LOVE IS PAIN | Chapter 3

loveispain

Author : nurrinnocent
Title : LOVE IS PAIN | Chapter 3
Genre : Romance, Friendship, etc.
Length : Chaptered
Rated : PG 15+
Main Casts : Kim Nae Ri (OC)
Lee Donghae
Choi Siwon
Support Cast : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)
Disclaimer : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is
mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!
Summary :
Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?
——

 

Chapter 3
DONGHAE’S POV
[Flash Back]
Dia hanya terdiam, lalu tersenyum dan menyeka air matanya. Tanpa berkata apapun dan hanya membungkuk berpamitan, lalu segera memasuki gedung apartement itu. Ada apa dengan yeoja itu? Kenapa aku merasa sangat peduli padanya dan merasa bahwa yeoja itu memiliki luka yang dia sembunyikan.
—————
Tiba-tiba aku mengingat kejadian beberapa minggu lalu itu tepatnya 2 bulan lalu. Ya, dia sudah 2 bulan lebih bekerja disini dan sejauh ini hubungan kami baik-baik saja. Pertemanan, setidaknya itulah nama untuk hubungan kami berdua saat ini.
Meskipun aku masih mengingat bagaimana dia saat malam itu menangis dan menunjukkan sisi dirinya yang lain. Membuatku semakin penasaran dengan yeoja satu ini.
Satu bulan ini aku merasa sangat dekat dengannya. Lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, bukan apa-apa karena dia adalah karyawanku dan tanpa disengaja dia yang selalu menjadi asistenku ketika ada beberapa proyek yang harus perusahaan ini tangani, menjadikanku lebih dekat dengannya. Seperti yang aku pernah bilang, semua urusan kantor dengan hubungan luar adalah urusan Siwon sebagai Sajangnim, dan urusan dalam kantor menjadi urusanku.
Meskipun akhir-akhir ini juga Siwon selalu membuatku lebih sibuk untuk mengurusi beberapa urusan kantor dengan relasi kami, aku rasa dia seperti membuatku lebih sedikit menghabiskan waktu didalam kantor. Ada apa dengan namja itu sebenarnya? Dia bahkan jarang terlihat angkuh akhir-akhir ini, Siwon terlihat lebih aktif dan banyak bicara.
Tak ada yang mengetahui kedekatan kami, ya meskipun berlebihan untuk menyebutnya lebih dari pertemanan karena memang kami hanya dekat layaknya seoarang teman dekat. Meskipun tak dipungkiri kadang ada perasaan aneh antara kami berdua.
Nae Ri juga terlihat sangat menjauhi Siwon, aku sangat curiga dengan mereka berdua. Apa benar mereka hanya berteman?. Dua bulan ini, hal itu yang selalu menjadi gangguan dalam pikiranku. Entahlah, mungkin memang aku benar-benar sudah gila.
Atau memang aku harus menyebut ini perasaan lebih dari sekedar penasaran? Tentu saja. Aku bukan anak muda lagi yang masih labil untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ia jatuh cinta, atau menyadari bahwa perasaan ini hanya sekedar pertemanan, bahkan waktu 2 bulan ini membuktikan bahwa memang aku memiliki perasaan kepada yeoja itu. Tapi aku sendiri belum yakin apakah ini benar, untuk mencintai yeoja itu.
Donghae-ah, kau sudah makan siang?
Sebuah pesan dari Nae Ri masuk, aku tersenyum dan segera membalasnya. Akhirnya kami sepakat untuk makan siang diluar kantor, karena dia sangat terganggu jika makan berdua denganku di kantin kantor. Wae? Karena pasti akan banyak pasang mata yang memandangi kami, itu sudah pernah terjadi sebelumnya dan dia terlihat sangat tidak nyaman.
“Eodi? Kau mau makan apa?” Tanyaku sambil memasangkan seatbelt untuknya.
DEG!! sialan kenapa detak jantungku selalu tak bisa diajak kompromi.
“Hmm…I wanna eat cheese burger” Jawabnya bersemangat lalu tersenyum, seperti biasa eye smile miliknya sangat mengagumkan.
“YYA! Itu bukan makanan sehat, bahkan kau selalu meminta itu untuk makan siangmu. Lihat, kau terlihat chubby akhir-akhir ini” Aku mencubit kedua pipinya.
“Eeeh…sekali ini saja, kajja! Aku sedang dalam mood yang baik hari ini, atau kau mau kejadian pertama kali kita terulang? Sini aku akan jatuh tepat diatasmu, lagi.” Nae Ri balik menatapku tajam.
“Jebaaaaaaal, ung?” Dia mengeluarkan eyesmile miliknya, Tuhan aku tak bisa menolak permintaannya ketika dia mengeluarkan eyesmilenya itu.
Setelah beberapa menit akhirnya sebuah restorant cepat saji terlihat. Ini sangat memalukan, bahkan kami sering datang kemari dan beberapa ahjumma selalu melihat kearah kami seperti heran karena datang ke tempat seperti ini dengan menggunakan pakaian kantor resmi rasanya aneh saja. Dimana mayoritas adalah tempat favorit keluarga untuk makan bersama anak-anaknya, atau anak-anak sekolah.
“Kajja! Kita sudah sampai” Kami berdua turun tepat di parkiran sebuah restaurant fastfood kesukaan Nae Ri yang hanya berjarak satu kilometer dari kantor kami.
“Kau pesan apa?” Tanya Nae Ri, sedikit membungkukkan badannya karena aku telah menempati kursiku.
“Aku pesan….” Belum sempat aku menjawab dia sudah dengan cepat menyela kalimatku.
“Aaah….iced americano with two shots of sugar, and strawberry waffels, right?” Dia memakai keahliannya menggunakan bahasa inggris kali ini.
“Eoh….” Aku tersenyum.
Kami memang sudah dekat walaupun masih 2 bulan, dia sudah tahu aku tak bisa makan apa dan dia juga telah mengetahui semua yang aku suka. Tapi, aku belum benar-benar mengetahui tentang dirinya. Nae Ri terlalu menutupi itu semua, termasuk mengenai hubungannya dengan Siwon di masa lalu, apakah mereka hanya sekedar dua orang yang saling mengenal saja, mungkinkah?.
————-
Aku berjalan memasuki kamar sebelum akhirnya Siwon mencegahku.
“Kau mencintainya?” Tiba-tiba saja dia melayangkan sebuah pertanyaan yang membuatku bingung.
“Mwo?” Jawabku sambil menyingkirkan tangannya dari lenganku.
“Nae Ri, kau mencintainya?” Tanyanya.
Nae Ri? Aku? Mencintainya? Benarkah? Aku rasa aku memang mencintai yeoja itu atau mungkin ini hanya perasaan khawatir dan hanya sebuah perasaan ingin menjaga yeoja itu, apalagi setelah kejadian dia menangis tepat dipunggungku waktu itu. Entahlah, tapi aku dapat merasakan luka yang ada dalam dirinya saat dia terisak malam itu.
“Yya…sejak kapan kau peduli dengan urusan asmaraku, eoh?” Aku tersenyum tenang.
“Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak” Siwon terlihat sedikit emosi.
“Neo…bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?” Gertakku.
“Itu memang janji kita, tapi bukan berarti aku tak berhak bertanya apakah kau mencintai yeoja itu.” Dia menyeringai dan melangkah maju.
“Wae? Kau menyukainya? Bahkan dia berusaha menjauhimu, apakah kau tahu itu?” Aku sedikit mendorongnya.
“Kita sudah berusaha bersikap biasa, bahkan dikantor aku menganggapmu adalah teman biasa, teman kantor dan tak mempunyai hubungan apa-apa. Apa itu belum cukup?” Tambahku.
“Dan sekarang kau ingin mencampuri urusan perasaanku?”
“YYA! Choi Siwon, kau harus tahu diri.”
“Kalau saja aku tak lebih muda beberapa bulan darimu mungkin aku yang akan menjadi direktur di perusahaan mendiang appaku sendiri.”
Baiklah untuk kedua kalinya aku mengulang kalimat itu.
Dia kembali mencengkeram lenganku.
Ya, Choi Siwon. Saudara tiriku karena appanya menikah dengan eommaku setelah beberapa minggu appaku meninggal. Karena appanya harus mengurusi bisnisnya sendiri maka eomma mempercayakan perusahaan mendiang appa kepada saudara tiriku ini.
Dia memang lulusan universitas ternama di luar negeri, dan itu membuat eomma begitu mempercayainya daripada aku anaknya sendiri. Kami memang baru beberapa bulan menjadi saudara tiri, namun sebenarnya ada beberapa hal yang selalu membuat kami berselisih paham, entahlah mungkin karena kebiasaan kami dimasa lalu.
Kami memang bukan anak muda lagi, umur kami juga sudah cukup untuk menikah. Setidaknya aku akan bersikap lebih dewasa menanggapi pernikahan orang tua kami, namun apa semua anak didunia ini rela keluarganya rusak? Tentu saja aku merasakan luka saat eomma memutuskan untuk menikahi Choi Kiho, appa dari Choi Siwon.
Banyak kesepakatan yang kami buat, aku dan Siwon. Salah satunya menyembunyikan hubungan kami yang sebenarnya saat berada di kantor dari para karyawan dan kolega kami. Semua orang pikir setengah saham perusahaan appaku telah berada di tangan keluarga Siwon, karena itu aku hanya bisa menjadi seorang busajangnim.
Ya, setidaknya aku sedikit mengalah untuk hal satu itu. Aku tak terlalu tertarik dengan dunia bisnis. Namun appa pernah memintaku untuk yang terakhir kalinya agar menjadi sedikit dewasa dengan memikirkan keluarga. Untuk itu aku lebih memilih bersabar dan mencoba tak menyalahkan siapapun dalam hal ini, termasuk eomma.
Siwon masih menatapku tajam, sepertinya dia memang terlihat sangat marah.
“Kau menyesal Lee Donghae? Kalau kau menginginkan jabatan itu, baiklah ambil saja. Tapi jauhi Nae Ri.” Dia melepaskan cengkeramannya.
“Mwo?” Aku menyeringai.
“Jauhi Nae Ri, dan kau akan menjadi Sajangnim” Dia menatapku tajam.
“Kau bertanya apakah aku mencintainya?”
“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu itu.”
“Kau bisa tetap menjadi Sajangnim, Choi Siwon-ssi untuk saat ini dan selamanya. Jadi kau bisa menyimpulkan sendiri kan apa jawabanku dari pertanyaanmu itu.” Aku tersenyum, beranjak pergi dan menepuk bahunya.
Siwon hanya terdiam mendengar kalimatku. Aku beranjak keluar dari kamarku dan bersiap untuk menemui Nae Ri malam ini. Karena kami berjanji untuk makan malam.
—————–
SIWON’S POV
“Kau bisa tetap menjadi Sajangnim, Choi Siwon-ssi untuk saat ini dan selamanya. Jadi kau bisa menyimpulkan sendiri kan apa jawabanku dari pertanyaanmu itu.”
Kalimat Donghae masih terdengar jelas di otakku. Ya, dia mencintai Nae Ri. Dan hal bodoh apa yang telah aku lakukan. Apa kau cemburu, CHOI SIWON?
Perbuatan bodohmu tadi berhasil membuktikan bahwa memang kau masih mencintai yeoja itu. Bahkan tak lama lagi Donghae pasti mengetahui hubunganmu dengan Nae Ri dimasa lalu. Dan itu semakin membuatmu kalah.
Aku terus memikirkan hal bodoh yang baru saja aku lakukan. Kenapa aku sulit sekali mengendalikan emosiku. Bahkan karena hal ini lah yang juga telah membuatku kehilangan Nae Ri 4 tahun lalu.
Kenapa yeoja itu memberikan kenangan yang sangat sulit sekali untuk dihapus. Kenapa perasaan cemburu pun tak bisa terhapus padahal sudah 4 tahun aku tak pernah melihatnya, dan itu berarti bukan hal mustahil untuk menghilangkan perasaanku kepada yeoja itu.
“Kalau saja aku tak lebih muda beberapa bulan darimu mungkin aku yang akan menjadi direktur di perusahaan mendiang appaku sendiri.”
Kalimat itu, untuk kedua kalinya dia mengucapkan hal itu. Aku masih ingat bagaimana dia mengatakan hal itu saat pertama kali kami akhirnya harus berada dalam satu atap, rumah dan menjalani kehidupan layaknya keluarga pada umunya.
Aku memang menyalahkan appa saat itu, namun setelah mengetahui alasan kenapa appa menikahi seorang wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya beberapa minggu, akhirnya aku mengerti alasan dibalik semua itu.
Donghae memang beberapa bulan dibawahku, meskipun kami lahir di tahun yang sama namun aku merasakan dia memang seperti dongsaengku, lebih kekanak-kanakan dari penampilannya yang sebenarnya.
Mungkin dia sangat membenciku sekarang karena menjadi sajangnim diperusahaan yang seharusnya dia pimpin. Appanya dan appaku adalah sahabat. Mereka sudah berteman dari kecil, dan tentu saja Donghae adalah sahabatku.
Benar, dia sahabatku. Dulu. Sekarang kami adalah saudara, dan itu membuat Donghae membenciku, mungkin. Karena setidaknya itu yang aku lihat ketika dia menatapku ketika aku sedang tertawa bersama eommanya.
Appa bahkan tak tinggal bersama kami, dia tetap tinggal dirumah lama kami. Dia hanya menikahi eomma Donghae tanpa menuntut apapun karena itu adalah janjinya kepada mendiang appa Donghae yang sudah meninggal.
Aku mungkin sudah tak merasakan kehangatan seorang ibu diumurku yang cukup muda saat itu, 12 tahun. Karena eomma mengidap penyakit berbahaya dan akhirnya meninggal.
Itu kenapa aku sekarang seperti mendapatkan kehangatan sosok eomma dalam rumah ini. Orang tua kami menikah karena permintaan appa Donghae, tanpa ia mengetahui itu semua. Tentu saja appaku menceritakan hal itu semua karena tak ada rahasia diantara kami berdua karena kami sudah hidup berdua sepeninggal eomma.
Donghae memang sengaja tidak diberitahu karena eommanya khawatir dia akan menyalahkan appanya atas semua ini. Tentu saja hidup ini tak begitu mudah, kadang apa yang kau lakukan menjadi hal yang salah didepan orang lain.
Sama, selalu sama seperti ini. Bahkan mungkin bukan Donghae saja yang menganggapku salah karena sudah setuju tanpa meminta pendapatnya untuk pernikahan orang tua kami. Begitu juga Nae Ri yang tentu saja menyalahkan sikapku kepadanya 4 tahun lalu. Meninggalkannya sendirian, menangis, tanpa berbalik arah sekalipun ia meneriaki nama Choi Siwon.
Entahlah, mungkin bersikap egois jauh lebih biak daripada harus menjadi seorang yang tak bisa memutuskan sesuatu.
Aku memgambil sebuah dompet dalam tas kerjaku, membukanya perlahan. Tersenyum melihat dua buah foto yang tak pernah berpindah dari tempatnya sekalipun.
Wajah Donghae yang masil terlihat ingusan begitu pula denganku, Donghae dengan dua buah gigi yang tanggal, kami tertawa berdua, mengalungkan lengan satu sama lain. Selalu berselisih paham meskipun pada akhirnya akan segera kembali tertawa bersama, setidaknya itu yang aku rasakan dulu. Foto itu diambil beberapa tahun lalu saat keluarga kami berdua berlibur bersama.
Pandanganku teralihkan pada sebuah foto yang juga tak pernah berpindah dari tempatnya sekalipun. Seorang yeoja mencium seorang namja dengan ice cream diseluruh hidung serta mulut dan tertawa bersama. Foto itu diambil 6 tahun lalu, saat kami sedang berkencan dan Nae Ri meminta untuk foto bersama, aku bersiap untuk mengambil foto dan tersenyum, namun ia dengan segera menempelkan ice cream yang dipegangnya tepat dihidung dan mulutku. Kami berdua tertawa, dia mencium lembut pipi kiriku.
Apakah dunia sesempit ini? Bahkan dua orang berharga dalam hidupku sekarang saling mengenal satu sama lain karena sebuah takdir mungkin. Donghae yang selalu ingin aku lindungi, karena sudah aku anggap sebagai saudaraku sekarang membenciku. Begitu juga Nae Ri, cinta pertama yang selalu ingin aku lindungi perasaannya akhirnya pun terlukai karena keputusanku sendiri.
Mungkin sesuatu yang kita anggap benar belum tentu orang lain juga ikut merasakannya.
“Nae Ri-ah…apa kau bahkan bisa merasa senang? Meskipun tidak bersamaku? Tertawa bahagia sampai tak sadar air matamu pun ikut keluar atas kebahagiaanmu…”
—————–
NAE RI’S POV
Aku tertawa begitu keras, sampai-sampai mengeluarkan air mata bersamaan dengan tawaku. Donghae pun ikut tertawa bersamaku, aku begitu tak kuat menahan wajahnya yang penuh dengan ice cream.
“YYA…Donghae-ah, sini biar aku bersihkan itu” Aku mengeluarkan tissue dari dalam tasku, menatapnya dekat, dan membersihkan wajahnya, dengan masih sedikit tertawa kecil karena masih begitu keras setelah tertawa keras.
“Kau suka, eoh?” Donghae lantas terdiam melihat aksiku yang membuat wajahnya belepotan.
“Eoh, haha…ah mian…mian, aku tak akan melakukannya lagi Won-ah…” Lalu aku seketika terdiam ketika tak sadar menyebut sebuah nama.
“Eoh, nugu?” Donghae terlihat kaget lalu menghentikan tanganku yang masih membersihkan ice cream di mukanya.
“Nugu?” Donghae mengulangi pertanyaannya.
Aku masih terdiam, menggenggam tissue dan mencoba mengalihkan perhatian Donghae dengan mengganti topik pembicaraan kami.
“Ah…kau tak mau makan tteokbokki? Otte?” Aku tersenyum.
“Won-ah?” Gagal, ternyata Donghae benar-benar mendengar jelas kata-kataku tadi.
Bodoh, kenapa aku malah mengingat namja sialan itu. Entahlah, saat melakukan hal itu kepada Donghae aku merasa seperti kembali ke masa lalu dimana aku juga melakukan hal yang sama, membuat wajah Siwon penuh ice cream.
“Ah…mian” Aku meminta maaf, dan menunduk.
“Won-ah?” Dia mengangkat daguku, kami bertatapan.
“Siwon? Apa….aku benar?” Dia menatapku.
“Kau masih mau menyembunyikan semuanya kali ini?” Tambahnya.
“Berteriak di atas atap gedung lantai 7 dengan memaki sebuah nama, SIWON PABO!! Tanpa sadar bisa membahayakan dirinya sendiri karena hampir jatuh, menangis di punggungku, terisak, dan pergi begitu saja, apa mungkin itu juga untuk Siwon?”
“Dan Won yang kau maksud baru saja itu juga Siwon, eoh?” Donghae tetap menatapku.
“Sekarang kau tetap ingin menyembunyikan semuanya?”
“Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Kenapa sepertinya kalian berdua begitu membuatku penasaran? Kenapa aku seperti berada ditengah-tengah kalian saat ini”
“Jelaskan, semuanya” Donghae terlihat sedikit emosi, aku tak bisa lagi seperti ini. Bagaimanapun posisi Donghae adalah yang dirugikan saat ini.
Bahkan dia tak mengetahui apapun antara aku dan Siwon, ini tak adil. Tapi, apa aku benar-benar harus mengatakan semuanya kepada Donghae?
“Donghae-ah…mianhe, bukan maksudku memanggilmu seperti itu”
“Entahlah, itu terucap begitu saja”
Aku merasa lebih nyaman berada disampingnya, setidaknya 2 bulan ini itu yang aku rasakan. Untuk perasaan lainnya entahlah aku belum bisa pasti yakin apakah aku sudah mulai mempunyai perasaan lebih kepada namja ini.
Kenapa disaat seperti ini bahkan pikiranku masih melayang pada sebuah nama yang aku sangat tidak ingin menyebutnya.
Donghae masih menatapku, mungkin ini berlebihan mengingat hubungan kami hanya sebuah pertemanan, tapi entahlah saat dia merasa marah aku selalu merasa bersalah atas kemarahannya. Karena dia sudah sangat terlalu baik.
“Nae Ri-ah, mungkin untuk hubungan pertemanan ini berlebihan. Aku tahu bukan urusanku untuk mencampuri urusan pribadimu lebih dalam lagi.”
“Hanya saja, aku merasa berada diantara kalian, kau dan Siwon. Entahlah atau mungkin ini hanya perasaanku saja tapi aku rasa ada sesuatu yang kau sembunyikan.” Aku hanya terdiam mendengar setiap perkataan Donghae.
“Apa kau akan lebih terbuka kepadaku tentang kehidupanmu jika aku mengatakan aku mencintaimu?”
DEG!!
Aku terkaget saat dia mengatakan hal itu. Donghae…
“Ya, aku mencintaimu. Kim Nae Ri. Ini bukan hanya sebuah hubungan pertemanan, aku rasa hatimu adalah sebuah gunung dimana aku, pendakinya sedang tersesat dan sialnya tak bisa keluar”
“Mungkin ini gila karena masih sangat dini untuk mengatakan hal ini, tapi aku seorang namja dan tak bisa menunggu yeoja yang dicintainya akhirnya pergi hanya karena ia terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya.”
“Neo…Kim Nae Ri, apakah kau juga mempunyai perasaan yang sama?”
“Donghae-ah….”
“Aku rasa ini sudah terlalu jauh, aku senang bisa menjadi temanmu dan memiliki teman sepertimu, tapi untuk sebuah hubungan yang lebih aku rasa….”
“Aku rasa aku terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan lagi dengan seorang namja”
“Lagi?”
“Ya, seumur hidup aku hanya pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang namja.”
“Meskipun kami sepakat untuk tidak terlalu mengekspos hubungan kami, tidak banyak yang tahu akan hal itu. Hanya sahabatku, dan entahlah siapa yang namja itu beritahu akan hubungan kami.”
“Tapi aku rasa dia lebih memilih untuk memberitahukan itu kepada appanya, dan itu lantas membuat hubungan kami berakhir setelah 3 tahun mencoba bertahan.”
“Namja egois yang pernah aku kenal selama hidupku.”
Aku tersenyum.
“Siwon?” Donghae ternyata berhasil menangkap semua kalimatku.
“Uhm…” Aku mengangguk pelan dan tersenyum.
“Dan karena namja seperti dia yang berhasil membuatku trauma untuk membuka sebuah hubungan lagi dengan seorang namja”
“Jadi, lebih baik kita seperti ini saja. Maka tak akan ada lagi yang terluka untuk sebuah hubungan.”
“Apa kau akan melupakan semua lukamu jika aku berusaha menyembuhkan itu semua?”
“Uh?” Aku terkaget dengan kata-katanya.
“Kau ingin memberiku kesempatan untuk menyembuhkan semua luka itu? Aku rasa aku bisa melakukannya” Donghae tersenyum.
Aku hanya terdiam.
“Apa kau akan terus terjebak dalam masa lalumu Nae Ri-ah? Bahkan kau tak akan bisa keluar dari traumamu jika kau sendiri tak berani melawan semua itu”
Aku masih mencerna setiap kata-katanya, berusaha mencari jawaban terbaik atas itu semua. Apakah aku akan terus terjebak dalam masa lalu? Bahkan dia akan tertawa jika mengetahui aku masih mencintainya. Kim Nae Ri yang bodoh masih mencintai namja itu, cinta pertamanya, takut untuk bisa jatuh cinta lagi, dan menjalin sebuah hubungan baru.
Apa aku harus memberikan Donghae kesempatan itu? Untuk bisa menyembuhkan semua luka ini? Aku menatapnya, mencoba berusaha mencari jawaban untuk semua pertanyaannya.
Entahlah, cinta terlalu membuatku sangat terluka.
—————————-
Woaaaaah….mian kalo banyak typo atau ngebosenin atau garing kriuk kriuk haha. Author udah berusaha ngebuat semua casts menderita *loh hahaha. Oh ya jangan lupa komentarnya kalau nggak mau disebut HANTU *hiii….karena nggak ada tanda-tanda buat komentar setelah baca wkwkwk, ini FF ke 4 author dan semua castsnya member SUPER JUNIOR. FF pertama judulnya Allegro Allegora (Fantasy), WHO ARE YOU?(romance) main castnya KYUHYUN, ketiga judulnya MARIA (oneshot), dan terakhir ini. Kalau mau baca FF author bisa visit blog author nih : sweetlollipop2810.wordpress.com

 

2 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 3

  1. iya dong lee dong hae harus diberi kesempatan, apa salahnya sih memberi kesempatan sama orang yang sayang sama kita
    *sok sweet deh aku ini ^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s