Remember… | Twoshoot – Ending

 

kibum1

Starring:

 

– Kim Ki Bum

 

– Kim Jae Joong

 

 

~

 

terima kasih untuk respon yang baik di part awal, sebagai balasannya ini aku bawakan part kelanjutannya. semoga kisahnya tidak mengecewakan. seperti sebelumnya semua isi cerita keseluruhan milik saya, semua cast milik mereka sendiri, orang tua dan Tuhan. kalo ada kesamaan cerita sama yang lain, tolong diliat tanggal terbitnya. karena aku gak plagiat berarti yang lain yang diragukan jika terbit setelah ini, jangan bash saya, jangan judge saya, dan jangan CURI karya saya…

 

 

kali ini siapkan headphone lalu play lagu Sad Piano Song 26, kalo belum punya silahkan download dulu karena itu akan sangat membantumu mendapatkan feel.. ^^

 

 

~

 

 

“maaf,” suara lembutnya akhirnya menyadarkanku. aku tersentak dan membuka mataku perlahan, menatapnya yang sekarang berdiri menyamping dan tak berani menatapku. apa yang sudah kami lakukan tadi? mengapa ada sedikit rasa ngilu dibagian dada sebelah kiriku? apa yang harus kukatakan padanya lagi?

 

“kau masih guide-ku kan?” dia memberanikan diri tersenyum menatapku.

 

“engh?”

 

“apa masih ada tempat lain?”

 

“baiklah,” aku membalasnya dengan senyuman canggung yang coba kututupi.

 

tak seperti sebelumnya, diperjalanan kali ini kami hanya terdiam. entah apa yang kupikirkan aku juga tidak mengerti, aku tak menolaknya tapi mengapa sekarang semuanya jadi begitu aneh? inikah yang mereka sebut dengan penyesalan? tapi bagaimana mungkin aku menyesali sesuatu yang juga aku inginkan? mereka biasa mengatakan tentang hal yang aku belum sempat pahami, kesempatan kedua. apa aku sedang coba diberi pilihan untuk melakukannya, kesempatan kedua itu. mungkinkah benar-benar bisa kembali? mungkinkah benar-benar bisa seperti tak pernah sempat terjadi apapun? haruskah aku jujur dan mengatakan yang sebenarnya? haruskah? kutuklah aku!

 

 

“haruskah kita berhenti sebentar?” Jaejoong menatapku, sedikit mengejutkan.

 

“kenapa?”

 

“disini indah,”

 

 

aku menyadari dimana tempat kami berhenti. padang ilalang yang membentang luas. masih hijau, disela-sela ilalang tumbuh bunga-bunga kecil namun tak sebanyak di tempat sebelumnya. Jaejoong turun lebih dulu dan mulai memandangi padang luas itu dengan tatapan takjub. sesekali dipejamkan matanya demi merasakan hembusan lembut sang angin.

 

 

“anggap tak pernah terjadi apapun…” ucapnya nyaris tak terdengar.

 

 

aku kecewa. mengapa harus menganggapnya tak ada? dia menyerah, seperti sebelumnya. rasa bersalah yang dia pancarkan jauh lebih besar dari sebelumnya, kukira dia sangat ingin memutar kembali waktu dan mengubah semuanya. tapi hatiku justru jauh lebih aneh dari sebelumnya. aku tak menginginkannya, bukan itu hal yang ingin kudengar darinya. perlu keberanian darinya untuk memintaku datang menemuinya dan berkata tentang perceraiannya padaku, mengapa secepat itu menyerah?

 

 

“handphone?” dia melirikku, tatapan berat itu sudah lenyap entah kemana.

 

 

“untuk?”

 

 

“mungkin ini akan menjadi hari terakhir aku melihatmu, mau berfoto bersama?”

 

 

“boleh,” aku tersenyum dan menyerahkan ponselku padanya.

 

 

kami mulai mengabadikan pertemuan kami hari ini kedalam gambar, seperti dulu. semakin jauh kurasa semakin tak ingin semuanya berakhir. aku juga tak ingin selamanya hidup seperti robot, aku juga tak ingin selamanya hidup menjadi wanita jahat yang selalu diselimuti dengan kebohongan. menyakiti Kibum, menyakitiku, menyakiti orang-orang disekelilingku. ah, benar. aku sudah menyakiti semuanya. semua hal yang kuanggap tanpa beban itu sebenarnya adalah bibit dari rasa sakit yang setiap hari kusemai, aku tak ingin menjadi seperti itu lagi. tak ingin…

 

 

“kuharap ini benar-benar menjadi yang terakhir…”

 

 

desahnya lalu menyerahkan ponselku. jangan, kumohon jangan lakukan. beri aku sedikit waktu lagi, sedikit waktu untuk memberanikan diriku mengungkapkan semua yang kurasakan, semua yang sebenarnya kuinginkan, semua yang sebenarnya ingin kulakukan namun belum terpikirkan, kumohon beri aku beberapa detik lagi. dia mulai berbalik membelakangiku, tak memberiku waktu. tidak, kumohon tetap disitu… aku…

 

 

“aku tak bahagia, tapi juga tak menderita…”

 

 

kalimat itu akhirnya terlontar dengan sendirinya dari bibirku. dia menoleh, menatapku dalam. ada sedikit rasa tidak mengerti disana. dia berusaha menyebut namaku, namun diurungkannya. hanya berjalan mendekatiku dengan masih menatap dalam mataku, apa yang harus kulakukan sekarang? sudahlah, aku hanya harus mengungkapkan apa yang kurasakan. melepaskan semuanya tanpa menyisakan apapun dari itu di dalam hatiku.

 

 

“datar, semua yang kulalui bersama suamiku… dia pria yang baik, sangat baik tapi aku tetap tak bisa mencintainya…”

 

 

dia menggenggam tanganku, kali ini dengan lembut. tatapannya seolah mengisyaratkan padaku jangan teruskan jika itu akan menyakitimu, tapi aku sama sekali tak tersakiti. sama sekali…

 

 

“aku ingin berhenti jadi wanita jahat, aku ingin berhenti jadi monster yang selalu menyakiti orang-orang disekitarku dengan kebohongan yang terus kubuat.”

 

 

dia memelukku, erat. seolah enggan melepaskanku darinya. tak sepatah katapun keluar dari bibirnya, hanya memeluku dalam waktu yang lama. sangat lama. aku sudah mengatakan semuanya, semua yang ingin kusampaikan, semua yang ingin kukeluarkan. perlahan dilepaskannya dekapan erat itu lalu menghangatkan tubuhku dengan jas yang dia pakai, suasana dingin masih sesekali menyelimuti karena ini masih awal musim semi. hari terasa begitu singkat, mungkin karena perjalanan yang kami lalui lumayan jauh. aku bahkan tidak menyadarinya.

 

 

“kau, ingin benar-benar kembali?” tatapnya, disodorkannya sebotol minuman kaleng padaku. kami menunggu matahari yang mungkin akan segera kembali bersembunyi

 

 

“entahlah…”

 

“aku juga monster,” dia tersenyum lembut.

 

“hm?”

 

“mengapa kita melakukannya? aku yang mengatakannya? hari itu,”

 

“tapi aku yang menyetujuinya,”

 

 

“kau tidak ingin pulang? suamimu akan mengkhawatirkanmu,”

 

 

“aku ingin mengakhirinya…”

 

 

“jika itu bisa membuatmu bahagia,”

 

 

“semuanya akan baik-baik saja kan?” aku merebahkan kepalaku di pundaknya. green tea, aroma itu semakin tercium lembut. aku ingin selamanya seperti ini, selamanya…

 

 

deg,

 

 

rasa sakit itu datang lagi, itu membuatku membuka paksa mataku. apa yang sudah kulakukan? bukan, tapi mengapa aku melakukannya? aku, sekarang aku masih milik seorang pria mengapa aku seperti ini pada pria yang lain? aku ingin berhenti menjadi jahat? tapi apa yang sedang kulakukan, bukankah ini akan lebih jahat? sekalipun aku ingin menyelesaikannya, mengapa aku mengakuinya pada pria lain sebelum suamiku? aku akan benar-benar sangat menghancurkannya jika seperti ini, aku harus kembali. kembali padanya dan mengatakan yang sebenarnya.

 

 

“aku ingin pulang…”

 

 

“pulang?”

 

 

“kurasa ini sudah terlalu jauh,”

 

 

“bukanah kau masih mencintaiku? kau tidak mencintai suamimu kan?”

 

 

“ini bukan lagi tentang cinta, tapi tanggung jawab… apa yang dilakukan wanita bersuami dengan pria lain, itu hal yang salah…”

 

 

aku meninggalkannya. dia hanya menatapku, tak berusaha mengejarku. sekarang apa lagi yang kulakukan? aku menyakiti orang yang kucintai? meninggalkannya demi suamiku? apa aku baru saja melewatkan kesempatan keduaku? tidak, masih belum. aku akan menemu Kibum dan menjelaskan semuanya padanya, semuanya. aku tak ingin mengurungnya lagi dalam kebohonganku. sampai kapan aku akan terus berbohong dan menyakitinya?

 

 

 

 

aku berhenti tepat di depan rumah sakit tempat suamiku bekerja, entah mengapa hatiku sangat bulat ingin jujur padanya tentang apa yang kurasakan. aku tidak mengerti kenapa, namun hatiku melakukan hal yang sama sekali tidak mampu diartikan oleh otakku. aku tidak mengerti mengapa ada batu besar yang menghalangiku untuk bernafas disana. seharusnya aku lega setelah mengatakan semuanya pada Jaejoong tadi. seperti saat dokter memperbolehkanmu kembali memakan makanan manis, seharusnya aku bisa memakannya sepuasku. tapi aku sama sekali tidak mengerti, mengapa justru aku enggan memakannya lagi. justru ada beban ketika sedikit demi sedikit makanan itu masuk ke mulutku.

 

 

“hallo…” aku mengucapkan kalimat pertamaku begitu panggilanku berhasil tersambung pada suamiku,

 

 

“yeobo, ada apa? apa terjadi sesuatu?” suaranya terdengar cemas, dia mengkhawatirkanku. seperti biasa.

 

 

“tidak, hanya ingin mendengar suaramu…” lagi, aku berbohong.

 

 

“kau, di rumah sakit sekarang? di depan?”

 

 

“eum…”

 

“tunggu disitu, aku akan segera keluar,”

 

 

sambungan terputus, aku sangat yakin jika sekarang dia sedang berlari meninggalkan semua pekerjaannya demi menemuiku. aku masih berdiri menunggu di luar, hari sudah semakin gelap sejak tadi, aku tidak menyangka jika hari ini benar-benar kuhabiskan bersama Jaejoong. senyaman itukah aku bersamanya? sampai aku melupakan waktu. sesekali aku menghitung bunga yang berjajar rapi di teras rumah sakit, mengulanginya lagi jika sudah sampai pada hitungan yang terakhir hingga kutatap pria itu sedikit berlari kearahku. senyumannya justru terlihat penuh dengan kekhawatiran, aku membalasnya dengan senyuman kecilku, berharap dia mengerti jika aku tak mengapa.

 

 

“apa yang terjadi? apa sangat kesepian saat aku meninggalkanmu sendiri? atau kau ingin disini bersamaku?” dia menyerangku dengan kalimat-kalimat tanya yang sebenarnya hanya memiliki satu jawaban,

 

 

“tidak, aku tidak apa-apa…”

 

 

“benar?”

 

 

“eum…” aku mengangguk. kutatap matanya lama, mencoba mengatur nafasku. beranikah aku melakukannya? jujur tentang semua yang sejak tadi sudah bulat ingin kukatakan? padanya?

 

 

“kenapa? ingin mengatakan sesuatu?” dia berusaha meyakinkanku, tatapan yang seolah berkata tak apa katakan saja, apapun itu aku akan mendengarkan.

 

 

“bogoshippo…” lagi? aku berbohong lagi.

 

 

“benarkah?” dia tersenyum lembut.

 

 

perlahan didekapnya tubuhku ke dalam pelukannya, seperti biasa, hangat. Tuhan, apa yang sudah kulakukan? mengapa aku jadi seperti ini? rasa aneh yang sejak tadi menggangguku lenyap seketika, hal yang sama sekali tidak dimengerti oleh otakku namun terasa begitu nyaman di hatiku. aku tak bisa mengatakannya, aku tak bisa melakukannya, kurasa tak akan pernah bisa. perasaan apa sebenarnya ini? perasaan yang jauh lebih dalam dari apa yang mereka sebut cintakah? kukira aku mengerti mengapa ada banyak wanita yang memilih hidup bersama dengan pria yang tak mereka cintai daripada pria yang mereka cintai, kenyamanan yang seperti ini tak bisa kau dapatkan dari sembarang pria. sekalipun dia orang yang sangat kau cintai. lalu akhirku? akan seperti ini? kembali menjadi monster? ini seperti ketika kau yang sejak awal tahu jika itu salah, namun tetap melakukannya karena kau menyukainya.

 

 

“jangan memikirkan terlalu banyak hal, itu akan sangat melelahkan…” bisiknya pelan. diusapnya lembut helaian rambutku, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang menyapa puncak kepalaku.

 

 

“kau masih sibuk kan? pergilah, nanti mereka memecatmu,” aku menggodanya.

 

 

“ah iya, aku lupa.” dia melepaskan pelukannya.

 

 

“aku akan pulang…”

 

 

“biar kuantar,”

 

 

“tidak perlu, aku bisa naik taksi.”

 

 

“baik, akan kucarikan…” dia tersenyum dan sedikit berlari menuju jalan lalu melambaikan tangannya padaku begitu berhasil menemukan taksi.

 

 

“aku pulang,”

 

 

“hati-hati.” dia membuka pintu taksi lalu menutupnya perlahan, sedikit melambaikan tangannya begitu taksi mulai melaju.

 

 

tak berapa jauh sebenarnya letak rumah sakit dari rumah kami, aku turun begitu sampai tepat di depan gerbang.

 

 

“berapa pak?”

 

 

“tidak perlu, tadi suami nona sudah membayar…”

 

 

“benarkah? terima kasih.”

 

 

“sama-sama, semoga cepat sembuh,” dia tersenyum lalu berlalu meninggalkanku yang hanya mampu menatapnya bingung.

 

 

cepat sembuh? apa aku sakit? ah, dia pasti mengira seperti itu karena aku baru saja dari rumah sakit. aku mulai melangkah menuju pintu rumah, rasanya tubuhku sangat letih padahal tak banyak yang kulakukan hari ini. kuraih knop pintu dan memutarnya, oh?! tak terkunci! aku lupa lagi menguncinyakah? dasar ceroboh, bagaimana jika pencuri sudah mengambil semua isi rumah selama aku pergi? dengan cepat aku masuk dan sedikit berlari memeriksa isi rumah, untunglah tak ada yang hilang. tapi tunggu dulu, bukankah sudah kupinta agar dia memasang kunci pengaman untuk pintu? apa belum juga sempat dia lakukan? jika sudah seperti ini jangan salahkan aku jika seluruh isi rumah tiba-tiba lenyap.

 

 

“ah hausnya…”

 

 

akhirnya aku berjalan menuju dapur dengan satu tujuan, kulkas. kubuka benda kotak berwarna silver itu lalu mulai meraih sebotol air putih dari dalamnya, perlahan membuka tutupnya dan mulai menuangkannya ke dalam gelas yang memang tak beranjak dari atas meja. mereguhnya pelan hingga semuanya terasa lega, seperti masuk ke kolam saat musim panas. kubuka kembali pintu kulkas lalu mulai memasukan botol itu kedalamnya. tepat ketika ingin meninggalkannya, aku menghentikan langkahku lalu mengarahkan pandanganku pada pintu kulkas. menatapi gambar-gambar yang terpajang indah disana. aku bahkan lupa siapa yang membuatnya, akukah? kurasa iya…

 

 

happy 1th anniversary…

 

 

happy 2nd anniversary…

 

 

aku membaca tiap-tiap tulisan yang tertera pada foto, terlihat aku dan Kibum tersenyum bahagia berfoto bersama cake berwarna cerah dihadapan kami berdua. sontak mataku tertuju pada satu foto yang lain.

 

 

green tea dan lemon, lemon tea…

 

 

terlihat aku dan Kibum mengangkat gelas yang berisi lemon tea, lemon tea? mengapa Kibum juga tahu lemon tea? apa aku juga menceritakannya padanya? tunggu dulu, green tea? parfume Jaejoong? Kibum? apa ini? mengapa semuanya membuatku bingung. aku memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing, seketika semua gambaran yang kulakukan hari ini terputar kembali seperti slide-slide video. saat aku pertama kali bertemu Jaejoong di cafe, saat pergi bersamanya, berfoto bersamanya, bahkan bersandar dibahunya.

 

 

seketika gelas yang masih berada di tanganku terlepas dan berhamburan menjadi kepingan-kepingan kecil begitu berhasil menghempas lantai, aku terduduk. tubuhku bergetar. apa yang terjadi padaku? mengapa aku jadi seperti ini? aku kembali teringat pada foto bersama Jaejoong yang kuabadikan di ponsel tadi, kuraih tas yang berada di atas meja, mampu kugapai sekalipun posisiku sedang duduk di lantai lalu kuambil ponselku dan mulai mengecek semua foto. tak kutemukan foto Jaejoong disana, tak satupun.

 

 

pletak,

 

 

terdengar knop pintu diputar dan pintu mulai terbuka, kuarahkan pandanganku pada pria yang sekarang berdiri menatapku dalam. cukup lama hingga dia tersenyum dan,

 

 

“sekarang, aku siapa?”

 

 

suaranya terdengar parau, dia menyimpan gundukan besar di dalam dadanya yang membuat suara itu jadi aneh. mata bening itu mulai mendung, rasa sakit itu kembali menyelimuti dadaku. sesak, sangat sesak. aku menopang kuat kakiku, berusaha keras untuk berdiri namun tak sedetikpun mengalihkan pandanganku dari matanya. bulir itu lebih dulu mengalir dari kelopak mataku, aku tak bisa lagi menahannya.

 

 

“suamiku tercinta, Kim Kibum…” ucapku terisak. dia sedikit tertawa kecil namun air mata itu justru terjatuh disaat yang bersamaan.

 

 

aku tak bisa lagi menahannya, secepatnya aku berlari dan memeluknya erat. aku gila. ya aku ingat semuanya, semuanya. alasan mengapa hatiku begitu sakit namun otakku sama sekali tak bisa memahaminya, aku ingat semuanya mengapa hari ini aku menghabiskan semua waktuku bersama Kim Jaejoong namun justru pria yang berada di dalam foto justru Kim Kibum. parfume aroma green tea, lemon tea, juga tempat yang dia tidak mengerti dimana.

 

 

beberapa tahun yang lalu, setelah aku berpisah dengan Kim Jaejoong aku mengalami kecelakaan. sangat parah, dokter bisa menyembuhkan fisikku namun tidak dengan kemampuan otakku. aku tidak mengerti awalnya, namun semakin lama aku semakin merasa begitu berbeda dengan orang normal lain. kadang aku tak ingat siapa ayahku, memanggil ibuku dengan panggilan ahjumma, atau berubah menjadi ahjumma pemilik kedai dan memberikan semua dagangan miliknya secara percuma. ketika penyakitku mulai sangat parah, aku bahkan sama sekali tidak mengingat diriku dan berubah menjadi monster. suamiku bukan dokter ahli bedah, itu adalah pekerjaan Kim Jaejoong. suamiku adalah seorang psikolog, itulah alasan mengapa aku bertemu kembali dengannya. kembali? ya, kami sudah saling kenal sebelumnya.

 

 

bukan Jaejoong yang mengajariku berseluncur di es, bukan Jaejoong cinta pertamaku. itu terjadi ketika kami masih SMA, Kibum adalah siswa yang populer dan aku menyukainya lalu memberinya gelar cinta pertamaku. green tea adalah aroma parfume yang sudah dia gunakan sejak dulu dan jus lemon adalan minuman favoritku sejak dulu, kami selalu menggabungkannya menjadi lemon tea. setelah bertemu kembali denganku dan keadaanku yang berbeda dari sebelumnya, dia satu-satunya orang yang sama sekali tidak menyerah. seluruh keluargaku sangat mengkhawatirkannya begitu dia memutuskan untuk berhenti dari tempat dia bekerja dan menikahiku, demi pemulihanku dia menjadi suami sekaligus dokter pribadi untukku.

 

 

berkatnya aku tak lagi sering berubah menjadi monster, berkatnya aku sudah bisa sedikit demi sedikit kembali menjadi diriku sendiri, namun hasilnya selalu seperti ini. kadang ketika terbangun dan melihatnya berada di sampingku aku akan berteriak dan menelpon polisi, atau kadang aku akan melihatnya sebagai supir taksi dan memintanya mengantarku kemanapun aku mau. semua itu proses penyembuhanku katanya, walaupun aku sendiri kadang marah pada diriku yang seperti itu. ya, jika otakku sedang berimajinasi aku bahkan bisa melihat satu orang yang sama menjadi beberapa orang yang berbeda dalam satu waktu.

 

 

“kukira itu keterlaluan, bagaimana bisa kau membiarkan pria lain menciummu?” dia menatapku, tersenyum ringan. berusaha mengobati semua rasa bersalah yang sekarang memenuhi benakku.

 

 

“maaf,” hanya sampai disitu, aku masih belum bisa melanjutkan kalimatku karena isakan.

 

 

dia tak pernah mengingatkanku diawal karena itu akan membuatku bingung lalu kembali step, itulah sebabnya dia akan berperan seperti apapun imajinasi yang keluar dari otakku. Kibum selalu melakukannya, setiap pagi setelah bangun tidur dia akan menungguku memanggilnya seperti apa, atau menungguku menyiapkan apa untuknya, kemeja yang seperti apa, seragam yang seperti apa, jas, tas, kunci mobil, dia akan menungguku memberikannya padanya agar dia mengerti harus menanggapiku seperti apa. tapi untuk hari ini, kurasa aku sudah sangat keterlaluan. bagaimana dia bisa menahannya? aku memanggilnya dengan nama pria lain, menatapnya sebagai orang lain, bahkan membuatnya menjadi sangat tak berarti justru dihadapan dirinya sendiri. aku tahu itu akan sangat menyakitinya, sangat…

 

 

“terima kasih, tetap mengingatku…” dia kembali memelukku.

 

 

aku tak ingin jadi seperti ini lagi, aku tak ingin membuatnya menjadi sosok orang lain dan menyakitinya lagi. aku bahkan tak ingin tidur jika akhirnya besok harus melihatnya entah sebagai siapa lagi. seperti orang normal yang mengigau saat tidur, aku juga akan melakukannya pada malam hari. aku akan terbangun dari tidurku dan mulai menceritakan semua yang ingin kualami besok di dalam pesan, lalu mengirimkannya pada satu-satunya nomor yang ada dalam daftar kontak ponselku.

 

 

‘besok, dia akan menghubungiku lagi, Kim Jaejoong. dia cinta pertamaku, dia akan mulai mengajakku bertemu di tempat perpisahan kami, satu-satunya cafe yang menyediakan jus lemon. dia mulai memintaku menemaninya berkeliling, lalu menceritakan tentang perceraiannya. dia bahkan memintaku untuk kembali padanya lalu meninggalkan suamiku yang tak kucintai.’

 

 

sending message…

 

 

sent to: Kim Kibum,

 

 

The End

3 thoughts on “Remember… | Twoshoot – Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s