JungKo (Saranghaeyo)

 

cnb-fzfljo33tk

JungKo (Saranghaeyo)
Author :
Aiko
Main Cast :
Lee Jung Shin, Kiyomizu Aiko (OC)
=0o0=

Aiko tersenyum geli melihat foto di depan layar datarnya. Iya Tuhan… dia memang tahu suaminya itu gokil, kocak atau apalah istilahnya, tapi tidak dengan pria di sebelah suaminya itu. Pria itu malah menggunakan kemeja putih, celana kain, dan sepatu formal hitam yang mengkilat lengkap dengan rambut gondrongnya yang tersisir rapi seperti seseorang yang akan berangkat ke acara formal. Padahal saat ini mereka tengah berada di acara konser Bruno Mars bukan ke acara formal. Dan lihat saja bajunya, sebelah ujungnya bahkan terlihat berada dalam posisinya yang tidak rata satu dengan lainnya. Penampilan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang Yong Hwa dan Min Hyuk perlihatkan. Mereka hanya memakai baju santai, baju yang cocok untuk menonton konser sore itu. Tapi sungguh. Penampilan Jong Hyun saat ini memang sangat lucu, iya walaupun pria itu tetap tidak kehilangan pesonanya. Pesona yang membuat kekasihnya harus menelan air liurnya setiap melihat wajah pria itu.
Yuki adalah gadis yang disukai Jong Hyun, mereka memang sudah lama menjalin hubungan dan kemungkinan akan segera menikah. Gadis itu juga yang tadi menelponnya, menyuruhnya membuka laptopnya dan masuk ke dalam salah satu fans club yang mereka ikuti untuk memberitahu Aiko tentang penampilan keempat pria yang sangat mempesona itu. Yuki memberitahunya kalau dia dan Jong Hyun memang baru saja kembali dari menghadiri acara pernikahan teman mereka karena itu Jong Hyun belum sempat mengganti bajunya. Tapi menurutnya walaupun Jong Hyun salah kostum saat ini, Jong Hyun teteplah terlihat tampan di matanya dan Aiko tahu itu. Dia tidak pernah meragukan ketampanan Jong Hyun sama sekali.
Berbeda dengan Jung Shin. Pria aneh yang kini menjadi suaminya itu memang selalu berpenampilan seenaknya sendiri membuatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sama seperti saat ini, pria itu malah mengenakan jaket hitam dan kacamata hitam. Penampilannya itu layaknya seperti seorang gangster Hongkong yang sering dilihatnya di televisi. Aiko tahu pria itu menggunakan penampilan seperti itu karena ada alasannya. Alasan yang membuat Aiko hanya bisa menggeleng geli. Salah pria itu sendiri. Pria itu punya waktu istirahat dari kegiatannya, tapi bukannya beristirahat, pria itu malah melakukan ‘kegiatan’ dengannya. Alasannya hanya satu karena dia merindukan istrinya. Dasar pria aneh.
Gadis itu beralih dari meja di depannya menuju lemari yang tidak jauh darinya. Tangannya berusaha menjangkau sebuah buku tebal yang terdapat di bagian paling atas lemari itu. Tapi bukannya mendapatkan apa yang diinginkan gadis itu justru harus berdecak kesal karena apa yang dilakukannya membuahkan hasil yang sia-sia. Tubuh pendeknya tidak bisa menjangkau benda di atasnya.
“Aish,” decaknya kesal. “Aku sudah menyuruhnya memindahkan album itu tapi dia malah masih meletakkannya di tempat yang tidak bisa kujangkau, dasar bodoh.” gerutunya. Aiko menolehkan kepalanya ke samping, sesaat tersenyum ketika melihat kursi yang bisa digunakannya untuk mengambil album itu. Gadis itu menaikan kedua kakinya di atas kursi dan mulai menjangkau album foto yang ingin dilihatnya itu. Senyumnya langsung mengembang saat tangannya berhasil meraih album foto berukuran besar itu, tapi sial baginya karena kursi yang kini menjadi pijakannya tiba-tiba bergoyang membuatnya berteriak ketakutan karena merasa tubuhnya sebentar lagi akan terjatuh.
“Omooo!!!” Sebuah tangan kekar meraih pinggangnya, menahan tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan. Pria itu menurunkannya dari kursi dan menatapnya kesal. “Apa yang kau lakukan eoh? Bagaimana kalau kau jatuh?” bentak pria itu kesal. Aiko menghela napas lega karena Jung Shin datang di saat yang tepat. Pria itu membantu Aiko untuk turun dari kursi, tatapannya terlihat kesal karena apa yang baru saja dilakukan gadis itu saat ini. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, sadar bahwa sebentar lagi Jung Shin akan menceramahinya panjang lebar. “Aku bertanya apa yang sedang kau lakukan Lee Aiko? Dan berhenti memasang wajah seperti itu karena kali ini aku tidak akan terpengaruh.”
“Aish kau itu,” Aiko memukul lengan suaminya kesal. Yang benar saja. Jadi pria itu menganggap dia sedang menggodanya begitu? Dasar Lee Jung Shin bodoh. “Kau pikir aku sedang menggodamu begitu? Jangan mimpi kau Lee Jung Shin.”
“Kalau begitu katakan apa yang sedang kau lakukan?”
“Aku hanya ingin mengambil album foto pernikahan kita tapi karena tempatnya terlalu tinggi aku memakai kursi itu. Tadinya aku bisa mendapatkannya tapi kursi itu tiba-tiba saja goyang karena itu aku menjerit ketakutan.”
“Aish seharusnya kau memintaku untuk mengambilkannya bodoh.” Jung Shin mendorong kepala Aiko dengan ujung jarinya. menggeleng pelan melihat wajah istrinya itu. Entah pesona apa yang dimiliki gadis itu sampai membuatnya tidak bisa berjauhan dengannya walaupun hanya sebentar saja. Dan dia benar-benar kaget melihat apa yang baru saja menimpa istrinya itu.
“Ini salahmu,” ujar Aiko. Gadis itu kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Jung Shin mengernyit pelan. Bagaimana semua itu bisa menjadi salahnya? yang benar saja. Seolah mengerti dengan tatapan Jung Shin saat ini Aiko kembali melanjutkan ucapannya. “Aku kan sudah memintamu untuk memindahkan album foto itu di bawah saja jadi aku bisa melihatnya kapanpun aku mau. Tapi kau bahkan tidak melakukannya jadi jangan salahkan aku kalau terjadi hal seperti tadi.”
“Kau itu selalu saja tidak mau aku salahkan. Baiklah,” Jung Shin menjulurkan tangannya, menjangkau album foto yang diinginkan Aiko dan memberikannya pada gadis itu. “Ige. Kau puas?” Aiko langsung menyunggingkan senyumnya melihat album foto yang kini sudah berada di tangannya. “Ini semua karena kau terlalu pendek jadi kau sulit melakukan apapun. Seharusnya kau tidak sependek ini nyonya Lee.” Ledek Jung Shin. Dia tahu Aiko sangat tidak suka ketika tinggi badannya jadi topik pembicaraan mereka, tapi Jung Shin menyukainya. Menyukai saat gadis itu terlihat kesal karena ledekannya sama seperti saat ini. Gadis itu kembali mengerucutkan bibirnya membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium gadis itu, menyatukan bibir mereka berdua dengan cepat sebelum gadisnya berteriak karena pembicaraan tinggi badan mereka.
Jung Shin mulai memejamkan matanya, ketika bibir lembut istrinya perlahan terbuka, memberinya akses untuk memasukinya lebih dalam lagi. Pria itu menarik pinggang Aiko, membuat tubuh mereka menyatu dengan sempurna tanpa melepaskan ciuman mereka sedikitpun. Pria itu berkali-kali memiringkan kepalanya, mencari oksigen dari sekitarnya untuk memenuhi paru-parunya terasa mulai kosong karena ciuman mereka. Seharusnya dia memang melepaskan ciumannya tapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa melepaskan bibirnya dari bibir Aiko. Baginya bibir Aiko seperti candu yang sangat sulit untuk dilepaskan.
Aiko mendorong tubuh Jung Shin pelan ketika dia merasakan napasnya semakin sesak karena ciuman mereka. Yang benar saja, Jung Shin seperti tidak memberinya waktu untuk bernapas. Jung Shin tersenyum pelan ketika bibir mereka terpisah. Pria itu menyatukan dahinya dengan Aiko, memejamkan matanya dan kembali menghela napas panjang menghirup aroma harum istrinya itu.
“Kenapa kau bisa pulang cepat? Aku pikir kalian akan menghabiskan waktu bersama setelah konser selesai.” ucap Aiko. Dahi mereka masih menyatu dengan tatapan mata yang saling memandang satu dengan lainnya intens. Tatapan mata yang sarat akan rasa cinta yang memuncak.
“Aku memilih pulang lebih dulu karena aku merindukanmu.” jawab Jung Shin. Pria itu perlahan memejamkan matanya saat hangat napas istrinya menerpa pipinya. Oh Tuhan kenapa gadis di depannya ini begitu membuatnya terpengaruh? “Aku merindukanmu Lee Aiko. Seharusnya tadi kau ikut denganku jadi aku tidak merindukanmu sebesar ini.”
“Mianhae. Aku bukannya tidak mau tapi aku tidak ingin kau terkena scandal karenaku,” jawab Aiko malu. Pria itu mengangguk mengerti dengan alasan yang saat ini dikemukan istrinya itu. Terkadang dia merasa sangat bersalah setiap kali melihat Aiko. Dia tidak bisa memperlakukan gadis itu seperti para suami memperlakukan istrinya. Berjalan bergandengan tangan di luar rumah atau sesekali menemani istrinya berbelanja. Dia benar-benar tidak bisa melakukan semua itu selama ini. “Hhhhmmm… Apa kau sudah makan malam?” tanya Aiko saat dia melihat Jung Shin melamun.
“Sudah… Kau?”
“Aku juga sudah. Tadi aku mengambil makanan di Dorm,” lirih Aiko pelan. “Sebaiknya kau mandi dulu, badanmu pasti lengket karena harus berdesakan di konser tadi.”
“Arra… aku mandi dulu ne.”
“Hhhmmm, mandilah.” Jung Shin mencium kening Aiko pelan, memberikan senyum terbaiknya untuk gadis itu dan berjalan masuk ke kamar mereka.
=0o0=
Aiko menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, membuka lembar demi lebar foto yang terpasang di album foto yang kini berada di pangkuannya. Berkali-kali senyum mengembang di sudut bibirnya ketika memori tentang pernikahan mereka kembali menguak di pikirannya. Dia masih mengingat betapa tampannya Jung Shin saat menunggunya di depan altar pernikahan mereka. Pria itu tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya saat berdiri menunggunya. Senyum yang sangat disukai gadis itu. Senyum yang membuat dunianya teralihkan. Dia menyukai senyum Jung Shin, menyukai semua hal yang ada pria itu, bahkan sikap ajaibnya pun sangat disukainya. Dan dia tidak pernah menyesal menikah dengan Jung Shin.
Tangan gadis itu perlahan mengusap salah satu foto favoritnya. Foto dimana pria yang di cintainya itu tengah menciumnya untuk pertama kali setelah mereka resmi menjadi suami istri. Ah… Lee Jung Shin. Kenapa semakin lama ciuman pria itu semakin memabukkan untuknya? Dan lebih gilanya lagi dia menyukainya, menyukai ciuman yang pria itu berikan padanya dan itu semua membuatnya menginginkan pria itu lebih dari sekedar itu.
“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Jung Shin setelah selesai mandi. Jung Shin menyibakkan selimut, beranjak naik ke atas ranjang besar mereka dan duduk di samping istrinya yang tengah tersenyum melihat foto di depannya. “Memangnya ada yang lucu? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Jung Shin saat matanya menangkap foto yang saat ini tengah dilihat istrinya. Foto ciuman pertama mereka setelah menikah. “Jangan katakan kau menyukai ciumanku saat itu?”
“Yya!! Kau percaya diri sekali tuan Lee,” Aiko kembali membalik lembar demi lembar album foto mereka dengan senyum di wajahnya. “Kau ingat ini?” gadis itu menunjuk foto di depannya. Foto yang memperlihatkan dirinya dan Jung Shin yang tengah berbulan madu. Saat itu mereka tengah berada di Venezia. Menyusuri bersihnya sungai di Venezia dengan Gondola yang menjadi daya tarik tempat itu. Entah pikiran dari mana pria itu tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berteriak pada semua orang kalau dia mencintai istrinya dengan logat bahasa inggrisnya yang terdengar sangat lucu. Dia berteriak berkali-kali, membuat Aiko harus menutup telinganya karena teriakan Jung Shin. Gondola itu sedikit berkelok saat berpapasan dengan gondola di depannya, membuat tubuh Jung Shin yang saat itu masih dalam posisi berdiri langsung terjatuh ke dalam dinginnya air sungai Venezia.
“Itu salah satu bukti cintaku padamu,” pria itu menunjukkan fotonya, bibirnya bahkan terlihat pucat karena kedinginan. “Lihatlah, bajuku saja basah kan.”
“Aish itu karena kau bodoh Lee Jung Shin. Kau membuatku malu dengan berteriak seperti itu di depan semua orang.” Aiko meleletkan lidahnya melihat wajah Jung Shin yang kini terlihat kesal. Berbeda dengan wajahnya yang baru beberapa detik lalu terlihat bangga.
“Kau itu,” Jung Shin merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. “Kemarilah.” pria itu menepuk sebelahnya, menyuruh gadis itu agar tidur di sampingnya. Aiko menutup album foto di pangkuannya, meletakkannya di atas nakas di samping ranjang. Jung Shin langsung mengulurkan tangannya, memberikannya sebagai bantal pada Aiko saat gadis itu mulai merebahkan kepalanya. Dia tahu istrinya sangat menyukai hal itu, dan dia juga sangat menyukainya. Jung Shin menatap wajah cantik istrinya. Tangannya menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi wajah Aiko. “Apa kau bahagia menikah denganku?”
Aiko mengernyit pelan, menjauhkan tubuhnya dari Jung Shin untuk memudahkannya memandang wajah pria yang dicintainya itu. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa ada masalah?” tanya Aiko khawatir. Dia khawatir kalau Jung Shin tiba-tiba mengatakan ingin berpisah dengannya. Tidak… dia tidak bisa tanpa pria itu di sisinya.
“Hei… hei,” Jung Shin menarik pinggang Aiko mendekat ke arahnya. Dia bisa membaca raut wajah kekhawatiran yang kini ditunjukkan istrinya dan dia tidak suka itu. “Kau jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin tahu saja apa yang kau rasakan setelah menikah denganku. Apakah kau bahagia? Apakah kau kecewa? Hanya itu tidak lebih.”
“Apa kau melihatku tidak bahagia bersamamu?” tanya Aiko. Tatapannya tetap tertuju pada mata Jung Shin. Mencari tahu apa maksud pertanyaan pria itu sebenarnya. “Aku tidak pernah tidak bahagia menikah denganmu. Tidak pernah terlintas di dalam pikiranku kalau aku menyesal menikah denganmu. Aku bahagia menikah denganmu dan aku tidak pernah menyesali hal itu.”
Jung Shin menghembuskan napasnya pelan. Lega. Itulah yang dirasakannya setelah mendengar jawaban gadis yang kini berada di dalam dekapannya. Pria itu kembali mendekap tubuh Aiko semakin erat dalam pelukannya. “Aku hanya merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan para suami pada umumnya. Mianhae.” lirihnya tepat di depan wajah istrinya.
“Memangnya apa yang dilakukan suami pada umumnya? Setauku kau sudah melakukan kewajibanmu sebagai seorang suami. Menjagaku, membahagiakanku memberiku nafkah lahir dan batin dan menurutku itu sudah lebih dari cukup.”
“Aiko… Aiko… Aiko…” Jung Shin menyebut nama Aiko berkali-kali, sesuatu yang sangat disukainya. Dia sangat menyukai menyebut nama gadis itu. Hatinya bahkan bersorak gembira ketika bibirnya menyebut nama istrinya itu. “Apa kau tidak ingin berjalan-jalan bersama di keramaian, saling bergandengan tangan atau menikmati sengatan matahari saat kita sedang piknik ke pantai?”
“Sejujurnya aku mau, tapi hal itu menurutku tidak terlalu penting,” jawab Aiko pelan. “Kalau dengan berada di rumah membuatku bisa memilikimu seutuhnya aku lebih memilih berada di rumah seharian.”
“Terimakasih,” Jung Shin mengecup bibir Aiko sekilas. “Terimakasih karena sudah bersedia menjadi istriku,” Jung Shin memejamkan matanya, menghirup aroma rambut gadis itu. “Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, menjagamu dan berada disisimu sampai kapanpun. Setidaknya aku bisa menjanjikan satu hal padamu.”
“Mwoya?”
“Aku bisa menjanjikan kalau aku akan mencintaimu dengan cinta yang semakin bertambah setiap harinya. Dan itu akan selalu kuberikan padamu sampai kau berkata ‘Stop. Berhenti memberikanku cintamu padaku.’ Dan ketika kau berkata seperti itu aku akan berhenti memberikan cintaku padamu.”
“Lalu kau akan meninggalkanku?”
“Ani. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kecuali kau memintanya sendiri. Walaupun aku tahu aku tidak akan bisa jauh darimu. Aku tidak akan bisa meninggalkanmu Aiko-ya.”
“Nado,” jawab Aiko. “Aku tidak akan pernah meminta kau meninggalkanku karena aku juga tidak akan bisa hidup tanpamu. Kau tahu… bagiku kau seperti oksigen yang sangat kubutuhkan Lee Jung Shin. Kau tahu kan seperti apa manusia tanpa oksigen? seperti itulah yang akan terjadi padaku kalau kau meninggalkanku.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap bersamamu dan berada di sampingnya, percayalah.”
“Aku percaya padamu, sangat mempercayaimu.”
“Aku tahu,” Jung Shin kembali mencium bibir Aiko lembut. Menyampaikan betapa dia sangat mencintai gadis itu. “Tidurlah. Aku akan memelukmu sepanjang malam. Dan terimakasih karena sudah mencintaiku Lee Aiko. Saranghaeyo.”
“Nado saranghaeyo Lee Jung Shin.” balas Aiko dengan senyum mengembang di wajahnya. Perlahan gadis itu memejamkan matanya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya dengan damai. Berharap kebersamaan mereka akan bertahan untuk selamanya. Harapan yang sama yang juga tengah diucapkan pria itu di dalam hatinya.
END
Entahlah ada apa dengan otakku setiap melihat foto Jung Shin selalu saja ada ide untuk buat ff tentangnya. Maaf bagi yang tidak suka tapi aku menyukainya..hee
FF ini Cuma ingin menunjukkan betapa Aiko menyukai suaminya karena itu FF-nya tidak sepanjang FF yang lain dan tentu saja tidak seberat FF yang lain… Terimakasih yang sudah membaca😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s