Still U | Part 3 (Squel – My Little Story)

 

STILL U 3

STILL U (Squel My Little Story)

Author : @Me_Cahyaa
Tittle : Still U (Squel – My Little Story)
Lenght : Chapter
Genre : Romance, Sad.
Rate : General
Main Cast : Ahya Kim (OC), Lee Donghae (SJ).
Support Cast : Choi Minho (SHINee), Temukan Sendiri^^
=Still U=
Dedaunan berwarna hijau atau bahkan ada yang hampir menguning itu jatuh dengan sendirinya, melepaskan ujung tangkainya dari ranting pohon yang mulai mengering. Seusai terlepas, para dedaunan itu ada yang langsung mendarat ditanah. Tetapi tak sedikit pula yang menari kesana kemari mengikuti hembusan angin yang membawanya.

Angin, betapa hebatnya dirimu. Hanya dengan kehadiranmu, para dedaunan atau bahkan rumah sekalipun akan terbang mengikuti alurmu. Meski kau tak terlihat, tak berbentuk, tetapi kedatanganmu bisa kami rasakan. Haaah. Sama halnya dengan Cinta. Meski ‘benda’ itu tak terlihat, tetapi kehadirannya selalu terasa meski terkadang para manusia sukar untuk menyadarinya dengan cepat. Atau bahkan, para manusia seakan enggan dihampiri olehnya jika ternyata hembusan ‘Cinta’ itu akan datang sesaat dan setelahnya akan meninggalkan luka yang mendalam.

Hal itu jelas dirasakan oleh kedua anak manusia yang tengah duduk tenang dan tanpa suara sedikitpun, hanya terdengar samar-samar suara riuh yang tercipta dari dalam gedung cafe yang ada dibelakang mereka berdua. Ahya dan Donghae terdampar di tempat ini. Lahan kecil, yang tepat berada dipintu belakang Kona Beans yang jika kita memasukkinya maka kita akan sampai ditempat pencucian piring cafe itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

Setelah hampir beberapa menit mereka terdiam, kini sang gadis memilih untuk membuka suaranya terlebih dulu. Tatapannya lurus kedepan, gadis bermarga Kim ini sebenarnya masih belum siap bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hatinya berkeping-keping. Jika bukan karna Cho Kyuhyun yang menggeret mereka berdua disini, mungkin Ahya tak akan mau menemui Donghae dan bicara dengannya.

“Eum, bagaimana kabarmu?” balas Donghae, dan pria itu mencoba menatap gadisnya. Tetapi, Ahya memilih untuk menjauhkan tatapannya. Ahya mengalihkan tatapannya pada pintu masuk ruang pencucian piring itu yang sudah tertutup dengan rapat oleh perbuatan Cho Kyuhyun yang menguncinya dari dalam.

Gadis itu menghela nafasnya sejenak dan berat, sebelum menjawabnya.

“Kau lihat sendirikan? Aku baik-baik saja setelah kepergianmu” Ahya mengigit bibir bawahnya yang mulai bergetar. Tidak! Gadis ini berbohong. Aku tidak baik-baik saja, sungguh! Aku kacau tanpamu, tapi bagaimanapun aku harus terlihat ‘baik-baik saja’

“Benarkah?”

“Tentu, lalu bagaimana denganmu? Dan juga—kekasihmu?” gadis itu menarik kedua telapak tangannya agar masuk kedalam kantung hoodie yang sedang digunakannya, lalu meremas tangannya kuat-kuat. Sedikit berhasil untuk melampiaskan rasa sakit hatinya saat mengucapkan kata-kata itu.

“Yah, sayangnya.. Aku tidak sama denganmu” Donghae menundukkan tubuhnya, kedua siku tangannya digunakan untuk menopang tubuhnya diatas pahanya. Dan jemari-jemarinya saling berkaitan.

“Maksudmu?”

“Haruskah aku berkata jujur? Kurasa, jika aku mengatakannya dengan jujur kau akan merasa semakin sedih, dan kau akan membenciku”

“Aku memang sudah membencimu, Donghae-ssi” Ahya menatap tubuh pria disampingnya ini. Airmatanya jatuh, meski jujur, Ahya tak mengerti dengan apa yang Donghae katakan tadi. Tapi setidaknya, gadis ini hanya ingin mengatakan jika dia membenci pria ini meski hanya sampai dimulut saja. Karna pada kenyataannya, Ahya masih sangat mencintai Lee Donghae.

Gadis itu mengusap airmatanya yang jatuh, sebelum Donghae melihat seberapa rapuh Ahya Kim sepeninggal dirinya.

“Terima kasih” ucap Donghae sembari tersenyum kecut, dedaunan yang jatuh disekitar sepatunya masih menjadi objek tatapannya saat ini.

“Jadi kau senang, jika ada orang yang membencimu?”

“Tentu”

“Kau aneh Tuan Lee” Donghae kembali mengembangkan senyumannya, dan kini pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap dalam kedua bola mata gadis yang masih menjadi ratu dirongga hatinya. Tak tergantikan.

“Itu tandanya, masih ada orang yang peduli denganku. Dengan orang itu membenciku, maka secara tidak sadar orang itu akan terus memikirkanku. Entah itu keburukanku ataupun kebaikanku sekalipun. Orang yang membenciku itu, akan terus mencari letak kesalahanku dan itu pastinya akan membuatku tersadar dan membangkitkan diriku untuk berbuat lebih baik”

“Jadi itu definisi benci menurutmu? Huh?”

“Tentu, lalu bagaimana dengan pemikiranmu?”

“Oh! Ayolah, apa kita dikurung oleh Cho Kyuhyun sialan itu disini hanya untuk bertukar pikiran tentang definisi Benci? ah, jika begitu lebih baik aku kembali bekerja” Ahya memancarkan aura kesalnya. Gadis itu berdiri dan hendak berjalan menuju pintu, tetapi dengan cepat Donghae menarik lengannya dan membuatnya kembali duduk seperti semula.

“Tidak. Sebenarnya, ada yang lebih penting dari semua itu”

“Apa? Cepat katakan!”

“Kudengar dari Kyuhyun, tadi kau menangis saat keluar dari Coffe Shop. Apa itu benar?” Ahya membelalakkan matanya, gadis mencibir kesal. Sialan! Sejak kapan Cho Kyuhyun menjadi pria ember?

“Lalu, apa urusannya denganmu? Kurasa ti—“

“Siapa yang membuatmu menangis?” sergah Donghae dengan cepat, sebelumnya pria ini sudah menduga jika Ahya akan mengatakan hal yang seperti itu. Donghae meremas pelan bahu gadis itu agar tak dapat pergi kemanapun, sebelum Ahya menjawab semuanya.

“Kau tak perlu tau! Aku sudah bukan lagi urusanmu!” tolak Ahya. Donghae tak pernah kehabisan akal begitu saja. Kini kedua tangan pria itu sudah mengurung tubuh Ahya, dan menghempaskan pelan punggung gadis itu pada sandaran bangku kayu yang sedang mereka tempati.

“Jawab dengan jujur. Atau aku akan menciummu sekarang, disini!”

Mata gadis itu melebar mendengarnya, jantungnya kembali berpompa dengan cepat. Lidahnya kelu, tak tau apa yang harus dikatakannya. Gadis itu tak bisa berpikir dikeadaan terdesak seperti ini, yang pasti ia akan menjawab jujur jika semakin terdesak. Itulah kelemahan seorang Ahya Kim yang sangat amat diketahui oleh pria ini.

“Berhenti mengancamku. Aku tidak akan memberitahumu!”

“Baiklah jika itu maumu” Donghae tersenyum miring, dan perlahan kepalanya mendekat. Ahya semakin panik, dan tangannya pun mulai mendorong dada bidang pria ini. Tapi sayang, sekuat apapun usahanya, tenaga pria lebih kuat dari wanita.

“Ya! Donghae ssi!”

“Aku hitung sampai tiga! Katakan atau pasrah, Nona Kim”

“Satu” Donghae memajukan kepalanya, hingga kini hanya tersisa jarak kira-kira 7 cm saja. Ahya masih mengunci bibirnya rapat-rapat.

“Dua” Donghae kembali mendekatkan wajahnya, memangkas jarak lalu memiringkan kepalanya. Ahya, bukannya gadis itu tak ingin mengatakannya, hanya saja ia tak ingin Donghae ikut campur dalam kehidupannya lagi. Tapi tak ada keputusan lain, sebelum..

“Ti—“

“Choi Minhooooo!” pekik Ahya sembari menutup matanya rapat-rapat.

“Cih! Sudah kuduga!” Donghae menarik tubuhnya, lalu melepaskan genggaman tangannya dan duduk normal seperti semula. Ahya membuka matanya perlahan, dan menghela nafas lega.

“Apa yang sudah dilakukannya, sampai kau menangis seperti itu?”

“Berhentilah mengurusi kehidupanku! Kau sudah tak berhak lagi atas diriku. Lebih baik kau pergi sekarang dan temui kekasihmu itu. Daripada kau disini mengurusi kehidupan mantan kekasihmu yang sudah seperti sampah ini!” emosinya meledak juga. Entahlah, gadis itu menjadi sangat sensitif semenjak dirinya dicampakkan oleh pria yang ada dihadapannya ini. Ahya berdiri dari duduknya, dan berjalan lagi.

“Baiklah, aku mengerti itu privacy-mu. Tapi setidaknya aku hanya ingin melindungimu, apa itu salah?”

“Aku tak perlu perlindunganmu! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Terima kasih atas kebaikanmu” Ahya kembali menghirup oksigen sebanyak mungkin dan menghentikan langkahnya. Sebelum tangisnya pecah karna tak bisa lagi mengontrol emosinya.

“Baiklah, sebenarnya aku hanya sekedar memastikannya” ucap Donghae, lalu terdengar jika lelaki itu melangkah mendekat kearahnya.

“Lusa aku akan dikirim ke California. Aku hanya sekedar memberitahumu. Mungkin ini pertemuan terakhir kita sebelum aku berangkat ke California” Donghae menghentikan perkataannya sejenak.

“Kurasa meninggalkanmu disini sekarang menjadi hal mudah bagiku, karna kau sudah begitu membenciku. Jadi, aku bisa dengan tenang meninggalkan Korea tanpa beban sedikitpun” Ahya terpaku ditempatnya, gadis itu tak bisa berkata-kata.
==oOo==

Pintu ruangan khusus mencuci piring itu tertarik kedalam sedikit. Setelah dengan perlahan, Cho Kyuhyun membuka kunci pintu itu dengan perlahan, takut menimbulkan suara karna takut-takut juga kedua orang yang tengah duduk tenang dibangku itu mendengar kegiatannya.

Kini dengan tenang, Cho Kyuhyun, Oh Sehun dan juga Han Soyul tengah memasang telinga dan juga mata dengan sangat baik. Mereka tak ingin melewatkan momen itu sedikitpun.

“Sayang sekali, kenapa mereka harus putus? Padahal mereka begitu serasi” Han Soyul membuka komentarnya lebih dulu saat samar-samar mendengar perdebatan mereka berdua.

“Iya, aku pikir mereka akan segera menikah. Tapi nyatanya?” kini gantian, Oh Sehun yang membuka suaranya.

“Aku juga berharap begitu! Tapi takdir berkata lain” balas Cho Kyuhyun, masih dengan pandangan lurus menatap kedua objek itu. Kemudian, mereka kembali terdiam. Mereka kembali ‘menguping’ dengan baik.

Awalnya, tak ada suara diantara mereka bertiga. Tetapi, saat Lee Donghae memenjarakan tubuh Ahya dibangku dan mencoba menciumnya, mereka bertiga menjadi sedikit berisik.

“Omo! Donghae Oppa! Dia nekat sekali” Soyul membalikkan tubuhnya, lalu menyenderkan tubuhnya pada salah satu sisi didekat pintu itu.

“Ya! Ya! Donghae Hyung, sedikit lagi”

“Ayo Donghae Hyung!!”

Soyul menatap risih pada kedua pria disampingnya itu. Jantungnya berdegub kacau. Pikirannya jauh melayang, takut-takut kedua pria itu mendekatinya dan memaksanya untuk menciumnya.

“Aaaakh! Kenapa tidak jadi?”

“Yah, gagal deh dapet tontonan gratis”

Cho Kyuhyun dan juga Oh Sehun berdecak kecewa saat tau Lee Donghae menjauhkan tubuhnya disaat-saat yang paling mendebarkan itu. Han Soyul semakin bertingkah gelisah, gadis itu memukul-mukul kepalanya yang terus saja berpikiran yang tidak-tidak pada kedua temannya itu.

“Hei! Han Soyul! Kau kenapa?” tanya Cho Kyuhyun yang lebih dulu menyadari sikap aneh temannya itu. Lalu, Sehun pun ikut mengalihkan pandangannya pada satu-satunya gadis yang tengah bersama mereka itu.

“Haa? Apa? Ti—tidak”

“Lalu, kenapa kau memukul kepalamu seperti itu?”

“Ah, itu. Eum itu, kepalaku pusing sekali hehe”

 

==oOo==
“Kenapa kau diam saja?” ucap Donghae lagi sembari memandangi punggung Ahya yang ada dihadapannya ini. Dulu, punggung itu selalu bersandar padanya. Tapi kini? Rasanya mustahil untuk kembali menjadi sandarannya.

“Lalu, kau ingin aku seperti apa? Tertawa? Atau bahkan melarangmu untuk pergi?” jawabnya dengan suara berat, dan tanpa membalikkan tubuhnya.

“Ya setidaknya, apa kau tak ingin mengatakan selamat tinggal padaku?” punggung itu sedikit terangkat, Donghae tau jika Ahya sedang menghirup oksigen dengan rakus. Dan pria itupun juga sudah hapal betul, jika sebenarnya gadis itu tengah menahan tangis dan amarahnya sedari tadi. Dan Donghae juga sudah sangat tau, jika sebenarnya gadis ini tidak sedang baik-baik saja.

Inilah yang sedari tadi Donghae tunggu. Jika Ahya mengatakan selamat tinggal padanya, maka pria itu akan benar-benar pergi ke California. Dan jika sebaliknya, jika gadis ini meneteskan airmatanya satu titik saja dihadapannya, Donghae akan mengambil keputusan yang lain.
“Selamat tinggal, Donghae-ssi. Semoga perjalananmu menyenangkan”

Perlahan, rasa perih menyakitkan itu mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Terutama jantungnya, baiklah pria ini sudah mendapatkan jawabannya. Donghae akan pergi meninggalkan Korea.

Donghae sedikit tersenyum, karna menurutnya hanya dengan sebuah senyuman dirinya bisa menutupi rasa sakit yang dirasakannya.

“Terima kasih” ucap Donghae sebelum akhirnya, pria ini memilih untuk berjalan dan pergi meninggalkan gadis ini. Kenangan masa lalunya.

“Donghae-ssi” seperti sebuah aba-aba, kedua kaki pria itu kembali berhenti saat mendengar suara bidadarinya.

“Apa?” Donghae membalikkan tubuhnya, dan kembali memandang gadis ini. Tak ada sahutan dari Ahya Kim, mereka masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya tangan mungil gadis itu merambat kearah lehernya. Donghae menyipitkan kedua matanya dan terus mengikuti pergerakan tangan gadis itu yang kini sudah berada dibelakang lehernya.

Ahya Kim membuka ujung kalung yang sedang digunakannya. Dan akhirnya, kalung berliontin ‘DnA’ itu kini terlepas. Kalung yang diberikan Donghae tempo hari untuknya, kini rasanya sudah tak ada artinya lagi bersamaan dengan kandasnya hubungan mereka.

Ahya menggenggam erat-erat kalung tersebut. Sebenarnya gadis itu tak ingin sekali saja membuka kalung itu,apalagi sampai harus mengembalikannya, ia tidak pernah ingin! Tapi sialnya, keadaan yang harus membuatnya seperti ini. Karna jika kalung itu masih bersama dirinya, maka bisa dipastikan semua kenangan mereka akan terus menjadi bayang-bayang hidupnya. Tapi, jika melepas kalung itu.. sebenarnya bayang-bayang Donghae akan terus ikut bersama dirinya, selagi gadis itu belum mampu menghapus rasa cintanya.

Ahya bergerak maju, dengan perlahan tangannya menarik telapak tangan Donghae, memaksanya agar menerima kembali kalung miliknya.

“ini” ujarnya sembari melepaskan kalung itu kedalam genggaman Lee Donghae.

“Kenapa?”

“Kurasa, sudah tak ada artinya lagi. Bagiku, maupun bagimu. Jadi, lebih baik aku kembalikan” Donghae dan Ahya kembali terdiam dengan tatapan yang dalam. ‘Kenapa kau melepasnya?’ dan ‘Kenapa aku bisa melepasnya?’

“Terima kasih sudah menjaganya selama ini” jawab Donghae dengan nada dinginnya, membuat sesuatu didalam hati Ahya seakan ditusuk-tusuk oleh ribuan samurai. Sakit sekali. Dan pria itu kembali memutar tubuhnya setelah memasukkan kalung itu kedalam saku jasnya, lalu berjalan meninggalkannya.

Donghae terus berjalan walau sebenarnya begitu berat. Tangannya memutar kenop pintu, tak perlu dengan tenaga karna pintu tersebut sudah tidak terkunci.

Donghae menghentikan langkahnya dengan spontan saat membuka pintu tersebut. Tatapan menyelidik begitu kentara diwajahnya saat melihat Cho Kyuhyun, Oh Sehun dan juga Han Soyul tengah berdiri tepat didepan pintu dengan raut wajah berpura-pura tidak tau.

“Oh, Hai hyung” sapa Sehun.

Tak mau mempermasalahkannya, Donghae pun melanjutkan langkahnya. Pria itu berjalan pergi meninggalkan ketiga penguping setia itu.
Ahya menatap lurus kearah depan, memandang pintu yang terbuka dan meratapi jejak-jejak kepergian Donghae. Lidahnya kelu, matanya kembali memanas, dan hatinya sakit.

“Mianhae. Ka—kajima ah” desisnya, meski terlambat sudah.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar panjang. Dengan lemas, Ahya merogoh saku hoodie-nya. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Ahya langsung saja menerima panggilan tersebut.

“Yeobseo”

“Yeobseo, nak”

“Eomma..” Ahya tersenyum senang saat mendengar suara wanita yang begitu dirindukannya, yang sudah melahirkannya, dan juga yang sudah membuatnya menderita karna ulah serakahnya. Ahya melirik layar ponselnya sebentar. ‘Jail’ nama itu yang tertera dilayar ponselnya sekarang. Yah, orang tuanya itu biasanya menghubunginya menggunakan nomer yang sama. Milik penjara tempat mereka ditahan.

“Ada apa Eomma?”

“Besok, sidang pembacaan dan juga keputusan vonis Eomma dan Appa. Kau bisa datangkan?” seperti ada petir yang menyambar tubuhnya saat mendengar kata ‘sidang’ ditelinganya. Airmatanya tak dapat lagi ditahan, hari ini sungguh membuatnya menangis. Bahkan rasanya kakinya sudah tak kuat lagi berdiri.

“Ten—tentu” jawabnya sembari menahan isakkan dikerongkongannya agar tak terdengar oleh ibunya itu. Ahya membekap mulutnya kuat-kuat.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa dipengadilan nak. Kami merindukanmu”

“N—ne”

Setelah panggilan terputus, tangannya seakan lemas tak bertenaga. Bahkan handphone-nya itu jatuh dan mendarat sempurna ditanah. Kedua orang tuanya, dan juga Lee Donghae.. mereka semua yang membuatnya hancur seperti sekarang ini. Andai Ahya bisa memilih, mungkin gadis ini memilih agar tak dipertemukan oleh Lee Donghae yang sudah merusak hatinya. Dan juga ia akan memilih agar orang tuanya bukanlah seorang politikus yang tersandung kedalam kasus korupsi.
“Noona, kau baik-baik saja?” suara lembut Kyuhyun terdengar dihadapannya dan tak membuat gadis itu menghentikan tangisannya, tapi justru membuatnya semakin keras menangis.

“Noona..” panggil Kyuhyun lagi.

“Kau kenapa? Bisa ceritakan padaku?” suaranya kembali terdengar, Ahya pun mendongakkan kepalanya. Lalu menatap Kyuhyun yang sudah berjongkok dihadapannya agar tubuh mereka sejajar.

“Cho..” Ahya menarik leher Kyuhyun dan menghambur kedalam pelukannya. Tangisannya semakin menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Entah pada siapa lagi gadis itu harus mencari sandaran, tapi yang jelas mungkin Kyuhyun bisa menjadi sandarannya untuk sementara.

Dulu, jika ia seperti ini. Menangis karna mendengar kedua orang tuanya yang akan menjalani sidang, Ahya pasti selalu menangis dan menyandarkan bahunya pada pria-nya, Lee Donghae. Tapi kini keadaannya berbeda, tak ada lagi pria-nya, tak ada lagi sandarannya, dan tak ada lagi Lee Donghae. Dia akan pergi jauh keluar negri, bersama kisah barunya.

“Besok—orang tuaku, menjalani sidang keputusan vonis” ucapnya sudah payah. Kyuhyun mengeratkan rengkuhan tangannya, dan satu tangannya mengusap punggung Noona-nya itu.

“Kau harus sabar Noona, doa kan yang terbaik untuk orang tuamu”
==oOo==
Lagi, Angin kembali menemani harinya. Bahkan kedatangannya begitu terasa saat dimalam hari seperti ini, begitu menusuk tulang. Pria itu, Lee Donghae sedang bersender pada balkon Apartement-nya dengan tangannya yang memegang erat sebuah kalung ‘kenangan’ mereka. Kepalanya menatap keatas, matanya bergerak-gerak hendak mencari benda yang biasanya setiap malam selalu muncul mengitari bulan. Yah, malam ini bintang tak ada yang muncul satupun, padahal pria itu berharap jika dirinya akan melihat Polarise malam ini.

Hah? Polarise? Omong kosong! Mana ada bintang jatuh disaat seperti ini? mungkin itu hanya ada dalam cerita fiksi atau dongeng dan sejenisnya. Pikirnya, karna selama ini Donghae tak pernah melihat bintang jatuh dengan mata kepalanya sendiri.

“Huhhh” Donghae kembali menghela nafasnya, entah ini sudah yang keberapa kalinya. Tapi yang jelas, sudah begitu sering. Tiba-tiba pikirannya kembali melayang pada kejadian siang tadi, saat dirinya bertemu kembali dengan cintanya. Ahya Kim. Donghae kembali menatap kalung itu lekat-lekat, lalu beberapa saat kemudian kalung itu dibuangnya keatas meja kecil yang ada dihadapannya.

“Selamat tinggal, Donghae-ssi. Semoga perjalananmu menyenangkan”

“Tsk!”

Pria itu mengutuk dirinya sendiri yang masih terus saja terngiang-ngiang kata-kata bodoh itu.

“Kau pikir, aku bisa hidup berjauhan darimu? Dasar bodoh! Mustahil” ujarnya sembari mengomel kearah kalung tersebut.

Donghae menghempaskan tubuhnya pada sofa kecil yang ada disekitar balkon apartementnya itu, lalu membuka cola yang sudah sedari tadi dianggurkannya. Beginilah gaya hidup Lee Donghae. Jika kebanyakan orang akan melarikan dirinya pada minuman beralkohol tinggi disaat stress, ataupun memburu pub terdekat untuk meringankan bebannya, maka hal itu tidak berlaku pada kehidupannya. Lee Donghae begitu mengutuk minuman beralkohol atau rokok dan sejenisnya yang dapat membuatnya jatuh sakit dan tak dapat tertolong. Pria itu belajar dari pengalaman hidup Ayahnya, dan berjanji tidak akan pernah menyentuh barang-barang konyol tersebut.

Ponselnya berdering, Donghae meliriknya sejenak. Ternyata sebuah pesan masuk, dari Cho Kyuhyun.


From : Kyuhyun
Hyung, kau benar akan pergi dari Korea?

Donghae menatap kosong layar ponselnya, tanpa berniat akan membalas pesan tersebut. Donghae terdiam, dirinya sendiri pun bingung akan sungguh-sungguh pergi atau tidak. Karna, keputusan sebelumnya yang sudah dibuatnya berdasarkan kata-kata yang keluar dari bibir Ahya, masih belum bisa meyakinkan dirinya agar benar-benar pergi.

Merasa tak mendapat jawaban, Cho Kyuhyun kembali mengiriminya pesan dan kini membuatnya cukup terkejut dan berniat membatalkan kepergiannya.


From : Kyuhyun
Besok, Orang tua Ahya Noona menjalani sidang keputusan vonis hakim. Kuharap kau bisa datang dan menenangkannya seperti dulu.

Donghae tak bisa tinggal diam, jika sudah menyangkut soal sidang ia tau betul seperti apa keadaan gadisnya saat ini. Ahya pasti akan merelakan pikirannya hanya untuk memikirkan kedua orangtuanya, dan mengabaikan dirinya sendiri. Tanpa berpikir lebih lama, Donghae memencet spead dial number 1 yang langsung terhubung pada nomer ponsel gadisnya.

‘Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan silahkan hubungi beberapa saat lagi’

Sial! Donghae, tak bisa berkutik. Tak mungkin dirinya datang menyambangi kediaman gadis itu, mengingat waktu yang tak memungkinkan. Sekarang sudah pukul 12 tengah malam, jika dirinya datang kerumah sewa Ahya, pasti orang-orang sekitar akan berpikiran yang macam-macam, belum lagi jika Ahya tak membukakannya pintu.

Ah sudah! Mungkin gadis itu sekarang tengah tertidur pulas, lebih baik aku tidur agar besok bisa menghadiri sidang tersebut.
==oOo==
Donghae memakirkan mobilnya dipelataran gedung Pengadilan Seoul, dengan cepat Donghae melangkah. Karna sidang sudah dimulai dari setengah jam yang lalu. Sebelumnya, Donghae harus menyelesaikan beberapa dokumennya yang benar-benar tak bisa ditinggalkannya. Dan akhirnya setengah jam kemudian, Donghae baru bisa sampai ditempat ini.

Kakinya terhenti didepan pintu ruang sidang, begitu banyak wartawan disini yang tengah menyiarkan sidang ini secara langsung. Donghae mencari-cari keberadaan gadisnya, dan ternyata kini gadis itu tengah duduk dengan punggung yang gemetar karna tangisannya. Dan disebelahnya ada pria yang sangat ingin dipukulnya. Choi Minho ada disana, disamping gadisnya. Tangannya mengepal kuat, tadinya Donghae ingin berjalan maju dan duduk ditempat khusus keluarga yang disediakan. Tetapi pria ini mengurungkan niatnya saat melihat Minho disana.

“Hyung, kau datang?” suara Kyuhyun membuatnya menoleh dengan refleks.

“Tentu, tapi nyatanya aku terlambat. Sudah ada seseorang disana” balasnya sembari melirik kearah Minho. Kyuhyun tersenyum mencibir.

“Choi Minho. Untuk apa dia datang? Aku sendiri bingung”

“Entahlah”

Mereka memilih berdiri dengan tenang dibelakang pada wartawan yang sedang meliput dan mendengarkan dengan seksama putusan-putusan hakim yang sedang dibacakan.
“Kim Ji Hoo dan juga Song Yun Ah, beserta jajaran yang terlibat dinyatakan bersalah dengan segala bukti yang ada. Dan, pengadilan memutuskan mereka dijatuhkan vonis 15 tahun penjara dengan denda sebesar-besarnya 5 Milyar Won dan bisa digantikan dengan kurungan 3 bulan penjara”

Donghae dan juga Kyuhyun saling bertatapan dengan wajah syoknya, lalu mata mereka dengan cepat mencari dimana keberadaan Ahya Kim. Dan ternyata gadis itu sudah terkulai lemas dipelukan Choi Minho.

“Ahya..”

 
TBC..

Add/Follow Author Yuks..
FB : Ah Ya Kim
Twitter : @Me_Cahyaa
Gomawo^^

 

2 thoughts on “Still U | Part 3 (Squel – My Little Story)

  1. waduh makin sedih sama seru aja nih😀 dan akhirnya aku sukses mengeluarkan air mata pas bnget donghae ke ahya bilang kalo di mau pergi huuwwaa T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s