MY LITTLE STORY | Oneshoot

donghaeminho

 

MY LITTLE STORY

Author  : @Me_Cahyaa

Tittle      : My Little Story

Lenght  : One Shoot

Genre   : Romance, Sad.

Rate       : General

Main Cast            : Ahya Kim (OC), Lee Donghae (SJ).

Support Cast      : Choi Minho (SHINee)

Kelap kelip bintang bertebaran dilangit malam, bersinar terang, walau sang rembulan tak lagi berbentuk penuh. Angin malam yang sejuk membuat beberapa helai rambutku berterbangan kesana kemari mengikuti alur hembusannya. Dingin. Hanya itu yang dapat kurasakan kini, Seoul pada malam hari memang begitu ekstrim udaranya. Kumasukkan kedua tanganku kedalam mantel tebalku, meski kini sedang musim panas tetapi suhu dimalam hari cukup menusuk tulang. Mataku terpejam dan bibirku sedikit meringis saat lagi-lagi angin itu menabrak tubuhku, lebih tepatnya bersentuhan langsung dengan wajahku yang tak tertutup.

Kembali kubuka mataku, ku edarkan pandangan kesekeliling berharap dapat menemukan seseorang yang sedari 20 menit yang lalu aku tunggu. Tapi, hingga kini orang itu belum datang. Sekarang, aku sedang berada ditaman kota. Tempat favorite-ku dengan ‘nya’ sejak beberapa bulan lalu. Aku memilih untuk duduk disebuah ayunan kecil yang tersedia disini. Dan menunggunya.

“Huhh” aku mendengus sebal, lagi-lagi dia tidak tepat waktu! Ku tundukkan wajahku saat mataku menatap sepasang kekasih yang tengah berpelukan mesra disebrang sana. Aku hanya dapat tersenyum malu, seakan mengulang memoriku. Memori tentang kejadian 10 bulan lalu, dimana semua itu terjadi. Hal yang sungguh kusesali karna akhirnya aku jatuh cinta sungguhan padanya.

-10 Months Ago-

“Ahya Kim” aku menoleh mendengar suaranya, segera kuhapus airmataku dan mulai mencoba netralkan suaraku.

“N—Ne? Sunbaenim? Ah, ani Donghae oppa” Donghae, nama pria yang sedang menatapku ini. Dia seniorku di Hankook University, kami berbeda 2 semester. Donghae sedang disemester akhir mengurus skripsinya dan aku sedang diakhir semester 4. Meski begitu, Donghae tak pernah suka jika kupanggil dia ‘Sunbaenim’ dia lebih memilih untuk memarahiku dan  memaksaku untuk memanggilnya ‘Oppa’.

“Kau—Akh, ikut aku” Donghae menarik lenganku untuk mengikutinya, aku hanya dapat berjalan pasrah. Dia marah, aku tau itu. Dan disinilah aku berada bersamanya. Taman kampus. Donghae mendudukkan tubuhnya dikursi kecil yang berada tepat dibawah pohon maple. Akupun mengikuti jejaknya, tanpa mau banyak membantah.

“Kenapa? Ada apalagi kau menangis? Orang tua-mu lagi? Atau, gadis-gadis konyol itu membully-mu lagi?” serbunya saat aku baru saja duduk tenang disampingnya. Kepalaku tertunduk dalam, aku ingin sekali menangis, tapi tidak untuk sekarang.

Hatiku mendadak kembali merasakan nyeri itu. Benar, apa yang dikatakan Lee Donghae. Gadis-gadis konyol itu kembali menyerangku. Kalian tau siapa gadis-gadis konyol itu? Yaah, mereka adalah ‘Mantan Sahabatku’. Mereka menjauhiku saat tau Ayah dan Ibuku masuk penjara karena korupsi yang mereka lakukan. Meski begitu, aku percaya pada kedua orang tuaku. Aku akan tetap membelanya meski pada kenyataannya mereka memang bersalah. Kini, tak ada lagi orang yang mau berteman denganku. Mereka menjauhiku, terlebih saat aku tiba-tiba jatuh miskin karena semua asset keluargaku disita tanpa sisa. Tapi, tidak dengan pria ini. Lee Donghae masih setia menemaniku, aku mengenalnya ketika aku sedang menjalani ospek. Sebagai wakil ketua senat, Donghae begitu baik padaku saat itu. Entahlah apa yang terjadi dengannya karna hanya ia yang bertahan untukku.

“Yak!! Kenapa melamun, huh? Aku sedang bicara padamu nona Kim” seperti tersadar, aku kembali menghela nafasku dengan berat. Aku menoleh sejenak padanya, tersenyum getir.

“Kenapa kau masih bertahan disini? Kenapa kau masih berteman denganku? Padahal kau tau betul aku ini anak tunggal dari koruptor itu” ujarku lirih, airmataku kembali melesak. Tak dapat kutahan.

“Kau bicara apa? Berhentilah bersikap seolah-olah kau begitu dibuang dari lingkungan ini nona Kim” dia meraih pundakku, menggeser tubuhku agar berhadapan dengannya. Aku terus menunduk, tapi dia mendongakkan wajahku dan menghapus airmataku dengan ibu jarinya.

“Oppa, aku—aku tidak tahan lagi berada disini. Semua orang menjauhiku, bahkan—kekasihku sendiri” nada bicaraku kembali tercekat, saat teringat jika kekasihku. Choi Minho yang tiba-tiba pergi jauh meninggalkan Korea saat mendengar kasus kedua orang tuaku seminggu setelah kedua orang tuaku diringkus polisi.

“Ahya Kim, kekasihmu tidak meninggalkanmu. Bukankah dia pergi kuliah ke Belanda untuk mengejar cita-citanya sebagai arsitek? Itukan yang dia katakan padamu? Dan bukankah, Minho juga berjanji akan kembali suatu hari nanti?”

“Kapan dia akan kembali? Ini sudah setahun lebih dia pergi, tapi tak ada kabar hingga saat ini” Airmataku kembali jatuh saat mengingat pria itu, pria yang entah masih aku cintai atau tidak hingga saat ini. Tiba-tiba Donghae memelukku erat, sangat erat. Aku terdiam merasakan kenyamanan yang tiada taranya.

“Percayalah padanya”

“Ahya Kim” panggilnya, aku bergumam tanda bahwa aku mendengarnya.

“Jadilah kekasihku” jantungku seakan berhenti bekerja normal, jantung ini berdegup cepat mendengarnya. Mataku melebar seketika. Kulepaskan pelukannya dan menatapnya dalam, meminta penjelasan.

“M—Mwo?”

“Ayolah, aku tak tega melihatmu kesepian. Aku tau kau sangat membutuhkan banyak pasokan kasih sayang, dan aku bersedia memberikannya untukmu” dia tersenyum, seperti tanpa beban Donghae mengucap kata-kata itu. Apa dia lupa jika aku dan Minho belum putus?

“Tenanglah, tak akan selamanya kita seperti itu. Aku siap kau putuskan jika suatu hari nanti Minho kembali atau mungkin disaat kau mendapatkan pangeranmu suatu hari nanti. Aku rela” Omo! Apa pria ini gila? Donghae-ssi, kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku ‘kan?

“Aku, sangat amat mencintaimu. Sejak hari itu, hari dimana kau menjadi peserta ospek. Kau tau? Kau itu gadis yang paling beruntung, karna tanpa susah payah kau mencari perhatianku pada akhirnya aku yang mencari-cari perhatianmu lebih dulu’kan?” lagi-lagi Donghae tersenyum, ingin sekali aku berbicara. Tapi lidahku begitu kelu. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

“Bagaimana? Kau menerimaku atau tidak?”

“N—ne” akhirnya kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku. Bukan! Bukan karna aku mencintainya, aku masih mencintai Minho-sepertinya-tapi karna Donghae sudah begitu baik padaku, sampai-sampai pria itu membayarakan seluruh administrasi keuangan kuliahku disemester 5 ini, lalu mencarikanku tempat pekerjaan. Aku sungguh berterima kasih padanya, mungkin dengan ini aku dapat melunasi semua kebaikannya padaku.

Donghae kembali memelukku, dan aku berharap jika ini semua akan berjalan bahkan berakhir dengan baik-baik saja.

==oOo==

“Sudah lama menunggu?” aku tersentak dari lamunanku, ternyata dia sudah datang. Lee Donghae, pria yang sejak tadi kutunggu kini sedang menyodoriku segelas Cappucinno yang mungkin tadi dibelinya dijalan.

“Kau melamun lagi? Apa yang kau pikirkan, heum?” ucapnya tanpa menatapku, karna setelah itu ia sibuk meneguk Cappucinno-nya. Donghae, begitu tampan. Rambut lurus hitamnya yang sedikit ‘acak-acakan’ membuatnya terlihat cool, mata dan hidungnya yang terlampau sempurna membuat gadis manapun akan luluh saat ditatapnya. Bibirnya yang merah dan tipis, beserta kulitnya yang putih dan halus bak porselen. Membuatnya menjadi pria idaman yang sempurna, ditambah kepiawaiannya bermain gitar beserta keahliannya dalam menciptakan lagu seakan membuatku tergila-gila padanya.

“Ahya Kim!!”

“A—ah, Mi—mianhae” Aku tergagap, aku tertangkap basah menatapi wajahnya. Ah, begitu malu rasanya.

“Aku tau aku tampan, tapi bisakah kau memberitahu ku lebih dulu jika kau ingin menatapku?”

“Eh? Kenapa begitu?”

“Aisshh! Jinja paboya. Tentu saja, agar aku dapat membenahi penampilanku! Haha” Aigoo pria ini, benar-benar! Aku tak dapat menyembunyikan tawaku, entahlah meski kedengarannya tidak lucu tapi aku tak dapat menahan senyumanku untuknya. Kini, aku benar-benar mencintainya. Aku jatuh cinta dengannya, dengan caranya ia menyayangiku hingga saat ini.

“Tak perlu, aku lebih suka kau seperti ini. Penampilan yang aut-autan dengan wajah yang terlihat stress karna pekerjaan. Hahaha”

“Mwoo? Seleramu buruk sekali nona, ini sangat tidak keren! Lain kali jika mengajakku berkencan disaat hari libur saja, jangan dijam-ku pulang kantor seperti ini” Donghae merogoh ponselnya, lalu diarahkannya layar ponsel itu didepan wajahnya. Aku hanya tersenyum refleks, saat Donghae ternyata membenahi tatanan rambutnya. Pria itu menatapi pantulan bayangannya dilayar ponselnya sembari tersenyum tak jelas. Pria ini gila, aku rasa begitu.

“Kau, memang tidak keren” dengan cepat, Donghae berhenti membenahi dirinya. Donghae menatapku dengan sebal, dan detik selanjutnya ia kembali melayangkan protes.

“Lalu? Kenapa kau menyukai penampilanku yang seperti ini huh?”

“Entah, aku pun tak tau. Aku juga tak mengerti, aku menyukaimu. Ah! Ani, aku mencintaimu Oppa” ujarku tegas, dan selanjutnya aku mengecup pinggiran bibirnya. Oh! Aku sudah gila. Dengan segera kututup wajahku dengan kedua tanganku. Donghae melongo, aku dapat melihatnya dari sela-sela jariku. Tapi detik selanjutnya dia tersenyum. Omo! Aku malu!! Dengan cepat aku berdiri dan berlari kecil meninggalkannya, aku terlanjur malu.

“Ya! Ahya Kim! Kau mau kemana? Ya!!” aku terus menjauh, tapi Donghae mengejarku.

“Dapat!” serunya, saat dengan cepat Donghae menangkapku dan memelukku dari belakang. Ah, aku memang payah untuk urusan berlari. “Setelah mencuri ciuman dariku, kini kau ingin pergi begitu saja huh? Tak bertanggung jawab sekali kau” nada bicaranya begitu mengejek. Oh Donghae ssi, kau begitu menyebalkan. Dan apa ini? sekarang dia sudah memaksaku untuk berbalik menghadapanya. Aku tak memindahkan kedua tanganku sedari tadi, tapi tangan hangatnya mencoba mengusir kedua telapak tanganku dari wajahku.

“Ah, shireo!!” ucapku saat Donghae kembali menarik tanganku.

“Waeyo?”

“Aku—aku, malu” desisku. Donghae tergelak keras, tapi kembali dia memaksaku untuk melepaskan kedua tanganku. Baiklah, Tuan Lee aku menyerah.

“Wajahmu merah sekali, layaknya tomat yang siap panen. Haha” aku memukul bahunya pelan.

“Jangan meledekku”

“Hahaha, sudah tak perlu malu. Kau itu kekasihku, jadi aku memakluminya” aku tersenyum kaku, lalu menatapnya sejenak. Mata kami bertemu, entah rasa bahagia itu muncul dari mana. Tapi yang jelas aku sangat bahagia memilikinya. Tak mau tunggu lama, aku segera menghambur kedalam pelukannya.

“Saranghae” bisiknya ditelingaku, aku terpejam. Jantungku berdetak cepat, darahku berdesir.

“Na—do, Saranghae” balasku. Untuk beberapa saat, kami kembali terdiam merasakan keheningan diantara kami. Yang terdengar hanyalah detak jantung kami yang semakin bertalu-talu.

“Kau benar-benar mencintaiku?” tanyanya membuka percakapan. Aku mengangguk dan masih betah menenggelamkan kepalaku didadanya. “Sejak kapan?” lanjutnya.

“Entah sejak kapan, mungkin sejak saat itu. Saat kau memaksaku untuk menjadi pacarmu, haha”

“Yak! Aissh”

“Oh, iya aku hampir lupa. Aku punya hadiah untukmu” lanjutnya, aku mendongak menatapnya.

“Apa?” Donghae melepaskan pelukan kami, dia membuka kancing mantelnya. Terlihat jas hitam dan kemeja birunya dari dalam, lalu tangannya merogoh saku dalam jasnya. Aku sedikit terharu saat Donghae mengeluarkan setangai bunga mawar merah. Tapi aku sedikit bergidik saat menatap tangkai itu, sangat pendek. Tidak seperti mawar pada umumnya.

“Untukmu” ucapnya dan menyodorkan mawar itu.

“Untukku? Kau sungguh-sungguh ingin memberikan itu padaku?” Donghae menaikkan satu alisnya keatas mendengar jawabanku.

“Memangnya kenapa?”

“Aigoo, kau beli dimana mawar ini? kenapa tangkainya sangat pendek?” Jawabku sembari mengamati mawar itu yang hanya mempunyai tangkai kira-kira sepanjang 10 cm. Donghae kembali tersenyum.

“Apa kau mengguntingnya?” lanjutku.

“Tentu” aku mengerutkan keningku tak mengerti.

“Kenapa?” Donghae meraih tangan kananku, memaksaku untuk ikut menggenggam mawar itu.

“Lihat ini. Jika aku memotongnya, ujung tangkai dan kelopaknya jadi tak terlalu jauh” aku terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya. Tapi aku tak mengerti maksudnya.

“Maksudnya?”

“Aissh! Begini! Anggap ujung tangkai ini adalah aku, dan kelopak indah ini adalah dirimu. Jadi, jarak kita berdua akan terus berdekatan. Meski suatu hari nanti si tangkai itu akan layu terlebih dulu ataupun kelopak mata itu yang akan gugur terlebih dulu” hatiku berubah menjadi tak tenang. Layu? Apa maksudnya itu? Dia akan meninggalkanku, ah kumohon jangan pergi Donghae ah.

“Layu? Kau akan meninggalkanku kemana memangnya?”

“Ah, baboya! Itu hanya perumpamaan” Donghae mengacak-acak rambutku gemas. Aku tak mau lagi berpikir macam-macam tentang perkataannya. Tidak, aku tidak akan pergi darinya sebelum Donghae yang akan memintanya padaku.

“Ada satu lagi, hadiahku untukmu. Tapi, pejamkan matamu” aku masih belum tersadar dari keterkejutanku, tapi kini Donghae menambahnya lagi dan aku hanya menurut, kupejamkan mataku. Pria itu berjalan kearah belakang tubuhku, aku bergeming. Bahkan saat ia menyibakkan rambut panjangku keatas pundakku. Aku tetap diam. Dan beberapa saat setelah itu aku merasa leherku seperti terasa dingin atas sentuhan suatu benda.

“Selesai” perlahan aku membuka mataku. Kutatap benda itu, yang sudah bertengger indah dileherku. Sebuah kalung dengan bandul yang membentuk huruf ‘DnA’. Aku tak dapat lagi menyembunyikan tangis kebahagiaanku, Donghae begitu romantis. Aku begitu beruntung mendapatkannya.

“Indah sekali” ucapku, Donghae menghapus airmataku.

“Jangan menangis”

“Kau begitu romantis, aku tak dapat menahan rasa haruku Oppa”

“Arra chagi. Emm, kau tau kan? D itu untuk Donghae n itu untuk ‘and’ lalu A untuk Ahya. Jadi, Donghae dan Ahya” ucapnya sembari menunjukan satu persatu huruf yang ada dibandul itu.

“Gomawo, kau begitu baik Oppa”

“He’um, kalung itu aku beli atas kerja kerasku selama sebulan ini dari gaji pertamaku sebagai seorang Manager Jeoshon Grup jadi kau harus menjaganya dengan baik. Lalu.. Maaf, aku baru bisa memberikan itu padamu. Harganya memang tak seberapa, tapi—“ Aku kembali mengecup bibirnya sekilas, agar ia berhenti bicara.

“Aku tak peduli dengan harga kalung ini, yang jelas aku sangat menyukainya dan aku pasti akan menjaganya. Terima kasih Oppa, lagipula kau sudah banyak sekali memberiku sesuatu. Dulu, kau membayarkan biaya kuliahku meski aku sudah menolaknya dan dari dulu hingga sekarang kau terus memberikanku kasih sayang dan cintamu tanpa henti. Itu sudah lebih dari cukup. Gomawo Oppa” aku menatapnya dalam, hingga cukup lama kami berpandangan dan pada akhirnya aku yang mengalah. Kupejamkan mataku perlahan saat merasakan hembusan nafasnya menerpa kulit wajahku. Akhirnya, aku merasakan kehangatan yang tiada tara saat Donghae mendaratkan bibirnya diatas bibirku.

==oOo==

“Ahya, Donghae oppa tak pernah lagi mampir kemari. Apa dia begitu sibuk dengan pekerjaan barunya?” suara Leeteuk Oppa, Owner dari restaurant tempatku bekerja. Kalian pasti heran kenapa Leeteuk dapat mengenal Donghae ‘kan? Ah, biar kujelaskan. Dulu semasa kuliah, Donghae bekerja paruh waktu disini sama seperti halnya yang sedang kulakukan ini. Donghae tidak berasal dari keluarga kaya, kehidupannya sungguh sederhana. Pria itu begitu mandiri sejak kepergian kedua orang tuanya kepangkuan sang pencipta 4 tahun lalu, tapi karna kerja kerasnya sehari setelah kelulusannya sebagai sarjana ekonomi, Donghae langsung mendapat tawaran pekerjaan. Dosen-nya yang mempromosikan Donghae pada perusahaan itu, dan akhirnya setelah menjalani rangkaian tes Donghae pun lulus dan diterima sebagai karyawan disana. Selama kurang lebih 8 bulan Donghae bekerja sangat keras sebagai staff kantor biasa, selama itu Donghae tak pernah menorehkan tinta merah diatas kertas penilaiannya. Dan akhirnya, setelah dipromosikan selama dua bulan lebih, kini Donghae diangkat menjadi seorang Manager bagian S&D (Sales And Distribution). Dia diangkat dengan hormat sebulan yang lalu, dan itu membuat hari-harinya dilalui dikantornya.

“Kurasa begitu, bahkan tak jarang dia selalu pulang larut” jawabku, dan Leeteuk hanya bisa ber ‘Oh’ ria.

“Eh, Ahya ssi. Sudah jam 6 sore, apa kau tak mau pulang?” aku menoleh menatap Leeteuk, dia adalah seorang sajang yang begitu frendly bahkan dia tak pernah menjaga jarak sedikitpun pada karyawannya.

“Benarkah sajangnim? Ah, baiklah sebentar lagi” sahutku sambil meneruskan mengelap meja yang ada dihadapanku ini, sebenarnya tugasku adalah seorang kasir. Tapi selagi pelangan sepi, aku memilih untuk membersihkan meja-meja sembari membantu karyawan yang lain dari pada berdiam diri dibalik counter kasir.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Dan sampaikan salamku pada kekasihmu ne, suruh dia mampir sesekali” ucapnya sembari berjalan menjauh. Aku pun hanya mengiyakannya.

Sepulang bekerja, aku tak langsung kembali kerumah aku memilih untuk berbelanja disupermarket dan membeli beberapa bahan makanan. Entah kenapa rasanya hari ini, aku sangat ingin memasak untuk Donghae dan berhubung pria itu pulang pukul 8 nanti jadi aku punya sedikit waktu untuk memasak.

Aku memilih beberapa sayuran segar yang berjejer rapih dietalase, juga beberapa daging segar dan memasukkannya kedalam keranjang. Tak perlu waktu yang lama, kini aku sudah keluar dari supermarket itu. Aku berjalan dengan senyuman yang merekah, setelah seminggu lebih aku tak bertemu dengannya akhirnya malam ini aku akan bertemu dengan kekasihku. Ah, aku begitu merindukannya. Selama seminggu terakhir, aku hanya dapat menatap wajahnya dari layar ponselku saja. Begitu juga dengan suaranya. Entah bagaimana keadaanku nanti saat kita tak bersama, saat diantara kami memutuskan untuk pergi. Ah, pikiran apa itu? Kami tak akan berpisah!!

“Ahya ssi?” aku berbalik saat seseorang memanggilku, suara itu sepertinya tak begitu asing ditelingaku.

“Kau, masih ingat denganku?” ucap pria dihadapanku ini, dan perlahan ia melepaskan masker biru yang menutupi wajahnya. Aku mencelos, dadaku bergemuruh. Minho, Choi Minho.. Dia kembali. Dan dadaku bergemuruh, bukan karna rasa cinta. Tapi rasa marah, marah karna ia pergi meninggalkanku sendirian.

“Mi—Minho ssi?” dia mengangguk, lalu memelukku erat. Aku tak dapat berbuat apapun, aku terlalu bingung untuk mengantisipasi ini sebelumnya.

“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu” entah kenapa airmataku mengalir tanpa sebab. Mungkin karna aku tak kuasa menahan amarahku untuk pria ini, karna aku tak dapat mengeluarkannya dengan kata-kata jadi aku hanya dapat menangis kecewa.

“Minho-ssi”

“Kau, masih kekasihku ‘kan?” jantungku berdetak tak karuan, aku tak tau harus menjawab apa. Haruskah aku mengatakan semuanya? Jika aku, aku sudah mendapatkan penggantinya? Atau lebih tepatnya, aku sudah berselingkuh dibelakangnya? Ah, ini gila.

“A—eum, bagaimana kabarmu? Lama tak bertemu” aku berusaha mengalihkan pembicaraan, walau aku tau Minho tak mungkin melupakan topik pembicaraan dengan mudah.

“Tentu saja baik. Lalu bagaimana denganmu?”

“Yah, kau bisa lihat sendirikan?” balasku, huh sukurlah ia mengalihkannya.

“Lalu, bagaimana kabar Ayah dan Ibu-mu? Mereka baik-baik sajakan?” aku terdiam, tentu saja mereka baik. Tapi yang jelas, mereka kecewa padamu karna kau pergi begitu saja meninggalkanku sendiri disaat aku sedang terpuruk.

“Mereka selalu baik—“

“Ah, sebentar” Minho merogoh saku celananya saat benda itu berbunyi dan menjawab panggilan masuk. Beberapa saat Minho kembali terfokus padaku.

“Aku harus segera pergi, tapi kita harus bertemu lagi nanti. Katakan, berapa nomer ponselmu” aku tak dapat menolak, entahlah kenapa. Setelah menyebutkan nomer ponselku, Minho pun tersenyum dan mengecup keningku sekilas.

“Sampai jumpa, sayang” ucapnya dan berjalan jauh.

==oOo==

Kutekan beberapa angka yang tersedia dipintu apartment mewah milik Donghae, aku sudah hafal passcode apartment ini. Kini hidup Donghae sudah sangat berubah 180 derajat, dari yang tadinya cukup kini menjadi lebih. Bahkan, apartment ini adalah hadiah dari perusahaan karna prestasi kerjanya walau baru bekerja beberapa waktu. Sungguh mengejutkan.

Segera kuracik bahan makanan ini dengan cepat, karna waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Sesekali pikiranku terbelah dua, setelah pertemuanku dengan Minho tadi. Setelah ini, apa yang harus kukatakan pada Minho? Dan juga… Donghae?

Ah, aku pusing.

“Huuuah, semuanya akan baik-baik saja! Ayolah, baik-baik saja!”

“Memangnya ada apa?” Oh God! Donghae sudah pulang, bahkan kini dia sedang memelukku dari belakang. “Ada apa, humm?” lanjutnya saat aku masih terdiam. Matilah kau Ahya Kim!

“A—ani, hanya saja. Tadi—tadi aku memecahkan gelas direstaurant, aku takut Leeteuk Oppa akan memecatku” kilahku. Oh, alasan apa ini? Yah, semoga Donghae percaya dengan itu.

“Hahah, Leeteuk hyung tak akan memecatmu  hanya karna hal sepele!” aku menoleh, menatap wajahnya yang sedang bergelayut manja dipundakku dengan tangannya yang memeluk tubuhku posesif.

“Benarkah?”

“Percaya padaku” Aku dan Donghae kembali tersenyum, perlahan kepalanya mendekat. Aku tau maksudnya, maka dengan senang hati kupejamkan kelopak mataku. Membiarkan Donghae menjelajahi wajahku, aku merindukannya. Tapi, aku teringat jika kau sedang memasak. Dengan segera kutarik wajahku, membuat tautan kami terlepas. Wajahnya merengut kesal. Hahah, lucu sekali.

“Mandilah dulu, setelah itu kita makan” kulepaskan rengkuhan tangannya, dan berjalan menuju lemari penyimpanan piring. Meski berdecak kesal, tapi toh Donghae menurut. Aku sangat menyukai sikapnya, terkadang ia begitu dewasa tapi tak jarang juga pria itu merajuk layaknya anak kecil yang sedang mengambek.

“Bogosieoppoh..” lagi-lagi jantungku hampir copot karna ulahnya. Donghae memelukku lagi dari belakang. “Nadooo chagiii” balasku dengan suara seperti anak kecil. Aah, walaupun aneh setidaknya itu terdengar menggemaskan bukan? Haha.

“Mari kita makan!!” perintahku dan dengan cepat pria itu duduk tenang dibangku yang berhadapan langsung denganku. Donghae memakan makanan yang sudah kusediakan dengan lahap, bahkan sungguh lahap.

“Ya! Manager, kau itu seperti orang yang tak mendapatkan makanan berminggu-minggu” candaku, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum sejenak lalu kembali memasukkan nasi kedalam mulutnya. Entah kenapa bayangan Minho kembali hadir dibenakku, selera makanku jadi menguap begitu saja layaknya embun pagi. Kutatap baik-baik wajah pria yang sangat kucintai ini. Reaksi apa yang akan kulihat darinya nanti, saat tau jika Minho sudah kembali ke Korea? Apa dia, akan menahanku agar tetap bersamanya. Atau, justru dia malah menyerahkanku kembali pada Minho? Oh, entahlah. Apapun itu, aku harap yang terbaik. Tapi jujur, aku tak yakin bisa hidup tanpa kehadirannya. Donghae bagai candu bagiku.

“Ini sangat enak! Seminggu belakangan aku hanya dapat mengkonsumsi fast food, akh sungguh bosan” gerutunya masih terfokus pada makanan yang kubuat.

“Oppa, aku merindukanmu. Apa setelah ini, kau akan kembali pulang larut? Dan bertemu padaku satu minggu sekali?” ucapku tanpa sadar, aku sangat tidak ingin kehilangannya. Donghae, sesosok pria yang selalu ada disisiku disaat aku sedang sedih, terpuruk dan bahkan bahagia sekalipun dia tetap setia disampingku. Aku tak mungkin membuangnya begitu saja saat Minho kembali. Tidak, yang jelas aku akan tetap memilih Donghae.

“Kalau begitu. Kau tinggallah disini bersamaku, aku tau dikamar sewa-mu sangat tidak nyaman. Dingin, dan seorang diri. Kau, kesepian kan?” pria itu menatapku serius. Jangan gila Donghae-ah, mana mungkin aku tinggal satu atap denganmu dengan hanya berstatuskan ‘sepasang kekasih’ apa kata orang nanti?

“Andwee”

“Wae? Disini ada dua kamar, aku bukan pria brengsek yang menyuruhmu tidur satu ranjang denganku. Aku masih tau batas nona Kim”

“Arraseo. Meski begitu, para tetanggamu pasti mengira jika kita melakukan yang tidak-tidak. Haaah, aku malas mendengar cacian seperti itu” Donghae meletakkan alat makannya, tangannya merambat menuju tanganku. Setelah dapat, dia menggenggamnya dengan erat.

“Disini berbeda. Mereka tak pernah mau mengurusi kehidupan tetangganya. Kita seperti hidup masing-masing disini. Oh, ayolah. Aku juga tak ingin menjadi gila karna rinduku yang harus kutahan setiap harinya. Kau hanya perlu menungguku pulang, lalu memasakkan makanan yang enak untukku. Dan kalau bisa kau berhenti bekerja, kau hanya perlu fokus pada kuliahmu dan juga skripsimu. Masalah biaya, aku yakin aku bisa menghidupimu dengan layak. Tak perlu khawatir”

“Jika seperti itu, kenapa tidak sekalian menikahiku saja? Huh?” tantangku.

“Kau sudah siap untuk itu? Benarkah? Apa kau tak ingin menyelesaikan sekolahmu dulu? Kau tak ingin meraih karirmu dulu?” aku terdiam, ah Donghae benar. Bukankah, aku harus meraih cita-citaku terlebih dulu?

“Kau benar” aku menunduk, sebenarnya aku kecewa. Sangat bahkan, karna secara tidak langsung Donghae menolak menikah denganku. Tapi yasudahlah, ini demi kebaikanku juga.

“Oppa..” panggilku, dia pun menoleh. Menatapku.

“Ah, ani” lanjutku, entahlah sepertinya aku sudah kehabisan kata-kata saat menatapnya. Sebenarnya aku ingin mengatakan jika Minho sudah kembali, tapi seperti ada jutaan makhluk yang menahan lidahku untuk tak mengeluarkan kata-kata itu. Biarlah, biarkan Donghae mengetahuinya sendiri.

“Kau aneh!” cibirnya dan melanjutkan makannya.

                                                                                                           ==oOo==

“Ah, malas sekali” kutarik lagi selimut putih tebalku hingga menutupi sebatas leherku, perlahan kucoba untuk memejamkan mataku kembali. Hari ini, hari selasa dan seperti biasa aku mendapat jatah libur. Maka dari itu aku hanya berniat untuk bermalas-malasan dirumah berhubung hari ini juga aku tidak ada jadwal kuliah. Baru sekejap mataku tertutup tapi suara ponselku sudah menganggu.

“Aisssh! Mengganggu” kuraba-raba sebelah bantalku, setelah dapat segera kujawab panggilan tersebut tanpa melihat nama panggilan itu.

“Yeobseo”

“Yeobseo, sayang? Kau sibuk hari ini? Bisa kita bertemu sekarang?” mataku terbelalak lebar saat mendengarnya. ‘Sayang?’ ah, dia. Minho. Aku sangat hafal suara pria ini meski sudah hampir 2 tahun tak mendengarnya, untuk apa dia menghubungiku?

“Ahya, kau masih disana?” suara itu terdengar lagi, aku menjauhkan ponselku sejenak untuk melihat nomer yang menghubungiku. Tanpa nama, alias tak terdapat dalam kontakku.

“Nugu?” Bodoh! Untuk apa kau menanyakan namanya? Oh, ayolah hanya untuk memastikan.

“Kau lupa? Ini aku, kekasihmu” Cih! Kekasih? Setelah meniggalkanku seorang diri, ternyata kau masih punya keberanian untuk memanggilku kekasih rupanya Minho-ssi.

“O—oh, baiklah bertemu dimana?”

“Ramyun Shop saja, sembari makan siang bersama” balasnya.

“Ne, baiklah” setelah itu tak lagi terdengar suara Minho disana. Hanya sunyi yang terdengar, setelah kulihat layar ponselku ternyata sambungan sudah terputus. Ah, Minho begitu berbeda dengan Donghae. Sangat berbeda, dulu sebelum Donghae hadir mungkin aku sudah sangat terbiasa dengan sikapnya yang cuek. Tapi kini berbeda, kehadiran Donghae merubah segalanya. Aku sudah terlanjur terbiasa dengan seseorang yang selalu perhatian padaku, yang selalu mengalah untukku dan yang selalu menghargai perasaanku. Perasaanku seakan mati untuk Minho.

Dengan malas, akupun beranjak dari tidurku dan membenahi tubuhku. Setelah selesai, akupun mencoba menghubungi Donghae. Tapi, ternyata pria itu sudah menghubungiku terlebih dulu. Tanpa sadar aku kembali tersenyum.

“Yeobseo”

“Yeobseo chagi. Kau sedang apa?” tanyanya, aku terdiam kaku. Entah apa yang membuatku seperti ini, aku tak dapat menjawabnya. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya jika aku sedang bersiap-siap untuk bertemu lelaki lain? Ah, mati kau Ahya Kim.

“Tentu, sedang tenggelam dibalik selimut. Hehe”

“Omo! Ini sudah siang. Hey badak!! Bangunlah dan bersihkan tubuhmu”

“Ah aku malas sekali. Hem, lalu kau sedang apa?”

“Aku sedang menunggu rekanku, kami akan makan siang bersama diluar”

“Rekan? Perempuan atau laki-laki?” tanyaku penuh tekanan, takut-takut dia malah makan siang bersama dengan gadis lain.

“Perempuan!”

“Yak!! Kauuuuuu”

“Aku bercanda nona Kim. Hahah, sebegitu khawatirkah kau jika aku keluar dengan gadis lain?” haaah, saat mendengar itu rasanya lega sekali. Terdengar egois memang, karna aku tak pernah rela melihatnya bersama gadis lain. Sedangkan aku?

“Dasar menyebalkan! Hah, yasudah aku mandi dulu. Byeee”

“Ne, byee”

==oOo==

Sosoknya tak pernah berubah sejak 2 tahun lalu. Masih sama. Sikapnya yang cuek, tak peduli dan terkesan misterius masih lengket pada sosok Minho dihadapanku ini. Sesampainya aku disini, kami belum mengobrol panjang lebar. Hanya sedikit percakapan yang kita mulai. Karna Minho sudah memesan makanan terlebih dulu, jadi mungkin lebih baik kami makan terlebih dulu.

Well, kini nafsu makanku sudah lenyap tak tersisa. Hanya tiga sendok ramen yang melewati kerongkonganku dan mengisi ruang kosong dilambungku, tapi rasanya perutku sudah tak ingin lagi dimasuki makanan. Sekarang, aku hanya ingin mendengar sesuatu yang penting yang bicarakan pria ini ditelpon tadi.

“Minho-ssi..” dia mendongak, menatapku.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah, waktuku tak banyak” kuhempaskan nafasku perlahan, dan Minho pun mulai menyudahi kegiatan makan siangnya. Dia menatapku sekilas, dan meminum orange squash yang tadi dipesannya. Entah datang dari mana, yang jelas kini perasaanku berubah menjadi keruh. Aku gelisah, kutolehkan wajahku kesekitar. Tidak. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada orang yang aku kenal, disini mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Entah kenapa, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku. Tapi siapa?

“Mari kita menikah” kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata itu sukses membuatku melongo sejenak. Menikah? Apa pria ini gila? Setelah meninggalkanku selama 2 tahun, kini dengan gampang dia mengajakku menikah?

“A—apa? Kau—kau, serius?” Minho mengangguk dan perlahan kurasakan tangannya menggenggam tanganku. Jantungku berdebar cepat. Sekali lagi, ini bukan berdebar karna cinta. Tapi, kecewa dan juga takut. Kecewa? Jelas, aku kecewa padanya. Karna aku pikir Minho akan menanyakan perasaanku padanya 2 tahun terakhir ini. Tapi kenyataanya? Minho tak peduli dengan perasaanku. Dan, aku takut? Pasti! Aku takut harus menghadapi Donghae setelah ini. Aku takut, jika setelah mendengar semuanya Donghae justru mundur dari kehidupanku dan melepasku untuk Minho. Aku takut sekali.

“Ma—maaf. Aku tidak bisa” tenggorokanku seperti tersumpal batu besar. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku katakan, tapi semua kata-kata yang sudah kusiapkan seakan terbang melayang saat aku menatap bayangan siluet –seperti-Lee Donghae yang berjalan keluar dari pintu kaca itu. Jantungku bergedup cepat. Donghae? Apa itu benar dia?

“Kenapa?” tak kuhiraukan ucapan Minho barusan, karna mataku masih menatap kearah pintu masuk restoran ini. Dengan segera aku bangkit dari dudukku, dan berjalan meninggalkan Minho.

“Hei, tunggu” aku tak peduli lagi dengan Minho. Terus kulangkahkan kakiku, dengan sedikit tergesa aku mencoba menyusuri jalanan itu dan berharap dapat menemukan orang yang sejak tadi mengganggu pikiranku.

Baiklah aku menyerah. Sedari tadi aku mencoba mengedarkan pandanganku, tapi tak menemukan orang yang kumaksud sejak tadi. Mungkin, itu hanya halusinasi-ku saja. Ah, semoga. Semoga itu bukan Donghae. Karna jika Donghae tau, maka berakhirlah sudah semuanya. Dan aku tak mau itu terjadi.

Hanya sekedar memastikan. Dengan gemetar, kuraih ponselku dan memencet Speed Dial number 1 yang langsung terhubung pada nomer ponsel Donghae. Sembari menunggu jawaban darinya, aku terus berdoa jika Donghae tidak sedang keluar kantor. Ah, bodoh! Bukankah tadi Donghae bilang jika dia akan makan siang diluar bersama rekannya? Ah, Tuhan… Aku mohon, tadi hanya halusinasi-ku saja.

“Yeobseo” suara serak itu terdengar dielingaku. Nadanya masih halus seperti biasa, tak ada yang berubah. Tiba-tiba beban didadaku berkurang sedikit saat mendengar suaranya.

“Ah, ne. Yeobseo”

“Ada apa?”

“Ah, tidak. Kau ada dimana sekarang?”

“Aku sedang dikantor. Memangnya kenapa?” haaaah. Syukurlah.

“Dikantor? Bukan kau bilang tadi ingin makan diluar?”

“Ne. Sudah kembali sejak tadi. Kau kenapa? Seperti sedang khawatir” jantungku berdebar. Aduh, harusnya aku tak perlu menannyakan hal itu.

“Ah, tidak. Tadi aku seperti melihatmu”

“Dimana?”

“Di—di. Di minimarket” kugigit bibir bawahku sendiri. Aku sudah terlalu banya berbohong padanya. Maafkan aku Hae.

“Ouh. Itu tandanya kau merindukanku. Hehe”

“Aku memang merindukanmu”

“Kalau begitu. Nanti malam kita bertemu ditaman biasa? Bagaimana?”

“Baiklah! Jam 7 malam”

“Oke! Sampai jumpa nanti malam. Dan jangan telat!”

Sesaat setelah sambungan telpo itu terputus. Lagi-lagi gelombang itu datang. Dan kini rasanya lebih dahsyat. Gelombang ke-khawatiran yang tiba-tiba hadir dibenakku seakan menyudutkanku untuk mengatakan semuanya. Tapi, disaat tekadku terasa bulat. Disaat itu juga firasat buruk itu semakin kuat. Ada apa ini?

“Ahya Kim!” pundakku terasa sedikit memberat. Aku tak menoleh sedikitpun saat mendengar suaranya. Aku tau dia. Minho mengejarku. Entah mengapa rasanya aku begitu malas untuk menatap wajahnya barang sebentar saja.

“Apa lagi?”

“Kenapa kau menolak ajakkan-ku?” ahh, tapi kali ini aku harus menatapnya dan menjelaskan semuanya. Semua kejadian yang terjadi padaku selama Minho pergi dariku.

“Maaf”

“Untuk apa?” Minho mendongakkan wajahku, memaksaku untuk menatapnya.

“Aku sudah tak mencintaimu!!” Minho terdiam, sejenak dapat kutangkap ekspressi terluka dari wajahnya.

“Karna, selama kau pergi dari sini ada seorang pria yang merangkulku. Pria itu selalu mendampingiku selama dua tahun belakangan. Dia selalu menghapus airmataku disaat aku menangis karna dirimu. Dia dengan setia menemaniku saat aku mengunjungi Ayah dan Ibu dipenjara. Dia selalu memberiku kasih sayang yang tulus padaku, memperhatikanku tanpa jeda. Dan dia juga yang sudah menggantikanmu dihatiku” airmataku jatuh tak tertahan. Biar, biarlah Minho tau semuanya. Semua yang aku rasakan selama dia tak ada disini. Semoga Minho dapat mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku yang begitu terluka disini.

“Maafkan aku Minho-ssi. Mungkin aku mengkhianatimu, tapi ini juga karna mu! Kau pergi dengan tiba-tiba dan selama itu pula kau tak pernah memberi kabar padaku sedikitpun. Dan sejak itu aku sudah menganggap jika hubungan kita putus saat itu juga” rasa sakitku bertambah semakin menjadi. Karna secara tidak langsung, Minho memaksaku untuk mengingat masa lalu. Masa yang begitu indah. Tapi, menurutku sekarang ini jauh lebih indah dari masa lalu. Perlahan, tubuh Minho seakan makin mendekat. Minho memelukku dengan erat.

“Aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu bodoh disini. Saat itu, orang tua-ku memaksaku untuk segera pergi ke Belanda tanpa memberiku celah untuk menemuimu lebih lama. Aku tak bisa menolak, karna Ayahku sudah kritis di Belanda karna sakit Diabets kronis yang dideritanya. Dan saat itu aku juga tak sempat mengatakan alasanku pergi padamu, karna waktu yang tak memungkinkan”

“Sekali lagi, maafkan aku. Ahya-ah” lanjutnya dengan nada suara yang gemetar. Aku tau, kini Minho sedang menahan emosinya.

“Aku tak akan menjadi pria egois, kau tenang saja. Kuharap kau selalu bahagia dengannya” Minho melepaskan pelukannya dan membiarkan kita saling menatap satu sama lain.

“Tapi satu hal yang harus kau ingat. Bahwa, sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu. Mungkin dengan sikap cuek yang kumiliki kau beranggapan jika aku tak memperdulikanmu. Tapi jika kau beranggapan seperti itu yang jelas kau salah besar. Karna, sejak pertemuan kita malam itu aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku selalu mencari tau dimana tempat tinggalmu dan bagaimana kehidupanmu”

“Minho-ssi” jujur, aku masih tak percaya dengan semua perkataannya. Bagaimanapun, aku tau Minho luar dalam. Tapi aku tak tau jika pria ini sudah berubah menjadi lebih baik.

“Dan, aku tau pria itu. Dia Lee Donghae ‘kan? Dia seniormu dikampus dulu. Ahh, yang jelas aku tau semua tentang kalian berdua. Dan tadi, saat aku melamarmu..” Minho menggantungkan kalimatnya. Melamar? Cih, jadi begitu caranya Minho melamar seorang gadis? Hanya dengan 3 kata yang tak ada romatisnya sedikitpun. Aku rasa bukan hanya aku yang akan menolaknya tapi semua gadis yang dilamarnya dengan cara seperti itu.

“Tadi sebenarnya salah satu usahaku untuk mendapatkanmu kembali. Tapi pada kenyataannya sia-sia. Karna aku tau sekarang. Kau begitu mencintainya. Well, bahagia-lah dengannya” Minho tersenyum diakhir kalimatnya. Dan aku masih termanggu dalam benakku yang sedikit kusut. Pikiranku begitu bercabang saat ini, Minho dan Donghae. Tepukan tangan Minho dibahuku seakan menghantarkan ku kembali kedunia nyata. Entah bagaimana aku harus berterima kasih pada Minho yang sudah merelakan semuanya. Yang jelas, aku sangat bahagia dan berharap malam ini Donghae akan mendengarkan ceritaku dengan baik tentang pertemuanku dan Minho.

==oOo==

Aku terdiam didepan pintu masuk taman, entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Yang jelas, semuanya terasa kacau balau. Bahkan mataku lebih memilih untuk menatap bus yang baru saja menurunkanku didisini.

“Haaah. Perasaan apa ini? Ayolah, jelaskan semuanya dan setelah ini tak akan ada lagi bayang-bayang Minho dihubungan kami” aku tersenyum dan tanpa aba-aba, tanganku mengepal lalu terangkat keudara. Memberi semangat untuk diri sediri. Akupun berjalan perlahan, dan jam juga sudah menunjukka pukul setengah 7 kurang. Haah, biarlah. Lagi pula, Donghae belum tentu sudah datang. Pria itukan selalu telat.

Sepuluh langkah pertama, aku masih berjalan dengan baik.  Tapi, beberapa langkah berikutnya, aku tak bisa lagi menahan tubuhku untuk tidak berlari. Terlebih saat mataku menatap sesosok pria tampan dengan setelan jas hitam yang masih melekat ditubuhnya. Sosok itu sedang duduk dibangku taman dengan segelas cappucinno ditangannya, dan disebelahnya ada segelas cappucinno lagi yang pastinya itu untukku.

Aku mati-matian menahan langkahku untuk tidak berlari, karna aku masih ingin mengerjainya. Maka dari itu, aku semakin memperlambat langkah kakiku. Mataku terus tertuju pada Donghae. Senyumanku masih enggan pergi sejak melihatnya menungguku. Ini benar-benar pengalaman langka, karna biasanya aku-lah yang selalu menunggunya. Lamat-lamat kutatap raut wajahnya yang semakin lama semakin jelas. Senyumanku luntur saat menyadari raut wajahanya. Pandangannya kosong, dan lurus menatap ketanah. Tatapannya seperti sarat dengan beban. Perasaanku semakin tak karuan, tak biasanya Donghae seperti itu.

Mau tak mau, aku justru berlari menghampirinya. Aku berdiri tepat dihadapannya. Perlahan, kepalanya terangkat menatapku. Raut wajahnya berubah dengan cepat! Kini Donghae memasang wajah sebal.

“Jam 7 lewat 39 menit 12 detik. Itu tandanya kau terlambat 39 menit 12 detik Nona Kim” ujarnya sembari menatap jam ditangannya sebentar. Setelah itu, Donghae malah merubah gaya duduknya. Ah ani, dia justru berdiri dari duduknya. Donghae memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan berjalan kecil kearah belakang tubuhku.

“Maaf. Tapi ini baru pertama kali untukku. Karna selama ini, kau yang selalu terlambat” ucapku dan mencoba melihatnya. Tapi ternyata Donghae sedang memunggungiku, kepalanya menengadah keatas. Menatap langit malam yang tak begitu cerah, karna sang rembulan hadir seorang diri tanpa ditemani bintang-bintang.

“Eh, tapi selama ini kau tak pernah meminta maaf jika terlambat. Jadi aku menarik permintaan maafku tadi!” Donghae masih terdiam dengan posisi yang sama, sepertinya ada yang berbeda darinya. Entah kenapa aku merasa Donghae sedikit ‘dingin’ malam ini.

“Ya! Lee Donghae! Kau mendengarku tidak?!” ucapku lagi dengan nada yang kesal. Ya! Aku kesal diabaikan.

“Berhentilah marah-marah. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu” untuk beberapa saat Donghae masih dalam posisinya. Tapi, beberapa detik kemudian Donghae menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Tatapan yang tak pernah kujumpai darinya sejak bertahun-tahun lalu. Ini pertama kalinya untukku mendapatkan tatapan yang begitu menusuk hati darinya.

“Kau kenapa?” tanyaku to the point.

“Boleh aku minta sesuatu padamu?” aku mengangguk. Sejenak, Donghae memejamkan matanya. Tenggorokkannya bergerak keatas dan kebawah seakan sulit untuk mengucapkan kalimat berikutnya. Jantungku berdebar dan gelombang itu datang lagi. Firasat buruk itu menghampiriku lagi.

“Aku ingin berpisah” seperti tersambar petir disiang hari saat mendengarnya. Tubuhku seakan melemas seketika, semua tulangku seakan ingin pergi dari susunan rangka ini. Apa yang dia katakan? Kumohon, jika itu hanya leluconmu.

“A—apa? Ke—kenapa?” aku tak banyak mengeluarkan suara, karna memang rasanya sulit. Donghae kembali menatap mataku, tangannya meremas pelan kedua bahuku.

“Bukankah, Minho sudah kembali?” Deg! Jadi—jadi, bayangan tadi benar dirinya? Jadi, tadi kau berbohong padaku Donghae ssi?

“Ne, maaf aku berbohong padamu. Tadi, bayangan tadi benar diriku. Dan, aku sedikit kecewa padamu. Kenapa kau tak jujur selama ini? jika Minho sudah kembali” ujarnya seakan dapat membaca tatapan mataku.

“Karna aku hanya tidak ingin kehilanganmu” kulihat Donghae justru tertawa meremehkan saat mendengar jawabanku.

“Cih, kau egois kalau begitu”

“Kenapa? Begitu?”

“Kau tidak memikirkan perasaan Minho? Aku juga seorang lelaki, jadi aku tau bagaimana rasanya disakiti. Akh, aku menyesal sekarang” Donghae menarik tangannya dibahuku, tubuhnya berbalik memunggungiku. Kedua tangannya mengepal. Donghae, berubah. Dia bukan Donghae yang kukenal..

“Jadi kau menyesal dengan idemu sendiri? Tapi sayang, semuanya sudah terlambat” airmataku jatuh juga. Dadaku naik turun menahan semua gejolak dihatiku. Aku marah, kecewa dan takut dengan semua ini. Aku sangat tidak siap untuk kehilanganmu Donghae ah.

“Tidak! Semuanya belum terlambat. Kembalilah padanya”

“Andwee!! Aku hanya mencintaimu. Dan masalah Minho aku sudah berakhir dengannya. Aku memilih untuk tetap bersamamu.. Jadi kumohon jangan katakan yang tidak-tidak”

“Apa? Hal bodoh apa lagi yang kau lakukan, huh?” Donghae kembali menghadapku, menghujamkan tatapan dingin dan marah padaku. Kenapa dia begitu? Donghae berubah, benar-benar berubah.

“Hal bodoh katamu?”

“Iya! Hal-bodoh! Apa kau lupa, jika kita bersama hanya sampai Minho kembali huh?”

“Aku ingat! Sangat ingat! Tapi aku tak mau bersamanya, aku sudah tak mencintainya. Aku hanya mencintaimu sekarang. Apa aku salah jika aku bertahan untukmu?”

“Jelas kau salah”

“Kenapa? Salahku dimana?”

“Karna aku sudah mendapatkan penggantimu” timah panas menyiram hatiku saat itu juga. Sakit dan perih mendominasi hatiku. Aku terluka, sangat terluka mendengarnya. Jadi, selama ini Donghae diam-diam memiliki simpanan? Tapi aku tak percaya. Aku tak percaya jika Donghae tega melakukan itu padaku. Aku yakin, Donghae tak melakukannya.

Airmataku terus berjatuhan, dengan sisi mataku yang sedikit buram karna airmata tapi aku masih bisa menangkap jelas kedua bola mata Donghae. Ah, sial! Aku tak pandai membaca gerakan mata seseorang, tapi aku yakin jika kata-kata tadi adalah hasil karangannya.

“Berhenti mengucapkan omong kosong! Aku tak mau mendengarnya lagi!” kugelenggakan kepalaku berharap ini semua hanya mimpi. Tapi ini kenyataan, kenyataan terburuk yang pernah kualami.

“Maaf, maafkan aku. Kita harus berpisah” ujarnya lagi.

“Oppa! Donghae Oppa!” aku menoleh mendengar suara seorang gadis yang memanggil namanya dari kejauhan. Aku menatap gadis itu, mencoba mengenali wajahnya. Ah, tapi sayang aku tak mengenalnya sama sekali. Dia, gadis itu merangkul lengan Donghae dengan mesra. Oh Tuhan, apalagi ini?

“Kenapa lama sekali? Aku bosan menunggumu dimobil, jadi aku menyusulmu kesini” suara gadis itu begitu manja, membuat sesuatu didadaku terasa terbakar. Ingin sekali aku mencabik-cabik wajahnya. Aaaaarrgh.

“Sabar Chagi-a” Mwooooooo? Chagii? Jadi, jadi Donghae tak bergurau saat mengatakan jika dia sudah memiliki yang lain? oh, God.

“Donghae—ah” panggilku lemah, airmataku semakin deras mengucur. Luka dihatiku seakan tersiram air garam. Perih berkali-kali lipat menghampiriku.

“I’m sorry, goodbye” desisnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Tanpa berpikir ribuan kali, aku berjalan mendekat kearahnya. Satu tamparan dengan sempurna mendarat dipipinya. Gadis itu hanya melongo melihatnya begitu juga dengan Lee Donghae. Sang pembohong besar.

“Oppa, gwenchana? Kau siapa huh? Kenapa kau menampar kekasihku hah?!” aku tersenyum miris mendengarnya. Kekasihmu? Dia kekasihku!!! Ingin sekali aku berteriak, tapi rasanya tak bisa.

“Semoga kalian bahagia” ucapku sembari tersenyum tipis. Dan beranjak pergi dari tempat itu, aku berlari sekencang-kencangnya dengan airmata yang belum terhapus sejak tadi.

Aku tak menyangka denganmu Lee Donghae. Beberapa waktu yang lalu kau masih bisa mengatakan jika kau mencintaiku, tapi nyatanya kau mengkhinatiku. Beberapa waktu yang lalu, kau masih bisa memberiku perhatian yang lebih tapi nyatanya kau membuangku. Aku kecewa padamu. Aku benci padamu!!!

Tuhan!! Aku mohon, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

THE END..

Gimana? Gimana? Gimana?

Ancurrr kan? Heheheheee.

Ayo dikoment yaaa, nanti kalo banyak yang komen bakal aku buatin Squelnya😄 hihihiiii. Don’t Be Silent Reader yaaa^^

Thanks ya buat yang udh sempetin baca, apa lagi sempetin komen😀 Thanksss bangeet *cipok*

Sampai jumpa di FF-ku berikutnya yaa😀

Add/Follow Author Yuks..

FB :  Cahya IL

Twitter : @Me_Cahyaa

Gomawo^^

8 thoughts on “MY LITTLE STORY | Oneshoot

  1. oommmoo…sad bnget endingnya thorr ,ksiann ama ahyaa eonni, gga’ yakin klw haeppa punya slingkuhan ,psti cman setingan ..iyaa kan thor??

    Ayo dong bkim sequel ..bkin mreka brsatu yakk plisss ..author cantikk dehh bnerann #mata_genit😀

  2. kenapa begini?? aku gak yakin kalo haeppa punya pacar,bilang ke aku thor kalo itu cuma pura2 biar ahya mau lepasin hae, duh sedih banget padahal mereka saling mencintai,wajib sequel thor

  3. Ahya kim milih donghae ketimbang minho
    Tapi malahan donghae yang ninggalin ahya..
    Kasian banget ahya..

    Sedih banget…

  4. tor aku pengen lanjutan nya dong ga seru klo kaya gini jadi bikin kesel geregett sama donghae oppa nyaaa…#mianhae oppa😦😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s