“A Minute with You Seems Like An Eternity”

yongshin

 

-Title                      :“A Minute with You Seems Like An Eternity”(dedicated for Shinhye’s Birthday)

-Author                                : Gita (find me on twitter @by_gita)

-Main Cast          : CNBLUE Jung Yonghwa, Park Shinhye

-Support Cast    : Seohyun, Han Taekyung (OC), Tn. Jung (Yonghwa’s father), Tn. Park, Ny. Park

(Shinhye’s parents)

-Rating                  : PG 17

-Genre                 : Love, Romance, Marriage Life, Sad

-Length                                : Oneshoot

-Disclaimer          : The plot and the story is mine. If there were some different characterisctis, be wise

please cause it’s just a fiction. The casts are belong to themselves. NO BASH, NO

PLAGIARISM, just enjoy this stroy!!^^Saengil chukkae Shinhye eonni^^ wish u

always live happily, be more beautiful, be more succeesful and being Yonghwa’s

wifesoon :pHappy Reading, be a critical readers^^

__oOo__

Suasana pagi yang cerah di musim semi ini memang mebuat siapapun bersemangat menjalani aktivitas sehari-harinya. Cuaca yang amat sangat nyaman untuk siapa saja yang menyukai musim semi. Akan sangat menyenangkan untuk melakukan aktivitas diluar rumah dengan cuaca yang secerah hari ini. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk seorang yeoja cantik yang masih bermanja-manja diatas kasurnya yang teramat sangat nyaman dan dibawah selimutnya yang benar-benar hangat dan membuatnya enggan untuk bergerak meninggalkan keadaan nyaman ini. Sinar mentari pagi masuk kedalam kamar yeoja yang sedang bermalas-malasan ini melalui celah-celah jendela kamar mewah miliknya. Tubuh mungilnya merasakan kerlingan cahaya nakal yang masuk melalui jendela kamarnya tersebut. Cahaya matahari pagi ini terus menggelitiknya dan membuat yeoja ini terpaksa harus bangun dari tidur nyamannya. Ia menyibakkan selimut hangat yang membalut seluruh tubuhnya dengan sedikit kasar kemudian berjalan keluar kamar dengan mata yang masih tertutup dan nampak sulit sekali baginya untuk membuka matanya yang terasa berat walau hanya sedikit saja. Dia berjalan menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan yang memang tak seberapa jauh dari tangga yang ia turuni dengan mata yang masih terkantuk-kantuk. Walaupun ia berjalan dengan mata yang sulit dibuka, tentu saja ia tidak menabrak peralatan yang ada dirumah mewahnya karena ia sudah hapal betul letak semua barang-barang tersebut, ditambah lagi dia sudah melakukan kegiatan bermalas-malasan seperti ini setiap hari.

Yeoja manis tersebut menghempaskan tubuh mungilnya di kursi ruang makan keluarga Park. Disana sudah ada Tn. dan  Ny. Park yang tengah menunggu putri tunggalnya, Park Shinhye untuk duduk dan sarapan bersama mereka di ruangan yang cukup besar dan memiliki peralatan yang serba antik dan mahal tersebut. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putri tunggalnya yang masih seperti anak kecil nan manja di usianya yang akan beranjak 24 tahun itu. Suasana hening menyelimuti kebersamaan keluarga kecil ini, hanya terdengar decakan kecil dari Tn. Park yang memang mulai sedikit risih dengan sikap manja putrinya. Tiba-tiba suara kharismatik dan berwibawa khas pimpinan perusahaan besar milik Tn. Park memecah keheningan yang terjadi sepanjang itu.

Chagi, sekarang kau sudah dewasa. Lihat, usiamu sebentar lagi 24. Sudah saatnya kau menikah. Appa akan menikahkanmu dengan putra dari sahabat lama appa” ujar Tn. Park dengan nada yang penuh perhatian. Ya, walaupun beliau orang yang sangat tegas, tapi itu tak membuat beliau mampu belaku keras pada putri kesayangannya tersebut.

“Hmm…” jawab Shinhye seadanya dengan mata yang masih terpejam dan mulut yang sedang mengunyah roti sandwich yang dibuatkan ahjuma tadi.

“Kau akan menikah minggu depan. Appa dan eomma akan mengurus semuanya,” jelas Tn. Park.

“Hmm..” jawab Shinhye asal karena ia merasa saat itu ia masih tertidur dan bermimpi bahwa appanya menyuruhnya untuk menikah. Sebentar, menikah? Apa? MENIKAH?! MENIKAH DIA BILANG?!!

Shinhye terperanjat kaget dan sontak membuka kedua mata indahnya yang semula sangat sulit untuk terbuka. Ia langsung melotot dan menatap heran kedua orangtuanya.

Mm-mwo?” ucapnya tergagap.

“Iya chagi, kau akan appa nikahkan dengan anak dari sahabat lama appa,” ujar ayah Shinhye senang.

Mwo? Menikah? Andwae!! Aku pasti sedang bermimpi.” Shinhye menampar-nampar pipi mulusnya dengan kedua telapak tangannnya.

Aniyo chagi, kau tidak sedang bermimpi. Eomma dan appa sudah mempertimbangkan semuanya. Kau akan segera menikah dengan Yonghwa,” ujar Ny. Park lembut.

Andwae eomma, aku belum bilang aku setuju bukan? Kenapa kalian tidak menanyakan terlebih dahulu padaku? Aku belum ingin menikah. Lagipula aku baru 23 tahun.” Ujar Shinhye dengan suara yang mulai melemah.

“Kami tidak menerima penolakkan. Kami sudah memikirkannya dengan matang. Ini sudah saatnya kau menikah, chagiya. Kau harus merubah sikapmu. Kau sudah bukan anak kecil lagi dan kami yakin dengan menikah, kau akan menjadi lebih dewasa. Tolong mengertilah..” lirih Tn. Park yang berusaha meyakinkan Shinhye.

“Tapi appa, aku…” Ucapan Shinhye terhenti ketika Tn. Park memotong ucapannya.

“Sudahlah, sekuat apapun kau berusaha menghentikan kami, kami tidak akan pernah menghentikannya. Yonghwa adalah anak yang baik. Percayalah, dia tidak akan mengecewakanmu. Kami akan menyiapkan pernikahanmu dan tentunya kau juga harus menyiapkan dirimu karena minggu depan adalah hari pernikahanmu” ujar Tn. Park yang kali ini benar-benar tidak menginginkan jawaban lagi dari mulut Shinhye.

Shinhye tertunduk sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan semua ini. Ia hanya bisa menatap eommanya dengan tatapan memelas berharap sang ibu bisa membantunya membujuk sang ayah agar menghentikan semua ini. Eomma Shinhye hanya bisa menatap putrinya sedih karena ia tahu kalau ia tidak akan pernah bisa menghentikan suaminya. Ia tahu betul kalau Tn. Park tidak akan pernah mengubah keputusannya sekalipun ia dan Shinhye merengek memintanya untuk mengubah keputusannya. Ia sangat mengenal watak Tn. Park yang sangat memegang prinsip dan tidak akan pernah goyah hanya karena rengekan kecilnya karena ia sudah menikah dengan pria itu selama kurang lebih 25 tahun. Ny. Park kemudian memeluk Shinhye dan meyakinkannya kalau Yonghwa adalah pria yang baik dan bisa membuatnya bahagia.

“Lanjutkanlah sarapanmu, lalu mandilah. Eomma akan mengajakmu ke salon langganan eomma untuk perawatan tubuhmu agar kau menjadi pengantin paling cantik dihari pernikahanmu nanti” ujar Ny. Park lembut.

__oOo__

#Shinhye’s POV#

Aku menghempaskan tubuhku di sofa putih yang berukuran cukup panjang di kamarku dengan kasar. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku mengacak rambutku yang memang sudah berantakan karena belum sempat merapihkannya setelah bangun tidur tadi. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan appa. Kenapa dia dengan sangat mudah ingin menikahkan anaknya dengan anak sahabat lamanya. Dia pikir dia yang akan menikah eoh? Runtukku dalam hati. Kenapa dia seenaknya membuat persetujuan tanpa menanyakannya dulu padaku? Bahkan bertemu dengan pria itu pun aku tidak pernah. Bagaimana bisa dia tiba-tiba menjadi suamiku? Siapa tadi namanya? Yong.. yong.. Ahmolla, aku tak peduli. Memikirkan namanya saja aku sudah pusing apalagi menjadi istrinya. Aish jinjja!! Ini benar-benar tidak masuk akal. Shinhye yang masih menggerutu kesal akhirnya masuk ke kamar mandi didalam kamarnya dan membersihkan diri untuk segera ikut dengan eommanya ke salon seperti yang sudah dijelaskan eommanya tadi, walaupun dengan perasaan yang amat sangat terpaksa.

#Shinhye’s POV End#

__oOo__

Di tempat lain, terlihat seorang namja yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya. Ia sedang memeriksa berkas-berkas tersebut dengan sangat serius sehingga tidak menyadari keberadaan sang ayah yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Sang ayah kemudian berjalan menuju anaknya yang memang masih belum menyadari kedatangannya.

“Ehm..” Sang ayah berdehem kecil agar membuat anaknya sadar dengan kedatanggannya.

Yonghwa kemudian mengangkat kepalanya dan beranjak dari kursi empuknya. Ia berjalan menuju sang ayah dan menundukkan kepalanya tanda hormat.

Ahboji, kau sudah lama disini? Maafkan aku karena aku tidak menyadari kedatangan ahboji” ujar Yonghwa sopan. Walaupun ia adalah anak pemilik perusahaan ini tapi ia tidak pernah berlaku sombong. Ia memang adalah anak yang sangat santun dan selalu menganggap ayahnya sebagai atasannya ketika di kantor, bukan sebagai ayahnya. Ia tidak pernah sekalipun berlaku manja kepada ayahnya dan tidak pernah menggunakan kekuasaan ayahnya untuk bebas melakukan apapun. Walaupun sekarang ia bekerja pada ayahnya, tetapi ia tetap seorang pria yang mandiri. Sekarang ia juga sedang mengepalai sebuah perusahaan cabang dari perusahaan ayahnya namun perusahaan ini benar-benar ia dirikan sendiri dengan ketangkasan dan job skillnya yang luar biasa di usianya yang terhitung masih muda untuk seorang pemilik perusahaan besar.

Nde, gwaenchana. Apa kau sedang sibuk?” tanya sang ayah.

Aniyo, hanya sedang memeriksa beberapa berkas saja” jawab Yonghwa sopan.

“Baguslah kalu begitu. Ahboji ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadamu. Sekarang usiamu sudah 24 tahun dan kaupun sudah mapan. Bukankah sudah saatnya kau menikah? Karena itu, Ahboji berncana untuk menikahkanmu dengan putri dari sahabat lama ahboji” jelas sang ayah.

“Ah, seperti itu. Baiklah kalau itu yang ahboji inginkan, aku akan melakukannya. Aku percaya pada pilihan ahboji” jawab Yonghwa sambil menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman hangat untuk sang ayah.

“Kau memang anak yang sangat penurut yong-ah. Ahboji sangat bangga padamu. Baiklah kalau begitu, kau akan menikah minggu depan. Ahboji akan mengurus semuanya, kau cukup siapkan dirimu saja, arasseo?” ujar Ahboji.

Nde, arasseo ahboji” jawab Yonghwa.

“Oh ya, ahboji hampir lupa. Ini foto gadis yang akan kau nikahi minggu depan, kukira kau perlu melihatnya walaupun hanya sekedar foto. Namanya Shinhye, Park Shinhye” ucap sang ayah sambil memberikan sebuah foto kepada Yonghwa.

Sang ayah kemudian meninggalkan Yonghwa yang kembali berkutat dengan berkas-berkas yang beberapa saat ia tinggalkan karena kedatangan sang ayah.

#Yonghwa’s POV#

Aku kembali berkutat dengan berkas-berkas yang sedang kuperiksa tadi sebelum ahboji datang. Aku berniat untuk tidak terlalu memikirkan tentang apa yang ahboji katakan tadi. Aku memilih untuk kembali ke pekerjaanku yang cukup memusingkan otak untuk sebagian orang. Tapi, itu tidak berlaku untukku. Aku sangat senang dengan apa yang aku lakukan. Ini sudah seperti menonton film yang aku sukai sambil memakan beberapa makanan ringan. Bukan berniat menyombongkan diri, tapi semuanya sangat aku sukai sehingga aku bisa membandingkan keduanya dengan mudah. Aku berusaha kembali fokus dengan berkas-berkas dihadapanku tapi kurasa ini menjadi sedikit sulit. Satu detik, dua detik, tiga detik ….. Kenapa aku benar-benar tidak bisa fokus dengan hal yang seharusnya sangat mudah untukku? Aku sedikit melirik kearah foto yang tadi ahboji berikan padaku. Perlahan tanganku bergerak mengambil foto yang tadi aku simpan sembarangan di mejaku.Aku menatapnya perlahan dengan seksama. Cantik. Gumamku dalam hati. Wajahnya begitu berseri, menyiratkan bahwa yeoja itu adalah yeoja yang periang. Matanya sangan indah, mata yang begitu jernih dan membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasakan kenyamanan yang luar biasa. Tatapannya sangat teduh. Hidungnya tidak terlalu mancung tetapi sangat terlihat pas dengan proporsi wajah bulatnya. Alisnya tidak terlalu tipis, juga tidak terlalu tebal mencirikan orang korea pada umumnya. Seketika jantung Yonghwa berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya seolah ia benar-benar ingin memiliki yeoja itu sepenuhnya. Entah mengapa ketika melihat yeoja itu sekilas dalam fotonya, Yonghwa merasa kalau yeoja itu adalah jodohnya. “Park Shinhye, I’m Fallen for you!” Ucap Yonghwa pelan.

#Yonghwa’s POV End#

Satu minggu kemudian . . .

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Ya, ini adalah hari pernikahan Yonghwa dan Shinhye. Hari dimana mereka mengikat janji sehidup semati satu sama lain. Orangtua Yonghwa dan Shinhye sudah menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang sangat indah untuk mereka berdua. Walaupun waktu persiapan pernikahan ini terkesan mendadak tapi itu semua tidak membuat pesta pernikahan ini terlihat seperti pesta dadakan. Semua rencana telah disusun dengan rapi oleh para orangtua. Memang ini semua sangat melelahkan tetapi para orangtua tidak pernah mengeluhkan hal tersebut. Mereka melakukan segalanya untuk putra dan putri mereka dengan penuh suka cita.

Shinhye yang dibalut gaun putih nan elegan tampil sangat cantik hari itu. Usaha eommanya membuat Shinhye menjadi pengantin yang paling cantik memang benar-benar berhasil. Shinhye terlihat seperti putri raja tercantik dan tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Wajah putih mulusnya semakin terlihat sangat mempesona dengan polesan make up minimalis profesional. Kombinasi yang pas antara kemewahan gaun pengantin, make up minimalis dan wajah cantik alami Shinhye yang begitu terpadu sempurna membuat setiap pria yang melihatnya akan menyesali takdir mereka karena tidak berada di posisi Yonghwa sekarang. Semua tamu yang hadir berdecak kagum atas keberuntungan sang mempelai pria atas takdir luar biasanya karena ia dapat mempersunting seorang putri cantik yang bahkan hanya ada beberapa stok saja di dunia.

#Shinhye’s POV#

Aku berjalan menuju altar pernikahan didampingi appa disampingku. Dengan perlahan appa menuntunku berjalan ke arah Yonghwa yang sudah menungguku di altar. Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku karena aku belum berani menatap paras calon suamiku.Appa dengan sabar menuntunku yang memang sangat gugup dan mungkin hampir tidak bisa berjalan saking gugupnya.

Setelah berjalan beberapa langkah, akhirnya langkah aku dan appa berhenti ketika kami sudah sampai tepat didepan Yonghwa, calon suamiku itu. Kemudian appa meraih tanganku yang sedari tadi menggandeng lengannya dengan gugup dan memberikannya kepada Yonghwa. Yonghwa pun menyambut tanganku dengan sangat sigap dan hati-hati. Seketika sekujur tubuhku mendadak menjadi semakin gemetar. Tuhan, kumohon jangan biarkan Yonghwa merasakan kegugupan yang benar-benar mngendalikan tubuhku sekarang. Dalam kegugupan yang masih melanda tubuhku, aku mendengar appa mengucapkan sesuatu pada Yonghwa.

“Yonghwa-ssi aku mempercayakan putriku padaku. Tolong jagalah dia, aku mempercayaimu.” Ujar Tn. Park penuh harap.

“Tentu saja ahbonimi, aku akan menjaganya dan mencintainya seumur hidupku” jawab Yonghwa mantap.

Aku yang masih belum bisa mengendalikan kegugupan di dalam tubuhku mendadak semakin kaget dengan ucapan Yonghwa. Dia bilang dia akan mencintaiku? Apakah itu benar? Bahkan kami belum pernah bertemu sebelumnya atau mungkin melakukan sebuah kencan buta. Bagaimana mungkin dia bisa mencintaiku? Beribu pertanyaan bernaung dipikiranku saat ini. Akupun belum berani mengangkat kepalaku untuk menatap wajah calon suamiku walau sekali. Tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar seorang namja mendarat di daguku. Tangan itu kemudian mengangkat daguku sehingga kepalaku terangkat dan sontak menatap wajahnya. Yah, sekarang aku mau tak mau melihat paras calon suamiku untuk pertama kalinya.

DEG

Tiba-tiba perasaan aneh muncul dipikiranku. Aku langsung merasa nyaman saat melihat wajah kharismatiknya yang sedang tersenyum ramah padaku. Matanya sangat indah. Hidungnya macung sempurna. Tatapannya begitu begitu tajam tapi tidak sedikitpun membuat takut siapa saja yang melihatnya. Bibirnya melengkungkan senyuman yang sangat indah. Benar-benar desain luar biasa dari Tuhan. Seketika aku benar-benar mengagumi parasnya yang sangat indah. Tapi, diluar semua itu ada hal lain yang membuatku semakin kagum pada sosok didepanku ini. Hal lain yang membuatku percaya bahwa dia adalah takdirku, dia adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku menjalani sisa hidupku. Entah kenapa aku merasa aku akan sangat bahagia ketika beradadi dekat namja ini.Apakah ini takdir? Kalau ya, bisakah aku menjalani takdir ini?Ani, dia adalah orang asing. Aku tidak boleh mempercayainya begitu saja.

Suara berwibawa sang pendeta pun menyadarkanku dan membuatku kembali ke alam sadarku yang sempat aku tinggalkan beberapa saat ketika memikirkan namja dihadapanku tadi. Pendeta pun menuntunku dan Yonghwa dalam mengucap janji suci sehidup semati.

SKIP

Riuh tepuk tangan dari para undangan begitu bergema setelah pendeta menyatakan kalau aku dan Yonghwa sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Pendeta pun mempersilahkan Yonghwa untuk menciumku didepan para tamu undangan. Para tamu semakin semarak meneriakkan kata ‘cium.. cium..’ Akupun mulai merasakan pipiku semakin memanas. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku berpura-pura untuk tidak mendengar teriakkan mereka dan mengabaikannya begitu saja? Ataukan aku pura-pura pingsan saja agar aku terbebas dari keadaan ini? Andwae!! Itu konyol sekali, bagaimana kalau mereka menertawaiku? Aku pasti akan sangat malu, pikirku dalam hati. Tapi tidak ada pilihan lain, aku benar-benar harus melakukannya. Ya, aku harus berpura-pura pingsan. Terserah apa reaksi mereka yang terpenting aku tidak berciuman dengan orang asing ini.

CHUP

Apa ini? Seketika tubuhku mengejang, detak jantungku bergerak tak tekendali dan pipiku memerah ketika bibir Yonghwa mendarat sempurna di bibirku. Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah tidak waras mencium wanita yang bahkan benar-benar asing untuknya? Aku yang masih terpaku hanya bisa merasakan sentuhan lembut bibir Yonghwa yang bergerak pelan diatas bibirku. Rencanaku untuk berpura-pura pingsan pun aku batalkan. Aku pikir aku tidak bisa menghindari situasi ini karena kini Yonghwa sudah menarik kembali bibirnya dan menjauhkan tubuhnya dariku. Sorak sorai tamu undangan semakin riuh ketika itu. Aku hanya bisa terpaku dengan pipi yang merona merutuki diriku sendiri yang sudah kehilangan ciuman pertamaku.

Esok harinya …

Aku menggeliatkan tubuhku yang super duper kelelahan karena pesta pernikahanku kemarin yang benar-benar menguras tenaga. Terasa sangat sulit untukku membuka mata karena memang aku masih ingin berdiam di tempat tidurku. Kasur memang merupakan salah satu tempat favoritku dirumah. Tunggu sebentar, ah aku baru ingat kalau ini bukan tempat tidurku yang dulu yang selalu aku rindukan ketika aku berada diluar rumah. Kini aku sudah tidak meninggali kamar lamaku. Sekarang aku menempati rumah baruku di Seoul yang merupakan hadiah pernikahan dari ayah Yonghwa.

Ketika aku hendak menutup mataku kembali berniat meneruskan tidurku, tiba-tiba aroma sedap masakan masuk menjalar kedalam hidungku. Aku menggerak-gerakkan hidungku memastikan aroma yang baru saja aku cium. Setelah memastikan bahwa ini bau masakan, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurku. Aku segera beranjak dari kasur dan melangkah menuju sumber aroma masakan yang benar-benar menggugah selera. Setelah berjalan beberapa langkah, aku menemukan tubuh tegap seorang namja yang sedang berdiri memunggungiku tepatnya menghadap ke masakan yang sedang ia buat. Aku berjalan menghampirinya.

“Yonghwa-ssi, apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku.

“Ah, kau sudah bangun? Aku sedang memasak sarapan untuk kita” jawab Yonghwa sambil tersenyum.

“Kenapa kau melakukannya? Memangnya ada yang menyuruhmu melakukannya?” tanyaku tajam.

“Mwo? Kau ini lucu sekali. Tentu saja tidak ada yang menyuruhku, aku melakukannya karena aku lapar. Memangnya kau tidak lapar?” jawab Yonghwa dengan suara yang sangat lembut.

“Tentu saja aku lapar tapi ini zaman serba instan. Kau tidak perlu repot-repot untuk membuat sarapan. Kau hanya perlu menelpon restoran cepat saji dan mereka akan mengantarnya kemari” ujar Shinhye sombong.

“Kau ini sepertinya belum tahu ya kalau aku tidak suka makanan cepat saji, jadi tentu saja aku memasak makananku sendiri. Nah, nanti kau juga harus belajar memasak nde. Aku suka wanita yang memasak. Cah selesai, ppalli mogo!” ujar Yonghwa sambil menarikku menuju meja makan kecil kami yang sudah tertata rapih makanan diatasnya.

Cih apa yang dia lakukan? Kenapa dia sok ramah seperti itu. Dia bilang dia menyukai wanita yang memasak dan aku harus menjadi wanita seperti itu.Jadi maksudnya aku harus menjadi wanita yang ia sukai? Kupikir tidak perlu ada perasaan saling menyukai untuk bisa menikah, toh buktinya aku dan dia pun sekarang sudah menikah tanpa saling menyukai terlebih dahulu, gumamku dalam hati.

#Shinhye’s POV End#

Keheningan menyelimuti suasana sarapan pagi perdana pasangan pengantin baru itu. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Pasangan baru ini sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Yonghwa memecah keheningan.

“Hmm …” jawab Shinhye singkat.

“Pantas saja kau tidak menyadari apa yang terjadi semalam” tanya Yonghwa dengan nada yang sedikit menggoda.

“A-apa maksudmu?” tanya Shinhye tergagap.

Aniyo. Lanjutkan saja makanmu” jawab Yonghwa singkat membuat Shinhye semakin penasaran.

“O, tentu saja aku akan melanjutkan makanku karena aku yakin semalam memang tidak terjadi apa-apa” ujar Shinhye percaya diri.

“Kau benar-benar tidak ingat yang terjadi semalam?” goda Yonghwa.

Yya!! Kenapa kau terus menggodaku? Aku benar-benar sadar dengan apa yang terjadi tadi malam dan memang tidak ada hal macam-macamyang terjadi” pekik Shinhye yang semakin membuat Yonghwa ingin terus menggoda istrinya itu.

“Kau yakin?” goda Yonghwa lagi.

Yya!!” Shinhye memukul bahu Yonghwa keras. Yonghwa hanya tersenyum geli melihat Shinhye yang menekuk wajahnya kesal. Ruapanya ia berhasil mengerjai Shinhye karena memang tadi malam benar-benar tidak terjadi apa-apa seperti apa yang diisyaratkan Yonghwa pada Shinhye. Yonghwa pun menyadari bahwa idenya ini bukan hanya membuat mereka lebih dekat tapi juga membuat komunikasi diantara mereka menjadi tidak kaku walaupun mereka tidak saling mengenal sebelumnya.

Setelah menghabiskan sarapannya, Shinhye beranjak dari kursinya dan berjalan meunju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Yonghwa yang masih berada di ruang makan akhirnya membereskan bekas sarapan mereka berdua dan menata kembali meja makan sehingga terlihat rapi seperti semula. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur yang seharusnya menjadi pekerjaan Shinhye, Yonghwa berjalan menuju ruang televisi yang cukup luas di rumah barunya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa putih berukuran panjang dan menyalakan LCD TV berukuran 71 inchi dihadapannya. Ia menekan tombol di remote sehingga muncul tayangan acara musik kesukaannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar bunyi seseorang menuruni tangga dengan terburu-buru. Yonghwa menengok kearah suara tersebut dan ia melihat sang istri sedang berjalan menuruni tangga dengan gerakan kaki yang agak cepat. Shinhye menggunakan dress berwarna biru langit selututdipadukan dengan sepatu kets putih dengan tali berwarna senada dengan bajunya dan tas warna kombinasi biru langit dan putih. Sesekali ia melirik jam tangan mungil berwarna putih yang melingkar di tangan kirinya. Shinhye terlihat seperti sedang buru-buru. Yonghwa yang sedari tadi memperhatikan tingkah istrinya itu pun segera menegurnya.

“Shinhye-ah, kau mau kemana?” Tanya Yonghwa.

“Aku akan keluar sebentar” jawab Shinhye singkat.

“Kemana? Mau aku temani? Tanya Yonghwa peduli.

Aniyo, tidak perlu. Aku akan pergi dengan Taekyung oppa” ujar Shinhye.

Yonghwa terdiam. Hatinya mencelos. Siapa itu Taekyung? Setahu dia Shinhye adalah anak tunggal, tidak mungkin ia memiliki seorang kakak, pikir Yonghwa. Dalam hati ingin sekali ia menanyakan siapa Taekyung kepada Shinhye tetapi lidahnya mendadak kaku seolah menahannya untuk tidak menanyakan hal itu kepada Shinhye. Yonghwa terus sibuk dengan pikirannya itu hingga suara Shinhye mengagetkannya.

“Aku pergi” pamit Shinhye.

“Ah, iya hati-hati. Jangan pulang terlambat!” Ujar Yonghwa setengah berteriak karena Shinhye berjalan begitu saja melewati Yonghwa yang bahkan belum menyelesaikan kata-katanya. Aish dasar anak manja, bahkan untuk menghargai suaminya saja dia tidak bisa. Aku dengan susah payah meminta cuti dari kantorku hanya untuk meluangkan waktu untuk bersamanya. Tapi apa ini? Dia malah dengan seenaknya pergi dengan pria lain. Ah menyebalkan sekali. Gerutu Yonghwa dalam hati. Tatapan Yonghwa kembali pada layar kaca besar dihadapannya. Ia kembali memfokuskan diri pada acara televisi yang sempat ditinggalkannya tadi. Ia berniat untuk tidak menyia-nyiakan waktu liburnya yang sangat sulit ia temukan seperti hari ini.

Beberapa saat kemudian Yonghwa beranjak dari sofa di ruang televisinya. Ia memutuskan untuk membaca beberapa buku di ruang baca yang terletak tidak jauh dari ruang televisi. Ia memilih beberapa buku tentang bisnis, manajemen dan leadership yang belum sempat ia baca sebelumnya. Ia sangat menikmati kagiatannya tersebut sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membaca buku-buku itu. Ketika ia sedang asyik membaca buku yang entah buku keberapa yang ia baca pada saat itu, ia mendengar bunyi bel rumahnya. Yonghwa segera menghentikan aktivitasnya. Ia mengira Shinhye yang datang sehingga ia buru-buru membukakan pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang melalui interkom rumahnya. Yonghwa membuka pintu dengan semangat karena ia berharap sosok Shinhye lah yang berada di hadapannya. Yonghwa sangat terkejut ketika mendapati sosok yang berbeda dengan yang ada di pikirannya yang datang. Ternyata Ny. Park, eomma Shinhye lah yang datang. Walaupun masih kaget tapi Yonghwasegera menarik pikirannya kembali kedalam raganya dan mempersilahkan mertuanya untuk masuk.

“Oh, Eommonim kau datang. Aku senang sekali mendapat kunjungan dari ibu mertuaku. Kalau begitu, silahkan masuk. Aku akan membuatkan minuman untukmu” ujar Yonghwa sopan.

“Ah, kau tidak perlu repot-repot Yong-ah. Eomma tidak akan lama disini. Berhubung kalian baru pindah dan belum sempat berbelanja jadi eomma membawa ini untuk kalian. Ini, ambillah!”

Ny. Park menyerahkan beberapa kotak berisi makanan yang sudah ia siapkan sejak pagi untuk anak dan menantunya itu.

Gamshahamnida eommonim” ujar Yonghwa ramah sembari mengambil beberapa kotak makanan yang diberikan Ny. Park.

“Yong-ah,eomma tidak melihat Shinhye, dimana dia?” Tanya Ny. Park.

“Emm Shinhye, dia sedang pergi eommonim” jawab Yonghwa ragu.

“Pergi kemana? Kenapa kau tidak bersamanya?” Selidik Ny. Park.

Aniyo eommonim, Shinhye bilang dia akan pergi dengan Taekyung” jawab Yonghwa serba salah.

Mwo? Dengan Taekyung katamu? Aish jinjja anak itu! Kenapa dia bisa-bisa pergi dengan orang lain disaat seharusnya dia menemani suaminya dan mengurusi rumah. Anak itu benar-benar belum dewasa!”

Ny. Park segera mengambil ponsel di dalam tasnya dan menekan beberapa tombol.

Yeobosseo

“……..”

Yya!! Hye-ah eoddiga?”

“……..”

Yya!! Kenapa kau pergi dan meninggalkan suamimu sendirian dirumaheoh? Cepatlah pulang! Kau adalah seorang istri sekarang, harusnya kau menemani suamimu yang sudah dengan susah payah mengambil cuti dari kantornya untuk bisa bersamamu seharian dan kau malah pergi keluar bersama orang lain. Ppalli Yonghwa menunggumu dirumah” ujar Ny. Park panjang lebar.Ny. Park kemudian menutup teleponnya sebelum mendengar rengekan Shinhye di sebrang sana.

“Tenanglah Yong-ah, kau tidak akan menghabiskan masa cutimu sendirian. Eomma sudah menyuruh Shinhye pulang. Tolong maafkan dia karena dia belum dewasa. Aku yakin kau bisa membuatnya menjadi dewasa, Yong-ah. Mungkin ini akan sedikit sulit tapi percayalah Shinhye adalah anak yang penurut, kau hanya perlu bersabar menghadapinya” ujar Ny. Park sambil tersenyum.

Nde, eommonim. Serahkan padaku, aku akan membuat Shinhye lebih dewasa seperti yang eommonim inginkan” ucap Yonghwa tulus.

Beberapa saat kemudian bel rumah YongShin pun kembali berbunyi. Yonghwa berjalan menuju pintu depan rumahnya dan membukakan pintu rumah. Seketika sosok Shinhye yang sedang ditunggu pun muncul dihadapannya. Yonghwa mengamati wajah Shinhye yang terus ditekuk. Kali ini Ia tidak berniat untuk menggoda istrinya karena Ia tahu kalau istrinya itu sedang dalam mood yang tidak cukup baik sekarang. Tanpa menunggu lebih lama, Yonghwa pun segera mempersilahkan Shinhye untuk masuk. Shinhye yang masih menekuk wajahnya kemudian melenggang lurus masuk kedalam rumah melewati Yonghwa yang berdiri disebelah pintu.

“Kau sudah datang?” Sapa Ny. Park kepada Shinhye yang sudah duduk disebelahnya. Shinhye tidak berniat untuk menyapa eommanya karena ia masih sedikit sebal kepada wanita yang telah melahirkannya ini. Shinhye sebal karena eommanya menyuruhnya untuk segera pulang sementara ia baru saja sampai di tempat yang telah ia dan Taekyung sepakati untuk bertemu. Mereka bahkan belum berbicara banyak tetapi eommanya sudah menyuruhnya pulang, lebih tepatnya memaksanya untuk pulang.

“Hye-ah, berhentilah menekuk wajahmu seperti itu. Kau jadi terlihat tidak cantik. Eomma tidak mau memiliki putri yang jelek” ucap Ny. Park lembut.

“Aku tak peduli. Kenapa eomma menyuruhku pulang? Padahal aku baru saja bertemu sebentar dengan Taekyung oppa” gerutu Shinhye.

Chagi, dengarkan eomma nde. Sekarang statusmu sudah berbeda. Kau bukan lagi anak gadis yang bisa keluar rumah semaumu. Sekarang statusmu adalah seorang istri. Kau tidak bisa sembarangan keluar rumah, kau harus meminta izin suamimu. Selain itu juga seorang istri tidak pantas meninggalkan suaminya sendirian dirumah sementara ia berkeliaran diluar rumah, apalagi bersama seorang pria. Kau harus menghargai usaha Yonghwa yang sudah dengan susah payah meluangkan waktunya untuk bisa bersama istrinya, kau tahu kan itu bukan hal yang mudah untuk seseorang yang sibuk seperti Yonghwa?” ujar Ny. Park panjang lebar.

Nde, eomma aku tahu” ucap Shinhye pelan.

“Baguslah kalau kau tahu. Eomma harap kali ini kau bisa lebih menghargai suamimu, arra?” tanya Ny. Park.

Arraseo eomma” jawab Shinhye.

“Syukurlah, kau memang anak yang baik chagi.” Ny. Park memeluk Shinhye erat dan mengusap-usap rambut Shinhye dengan penuh kasih sayang. Yonghwa hanya menatap haru pada pasangan ibu dan anak tersebut. Ia senang melihat Shinhye dan eommanya sangat rukun seperti itu. Ah, ia jadi terpikir ingin semakin dekat lagi dengan Shinhye karena ia yakin Shinhye adalah gadis baik dan penurut.

“Kalau begitu eomma permisi dulu. Kalian baik-baiklah disini nde” pamit Ny. Park.

Nde eomma” jawab Shinhye dan Yonghwa serentak.

__oOo__

Sebulan kemudian …

#Shinhye’s POV#

Sebulan sudah aku menyandang status baruku sebagai Ny. Jung, istri dari seorang CEO perusahaan ternama di Seoul, Jung Yonghwa. Hari demi hari aku lewati dengan cukup baik. Aku benar-benar menikmati peranku sebagai seorang istri. Aku menyiapkan sarapan setiap pagi, membersihkan rumah, memasak, menyiapkan air hangat untuk suamiku mandi dan bahkan mengantar makan siang untuk suamiku di kantornya. Walaupun semua itu tidak aku kerjakan dengan sempurna karena aku juga belum begitu terbiasa dengan kehidupan baruku ini. Awalnya aku menyangka bahwa Yonghwa baik padaku karena ia merasa tidak enak kepada orangtuaku dan kasihan dengan berbagai kepolosan dan kebodohan yang sering aku lakukan dihadapannya. Tetapi sepertinya aku salah. Setelah kurang lebih satu bulan aku hidup bersamanya, aku merasa Yonghwa memang benar-benar mencintaiku begitupun aku. Aku pun sangat mencintainya dan mulai merasa takut kehilangan dia walau sedetik saja. Yonghwa selalu memperlakukanku dengan sangat baik dan lembut membuatku semakin yakin kalau aku benar-benar mencintainya.

Hari ini aku berniat untuk memberikan kejutan kecil untuk Yonghwa. Kalau biasanya aku mengunjunginya ketika menjelang waktu makan siang untuk mengantarkan makan siang, kali ini aku akan datang lebih awal dan menemaninya seharian di kantor. Aku yakin Yonghwa akan senang dengan kedatanganku.

__oOo__

Aku berjalan penuh semangat menuju ruang kerja Yonghwa. Sebelumnya aku menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berdandan demi suami tampanku itu. Hari ini aku ingin terlihat sempurna didepan pangeranku. Meskipun sebernarnya Yonghwa tidak pernah menuntutku untuk selalu tampil cantik dihadapannya tapi aku ingin hari ini aku terlihat sempurna. Jadi kupastikan aku berdandan secantik mungkin untuknya.

Ketika aku sampai di depan pintu ruangan Yonghwa, aku memutuskan untuk tidak mengetuknya terlebih dahulu karena ini memang kejutan. Perlahan aku membuka pintu kemudian melangkahkan kakiku masuk kedalam ruangan yang tidak terlalu luas tersebut. Aku terperanjat kaget ketika melihat suamiku tengah tertawa lepas bersama seorang wanita yang tidak kukenal. Wajah Yonghwa terlihat sumringah. Tawanya begitu lepas, amat sangat lepas. Entah lelucon apa yang sedang diceritakan wanita itu padanya sehingga membuat Yonghwa bisa tertawa selepas itu. Tawa yang tidak pernah ia perlihatkan saat bersamaku. Sesekali tangan wanita itu turun menyeusuri bahu Yonghwa. Wanita itu meletakkan tangannya di bahu Yonghwa dan merangkulnya. Mereka seperti sedang memperhatikan sesuatu di meja Yonghwa. Yonghwa terlihat sangat bahagia ketika bersama wanita itu. Ia terlihat jauh lebih bahagia ketika bersama wanita itu dibandingkan saat bersamaku. Aku mematung di posisiku. Lututku melemas. Sekujur tubuhku pun seolah kompak ikut melemas. Hatiku begitu sakit melihat pemandangan dihadapanku. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh tetapi itu benar-benar sulit. Akhirnya cairan bening itupun berhasil lolos dari kedua bola mataku. Yongie, apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kau menghianatiku? Kenapa kau tega sekali melakukan semua ini padaku? Sebenarnya apa salahku? Apa kebaikanmu selama ini hanyalah karena kau kasihan padaku? Atau kau hanya merasa tidak enak pada orangtuaku sehingga kau selalu bersikap baik padaku? Lirihku dalam hati.

Aku berlari dengan gontai meninggalkan ruangan Yonghwa dan pasangan yang sedang bermesraan tersebut tanpa membuat mereka sadar akan kedatangan sekaligus kepergianku ini. Aku menangis sepanjang jalan tanpa mempedulikan beberapa pasangan mata karyawan di kantor Yonghwa melihatku dengan tatapan herannya. Aku mengehentikan sebuah taksi ketika sampai di depan perusahaan Yonghwa. Aku menekan tombol 2 di ponselku cukup lama dan langsung tersambung secara otomatis ke nomor Taekyung oppa. Aku memintanya untuk datang ke taman tempat biasa kami bertemu. Saat ini aku tidak tahu harus menceritakan kepada siapa peristiwa yang baru saja aku lihat. Hanya Taekyung oppa yang ada dipikiranku. Dia memang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri dan hanya dia yang bisa mengerti keadaanku saat ini.

#Shinhye’s POV End#

__oOo__

“Shinhye-ah, waeyo? Apa yang terjadi?” tanya Taekyung dengan napas yang terengah-engah. Ia benar-benar khawatir pada Shinhye karena tidak biasanya Shinhye tiba-tiba menelponnya untuk meminta bertemu.

“Hiks hiks” Shinhye terus menangis.

“Shinhye-ah, uljima! Ceritakan padaku apa yang terjadi, jangan membuat aku khawatir” ujar Taekyung khawatir. Taekyung kemudian duduk di samping Shinhye dan menarik Shinhye kedalam pelukannya. Shinhye menurunkan tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Ia kemudian menangis sekencang-kencangnya di pelukan Taekyung.

Yya!! Park Shinhye, berhentilah menangis. Orang-orang akan menyangka aku berbuat yang macam-macam padamu. Kumohon berhentilah dan ceritakan padaku apa masalahmu” protes Taekyung yang sedari tadi mendapat tatapan sinis dari pengunjung taman yang lain. Shinhye akhirnya menuruti perkataan Taekyung dan menceritakan semuanya pada Taekyung.

__oOo__

Yonghwa yang baru tiba dirumahnya diherankan dengan keadaan rumah yang sepi. Rumahnya masih gelap. Tidak ada satu lampu pun yang menyala padahal ini sudah jam setengah 7 malam. Apakah Shinhye tidak ada dirumah, pikirnya. Yonghwa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Ia memeriksa semua ruangan untuk memastikan keberadaan Shinhye tapi nihil. Ia tidak menemukan sosok istrinya di setiap sudut ruangan rumahnya. Yonghwa sedikit kalang kabut karena tidak biasanya Shinhye seperti ini. Biasanya setiap kali ia pulang kerja, ia selalu disambut dengat senyuman hangat sang istri. Tetapi kali ini tidak, Yonghwa mulai merasakan ada sesuatu yang aneh karena tadi siang Shinhye juga tidak datang ke kantornya untuk mengantar makan siang seperti biasanya. Yonghwa langsung teringat untuk menelpon kerumah mertuanya untuk memastikan apakah Shinhye ada disana atau tidak. Yonghwa merogoh sakunya dan mengambil smartphone putih miliknya. Ia menekan beberapa tombol di layar handphone nya.

Yeobosseo eomonim

Yeobosseo ada apa yong-ah?” jawab Ny. Park di seberang sana.

Eommonim, apakah Shinhye ada disana?” tanya Yonghwa.

Nde, dia ada disini. Dia bilang dia merindukanku jadi dia ingin menginap disini. Apa dia tidak memberitahumu yong-ah?”

Aniyo eommonim tadi Shinhye sudah memberitahuku, aku hanya ingin memastikan saja apakah dia sudah sampai di tempat eommonim dengan selamat” elak Yonghwa.

“Kau tenang saja Yong-ah, dia sudah sampai disini sejak tadi siang dan sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya” ujar Ny. Park.

“Syukurlah kalau memang dia sudah di tempat eommonim. Kalau begitu aku akan menutup telponnya nde. Aku menititipkan Shinhye pada eommonim, maaf karena sudah merepotkanmu.”

__oOo__

Esok harinya …

Shinhye terbangun ketika sinar matahari menerobos masuk melewati celah-celah jendela kamarnya. Shinhye menggeliatkan tubuhnya pelan. Ia memegangi kepalanya yang sangat pusing karena ia tak henti-hentinya menangis semalaman. Shinhye berjalan memndekati cermin dan memperhatikan matanya yang membengkak parah pasca menangis semalaman. Ia menatap lekat wajahnya di cermin dan teringat kembali kejadian memilukan yang ia saksikan langsung kemarin. Betapa sakit hatinya ketika ia harus menyaksikan suaminya bermesraan dengan wanita lain dengan mata kepalanya sendiri. Shinhye yang sedang melamun pun kemudian terbawa kembali ke dunianya ketika mendengar suara ketukan sang ibu dibalik pintu. Shinhye membuka pintu dan mempersilahkan eommanya masuk dengan tetap menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap eommanya dengan mata yang masih sembab karena takut eommanya ikut sedih melihat keadaannya.

“Hye-ah, neo gwaenchanayo?” tanya Ny. Park khawatir.

Nae gwaenchana eomma” jawab Shinhye yang masih tetap menundukkan kepalanya.

“Benar kau baik-baik saja? Tadi malam Yonghwa menelpon, dia menanyakanmu. Tadinya eomma ingin langsung memberitahumu tapi kau sepertinya sudah tidur jadi eomma memutuskan untuk memberitahumu sekarang.”

Shinhye hanya ber-Oh panjang tanpa mempedulikan apa yang dikatakan eommanya tentang Yonghwa.

“Apa ada masalah chagi? Kalau kau tidak keberatan ceritakan saja masalahmu pada eomma, mungkin eomma bisa membantumu” ucap Ny. Park lembut.

Aniyo eomma aku benar-benar baik-baik saja” jawab Shinhye sambil mengangkat sedikit kepalanya.

“Hmm baiklah kalau kau belum mau cerita. Ini, makanlah. Kau belum makan sejak tadi malam” ujar Ny. Park sambil menyerahkan sebuah nampan berisi beberapa makanan berat dan segelas susu strawberry kesukaan Shinhye.

__oOo__

#Yonghwa’s POV#

Aku merasa gusar ketika terbangun tanpa ada sosok Shinhye disebelahku. Walaupun aku tahu Shinhye sedang berada di rumah orangtuanya, tapi aku merasa aku sangat kehilangan dia. Aku merasa seperti sudah ditinggalkan oleh Shinhye selama ratusan tahun. Aku benar-benar merindukannya saat ini. Meskipun pernikahan kami baru seumur jagung tapi Shinhye sudah berhasil membuat hidupku bergantung padanya. Entah mengapa aku merasakan sesak didadaku ketika dia tidak berada disampingku. Aigoo Park Shinhye, kenapa kau selalu memenuhi seluruh ruang dipikiranku?  Aku rasa aku hampir mati karena merindukan istriku.

Hari ini aku harus menjalankan rencanaku dengan sempurna. Aku akan menyiapkan sebuah “candle light dinner” khusus untuk merayakan ulang tahun Shinhye besok. Akan kupastikan semuanya berjalan dengan lancar. Aku ingin memberikan kejutan yang sempurna untuk istriku. Aku mengambil ponselku diatas nakas, mencari-cari kontak seseorang yang akan membantuku hari ini.

YeobosseoSeohyun-ah” sapa Yonghwa.

“……….”

“Hari ini aku hanya akan bekerja setengah hari. Jeda makan siang kita langsung bertemu di tempat yang kemarin sudah kita sepakati” pinta Yonghwa.

“………..”

Nde, kalau begitu aku tutup teleponnya.”

#Yonghwa’s POV End#

__oOo__

Shinhye menghabiskan waktunya seharian untuk menonton film kartun di salah channel favoritnya. Ia sedang malas untuk melakukan apapun. Tiba-tiba ponselnya bergetar cukup lama menandakan kalau ada panggilan masuk. Dengan malas ia meraih ponselnya yang berada di meja sudut ruangan tempat Shinhye berada. Ia melihat sekilas nama yang tertera di layar smartphone nya. Taekyung, nama itu yang tertulis di layar ponsel Shinhye. Ia langsung menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.

Yeobosseo oppa” sapa Shinhye.

“Shinhye-ah, kau sedang apa? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Minggu ini kau belum berbelanja bukan? Bagaimana kalau kita pergi berbelanja. Kau boleh membeli apapun yang kau mau, aku yang akan membayarnya, eotte?” ujar Taekyung di sebrang sana.

Andwae oppa, aku sedang sibuk” tolak Shinhye.

“Sibuk menonton film kartun maksudmu?” tanya Taekyung sinis.

“Dd-darimana kau tau?” Shinhye tergagap.

Aigoo kau ini, tentu saja aku bisa mendengar dari suara televisimu. Ayolah, bukankah ini kesempatan emas? Kapan lagi aku menawarimu berbelanja semaumu dan membayar semuanya?” paksa Taekyung.

“Hmm baiklah, aku akan siap-siap dulu. Oppa tidak perlu menjemputku, aku akan menemuimu di tempat biasa nde” jelas Shinhye.

“Dandanlah yang cantik, aku akan menunggumu disana” titah Taekyung.

__oOo__

Yonghwa yang sudah menyelesaikan pekerjaannya 2 jam lebih cepat segera beranjak dari kursinya dan bersiap-siap pergi ke tempat yang telah ia sepakati dengan Seohyun. Ia menyambar kunci mobil didalam laci mejanya. Tak butuh waktu yang lama, Yonghwa pun sampaidi sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Seoul yang berjarak tidak terlalu jauh dari perusahaan Yonghwa. Yonghwa berjalan menuju ke salah satu toko yang menjual perhiasan mewah disana. Matanya melihat kekanan dan kekiri mencari sosok yang sudah membuat janji dengannya. Tak lama tangan jenjang seorang yeoja melambai-lambai kearahnya sambil memanggil-manggil namanya dengan sedikit berteriak membuat perhatian Yonghwa tertuju pada yeoja tersebut.

Kajja, aku sudah melihat-lihat beberapa perhiasan. Kurasa aku menemukan beberapa yang cocok” ujar Seohyun sambil menarik tangan Yonghwa untuk melihat pilihannya.

“Lihat yang ini, modelnya sangat klasik. Eonni ini bilang cincin ini hanya ada 3 di dunia. Bagaimana menurutmu?” tanya Seohyun.

“Bagus, tapi kurasa Shinhye kurang menyukainya karena dia kurang suka dengan barang-barang klasik, dia lebih suka yang berbau modern dan simpel” jelas Yonghwa.

Setelah memilih dari 3 pilihan akhirnya Yonghwa memilih sebuah kalung berlian dengan detail pada tali yang simpel tapi sangat elegan. Dalam kalung itu juga menggatung sebuah liontin siluet wajah Shinhye yang didesain semodern mungkin sehingga melahirkan perpaduan keeleganan sebuah kalung bergaya modern dengan model yang cukup simpel, sangat cocok dengan gaya Shinhye. Yonghwa berdecak kagum dengan keindahan kalung yang sekarang berada di tangannya. Ia yakin kalau Shinhye akan sangat menyukai kado darinya ini.

Karena sudah mendapatkan apa yang ia cari, Yonghwa berniat untuk fokus dengan kejutan “candle light dinner” yang akan ia berikan untuk Shinhye besok. Namun Yonghwa tak melupakan kebaikan Seohyun begitu saja. Sebagai tanda terimakasih, Yonghwa menyuruh Seohyun untuk memilih barang yang ingin ia beli dan Yonghwa akan membayarnya. Akhirnya mereka berkeliling sebentar untuk mencari barang yang diinginkan Seohyun.

__oOo__

Shinhye berjalan-jalan dengan suasana hati yang tidak lebih baik ditemani oleh Taekyung disampingnya. Ia belum membeli satu barang pun yang ia inginkan. Shinhye belum menemukan apa yang ingin dia beli. Entah mengapa dia merasa kurang tertarik untuk berbelanja banyak seperti biasanya. Saat ini ia hanya ingin berjalan-jalan terlebih dahulu untuk menenangkan pikirannya. Setelah berkeliling beberapa lama, ia dan Taekyung berjalan menuju sebuah toko perhiasan. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat sosok yang selalu memenuhi pikirannya sedang bersama yeoja yang sama dengan yeoja yang kemarin bermesraan dengan suaminya di ruangannya itu. Tubuh Shinhye melemas. Lagi-lagi ia melihat pemandangan yang benar-benar tidak pernah ia harapakan untuk melihatnya lagi. Kemarin suaminya tertawa bahagia bersama yeoja asing ini dan sekarang mereka bahkan sedang berkencan. Tuhan, apa yang sedang terjadi sebenarnya? Pekik Shinhye dalam hati.

Shinhye diam seribu bahasa. Ia hanya bisa menatap nanar suaminya. Yonghwa yang tidak mengerti kenapa Shinhye seperti itu padanya hanya bisa memberi tatapan bingung kearah Shinhye. Shinhye yang sudah tidak kuasa berada di situasi kacau ini akhirnya berlari meninggalkan mereka semua termasuk Taekyung. Shinhye berlari dengan air mata mengguyur wajah cantiknya. Ia sudah tak bisa menahan lagi tangisnya. Seketika tangisnya meledak. Yonghwa hanya terpaku menatap punggung Shinhye yang semakin menjauh darinya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya itu. Tiba-tiba suara Taekyung membuyarkan lamunan Yonghwa.

Omo! Kenapa aku diam saja? Cepat kejar dia, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Apa kau tidak sadar Shinhye dari kemarin menghindarimu eoh? Kemarin dia melihatmu sedang bermesraan dengan yeoja disampingmu itu. Cepat jelaskan kesalahpahaman ini pada Shinhye. Atau memang ini bukan salah paham?” tanya Taekyung menyelidik.

Mwo? Tentu saja ini salah paham. Shinhye harus tahu yang sebenarnya” protes Yonghwa.

__oOo__

Langkah cepat Shinhye tiba-tiba terhenti ketika sebuah tangan kekar menahan tangannya. Yonghwa memengang tangan Shinhye erat seolah tidak ingin kehilangan yeojanya ini. Ia menarik tangan Shinhye dan membalikkan tubuh Shinhye untuk menghadapnya. Yonghwa menatap manik mata Shinhye intens. Ia seolah ingin meredakan tatapan amarah sang istri saat ini. Yonghwa menatap manik Shinhye dan menemukan rasa kecewa yang begitu besar disana. Yonghwa merasa bersalah karena membiarkan wanitanya salah paham dengan apa yang ia lakukan. Yonghwa dengan sigap menarik Shinhye kedalam pelukannya. Ia tidak mempedulikan Shinhye yang meronta-ronta berusaha keluar dari dekapannya, dia tetap memeluk Shinhye erat. Dia membiarkan Shinhye menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan Shinhye dalam pelukannya. Beberapa saat kemudian Yonghwa tidak merasakan usaha penolakan Shinhye lagi. Ia hanya merasakan pukulan kecil di dadanya yang berasal dari tangan mungil Shinhye.

Mianhae, maafkan aku Shin-ah. Maaf kalau aku melukai hatimu” sesal Yonghwa.

“Kau jahat Yong-ah, aku kira kau mencintaiku, tapi-” ucapan Shinhye terhenti karena Yoghwa menyuruhnya berhenti dengan menempelkan telunjuk di bibir merahnya.

“Ssst jangan dilanjutkan, biar aku yang melanjutkannya. Aku memang sangat mencintaimu, amat sangat mencintaimu. Di dunia ini tidak ada yang bisa mengungkapkan betapa besarnya cintaku padamu. Walaupun kita menikah karena dijodohkan dan bahkan tidak pernah berkencan sebelumnya tapi aku yakin yang membuat kita bersatu bukan karena itu, kita bersatu adalah karena takdir yang menginginkan kita untuk bersatu” ujar Yonghwa kemudian meraih kening Shinhye dan menciumnya lembut.

“T-tapi kenapa kau-“

“Ssssst” Yonghwa kembali menempelkan telunjuknya di bibir Shinhye.

“Jangan katakan hal itu karena itu akan membuatmu terluka lagi. Aku tidak ingin kau terluka lagi. Percayalah aku hanya mencintaimu dan hanya kau yang memenuhi setiap ruang di pikiranku. Semua hal buruk yang sempat terlintas dipikiranmu tentang aku, aku berjanji itu tidak akan pernah terjadi. Cukup pikirkan saja aku yang mencintaimu. Aku yang akan melindungimu seumur hidupku. Arra?” jelas Yonghwa.

Nde oppa, gomawo” Shinhye tersenyum bahagia dan kini merangsek kedalam pelukan Yonghwa.

Saranghae Shin-ah .. jeongmal saranghaeyo” bisik Yonghwa pelan tepat di telinga Shinhye.

Nado saranghaeyo Yong-ah .. yeongwonhi” balas Shinhye.

“Bukankah besok hari ulangtahunmu? Bagaimana kalau kita berkencan seharian? Aku ingin menebus dosaku karena belum pernah mengajakmu berkencan sebelum kita menikah bahkan untuk satu kali pun. Aku akan mengosongkan semua jadwalku. Eotte?” tanya Yonghwa.

Nde, kita akan berkencan seharian besok” jawab Shinhye riang.

__oOo__

Esoknya …

“Kau sudah siap chagiya?” tanya Yonghwa dengan nada menggoda.

Nde chagiya, aku sudah siap. Saaangat siap” jawab Shinhye sumringah.

Aigoo istriku sepertinya sangat bersemangat” Yonghwa mencubit pipi Shinhye gemas.

“Tentu saja karena hari ini aku akan bersama suamiku seharian” ujar Shinhye bangga.

“Kalau begitu, aku akan membuatmu lebih bersemangat lagi yeobo

CHUP

Yonghwa mengecup bibir Shinhye sekilas membuat Shinhye yang tadinya bersemangat menjadi mematung seketika.

Chagiya! Kenapa kau jadi diam seperti ini? Kukira ciumanku tadi akan membuatmu lebih semangat” ucap Yonghwakecewa.

“Kalau begitu aku akan mengambil kembali ciumanku kalau itu malah membuatmu menjadi diam seperti ini” sambung Yonghwa sambil hendak mencium kembali Shinhye. Tapi Shinhye buru-buru mencegahnya.

Andwae, kau tidak bisa mengambilnya kembali kecuali aku yang memberikannya padamu” Shinhye memeletkan lidahnya membuat Yonghwa berdecak kesal.

__oOo__

Shinhye dan Yonghwa mengunjungi beberapa tempat seharian ini. Mereka pergi ke Lotte World, ke Sungai Han, dan terakhir mereka pergi ke taman bunga melihat bunga-bunga bermekaran di musim semi ini.

Walaupun rencana Yonghwa untuk memberikan kejutan “candle light dinner” untuk Shinhye sempat gagal karena kesalahpahaman yang terjadi kemarin, namun ia tidak sepenuhnya melupakan rencananya tersebut. Yonghwa masih berniat untuk memberikan kejutan yang paling spesial di hari ulangtahun Shinhye. Malam ini ia berniat untuk mengajak Shinhye ke sebuah balkon atap salah satu bangunan yang paling strategis untuk melihat pemandangan indah Namsan Tower di malam hari.

Yonghwa pun mengajak Shinhye ke tempat yang agak aneh namun luar biasa romantis ini.Malam itu benar-benar sangat gelap, tidak ada cahaya apapun kecuali cahaya lilin di meja meraka yang menjadi cahaya utama selain cahaya dari lampu-lampu yang menerangi jalanan di bawah gedung tempat mereka berada.Yonghwa menarikkan kursi untuk Shinhye dan mempersilahkan Shinhye duduk. Yonghwa yang baru saja mempersilahkan Shinhye duduk di kursinya tidak langsung duduk di kursi miliknya yang berada di sebrang Shinhye berada. Yonghwa berjalan menuju sebuah grand piano berwarna putih di sebelah kiri Shinhye. Yonghwa duduk di kursi grand pianotersebut dan menyanyikan sebuah lagu untuk Shinhye.

LYRICS

Yonghwa menghampiri Shinhye yang sedang terkagum-kagum menerima perlakuan romantis sang suami. Yonghwa mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang berbentuk persegi panjang dari sakunya. Ia menyerahkan kotak itu pada Shinhye. Shinhye menerima kotak kecil pemberian Yonghwa dan membukanya perlahan. Matanya berbinar ketika melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut. Shinhye menatap siluet wajahnya sendiri yang menjadi liontin dari kalung berlian elegan ditangannya. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada sang suami seraya mengucapkan terima kasih. Yonghwa meraih kalung dalam kotak yang dipegang oleh Shinhye kemudian memasangkan kalung itu di leher jenjang sang istri. Setelah memastikan kalung itu terpasang di leher Shinhye, Yonghwa meraih tengkuk Shinhye dan mencium bibir sang istri perlahan. Menekannya dengan hati-hati. Bibir Yonghwa bergerak perlahan menelusuri bibir mungil Shinhye. Sesekali keduanya memiringkan wajah mereka untuk menghirup oksigen di sela-sela ciuman mereka. Shinhye mulai membuka mulutnya dan membalas ciuman Yonghwa perlahan. Mereka benar-benar menikmati passionate kiss mereka sampai akhirnya mereka sama-sama kehabisan napas dan melepaskan tautan bibir mereka.

Yonghwa memeluk Shinhye dari belakang. Posisi mereka kini menghadap lurus kearah Namsan Tower yang memancarkan cahaya warna-warni yang begitu memanjakan mata. Yonghwa berbisik pelah di telinga Shinhye.

“Park Shinhye saranghae …. jeongmal saranghaeyoneomu neomu neomu saranghaeyo. Aku berjanji aku akan selalu membuatmu bahagia. Berjanjilah padaku untuk selalu berada disampingku sampai takdir merenggut nyawaku” lirih Yonghwa.

Nado, Jung Yonghwa-ssi … neomu neomu neomu saranghaeyo. Aku berjanji akan selalu ada disampingmu sampai maut merenggut nyawaku” bisik Shinhye pelan.

Suasana malam itu benar-benar sangat tenang. Hangat musim semi yang mendera menyelimuti kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Bintang-bintang berkilauan seolah menjadi saksi betapa pasangan ini saling mengasihi. Cahaya rembulan sempurna menyinari malam yang tenang kala itu. Kedua insan yang ditakdirkan untuk bersama itu pun sudah menyadari takdir seperti apa yang harus mereka jalani. Takdir yang menghendaki mereka bersatu menjadi sepasang insan yang saling mengasihi selamanya.

— END—

36 thoughts on ““A Minute with You Seems Like An Eternity”

  1. Wah…keren..
    night birthday yg sweet bgt… ksih kalung truz ppo2…
    whoaa…so sweeettt!!!!

    Saengil chukkae eonni..
    always healty,, and quickly paired with oppa (amiin..amiinn…)

    buat ff yongshin yg byk lg y thor!!!
    coz aku DOOLIERS Shipper ni..!!!

    • makasih ya udh baca ff ini🙂
      author usahain bkin ff yongshin lagi soalnya author juga yongshin shipper, ditunggu aja yah next ff nya🙂

  2. Waahh daebakk thor, sukaa banget sama ceritanya, yong hwa romantis banget sih, semoga aja YongShin.bisa bersatu juha dikehidupan nyata🙂
    Seangil chukkae shin.hye eonnie, panjang umur, sehat slalu, makin disayang fans, makin.cantik, dan semoga berjodoh sama yong hwa oppa ne ^_^
    Authorr gomawo buat ff nya, ditunggu ff YongShin lainnya😉

  3. Keren thor so sweet bgt,aku juga yongshin shipper aku selalu suka sama ff yg castnya yongshin,makasih buat author yg udah mau nulis ffyongshin,semoga makin bagus karya2nya..yongshin jjang

  4. Asyik nemu ff yongshin lagi,tak kira di blog dooliers aja ternyata disini juga ada nyempil hehe🙂 author lanjutkan bikin ff yongshin nya yh semangattt😉 ff nya keren thor .aku suka..😀

  5. G dpt feelnya.. #mianhae jg membosankan.. Ceritanya sh sweet tp jl crt nya bertele tele bgt kebanyakan narasi ketimbang dialognya.. #jeongmalemianhae aku cm smp in pndpt ku aja

  6. salam kenal author^^ ..seneng nemu ff yongshin..hehehe…untung aj kesalahfahamanny cepet trselesaikan *iya lah ini kn OS*….kekekeke…yongshin momentny jg sweet bgt..bruntung bgt jd hye
    .semoga authorny mau bikin ff yongshin lg^^ …gommawoo thor

  7. Omooo ,
    Daebaak . Neomu neomu daebak ffnya thor .
    Ah gomawo author udah buat ff seromantis ini kk
    Ga selamannya pernikahan karena perjodohan itu menakutkan , toh yongshin sudah membuktikan kalo dgn perjodohan itu mereka memang ditakdirkan buat bersama .
    Walaupun sempet ada kesalahpahaman , tapi akhirnya mreka bisa ngelwatinnya kk
    Semoga kalian mmg ditakdirkan buat berjodoh *hope kk
    Ah , daebak pokoknya thor ffnya🙂

  8. Ffnya daebak….moment yongshinnya so sweet bngt….untung ksalahan phaman d antra mereka trselesaikn….

  9. annyeong,,ijin baca ff’nya thor..neomu neomu jhoa ff yongshin..yonghwa so sweet bangett…mudah2an ff yongshin’nya tambah banyak,,makasih thor buat ff’nya…

  10. ya ampun senyum senyum sendiri baca ff nya thor, aaa, jadi berkhayal dapat suami kayak yonghwa opaa , kekeke

  11. FF nya serruu aku suka.Yongshin so sweet bangett padahall berharap yongshin nya ampe punya baby.tapi gk papa tetep seru.Gomawo thor Hwaiting.:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s