Unperfect | Part 4

 

IU20130507_iu

Title : Unperfect

Cast : IU

Xiumin (EXO)

Sehun (EXO)

Hyorin (Sistar)

 

Genre : Dramatic, Love story.

Episodes : 4/5

Setelah membayar makanan, kami langsung meninggalkan Restoran itu karena kami sudah terlanjur malu akibat kejadian itu. Kami masuk ke mobil Sehun.

Aku masih tak dapat menahan air mataku dalam mobil tersebut. Kami semua hanya bungkam seribu bahasa didalam. Bahkan, perjalanan yang hanya 15 menit seperti 1 jam berada dalam kondisi itu. Kami pun sampai di tempat yang kupikir itu sebuah Kafe.

Kami bertiga turun dengan perasaan yang saling bercampur aduk. Kami memilih tempat yang kurasa sangat jauh dari keramaian.

“Hyo, kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau tidak berani bilang? Itu berarti kamu yang tidak jujur.” Sehun seperti tak dapat mempercayai kejadian tadi. “Aku lakukan ini karena aku tak mau kehilangan kamu seperti Kai oppa. Aku tak mau ini terjadi lagi.” Hyo menangis usai mengaku seperti itu. “Maafkan aku Hyo. Aku tak bermaksud.” Aku pun tak dapat menahan air mataku. “Apa yang kau mau IU? Menghancurkan hidupku? Menghilangkan cintaku? Merebut orang yang kusayang lagi? Apa kau belum puas?” “Sudah Hyo! Kalau kamu memang mencintaiku, lepaskan aku.

Aku menyukai IU murni karena aku sayang. Aku tak mau berpaling dari dia karena kasihan padamu. Kau tak mau kan aku seperti itu?” Sehun coba menjelaskan pada Hyo. “Oppa. Aku mohon, aku ingin kau dengan Hyo bersama. Jangan hiraukan aku, aku akan membuatmu susah, bukan bahagia.” “Apa? Kau tahu aku mencintaimu, lebih dari segalanya.” “Itu yang kutakut. Jika kau mencintaiku lebih dari segalanya, aku takut kau akan lupa diri jika aku telah tiada.

Aku juga mau kau bahagia.” Kami hanya terdiam setelah minum yang kami pesan datang. Dan aku masih tak henti-hentinya menangis karena sudah melukai orang-orang yang kusayang. Keesokan harinya, aku berangkat bersama supirku. Sebenarnya aku berangkat dengan Sehun, tapi, dia mendadak memiliki urusan yang penting dan aku juga tak mau mengganggunya. Aku sampai juga setelah tak biasanya hampir sejam di perjalanan. Baru aku akan masuk, Xiu memanggilku. “IU!” “Xiu. Maafkan aku ya soal kemarin.” “Aku tak memikirkan itu lagi. Ayo!” Dia akhirnya mengantarkan aku sampai kelas dan tempat dudukku.

“Kau masih belum yakin terhadapku?” Xiu langsung menanyaiku tentang perasaanku. “Aku masih belum bisa menjawabnya. Aku tahu kau pasti akan menunggunya.” “Tenang saja. Aku terima semua jawabanmu. Aku sudah siap kapan pun itu.” “Apa kamu tidak mengambil keputusan yang salah menungguku?” “Aku sudah mempersiapkan mentalku untuk menunggumu.” Setelah itu, kami hanya bercanda-canda seperti dulu sebelum dia mengatakan isi hatinya.

Hingga kami pun tak sadar sedang berpegangan tangan saat sedang mengobrol itu. Aku juga bingung, kenapa aku membalas pegangan tangannya. Tapi, aku tak keberatan karena itu menunjukkan ada seseorang yang menemaniku. Aku mulai merasakan kalau aku tak mau kehilangan Xiu. Aku pikir aku juga menyukainya. Tapi, aku tak mau ada yang terluka lagi. Kami menghabiskan waktu bersama-sama hari itu.

Aku sangat nyaman bersamanya bahkan aku hingga pulang agak larut malam karena terlalu asik dengannya. Xiu mengantarkanku hingga sampai ke kamarku. “Terima kasih ya Xiu atas hari ini. Maaf kau jadi tak ke tempat kerja pamanmu.” “Tidak apa-apa. Aku yang harusnya berterima kasih. Aku bisa bersamamu hari ini. Aku berharap ini bukan akhir dari kebersamaan kita.” “Terima kasih.” “Aku pulang dulu ya.” Dia pamit padaku dengan memberikanku selimut.

Dan tak kukira, dia mencium keningku saat akan pergi. Selama ini, tak pernah ada yang bisa mencium keningku selain orangtuaku sendiri. Dia pun tak terdengar lagi nafasnya malam ini hingga aku terlelap dalam mimpiku. Pagi ini hari libur aku sekolah, jadi aku memutuskan untuk bangun agak siang.

Saat aku menuju meja makan, seorang menyapaku. Namun, aku tak biasa dengar suaranya saat pagi ini. Ternyata, Sehun sengaja datang pagi untuk membuatkanku sarapan. “Pagi putri IU.” Sapanya dengan sangat lembut. “Eh, ini Sehun oppa? Ada apa kau disini? Ini jam berapa?” “Baru jam 8. Ayo kita sarapan.” “Sarapan? Jangan-jangan.” “Iya, aku yang membuatkan ini semua. Silahkan duduk.” Dia memegang tanganku dan menuntunku duduk.

“Aku membuatkan banyak makanan untukmu. Mulai dari jam 9 sampai jam 3 ada sup kacang merah, sushi, kimchi, takoyaki, onigiri, dan susu. Silahkan tuan putri.” “Hehe, apa ini? Banyak sekali. Apa aku akan kuat memakannya? Hehe. Terima kasih ya.” Kami sarapan bersama. Sambil bercanda-canda, kami menceritakan kenangan-kenangan masa lalu. Tak terasa dia berada di rumah sudah 3 jam lebih dia ada di Rumahku.

Aku merasakan tak mau ada yang hilang lagi dalam hidupku ini. Tinggal 1 minggu lagi Sehun akan berada di Seoul, tepatnya disampingku. Namun, aku masih belum bisa menjawab perasaannya. Aku tak tahu kenapa aku seperti ini. Aku merasa bahagia dekat dengan Sehun dan Xiumin.

Aku juga nyaman bersama mereka. Dalam lamunanku ini, tiba-tiba seorang datang dihadapanku dan ternyata Hyorin yang datang saat ini. “Lama tak jumpa IU.” Kalimat awal Hyo yang membuatku sedikit takut. “Hyo? Ini kau? Ada apa?” Aku gemetar karena takut dia akan melukaiku lagi. “Aku sedang berfikir kalau memang kamu juga suka padanya. Jadi, aku akan mengatakan padamu. Aku akan ikut dia ke New York.

Jadi, kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu.” “Kau ikut Sehun oppa?” “Ya. Aku yakin kau terkejut karena hatimu yang dulu tidak berubah. Dan aku mohon padamu.

Jangan dekati dia lagi. Atau aku akan buatmu menyesal.” Dia pergi meninggalkanku dengan memberikan ancaman yang pasti membuatku resah. Aku tak tahu kapan dia datang dan aku takut dia melakukan hal buruk pada Sehun. Saat kupikirkan hal-hal yang buruk, tiba-tiba teleponku berdering. “Sehun oppa calling.” “Halo, ada apa oppa?” “Aku ingin mengajakmu pergi. Kau ikut kan?” “Maafkan aku oppa. Ada yang harus aku kerjakan hari ini. Maaf.” “Benarkah? Padahal tinggal 1 minggu lagi aku di Korea.

Apa benar kau tidak bisa?” Aku juga berfikir begitu. Aku ingin dekat dengannya hingga minggu ini berakhir. Namun, aku tahu kalau ada yang benar-benar mencintaimu.

“IU? Kamu masih disitu?” “Eh, iya. Maaf aku tadi diam.” “Jadi. Kamu benar-benar tidak bisa berangkat?” “Aku pikir aku bisa oppa.” “Benarkah? Itu bagus. Kamu ada dimana?” “Aku ada di kafe.” “Aku akan menjemputmu.” Tak lama setelah meneleponku, dia datang dengan mobil yang kuhafal suaranya. Kudengar suara klaksonnya yang membuatku tahu dimana posisinya. Aku berjalan mendekati suara itu dan dia pun menyapa penuh ramah. “IU.

Aku rindu padamu. Ayo kita pergi.” “Sebelumnya, bisa aku mengatakan sesuatu?” “Ada apa IU?” “Aku sudah bisa menjawab hatimu sekarang.” “Benarkah? Jadi, apa jawabanmu?” “Aku ingin kamu bisa bahagia dengan Hyo.

Dia wanita yang baik, dia mencintaimu, pintar, dan kau juga bilang kalau dia cinta pertamamu. Jadi, maafkan aku yang tak bisa bersamamu.” “Jadi, kamu tidak ikut aku ke New York?” “Aku sudah menemukan orang-orang yang sayang padaku disini.

Mereka menyayangiku seperti aku menyayangi mereka. Dan aku tak mau ini menjadi perpisahan yang menyedihkan dengan mereka jika ikut denganmu. Maafkan aku.” “Aku mengerti. Aku akan menerima semua itu. Jadi, apakah kamu bisa menemaniku saat ini?” “Aku pikir aku akan kembali saja ke Rumah.

Terima kasih atas segalanya.” Saat aku melangkah pergi, aku merasa sudah melepas sebuah duri yang tertancap dihatiku. Aku melangkah menuju halte bus dekat café itu. Saat aku berjalan, entah kenapa aku berjalan lebih condong ke arah jalan raya. Kudengar suara klakson yang sangat kencang dari belakangku dengan cepat.

Aku tak tahu harus kemana, hingga akhirnya kudengar suara “AWAS!” dan melemparku kesebelah kiriku hingga terdengar suara benturan disampingku. “Siapa itu?” Aku berusaha memanggil malaikat yang menolongku.

Terbesit kata-kata yang sama. (Flashback) “Hei mata panda!” “Sabar ya IU. Aku yakin, dia mendapatkan tempat yang terbaik. Dia pasti sedang tersenyum melihatmu.” “IU!” “Hmm, gak apa-apa. Kau lapar?” “Eh, ada apa? Kenapa kau menangis?” “Buka mulutmu!” “Kamu bisa membaca braile kan?” “Ayo! Aku baru saja memiliki motor ini.” “Aku mencintaimu dan aku tak mau kehilanganmu.” Kata-kata itu terlintas jelas dibenakku.

Aku ingat, aku tahu suara malaikat itu. Suara itu sama dengan yang kudengar dulu. Aku menangis sejadi-jadinya saat ku tahu itu Xiumin dia menyelamatkanku tepat sebelum aku tertabrak.

Orang-orang disekitar pun menyelamatkan Xiu dengan memanggil ambulance. Tak lama, ambulance datang dan aku langsung ikut masuk ke ambulance tersebut. Aku tak henti-hentinya menangis dan memegang tangan Xiu erat-erat. Sampai di Rumah Sakit, aku hanya bisa menunggu di depan ruang perawatan.

Akhirnya, dokter keluar dan mempersilahkanku masuk. “Eh, IU. Kamu tidak apa-apa kan?” Sapanya dengan lembut, walau ku tahu dia sedang kesakitan. “Maafkan aku.

Ini semua karena aku. Maafkan aku.” Air mataku pun mengalir juga saat ku bicara. “Kamu tak perlu minta maaf. Bisa kamu kemari sebentar? Maju dua langkah dan kesamping tiga langkah juga.

Aku mengikuti kata-katanya. Aku rasa aku harus melakukan sesuatu untuk Xiu. “Xiu.” “Iya. Ada apa?” “Aku juga menyukaimu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s