Still U | Part 5 (Squel – My Little Story)

 

kyuhae

STILL U (Squel My Little Story)

 

Author  : @Me_Cahyaa

Tittle      : Still U (Squel – My Little Story)

Lenght  : Chapter

Genre   : Love, Sad, family, Angst.

Rate       : General

Main Cast            : Ahya Kim (OC), Lee Donghae (SJ).

Support Cast      : Choi Minho (SHINee), Cho Kyuhyun (SJ), Temukan Sendiri^^

Disclaimer           : This story original is mine. Don’t copy paste. Plagiat, dan semacamnya. Terima kasih^^

 

=Still U Part 5=

 

Lagi. Hembusan angin itu datang kepadanya. Membawa kembali luka yang sudah pernah dirasakannya beberapa waktu yang lalu. Kini ia hadir dengan massa yang lebih berat dan juga hembusan yang begitu kencang. Kala itu, mungkin dirinya masih bisa tersenyum. Tapi kini rasanya mustahil.

 

Perlahan, orang-orang itu mulai memundurkan langkahnya. Memberi jalan untuk pria itu. Begitu pula dengan kedua orang gadis yang tadinya begitu bersemangat untuk memegangi Ahya. Kini mereka memilih untuk melepaskan tangan Ahya dengan kasar hingga gadis itu kembali terdampar ditanah.

 

Pria itu berjalan mendekat. Mencoba meraih tangan Ahya, tapi sebelum itu. Cho Kyuhyun kembali menatap wajah kedua orang gadis yang masih terdiam ditempatnya. Sembari menunjukkan layar ponsel miliknya.

 

“Kalian tau tidak? Aku sudah merekamnya sejak tadi! Jika video ini aku unggah ke Youtube, aku yakin! Kalian akan menjadi buronan polisi” ucap Kyuhyun sambil terseyum licik, kemudian menyimpan ponselnya kedalam saku celananya.

 

“Ya! Siapa kau? Huh?” Jinah membuka suaranya.

 

“Kau tak perlu tau siapa diriku. Yang jelas, jangan pernah kalian menyakiti gadis ini lagi! Jika sampai aku tau, maka tak segan-segan aku akan mengupload video ini dan lebih parahnya lagi, aku akan melaporkan kalian berdua kepolisi. Dengan kasus penganiyayan”

 

Kedua gadis itu merengut kesal, menghentakkan kakinya kesal lalu kemudian berjalan pergi dari tempat itu. Begitu pula dengan orang-orang yang tadinya mengerubungi mereka, kini berbondong-bondong pergi meninggalkan tempat itu.

 

“Gomawo Cho” Kyuhyun terdiam, tak menggubris perkataan Ahya. Pria itu hanya tersenyum. Kemudian mencoba mengangkat tubuh Ahya dari tanah, lalu berjalan sembari mengendongnya.

 

“Yak! Cho, aku bisa berjalan” Ujar Ahya sembari memukul dada Kyuhyun.
“Diamlah Noona. Kau fikir, aku sebodoh itu huh?”

 

“Aish, Kyuhyun-ssi”

 

“Itu pertama kalinya kau memanggilku seperti itu. Terdengar aneh, kembalilah memanggilku Cho”

 

“Yak! Turunkah aku, aku bisa berjalan” gadis itu kembali merengek. Dan Kyuhyun masih enggan menurunkannya, pria itu hanya terdiam mendengarnya lalu melanjutkan langkahnya. Masih jelas teringat dimemori Kyuhyun, betapa kesulitannya gadis itu untuk berjalan bahkan berdiripun tak kuasa. Sebenarnya, sedari tadi sejak Ahya pingsan, Kyuhyun selalu melihat dan mengawasi ‘Noona’ nya itu dari kejauhan. Termasuk mengikuti kemana Choi Minho membawa gadis itu ketika gadis itu pingsan tadi. Berbekal ‘amanah’ dari Donghae yang menyuruh pria itu untuk menjaga Ahya, Cho Kyuhyun nekat mengikuti mobil Minho. Hari ini, Kyuhyun memang sengaja meminjam mobil Kona Beans yang kebetulan sedang tidak dipakai.

 

“Baiklah, Cho aku menyerah. Emm, ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada disini?” Ahya kembali membuka suaranya setelah tadi sibuk merengek, kini gadis itu memilih untuk menuruti kemauan Kyuhyun. Karna gadis itu tau betul, bagaimana sifat keras seorang Cho Kyuhyun.

 

“Sudahlah Noona, aku sedang tidak ingin bicara banyak. Mood-ku sedang buruk saat ini” Kyuhyun menerawang jauh menatap mobil yang diparkirkannya tadi dipinggiran jalan. Yah, seperti yang pria itu katakan. Mood-nya sedang tidak baik saat ini. Lebih tepatnya sejak, Lee Donghae menitipkan dirinya pesan tadi dipengadilan. Pikirannya runyam, firasat-firasat buruk terus saja mampir dikepalanya seperti enggan pergi.

 

“Aisssh! Kau menyebalkan”

 

Mereka kini berjalan dalam diam, hingga tak terasa mereka sudah sampai didalam mobil yang Kyuhyun bawa. Hanya suara deruman mesin mobil yang terdengar, karna Ahya tak ingin lagi membuka suaranya. Ia tahu jika Kyuhyun sedang seperti ini, tandanya ada sesuatu hal yang benar-benar sedang dipikirkannya.

 

“Noona, apa kau masih mencintai Donghae Hyung?” gadis itu terdiam, hanya saja kornea matanya yang membesar karna rangsangan kaget yang baru saja didengarnya.

 

“Kenapa kau terdiam?” ujar Kyuhyun sekali lagi, dan mengamati sekilas raut wajah Ahya Kim yang berubah menjadi lebih murung.

 

“Atau jangan-jangan, kau lebih mencintai Minho itu? Ketimbang Donghae Hyung?” Ahya masih terdiam, kepalanya tertunduk dalam.

 

“Apa kau ingin tau Cho?”

 

“Ayolah Noona! Untuk apa aku bertanya jika bukan ingin tau”

 

“Aku sudah membenci Donghae. Aku membencinya, dia sudah menyakitiku” ucapnya seperti berteriak, menyuarakan hatinya yang sangat sakit, terlebih saat Donghae berkata akan meninggalkan Korea. Kyuhyun terdiam, entah apa yang ia pikirkan. Ia hanya sesekali melirik kearah Noona-nya itu yang kini tengah menangis.

 

“Noona—“

 

“Aku benci! Karna dia berkata akan pergi dari sini. Aku benci itu!!”

 

“Noona Ya—“

 

“Aku akan berusaha kembali membuka hatiku untuk Minho” Kyuhyun tercengang mendengarnya, terlebih Ahya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, gadis itu berharap jika Minho dapat membuatnya melupakan Lee Donghae.

 

“Noona! Kau yakin?”

 

“Cho, tolong antarkan aku. Aku—ingin menjenguk orang tuaku” tanpa membalas pertanyaan Kyuhyun, Ahya mencoba mengalihkan percakapan. Gadis itu menghempaskan tubuhnya pada sandaran jok, kemudian mencoba memejamkan matanya, membuat Kyuhyun tak berkutik dan menurutinya.

 

“Sebaiknya kita pergi kedokter dulu, mengobati kakimu. Setelah itu aku baru akan mengantarkanmu kesana”

 

“Tak perlu Cho. Aku ingin sekali menjenguk orang tuaku” ucapnya. Gadis itu kembali membuka matanya, melemparkan pandangannya jauh pada kaca mobil itu. Ada setitik rasa yang menggumpal dalam hatinya. Perasaan takut kehilangan, yang entah ditujukan pada siapa. Saat ini bercerita pada kedua orangtuanya adalah langkah yang paling baik. Yah itu terbaik.

 

“Haaah, baiklah”

 

“Oh ya Cho. Aku ingin tau, apa tadi kau benar-benar merekamnya?”

 

“Tentu. Apa kau fikir, aku pernah bermain dengan kata-kata?”

 

“Lantas, kenapa kau malah sibuk merekam? Sedangkan kau tau aku sedang dalam situasi seperti itu” Ahya melepaskan nafasnya yang mengganjal ditenggorokannya. Apa ini rasanya? Gadis itupun tak tau, yang jelas kini perasaannya tak karuan memikirkan kehidupannya yang seakan sudah tak berarti.

 

“Maafkan aku Noona, aku hanya ingin memberi mereka pelajaran” jawab Cho Kyuhyun dengan raut wajah penyesalan. Yah seharusnya ia tak membiarkan Noona-nya itu merasakan kesakitan yang cukup lama. Tapi setidaknya, pria itu hanya ingin sekedar membuat perhitungan pada kedua gadis tadi, jika saja mereka kembali mengusik kehidupan Ahya Kim. Kyuhyun takut, dia khawatir dengan kondisi Ahya Kim. Ia hanya ingin sedikit mengurangi risiko stress yang mungkin saja akan menyerang gadis itu. Kepergian Donghae, vonis orangtuanya, juga bully-ing dari kedua mantan sahabatnya. Kyuhyun takut semua hal diatas akan berakibat fatal bagi kejiwaan Ahya Kim.

 

“Sudahlah Cho. Harusnya aku berterimakasih padamu, bukannya malah menyalahkanmu seperti ini” kedua sudut bibirnya mencoba terangkat lemah. Tapi Ahya Kim memaksakannya agar terangkat sempurna. Memberikan senyuman terbaiknya untuk Cho Kyuhyun, ia tau jika pria itu kini sedang mengkhawatirkannya.

 

==oOo==

 

 

Tangan ringkihnya berpegangan erat pada lengan besar Cho Kyuhyun. Sesekali Ahya Kim meremas tangan pria itu saat rasa nyeri itu menyerang pergelangan kakinya yang tadi terkilir. Kyuhyun hanya bisa menatap Ahya Kim kasihan, dan menghentikan langkahnya sejenak hanya untuk membiarkan Ahya meredam rasa sakitnya. Tadinya Cho Kyuhyun bersikeras ingin menggendong Ahya. Tapi gadis itupun juga bersikeras menolaknya.

 

“Noona—“ panggil Kyuhyun saat Ahya merintih kesakitan.

 

“Gwenchana Cho” Ahya tersenyum palsu, menghela nafasnya sejenak. Kemudian kembali menaiki anak tangga dihadapannya. Beruntung, ruang pertemuan ada dilantai 2. Jadi setidaknya gadis itu tak perlu menaiki ratusan anak tangga yang akan semakin menyulitkan langkahnya.

 

Mereka kembali berjalan dengan keadaan diam dan juga begitu pelan. Hanya terdengar suara plastik yang bergesekan dengan buah-buahan didalamnya yang sedang dibawa oleh Cho Kyuhyun. Sebelum kemari, Cho Kyuhyun dan juga Ahya Kim memutuskan membeli beberapa buah untuk Ayah dan juga Ibunya.

 

 

Awalnya rasa sakit itu datang menelusup kedalam ruang hatinya, bersamaan dengan itu.. Rasa panas nan perih terasa menguar dari sisi bola matanya yang tak ingin berkedip sedikitpun saat melihat Ayah dan Ibunya datang dari pintu masuk, mengenakan baju ‘Tahanan’ beserta kedua Bodyguard ah ralat! Jika dahulu, memang mereka selalu didampingi para bodyguard yang sebenarnya, kini mereka berdua didampingi ‘Polisi’ yang setia disamping mereka.

 

Kedua orangtuanya itu terseyum bahagia menyambut kedatangan anak satu-satunya. Ahya ingin sekali berdiri dan menghambur kedalam dekapan mereka, tapi kali ini gadis itu hanya dapat menahannya dan menunggu sampai kedua orangtuanya sampai dihadapannya. Kondisi kakinya, tak mengizinkan ia bergerak lebih banyak.

 

Akhirnya, mereka sampai. Gadis itu berdiri memeluk mereka, tak dapat lagi ditahannya gerombolan airmata yang sejak tadi mendesak keluar. Mendengar gadisnya menangis begitu memilukan, mereka, Kim Jihoo juga Song Yun Ah tak kuasa menahannya juga. Pelukan hangat itu, tangisan itu, sungguh mengharukan. Cho Kyuhyun hanya dapat terdiam dalam duduknya, memperhatikan sebuah pertemuan yang luar biasa menyakitkan. Dalam hati kecilnya, ia begitu merindukan mendiang kedua orangtuanya. Ingin sekali ia bertemu pada orang tuanya, walau dalam mimpi atau bertemu dengan nyata dialam sana. Tapi Tuhan belum mengizinkan pria itu.

 

Cho Kyuhyun merasa tak bisa menahan airmatanya, pria itu lantas menundukkan kepalanya. Menyeka ujung kedua matanya dengan ibu jarinya dan setelah itu ia memilih memainkan buah-buahan bulat yang ada didalam plastik dihadapannya daripada memperhatikan pertemuan keluarga Kim yang menyakitkan.

 

Beberapa menit berlalu, tak ada suara yang berarti. Hanya sebuah tangisan yang terdengar. Hal itu berakhir saat Ahya melepaskan pelukannya, mempersilahkan kedua orangtuanya duduk dihadapannya. Mereka menyeka airmata masing-masing sebelum memulai pembicaraan.

 

“Ah, Ahya-ah. Siapa dia nak?” suara berat nan serak milik Kim Jihoo memecah keheningan. Pria tua itu menunjuk Kyuhyun yang kini sedang tersenyum, lantas memberi hormat pada orangtua Ahya.

 

“Dia adikku” balas Ahya sambil tersenyum dan menepuk pundak Kyuhyun, memberi isyarat agar Kyuhyun memperkenalkan dirinya pada kedua orangtua Ahya.

 

“Anyeonghaseyo. Cho Kyuhyun imnida”

 

“Oh, jadi dia adikmu yang sering kau ceritakan dan bernama Cho itu? Wah, tampan sekali”ujar Song Yun Ah selaku ibu Ahya Kim, tersenyum lembut pada Kyuhyun. Kyuhyun sedikit terkejut mendengarnya, jadi selama ini Ahya Kim sering membicarakannya dengan orangtuanya?

 

“Lalu? Dimana Lee Donghae? Dia tidak datang?” tanya Ayahnya lagi. Tenggorokkan gadis itu bergerak, seperti menelan sesuatu. Yah, Ahya lupa dan tak berpikir jika orangtuanya akan menanyakan sebab ketidakhadiran Lee Donghae. Kyuhyun menoleh, menatap wajah Ahya yang terlihat begitu tersiksa.

 

“A—aum, Donghae Hyung. Dia sedang sibuk dikantor. Pekerjaannya begitu banyak semenjak menjadi Manager” semua mata tertuju pada Kyuhyun.

 

“Iya Ayah, lagipula inikan jam kerja”

 

“Oh, begitu yah. Padahal, ada sesuatu yang ingin kami titipkan padanya”

 

Bibirnya kembali mengatup rapat, secara tidak langsung Ayah dan juga Ibunya menghantarkan gadis ini untuk mengingat masa lalunya yang sedang diperjuangkannya untuk dilupakan.

“Ah, Ibu—“

 

“Anakku, maafkan kami” suara ibunya terdengar lebih cepat. Wanita tua itu tau kemana arah pembicaraan anak satu-satunya itu. Ahya Kim pasti akan menyinggung soal vonis terbaru mereka.

 

“Kami memang bukan orang tua yang baik untukmu, maafkan kami”

 

“Kau jadi menderita menanggung semuanya. Seorang diri. Ini salah kami, kami telah menghancurkan masa depanmu nak”

 

“Ayah, Ibu..” gemetar menyerang tubuhnya, suaranya tercekat. Dan lagi airmatanya turun.

 

“Kami berjanji, setelah ini kau pasti hidup bahagia. Ini yang terakhir. Kami tidak akan menyusahkanmu lagi, nak” tangan mereka menggenggam erat tangan Ahya Kim diatas meja berwarna coklat terang itu. Seakan terlihat memberi sugesti agar anak satu-satunya itu bertahan.

 

“Cho Kyuhyun—“ Ayahnya kini menatap Kyuhyun penuh harap.

 

“Ah, iya?”

 

“Seharusnya, aku menitipkan ini pada Donghae. Tapi karna dia tak ada disini, maka aku akan menyampaikannya padamu saja”

 

“Apa itu?”

 

“Tolong—tolong jaga putri kami ini, mungkin kami sudah tak bisa menjaganya lagi. Jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia menangis karna kami. Kami sangat mohon padamu”

 

==oOo==

 

Satu hari terberat dalam hidup sudah dilewatinya seorang diri. Merasa tersiksa, tersakiti, dilaluinya hari itu. Menguras airmatanya sepersekian detik, tak mengizinkannya tersenyum tulus barang satu senti saja. Lalu bagaimana dengan satu hari, dua hari dan beribu-ribu hari kedepannya? Masihkah terus berjalan seperti itu? Cobaan-cobaan yang menghadang. Perkataan dan perbuatan yang seakan menghunus kedalam hatinya? Entah, kita lihat saja.

 

Ahya Kim turun dari bus kota itu dengan perlahan. Kakinya yang terbalut perban putih itu berjalan tertatih. Terkadang langkahnya terhenti, dan bibir bawahnya habis tergigit karna menahan ngilu. Meski telah diobati, kakinya masih belum sembuh total. Pintu gerbang kampus yang hanya berjarak beberapa meter saja kini terasa baginya seperti puluhan kilometer yang harus dilaluinya.

 

Dengan semangat tinggi, Ahya Kim kini sudah sampai didalam kampus. Ia sedikit tersenyum lega. Kedua sudut indah itu kembali turun menjadi datar, manakala ia menemukan para mahasiswi yang dilewatinya menatap sinis dirinya, kemudian tertawa kecil, berbisik-bisik. Ahya Kim mencoba tak peduli, mungkin itu semua terjadi karna sidang kedua orangtuanya kemarin. Pikirnya.

 

Ahya meluruskan pandangannya, tapi sesekali ia melirik kearah tatapan semua orang disana. Ia menghela nafas sejenak. Sesungguhnya ia sudah begitu lelah dengan tatapan itu, tapi mau apa dikata? Hari ini ia harus mengambil jadwal untuk sidang skripsinya. Dosen Kim yang menyuruhnya datang langsung.

 

Satu langkah, dua langkah, lima langkah, sepuluh langkah dilaluinya seperti biasa. Pada langkah kesebelas, gadis itu harus bisa mengontrol emosinya. Bibirnya sedikit terbuka, matanya terbelalak lebar, tubuhnya gemetar. Beberapa orang yang tadinya mengerubungi mading, kini bergerak rapih menepi membiarkan gadis rapuh itu melihat apa yang sedari tadi teman-temannya lihat.

 

Sebuah gambar besar, layaknya poster artis terkenal kini melekat kuat disana. Foto seorang gadis yang sedang berlutut dihadapan gadis lainnya. Yang menjadi momok sebenarnya adalah kalimat penjelas yang tertulis disana. ‘Ahya Kim berlutut pasrah pada Lim Hyojung setelah bangkrut dan mengemis bantuan padanya’

 

Ahya Kim mencoba tenang, menghirup udara sebanyak mungkin kemudian menghela nafasnya. Mencoba melengkungkan sudut bibirnya, sambil bergeleng. Memberitahu jika semua itu tidak benar. Gadis itu tak pernah mengemis apapun pada orang lain. Meski airmatanya hendak keluar, gadis itu menahannya. Tak membiarkan lagi setetes saja jatuh hanya karna hal konyol seperti ini lagi. Ia melangkah meninggalkan pelataran itu, dan kembali berjalan menuju ruangan Dosennya itu berada. Membiarkan teman-temannya membicarakannya seperti apa. Ia tak peduli.

 

 

“Minggu depan jam 10.30 jadwalmu” gadis itu mengangguk mendengar instruksi dari Dosen pembimbingnya, Kim Heechul. Pria berawakan tinggi itu tak henti-hentinya menatap mahasiswinya itu dengan tatapan sulit diartikan. Membuat Ahya bertanya-tanya, apa berita itu benar-benar sudah membuat namanya menjadi pengemis sungguhan?

 

“Terima kasih. Kalau begitu bisa saya keluar sekarang?”

 

“Ah, iya” balas Heechul, gadis itu berdiri lalu memberi salam dan berjalan perlahan.

 

“Ahya Kim”

 

“Iya?”

 

“Kenapa kakimu?”

 

“Ah, ini hanya terkilir” ucapnya sambil melirik kearah pergelangan kakinya. Dan tersenyum kecut. Heechul bangkit dari kursinya. Menarik gadis itu agar kembali duduk ketempatnya semula.

 

“Eh, ada apa?”

 

“Duduklah, aku akan mencoba membantumu” Heechul berjongkok, meraih pergelangan kaki gadis itu lalu memijitnya perlahan.

 

“Tahan sebentar” Ahya mengangguk, saat Heechul memulai mengambil ancang-ancang, kemudian..

 

“AAAAAAAAAAAAAAAAAKH” jeritnya saat Heechul menarik pergelangannya kemudian mendorongnya kembali, mencoba memposisikan sendi itu pada tempatnya semula. Gadis itu meremas kuat tasnya saat rasa menyakitkan itu menyerang kakinya kembali. Tapi, sesaat setelah itu rasanya berubah.

 

“Bagaimana? Coba kau gerakkan” Ahya menurut, kemudian mencoba menggerakkan pergelangan kaki kirinya. Dan ajaib! Kakinya terasa kembali seperti dulu.

 

“Waah, sudah tidak sakit. Terima kasih sam, kau berbakat menjadi dokter”

 

“Tak usah berlebihan begitu”

 

Gadis itu tersenyum gembira, akhirnya setelah ini ia bisa berlari sekencang mungkin dan menghindari tatapan-tatapan itu. Mulai dari tatapan iba, kasihan, peduli, menjijikan sampai tatapan membunuh yang akan dilihatnya nanti seusai keluar dari ruangan ini.

 

“Oh iya, Ahya Kim. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan” gadis itu mendongak, mengalihkan perhatiannya pada perban putih tak berguna itu.

 

“Apa? Katakanlah”

 

“Apa semua itu benar?” ucap Kim Heechul dengan sangat hati-hati, takut mahasiswi asuhannya itu menjadi tersakiti. Awalnya, Ahya terdiam seperti mencoba mengerti kata-kata Kim Heechul. Tapi beberapa detik setelahnya gadis itu mengerti kemana arah pembicaraannya. Nafasnya keluar begitu berat, kedua manik hitamnya bergerak gelisah mencari sesuatu yang bisa ditatapnya dengan kosong. Semua orang sudah termakan berita murahan yang tak berdasar seperti itu. Miris sekali.

 

“Kau percaya Sam?” Heechul terdiam, menatap gadis itu dalam. Membiarkan gadis itu mengalah karna tatapannya dan akhirnya kembali membuka suaranya.

 

“Itu tidak benar. Aku tak pernah mengemis pada siapapun. Kau tau sendirikan? Aku bekerja setiap hari di restaurant demi mencukupi kehidupanku, biaya kuliahku, hingga aku sisihkan sedikit penghasilanku untuk membantu menebus Ayah Ibuku dipenjara” Ahya Kim lagi-lagi mengeluarkan senyumannya. Dibalik senyuman itu, tersimpan seribu luka yang sebenarnya sudah begitu menyakitkan.

 

“Mustahil memang, saat aku mengumpulkan uang yang tidak seberapa untuk menebus Ayah Ibuku yang bernilai milyaran. Tapi setidaknya, aku lebih memilih menunggu bertahun-tahun lamanya demi orangtuaku dibandingkan mengemis atau lebih parahnya, menjual tubuhku demi mendapatkan uang banyak dengan hal sesingkat itu” akhirnya, hal yang sejak tadi ditahannya jatuh juga. Airmatanya mengalir deras. Heechul menyambit beberapa lembar tissue yang ada dimejanya, menyodorkannya pada gadis itu membuat Ahya Kim tersadar jika dirinya sudah berkata terlalu jauh. Tapi apadaya gadis itu? Tak ada tempat lagi untuknya berbagi. Selain Cho Kyuhyun, yang pastinya pria itu hanya dapat terdiam merenungkan semuanya.

 

“Aku percaya padamu” tangan Kim Heechul mendarat dipundaknya, menepuknya berkali-kali dengan lembut. Pertanda jika pria muda yang berstatus Dosen itu bangga padanya.

 

==oOo==

 

Dua roda kecil yang menahan beban yang cukup berat itu berputar perlahan seraya ditariknya gagang penyanggah itu oleh sang pemilik. Lee Donghae menyeret kopernya, memasukki area Airport itu lebih dalam. Ia berjalan tenang, matanya yang tertutup kacamata hitam itu terlihat begitu lelah. Bagaimana tidak? Semalaman, pria itu tak bisa tidur. Bukan karna ia takut naik pesawat atau apapun itu yang berkaitan dengan keberangkatannya menuju California, hanya saja pria itu terus memikirkan ‘Mantan’ Gadisnya. Ahya Kim. Tak ada nama lain dipikirannya. Lee Donghae bahkan menghabiskan malamnya dengan mencoba kegiatan konyol yang dapat membatalkan atau menahan kepergiannya dari Korea itu. Contoh, semalaman Donghae menghitung lembar demi lembar kelopak bunga mawar yang dibelinya. Menghitung cabutan pertama dengan berkata “Pergi” kemudian pada cabutan kedua pria itu berkata “Tidak pergi” begitu seterusnya, hingga akhirnya semuanya berujung imbang. Pada bunga pertama berkata jika ia Tidak harus pergi. Bunga kedua mengatakan jika ia harus Pergi. Semua itu membuat kepalanya semakin ingin pecah, bukan justru memberi jalan keluar untuknya.

 

Tapi akhirnya, ia memilih untuk berada disini. Diruang tunggu terminal penerbangan internasional, karna ia masih ingat betul bagaimana niat tulusnya.

 

Donghae terdiam sambil sesekali matanya terpejam, kantuk menyerangnya. Untung tadi ia menggunakan jasa taksi, jika tidak, mungkin ia tidak akan selamat sampai sini. Saat matanya terpejam dalam, tiba-tiba saja bayangan masa lalunya hadir dibenaknya seakan menahannya untuk pergi meninggalkan semuanya.

 

Kenangan saat pertama kali dirinya bertemu dengan Ahya Kim di kampus tempatnya menimba ilmu. Saat itu, Donghae yang berstatus sebagai wakil ketua senat mempunyai hak lebih untuk mengerjai para juniornya yang sedang menjalani ospek. Dengan segala tingkah jailnya, Donghae sukses membuat gadis itu tersipu juga menangis karna dikerjai olehnya. Saat itu, Donghae sengaja menghukum Ahya Kim yang lupa membawa nametag. Seharian, Ahya Kim menjadi ‘assistant’-nya. Donghae tak mempunyai niat untuk memperbudak gadis itu, hanya saja ia ingin menghabiskan waktu bersamanya. Begitu indah, hingga tanpa sadar pria itu tersenyum manis.

 

Sekarang, ia tak dapat berbuat apapun. Mencoba memendam rasa itu selamanya, menyimpan kenangan itu dimemory-nya yang terdalam. Dan mencoba menghapus ukiran nama gadis itu dihatinya.

 

“Para penumpang yang terhormat, pesawat Korea Airlines dengan boing KS 207 tujuan California siap take off. Dimohon untuk para penumpang segera memasuki pesawat”

 

Donghae menatap pengeras suara yang berada tepat diatas kepalanya itu dengan tatapan nanar. Menghela nafasnya, lalu bangkit dan menyeret kopernya. Jadi benar, Donghae akan benar-benar pergi dari sini. Dari Korea. Langkahnya terhenti saat harus mengantri, untuk menunjukkan tiket dan juga paspor. Ada sebagian dari hati kecilnya yang seakan menahannya untuk berjalan maju, tapi itu tak bisa dilakukannya. Pekerjaannya saat ini begitu penting demi menunjang pemasukkannya. Donghae kembali melangkah maju..

 

==oOo==

 

“Ini kembaliannya. Terima kasih, datang lagi ya” Ahya Kim tersenyum lebar, tangannya mengulurkan beberapa lembar uang dari dalam mesin kasirnya. Memberikan kembalian. Setelah itu, ia tak ada pekerjaan lagi. Suasana restaurant terlihat sepi, ini dikarenakan hujan angin yang sejak satu jam yang lalu menerpa ibukota Korea.

 

“Noona!!” seru seorang pria yang sudah dipastikan bernama Cho Kyuhyun. Ahya berbalik menatap pria itu yang kini tengah berlari menghadapnya.

 

“Ada apa?” Cho Kyuhyun mengatur nafasnya yang tersendat akibat berlari begitu kencang dari tempat parkir hingga kedalam, agar dapat menyampaikan sebuah informasi besar yang harus diketahui Ahya Kim. Kyuhyun menyodorkan ponselnya, dan dengan ragu gadis itu mengambilnya dan hendak membaca apa yang tertera dilayar datar ponsel Cho Kyuhyun. Tapi, ia harus menahannya saat ponsel disaku celananya berdering panjang. Ahya mengembalikan ponsel Kyuhyun, menyuruh pria itu menyimpannya sejenak. Lalu mengangkat panggilan masuk diponselnya.

 

“Yeobseo” sapanya dengan ceria saat ‘Jail’ kembali menghubunginya, ia kira ia akan mendengar suara Ayah atau Ibunya. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Yang terdengar malah petugas kantor polisi.

 

“Apa benar ini nona Ahya Kim?”

 

“Iya benar, ada apa?”

 

“Bisa anda datang kesini sekarang?” suara wanita disebrang sana terdengar bergetar, seperti ada sesuatu. Membuat sesuatu mengganjal dihatinya.

 

“Ada apa memangnya?”

 

“Ayah dan Ibu anda, maksud saya Tuan Kim Jihoo dan juga Nyonya Song Yun Ah ditemukan tewas dikamar mandi. Mereka diduga melakukan bunuh diri” mata gadis itu melebar, seperti hendak keluar. Bibirnya saling menjauh, tak lagi tertutup rapat. Tubuhnya bergetar, sendinya begitu lemas hingga akhirnya ia jatuh dibalik meja kasir. Kejutan lagi yang didapatkannya hari ini begitu menyiksanya. Ayah Ibunya tewas bunuh diri.

 

“Anda bercanda? Katakan, ini hanya lelucon! Apa ini hari April Mop?!” Ahya Kim mengomel pada ponselnya, sampai-sampai airmatanya jatuh lagi. Cho Kyuhyun bergerak panik, terlebih saat Ahya Kim melempar ponselnya entah kemana lalu memandang lantai dengan tatapan kosong lalu menangis tanpa suara.

 

“Noona ya? Kau baik-baik saja? Ada apa?” Kyuhyun mendekap erat tubuh Ahya Kim yang semakin tak bertenaga.

 

“Cho Kyuhyun.”

 

“Ayah, Ibuku. Mereka pergi!!”

 

“Ma—maksudmu?”

 

“Mereka pergi Cho!! Mereka meninggalkanku sendiri!! Mereka bunuh diri” gadis itu meremas kuat hoodie abu-abu yang dikenakan Kyuhyun. Menangis kuat hingga para karyawan yang lain mendengarnya, dan ikut menurunkan airmatanya. Mereka yang sejak tadi mendengar kini berjalan perlahan, lalu memeluk gadis itu bersama-sama. Melontarkan kata-kata bela sungkawa dan sabar.

 

Cho Kyuhyun menelan air liurnya dengan sulit. Tangannya menggenggam erat ponselnya lalu menatap takut layar ponselnya itu. Dimenit selanjutnya, Kyuhyun memilih untuk memasukkan kembali ponselnya itu kedalam saku celananya. Menyimpannya dengan baik, bersamaan dengan cerita yang ada didalamnya. Kyuhyun memilih menyimpannya dan menceritakannya nanti pada gadis itu saat gadis itu terlihat lebih tenang. Kyuhyun takut, Ahya Kim ikut bunuh diri saat itu juga, jika mendengar berita yang dibawanya sejak tadi.

 

 

TBC..

RCL yaa^^ biar Author semangat lanjutinnya^^

 

Add/Follow Author Yuks..

FB : Ah Ya Kim

Twitter : @Me_Cahyaa

Gomawo^^

2 thoughts on “Still U | Part 5 (Squel – My Little Story)

  1. Huwwaa makin seru eonni tapi kasian ahyanya berat banget itu mana orang tuanya meninggal gak nyangka bakal kaya gitu…ok lanjut eonni! hwaiting!!!^^9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s