LOVE IS PAIN | Chapter 2

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 2

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

 

 

Chapter 2

KIM NAE RI’S POV

 

“MWO? Haha…neo…jjinja haha” Hye Mi menertawakanku habis-habisan.

Ya, setelah melakukan hal bodoh itu aku merasa bahkan harus menghindari 2 namja kali ini. Aku menceritakan semua kejadian itu sedetail-detailnya kepada Hye Mi.

Dimana saat Donghae dengan sigap menarikku yang hampir terjatuh dari lantai 7 dan mungkin saja aku akan mati konyol hanya karena seorang namja bernama Choi Siwon.Dan juga saat aku berada tepat diatas tubuhnya, membuatnya pingsan seketika. Itu hal yang sangat memalukan.

Memangnya berapa berat badanku sehingga membuatnya sampai pingsan seperti itu? Menyebalkan. Tapi ada satu yang suka saat aku mencoba berdiri dan tanpa sengaja aku merasakan sebuah dada yang sangat bagus, ya abs yang dapat benar-benar aku rasakan. Ternyata dia memiliki badan yang cukup bagus meskipun tak terlihat saat ditutupi oleh kemeja kantornya.

YYA! KIM NAE RI…dasar, kembalikan kesadaranmu. Kau sudah membuat dirimu malu dihadapan banyak orang. Bahkan saat aku mencoba membangunkannya dan tak berhasil akhirnya aku meminta bantuan security untuk menolongku.

Dan disaat security itu bertanya kenapa busajangnim bisa pingsan, aku bahkan menjawab dia terpeleset. Apa aku salah? Tidak. Aku hanya tak ingin seluruh orang di perusahaan ini mengetahui bahwa berat badanku mampu membuat seorang namja pingsan karena tak kuat menahanku.

“Dan kau bilang dia terpeleset? YYA! Kim Nae Ri, haha aku rasa kau harus benar-benar diet.” Hye Mi terus menertawakanku.

“YYA!! Berat badanku hanya 48kg, apa itu abnormal? Aish….annoying!”

“But, in fact he was fainted because of you” Hye Mi menatapku tajam, dia benar-benar menyebalkan kali ini dengan kata-katanya itu.

“Arra…arra..” Aish…menyebalkan.

“Kajja, kita sudah hampir terlambat. Segera habiskan sarapanmu” Seperti tak mempunyai dosa dia meninggalkanku dan bersiap untuk segera berangkat kerja.

————-

“Aish….kenapa aku merasa sangat malu untuk bekerja hari ini, dan bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Bahkan aku belum sempat meminta maaf padanya.”

Aku terus berjalan sambil menundukkan kepalaku pasrah. Tak ada semangat untukku hari ini, dan semoga saja aku tak dipecat gara-gara kejadian kemarin.

Tunggu, aku menghentikan langkahku dan terdiam. Dipecat? Bukankah itu berarti aku tak akan bekerja di perusahaan ini dan bertemu dengan namja itu?.

“Ahhhhhh….chuaaaa” Aku menyatukan kedua tanganku, meletakkannya tepat dibawah daguku sambil memejamkan mata, seperti biasanya sambil memasuki lift yang ternyata kosong.

Sampai pada akhirnya aku menghentikan itu semua…

“Ada yang harus aku bicarakan denganmu”

Aku terdiam saat melihatnya, dia namja yang bahkan tak aku harapkan kehadirannya. Ya, Siwon dengan segera memencet tombol menuju lantai teratas. Dengan kasar dia menggenggam tanganku dan memaksaku untuk mengikuti langkahnya sampai kami berdua berada di atap, tempat biasa aku menghabiskan waktu makan siangku.

“Neo….” Dia menatapku tajam dan melepaskan genggamannya.

“Kau masih satu hari bekerja disini dan sudah membuat ulah” Tambahnya.

“Apa kau akan terus seperti anak kecil?”

“Apa kau ingin sekali bersamaku? Ah….jadi kau masuk kesini karena memang benar-benar belum bisa melupakanku?” Dia tersenyum, mengeluarkan seringainya.

“MWO?” Tanyaku kesal, aku mulai mengatur nafasku yang terengah.

“YYA! Choi Siwon-ssi….neo paboya? Apa kau sudah lupa kata-kata terakhirku untukmu?” Aku menatapnya tajam, membuatnya terdiam. Tentu dia masih mengingat dengan jelas semua kata-kataku.

“4 tahun yang lalu, itu adalah kesempatan terakhirmu untuk bisa menyentuhku!!” Aku menatapnya tajam, berusaha menahan air yang hampir keluar dari mataku.

“4 tahun yang lalu, itu adalah keputusan yang kau pilih sendiri.”

“4 tahun yang lalu, aku bahkan menangis karena namja sepertimu”

“4 tahun yang lalu, aku bahkan berharap itu terakhir kalinya aku menyebut namamu dan berteriak disaat seorang Choi Siwon hanya terus berjalan meninggalkan yeoja bodoh bernama Kim Nae Ri. Dan sekarang dengan seenaknya kau menyentuhku?”

“Are you crazy Choi Siwon-ssi?”

Kim Nae Ri, kau bukan yeoja bodoh cengeng yang akan menangis ketika terluka. Kau sudah berubah, buktikan padanya.

Aku terus menahan semua luka, meskipun rasanya ulu hatiku seperti tercabik-cabik namun aku harus bisa menahannya. Ingatlah, namja ini yang telah memberikan luka untukmu.

“Neo…” Dia mendekat. Aku mengambil langkah menjauhinya.

“YYA!! KIM NAE RI!!” Aku tak mempedulikan teriakannya.

“Kau akan terus seperti itu? Memanggilku Choi Siwon-ssi?”

“Kau datang kemari hanya ingin membuatku dalam masalah?” Aku terhenti saat mendengar kalimat itu.

“Apa kau tak bisa menjadi profesional sedikit saja?” Aku membalikkan badanku dan menatap namja itu tajam, tak bisa ditahan lagi.

Air mata, tak bisa. Sudah menetes, bahkan meskipun kami berjarak beberapa meter saat ini dia pasti sangat jelas melihat pipiku yang sudah basah. Dia terdiam, samar-samar aku melihat wajah itu lagi, wajah yang selalu bisa aku lihat ketika dia khawatir. Wajah yang sudah aku lupakan 4 tahun lalu, tapi kali ini aku bisa melihatnya lagi.

“Kau…kau menangis?” Kali ini nada bicaranya sedikit lembut, dia mendekat perlahan.

“Neo…gwencana?” Dia hampir menyentuhku lagi, sekali lagi. Namun aku berhasil menghindar.

Aku mengusap semua air mataku. Aku tersenyum, bukan senyuman bahagia.

“Bahkan saat aku bukan siapa-siapamu lagi kau masih bisa membuatku menangis. Yya…Choi Siwon-ssi, profesional katamu? Lalu apa yang barusan kau lakukan itu bisa disebut profesional? Menarik karyawanmu seenaknya dan membawa masa lalu yang bahkan aku sangat muak untuk mengingat semua itu.” Dia terdiam menatapku, wajahnya berubah menjadi sedikit tegang, dia terlihat kesal. Bagus, teruslah seperti itu maka dengan mudah aku bisa terus membencimu.

“Arraseo…, aku tak akan mengungkit itu semua lagi, tapi tolong berhentilah membuat masalah, bukankah ini semua mimpimu? Menjadi desainer terkenal? Jadi kesampingkanlah urusan perasaan yang mungkin bisa mengganggu pekerjaanmu.”

Aku bahkan tak mengerti semua perkataannya, apa dia ingin meluluhkanku dengan mencoba mengingat semua mimpiku? YYA! Choi Siwon kau memang benar-benar sudah gila. Perasaan? Siapa? Perasaan siapa? Bahkan aku tak pernah berniat untuk menata perasaanku untukmu.

“MWO?”

“Donghae, bukankah kau kemarin bersamanya? Dia berada di rumah sakit sekarang, apa kau ada hubungannya dengan itu semua? Karena security bilang kau bersamanya waktu itu.”

Namja ini memang sudah gila. Dia pikir aku memiliki perasaan untuk Lee Donghae? Bahkan aku merasa namja itu pasti membenciku saat ini, dan lagipula kenapa dia peduli apakah aku mempunyai perasaan pada namja itu?

————–

Sudah empat hari setelah kejadianku bertemu dengan Siwon, serta kejadianku yang sangat memalukan itu sehingga membuat Lee Donghae belum terlihat sampai sekarang di kantor.

Banyak karyawan-karyawan menanyaiku tentang kejadian yang menimpa Donghae, tapi bagaimana bisa aku menceritakan hal sebenarnya? Bisa-bisa mereka menelanku, membunuhku, karena membuat orang yang mereka kagumi dan mereka dekati, mereka puja jatuh sakit dan belum masuk kantor selama 4 hari ini.

Aku bahkan belum menjenguknya, meminta maaf dan tak mengetahui bagaimana keadaannya.

Aku berjalan menuju atap gedung, seperti biasanya. Merasakan angin yang menerpaku, membuat rambutku sedikit berantakan. Aku sangat tak suka menggerai rambutku. Bahkan dulu aku selalu membuatnya dalam model messy high bun. Aku tak sabar menjadi desainer tetap disini, sehingga aku akan bisa memakai apapun yang aku suka. Bukan pakaian formal seperti ini, ini sangat menyebalkan.

Kalau aku bisa menjadi desainer tetap disini, maka aku akan bisa memakai kaos beggy, skinny jeans, kacamata besar, dan meletakkan pensil di rambutku untuk menahannya agar tetap membentuk high bun. Tanpa harus peduli apakah rambutku berantakan atau tidak.

Aku memejamkan mataku, membayangkan itu semua. Sampai akhirnya aku terdiam ketika mendengar suara tawa tepat dibelakangku. Apakah siang begini hantu bisa muncul? Apa aku harus segera berlari? Tuhan, suara itu sangat jelas saat ini, suara tawa itu menyeramkan.

Wait….kenapa suara itu sangat jelas sekali, dan sepertinya itu adalah suara namja. Aku masih mematung tak bergerak, sampai pada akhirnya ada sebuah tangan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahku.

DEG!

WAE? Kenapa aku merasa seperti waktu berhenti? Apa itu dia? Apa aku gila? Kenapa jantungku terus berdetak tak beraturan?.

“Kenapa kau selalu saja melakukan hal itu setiap kali aku melihatmu sendirian?” Namja itu terkekeh, bukan itu bukan suara Siwon.

Dan kenapa jantungku terus berdetak cepat, menyebalkan.

“Busajangnim…joseonghamnida…joseonghamnida….” Aku terus berulang-ulang membungkuk, dan meminta maaf.

“Ah…gwencana, neo…aku sudah bilang memanggilku begitu ketika kita berada diluar gedung” Dia mengusap poniku.

“Nde?” Aku masih bingung mengatur detak jantungku yang belum teratur, kali ini bahkan menjadi semakin cepat.

Ada apa dengan namja ini? Apa dia sudah gila seperti Siwon? Apa direktur dan wakilnya di perusahaan ini sudah gila? Kenapa dia melakukan hal itu? Maksudku, kenapa dia seenaknya mengusap poniku? Kalau saja dia bukan atasanku pasti sudah aku tendang pantatnya.

Dia tersenyum. Senyum itu, kenapa manis sekali.

Aku menggelengkan kepalaku pelan, berusaha mencari kesadaranku kembali.

“Jangan panggil aku busajangnim atau Donghae-ssi, tapi panggil namaku saja dan gunakan banmal, arrachi?”

“Eoh….” Aku dengan segera mengiyakan permintaannya, baiklah Donghae. Lee Donghae, batinku.

“Nah, begitu lebih baik.” Dia tertawa.

“Kkeunde, Donghae-ah…neo gwen..cana?” Tanyaku ragu.

“Gwencana…”

“Kau lihatkan aku masih bisa berdiri dihadapanmu sekarang.” Dia tersenyum.

Aneh, bahkan dia tak masuk 4 hari masih bisa berkata baik-baik saja. Ah, aku lupa bahwa dia memiliki otot yang kuat, mungkin itu yang membuatnya baik-baik saja. Ah…abs yang indah. Aku kembali membayangkannya kembali.

“Nae Ri-ah…”

Aku tersadar saat Donghae menyebut namaku.

“Wae?” Sahutku kesal.

Oke, tak begitu lama. Hanya butuh beberapa menit untukku terlihat akrab dengannya. Bahkan tak ada kata atasan dan karyawan diantara kami saat ini. Sudah beberapa menit kami menghabiskan waktu disini, membahas kejadian kemarin yang membuatku sedikit malu.

Kami tertawa bersama. MWO? Iya, kami tertawa bersama saat ini. Bahkan aku merasa nyaman bersamanya. Dia tersenyum, tulus. Dan aku membalasnya dengan eyesmile milikku, membuatnya terdiam untuk kesian kalinya ketika setelah melihat eyesmileku ini. Aneh.

———–

SIWON’S POV

“4 tahun yang lalu, itu adalah kesempatan terakhirmu untuk bisa menyentuhku!!”

“4 tahun yang lalu, itu adalah keputusan yang kau pilih sendiri.”

“4 tahun yang lalu, aku bahkan menangis karena namja sepertimu”

“Pabo…” Aku tersenyum mengingat semua kata-katanya beberapa hari lalu, semua masih terngiang di otakku.

“Bagaimana bisa aku melupakan semua itu, naenae? Kau bahkan masih sama seperti dulu, cengeng.” Aku mengingat setiap garis wajahnya yang masih sama ketika ia menangis.

Bagaimana bisa aku melupakannya dengan mudah? Meskipun kami sudah berpisah selama 4 tahun tapi 3 tahun sudah cukup untuk kami memahami satu sama lain. Kami berpacaran sejak mulai memasuki SMA sampai lulus itu berarti kami berpacaran 3 tahun, kemudian masalah datang setelah itu. Dan pada akhirnya hubungan kami sudah tak bisa lagi dipertahankan.

Ya, appaku memang sangat tidak menyetujui hubungan kami itu. Aku sangat menghargai appaku dan ingin selalu menjaganya. Dan bukan berarti aku meninggalkan Nae Ri hanya karena appaku, tapi mungkin ini yang terbaik untuk kami. Sehingga dia tak akan pernah merasakan luka lagi. Setidaknya itu yang aku harap.

Aku berjalan menuju tempat parkir dan mengeluarkan kunci mobil dari kantung celanaku. Namun pandanganku teralihkan saat aku melihat seorang yeoja yang tak asing bagiku sedang bersiap memasuki mobil dengan namja yang juga tak asing bagiku.

Mau kemana mereka berdua. Bagus, bahkan dia kemarin seperti orang bodoh saat aku membahas tentang perasaannya, tapi sekarang lihat dia sudah berdua dengan Donghae, tertawa dan terlihat sangat akrab.

Tanpa ragu-ragu aku segera masuk ke mobil audi kesayanganku dan mengikuti mereka. Oke, ini gila. Kenapa aku masih belum bisa merelakan yeoja ini. Ayolah Choi Siwon, banyak yeoja diluar sana yang lebih sempurna dan lebih segalanya daripada Kim Nae Ri yeoja aneh.

Sempurna? Mana mungkin aku menyukai kesempurnaan, karena aku sangat membenci itu. Dan tentu saja Nae Ri yeoja aneh itu lah, yeoja yang jauh dari kata sempurna yang bisa membuatku jatuh cinta pada waktu itu setidaknya.

Tapi sekarang dia terlihat lebih dewasa dengan higheels dan dandanan seperti itu, batinku.

Aku terus mengikuti mereka sampai pada akhirnya kami sampai disebuah restaurant jepang favorit Nae Ri. Tunggu dulu, dia membawa Donghae kesini? Jjinja?. Aku tertawa, namun seketika wajahku berubah datar dan mengikuti mereka, dan duduk di kursi beberapa meter dari tempat mereka sekarang.

Terlihat jelas Nae Ri tertawa dan terlihat bahagia. Senyum itu, senyum yang selalu ada untukku tapi sekarang dia berikan kepada yeoja lain, dasar yeoja menyebalkan.

“Yya…Donghae, pabonika. Bukankah dia….” Aku belum sempat memilih makanan yang ada dimenu namun aku sudah teralihkan oleh sepiring sashimi yang disajikan diatas meja mereka.

Donghae terlihat kaku dan sedikit pucat. Berbeda dengan Nae Ri yang sangat ceria sekali melihat makanan kesukaannya itu dihidangkan dihadapannya. Yeoja satu ini sangat menyukai sashimi. Bahkan dia sanggup memakan makanan itu tanpa mencelupkannya kedalam saus.

Nae Ri mendekatkan piring berisi irisan tipis daging ikan itu kehadapan Donghae. Muka Donghae sudah terlihat pucat sekali. Aku tak bisa membiarkannya lagi, dia bisa dalam keadaan gawat kalau memasukkan makanan itu kedalam tenggorokannya.

“YYA!!!” Teriakku.

Nae Ri memandangiku dengan aneh. Seakan ingin berteriak “KENAPA KAU ADA DISINI?”

“YYA! Kim Nae Ri, kau gila? Kau ingin membunuhnya?”

“Mwo?” Nae Ri sudah terlihat kesal.

“Dia alergi ikan, dan kalau sampai dia memasukkan itu kedalam tenggorokannya. Mungkin satu minggu dia baru bisa kembali bekerja.” Aku duduk diantara mereka. Entahlah, aku merasa senang bisa mengganggu mereka.

“YYA! Siwon-ah, kenapa kau sangat banyak bicara sekali akhir-akhir ini? Apa kau salah minum obat? Dan…kenapa kau tiba-tiba ada disini?”

Aish…pabo, aku lupa kalau diam-diam membuntuti mereka. Nae Ri hanya memandangiku dengan malas, seakan ingin sekali mengusirku. Terserah, aku sudah ketangkap basah dan akan tetap aku lanjutkan.

“Donghae-ah, kalau kau tak bisa makan ini akan kupesankan ramyeon untukmu, otte?” Nae Ri, ah…yeoja ini benar-benar genit sekali. Bahkan dia mengeluarkan eyesmile miliknya.

“Mian…Nae Ri-ah, aku yang salah karena tak memberitahumu soal alergiku ini.”

Kami bertiga berakhir dengan makan malam bersama, ya benar-benar bersama. Dan aku seperti menjadi hantu karena mereka berdua terus tertawa, bercanda tanpa sedikitpun mengajakku bergabung. Bahkan yeoja ini terus saja bersikap sangat genit, aku ingin sekali membawanya pergi segera dari hadapan Donghae.

————–

DONGHAE’S POV

Aish…..aku sangat malu sekali ketika mulut sialan Siwon membocorkan rahasiaku, dan bahkan dia melebih-lebihkannya.

Kami menikmati makanan yang sedang kami makan dengan sedikit bercanda. Tak peduli apakah kami bertiga yang aku rasa aku sedang menikmati makan malam dengan Nae Ri. Siwon terlihat sangat terganggu.

“Kkeunde, bagaimana bisa namja ini tahu kau alergi ikan?” Tiba-tiba saja Nae Ri bertanya pertanyaan yang membuatku terdiam seketika. Bukan hanya aku saja, tapi Siwon juga terdiam saat itu juga.

“Eoh?”

“Dia…bagaimana bisa dia tahu?” Nae Ri menunjuk kearah Siwon.

“Ah…soal itu….” Aku masih bingung menjelaskannya.

“Ah…Donghae adalah….” Siwon hendak menjelaskan semuanya

“Yya…Siwon-ssi, apa aku terlihat sedang berbicara denganmu?” Nae Ri menatap tajam Siwon.

Bagaimanapun tak ada yang boleh tahu tentang kami berdua, tak ada yang boleh tahu tentang hubunganku dengan Siwon. Karena kalau sampai ada yang tahu, Siwon lah yang akan berada dalam masalah besar.

Aku sudah berjanji untuk selalu menyimpan rahasia ini, begitu pula dengannya. Siapapun bahkan tak boleh mengetahuinya.

“Dia sahabatku sejak lama…jadi tentu saja dia tahu kelemahanku” Aku mencoba mencari jawaban aman.

“Ah….sudah kuduga” Reaksi Nae Ri biasa-biasa saja. Bagus.

“Nae Ri-ah, apa kau sudah mempunyai kekasih?” Aku bertanya kepadanya namun tiba-tiba saja Siwon tersedak saat akan meminum segelas soju.

“YYA! Wae?” Tanyaku.

“Ani…aku hanya tersedak saja”

“Namjachingu?” Nae Ri terlihat berfikir.

Aku mendengarkannya baik-baik. Siwon yang sedang sibuk dengan sojunya pun terlihat ikut mendengarkan jawaban Nae Ri. Ada apa dengan namja ini benar-benar menyebalkan.

“YYA…bagaimana mungkin yeoja seperti dia mempunyai kekasih, pasti orang itu sangat tidak beruntung sekali.” Ejek Siwon.

“Mwo? Kau iri?” Sahut Nae Ri, membuatku semakin bingung dengan mereka berdua.

“Ani…untuk apa aku iri” Siwon tertawa.

“Kalau begitu diamlah dan jangan ikut campur” Nae Ri terlihat emosi.

“Apa kita akan tetap disini? Aku rasa aku merasa gerah harus berada disini.” Nae Ri melirik kearah Siwon yang terlihat kesal.

“Mwo?” Sahut Siwon.

“Sebaiknya kita segera pulang saja, Donghae-ah” Pinta Nae Ri.

“Baiklah..” Aku tersenyum.

“YYA!! YYA!! Eodiga? Kalian mau kemana setelah ini? Pulang? Atau…?” Siwon mengikuti langkahku dan mencoba mencari jawaban namun kami berhasil menghindarinya.

Dalam perjalanan Nae Ri masih terdiam. Dia seakan memikirkan sesuatu yang bahkan aku tak mengerti itu. Aku mengantarnya ke sebuah apartement yang cukup mewah, apa ini tempat tinggalnya? Bahkan biaya apartement ini tak bisa dibilang cukup murah. Dan, bagaimana bisa dia membayar sewa apartement ini dengan gajinya sebagai seorang karyawan biasa?

Aku semakin dibuat penasaran oleh yeoja satu ini. Aku membukakan pintu untuknya, dia masih terdiam.

Saat aku hendak berpamitan tiba-tiba saja dia menatapku dan berkata….

“Donghae-ah, bisakah aku pinjam punggungmu sebentar?” Pintanya.

“Eoh? Wae…wae?” Tanyaku heran namun akhirnya aku membiarkannya.

Terasa hangat, Nae Ri meletakkan kepalanya tepat di punggungku, dan terisak.

Ya, dia menangis. Membuatku semakin terheran dengannya. Ada apa sebenarnya?

“Nae Ri-ah….neo gwencana?” Tanyaku.

Dia terdiam, masih menangis. Beberapa menit, aku biarkan begini. Dia menangis, ini pertama kalinya aku melihatnya menangis setelah melihatnya seperti orang gila berteriak diujung atap gedung berlantai 7 menyebut nama…

SIWON

Ada apa antara mereka berdua?

Kenapa aku merasa begitu peduli dengan yeoja ini? Padahal baru beberapa hari aku mengenalnya. Lee Donghae, kau mencintai Kim Nae Ri?.

————-

Otte? Mian kalau nggak dapet feelnya, FF ini ketidaksengajaan author yang tiba-tiba aja punya ide bawa Kim Nae Ri nya si Kyu masuk ke FF dan harus berhadapan dengan dua namja ganteng (SIWON dan DONGHAE) hehe *melted* semoga kalian suka, dan satu lagi yang mau author bilang: jangan lupa COMMENT dan LIKE.

Blog : sweetlollipop2810.wordpress.com

FB: Nurry Permanaa

Twitter : @nurrypermana

3 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 2

  1. Suka suka suka bgt.. Udh nae ri sm donghae aja.. And what relationship between donghae and siwon?? They are not “….”
    Jgn lm2 ne share na ^_^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s