebuah kejutan.

Aku telah mempunyai Nae Ri dan tak akan pernah peduli dengan pernikahan appanya dengan eommaku. Baiklah aku memang harus berfikir dewasa kali ini. Mungkin mereka mempunyai alasan tersendiri. Tapi tetap saja aku tak habis pikir dengan keputusan mereka.

Aku mencoba menghilangkan semua pikiran itu dan fokus pada proyek selanjutnya untuk majalah akhir bulan ini. Desain Nae Ri terpilih lagi kali ini, dia memang berbakat. Dan kami sedang mempersiapkan untuk pemotretan desain buatannya minggu depan. Itu berarti Siwon, aku dan Nae Ri akan dipertemukan lagi.

Memang takdir sedang bermain-main dengan kami rupanya. Baiklah akan aku jalani semua ini. Minggu depan, lokasi yang dipilih adalah desa kecil di pulau Jeju dengan air terjunnya yang indah.

Akan membutuhkan waktu sehari penuh untuk pemotretan itu, jadi sepertinya semua kru dan beberapa karyawan akan menginap di dekat resort untuk satu hari dan itu berarti akan ada waktu yang cukup lama untuk kami bertiga berada dalam satu kesempatan.

Baiklah, semuanya akan aku jalani.

——————-

[Seminggu kemudian]

AUTHOR’S POV

 

Setelah sampai di bandara pulau Jeju, Nae Ri dan Donghae segera menuju ke lokasi pemotretan dengan mobil yang sama. Siwon yang melihat mereka hanya terdiam.

“Woah….neomu yeppota…” Nae Ri melihat keluar jendela mobil pepohonan yang berderet rapi dan hijau.

“Ah…..jhoa….” Dia melakukan kebiasaannya lagi.

“Hya….” Donghae tertawa.

“Wae?” Sahut Nae Ri dengan polosnya.

“Neo….kenapa selalu melakukan hal itu dihadapanku.”

“Mwo?”

“Ah…..jhoa….” Donghae menirukan kekasihnya itu.

“Hya….” Protes Nae Ri.

“Wae?” Donghae tetap menirukan Nae Ri.

“Aish….jjinja” Nae Ri hanya tertawa geli melihat Donghae.

Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di sebuah desa bernama Jeolladeom, sebuah desa kecil dengan air terjun indahnya yang terkenal. Mereka sampai sekitar jam 1 siang dan lantas menyiapkan segala persiapan, pun juga kru dan karyawan yang ada disana.

Pemotretan akhirnya dimulai. Nae Ri yang merupakan desainer dari konsep yang ada, memberi arahan dan membenarkan beberapa letak pakaian yang dipakai sang model sebelum akhirnya medapat angle yang pas.

Semua pemotretan berjalan dengan lancar, sampai tak terasa waktu pun sudah hampir gelap. Senja telah datang dan mereka segera mempersiapkan diri untuk mengemasi semua peralatan.

Donghae dan Siwon mencoba bersikap profesional saat memulai pekerjaan. Mereka memang terlihat biasa saja jika sudah berhadapan dengan sesuatu yang menyangkut orang banyak.

Perusahaan mereka menampung banyak karyawan yang harus mereka gaji. Itu berarti mereka harus mengesampingkan masalah pribadi mereka, dan memikirkan tentang nasib semua karyawannya.

Nae Ri berjalan menuju Donghae yang sedang mengecek hasil pemotretan. Siwon sedang memeriksapara kru yang membereskan peralatan, dan berada meter dari Donghae dan Nae Ri.

“Hye Mi-ah….”

“Wae? Aku mungkin pulang besok, karena…”

Tut…tut…tut

Tiba-tiba saja sambungan teleponnya terputus. Nae Ri memandangi ponselnya yang ternyata tak mendapat sinyal cukup. Akhirnya dia berusaha mencari-cari sinyal namun tetap saja gagal. Dia berjalan menuju Donghae yang terlihat sibuk melihat hasil pemotretan.

“Donghae-ah…sepertinya tak ada sinyal disini. Hye Mi baru saja menghubungiku dan terputus begitu saja” Nae Ri mendekati Donghae dan menunjukkan ponselnya.

“Aku pergi duluan, siapa tahu akan ada sinyal yang masuk, eoh?” Nae Ri berpamitan pada Donghae, laki-laki itu sibuk dengan hasil pemotretannya dan ahanya mengangguk saat Nae Ri berpamitan.

“Eoh…” Jawab Donghae seadanya karena dia fokus pada kamera yang ia pegang.

Siwon mendengar pembicaraan Nae Ri dengan Donghae dan melihat Nae Ri yang berjalan menjauh dari lokasi pemotretan.

Setelah beberapa menit tiba-tiba saja hujan deras datang. Semua yaang ada dilokasi itu langsung bergegas menuju sebuah rumah makan didekat lokasi tersebut.

Hujan deras disertai kilatan dan juga petir memecah senja dilokasi tersebut. Setelah semua sudah berada di rumah makan itu, Donghae memastikan semua sudah ada disana. Mereka berjumlah 9 orang saat berangkat menuju lokasi, sekaligus Donghae, Nae Ri dan Siwon.

Namun disana hanya ada 8 orang, dan seorang kru menyatakan bahwa Kim Nae Ri tak ada dalam rumah makan itu, namanya terdaftar dalam list yang ada dikertas itu. Siwon mendengar bahwa Nae Ri tak ada dalam rumah makan itu, begitu pula dengan Donghae yang akhirnya tersadar bahwa Nae Ri tadi berpamitan padanya untuk mencari sinyal.

“Busajangnim, sepertinya kita kehilangan satu orang kru”

“Ah….Nae Ri” Donghae lantas tersadar dan menepuk dahinya.

“Nde, Kim Nae Ri-ssi tidak berada disini”

Tanpa pikir panjang Donghae lantas memutuskan untuk menerjang hujan deras yang ada, tanpa jas hujan atau pelindung apapun. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Nae Ri disaat hujan deras seperti ini.

Siwon pun dengan segera menyusul kepergian Donghae. Para kru juga ikut cemas, dan terheran melihat dua orang laki-laki yang terlihat sangat peduli pada wanita itu.

Siwon terus berjalan, walaupun hujan semakin deras dan petir serta kilat melengkapi hari yang semakin gelap. Siwon terus berjalan beberapa ratus meter dari lokasi tersebut. Ia khawatir dengan keadaan Nae Ri, karena ia hafal betul bagaimana Nae Ri akan ketakukan berada ditempat yang bukan kamarnya dan harus mendengar petir serta melihat kilatan petir.

Setelah beberapa menit, Donghae kembali kerumah makan itu dan mendapati Nae Ri belum berada disana.

“Siwon sajangnim juga belum kembali kesini, busajangnim” Salah satu kru mengatakan bahwa Sajangnim juga belum kembali.

“Mwo?” Donghae mencerna kembali perkataan kru tersebut.

“Ya, beliau ikut mencari Kim Nae Ri-ssi beberapa menit lalu dan belum kembali.”

Donghae terdiam mendengar perkataan kru tersebut, karena Siwon yang juga ikut mencari Nae Ri. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali mencari Nae Ri, dan setelah beberapa menit akhirnya ia menemukan sebuah gubuk yang berada beberapa ratus meter dari lokasi pemotretan.

Ia yakin Nae Ri berada didalam sana, Donghae lantas tersenyum dan beranjak menuju gubuk yang pintunya terbuka itu untuk segera membawa Nae Ri pergi dari sana. Dengan segera ia berlari dan menuju gubuk tersebut sebelum akhirnya terdiam, senyumnya berubah menjadi sebuah garis datar ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

——————–

Chapter 6…..selesai, otte? Jangan lupa RCL ya….GOMAWO ^^

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s