LOVE IS PAIN | Chapter 4

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 4

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 4

AUTHOR’S POV

 

“Jjinja?” Hye Mi memandangi Nae Ri dengan bola matanya yang membesar.

“Eoh…” Jawab Nae Ri perlahan.

“Wae? Kenapa kau malah diam dan tak menjawab pertanyaan terakhirnya itu? Aish…pabo”

“Hya….Hye Mi-ah, bukankah kau saksi atas penderitaanku untuk bisa bangkit dari masa laluku? Aku terlalu takut untuk terluka lagi”

“Nae Ri-ah…hanya karena itu lantas kau tak memberi kesempatan untuk orang lain bisa menjadi penyembuh lukamu.”

“Tapi kau sudah melakukannya, Hye Mi-ah. Kau menolongku untuk bisa tegar.”

“Begitu? Apa kau merasakan hal itu?”

“Aku bahkan hanya berusaha untuk bisa membantu temanku bangkit, bukan untuk menyembuhkan lukanya untuk bisa jatuh cinta lagi” Hye Mi menggenggam hangat tangan Nae Ri.

“Bukankah kau bilang selalu ada yang pertama dalam setiap hal? Aku rasa Donghae akan menjadi orang pertama yang akan menyembuhkan luka di hatimu itu” Hye Mi mengatakan hal itu dengan yakin.

“Benarkah?” Nae Ri menatap sahabatnya dan terdiam sesaat.

“Umurmu bukan remaja lagi, sudah saatnya kau menjalani hubungan dengan orang yang akan menjadi pemimpin keluarga kecilmu” Kata Hye Mi.

“Kau tahu? Aku bahkan berusaha untuk bersabar menunda pernikahanku karena aku sudah berjanji akan sepenuhnya menjagamu, jadi sebelum kau mendapatkan pelindungmu aku rasa aku yang akan selalu jadi pelindungmu” Hye Mi tersenyum pelan.

“Hye Mi-ah….” Bola mata Nae Ri membesar, ia tak menyangka karena traumatiknya membuat sahabatnya begitu peduli sehingga menunda pernikahannya yang sangat diidamkannya itu.

Hye Mi telah bertunangan beberapa bulan lalu dengan kekasihnya. Namun untuk alasan mengapa ia tak segera menikah, Nae Ri sendiri baru mengetahuinya sekarang dan ia merasa bersalah.

“Jadi ini saatnya kau tunjukkan kepada namja itu bahwa kau bisa untuk jatuh cinta lagi” Hye Mi tersenyum.

“Hye Mi-ah…mianhe….aku tak pernah mengetahui hal itu”

“Gwencana…lagi pula aku juga masih ingin hidup bersamamu, melihat gayamu bangun dipagi hari layaknya seorang putri dan membuatku terdiam melihat hal konyol itu.” Hye Mi tertawa.

“But now, you can live with your own prince. Aku rasa kau benar, aku harus mencoba membuka hatiku untuknya.” Nae Ri tersenyum.

“Aku rasa Donghae namja yang baik”

“Eoh, dia memang selalu menjadi pelindungku dan membuatku nyaman” Nae Ri tersenyum.

————————

Nae Ri berjalan dengan semangat hari ini karena ia tak sabar untuk segera memberitahu jawabannya kepada Donghae. Dia sudah sangat yakin untuk memberi Donghae kesempatan itu.

Nae Ri berjalan perlahan, dengan senyuman dan memasuki lift untuk menuju ke lantai 7. Ia tak sabar untuk melihat ekspresi muka Donghae yang pastinya akan terdiam lalu tersenyum dengan manisnya.

Saat pintu lift itu terbuka, Nae Ri terdiam. Seorang namja terdiam, melayangkan sebuah tatapan kepadanya. Tatapan yang mungkin sudah lama ia sendiri tak melihat itu. Nae Ri memandangi setiap garis wajah namja itu, masih sama seperti dulu.

Tatapan kosong yang mungkin orang belum tentu bisa membaca perasaan pemiliknya, namun tidak dengan Nae Ri, dia terlalu hafal semua raut muka namja itu.

Nae Ri bisa mengartikan setiap ekspresi wajah namja itu, apakah ia dalam mood yang baik, atau sedang bersedih, atau bahkan sedang dalam keadaan yang tidak baik.

Tatapan itu, Nae Ri masih ingat. Ingatannya kembali pada masa-masa dimana mereka menjalani hubungan bersama. Saat appa namja itu menentang hubungan mereka.

Siwon mendatangi Nae Ri dengan tatapan seperti itu. Namja itu terlihat kecewa dan sedih. Dia segera mendatangi kediaman Nae Ri untuk meminta maaf, lantas memeluk yeoja itu setelah yeoja itu membukakan pintu untuknya karena ia merasa bersalah.

Nae Ri masih terdiam melihat namja itu. Sampai akhirnya namja itu mencoba mengalihkan pandangannya pada Nae Ri. Siwon mencoba mengubah ekspresi mukanya, karena dia juga terlalu ingat bagaimana Nae Ri sangat pintar mengartikan ekspresi mukanya.

Seketika wajah dingin Siwon pun tergambar, Nae Ri yang masih terdiam langsung memilih untuk segera keluar dan meninggalkan namja itu yang memasuki lift perlahan.

Moodnya yang baik hari ini berubah, dia bahkan tak bisa lagi merasakan kebahagiaan dan antusiasnya untuk mengatakan hal itu kepada Donghae.

Tapi bagaimanapun juga ia harus tetap mengatakan hal ini pada Donghae. Ia sudah berjanji kepada sahabatnya, Hye Mi untuk segera memberitahu jawaban atas pertanyaan Donghae malam itu.

Nae Ri mengetik sebuah pesan kepada Donghae. Mereka sepakat untuk bertemu di atap kantor seperti biasanya, di tempat favorit mereka saat istirahat makan siang nanti.

Donghae tersenyum membaca pesan dari Nae Ri yang sampai pada ponselnya. Ia sudah tak sabar untuk mengetahui jawaban Nae Ri atas pertanyaannya itu.

Saat jam makan siang berlangsung, Donghae lantas berlari segera menuju atap perusahan fashion ternama itu, melihat sosok yeoja manis berdiri menanti kehadirannya. Ia perlahan menghampiri yeoja itu.

“Baiklah, aku rasa memang ini sudah saatnya aku memberi seseorang kesempatan untuk bisa masuk dalam kehidupanku lagi.” Nae Ri tersenyum menatap Donghae yang berada tepat dihadapannya.

Ia sendiri tak mengerti apakah keputusannya benar, namun ia hanya ingin mencoba untuk sesuatu hal yang sudah lama ia sendiri pendam, perasaan cinta.

Donghae memeluk erat dan hangat yeoja dihadapannya itu. Ia tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengekspresikan semua perasaan melalui pelukan.

“Berjanjilah untuk selalu ada di sampingku, dan berada di pihakku.”

“Pasti” Jawab Donghae pelan sambil mengusap poni yeoja dihadapannya itu.

——————-

Sesosok namja terlihat berdiri memandangi dua orang yang sedang berpelukan itu. Dia menatap tajam Nae Ri dan Donghae. Mengencangkan kepalan tangannya, ia meninggalkan tempatnya berdiri menuju toilet di ruang kerjanya, memandangi tiap garis wajahnya yang tergambar jelas emosi yang ada didalamnya.

Ia tak mampu menahan semua emosinya, dilayangkannya sebuah pukulan keras pada cermin yang ada dihadapannya. Retak, cermin itu retak bersamaan dengan hatinya. Darah segar mengalir perlahan di bagian atas telapak tangannya, membuat bekas luka disana.

Sama seperti hatinya, kini ia merasakan luka yang mungkin Nae Ri juga rasakan dulu. Perasaan terluka yang juga Nae Ri rasakan dulu. Ia menundukkan kepalanya pelan, memegangi pinggiran wastafel, tanpa sadar tetesan air mata keluar.

Sudah lama ia tak menangis, matanya panas dan terus mengeluarkan cairan di matanya itu. Siwon menyesali setiap keputusan yang pernah ia buat. Menyetujui pernikahan appanya dengan Donghae eomma, meninggalkan Nae Ri dan membuat yeoja itu menjadi pihak yang tersakiti.

Beberapa menit ia terdiam.

Apa aku harus memperbaiki semuanya?

Batin Siwon.

——————-

Nae Ri masih terdiam, entah mengapa ia merasa senang sekaligus merasa tak yakin apakah keputusannya itu benar.

Dia mengamati ponsel miliknya, tersenyum melihat wallpaper yang ia pasang beberapa menit lalu. Fotonya bersama namja yang sedang mencoba untuk mengobati luka dihatinya, Lee Donghae.

Ia tersenyum.

Segera ia membereskan lembaran sketsa yang ia buat untuk edisi minggu ini, mengambil tasnya dan beranjak pergi dari meja kerjanya.

Ia menuju parkiran kantornya untuk menunggu Donghae disana. Mereka sudah resmi menjalin sebuah hubungan hari ini. Mungkin Nae Ri masih merasa aneh untuk menjalaninya, karena butuh waktu lama untuk ia berusaha siap.

Donghae menuju yeojachingunya yang sedang berdiri menantinya. Sesaat kemudia sebuah mobil audi putih sampai dihadapan Nae Ri. Nae Ri masuk, seperti biasa Donghae memakaikan seatbelt untuknya dan mengusap pelan poni Nae Ri. Hal pertama yang ia terima dalam hidupnya.

Siwon memang menjadi cinta pertama untuk Nae Ri, dan menjadi pemberi ciuman pertama untuk yeoja itu. Mengajaknya ke Namsan tower dan mengunci erat gembok bertuliskan nama mereka berdua. Menjadi yang pertama untuk pemberi luka dihatinya juga.

Namun Donghae, menjadi yang pertama dalam hal-hal kecil. Memakan tomat di burger kesukaan Nae Ri atau pinggiran roti di sandwichnya misalnya setiap mereka makan siang karena Nae Ri tak menyukai tomat dan pinggiran roti.

Menjadi yang pertama memakainya seatbelt untuknya dan mengusap pelan poninya setelah melakukan hal itu. Selalu membalikkan tubuhnya ketika ia mendengar namanya disebut oleh Nae Ri.

Menjadi orang pertama dalam hal-hal kecil.

Hal-hal kecil itu bahkan membuat Nae Ri sangat nyaman dan merasa terlindung. Meskipun Siwon juga menjadi yang pertama dalam hidupnya dulu, tapi Donghae juga memberikan hal-hal pertama yang bahkan orang lain menganggap hal itu adalah masalah kecil. Namun tidak bagi Nae Ri, karena baginya akan selalu ada yang pertama dalam setiap hal.

—————-

NAE RI’S POV

“Bagaimana kalau malam ini kita berkencan, kencan pertama kita” Donghae tersenyum.

“Hya…kau seperti anak muda saja” Aku tertawa.

“Jebaaal…” Pintanya.

“Dasar anak kecil” Aku tersenyum.

“Baiklah” Aku menyetujuinya.

Kami akhirnya menuju ke sebuah taman cukup sepi malam itu, kemana orang-orang? Donghae menggenggam erat tanganku. Kami duduk disebuah bangku yang mengarah tepat ke sebuah danau. Malam itu cukup dingin karena mungkin beberapa minggu lagi musim dingin tiba.

Tentu saja sepi, karena malam ini sangat dingin dan siapa orang gila yang nekat keluar tanpa pakaian untuk musim dingin. Aku dan Donghae, ya sepertinya kami cukup gila untuk itu. Tanpa sadar aku menggigil pelan, Donghae yang mengetahui itu akhirnya membuka jas miliknya dan memakaikannya di badanku.

“Hya….lihatlah apakah ini kencan yang kau maksud?” Kataku sambil menggigil.

“Ah….mian, aku tak tahu jika akan sedingin ini” Dia terkekeh.

“Aish…, sini” Aku memberikan jas miliknya untuk dipakai berdua.

“Lain kali persiapkan baik-baik, bukankah kau ingin menyembuhkanku, eoh? eoh?” Aku menggodanya, membuatnya mati gaya.

“Hya….neo, aish….arra,arra lain kali aku akan lebih baik lagi mempersiapkannya” Dia tersenyum.

“Kau mau tetap disini, eoh?” Aku semakin menggigil.

“Baiklah, ayo kita pulang saja karena sepertinya sebentar lagi aku akan mati kedinginan disini” Ajaknya.

Aku memakaikan jas miliknya, kami berjalan berdua sambil sedikit menggigil. Kenapa malam ini sedingin ini, membuatku semakin menggigil. Donghae menggenggam erat tanganku dan kami akhirnya berlari kecil menuju mobil.

Entahlah, tapi sepertinya aku menikmati hubungan ini perlahan. Donghae yang seperti anak kecil namun jauh lebih dewasa daripada Siwon dalam sebuah hubungan. Donghae yang bisa membuat sesuatu hal kecil menjadi berarti bagiku. Ya, dia adalah namja seperti itu.

Siwon, apakah dia baik-baik saja? Sepertinya ingatanku tak bisa terhapus dari tatapan wajahnya pagi tadi. Aku melihat raut mukanya yang menggambarkan jelas sebuah kesedihan. Kenapa? Ada apa dengannya?.

Aku tak bisa munafik untuk tidak peduli dengan namja itu. Setidaknya untuk seseorang yang pernah ada dihidupku aku merasa naluriku untuk peduli kepadanya terlontar begitu saja untukknya.

Apakah dia baik-baik saja?

——————

DONGHAE’S POV

Karena semalam akhirnya aku terserang flu, aku sengaja tak memberitahu Nae Ri soal ini karena dia pasti akan merasa khawatir. Namun gagal, sepertinya dia sudah mengetahui hal itu.

Ia memaksa untuk datang menuju kerumah dan menjengukku setelah pulang kerja beberapa jam lagi.

Entahlah, tapi aku rasa ini semua akan baik-baik saja meskipun pada akhirnya ia akan mengetahui hubunganku dengan Siwon. Bukankah kami sudah resmi menjalin sebuah hubungan? Jadi tentu saja dia berhak mengetahui rahasia ini.

Aku membenarkan letak selimut dan menunggu kedatangan Nae Ri. Beberapa jam lagi ia akan datang.

“Tuan, ada tamu untuk anda” Ahjumma datang menuju kamar dan memberitahuku.

“Baiklah antar dia kemari” Pintaku.

Nae Ri perlahan datang membawa sebuah kotak makan, mengerucutkan ujung bibirnya yang berarti ia sedang marah. Aku tersenyum melihat yeoja itu, tingkahnya sangat lucu sekali.

“Hya….lihatlah gara-gara semalam akhirnya kau sakit” Nae Ri perlahan duduk diatas kasur dan tepat berada di sampingku.

“Tapi aku sudah merasa baikan sekarang karena kau disini” Aku memeluk erat pinggangnya, ia hanya menggeleng pelan dan tersenyum.

“Dasar anak kecil” Ejeknya.

“Aku bawakan makanan kesukaanmu” Dia tersenyum licik.

“Benarkah?”

“Eoh” Jawabnya.

“Sup ikan” Seketika pandanganku menajam, melirik tajam kearahnya yang masih terkekeh.

“Neo…..” Aku mulai menggelitiknya pelan, membuatnya semakin tertawa keras.

“Ah….mian…mian, aku hanya bercanda. Aku membawakanmu sup sum-sum”

“Ah….chuaaaaa” Aku menirukan gaya Nae Ri seperti biasanya ketika ia sedang senang.

Nae Ri melirikku tajam, sadar bahwa aku sedang menirukannya.

“Neo…..”

“Haha….arrasseo, mian” Aku tersenyum.

“Kau butuh mangkuk? Biar aku suruh ahjumma bawakan itu kesini” Kataku.

“Ani….biar aku saja, hmm…dimana dapurnya?”

“Baiklah, kau kembali saja ke bawah dan belok ke sebelah kiri pintu pertama disitu dapurnya. Kau bisa tanya ahjumma kalau bertemu nanti. Karena eomma tak ada dirumah, hanya aku dan saudara laki-lakiku”

Ya, aku berusaha untuk bisa menerima semua kenyataan kalau Siwon memang saudaraku saat ini.

“Kau punya saudara? Kenapa kau tak pernah bercerita tentang itu?” Tanyanya bingung.

“Kau bahkan tak pernah bercerita kalau kau dan Siwon pernah menjalin sebuah hubungan” Aku mencoba menggodanya.

“Eeeh…..arra…Arrasseo…” Dia menunjukkan eye smilenya sengaja.

“Ah….bagaimana aku tidak semakin tergila-gila padamu kalau kau terus lakukan itu” Aku menggodanya.

Nae Ri beranjak sambil tersenyum. Apakah Siwon sudah berada dirumah? Bagaimana kalau mereka berdua bertemu? Karena ini adalah waktunya dia sampai dirumah. Siwon selalu pulang kerumah tepat waktu jika tak ada hal penting. Itu selalu ia lakukan.

——————-

SIWON’S POV

Aku berjalan, menuju mobil audi hitamku yang sudah terpakir rapi untuk segera pulang kerumah. Hari ini sangat melelahkan karena aku harus mengurusi urusan dalam akntor dan luar karena Donghae sedang sakit.

Entah apa yang dilakukan namja itu sehingga membuatnya sakit. Aku mengemudikan audi hitamku dalam kecepatan cukup, dan ingin segera berendam di air hangat untuk menghilangkan semua lelahku.

Pandanganku teralihkan pada penjual tteokbokki yang aku sendiri tak asing untuk mengenali stand yang dibuka disebuah mobil terbuka itu dan disulap menjadi stand kios kecil tteokbokki.

Aku memilih berhenti dan membelinya karena ini adalah tempat favorit kami dulu, aku dan Nae Ri sepulang sekolah jika kami terlambat pulang. Nae Ri selalu bisa menghabiskan 6 cup tteokboki untuk dirinya sendiri.

Dan aku selalu memarahinya ketika ingin menambah untuk cup ketujuhnya. Dia selalu marah ketika aku mencoba menghentikan nafsu makannya itu. Dia selalu berfikir aku malu untuk mempunyai yeojachingu yang chubby. Namun kenyataannya tidak, aku hanya tak ingin pencernaannya terganggu karena makan terlalu banyak.

Ia akan selalu sakit perut ketika menambah tteokbokki lebih dari 6 cup, aku selalu mengingat itu. Dia sendiri bahkan tak menyadarinya. Saat dia berusaha keras untuk menambah cup ketujuh, aku akan dengan paksa membawanya pergi dengan pukulan-pukulan kecil darinya.

Dan ketika aku kehilangan kesabaran, dia akan tersadar dan dengan segera memberikan eyesmile miliknya itu. Ya, itu adalah kebiasaan Nae Ri. Aku menyukainya dan itu kenapa aku selalu marah jika ia memberikan senyuman bahagianya kepada namja lain, karena itu berarti namja lain akan melihat eyesmile miliknya.

“HYA!! Neo…Kim Nae Ri, jangan pernah tersenyum cerah apalagi menunjukkan eyesmile milikmu itu kepada namja lain”

“Jangan pernah menggerai rambutmu dihadapan namja lain!”

“Kau hanya boleh bersikap lucu dihadapanku!”

Setidaknya itu adalah beberapa protes yang pernah aku berikan padanya. Entahlah, mungkin karena dia menjadi cinta pertamaku, ciuman pertamaku dan selalu menjadi yang pertama.

Aku tersenyum mengingat itu semua, dan akhirnya memilih untuk membeli empat cup tteokboki. Segera aku membawanya pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku memberikan tteokbokki itu kepada ahjumma yang sedang berdiri di pintu dapur rumah ini, aku memberinya ttteokboki yang aku beli untuk ia siapkan.

Namun pandanganku teralihkan oleh sosok yeoja yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. Aku memandanginya karena sepertinya tak pernah ada yeoja lain selain ahjumma dan eomma dirumah ini.

“Ahjumma, tolong bawa ini ke kamarku 15 menit lagi”

“Nde…” Jawabnya.

“Dan…siapa dia?” Tanyaku

“Teman tuan Donghae datang untuk menjenguk kemari.”

Aku masih memandangi tingkah yeoja aneh itu, dan segera memutuskan untuk menuju kamar.

———————

AUTHOR’S POV

Nae Ri terdiam sesaat mendengar sebuah suara yang tiba-tiba terdengar jelas ditelinganya. Namun saat ia berusaha mencari tahu siapa pemilik suara itu, ahjumma sudah datang membawa sebuah bungkusan yang baunya sangat menusuk penciuman Nae Ri.

Dia hafal bau apa itu, tteokbokki kesukaannya. Ia sangat menyukai tteokbokki. Setelah selesai mengambil peralatan makan, Nae Ri pun menghampiri ahjumma dan melihat kegiatan yang dilakukannya.

“Ah…tteokbokki” Nae Ri tersenyum.

“Nde…ini tteokbokki kesukaan tuan, dia selalu membawa ini setiap seminggu sekali sepulang kerja” Ahjumma itu menjelaskan.

Nae Ri terdiam saat ia melihat cup yang berisi tteokbokki itu, ia sangat hafal betul dimana tteokbokki dengancup seperti itu dijual. Hanya ada satu tempat dengan cup unik bergambar bunga merah di bagiannya.

Nae Ri terdiam sesaat, mengamati cup itu dan tersenyum.

“Anda juga menyukai tteokbokki?” Tanya ahjumma itu.

“Nde…” Jawab Nae Ri pasti.

“Anda bisa membawa satu, karena tuan biasanya hanya memakan dua cup saja dan sisanya selalu berada di lemari pendingin”

“Daripada sia-sia lebih baik anda mengambilnya satu” Ahjumma itu memberikan satu cup tteobokki ketangan Nae Ri

“Ah….kamsahamnida, ahjumma” Nae Ri terkaget, ia bahkan sangat senang.

“Kenapa sepertinya aku sangat mengenali tteokbokki ini” Gumam Nae Ri.

“Nde?” Tanya ahjumma kebingungan.

“Ani…” Nae Ri segera berpamitan untuk menuju keatas karena Donghae pasti sudah menunggunya.

Namun ketika ia beranjak dan menaiki tangga, langkahnya terhenti. Ia menatapi sosok namja yaang sedang berdiri tepat di hadapannya, Nae Ri sedikit mendongak karena ia berada di bagian bawah tangga itu.

Nae Ri memegang sebuah mangkuk dan tteokboki dimasing-masing tangannya. Dan terlepas. Tak sadar ia melepaskan cup itu, begitu pula dengan mangkuk yang ia pegang. Memecah keheningan diantara mereka.

Siwon menatap Nae Ri bingung, begitu pula dengan Nae Ri. Banyak pertanyaan didalam otaknya kenapa namja ini bisa berada disini, memakai pakaian santai seperti akan beranjak tidur dan beristirahat.

Ahjumma yang mendengar suara keras dari mangkuk yang jatuh itu pun segera berlari menuju sumber suara itu dan mendapati Nae Ri dan Siwon yang sedang menatap satu sama lain, terdiam.

Donghae segera berlari karena ia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Nae Ri. Dan benar saja ia mendapati Nae Ri yang sedang menatap tajam kearah Siwon yang juga menatapnya. Donghae berada di belakang Siwon, membuat Nae Ri semakin bingung dengan pemandangan yang ia lihat.

Nae Ri mengarahkan pandangannya pada tangan kanan Siwon yang berbalut perban, dan mengamati setiap tatapan namja itu untuknya. Nae Ri membeku, tak mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia melihat Donghae yang terlihat khawatir. Ia ingin sekali berlari kearah Donghae, tapi ada Siwon disana. Bahkan Nae Ri tak sanggup menatap wajah namja itu dengan ekspresi muka seperti itu.

Nae Ri takut perasaan khawatirnya muncul lagi untuk namja itu. Semua masih terdiam, semakin terdiam.

“Donghae….bisa kau jelaskan semua ini?”

Perlahan satu pertanyaan keluar dari mulut Nae Ri.

——————–

Woaaaaah….mian kalo banyak typo atau ngebosenin atau garing kriuk kriuk haha. Author udah berusaha ngebuat semua casts menderita *loh hahaha. Oh ya jangan lupa komentarnya kalau nggak mau disebut HANTU *hiii….karena nggak ada tanda-tanda buat komentar setelah baca wkwkwk. Ini FF ke 4 author dan semua castsnya member SUPER JUNIOR. FF pertama judulnya Allegro Allegora (Fantasy), WHO ARE YOU?(romance) main castnya KYUHYUN, ketiga judulnya MARIA (oneshot), dan terakhir ini. Kalau mau ngasih saran pribadi haha request FF bisa langsung search fb author : nurry permanaa atau twitter: @nurrypermana atau langsung mau baca FF author bisa visit blog author nih : sweetlollipop2810.wordpress.com

 

 

 

2 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s