LOVE IS PAIN | Chapter 1

 

loveispain

Author           : nurrinnocent

Title               : LOVE IS PAIN | Chapter 1

Genre             : Romance, Friendship, etc.

Length           : Chaptered

Rated                         : PG 15+

Main Casts    : Kim Nae Ri (OC)

                       Lee Donghae

                       Choi Siwon

Support Cast            : Song Hye Mi (Nae Ri’s bestfriend)

Disclaimer    : All the casts belong to themselves, and the storyline in this FF is

                        mine, so copast isn’t allowed without permit. NO BASH!!!

Summary      :

            Kim Nae Ri bertemu lagi dengan mimpi buruknya, masa lalunya, serta namja yang sangat dia benci. Dia harus memilih antara mimpinya menjadi seorang desainer atau menjauhi masa lalunya. Disaat itu pula datanglah seorang namja yang selalu membuat Nae Ri aman dan terlindungi. Apakah Nae Ri akan kembali pada masalalunya atau menatap masadepannya?

——

 

Selalu ada yang pertama dalam segala hal, dan aku berharap dia bisa menjadi yang pertama dalam setiap hal kecil dalam duniaku sehingga setiap goresan luka ini akan segera sembuh – Kim Nae Ri.

 

Cinta? Aku bisa melihat itu semua dari caramu marah, tertawa, menangis, dan berteriak menyebut sebuah nama, bahkan cinta juga bisa berupa sebuah luka yang sulit disembuhkan – Lee Donghae.

 

Aku hanya takut membuatnya terluka untuk kedua kalinya, jadi biarkan saja seperti ini, cinta bahkan tak bisa menyembuhkan luka itu bukan? – Choi Siwon.

 

 

Chapter 1

KIM NAE RI’S POV

 

“YYA! Kau gila? Hanya karena ada namja itu lantas kau ingin melepas kesempatan emas ini?” Song Hye Mi melotot dan mengeluarkan suara melengkingnya itu, sehingga membuatku sedikit malu karena beberapa orang di dalam kafe ini melihat kearah kami.

“Kalau begitu kau ingin aku bertemu dengannya? Setiap hari? Dan memanggilnya Sajangnim? SHIRO!!” Membayangkannya saja sudah membuatku ingin segera menolak tawaran bekerja di perusahaan itu.

“Nae Ri-ah..” Hye Mi berkata pelan dan menatapku tajam namun aku tak mempedulikannya dan terfokus pada machiatto iced yang sedari tadi kuaduk.

“YYA! Nae Ri!! KIM NAE RI!!” Teriaknya.

“WAE?” Jawabku dengan sedikit emosi.

“Kau benar-benar akan menyerah begitu saja? Mimpimu? Bagaimana dengan mimpimu itu?” Pertanyaan itu yang selama ini aku takutkan, dan kali ini Hye Mi benar-benar membuatku dalam posisi yang sulit.

“Seribu namja seperti dia bahkan tak pantas membuatmu menyerah begitu saja.” Hye Mi meyakinkanku.

“Hye Mi-ah…” Sahutku lirih.

“Aku hanya takut menjadi Nae Ri yang bodoh untuk kedua kalinya.” Tambahku.

————-

Aku segera beranjak dari tempat tidurku, sedikit bermanjaan dengan selimut serta kasur ini sebelum akhirnya terdiam saat ternyata Hye Mi sudah memandangiku dengan spatula yang dipegangnya.

Kami memang sudah terbiasa mandiri, orang tua kami berada di luar negeri, appa kami adalah rekan kerja disalah satu perusahaan di Amerika yang bekerjasama dengan perusahaan di Korea. Mereka memberikan hadiah sebuah apartement untuk kami tempati berdua karena kami sudah bersahabat sejak kecil. Sehingga sudah hampir setengah hidupku aku habiskan bersama yeoja aneh ini. Tapi aku sangat menyayanginya.

“Neo…gwencana?” Tanyanya polos seperti terheran dengan kebiasaanku bangun dipagi hari yang sudah seperti seorang putri di cerita dongeng.

“Hehe…am fine, why?” Jawabku sambil terkekeh.

“Pali…aku sedang membuat eggroll kesukaanmu” Lantas aku segera bangun dan menuju kamar mandiku.

“Hye Mi-ah…apakah kau yakin aku harus menerima tawaran itu?” Aku membenarkan posisi dudukku di kursi meja makan yang sedang aku tempati.

“Eoh, definitely YES! apa aku sendiri yang harus mengantarmu kesana? Dan menghadapi namja itu kalau saja dia membuat masalah?” Terlihat api yang membara dari balik punggung Hye Mi yang sedang memasak eggroll, dia menyeramkan.

“Ani…baiklah aku akan mencobanya” Jawabku pasrah.

“Nae Ri hwaiting!!!” Sahut Hye Mi, aku hanya tertunduk seakan duniaku akan berakhir besok.

————–

“Are you ready?” Tanya Hye Mi.

“Not sure…” Jawabku malas.

“YYA! Kau sudah berjanji untuk tidak memperdulikan siapa direktur perusahaan itu, siapa pemilik perusahaan itu, dan bla bla bla…”

“Kau harus mewujudkan mimpimu, Nae Ri-ah” Hye Mi memberikan ceramahnya di pagi hari sambil membenarkan blazer abu-abu yang aku pakai.

“Arra…arra, sekarang tolong beri aku kekuatan untuk melewati semua dengan tenang hari ini.” Aku tersenyum, memperlihatkan eyesmileku, siapapun tak akan pernah bisa menolak keindahannya.

Hye Mi memelukku erat, dia tersenyum dan mengepalkan tangannya keatas sambil berteriak “HWAITING!!”

Baiklah, aku siap hari ini.

Aku memasuki pintu utama gedung perusahaan majalah fashion terkenal di Korea itu, dan merupakan majalah ternama nomer 2 di Asia. Sudah lama aku ingin sekali bekerja di bidang fashion, dan mewujudkan impian perlahan-lahan menjadi seorang desainer terkenal.

Tapi kenapa Tuhan memberiku cobaan yang menurutku tak berat, tapi….menyebalkan. Pertama kali mengetahui bahwa aku menerima tawaran pekerjaan di perusahaan ini aku sangat bahagia dan seperti orang gila, tak henti-hentinya bercerita kepada Hye Mi yang sepertinya kesal karena terus mendengarkan ocehanku.

Ya, bagaimana aku tak senang karena sudah hampir 1 tahun lulus kuliah aku baru saja mendapatkan pekerjaan, berbeda dengan Hye Mi yang baru beberapa bulan lulus sudah diterima di perusahaan besar.

Aku senang bisa bekerja disini, tapi ada satu hal yang membuatku terdiam, termenung dan seketika menjadi orang waras ketika mendengar siapa direktur perusahaan ini. Lebih tepatnya direktur baru yang masih beberapa bulan menggantikan direktur lama yang terserang penyakit beberapa bulan lalu sehingga harus digantikan.

Dia, namja menyebalkan yang selalu membuatku dalam banyak masalah. Namja yang membuatku menjadi Kim Nae Ri yang baru, lebih kuat, lebih pintar dan lebih memikirkan otak daripada hati setelah dia pergi. Setidaknya aku berterimakasih dia telah membuatku lebih baik, dan jauh darinya. Tapi ketika aku mengingat luka yang dia berikan, seketika rasa terima kasih itu ingin aku ganti dengan menginjak kakinya sekuat mungkin lalu berlari menjauh. Ya, setidaknya aku sudah memberinya sedikit luka.

Ya, dia. Dia yang sekarang berada beberapa meter tepat didepanku sedang menunggu pintu lift terbuka. Aku ingin sekali menendang pantatnya itu. Lihatlah bahkan dia terlihat sangat tampan dengan jas yang dipakainya itu.

YYA!! KIM NAE RI!! Apa kau gila?.

Aku segera mengembalikan kesadaranku dan segera mengambil jalan lain untuk menghindarinya. Aku tak ingin mengambil resiko untuk hal ini, aku harus menjauhi namja itu, sebisa mungkin.

Apakah aku bisa? Entahlah.

“Aish…..Jjinja!!!” Aku melangkahkan kakiku satu demi satu menuju anak tangga di tangga darurat menuju lantai 7. Hebat, hari pertama membuatku kelelahan parah.

Setelah sampai di lantai 7, segera aku menuju ke meja kerjaku dimana ada beberapa orang yang sibuk dengan komputer mereka masing-masing dan coretan-coretan yang entah mungkin mereka merasa kurang puas dengan hasil yang mereka buat.

Aku tersenyum melihat pemandangan disekitarku ini, karena ini adalah duniaku. Sobekan-sobekan kertas, gulungan kertas, pensil-pensil, contoh kain, dan beberapa mannequin dengan baju hasil desainan yang telah dibuat.

“Aaaah….chuaaa” Aku mengeratkan kedua tanganku dan tersenyum sambil mengangkat sedikit bahuku.

“Chua? Neo…Kim Nae Ri-ssi?” Tiba-tiba terdengar suara seorang namja tepat dibelakangku.

“Nde…”Jawabku gugup

“Lee Donghae imnida…”

“Eoh” Sahutku seadanya. Siapa namja ini? Batinku. Merusak moment indahku saja.

“Ah…kau belum mengenalku?” Tanyanya ramah dengan senyumnya yang ramah.

“Hmm…”

“Aku wakil direktur disini, dan mengurusi semua departement yang ada di perusahaan ini, jadi intinya aku yang berkuasa atas semua isi di gedung ini, maksudku karyawan dan semuanya. Karena semua urusan yang menyangkut perusahaan dengan orang luar adalah urusan direktur kita.” Jelasnya.

Aku hanya menggerakkan kepalaku naik turun seakan berkata, ah…jadi itu kerja namja ini. MWO? Wakil direktur? Jadi namja ini adalah rekan namja yang sangat aku benci? Aku sedikit melotot ketika menyadari itu semua.

Kau pikir aku peduli dengan kerja direktur itu, direktur kita? Siapa yang namja ini maksud dengan kita? AH!! Membuatku kesal saja.

“Wae? Nae Ri-ssi?” Tanyanya.

“Ah…joseonghamnida” Aku membungkuk karena telah menunjukkan sifat bodohku.

“Baiklah, kau bisa segera menuju meja kerjamu dan tugas-tugas yang harus kau kerjakan sudah ada dimejamu, kalau kau butuh sesuatu atau ada yang tidak kau mengerti, kau bisa bertanya pada sunbaedeul mu disini” Dia menjelaskan semua dan tersenyum lalu meninggalkanku.

Aku menghembuskan nafas, namun seketika pernapasanku serasa tak berfungsi ketika melihat namja yang aku temui di lift tadi sedang berjalan menuju ke ruangan kerjaku, terlihat dari kaca transparan pada pintu masuk menuju ruangan ini.

Segera aku berlari menuju meja kerjaku dan berusaha menyembunyikan diri. Aku melirik kearah pintu masuk dan ternyata dia sudah berada di ruangan ini, memandangi sekitar lalu pergi menuju ruangannya yang ada di bagian lain, tepatnya paling pojok di lantai 7 ini.

————–

“Setidaknya aku hanya harus berusaha menjauhinya, dan mencoba tak berhubungan dengan ruangan paling pojok dilantai 7 ini, Hye Mi-ah…” Aku menjelaskan semuanya kepada Hye Mi, dia terdengar sangat antusias sekali, sialan.

“Baiklah, semoga saja aku bisa tahan dengan namja itu. Kau tau? Bahkan aku sudah dua kali bertemua dengannya hari ini” Aku memainkan ujung rambutku sambil terfokus pada perbincanganku dengan Hye Mi via ponsel.

“Ani….aku belum bertemu secara langsung, maksudku hanya bertemu dengannya dan dia sepertinya tak mengetahuiku, sepertinya.” Tambahku.

“Baiklah….kkeunta” Aku menyudahi perbincanganku dengan Hye Mi.

“Namja….itu? Nugu?” Tiba-tiba saja terdengar suara dibelakangku.

“Ah….Busajangnim, ani…hanya perbincangan antara yeoja” Elakku.

Lagipula kenapa namja ini berada disini? Bukankah ini adalah tempat dimana jarang sekali didatangi? Maksudku, ini adalah bagian teratas gedung perusahaan ini dan setelah menemukan tempat ini aku merasa senang karena bisa melihat dengan jelas kota Seoul. Dan angin yang bertiup disini cukup menyegarkan meskipun tak begitu segar sebenarnya.

Dan dia? Kenapa dia disini? Apa jangan-jangan dia mengikutiku? Batinku.

“Ah…dan namja itu bekerja disini?” Tanyanya, membuatku semakin gugup.

“Bukan begitu, tapi dia…ah dia hanya seorang karyawan biasa, teman lamaku dulu” Elakku.

“Ah…begitu rupanya”

“Kau juga suka tempat ini?” Tanyanya

“Nde?”

“Aku juga suka sekali datang kemari ketika istirahat makan siang, ini tempat ternyaman di gedung ini.” Dia tersenyum, berdiri tepat disampingku dan melihat kearah jajaran gedung-gedung di kota Seoul yang terlihat jelas.

“Nde?”

“Ah…neo, gunakan banmal saja, lagipula umur kita tak terpaut jauh” Dia memandangku.

“Kau adalah atasanku, dan aku tak boleh seenaknya berbicara informal.” Aku menolaknya.

“Baiklah, kau bisa menggunakan bahasa formal jika berada digedung, tapi jangan gunakan itu ketika kita berada diluar, lagipula aku tak ingin merasa sangat tua” Dia tertawa, namja ini lucu juga.

“Baiklah, aku pergi dulu karena akan ada rapat setelah ini. Oh ya, kau bisa bawakan hasil tugasmu ke ruang rapat serta hasil dari yang lainnya, karena kami akan membahas mana yang akan lolos masuk di katalog newbie, desain para karyawan baru perusahaan ini.” Jelasnya.

“Ah…nde” Aku tersenyum, menunjukkan eyesmileku membuatnya terdiam lalu segera beranjak pergi.

————–

Aku mengumpulkan semua hasil pekerjaan kami, para karyawan baru. Dan berharap hasil desainku yang akan lolos untuk edisi minggu ini. Setidaknya ini akan menjadi batu loncatan untuk karirku. Aku tersenyum, dan melangkah menuju ruang rapat yang ada di lantai 4. Aku membuka perlahan pintu ruangan itu, ya perlahan. Aku tak boleh mengacaukan semua ini.

Aku sedikit lega karena tak melihat namja menyebalkan itu ada di ruangan itu karena aku sudah khawatir kalau saja dia ada disana. Busajangnim, maksudku Lee Donghae tersenyum melihat kedatanganku, lalu dengan segera aku memberikan lembaran kertas yang berisi hasil desain kami para karyawan baru.

Setelah selesai memberikan lembaran kertas itu, aku segera membungkuk dan keluar menuju ruangan itu. Untung saja aku beberapa detik lebih cepat karena ternyata namja sialan itu juga akan mengikuti rapat itu.

“Sajangnim, Choi Siwon-sajangnim” Sapa salah seorang karyawan kepadanya ketika akan memasuki ruangan itu.

Sudah lama sekali aku tak mendengar nama itu. Dan sekarang setelah aku mendengarnya seketika aku bergidik, entah kenapa. Ya, dia namja sialan yang aku maksud. Dia yang sudah membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, dan juga pahitnya patah hati. Dia, dengan segala keegoisannya, keangkuhannya, dan sangat penurut dengan appanya yang menentang hubungan kami sehingga membuatku selalu dalam masalah. Bahkan ketika aku dulu menyuruhnya untuk memilih, dia tak bisa memilih.

Tapi disaat bersamaan dia membuatku merasa terbuang karena tiba-tiba saja memutuskan hubungan kami. Ya, sudah 4 tahun kami sudah tak pernah bertemu lagi. Cinta? Ya, dia cinta pertamaku. Cinta? Apa kali ini aku masih bisa merasakan itu?

Hye Mi bahkan menolongku dalam masa-masa sulit itu dan berhasil membuatku bangkit. Setidaknya aku sekarang menjadi Nae Ri yang lebih tegas, ceria, dan pintar. Ya, secara tidak langsung itu berkat dia.

Aku segera meninggalkan pemandangan menyebalkan itu, entahlah melihatnya dengan yeoja itu meskipun hanya seorang karyawan biasa namun berhasil membuatku sedikit, oke merasakan perasaan aneh. Sudah 4 tahun berlalu apakah aku masih bisa berkata aku cemburu? Ini gila.

————-

SIWON’S POV

Aku memasuki ruangan itu dan segera menempati kursiku. Donghae memberikan beberapa lembar hasil desain para karyawan baru. Tak ada sama sekali yang menurutku bagus, bahkan aku rasa mereka membuatnya terlalu bagus sehingga aku rasa mereka seperti bukan seorang baru dibidang ini.

Terlalu sempurna, aku tak menyukai hal itu.

Sampai pada akhirnya aku melihat desain unik sekaligus aneh namun menarik perhatian. Donghae sepertinya setuju dengan pemikiranku.

“Chua…aku rasa itu desain yang cocok untuk edisi minggu ini.” Dia tersenyum, dan aku memberikan kode setuju dengan hanya mengangguk pelan.

“NAENAE” Aku melihat sebuah nama di ujung bawah kanan lembaran kertas yang aku pegang.

“Mwo?” Donghae sepertinya mendengar gumamanku, lalu seketika merebut kertas itu dan membacanya.

“NAENAE” Dia tertawa.

“Aneh.” Katanya.

Sepertinya aku pernah melihat tulisan seperti itu, dan desain aneh seperti itu. Entahlah, apa aku gila? Bahkan aku sudah 4 tahun tak pernah bertemu dengannya. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana nasibnya? Apakah dia masih saja seperti dulu? Atau mungkin sudah jauh lebih baik?

Aku tersenyum, mengingat semua keanehan yeoja itu. Ya, NAENAE nama itu tak asing bagiku dan sering sekali aku melihat nama itu dilembaran kertas yang ingin dia kirim ke perusahaan majalah fashion. Tapi apakah NAENAE yang aku maksud adalah dia?

Bahkan kalau dia sekarang bekerja di perusahaan fashion tak akan pernah dia memilih perusahaan ini, dan harus bertemu denganku setiap hari. Terlalu banyak luka untuknya seandainya kami bertemu. Aku bahkan tak akan sanggup melihatnya yang akan menangis, ya dia suka sekali menangis dulu. Memakai sneakers dan membuat rambut indahnya tak terlihat karena dia selalu menatanya menjadi model high messy bun. Ya, karena hanya aku yang boleh melihat rambut indahnya terurai, setidaknya dulu. Dulu, entahlah sekarang.

Bahkan aku masih merasa kesal karena dia bahkan tak pernah berusaha mempertahankan hubungan kami. Dan menyuruhku untuk memilih antara dia dan keluargaku. Bagaimana bisa?. Apakah dia juga membenciku? Bahkan mungkin dia tak akan sanggup melihatku, bahkan dia juga akan menangis. Aku tersenyum.

“Baiklah, aku pilih ini” Kataku.

“Oke, aku juga” Sahut Donghae, baru kali ini dia sependapat denganku. Apakah mungkin selera kami sama kali ini?

“Chun Hye-ssi, bisakah kau panggilkan karyawan baru yang tadi membawakan lembaran desain ke ruangan ini?” Pinta Donghae sambil menunjukkan kertas yang ia pegang.

“Nde..”

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya, dia datang. Aku masih terfokus dengan desain-desain lainnya, kembali mengambil kertas dengan inisial nama “NAENAE” dan mendengar hentakan higheels yang dipakai, ah seorang yeoja ternyata. Lalu aku segera mengarahkan pandangan kearah datangnya suara itu sebelum akhirnya terdiam. Seorang yeoja dengan pakaian sangat feminim, rambut yang tergerai indah dengan model big curly serta poni, dan make up sederhana namun masih bisa membuatnya terlihat elegan, apakah ini mimpi?

————

DONGHAE’S POV

Aku melihat Nae Ri yang dengan perlahan memasuki ruang rapat dan menunduk. Wae? Apa ada yang salah? Kenapa dia seolah tak ingin masuk. Dia perlahan menuju kearahku.

Aku bahkan semakin terheran ketika melihat Siwon juga terdiam dengan masih memegangi lembaran kertas yang ternyata milik Nae Ri. Ada apa dengan mereka berdua?.

“Nae Ri-ssi? Gwencana?” Tanyaku.

“Ah….nde..nde” Jawabnya gugup.

“Ini punyamu?” Aku mengambilnya dari tangan Siwon. Seketika dia berhenti terdiam dan seperti sibuk dan tak memandangi Nae Ri, begitu pula dengan Nae Ri.

“Why? Apa kalian saling kenal?” Tanyaku.

“Ani!!” Jawab mereka berbarengan.

“Woah….daebak bahkan kalian menjawabnya bersamaan.”

“Yya!” Protes Siwon.

“Baiklah, desainmu yang berhasil lolos untuk edisi minggu ini, Kim Nae Ri-ssi” Nae Ri tersenyum senang ketika aku mengatakan hal itu kepadanya. Ya, eyesmilenya kali ini lebih indah dari sebelumnya.

Saat aku membalas senyumannya, tiba-tiba saja Siwon terbatuk lalu segera meminum segelas air putih yang ada disebelah kanannya. Aku hanya terfokus dengan eyesmile milik yeoja ini, tak peduli Siwon yang tersedak seketika setelah melihat yeoja ini tersenyum. Namun setelah Siwon tersedak, Nae Ri pun mengubah raut mukanya menjadi datar dan melirik tajam kearah Siwon.

MWO? Kenapa aku seperti ini. Ya, dia memang sedikit berbeda dengan yeoja lainnya. Disaat para karyawan yeoja akan sibuk mencari perhatian pada kami, maksudku aku dan Siwon, tapi Nae Ri berbeda, dia seakan cuek pada sesuatu yang tak penting baginya dan fokus pada pekerjaannya.

Aku masih ingat bagaimana dia sangat senang sekali ketika pertama melihat ruangan kerjanya tadi. Dan satu kata yang aku ingat dia berkata “Chua….” dengan ekspresi muka yang lucu. YYA! LEE DONGHAE!! Kenapa kau terus saja memikirkan yeoja yang bahkan masih baru beberapa jam kau temui.

“Kamsahamnida…busajangnim…kamsahamnida” Dia terlihat senang sekali.

“Ah…ya dan bukan hanya aku saja tapi dia juga memilih desainmu” Aku menunjuk Siwon yang ternyata masih sibuk dengan kertas-kertas yang bahkan tak pernah dia sentuh sebelumnya.

“Ani….siapa bilang aku memilih desain aneh itu” Jawabnya.

“Nde?” Sahut Nae Ri dengan ekspresi muka memerah, dan kesal.

“Neo…Kim Nae Ri? Kau sebut ini sebuah desain? Aku rasa anak tk saja bisa menggambar ini” Sahut Siwon.

Aku masih terdiam melihat mereka berdua.

“Mwo?” Nae Ri terlihat sangat marah. Membuat para karyawan yang juga masih ada di ruangan rapat itu terheran dengan sikap Nae Ri, begitu pula denganku.

“YYA…YYA…CHOI SIWON, bukankah kau tadi yang pertama memilih itu?” Aku mencoba menengahi ini semua.

“Kim Nae Ri-ssi, bisakah kau kembali ke ruang kerjamu. Sekali lagi selamat karena desainmu yang terpilih” Nae Ri masih terlihat sangat kesal dan menatap tajam Siwon yang bahkan tak menatapnya sama sekali, rapat berakhir namun aku dan Siwon masih berada di ruangan itu.

“Wae?” Tanyaku.

“AISH….JJINJA!!! Kenapa aku harus bertemu dengannya?” Tiba-tiba saja sifat dingin dan super keren yang dimilikinya runtuh.

“Menyebalkan, sudah berapa lama dia bekerja disini?”

“Nugu? Kim Nae Ri?” Tanyaku.

“Eoh”

“Beberapa jam yang lalu” Jawabku

“MWO?” Siwon seperti terheran dan memandangiku dengan heran.

“Wae? Apakah kalian saling kenal?”

“Ani….dia hanya seseorang yang pernah aku kenal dulu”

“Joengmal? Jjinja?” Tanyaku tak percaya.

“Eoh…” Dia lantas meninggalkan ruangan itu, aku masih penasaran. Haruskah aku bertanya pada Kim Nae Ri? Aish…..memangnya kenapa? Dan kenapa aku penasaran. Pabo.

————–

“YYA!!! PABO!!!! CHOI SIWON PABO!!!! ARRGHHHHH!!!!!!! NEO…..” Aku mendengar suara yoeja berteriak di atap gedung ini.

Aku segera menuju kesana, karena sepertinya aku mendengar nama Siwon disebut. Aku berjalan perlahan ketika melihat Nae Ri berdiri tepat di ujung gedung dan berteriak.

“NEO……KENAPA AKU HARUS BERTEMU DENGANMU? KENAPA AKU DULU HARUS MENGENALMU? HAH?” Nae Ri semakin keras berteriak dan tak mempedulikan dirinya yang sudah berada di ujung.

“YYA!!! KIM NAE RI-SSI!!! NEO….” Aku berlari ketika melihatnya yang kehilangan keseimbangan karena high heels yang dipakainya.

Aku meraih tubuhnya dan menariknya. Dia terkaget melihatku, segera aku meraihnya dan kami terjatuh, dia berada tepat diatas. Ya diatas tubuhku. Beberapa detik kami bertatapan sebelum akhirnya semuanya menjadi semakin gelap.

———–

Semoga suka, karena aku terlalu nggak bisa move on sama SIWON oppa (namja yang suka manggil-manggil Maria) haha jadi aku tetep masukin si doi deh. Tapi si ikan juga ada kok jadi main castnya hehe. GOMAWO udah baca, jangan lupa COMMENT dan LIKE.

Blog : sweetlollipop2810.wordpress.com

FB: Nurry Permanaa

Twitter : @nurrypermana

4 thoughts on “LOVE IS PAIN | Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s