Together… | FF 2nd / OneShoot/

 

yeBeLHWsICMAA_4ol

Tittle               : Together..

Author            : Senandung

Length            : One Shoot

Genre              : Full Family Life

Rating             : PG-15/Straight

 

 

Cast :

• Kim Jong Woon

• Song Eun Seo

• Kim Jong In

• Kin Hyo Jung

 

 

 

Disclaimer :

This story pure of my think! So this story is MINE!

Haaaay… Im come back again. Sebenarnya setelah insiden postingan FF perdana saya, udah gak mau lagi nyoba bikin FF. Tapi, dua hari terakhir otak maksa buat nulis, karena imajinasi yang seperti cerita gaje mode on dibawah ini. Dan saya pinjan Ye-Seo couple fenomanal milik Arie Devi. Mungkin setelah ini bakal gak bikin ff lagi. Gomawo buat yang minta tag dan yang kena tag tanpa permintaan kalian, saya minta maaf. Mungkin ini hal yang tak berguna bagi anda. Terserah kalian mau baca atau tidak. Mau RCL atau tidak. Mau dibaca atau tidak. Mau dilike atau tidak. Hanya satu pesan saya ” Jika ingin dihargai, hargailah dulu orang lain”

 

 

“Seseorang berkata padaku ‘ Biarkanlah ada jarak diantara kebersamaan mu dengan mereka, agar kau tau apa itu merindu’. Tapi, bergunakah rindu jika tak terbalaskan rindu juga?” –Author-

 

“Aku tak merindukan mereka. Aku hanya merindukan kebersamaan yang penuh kehangatan dan senyuman. Sebelum jarak dan waktu menggilasnya dengan keras.” –Kim Hyo Jung-

 

“Aku tak berpikir untuk bersikap layaknya kami dan kalian adalah orang asing sebelumnya. Tapi, kalian yang mengajarkan itu saat tak ada lagi dirasa rindu yang mencengkram.”-Kim Jong In-

“Menyadari bahwa segalanya memang akan lebih indah jika adanya kebersamaan. Tak dapat menolak ataupun menghindar. Hanya dapat menerima kekecewaan yang tak mampu tuk terobati.”-Kim Eun Seo-

 

“Mungkin aku— Harusnya tak melakukan itu. Dan tidak saling mengecewakan. Atau mungkin harusnya aku—memang belumlah bisa menjadi yang kalian dambakan. Seburuk itukah?”

 

Happy Reading…….

 

Ddrrrttt…  Ddrrrt…   Ddrrrttt…

 

“Yeobseo.” Sapa seseorang yang mengangkat telpon.

 

“Kim Jong Woon.” Panggil orang itu diseberang sana.

 

“Ya.. Ini aku. Ada apa seo-ya?.”

 

“Hari ini mereka pulang. 15 menit lagi kau sudah harus menjemputku dirumah.”

 

“Tapi, acara peresmian hotel baru kita belum selesai, yeobo.”

 

“Kau pikir aku perduli.”

 

Ttuuutt.. Ttuutt.. Ttuuutt..

 

“Aaiiissh… Wanita ini benar-benar.”

 

Kim Jong Woon menggerutu lepas menggunakan mulutnya sendiri, kala sang istri, Song Eun Seo. Ah, Ralat. Tapi, Kim Eun Seo. Memerintahnya seenak jidat. Ditambah dengan keputusan sepihak Eun Seo ditelpon tadi.

 

***

 

This all story Ready…

 

Tak seperti biasanya. Hari ini bandara Icheon nampak sangat ramai. Mengingat bahwa akan ada seorang aktor besar yang pulang ketanah air. Jadi, bagi mereka yang merupakan salah seorang fans, tentu saja harus melalui moment berdesak-desakkan dengan para fans yang tak bisa dibilang sedikit.

Namun, dilain tempat dalam satu lokasi. Lebih tepatnya dibagian pintu kedatangan yang berbeda. Terlihat sepasang suami istri yang tengah menunggu kedatangan seseorang. Terkadang beberapa pasang mata menatap heran kepada mereka. Orang-orang pasti tak mengira jika mereka telah menikah sejak 17 tahun lalu. Tapi, ajaibnya mereka masih terlihat masih muda.

Kim Jong Won dan Kim Eun Seo, mereka lah yang saat ini menjadi pusat perhatian sebagian orang yang lewat. Pasalnya, Jong Woon hanya diam duduk dibangku tunggu. Dengan focus mata pada layar datar segi empatnya. Sedang Eun Seo, dia tengah duduk santai dengan kaca mata bertengger dihidungnya membaca bait-bait pembahasan tentang bisnis, pada buku yang sengaja dibawanya.

“Kalian kusuruh datang kebandara untuk menjemput kami. Bukan malah melakukan hal pribadi dalam diam saat menunggu kami seperti ini.” Tegur sesosok lelaki muda yang telah ada dihadapan mereka. Sontak saja mereka berdua menengadahkan kepala lalu berdiri, untuk memeluk orang tersebut.

Di belakang lelaki tadi,  seorang gadis berambut panjang lurus dan berponi mengikuti lelaki itu untuk berhenti dihadapan Jong Woon beserta Eun Seo dengan tanpa sapa dan senyuman.

 

“ Sejak kapan kalian sampai?.” Tanya Jong Woon

“Apa kalian tak melihat bahwa kami baru saja tiba. Ck, buat apa menunggu jika nyatanya kalian memang tak berniat menunggu.” Jawab gadis tadi.

“Seeeeh.. Kim Jong In, Kim Hyo Jung, Kim Eun Seo. Aku tak mengerti mengapa kalian memiliki mulut yang berlidah tajam.”

“Karena mereka adalah anak-anakku Tuan Kim Jong Woon.” Sahut Eun Seo.

“Tapi, setidaknya mereka mewarisi kewibawaanku.” Tak ingin kalah, Jong Woon membela diri.

 

Eun Seo melangkah mendekat pada Jong Woon. Dibelainya lembut pipi bagian rahang Jong Woon seraya tersenyum manis. Jong Won terpaku sejenak mengagumi kecantikan istrinya yang tak pernah pudar. Hingga tak lama senyum itu hilang sekejap. Menampakkan wajah angkuh ekspresi seorang Song Eun Seo dulu.

“Tapi kenyataannya berkata lain.” Ucap Eun Seo sambil menepuk-nepuk pelan pipi Jong Woon. Lalu melangkah pergi menarik lembut kedua tangan anaknya, Jong In dan Hyo Jung. Meninggalkan Jong Woon sendiri dengan koper kedua anaknya. Tak ingin berlama-lama sendiri, dia akhirnya menyusul dengan menarik dua troli berisi koper kedua anaknya, Miris memang. Hahahaa..

 

“Wanita itu benar-benar berbisa.” Bisik Jong Woon pada Jong In setibanya dia disamping Jong In.

“Siapa yang Appa maksud.” Tanya Jong In.

“Eommamu.”

“Ck. Appa saja yang mudah diperdayai oleh senyum eomma.” Jong Woon menekuk muka kesal atas jawaban tak mendukung dari anaknya sendiri.

 

***

 

“Bisakah appa berhenti berbicara. Aku bosan.” Kim Hyo Jung buka suara. Dia bosan dan sudah sangat bosan. Bahkan juga sangat tidak suka jika harus mendengar ocehan appanya tentang Hotel baru mereka.

 

”Ck.. Kau pikir aku tidak bosan.” Sahut Jong In. Membuat Eun Seo terkekeh pelan.

Jangan tanyakan bagaimana wajah kesal seorang Kim Jong Woon saat ini. Yang pasti sangat tidak enak untuk dipandang.

 

Jika orang-orang diluar sana akan melepas rindu kala berpisah. Maka lain lagi bagi Jong In dan Hyo Jung. Kata rindu sudah menjadi hal tabu bagi mereka. Mungkin benar, saat ini mereka tengah bersantai diruang keluarga sambil mendengarkan ocehan tak berguna Jong Woon. Tapi, itu tak selamanya bertahan.

 

“Yeobseo.” Sahut Eun Seo pada seseorang yang menelponnya. Lalu dia beringsut menjauh meninggalkan Jong In, Hyo Jung dan Jong Woon dalam keheningan saat menonton tv, meski pikiran ketiga anak manusia itu berkeliaran entah kemana.

 

Eun Seo kembali lagi menghampiri mereka. Tidak, lebih tepatnya Hyo Jung dan Jong In. Eun Seo mencoba merangkai kata agar tak membuat kecewa anaknya. Jong Woon menatap Eun Seo. Dia mengerti arti sikap Eun Seo kali ini.

 

“Jong In-Ah… Hyo Jung-Ah.. Eomma dan App..” Belum sempat Eun Seo menyelesaikan perkataannya Hyo Jung langsung berdiri meninggalkan Jong In, Eomma dan Appanya. Langkah yang terkihat tak tergesa-gesa memang.  Tapi, jika dilihat dari raut wajah, sudah dapat terbaca.

 

“Pergilah. Pada dasarnya kami memang tak merindukan kalian.” Ucap Jong In. Sama halnya dengan Hyo Jung, diapun pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

 

Eun Seo menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.

 

“Jong Woon-Ah..” Lirih Eun Seo memanggil nama suaminya dengan memejamkan mata. Jika menangis bisa mengubah segalanya, mungkin sudah sejak dulu Eun Seo akan menangis. Tapi, disaat seperti ini dia adalah Song Eun Seo. Wanita keras kepala yang angkuh sekaligus berhati lembut. Kekuatan hatinya tak mampu tergerus oleh sesuatu yang sepele sedikitpun. Jika hal berat saja bisa dilewatinya. Lalu.. tak ada alasan bukan.. untuk menyerah pada yang lebih mudah dari itu?

 

***

 

Alunan dentangan dimeja makan terdengar begitu merdu. Tak ada suara lain yang mengisi acara makan malam keluarga Kim. Begitulah setiap saat mereka melakukan acara makan malam. Tenang dan damai. Menikmati setiap potongan dan suapan yang masuk kedalam mulut hingga melewati kerongkongan mereka. Hingga suara hentakan yang cukup keras sendok dan garpu di atas piring menghentikan kegiatan mereka. Mengingat suasana yang masih terasa hening. Satu titik disana menjadi pusat perhatian ketiga orang yang ada dimeja makan selain dirinya.

 

“Setelah kalian selesai makan ku ingin kalian membersihkan diri. Karena malam ini akan ada pesta perayaan hotel baru kita.” Ucap Jong Woon, sambil memandang satu persatu wajah ketiga orang yang berekspresi tak jauh berbeda. Tanpa senyuman dan pandangan biasa.

 

“Menolakpun, tak ada gunanya. Appa tetap akan memaksa kami.” Sahut Jong In santai.

“Bisakah Appa berjanji bahwa acara itu takkan lama.” Tanya Hyo Jung.

“Hmm..” Jong Woon hanya bergumam. Lalu beranjak menuju kamarnya dan Eun Seo.

 

***

 

Di tempat pesta yang dihadiri kolega-kolega dan juga orang terpandang itu seolah tak tertarik dengan acara yang berlangsung. Beberapa diantaranya menatap iri kedua pasangan suami istri yang berdiri berdampingan. Sangat serasi.

 

Kim Jong Woon yang memakai kemeja kotak-kotak hitam putih, dilapisi jas warna perak. Menambah kadar ketampanannya yang sebenarnya tak lagi berumur muda.  Tak lupa dasi hitam panjang yang menjuntai dilehernya malam ini. Pakaian yang tak terlalu resmi memang. Mengingat ini hanya pesta perayaan biasa.

 

Sedangkan Eun Seo yang berada disampingnya seraya membenarkan letak dasi Jong Woon tak kalah menariknya. Meski telah beranak 2 dan sudah berumur 38 tahun tak mengubah tubuh ramping dirinya. Dengan memperlihatkan kaki jenjang yang beralas HighHeel stiletto 9 cm, membuatnya terlihat seperti model. Menggunakan gaun diatas lutut, berwarna hijau laut, tanpa lengan dan hanya sebatas dada. Bahkan rambut hitam kecoklatan itu disanggul gaya modern keatas, dengan poni panjang menutup sebagian dahinya. Memperlihatkan leher jenjang nan putih miliknya.

 

 

“Terkadang tatapan mereka padamu membuatku ingin selalu menyembunyikanmu.”Sungut Jong Woon, Pandangannya tak pernah berpindah dari wajah Eun Seo yang ada dihadapannya.

 

“Sedangkan aku tak ingin kau menjauh dariku berdiri sekarang. Karena aku takut akan ada wanita yang mengira kau laki-laki lajang yang sukses.”

 

“Ini tempat umum, berhentilah bersikap seolah hanya kalian yang ada disini.” Tegur Jong In. Sedari Tadi dia teramat kesal melihat tatapan iri orang-orang pada kemesraan orang tuanya.

 

“Bersikaplah sesuai dengan umur kalian. Kalian sudah memiliki dua anak, yaitu kami.” Hyo Jung juga ikut menimpali. Bermesraan di tempat umum seolah mereka masih remaja. Menggelikan memang.

 

“Mereka bahkan bisa saja mengira kalian sepasang pengantin baru.” Ucap Jong In sakratis. Dia berjalan menuju meja panjang samping Jong Woon untuk mengambil dua buah gelas minuman.

 

“Aigoo.. Kalian mengganggu saja.” Kesal Jong Woon. Eun Seo lalu menyikut lengan Jong Woon.

 

“Bisakah kita pulang, Appa?.” Tanya Hyo Jung.

 

“Jika pun bisa, sudah sedari tadi aku menarikmu pulang dari tempat ini.” Timpal Jong In. Dia lalu menyodorkan minuman pada Hyo Jung. Dan disambut tanpa ucapan “Terima kasih”.

 

“Mengapa kau ingin pulang, Hyo-Ah.” Tanya Eun Seo sambil membelai rambut lurus bergelombang milik Hyo Jung. Namun, Hyo Jung Berkilah, menepis tangan Eun Seo dirambutnya.

 

“Aku hanya bosan.” Hyo Jung menjawab datar sambil memandang wajah Eommanya.

 

“Kau sangat cantik mala mini. Kenapa tak mencari teman lelaki yang masih muda. Siapa tau mereka ingin mendekatimu. Lihat lah Oppa mu. Bahkan Jong In sudah dikelilingi 3 gadis sekaligus. Hahaha… Ternyata kharismaku benar-benar menjelma didalam diri Jong In.” Ucap Jong Woon dengan penuh rasa percaya diri dan memuji Hyo Jung sekaligus menyarankan.

 

Cantik? Bahkan malam ini Hyo Jung sangat cantik. Meski hanya memakai dressi berwarna putuh gading diatas lutut, berkerah dibagian leher, dan tanpa lengan. Biasa saja memang. Tapi tak dipungkiri bahwa banyak pasang mata dari pengusaha muda yang melirik Hyo Jung. Sedangkan Hyo Jung. Dia bahkan tak tertarik sama sekali.

 

Lain lagi dengan Jong In. Meskipun terkenal dingin. Kharisma Jong Woon benar-benar mengalir dijiwanya. Celana panjang hitam santai. Dipadukan kemeja putih dan ber jas warna abu-abu gelap. Membuat banyak gadis-gadis menghampirinya.

“Ck.. Dia sama saja playboy nya dengan Appa.” Jawab Hyo Jung seadanya. Tanpa berpikir dengan apa yang diucapkan.

“Mwo?.” Jong Woon terkejut. Bagaimana bisa anaknya menyimpulkan bahwa dirinya seorang player. Hey, dia bahkan tak pernah menjalin hubungan dengan gadis lain hanya demi menunggu Eun Seo bertahun-tahun, agar Eun Seo benar-benar menghangat padanya. Lalu, mengapa mudah sekali Hyo Jung berkata jika dia playboy?.

“Jangan menatapku seperti itu, Appa. Eomma yang menceritakan sendiri. Padahal aku tak memintanya.” Merasa sadar dengan tatapan tak suka Jong Woon, Hyo Jung pun menjawab. Seolah-olah tak ingin disalahkan. Lalu melempar kesalahan pada Eommanya.

“Kau.” Tunjuk Jong Woon tertahan pada Eun Seo. Lain lagi dengan Eun Seo. Dia hanya pura=pura tak perduli dengan melihat-lihat sekitar yang nyatanya sama sekali tak menarik untuk dipandang mata.

***

Acara puncak telah dimulai. Riuh tepuk tangan menggema seantero ruangan itu. Kala Kim Jong Woon menaiki podium bersama istrinya Eun Seo untuk acara penyambutan resmi.

“Kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua yang rela meluangkan waktunya pada malam hari ini. Untuk merayakan pesta sederhana peresmian hotel baru keluarga Kim. Dan kami sangat berterima kasih pada kedua anak kami, Kim Jong In dan Kim Hyo Jung. Tanpa mereka kami tak bisa seperti ini”

 

Praaaaaannngg….

 

Suara pecahan cukup keras melengking ditempat itu. Semua mengalihkan pandangannya pada sesosok lelaki yang tanpa rasa bersalahnya. Semua suara pecahan itu tak mungkin terjadi jika saja Kim Hyo Jung tak merasa muak melihat gaya wibawa kedua orang tuanya diatas podium sana. Sudah banyak waktu santai yang dia relakan untuk mengikuti acara membosankan kali ini. Hyo Jung memang sengaja menghempaskan cangkir yang sebelumnya ada digenggamannya.

“Berhentilah bersikap seperti kita adalah keluarga yang hangat.” Hyo Jung berucap tajam, menatap kedua orang tuanya tak bersahabat di atas sana.

Hyo Jung melangkahkan santai kaki jenjangnya menuju Jong In yang masih menatapnya datar.

 

“Maaf nona-nona. Berhentilah mengganggunya. Dia adalah suamiku.” Bohong Hyo Jung. Dia lalu menarik tangan Jong In meninggalkan tempat itu. Jong In bernapas lega. Setidaknya dia terlepas dari semua tanya gadis-gadis itu tentang bisnis yang tak terlalu ingin dimengertinya.

 

***

 

Sebuah mobil audy hitam memasuki pekarangan rumah keluarga Kim. Pintu mobil itu terbuka, mengeluarkan Hyo Jung dari sana. Dengan langkah pasti dia memasuki rumah dan langsung menuju lantai atas kediaman keluarga Kim. Jong In terdiam didalam mobilnya. Tak berniat sedikitpun keluar dari sana. Dia tercengang akan keberanian Hyo Jung ditengah banyak orang sekaligus orang tua mereka sendiri. Sebenci itukah dia.

 

Jong In memasuki kamar Hyo Jung yang bernuansa putih gading, warna kesukaan dongsaengnya, Kim Hyo Jung. Kamar yang berukuran luas dengan rak-rak kecil yang dipenuhi dengan novel-novel dari berbagai penulis terkenal.  Membuat kamar itu seperti toko buku. Sepi. Tak ditemukannya Hyo Jung disana.

 

“Dia pasti ditempat itu,” Tebak Jong In yakin. Dengan pasti dia menggiring langkahnya menuju tempat yang dimaksud. Dia hapal. Bahkan benar-benar hapal bagaimana kebiasaan adiknya itu. Bukankah mereka saudara? Sudah pasti Jong In tau semua tentang Hyo Jung.

 

Ckleeekk…

 

Pintu ruang itu terbuka. Meamoakkan diri Hyo jung yang tengah berkutat dengan bukunya. Ruangan yang dulu menjadi tempat favorit berkumpulnya keluarga Kim. Hyo Jung sering menyebutnya “ Room Together”. Padahal itu adalah ruang perpustakaan keluarga.

 

Jong In menghampiri meja dimana Hyo Jung meletakkan buku bacaannya.

“Bisa kau perjelas padaku, tentang apa yang ada dipikiranmu?.” Tanya Jong In.

“Tak ada yang perlu diperjelas disini.” Sahut Hyo Jung. Pandangannya masih menatap lekat bait-bait kalimat didepannya.

“Aku tak sebodoh itu. Kau adikku. Lalu apa lagi yang ingin kau sembunyikan dariku. Akupun sama halnya denganmu.” Jong In menarik bangku berhadapan dengan Hyo Jung, kemudian mendaratkan pantatnya diatas bangku itu. Gaya angkuh Jong In mulai dsiperlihatkannya. Menumpang kaki untuk disilangkan, dengan tangan yang bersidekap didepan dada.

 

“Jika kau tau, lalu untuk apa kau bertanya.” Hyo Jung menutup keras bukunya. Diapun melakukan gaya angkuh yang baru saja dilakukan jong In. Sambil menyenderkan punggung disandaran bangku.

Sungguh, jelmaan Song Eun Seo benar-benar mengalir kuat didalam darah dan jiwa mereka.

 

“Terkadang— aku merasa sikapmu tadi cukup keterlaluan. Tapi, tak ku pungkiri kekesalanmu selama ini pada mereka yang tak pernah memikirkan kita.”

 

“Memangnya apa yang kau inginkan.”

 

“Sederhana saja. Tapi, sulit bagi mereka untuk mewujudkan.”

 

“Apa itu?.”

 

“Kurasa kau tau jawabannya.”

 

Hyo Jung mengerutkan dahinya. Dia berfikir sejenak. Apa yang diinginkannya? Padahal dia memiliki segalanya. Appa yang sukses memimpin dua perusahaan sekaligus. Eomma nya pun menjadi pengacara hukum tetap perusaan yang dipimpin Appanya sendiri. Kakak lelaki berparas tampan sekaligus berotak cerdas. Dirinya pun tak jauh berbeda dengan eommanya yang berwajah cantik. Uang dan kekayaan sudah pasti dia dapatkan. Lalu apa?

 

Senyap dikeheningan malam yang mendominasi berpikirnya Hyo Jung selama ini.

“Kebersamaan.” Lirih Hyo Jung menatap sendu Jong In yang duduk diseberangnya.

 

Kebersamaan? Apa maksud dari arti kebersamaan? Ya.. Hyo Jung maupun Jong In menginginkan kebersamaan dengan orang tuanya. Setiap mereka dirumah, selalu saja ada alasan dibalik inginnya kebersamaan mereka dengan Jong Woon dan Eun Seo. Apalagi kalau bukan karena pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan.

Bahkan saat mereka bersiap untuk melakukan acara libur sekolah Jong In dan Hyo Jung ke prancis. Mereka membatalkannya karena ada urusan mendadak yang sama sekali tak dapat ditinggalkan. Padahal saat itu mereka telah sampai dibandara. Menunggu panggilan penerbangan.

 

Jong In, bahkan Hyo Jung sangat paham. Untuk siapa orang tuanya bekerja? Tapi— tak bisakah sedikit saja waktu yang lebih lama untuk mereka tersenyum bahagia melewati kebersamaan itu. Mereka rindu kebersamaan.

 

End…

 

Tinggalkan jejak sehabis baca. This Last Fanfic

3 thoughts on “Together… | FF 2nd / OneShoot/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s