Green Lily… | Oneshoot

 

Bang_Yong_Guk_actor

Green Lily…

by. Kim Ha Ki aka Ervina Khk

Starring:

– Bang Yong Guk

– Jo Young Min

~

gatau kenapa aku jadi suka nulis kisah yang begini, kali ini oneshoot dan bro-ship dengan kisah yang lebih sederhana. maaf untuk Kwangmin, aku pinjem abangmu bentar yak^^

oke, semua isi cerita keseluruhan milik saya, semua cast milik mereka sendiri, orang tua dan Tuhan. kalo ada kesamaan cerita sama yang lain, tolong diliat tanggal terbitnya. jangan bash saya, jangan judge saya, dan jangan CURI karya saya… inget dosa! ^^

kali ini aku gak denger lagu apapun pas ngetik, jadi baca dalam suasana tenang pun gak masalah, hehe…

~

tok… tok… tok…

suara menyebalkan itu lagi, suara bertempo yang membuat iramanya sendiri. aku tidak mengerti mengapa dia begitu suka lewat depan kamar tidurku setiap pagi-pagi seperti sekarang. kuraih tas sekolahku kasar lalu berjalan menuju pintu dan membukanya kasar.

“hyung, kau sudah bangun?”

seseorang yang menjadi composer dari suara-suara aneh tadi tersenyum menatapku dari depan pintu kamarku. seolah dia bisa melihatku, tak kujawab. untuk apa, hanya akan merusak hariku saja. aku hanya berjalan melewatinya, menuju meja makan. seperti biasa, semua makanan sudah siap dengan sangat rapi di atas meja.

“hari ini kau lebih pagi, ada keperluan di sekolah?”

“eum…”

wanita yang sudah sangat lama bekerja di rumahku. entahlah, aku tak mengerti sejak kapan karena dia sudah disini bahkan sebelum aku lahir. dia tetap sibuk menuangkan susu hangat ke gelas milikku dan ke gelas satu lagi dihadapanku, jadi aku menjawabnya juga dengan sibuk. kuraih selembar roti tawar dan mulai mengolesi cream kacang diatasnya.

“bisa kau siapkan untuk yang satunya juga? kau hafal rumusnya kan?” dia meneriakkannya sambil berjalan ke dapur, terlalu sibuk hingga sangat lama berada disana.

lagi? selalu ada hal merusak mood yang harus kulakuan, ini selalu terjadi setiap hari. dengan malas kuraih selembar roti yang lain lalu mengolesinya dengan cream nanas, meraih yang lainnya lagi lalu mengolesinya dengan cream melon, kemudian mulai menyatukannya. meletakkannya di piring kosong yang sejak tadi sudah setia menemani gelas berisi susu hangat itu.

tok… tok… tok…

suara itu mulai terdengar lagi, semakin dekat. kuharap dia tak menyentuh kursiku lagi seperti hari-hari sebelumnya. tapi aku salah, dia menyentuhnya juga. lalu mulai menelusurkan jari-jarinya keatas meja hingga akhirnya menemukan kursinya lalu duduk disana.

“pagi manis, Yongguk sudah menyiapkan sarapanmu,” wanita itu berjalan keluar dari dapur dengan dua kotak bekal makan siang ditangannya.

“terima kasih…” dia tersenyum, namun aku hanya mendengus kesal.

seperti inilah suasana pagiku. selalu sama setiap harinya, bahkan untuk hari libur sekalipun. menyebalkan. ini jadi sangat menyebalkan karena aku harus melihatnya berada disini, setiap hari. baik, akan kuceritakan. aku Yongguk, Bang Yongguk. siswa kelas tiga SMA, Gwanghae High School, sekolah khusus pria. awalnya anak tunggal sebelum ibuku menikah lagi dengan pria yang mempunyai seorang putera. ya, seluruh hidupku berubah total sejak kedatangannya. Jo Youngmin, lebih muda setahun dariku jadi mereka selalu memaksaku memanggilnya adik.

kau pasti mengira aku membencinya karena pernikahan ibuku? kau salah. aku tak membencinya, hanya saja seandainya dia tak ada dihadapanku setiap harinya pasti kurasa akan lebih baik. keberadaannya selalu membuatku teringat pada ibuku. terjadi kecelakaan yang harus merenggut nyawanya 3 tahun yang lalu. mereka pergi bertiga, namun ketika ayahnya dan ibuku meninggal, hanya dia sendirian yang selamat dari kecelakaan itu. hasilnya? dia buta, permanen. dokter berkata tak ada kerusakan apapun di retina matanya, namun justru kerusakan terjadi pada syaraf penglihatannya, jadi ini tak seperti ketika dia bisa dioperasi pencangkokan retina seperti yang biasa terjadi pada pasien biasanya. dia tak perlu menunggu pendonor, namun dia bisa jadi pendonor karena sebenarnya matanya masih bisa berfungsi sangat baik jika berada pada tubuh orang lain.

kami hanya tinggal berdua di rumah sebesar ini, tentu saja dengan beberapa pelayan, supir, dan penjaga. sesekali akan ada kunjungan dari keluarga yang lain, namun lebih sering seperti ini. itulah sebabnya aku akan lebih sering menghabiskan hariku di perpustakaan setelah pulang sekolah. namun sebelumnya, setiap paginya aku harus melalui hal-hal seperti ini. itu menyebalkan. jika saja aku bisa pindah ke asrama, namun semua melarangku karenanya. menyebalkan. sangat menyebalkan. kau bahkan bisa menemukan banyak kata menyebalkan dalam kisahku, karena seperti itulah yang kurasakan.

 

“aku selesai…”

secepatnya aku beranjak dari tempat dudukku. sebenarnya tak ada keperluan apapun di sekolah yang membuatku harus berangkat lebih pagi, namun kau pasti sudah bisa menebaknya. aku tak ingin berangkat satu mobil dengannya ke sekolah. ayolah, supir selalu akan mengantarnya lebih dulu ke sekolah khusus sebelum akhirnya berputar sangat jauh menuju sekolahku. jadi aku menghindarinya. jika lebih pagi, aku akan naik bis dan tak perlu melihatnya satu mobil denganku.

“hati-hati, jangan lupa bekalmu…” wanita itu berteriak lagi, itu membuatku meraih kotak bekalku.

kotak yang warna biru. bukan karena aku suka biru, namun kotak yang hijau adalah miliknya. tentu saja dia tak bisa melihat warnanya, jadi sebenarnya tidak ada yang salah jika aku mengambil asal ataupun tertukar. tapi isinya berbeda. isi bekal miliknya sama persis seperti sarapannya, atau bahkan hanya berisi beberapa jenis buah. aku bisa kelaparan jika hanya memakan itu setelah seharian di sekolah.

tak ada hal istimewa yang terjadi di sekolah sehingga membuatku selalu rajin mendatanginya setiap hari, aku bahkan mendapat penghargaan siswa yang tak pernah absen seharipun selain memang hari libur, hanya kukira di sekolah jauh lebih baik daripada aku harus melihatnya di rumah. sebelumnya, sebelum kecelakaan itu terjadi. aku bahkan harus satu sekolah dengannya, bukan hanya melihatnya di rumah tapi juga akan melihatnya di sekolah. namun rasanya tidak semenyebalkan ini, hanya sedikit risih ketika mereka sudah mulai membanding-bandingkan kami. ya, dia siswa yang pintar. sehingga sekarang hal yang mudah baginya untuk mahir menggunakan huruf-huruf yang membuat kepalaku pusing saat melihatnya itu. jauh lebih pintar dariku sehingga semua orang lebih menyukainya. terkadang dia sudah seperti password untuk membuka ponselku, harus kuingat jika aku ingin menggunakannya.

sepanjang perjalanan berjejer flower shop yang memajang berbagai bunga-bunga segar, indah sebenarnya namun sejak 3 tahun yang lalu bunga-bunga itu jadi tampak begitu menyebalkan dimataku. apa lagi alasannya jika bukan karenanya. setiap pulang sekolah untuk setiap harinya, setangkai bunga lily hijau pasti sudah menyapa di kamarku. aku tak pernah mengerti mengapa dia selalu melakukannya, tapi itu sangat merepotkan. aku sebenarnya bingung, darimana dia mendapatkan bunga-bunga itu? pernah sekali kudatangi semua penjual bunga yang ada di daerah sekitar rumahku, sekitar sekolahku, juga sekitar sekolahnya, namun tak satupun tempat yang menjual bunga lily hijau. dulu ibuku memang sangat menyukai bunga lily, namun aku tak pernah melihatnya memajang bunga lily hijau.

aku bolos!

ya, hanya untuk hari ini. rasanya aku enggan pergi ke sekolah juga enggan berada di rumah, jadi aku akan menghabiskan hariku di perpustakaan umum untuk hari ini. aku bahkan punya kartu member berkat terlalu sering datang, hanya perpustakaan lah satu-satunya tempat yang bisa melindungiku darinya. tak ada yang menanyakannya disini, dan sudah pasti tak mungkin juga baginya untuk datang kesini dan membaca kan?

aku masih memilah-milah beberapa buku di rak, sebenarnya aku juga tak terlalu suka membaca tapi jadi sangat menyukainya karena sering datang kesini. kutarik salah satu dari mereka namun tak sengaja menjatuhkan satu buku yang lain, karena sudah terlanjur membuat nyaris semua pandangan menatapku akibat suara jatuhan buku tadi, jadi kubawa saja sekalian keduanya. aku mengangkat sebelah alisku begitu melihat sampul dari buku yang kuambil. hanya warna sampulnya yang berbeda, namun dengan gambar yang sama persis seperti buku milik Youngmin yang biasa terlihat diatas meja makan dan selalu dibawanya kesana kemari. aku tak mengerti tulisannya karena menggunakan huruf yang tak kumengerti. tapi mengapa ada disini?

“itu huruf braille…” seseorang sedikit mengejutkanku. dia meletakkan beberapa buku di atas meja lalu duduk disebelahku.

“braille?”

“untuk mereka yang istimewa, kau ingin membacanya?”

“tidak, aku tidak mengerti…”

“kau bisa belajar,”

dia menuliskan beberapa titik-titik aneh kedalam secarik kertas lalu menandainya dengan abjad alfabet, memberikannya padaku dan tersenyum. aku hanya diam, mengamatinya lama. ini sedikit mirip dengan beberapa simpul pramuka yang pernah kupelajari, kukira tak begitu sulit untuk memahaminya.

“pejamkan matamu saat mulai mencoba membacanya, itu saran agar kepalamu tidak pusing,”

dia tersenyum lagi. sebenarnya aku malas, tapi rasa penasaranku akhirnya berhasil memaksaku untuk mulai belajar membacanya. ini lebih mudah dari yang kukira karena aku bisa melihat abjad alfabet yang dia tulis lalu hanya berusaha menyamakannya dengan tulisan yang kuraba di dalam buku. ah, ini novel. aku mulai membaca tiap-tiap baris dengan sangat hati-hati, hingga akhirnya jariku mulai terlatih melakukannya. perlu waktu yang jauh lebih lama untuk membaca buku itu daripada buku yang kubaca biasanya, kukira aku bisa menghabiskan hariku disini karenanya.

novel romans dengan bahasa yang sangat sederhana, terdiri dari banyak cerita pendek yang berbeda di dalamnya. aku membacanya satu persatu, hingga sedikit tersentak pada kisah kedua dalam urutan, judulnya Green Lily. kisah yang memilukan tentang seorang ibu yang sangat mencintai puterinya yang sakit parah. mereka hanya tinggal berdua di sebuah rumah mungil, karena tak ingin kehilangan puterinya dia melakukan apapun hingga akhirnya mulai menanam banyak bunga lily hijau di pekarangan rumahnya. puterinya tetap meninggal pada akhirnya, namun bunga lily yang ditanamnya tak pernah pupus ataupun layu. bagaimana mungkin bunga lily yang sangat rapuh dan bahkan tak akan bisa bertahan lebih dari 24 jam itu tak pernah layu? kisah yang konyol. aku tersenyum tipis, apa karena kisah ini aku harus direpotkan dengan setangkai lily hijau di kamarku setiap harinya?

“yang benar saja…” desahku pelan

“kau sudah sampai di kisah berapa?”

“kedua, ini konyol.”

“kenapa?”

“bagaimana bisa penulis membuat kisah seperti ini?” aku menutup buku itu lalu meraih buku yang lainnya.

“bukan tentang kisahnya, tapi tentang maknanya.”

“makna?”

“kita yang bisa melihat tidak akan mengerti bagaimana yang mereka rasakan, kau punya seseorang yang seistimewa itu disekitarmu?”

“iya, adikku.”

“terdengar begitu mengganggu, benarkan?”

“sedikit, kukira karena kisah lily itu dia jadi membuatku harus direpotkan dengan setangkai bunga lily setiap harinya.”

“kau bisa membayangkannya? saat kau tak bisa melihat apapun dan tak ada seorangpun disekitarmu? itulah yang dirasakannya. dia selalu berkata ingin melakukannya sendiri namun sebenarnya dia sangat ingin ditemani, bukan orang yang menatapnya iba tapi orang yang dengan tulus bersamanya. seperti penulis cerita itu.”

“penulis cerita?”

“mereka memberikan kisah-kisah yang mereka buat dengan tulus, seperti teman bagi orang-orang yang membacanya. mungkin kau sangat menutup dirimu, karena dia sangat mengerti bagaimana rasanya kesepian jadi dia menghadiahkan bunga-bunga itu padamu untuk menjadi temanmu. seperti saat dia merasa memiliki teman istimewanya, buku-buku itu.”

aku terdiam. memikirkan kembali apa yang diucapkannya. teman? ya, aku tidak memiliki satupun teman. mereka tak menjauhiku tapi akulah yang tidak terlalu peduli. aku bahkan tak mengingat nama pelayan yang selalu kulihat setiap hari di rumah, berapa banyak penjaga untuk rumah besar kami, berapa banyak jumlah teman sekelasku, siapa saja guru-guru yang mengajar di kelasku untuk setiap harinya. aku sendirian, mungkin sebenarnya aku kesepian. Jo Youngmin menyadari itu, kesendirianku. tak berusaha bersahabat denganku karena aku yang selalu menatapnya sebagai enemi yang harus kumusnahkan, tapi justru memberiku sahabat yang sangat istimewa dan tak bisa ditemukan di sembarang tempat.

entah rasa apa itu, aku tak kesal sekalipun aku mengerti jika dia sedang mengasihaniku. sebaliknya ada rasa sesak yang perlahan seolah menyumbat pernafasanku, seperti kabut awan tebal di langit yang mampu menyumbat sinar matahari untuk menggapai bumi. tiba-tiba saja aku ingin melihat wajahnya, disini. wajahnya yang selalu tersenyum padaku sekalipun aku menatapnya acuh, tetap menyapaku sekalipun kuingat aku bahkan tak pernah berbicara dengannya sejak pertama kali dia datang bersama ayahnya 6 tahun yang lalu ke rumahku. kami hanya berdua, seperti sang ibu dan puterinya dalam kisah cerita itu. jika aku benar-benar kehilangannya apa yang akan terjadi? aku akan benar-benar sendirian, tak memiliki siapapun lagi bahkan hanya untuk kutatap dengan tatapan menjengkelkan setiap harinya. ya, aku menyadarinya. hal yang kuingat dari saat aku bangun tidur hingga aku tidur lagi hanyalah tentangnya, sekalipun itu ingatan yang menyebalkan namun harus kuakui itu satu-satunya ingatan yang aku miliki tentang seseorang yang berada disekitarku. kenyataannya, dia satu-satunya orang yang aku ingat selama ini. jika aku kehilangannya, akankah aku seperti sang ibu yang kehilangan puterinya? karena aku akan punya sahabat istimewa. lily hijau, yang akan mengingatkanku tentangnya.

aku berdiri, menatap seseorang yang tersenyum disampingku sejenak lalu beranjak meninggalkannya. kukira jika itu benar-benar terjadi, aku tak akan bisa hidup lagi. aku ingin melihatnya, Jo Youngmin. sekarang. disaat-saat seperti ini harusnya dia masih berada disekolahnya kan? mungkin ini akan jadi pertama kalinya aku mengunjungi sekolahnya itu dengan sengaja.

kutatap pekarangan sekolah sederhana itu dari luar, sangat jauh jika dibandingkan dengan luasnya sekolah yang biasa kudatangi setiap harinya. tak ada kebisingan disana sini karena para siswa yang berlarian kesana kemari seperti yang juga biasa kulihat di sekolahku, sangat tenang. kulangkahkan kakiku memasuki gerbang, pintu kelas perlahan mulai terbuka. lalu mulai keluar dari sana beberapa siswa, tak berisik sama sekali seperti yang biasa terjadi di kelasku begitu bel tanda pelajaran selesai mulai berbunyi. mereka melangkah seolah dengan menghitung tiap-tiap langkahnya. hanya suara-suara yang biasanya begitu menjengkelkan bagiku yang terdengar, namun tak cukup berisik jika dibandingkan dengan suara gaduh di depan gerbang sekolahku jika semua siswa mulai berbondong meninggalkan sekolah.

satu yang begitu spesial dari mereka mulai terlihat, dia cukup mudah dikenali karena tubuhnya yang tinggi. siswa disini tak seragam, entah itu dari segi jenis kelamin ataupun usia. bahkan kukira Youngmin jadi yang termuda dari mereka semua. sengaja tak kusapa. bukan karena aku enggan seperti biasa, tapi karena kukira aku terlalu gengsi jika harus terang-terangan mengatakan aku merindukannya dan rela datang langsung ke sekolahnya. dengan terlatih dia mulai berjalan kearah rak sepatu lalu meraba tulisan yang ada ditiap rak dan mengambil sepatu miliknya kemudian mulai memasangnya. saat yang lain sibuk menunggu jemputan atau bahkan memang sejak dari awal tidak ditinggalkan oleh pendampingnya, Youngmin justru berjalan kearah yang lain dan menjemput penjaganya. namanya Yong, anjing jenis Golden Retriever berumur 5 tahun. pamanku, adik dari ibuku yang menghadiahkannya padanya setahun silam. nama Yong sebenarnya diambil dari namaku, pamanku menggodaku dengan melakukannya. setiap dia dipanggil Yong maka akan menjawab ‘guk!’. bodoh, semua anjing pasti melakukan itu kan.

tak menunggu supir yang biasa menjemputnya, Youngmin justru mengikuti arah kemana Yong akan membawanya. aku tetap disini, berjarak sekitar 2 meter dibelakangnya. mengawasinya dengan tetap tak berani menyapanya. mungkin aku terlihat seperti orang bodoh sekarang, atau terlihat seperti pencopet yang sedang mengawasi calon mangsanya, terserahlah yang penting dia tidak melihatku. melihatnya jauh dari sini membuatku begitu iri pada Yong, bagaimana bisa anjing itu melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan? ah, aku bahkan tak bisa menjaga diriku sendiri.

cuaca hari ini sangat dingin, sesekali kujinjitkan bahuku karenanya. kami sudah berjalan sejauh ini, sebenarnya anak ini akan pergi kemana? dia hanya terus berjalan hingga akhirnya Yong menuntunnya untuk berhenti di depan persimpangan. menunggu sampai lampu merah menyala sehingga bisa menyebrang, bisakah dia melakukannya? mereka masih menunggu hingga Yong berlari tiba-tiba yang tidak sengaja membuat tali digenggaman Youngmin terlepas, anjing itu berlari entah mengejar apa. meninggalkan Youngmin yang nyaris terjatuh karena terkejut tadi. dia berhasil mengelak dan tak terjatuh, namun sekarang justru berada di tengah jalan raya. sebuah mobil dengan cepat datang kearahnya, apa yang harus kulakukan? menarik tubuhnya? tidak, tidak bisa. dia akan tahu jika aku melakukannya, jadi satu-satunya cara adalah…

tttiiiiiiinnnnn~!!!

teriakan klakson mobil itu sangat nyaring menggelegar di telingaku, kupejamkan mataku dan pasrah apapun yang akan terjadi nanti. tebak apa yang kulakukan? aku menghadang laju mobil dengan merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, menghalanginya dari Youngmin yang sekarang justru berada dibelakangku dan sedang kebingungan karena baru saja kehilangan Yong dari tangannya. berhasil, mobil itu berhenti tepat di depan mataku.

“kau gila! ingin mati!” sang pengemudi menatapku marah.

“jwisonghamnida…” Youngmin yang berada dibelakangku justru membungkukkan tubuhnya, mungkin dia mengira jika pengemudi mobil sedang memarahinya. akupun melakukannya, mulai menundukkan kepalaku beberapa kali pada pengemudi itu. akhirnya dia pergi, melajukan mobilnya kembali tetap dengan marah. tapi siapa peduli, yang penting aku berhasil menyelamatkan Youngmin bahkan membantunya menyebrang dengan tanpa ketahuan olehnya.

kutatap lagi Youngmin lama, apa yang akan dia lakukan sekarang jika tanpa ada Yong disampingnya? sekitar beberapa menit berlalu, namun Yong tak kunjung datang. akhirnya dikeluarkannya ponselnya, mungkin ingin menghubungi supir pribadi yang biasa mengantar dan menjemputnya. namun diurungkannya niatnya, dimasukkannya lagi ponselnya dari tas dan mulai mengeluarkan tongkatnya. satu lagi sahabat istimewa yang dia punya. selangkah, dua langkah, tiga langkah, hingga…

ting!

ujung tongkat berhasil menyentuh tiang lampu jalan. Youngmin tersenyum, seolah berhasil menemukan air di padang pasir. lalu mulai melangkah lagi, hingga lagi-lagi ujung tongkatnya menyentuh tiang lampu jalan yang berikutnya, terus melakukannya hingga.

bruk!

kakinya menabrak sebuah pot besar yang berada disamping tiang lampu dan terjatuh karenanya. rasanya ingin sekali kubantu dia berdiri, tapi aku tetap tak punya keberanian untuk itu.

“akh… bukan? ini tiang ke 15, berarti tiang pertama tadi adalah tiang kedua…” gumamnya pelan. itu membuatku kembali menolehkan kepalaku kearah tiang pertama, berada sedikit dekat dengan persimpangan tadi. aku tidak menghitung jika semuanya ada 15 tiang. dia bahkan mengingat jika ada pot besar disebelah tiang ke 15. kukira itu juga alasan mengapa dia selalu melewati depan kamarku setiap pagi dan menyentuh kursiku sebelum akhirnya menemukan kursinya di meja makan setiap harinya.

udara semakin dingin. berjalan sejauh ini, apa dia tidak lelah? sebenarnya mau kemana dia? setelah menggosok kakinya pelan dia kembali berdiri dan memulai langkahnya lagi, sayup terdengar suaranya menghitung langkah kakinya hingga berhenti dihitungan ke 42 kemudian menghadap kearah kiri lalu sedikit berjalan dan mulai menyapa seseorang yang sebenarnya tak mampu terlihat olehku karena terhalang rimbunan bunga taman. perlahan kudekati mereka dan mulai tertegun menatap seorang gadis kecil penjual bunga disana. duduk bersimpuh menunggu sebuah keranjang berisi penuh sebuket bunga lily hijau. seperti Youngmin, dia buta. terlihat Yong yang bahkan sudah duduk berada disebelah gadis itu, dasar bodoh. mengapa kau melakukannya tadi? kau nyaris membuat sahabatmu tertabrak!

“annyeong… Yong sudah disini lagi? apa dia merepotkanmu?” Youngmin menjongkokkan tubuhnya yang akhirnya membuat Yong berjalan menghampirinya. lagi? berarti ini bukan pertama kalinya Yong melakukannya? awas kau!

“eum, dia sudah disini sejak tadi…” gadis itu mengangguk. hei, Youngmin tak melihat itu.

“masih banyak,” Youngmin menyentuh tiap pucuk bunga di dalam keranjang.

“kau ingin melakukannya lagi hari ini?”

“tentu saja. jika setiap hari bungamu habis terjual maka uang yang kau kumpulkan akan semakin banyak, lalu kau tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk melihat,”

“dan satu yang terakhir, untukmu? mengapa hanya satu? kau bisa mengambil sebanyak yang kau suka…”

“karena aku hanya memiliki satu orang yang istimewa…”

aku mengingatnya, Youngmin pernah menyinggung tentang itu. dia pernah meminta ijin untuk membantu seorang gadis, mendonorkan retinanya agar gadis itu bisa melihat lagi. dia kah orangnya? jadi setiap pulang sekolah dia akan pergi kesini dan membantu gadis itu menjual semua bunganya? menyisakan satu yang terakhir, untukku… orang yang sangat istimewa baginya? diraihnya keranjang bunga itu lalu mulai menghitungnya. berdiri dan dengan pelan kembali meraih tali yang menempel pada Yong, membiarkan anjing itu menuntunnya lagi. apa sudah selama itu? dia melakukannya. sudah 3 tahun jika kuhitung sejak pertama kali bunga-bunga itu ada di kamarku. akhirnya bulir itu terjatuh. meluncur hebat tanpa mampu kutahan. aku sudah tak peduli lagi dengan gengsi ataupun harga diri, perlahan kudekati dia dan mulai memanggilnya pelan…

“Youngmin-ah,” hebat, ini pertama kalinya aku memanggil namanya. dia menghentikan langkahnya, sedikit bingung jikalau pendengarannya mulai bermasalah.

“hyung?” dia menoleh, berusaha mendengar lagi kalau-kalau aku akan memanggilnya lagi.

“apa yang kau lakukan disini? apa tidak dingin?” kubuka syal yang sejak tadi melingkar dileherku dan mulai memasangkannya padanya.

“hyung…” dia masih tertegun, tak percaya jika aku benar-benar berada dihadapannya sekarang.

tak berani berkata lebih banyak, pendengarannya sangat baik. jika aku melakukannya maka dia akan tahu jika aku sedang menangis sekarang. kudekatkan tubuhku padanya lalu mulai memeluknya perlahan. boleh kukatakan? aku tak ingin kehilangannya. aku bahkan tak berencana untuk melepaskan pelukanku dengan cepat. setelah hampir satu menit, akhirnya dia membalas pelukanku.

“biar aku yang melakukannya,” kuraih keranjang bunga ditangannya lalu menarik tangannya dan membiarkannya duduk di kursi taman.

“tapi,”

“aku akan melakukannya lebih baik dari yang kau lakukan…” mulai kuikat seluruh batang bunga itu lalu mengembalikan keranjangnya pada gadis tadi beserta beberapa lembar uang didalamnya. kembali kuraih tangannya lalu memberikan seikat bunga itu padanya.

“ini,”

“untukmu, mengapa hanya memberikan satu jika dia memang sangat istimewa?”

dia tersenyum. diraupnya seikat bunga itu dalam dekapannya. sekarang dia terlihat sangat manis, seperti pangeran yang siap menyerahkan seikat bunga pada sang puteri pujaan hatinya. tanpa kusadari aku ikut tersenyum. mulai sekarang aku akan menebus semuanya, semua waktu yang selama ini terbuang begitu saja dengan tanpa menatapnya. aku bisa menggantikan pak supir yang mengantar dan menjemputnya ke sekolah setiap harinya. aku juga bisa menemaninya, seperti yang dilakukan oleh Yong setiap harinya. bahkan kurasa mulai sekarang aku bisa melakukan semua hal untuknya. bukankah itu memang tugasku? bukankah itu juga alasan mengapa orangtua kami membiarkannya lebih lama disisiku? agar dia bisa menemaniku dan aku bisa menjaganya, adikku…

“kau benar-benar ingin melakukannya? operasi itu?”

“bolehkah?”

“bukankah hanya operasi kecil? mengapa tidak?”

“aku akan melakukannya,”

“dia orangnya?”

“eum,”

“cantik, dia benar-benar akan sangat bahagia karenanya. kau tak mengatakan yang sebenarnya kan?”

“tentu saja, dia bahkan tidak menyadari jika aku juga tidak bisa melihat…”

“siapa bilang kau tidak bisa? kau juga bisa, mulai sekarang…”

“hmm?”

“akan kuberikan penglihatanku untukmu, kau bisa menggunakannya kapanpun…”

“hehe.. tapi, hyung?”

“eum?”

“kau bolos?”

“engh?!”

The End…

3 thoughts on “Green Lily… | Oneshoot

  1. Bagus ceritanya,, tapi agak bingung yg mana ucapan youngmin dan yg mana ucapan yongguk ,, ada lgi gak ff yg castnya youngmin atau kwangmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s