“Lovely Sunbae” ‘twoshooot’ (Part 1)

 

yeprop_283366638495498_820803500_n

Yeseo Couple  “Lovely Sunbae”  ‘twoshooot’ part 1

Author    : ArVi

Cast    :
·    Kim Jong Woon
·    Song Eunseo

Gendre    : School Life

Additional Cast    :
·    Song Jong Ki
·    Lee Hyuk Jae
·    Amber Liu Josephine
·    Hwang Rae Ha

P/S    :
Hahaha dengan sangat menyesal, saya mengakui kebodohan super akut yang saya miliki
-_-,
Oh My Moon.., aku baru menyadari kalau Yeye lebih tua dari abang Joong-Ki.:/
Aku baru sadar….. hueee..

HAPPY READING ~~

-Hondam High School-

[pukul 8.00 pagi]

Disuatu ruangan kelas, tampak beberapa siswa tengah serius mendengarkan penjelasan dipapan tulis dari seorang guru berkaca dan bertubuh tambun. Park Songsaenim. Guru yang tampak menyenangkan tapi serius jika menyangkut masalah disiplin. Ia sedang mengajarkan mata pelajaran Pendidikan kedaulatan hukum yang sangat disukai  -Eunseo- ,yeoja itu nampak berkonsentrasi, tak ada 1 skema pandangan pun yang lolos dari koneksi antara retina dan papan tulis, bahkan kegiatan seorang yeoja berambut sebahu dengan bando pita pink pun  sengaja ia abaikan.

“hey murid baru, jadi kau saudara kembarnya Joong Ki ssi dari Amerika?”
Eunseo tetap diam, terhitung dari 2 hari yang lalu ia benar-benar merasa risih akan pertanyaan-pertanyaan para yeoja –tebalmuka- yang secara terang-terangan bertanya mengenai kembarannya, tapi sebenarnya itu bukan masalah, yang masalah adalah, Jangan menganggunya.

“Ya! kau dengar tidak?!” nampaknya siswi itu semakin over , terbukti sekarang ia sedikit menghentakan kaki dan mendesis lebih keras, sebenarnya yeoja itu kelewat jengkel, dari jarak mereka yang hanya berseling 1 bangku saja, tidak mungkin Eunseo tidak mendengarnya, kecuali ia menulikan diri.

“YA! kau sombong sekali huh!” PLUK
Sebuah kertas melayang mengenai pelipis kiri Eunseo, kali ini ia terlihat terusik, pandangannya mengarah ke siswi itu dengan tatapan dingin.

“mworago? Kenapa kau menatapku seperti itu? kau tau sedang berhadapan dengan siapa hah?”

Eunseo melengos diam

“jinja! Kau benar-benar cari masalah denganku rupanya!”

“Park Cheonsa! Song Eunseo! Apa yang kalian lakukan? Berani-beraninya mengobrol dikelasku!” tiba-tiba terdengar seruan keras dari arah depan,
Kini Park Songsaenim melangkah menuju bangku keduannya, Eunseo menatap Cheonsa semakin tajam, ia benci pengganggu!

“kalian tau bagaimana peraturan saat aku mengajar?”
Cheonsa menunduk, ia memainkan ujung pakaiannya, seluruh siswa menatap kearah mereka dengan tatapan penuh ketakutan, meskipun Guru Park tidak berwajah moster, tapi jika sudah marah ia bisa bagai Hulk.

“tidak boleh mengobrol didalam kelas, jika mengobrol lebih baik tidak usah ikut kelas” Cheonsa menjawab pelan, ia begitu ketakutan.

“jadi?”

“dia yang keluar.”

Suara Eunseo terdengar dengan nada tidak bersahabat, ia menatap guru Park dengan tatapan penuh pembuktian, salah 1 hal yang paling dibencinya diurutan ketiga setelah diganggu dan menunggu adalah Menerima hukuman atas kesalahan orang lain. Ia anti hal memuakan itu.

“Song Eunseo, Bukankah kau murid baru? Kau belum mengetahui peraturanku? Tapi sewajarnya dengan dedikasi pendidikan luar, kau bisa menyesuaikan tata krama saat jam pelajaran, hukuman harus tetap ditegakan, hukumannya kalian keluar dari kelasku, sekarang!”

“Tapi  Songsaenim –“ ludah Cheonsa tercekat saat matanya beradu pandang dengan mata Eunseo yang menajam.

“jadi untuk apa kalian masih dikelasku! Keluar sekarang juga!”

Dengan tatapan penuh rasa malu dan sangat memelas, Cheonsa beringsut dari kursi untuk keluar ruangan, tapi tidak dengan Eunseo , yeoja itu malah tetap keukeh dan serius membaca buku dihadapannya.

“apa kau tidak mendengarku?!”

“andweyo,” Eunseo menjeda kalimatnya, ia tersenyum tenang menatap guru Park “aku tidak akan sudi menerima hukuman atas kesalahan orang lain, songsaenim”

*********************

Rumor kesombongan Eunseo sudah menyeruak diseluruh pelosok sekolah, beberapa bahkan menjadikannya bahan obrolan makan siang.

“dia terlalu meninggikan diri, dia pikir dia siapa? Orang tuanya bukan penggenggam dunia” seorang siswi berpita kuning mengacungkan sumpit berisi ramyon kearah temannya, “aku heran, kenapa Joong Ki ssi bisa memiliki kembaran yang sangat memuakan”

“aku jamin anak-anak sangat muak melihat sikapnya, dulu ketika di Amerika, ia dikabarkan pernah menjadi sorotan publik akibat scandalnya mematahkan tulang kering putra sekjen PBB hanya karena menggodanya, aigoo.. malang sekali ia kabur kesekolah kita”

“mwo? Jinjayo? Sejak kapan kau menjadi stalker gadis angkuh itu?”

Si pita biru langsung mendengus, “bukan hanya aku pengutitnya disekolah ini, bahkan hampir seluruh siswi tengah mengorek kekurangan ratu angkuh itu, heiis.. jika ia didiamkan begitu saja, maka kita akan diinjak”

“apa mereka sedang membicarakan si murid pindahan?” beralih pada meja dibelakang duo perumpi itu, kini dimeja tersebut nampak 2 yeoja dan 1 namja tengah menikmati makan siang mereka, awalnya tidak begitu tertarik menguping pembicaraan orang, hanya saja ini menyangkut 1 nama yang jelas sekali membuat salah 1 dari mereka bertiga duduk dengan gelisah.

“hey, nona Hwang, perlu kuantar kekamar kecil?” Rae Ha merespon cepat dengan gestur sedikit kaget lengkap dengan aksi terperanjatnya.

“ne? aniyoo… eum, itu aku –aku hanya memikirkan sebuah hal, ah jangan dipikirkan, bukan masalah.” ia mengibaskan telapak tangan didepan wajah kedua temannya.

“tsk, aku tau,  jika yang membuatmu penasaran hingga jungkir balik itu adalah berita tentang saudara kembar pangeranmu, tanyakan langsung pada orangnya” Hyuk Jae melahap pangsit rebusnya dalam sekali suapan setelah memberikan talkshoot yang sukses menebak isi pikiran Rae Ha.

“heih, menatap wajahnya dari jarak 2 meter saja tangannya sudah berpeluh dingin” Ambe Mencibir,

“u.u Kau membuat situasiku buruk!” Rae Ha mencoba menoleh kesegala arah, bisa kacau jika seentero sekolah tau dirinya yang tidak seberapa berani menyukai salah 1 merk terkenal sekolah.

“aigo Hwang Rae Ha, jika kau tetap diam saja, itu tidak merubah apapun. apakau ingin berakhir menjadi seorang pengecut dengan cap pengagum rahasia sampai pangeranmu menikah dengan wanita lain, lalu kau akan memainkan piano sambil bernyanyi ‘Wedding Dress dipernikahan mereka?. Aigoo.. itu terasa buruk’” jika ditelaah ucapan Hyuk Jae tidak salah, bahkan 100 persen benar.

“aku rasa itu bagai kutukan Lee Hyuk Jae” ucapan Amber  hanya dibalas angkatan bahu yang ringan,

“lalu apa yang harus aku lakukan?” Rae Ha mengorek sudut bibirnya dengan sumpit, “apa aku harus menyewa jasa paranormal?”

“uhuk”
Mie ramyun yang baru masuk setengah langsung tersangkut dikerongkongan Hyuk Jae, bahkan lelaki itu kini terbatuk-batuk sampai matanya memerah.

“YA! neo jeongmal! GOSH! Oh Tuhan,,.. kenapa kau menganugrahiku teman seperti ini……” Rae Ha nampak semakin frustasi, 1 tahun sisa masa sekolahya harus meladeni kepolosan yang over bahkan nyaris disebut kebodohan tingkat akut.
“pikirkan cara yang lebih manusiawi”

“ah! Apa aku perlu memasang pengintai CCTV dan menjadi stalkernya berbulan-bulan? Atau menaruh sandwitc di lokernya? Ah… kurasa sudah terlambat, aigoo… kenapa ide cemerlangku selalu datang diakhir cerita…” Rae Ha terlihat bingung sendiri, ia semakin bingung saat menyadari cintanya yang dalam harus berakhir menyedihkan dengan level bertepuk sebelah tangan.

“terserahmu saja” Amber menyesap jus apelnya, “memang susah membangunkan enzim primive yang telah mengeras”

*************

Yang dibicarakan semua penghuni sekolah kini masih bersantai diperpustakaan dengan headset dan MP3nya, mengabaikan semua bisikan dan pandangan penghuni perpustakaan. Eunseo tau dirinya menjadi trending topic pergosipan minggu ini, tapi sayangnya ia tidak tertarik.
Yeoja itu menutup matanya dengan angkuh namun santai. Kakinya disilangkan dengan pose menyebalkan, dan kedua tangan yang bersedekap. Oh errrrr…

“aggashi” tiba-tiba sebuah suara berat mengusiknya, mata Eunseo terbuka, tapi tidak membuatnya turun mood dan tetap keukeh dengan pose itu.

“kau tuli?” namja itu untuk kali kedua menganggu Eunseo. Sudah berapa kali gadis itu tekankan, diganggu adalah salah 1 hal yang paling ia benci setelah menunggu.

“apa maumu” kening namja itu langsung mengkerut mendengar pertanyaan balik Eunseo, matanya memicing heran sekaligus terlihat sangat kesal.

“bisakah kau bersikap selayaknya? Apa ini cukup sopan untuk berbicara dengan seorang pria?” ucapan namja itu membuat Eunseo membuka matanya dengan cepat dan tenang. Tapi sekali lagi, ia belum merubah posisinya. Yeoja itu bahkan tidak membuka headset ditelinganya.

“lalu? Sikap berbicara dengan seorang pria seperti apa yang kau maksud? Apa seperti itu?” Eunseo menunjuk seorang yeoja yang kini tengah berdiri disudut ruangan dengan seorang namja. Nampaknya ia memanfaatkan momen sepinya perpustakaan untuk berciuman dengan kekasihnya. Dan itu sangat memuakan untuk dilihat.

“atau seperti itu?” kini telunjuk Eunseo membuat mata namja itu mengarah pada 2 namja yang tengah menyesap rokok secara diam-diam di sudut paling terpojok perpustakaan. Entah kenapa perpustakaan yang seharusnya menjadi tempat gudang ilmu dimanfaatkan secara tidak etis untuk mereka melakukan berbagai kegiatan yang sebenarnya sungguh sangat tidak penting.

Mata namja itu melotot, seolah baru mengetahui sisi lain perpustakaan. Darahnya langsung mendidih, ditambah urat malunya langsung anjlok seketika mendengar ucapan Eunseo selanjutnya.
“ ah… bukankah  harusnya kau lebih peka dari murid baru sepertiku ini, Sunbaenim”

Namja itu menatap Eunseo yang terus menapakan raut sinismenya.
“ Selamat bertugas.”
Eunseo bangkit dan tersenyum sebelah sebelum meninggalkan Yesung yang diam menahan malu dan amarahnya. Ia benar-benar dipermalukan!
Niat awalnya hanya untuk meminta data murid baru untuk dimasukan dalam agenda siswa buku tahunan. Tapi apa?
Wajahnya terasa dijatuhkan dan diinjak dalam waktu yang bersamaan.

“siapa namamu” ditengah amarah dan pergolakan hatinya menyaksikan adegan tidak beradat yang dilakukan teman-temannya, Yesung berhasil menghentikan langkah EunSeo yang hendak pergi.

Yeoja itu menghentikan langkahnya, tersenyum meremehkan kearah beberapa orang yang menatapi mereka dengan bingung. “kau akan tau”

DUAAAAAAAAR

Ini hadiah akhir tahun yang keren untuk Yesung. Bahkan namja itu berbalik dengan jengah menatapi punggung Eunseo yang perlahan menjauh. Sekali seumur hidup ia menemukan wanita seperti itu, dan ini yang pertama kalinya.

Sepeninggal Eunseo, Yesung langsung kembali pada realita memalukan yang hampir saja menjatuhkan image nya sebagai ketua OSIS. Ia hampir kecolongan. Dan parahnya wanita angkuh itu lah yang menyadarkannya.
Kaki-kaki Yesung berjalan mendekati sepasang namja dan yeoja yang nampaknya belum menyadari kehadiran Yesung. Mereka masih asik dengan kegiatan memalukan itu.

“masih ada 3 menit lagi , ingin menuntaskannya sampai jam istirahat selesai?” kedua orang itu langsung terkejut. Wajahnya pucat pasi. Yesung yakin dipikiran mereka pasti tengah kalang kabut. Habislah kalian sekarang.

“Ke –ketua” sang namja langsung mengelap sudut bibirnya , terlebih sekarang sang yeoja langsung menunduk dengan kalang kabut. Mati! Matilah ia!

“ak –aku harus pergi” gadis itu berlalu dengan menutup wajahnya dengan malu. Melewati beberapa penghuni perpustakaan yang menatap mereka dengan tatapan menghina dan tidak menyangka. Beberapa bahkan sempat menatap sinis dan mengumpat pada yeoja itu. lalu sang namja?
Nampaknya ia tak bisa lari dari kenyataan saat tangan-tangan Yesung mencatat dengan cepat nametag mereka. “kalian masih berhutang penjelasan padaku. Ingat itu”

GLEK

Dengan gamblang Yesung meninggalkan kejadian tadi, ia berlanjut pada 1 target utamanya kali ini. Target yang tak bisa ia tolelir lagi. Mereka benar-benar keterlaluan dan tak bisa berfikir secara logika, apalagi berlaku dengan etika yang benar.

2 Orang namja yang sedang menikmati sebatang rokok itu nampaknya belum menyadari keberadaan Yesung dibelakangnya.
Untuk Sekian menit mungkin mereka masih dapat menikmati surga hidup mereka, karena disini, dibelakang mereka, panutan nomor 1 siswa Hondam High School tengah berdiri dengan tegang. Kedisiplinan Hondam sangat terjunjung tinggi dengan aturan-aturan yang membunuh, disertai sanksi yang lugas dan tegas, apalagi siswa tak diperbolehkan melakukan perbuatan yang merusak mental seperti ini.

“sudah puas?”

Kedua siswa itu mengangguk tanpa menyadari siapa yang bertanya, kepulan asap rokok begitu aktif keluar dari mulut dan hidung mereka. Pantas !
Yesung tersenyum meremehkan. Tempat yang mereka pilih adalah ujung dari sudut perpustakaan yang dimana jendelanya menghadap kelahan kosong tanah milik negara. Pantas saja Yesung tidak pernah mencurigai tempat semacam ini, apalagi ini perpustakaan, tapi Seharusnya mereka punya sedikit urat malu untuk berbuat sebodoh ini di perpustakaan.

Belum 5 detik,  mereka serempak menoleh kebelakang, dan akhirnya 2 berandalan itu menyadari kehadiran Yesung.
“sepertinya kalian belum puas”
Yesung menatap 2 orang siswa yang telah membatu dengan pucat itu secara tajam.
Tanpa membuang waktu,
Siswa berparas tampan dengan jabatan ketua OSIS itu langsung merampas rokok mereka, membuangnya dengan sarat menakutkan lalu menginjaknya dengan frontal.

“Ke –ketua”

Tanpa tolelir Yesung langsung mencatat 2 nametag siswa itu di agenda hitam yang tak pernah sekalipun lepas dari tangannya.. merampas sekotak rokok dikantong mereka.
“kalian boleh pergi”
Lanjutnya dengan dingin, sehingga kedua siswa itu berlari dengan kocar-kacir diselingi dengan gelak tawa mengejek penghuni perpustakaan.
Sepeninggal mereka Yesung langsung berjalan keluar, tanpa mengindahkan tatapan rayuan maut siswi-siswi girlie yang tak henti-hentinya memandangi tingkah keren pujaan mereka. Terlebih ketika namja itu melepas kaca matanya dengan kesal.

“AAAAAaaaaaa”

*********

“aAAAAAAAA”

“Kau membuat kegaduhan lagi” belum rangkap nyawa Yesung yang masih membeku melihat kedalam perpustakaan, Sungmin sudah meraih lehernya dan menarik Yesung. Sungguh, ia jadi memiliki ketakutan khusus pada yeoja-yeoja sekolahnya, mereka kadang menimbulkan reaksi dan respon menakutkan jika berbicara ataupun kontak langsung dengan dirinya, dan itu cukup mengerikan.

“kadang aku berfikir mereka sangat menakutkan”

Sungmin meninju bahu temannya, “jangan katakan kau tidak menyukai wanita”

Yesung yang sedari tadi berjalan dengan santai kini berhenti dan menatap Sungmin dengan sedikit meminta penjelasan. “kau tidak sedang menguji telingaku kan? Aku tidak tuli dan mendengarnya”

Mendengar ucapan Yesung, Sungmin langsung membalasnya dengan tertawa,
“haha, cobalah berfikir. Berapa usiamu? Bisa kau hitung berapa mantan gadismu? Ah.. atau cobalah ingat kapan terakhir kau tertarik pada yeoja?”

“……………………….” Yesung tidak menjawab, lebih tepatnya masih mengkoneksikan ucapan Sungmin dengan realita yang ada.

“hahahah, jawabannya sama . yakni TIDAK ADA. Oh oke………. aku tidak meragukan pesonamu, tapi justru itulah yang – eung… sedikit …. Menakutkan” Sungmin nampaknya berbicara dengan sedikit ragu-ragu. Namun detik berikutnya ia tersenyum kelinci. Oh Tuhan, Jika saja Yesung BELUM bisa mengkoneksikan ucapan-ucapan Sungmin yang berbentuk hinaan itu, mungkin saja sang ketua OSIS tidak akan semurka ini.
Tapi sayangnya ia bukan lelaki idiot tak berotak. Percuma saja segudang prestasinya selama ini jika belum bisa menangkap hinaan jelas seperti itu.

“Wakil Lee, nampaknya kau ingin diturunkan dengan tidak terhormat”
Sungmin yang melihat signal-signal buruk diwajah temannya langsung tanggap. Tapi bukannya merajuk dan minta maaf, namja itu malah mundur 3 langkah, rasanya Sungmin benar-benar tengah mengerjai sahabatnya.

“meski ketampananku telah teruji waktu, tapi beberapa ajjumha-ajjumha berkata padaku jika aku lumayan cantik. Dan itu membuatku takut.”

“YA!” Yesung semakin memekik saat Sungmin menampakan aegyonya dengan menutup dada,

“hohoho, aku belum ingin mati muda. Selamat bertugas.” Dengan sekali gas, Sungmin berlari dengan segudang tawanya. Yesung jamin ia akan jadi ajang olok-olokan lagi di ruang OSIS. Kadang Yesung merasa mereka semua tidak profesional. Mengatas namakan gender berdasarkan ketertarikan lawan jenis, hey.. apa itu masuk akal?

“Aku akan mematahkan tulang kalian semua.” Demi Neptunus, rasanya akan ada kegaduhan riuh diruang OSIS. Kaum-kaum yang disegani dan ditakuti sebentar lagi pasti akan berlaku kekanak-kanakan , terutama dalam urusan mengolok-olok ketua mereka.
Ah baiklah, sejenak kita tinggalkan Yesung.

Kita beralih pada Eunseo yang kini sudah sampai dikelasnya, yeoja itu masih tetap menjadi pusat perhatian sinis hampir seluruh yeoja yang ia lewati. Tapi sekali lagi ia tekankan, itu bukan masalah.
“chogi” tiba-tiba ada yang mengusiknya. Ah bukan mengusik, lebih tepat memanggilnya. Sangat tidak baikan menganggap semua hal sebagai gangguan?

Eunseo menatap seseorang yang kini berdiri didepan bangkunya, itu seorang siswi.
Siswi itu menatap wajah wanita tak berponi dihadapannya dengan sarat keragu-raguan. Biar bagaimanapun rumor kesombongan dan keangkuhan Eunseo sudah merayap hingga kekolong semut penghuni sekolah.

“aku tidak bermaksud mengganggu, hanya saja –“ Eunseo melihat gadis itu menunduk dan berpeluh dingin. Meski tatapan Eunseo tetap tak berubah, hanya memandang siswi itu dengan datar, tapi jauh dilubuk hatinya ia bertanya, semenakutkan itukah dirinya?

“jika tidak terlalu penting jangan mengangguku”
tepat.
Kini Eunseo mengacuhkan siswi tadi.
Tapi bukankah sudah berkali-kali ia terangkan, Hal yang paling ia benci selain diganggu adalah menunggu. Sungguh hal itu adalah hal yang paling ia benci dari terbenci didunia ini. Jadi meskipun siswi ini tidak menganggunya, tapi ia membuat Eunseo MENUNGGU ucapannya.

“tidak. ini penting”
PAS!
Beberapa yeoja nampaknya sudah sangat tidak tahan ingin memberi pelajaran pada Eunseo apalagi setelah melihat sikapnya pada Min-Ji.
Siswi terpolos, terlugu, dan terpintar dikalangan tingkat I semester ini. Tentu saja, meskipun Min-Ji suka menyendiri, tapi ia sangat baik dan supel, terutama dalam hal membagi tugas. Jadi tidak heran beberapa kini mencoba sok pahlawan.

“kau sangat keterlaluan!” salah 1 siswi yang kebetulan berada dikelas –SaeJin- mengebrak meja tempat ia duduk. Ia sudah tidak tahan akan sikap Eunseo. Dan saat inilah puncaknya.

Melihat arogansi tidak penting dan tiba-tiba dari Sae-Jin tidak membuat Eunseo takut,  baginya itu tidak merubah apapun, yeoja itu  justru semakin tak acuh dan menaikan buku pelajaran selanjutnya keatas meja.

“sudah, tidak apa Jin-ah” Min-Ji dengan keluguannya mencegah Sae-Jin. Membuat yeoja itu panas, bukankah ia berniat membela Min Ji? Tapi kenapa sekarang Min-Ji justru membela wanita angkuh itu?. “aku membelamu!” gertaknya.

Min-Ji semakin salah tingkah, ia dengan cepat merogoh kantong dan meletakan sebuah liontin kalung dimeja Eunseo, Sebelum  ia mencegah dan membawa Sae-Jin pergi dengan kalut.
“itu, ak –aku menemukannya diluar. Kukira itu milikmu. Mianhae menganggu, dan maaf atas sikap temanku,”
Ucap Min-Ji sebelum menarik Sae-Jin keluar dari kelas , menjauhkan Eunseo dari temprament buruk yeoja cantik itu. “jJa, Sae-Jin ah,… gwencana… aku tidak apa-apa”

Eun-Seo membeku, ia menatap kalung liontin yang baru saja diberikan Min-Ji. Ditatapnya sekali lagi Min-Ji yang sudah hilang dari balik pintu kelas. Eunseo mengambil liontin kalung itu, lalu membukanya.  Didalamnya terdapat fotonya 5 orang. Appa, eomma, Joong Ki kecil, dirinya sejak kecil dan namja itu. namja yang membuatnya datang kembali ketanah kelahiran. Namja yang sedikit tidaknya belum pernah tergantikan.
Okey, it’s time to wake up , hentikan mendramatisir keadaan.
Tapi dramatisir keadaan itu juga membuat Eunseo mengingat sebuah kejadian yang mampu menarik sudut bibirnya. Eunseo tersenyum.
Cukup.
Gadis itu menutup memorinya.
Ia bangkit dan melangkah keluar dari kelas yang baru Ia huni selama 3 hari.
Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang datar, kadang membuatnya sangat tidak enak dipandang.
Tapi meskipun begitu,  sejujurnya, bentuk wajah, alis, hidung, dan bibirnya membentuk sumbu simetris yang sempurna. Warna kulit wajahnya yang putih bersih semakin bersinar saat terkena sinar, terlebih tanpa penghalang sehelai rambutpun. Rambutnya yang hitam berkilau kuning itu terikat random dibawah, menjuntai rapi biasa biasa. Bukan kucir kuda. Hanya diselipkan karet berwarna hitam yang membuat wajahnya terekspos jelas.

Bibirnya membentuk sumbu horisontal yang melengkung naik meski tanpa tersenyum. Wajahnya tidak bulat tidak juga lonjong. Pas untuk porsi gadis tak berponi.
Ia berjalan melewati beberapa namja yang berusaha keras menolak pesona untuk tidak menatap wanita itu.
Mereka terlalu terhalau gosip keangkuhannya, hingga ada secuil ketakutan untuk  sekedar menyapa, apalagi  menggodai.

Langkah Eunseo berjalan lurus melewati kelas demi kelas yang isinya pasti menoleh secara serempak. Mereka menatap Eunseo dengan tatapan sinis. Bebeberapa ada yang berbisik, bahkan mengumpat. Sejujurnya gadis ini memiliki banyak Anti disekolah ini dalam kurun waktu 3 hari. Dan tidak heran, setiap tindakannya pasti menjadi pusat perhatian negatif, yang mampu menindas pesona nya yang kuat.
Ah,,..  Baiklah, jika ia tidak angkuh , mungkin mahkota ratu from night yang akan dilaksanakan 3 bulan mendatang akan berpindah tangan.

Ia belum berhenti, masih sibuk berjalan dengan cepat tanpa gangguan, entah apa yang ia cari, tapi akhirnya ia berhenti. Sontak saja beberapa mata yang mengikutinya membuat suatu kerumunan. Mereka membuat kerumunan sedikit jauh dari tempat Eunseo berdiri sekarang.
Gadis itu tengah berdiri dihadapan seorang gadis polos, lugu, dan berkaca yang kini tengah membaca ditaman sekolah. Gadis itu bahkan langsung membeku tanpa suara, sama seperti reaksinya barusan. –Min Ji- Menatap Eunseo takut, tangannya yang memegang buku pelajaran
bergetar.

“ad –ada apa EunSeo ya?”

Eunseo belum membalas, ia masih menatap Min-Ji dari atas hingga bawah.
Min-Ji terlalu lugu.
Ia tidak bisa membedakan mana musuh, penipu, dan penjilat.
Ia tak tau kapan ia dimanfaatkan dan kapan ia dibuang.
Ia hanya tau memberi, tidak tau rasanya menerima.
Ya.. itulah yang Eunseo tebak dari pribadi Min-Ji.

Beberapa kerumunan masih diam ditempat, mereka menerka dengan khawatir, apa yang akan Eunseo lakukan kepada Min-Ji. Terlebih Sae-Jin seolah menjadi kompor bocor biang gosip yang menyebarkan seluruh prilaku tidak manusiawi Eunseo dikelas tadi Kepada Min-Ji keseluruh teman-temannya. Ia menjadi sorotan kerumunan. Semua seolah ingin tau apa yang terjadi pada Eunseo, mengorek keburukan dan keangkuhan Eunseo untuk mereka sebarluaskan lagi. Tidak khayal, baru 2 menit Eunseo berdiri disana, semua kerumunan sudah semakin membanyak, semua siswa keluar kelas, dari bibir ke bibir menyebar, entah itu fakta murni, atau ditambahkan sesuai opini mereka. Intinya Eunseo menjadi buah bibir didepan wajahnya sendiri. Mereka hanya bisa berbicara, karena faktanya tak ada 1 pun yang berani mendekati Min-Ji dan Eunseo.

“bagaimana kau tau kalung ini miliku?”

DEG

Angin berdesir menerbangkan rambut Eunseo yang diikat , pertanyaannya yang berat dan dingin langsung membuat suasana riuh kini hening.

Min-Ji semakin kalut. Dan itu membuat Eunseo semakin keukeh menatapi gadis dihadapannya. Ia berani jamin. Min-Ji terlalu bodoh untuk berbohong. Ia terlalu polos untuk tau sakitnya bersandiwara.

“kalung ini tanpa nama”

Kembali, Min-Ji seperti didikte tepat pada sidang mahkamah konstitusi kasus pembunuhan berantai.

“ak –aku menemukannya didepan kelas”

“Aku tidak bertanya dimana kau menemukannya. Aku bertanya bagaimana kau bisa tau ini miliku?!” Suara itu meninggi,
Entah kenapa menjadi pacuan emosi tersendiri bagi pendengarnya.

“itu –“

“cepat katakan. aku benci menunggu. Paling benci menunggu”

DEG

“EunSeo ya!” Min-Ji mendongak dengan kaget, begitupun Eunseo, mereka menoleh kesumber suara, tepat dimana kerumunan itu terpecah. Muncul – Joong Ki-.
Namja itu datang sambil sedikit menggigit bibir. Anak nakal ini! Bahkan JoongKi sudah berusaha keras menampik radar angkuh adik kembarnya, tapi tetap saja Eunseo tidak terlepas dari image nyonya angkuh.

“apa yang kau lakukan disini.”
Tangan Joong Ki menarik tangan kembarannya. Tapi yang ditarik dengan sekali kibas melepaskan tangan Joong Ki.

“bukan urusanmu”

Kembali.
Keriuhan terjadi, semakin buruklah image Eunseo setelah membuat beberapa yeoja semakin geram karena ada gadis yang menyakiti Idolanya.
Hieks, berlebihan memang, tapi itulah realitas saat ini.

Nampaknya Joong Ki sudah biasa dengan arogansi kembarannya, ia malah menarik lebih keras lagi.
“jangan cari masalah”

“aku tidak membuat masalah apapun” kilahnya lagi.

“baiklah, jika tidak ikut aku”

Baru saja Eunseo ingin mengibaskan tangan kakaknya lagi,
Ekor mata yeoja itu sempat melirik Min-Ji.
Yeoja itu kini menatap dengan cemas kearah wajah Joong Ki. Tepat kewajah kakaknya.
Ada apa ini?

“jangan melawan dan ikut aku”  Eunseo masih diam, tapi otaknya berfikir.
Namun tepat saat tangannya ditarik dan hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Joong Ki berhenti. Rupanya tangan kiri namja itu ditarik oleh Min-Ji.

“Jo –JoongKi ssi” wajah Min-Ji berpeluh gugup, tapi ada rona bersinar disana.
“gomawo,” ucapnya malu-malu dan ragu.

Joong Ki berbalik dan menatap Min-Ji sambil tersenyum. “jika anak nakal ini kembali berulah, beritahu aku”

Semakin bersinar wajah Min-ji , ia tersenyum sangat lepas dan penuh kehangatan.
“dia tidak seburuk itu, jangan marah padanya.”

Eunseo mematung, seolah melihat drama seri dihadapannya.
Oh baiklah, biarkan beberapa saat kembarannya memulai drama yang akan dia mainkan.

“benarkah? Tapi ia perlu sedikit pelajaran”
JoongKi tertawa renyah pada Min-Ji sebelum kembali menarik kembarannya menjauh dan memecah kerumunan.
Meninggalkan Min-Ji yang diam mematung, merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin dalam waktu yang sama. Hatinya menghangat, ia mengusap telapak tangan yang baru saja menyentuh kulit Joong Ki. Hangat. Pikirnya.

Berbalik kisah, kerumunan itu bubar dengan gosip baru berita baru. Entah apa yang dibicarakan siswi-siswi biang gosip itu nantinya. Ah lupakan.
Sebaiknya kita beralih pada 3 namja yang tengah menatap dari jendela ruang OSIS. Persis didepan kejadian Eunseo  vs Min Ji tadi.

“jadi dia kembaran Song Joong Ki” –Sungmin- mengangguk-anggukan kepalanya

“kudengar dia juga memiliki image angkuh yang sangat buruk disekolah ini” imbuhan Hyuk Jae membuat Sungmin langsung menoleh dengan antusias.

“si cantik itu?”

DUGH

Nampaknya Eunhyuk sedang muntaber,  sedari tadi ia muntah-muntah tidak jelas, ditambah emosinya cepat sekali diuji.
“dikali pertama bertemu dengannya kau bisa saja memuji. Dikali kedua bertemu, kupastikan kau menarik semua ucapan itu.

Sungmin mengelus kepalanya sedikit. Kenapa diantara mereka bertiga dirinya selalu menjadi yang paling KUDET masalah informasi?

“Song Joong Ki. Heum.. kurasa dia lelaki tegas dan popular. Cukup untuk direkrut, kenapa kau tak merekrutnya?” Eunhyuk menyikut Yesung yang sedari tadi diam menatap kejadian tadi tanpa komentar. Namja itu sibuk dengan tangan yang menyilang didepan dada.

“dia sudah direkrut 3 kali semester ini, tapi tak ada respon” Sungmin menggidikan bahu.

“benarkah?”

“Rekrut dia” tiba-tiba Yesung berdesis. Membuat kening kedua rekannya berkerut.

“kau tuli dan amnesia?” Hyuk Jae memegang kening Yesung.

“bukan dia, tapi gadis angkuh itu”

“MWO?”

*******

Koridor-koridor Hondam terasa meledak saat dipadati desakan-desakan para siswa yang ingin pulang dengan cepat. Canda tawa dan keriuhan terjadi. Beberapa bahkan berlari-larian riang gembira. Memangnya apa yang lebih menyenangkan daripada bebas dari rumus dan hapalan?

Begitupula dilapangan parkir, satu persatu kendaraan pribadi milik siswa meninggalkan area parkir, dan disana diatas motor ninja merah seorang namja tengah duduk diatasnya. Sepertinya menunggu seseorang.

“hati-hati dijalan oppa” Seorang yeoja  melambai dari dalam mobil yang ia naiki. Joong Ki hanya membalas lambaian itu dengan tersenyum. Tapi dipikirannya, ada sebuah kejanggalan. Bukankah dirinya siswa tingkat I disini? Lalu kenapa hampir semua yeoja menyebutnya dengan embel ‘oppa’? , padahal gadis angkuh itu tak pernah sekalipun mau mengakuinya sebagai ‘Oppa’

“Joong Ki ya.. aku duluan” lambaian lagi, ya… pasti dibalas lagi olehnya.

Setelah lumayan lama akhirnya, dari arah koridor, muncul Eunseo yang berjalan lurus tanpa bengkok sedikitpun, tatapan ataupun langkahnya selurus tiang bendera.

“liliput tanpa kaki, kau lama sekali”

HAP

Eunseo menerima lemparan helm dari kembarannya. Tentu saja dengan berdecak malas. “lebih baik dari pada membuang-buang tenaga jika barangmu ternyata tertinggal”

    BRUUUMMMMMMMM

Joong Ki menyalakan motornya, disusul Eunseo yang melompat dibelakang kakaknya. Namun ketika motor itu akan keluar dari area parkir, Eunseo melihat seorang gadis yang tengah menatap mereka dari kejauhan. Dan itu Min-Ji.

“dia penguntitmu” motor ninja merah itu membelah jalanan Seoul. 2 bersaudara dengan seragam SMA itu membelah pusat Kota.

“siapa?” Joong Ki bertanya dari Helm yang menutupi seluruh wajahnya, hanya menyisakan mata saja #helm sport maksudnye#

“gadis itu” EunSeo mempererat pegangannya pada pinggang sang kakak. Sepintas mereka seperti pasangan SMA yang romantis. Tidak tau saja kalau mereka adalah anak kembar.

“Kenapa kau diam?” Eunseo sedikit bertriak agar didengar oleh Joong Ki yang tengah meliuk-liukan setang motornya.

“ada sesuatu diantara kalian?”

“tidak, aku hanya merasa pernah melihatnya” jawab Joong Ki.

Jawaban itu cukup.
Tidak perlu dibahas lagi karena tidak terlalu penting.
Sudah tertebak bukan?
It’s so simple.

*******

HONDAM junior High School (SMP)

Diwaktu yang sama dan ditempat yang berbeda,
Kini mobil Yesung tengah terparkir didepan gerbang sebuah SMP, SMP yang sejujurnya adalah asuhan Yayasan Hondam. Sama seperti sekolahnya.
Bedanya ini SMP , yaa.. bisa dikatakan Sekolah ini adalah adik kandung SMA Hondam.

Disana Yesung tengah duduk didalam mobilnya menunggu seseorang , dan tiba-tiba pintu itu terbuka,
Lalu masuklah seorang namja tak kalah tampan yang masuk dengan kesal sambil melempar tubuhnya kejok samping.
“haaaah,… kapan kau akan mengembalikan mobilku..!!” Namja itu terlihat frustasi,

Namun yang diajak bicara tidak menjawab, ia langsung menyalakan mobil dan meninggalkan tempat itu, “hyung.. kau tau semua lady disekolah ini berhenti mendekatiku…”

Yesung tidak mengubrisnya.  “hyung…”

“alasan itu sudah kau ulang 20 kali lebih.”

-Jong In atau yang akrab dipanggil  KAI- semakin frustasi.
Bagaimanapun diumurnya yang nanggung, antara peralihan anakanak ke remaja atau remaja ke dewasa, dan itu diperlukan sebuah jati diri. Dan disaat ia ingin mencari jati diri, dengan mudahnya sang kakak merampas mobilnya begitu saja, membuat beberapa yeoja yang mendekatinya menjauh untuk sementara waktu.
Dan itu membuatnya frustasi.

“baiklah.. baiklah.. aku berjanji tidak akan membawanya dalam arena lagi, hemat bahan bakar dan tidak merubah catnya seminggu sekali. Puas?”

Yesung menggeleng.

“apa laaaagiiiiiiiiii?!!” Bagi Kai, tanpa mobil adalah trouble maker nomor 1 !

“lulus dengan nilai terbaik dan bersekolah disekolah terbaik, maka semuanya akan aman seperti semula”

Mata Kai melotot, apa?!! Lulus dengan nilai terbaik?!!!! Siapa? Dirinya?! Oh God! Naik kelas saja ia sudah sangat bersyukur! Sekarang apa ini? Terbaik?
Kata dari ‘GURUN’ mana lagi yang masuk ketelinganya saat ini?

“Hyung! Itu benar-benar tidak adil! Sama saja kau ingin menyabotase hak ku!”

“anak kecil, tau apa kau masalah sabotase hah?!” perkataan Yesung kembali membungkam adiknya,

“hyung… yang lain..” Kai benar-benar playboy yang sangat suka merajuk.

“appa dan eomma sudah sangat jera pada tingkahmu. Aku harus melakukan sebuah hal untuk membuat otak playboy mu lenyap.! Dalam 1 bulan kau memiliki 23 mantan. Lelaki macam apa kau hah?!”
Yesung mendelik, hal itu kontan saja membuat Kai murka.

“1 bulan = 30 hari, 1 tahun= 360 hari, dan kau 18 tahun artinya 360 kali 18 , jadi selama  6480 hari  tanpa 1 mantanpun. Kau kira apa hebatnya?”

DAAAAAAAAR

Bumi Yesung langsung terbelah, jika bisa memakan manusia, dan Kai bukan anak emas keluarga, maka orang pertama yang akan Yesung telan bulat-bulat adalah Namja ingusan ini!

CKIIIIIIIIIIIIIIT

Mobil itu berhenti mendadak dibadan jalan.
“keluar”

“MWO?” nampaknya bocah SMP itu akan menyesali ucapannya.

“keluar kataku!”

“Hyung……….. andwe! Haaaa.. kau tega sekali padaku,………..” Kai terus merajuk pada kakaknya.

Tapi Yesung hanya menatap sengit sang adik, “turun atau masa rehabilitasimu kujadikan permanen! TANPA MOBIL SEUMUR HIDUP!”

“Hyuuuuuuuuunggggggggg”

Terdengarlah suara triakan Kai yang mengejar mobil Yesung yang menjauh. Didalam mobil seringai puas terpajang disana. Tidak cukup sekali untuk membuat jera anak ingusan itu, tapi berkali-kali! Catat itu!

**************

[Gwang-Ju , South Korea]
-JoongSeo Houses-

“dia akan pulang” dentingan sendok makan Joong Ki membuat Eunseo menahan suaranya. Ia yakin nafsu makan kakaknya langsung lenyap begitu saja. Harusnya jika Eunseo tau aturan, jangan membicarakan masalah ini dimeja makan.

JoongKi diam, ia meneguk air hingga habis. “untuk apa”

“ini rumahnya, adalah hak jika ia ingin menengokku”

“tapi ada aku disini!” JoongKi memekik tak kalah berangnya pada sang kembaran. Mungkin dari segi pembawaan Joong Ki dan Eunseo bagai minyak dan air. Tapi bagaimanapun mereka kembar! Emosi mereka memang sama-sama sangat tinggi.

“dan dia memiliki hak menengokmu”

DRAAAAAG

Joong Ki bangkit seolah tidak berniat membahas hal itu lagi.

“sampai kapan kau akan seperti ini” Eunseo meletakan sendok makannya dengan kasar, dentingannya membuat situasi semakin panas.

Joong Ki berhenti sejenak, namun ia kembali melanjutkan langkahnya.

“sampai kau melihat dia mati hanya karena merindukanmu?”

“jangan membahasnya. Besok aku akan pergi dari sini” jawaban Joong Ki dengan sinis bukan pilihan tepat,
Jika nyatanya saat ini  Emosi Eunseo langsung naik mendengarnya, gadis itu melemparkan gelas air minumnya ketembok yang hanya 10 cm disamping kakaknya.

PRAAAAAAAANG

Kontrol emosi yang sempurna dari Eunseo. Lemparan itu adalah Gertakan yang menyiratkan amarahnya. Dan Joong Ki tau, meskipun berpisah belasan tahun, tapi selama 8 tahun ia bermain-main dengan emosi dan sifat sang adik.
Dan 1 lagi yang disayangkan.
Jangan lupakan emosi mereka berasal dari sumber yang sama dan takaran yang sama pula. Jadi tak heran jika seperti ini jadinya.

“jangan merusak satupun barang dirumah ini,  jangan rusak peninggalan eomma!!” Joong Ki memekik hebat menuding Eunseo, tentu saja itu membuat Eunseo tersenyum getir.

“wae? Aku berhak melakukan ini” jawaban Eunseo membuat Joong Ki geram, ia berjalan dengan marah kehadapan adiknya, kini mereka berdiri berhadapan dengan kilatan-kilatan amarah yang sama.
Berada dikondisi yang sama namun dipaksa memilih. Itu terasa sangat sakit.
Terpisahkan selama 13 tahun dengan sang adik membuat Joong Ki merasakan kehampaan dan kehilangan yang luar biasa. Ditambah kematian ibu mereka. Semua itu bagai kenangan pahit yang kompleks.
Kebahagiaan keluarga mereka hanya berlangsung singkat, bagai kering setahun dihapus hujan semalam.
Ia ingat betul keseluruhan dari kenangan pahit itu.

“kau tidak seharusnya melakukan hal bodoh ini” melembut, Joong Ki mengalah. Ini memang karakternya sedari kecil. Selalu mengalah ketika berhadapan dengan Eunseo. Rasa sayangnya selalu meluluh ketika melihat manik mata Eunseo memancarkan rona sakit hati.
Namja itu berjongkok dan berniat membereskan puing-puing kecil gelas yang berserakan akibat ulah adiknya.

“bukan appa yang meninggalkan eomma. tapi eomma yang mengkhianati appa” Eunseo menahan perih hatinya, mengingat hal yang seharusnya tidak membuat dirinya membenci orang yang melahirkannya. Tapi ia juga tidak bisa menolak mengingat sakit hati yang disebabkan sang ibu.

Joong Ki tersenyum getir, ia diam. Tidak berniat membalas.
Entah apa lagi yang ‘namja itu’ (appanya) katakan pada Eunseo. Tapi itu hanya sebatas penglihatannya. Ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Menelaah dan meninggalkan begitu saja tanpa ingin tau sebab yang pasti.

“bukan appa! Berhenti membencinya” Eunseo masih menatap punggung Joong Ki yang berjongkok membersihkan pecahan-pecahan gelas tadi. Ada sesuatu yang membuat Eunseo marah.
Ibu yang selama ini penuh keceriaan merawat mereka, kasih sayang appa untuk mereka sekeluarga, limpahan kesejahteraan,  apa itu masih kurang?
Ternyata eomma adalah wanita termunafik dalam hidupnya. Ia berselingkuh dengan lelaki lain yang menurut Eunseo jauh dari appa.

“apa yang kurang dari appa?, apa yang sebenarnya wanita itu cari!!!”

“berhenti dan jangan hina eomma!”

Mata Eunseo sudah memerah, ia mengambil 1 gelas lagi dan melemparkannya.

PRAAAAAAANG

“kau masih membelanya?! Setelah semua penghianatan didepan mata kita, kau masih membelanyaa!!!!!!!!”

“kau tidak tau apa-apa dan tutup mulutmu!!!!”

Hening,

Sepersekian detik mereka berpacu dengan triakan-triakan emosi bercampur dengan nafas mereka.

“lakukan apa yang kau inginkan” Joong Ki mengakhirinya. Ia beranjak keluar rumah dan membanting pintu dengan keras.

BRAAAAAAAK

Sepeninggal sang kakak, Eunseo luruh, ia menunduk sambil menahan air matanya.
mengangkat tangan dengan gemetar, tangan ini baru saja memecahkan gelas-gelas kesayangan eommanya dulu.
Berharap sakit hatinya akan terbalas, tapi sama sekali tidak. yang ada hanya perasaan bersalah dan pedih yang ia tahan.
Sebuah perasaan dimana ia selalu menolak hati nurani.
Hati nuraninya masih sangat menyayangi sang ibu, tapi fakta bertriak, memekik untuk membuatnya membenci eomma.
Semua ini semu untuk Eunseo . tidak bisa mengetahui mana hal yang benar dan hal yang salah.

*************

    [Appgeujong – South Korea]
-20.00- Malam
Kediaman Keluarga Kim

Meja makan terlihat kacau saat si berbuih Kai membuat fitnah keji pada hyungnya. Tentu saja Yesung yang memiliki kadar egois dan sangat menjaga image itu tidak terima.

“setelah dia menghinaku, lelaki tak laku ini juga menelantarkanku dijalan”

Nyonya Kim langsung melempar tatapannya pada Yesung. “kau tidak mengantarnya sampai dirumah?”

Yesung yang ditanya langsung menggetok kepala sang adik dengan sendok makan.
“Ya! semakin kau bicara yang tidak-tidak, ancamanku berlaku 5 menit setelahnya”

Senyum kemenangan Kai menghilang, ia langsung terperanjat dan merajuk dengan gaya kekanak-kanakannya. “haaaa…….. appa… tagih kunci mobilku pada si bodoh ini appa…”

Dugh!

Rasanya Kai lupa kalau hyungnya duduk disamping.
Jadi dengan mudah Yesung terus memukul kepala adiknya yang entah berisi apa saja.
“lebih bodoh mana dari siswa peringkat terakhir hah! Memalukan!”

“ini bukan masalah memalukan! Siapa peduli peringkat! Asal bisa mencari uang dan hidup dengan keren, maka wanita akan mengantri padamu, bukannya tidak laku seumur hidup, weeek” lidah Kai menjulur sangat panjang membuat Yesung semakin geram. Anak ini benar-benar cari mati! Namun sebelum Yesung ingin memukul sang adik, Tuan Kim langsung angkat bicara.

“appa masih percaya pada hyungmu untuk urusan mobil sampai ujianmu selesai”

“Mwo?! Appa ya… aigoo.. kau ingin aku mati kurus tak terurus setiap pulang sekolah? Dia akan terus menelantarkanku..”

“Maka dari itu jangan hina kakakmu dan ikuti nasehatnya” imbuh sang ibu. Tentu saja kini giliran Yesung yang tersenyum penuh kemenangan.

“eomma! apa yang kau harapkan dari lelaki tak laku ini!” mungkin Kai adalah spesies titisan ular berbisa. Apapun yang Ia katakan adalah sebuah musibah.

“Jong In ya.. “ kembali eommanya membela Yesung.

“aku hanya curiga dia tertarik pada namja”

PLETAAAAAAAAK

Kini tak main-main, sebuah gangang sendok nasi melayang untuk pertama kali, rasanya gegar otaklah sekarang anak ingusan ini.

“Ya! Joong Woon a! apa yang kau lakukan pada adikmu?!”

“rasakan!”

Kai bukannya jera, dia malah kembali membuat ulah. “dasar psikopaaaat! Weee”
Kalau saja ia tak kabur, mungkin akan bertambah 1 benjolan lagi.

“jangan terlalu keras padanya Yesung ah” sang ibu kembali duduk dimeja makan setelah menggiring Jong In menuju kamar, memang masalah besar jika membiarkan mereka berada dalam 1 tempat yang sama.

“itu juga demi kebaikannya, biarkan saja.” Yesung berusaha acuh,

“terkait yang dibicarakan adikmu tadi, apa benar kau tidak memiliki yeojachingu?”

Yesung diam, ia sibuk dengan buku ringkasan yang dipelajarinya. Jangan salah, Yesung selalu mendapat peringkat pertama ditingkatannya. Bahkan hingga tingkat III sekalipun.
“itu tidak terlalu penting”

Tuan Kim langsung menyela sambil tersenyum.
“kau sudah mendengar Song Ajjushi akan kembali dari amerika?”

Yesung mengangguk, tapi tetap pada buku ringkasannya.
“dan kudengar putrinya sudah tiba terlebih dahulu dan bersekolah ditempatmu, kau sudah tau juga kan?” tepat! Rasanya jika eommanya adalah orang yang paling mengerti perasaannya, maka sang ayah adalah orang yang paling mengerti akan jalan pikirannya. Hahaha.

“jadi apa yang perlu dikhawatirkan lagi”
Tuan Kim mengangkat bahunya.

“hey, sebenarnya ini ada apa?” tanya nyonya Kim yang tidak mengerti bertanya pada suaminya.

“tanyakan saja pada orangnya”

“ceritakan pada eomma , Yesung” Yesung menggeleng, ia bangkit dan mencoba menahan senyumnya, tapi tidak bisa menahan gurat malunya. “nanti saja eomma akan tau”

DRAAAAAG

Namja itu bangkit menuju kamar meninggalkan kedua orang tuanya. “apa ini ada hubungannya dengan rencana pertunangan yang kau katakan tempo hari?”

Tuan Kim langsung tertawa lebar. “kau memang istriku yang paling hebat.”
Ia mengambil koran setelah istrinya membereskan meja makan.

“dia sudah memiliki pilihan, biarkan dia yang memainkannya, kita hanya perlu menyediakan tempat. hahaha”

***********

Dikamar Yesung langsung beranjak kelaci, ia mengambil sebuah liontin kalung.
Dibukanya kalung itu dan disana ada 5 orang yang tengah berfoto.
Appa, eomma, dengan Jong In digendongannya, lalu dirinya ketika kecil dan seorang gadis kecil lagi, Yesung tidak tersenyum,
Ia hanya geli.
Geli mengingat hari pertamanya melihat gadis kecil ini dalam ukuran sudah jumbo. Hahaha

Tidak berubah, hanya saja lebih judes dari yang Yesung kenal.

“kita akan lihat, siapa yang akan lebih lama bertahan discenario tidak saling kenal ini, nonna Song.”

“aku, atau kau” ungkapnya dengan senyum yang lebar.

TBC

Wkakakakaka paraaah nih..
Ringan bangeeet yakh!
Tunggu dipart berikunya, boleh dah tebak-tebak dulu apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi jangan lupakan ArVi suka banting stir loh ya..
Kalau udah ketebak ya..
Vi pastiin endingnya bakal beda. Wkkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkw

See u next chap eonnie! :*

5 thoughts on ““Lovely Sunbae” ‘twoshooot’ (Part 1)

  1. Aigo Eunseo judes bngt yach…
    Eh i2 Jong in kasihn jg kpalax d.getok mulu ma yesung oppa…

    ceritax bgs… d.tnggu part s.lanjutx… jangn lama2…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s