Move On! | Part 3

 

MOVEON

Move On!

Author            : Kim Ha Joon

Genre              : Roma            nce

Part                 : 3

Cast                : Shin Min Ah, Choi Seung Hyun a.k.a TOP (Big Bang), Lee Seung Gi, Woo Ri, Park Hyung Sik, Krystal Jung,  and other casts.

 

Malam kian larut di Kota Seoul. Hujan salju telah berhenti namun jejak kedatangannya masih tersisa. Salju tipis menyelimuti tiap-tiap permukaan benda di seantero kota. Diatap gedung, di dedaunan, dan di jalan-jalan. Suhu udara  mencapai  angka 4  derajat celcius. Hampir mencapai titik beku. Semua penghuni kota merasakan dinginnya  malam itu. Kecuali Shin Min Ah…

Dia telah sampai di depan apartemennya. Berjalan sempoyongan dengan tatapan muka kosong melompong terbengong-bengong (?). Badannya panas, wajahnya juga panas. Tas belanjanya sudah hilang entah  kemana. Penampilannya berantakan, rambutnya acak-acakan. Pikirannya masih tak  dapat mencerna apa yg  telah dilakukannya tadi. Dia  memasuki pintu kamar apartemennya. Mengabaikan Woo Ri yg membukakan pintu untuknya. Min Ah langsung menyelonong masuk dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya lurus memandang atap kamar. Menghela nafas dan tiba-tiba mengomel sendiri.

“yaaaak… apa yg telah aku lakukan? Bisa-bisa nya  aku pasrah begitu saja diperlakukan seperti itu. Dasar brengsek! Aaaak…” teriak Min Ah sambil mengacak-acak rambutnya sehingga makin berantakanlah dirinya.

“eonni, kau  sudah gila? Bicara sendiri tak jelas seperti itu. Dan lihatlah betapa kacaunya dirimu. Baju compang camping begitu, rambutmu sudah seperti benang kusut. Memangnya apa yg terjadi padamu? Dan siapa yg kau bilang brengsek, hah? Ceritakan padaku”

“hah, molla. Aku sendiri juga masih bingung dengan apa yg terjadi padaku” jawab Min Ah  dengan wajah sendu.

“mwo? Aneh sekali. Kenapa bisa begitu? Kau pingsan eonni? Sampai-sampai tidak tahu  apa yg telah terjadi padamu. Apa  kau baik-baik saja?”

“entahlah.. aku rasa aku sedang tidak baik-baik  saja sekarang”

“ya, eonni. Aku jadi  khawatir kalau kau  seperti  ini. Ceritakanlah padaku apa yg terjadi” Woo Ri nampak benar-benar mengkhawatirkan kakak sepupunya itu. Min Ah bangkit dari tempat tidurnya dan menepuk pundak Woo Ri.

“keokjeongma.. kau tidurlah sana. Aku jannji akan cerita padamu besok. Sekarang aku lelah, aku mau mandi dulu” ucap Min Ah sambil berlalu  menuju kamar mandi.

“tapi eonni,aku lapar. Mana bisa  aku tidur kalau lapar begini. Mana makanannya? Katanya kau tadi mampir ke  minimarket?”

Langkah  Min Ah terhenti, dia hanya membalikkan mukanya “aah, itu tadi.. Mmm.. aku lupa. Mian.. hhe.. dikulkas masih ada sosis kan? Kau makan saja itu dulu” dengan santainya Min Ah mencari alasan dan langsung menghilang dibalik pintu kamar mandi.

“aiiisshhh…” Woo Ri berdecak kesal.

———

Sementara itu dilain tempat, disebuah rumah  mewah dikawasan elit, Seung Hyun telah selesai membersihkan diri. Dengan hanya mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian bawah tubuhnya sehingga memamerkan tubuh kekar dan abs nya yg sempurna, dia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia dengan santainya menyalakan televisi dan menenggak segelas susu hangat. Tidak ada kepanikan sedikitpun pada  dirinya. Sangat berbeda 180 derajat dengan Min Ah. Seung Hyun seperti tidak merasa melakukan kesalahan. Ekspresinya biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa beberapa jam yg lalu. Aah benar, lama tinggal di Amerika membuat sikapnya jadi mengikuti adat orang barat. Ciuman seperti itu biasa ia lakukan dengan  bule-bule waktu di negeri Paman Sam sana. Jadi hal seperti itu biasa baginya. Bukan hal besar dan bukan hal yg patut di sesali. Yah, begitulah perangai asli Choi Seung Hyun.  Dia kemudian berganti baju dan menghempaskan diri di kasur, bersiap terpejam.

“oh my God!” tiba-tiba dia membuka mata lagi dan seketika terbangun. Ia teringat akan sesuatu.

“aku lupa yeoja itu satu kantor denganku. Dia bawahanku. Bagaimana kalau dia menceritakan apa yg telah terjadi tadi pada semua orang? Bisa gagal pencitraanku. Dan bagaimana kalau aboji sampai tahu? Aaasshh.. bisa mati aku. Sial! Kenapa itu tidak terpikir olehku tadi dan baru sekarang aku ingat? Hah! Apa yg harus aku lakukan?” Seung Hyun turun dari tempat tidur. Dia berjalan mondar-mandir mencoba mencari jalan keluar.

“berfikir.. berfikir.. ayo berfikir Choi Seung Hyun. Pasti ada cara untuk membuat yeoja itu tutup mulut” sudah 15 kali ia berjalan bolak-balik di kamarnya yg sangat luas itu. Nampak ia meletakkan  telunjuknya di pelipis kepala, seolah telunjuk itu bisa membantunya mencari jawaban.

“aha! Aku tahu! Uang! Beri saja dia uang. Ya benar, kalau aku memberinya sejumlah uang pasti dia mau tutup mulut. 10 juta? 20 juta? Ah, segitu pasti cukup. Lagipula 20 juta itu jumlah yg cukup besar kan bagi rakyat jelata seperti dia. Hah, masalah selesai” Seung Hyun tersenyum lega. Dia merasa uang bisa menyelesaikan masalahnya. Dia pun kembali membaringkan diri diatas tempat tidurnya. Saat menarik selimut terdengar ada benda yg jatuh dari balik selimutnya.

“oh, apa itu?” dilihatnya ke kolong tempat tidur. Dan ditemukannya handycam nya yg sepulang tadi ia lemparkan begitu saja di atas kasur. Lalu dipungutnya handycam itu.

“aaah, baterainya habis rupanya” dia pun mencari charger. Setelah tertancap dengan charger, Seung Hyun menghidupkannya. Ia urungkan niatnya untuk tidur dan malah tertarik untuk melihat hasil rekamannya. Di otak atiknya handycam  itu. Semenit kemudian dia terkejut oleh sesuatu yg dilihatnya. Bingo! Dewi fortuna ada dipihaknya sekarang.

———

Tadinya Seung Hyun berjalan seperti biasa dengan penuh wibawa dan dengan ramah menyapa orang-orang yg berpapasan dengannya di lobi perusahaan. Sampai saat akhirnya dia  melihat sosok Min Ah beberapa meter di depannya. Seung Hyun pun berlari mengejar Min Ah. Sadar kalau Seung Hyun mengejarnya, Min  Ah pun lari. Dia tidak ingin tertangkap oleh Seung Hyun. Rasa malu bercampur takut kini memenuhi kepalanya saat harus bertemu Seung Hyun. Jadi dia memilih menghindar dan berfikir akan memberitahu teman2nya bahwa Seung Hyun bukan orang baik seperti apa yg mereka pikirkan selama ini. Aksi kejar2an bak film action pun tak terelakkan. Seung Hyun terus berlari memecah kerumunan. Terkadang ia pun menabrak orang didepannya karena matanya fokus pada Min Ah yg semakin jauh. Min Ah pun berusaha lari sekencang-kencangnya dengan panik sambil sesekali menoleh ke belakang kalau-kalau Seung Hyun telah dekat. Min Ah sampai didepan lift, tapi lift nya masih menutup. Di lihatnya kebelakang, Seung Hyun semakin dekat. Min Ah panik. Dipencetnya tombol lift berkali-kali namun belum terbuka juga. Seung Hyun terus mendekat. Tak sabar menunggu lift, Min Ah berlari ke tangga darurat. Dia berlari sambil ketakutan seperti orang dikejar  setan. Seung Hyun sekarang hanya berjarak sejengkal dibelakangnya.

“srett..” Min Ah berhasil ditangkapnya.

“aaaaak… toloo…” Seung Hyun membekap mulut Min Ah yg mau berteriak minta tolong.

“diam!” bentak Seung Hyun namun agak menahan suara agar tak didengar orang. Min Ah meronta mencoba membebaskan diri dari cengkeraman Seung Hyun. Namun usahanya sia-sia karena cengkeraman Seung Hyun sangat kuat. “diam kau! Tenanglah, jangan melawan. Atau aku akan menyakitimu”

Diancam seperti itu nyali Min Ah menciut. Dia pun menggelengkan kepala memberi isyarat bahwa dia tidak akan melawan. Dia mulai menenangkan diri mengikuti perintah Seung Hyun.

“diamlah, awas kalau kau berteriak! Aku akan melepaskanmu tapi kau jangan lari karena aku ingin memperlihatkanmu sesuatu. Araseo?”

Min Ah hanya menjawab dengan anggukan, pertanda setuju. Lalu menunduk karena tak berani menatap Seung Hyun. Sedangkan Seung Hyun mengambil sesuatu dari tas slempangnya, mengeluarkannya dari sana dan dipencetnya tombol ‘ON’.

“jah, ini coba lihat. Kau pasti akan sangat menyukai ini, hemm?” ujar Seung Hyun seraya menyunggingkan smirknya dan mengangkat alisnya. Nampak handycam yg dibawanya diarahkan ke depan wajah Min Ah.

“omo!! Andwe!! Kenapa..? kenapa bisa ada video ini,  hah?! Kau… kau pasti sengaja merekamnya kan? Dasar kau brengsek!! Hapus video itu!!” sontak Min Ah kaget melihat video yg ditunjukkan Seung Hyun. Bagaimana tidak, itu adalah video rekaman kejadian antara mereka berdua semalam. Ternyata si handycam tak sengaja merekam kejadian itu. Karena saat lari dan bersembunyi semalam handycam itu tergeletak begitu saja ditumpukan kardus. Seolah telah ditata rapi oleh kameramen, handycam itu jatuh dengan enggel dan sudut yg pas untuk merekam scene penuh hasrat yg diperankan keduanya. Bak film dengan rating 18+ yg mempertontonkan adegan-adegan yg mungkin tak lulus sensor. Anehnya di video itu terlihat tidak ada pemaksaan oleh satu pihak. Terlihat natural karena keduanya sama-sama menginginkannya. Padahal dalam hati Min Ah sungguh benci dengan perlakuan Seung Hyun  malam itu. Min Ah pun mencoba merebut paksa handycam itu dari tangan Seung Hyun.

“berikan padaku dasar kau mesum!!” Min Ah terus  mencoba meraih handycam. Namun dia kalah gesit dan  tentu kalah tinggi dengan  Seung Hyun. Merasa gagal, Min Ah kesal dan memukul mukul Seung Hyun. Seung Hyun pun mengerang kesakitan.

“au!! Ah!! Hentikan! Apa-apaan kau! Aduh! Aak! Hentikan hey!! Sakit tau!” dimasukkannya handycam itu kedalam tas dan sekarang tangan Seung Hyun kembali ‘memborgol’ tangan Min Ah. Sekarang Min Ah mulai terisak. Tangisnya pecah. “Hentikan! Dengarkan aku. Kau mau aku menghapusnya? Hhh, tidak akan. Justru aku akan menyebarkannya kesemua orang dikantor. Haha..”

“andwe!! Tidak! Jangan kau sebarkan video itu, jebal. Hiks..” Min Ah memohon dengan diiringi isak tangis.

“oooh.. jadi kau tidak ingin aku menyebarkannya?? Mmm… oke. But, i’ll do it by one condition”

“syarat? Syarat apa?”

“kau tidak boleh mengatakan pada orang-orang tentangku. Cukup hanya kau yg tahu bagaimana sifat asliku”

“Hhh, dasar licik. Ternyata kebaikanmu itu hanya pura-pura” ejek Min Ah

“hey.. tenang, ada syarat lain. Kau harus mematuhi semua perintahku. Harus mau jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu dan selalu siap jika aku butuhkan. Bagaimana? Kau setuju?”

“apa? Itu sama saja kau menyuruhku  menjadi budakmu. Shireo! Aku tak mau!”

“ya sudah kalau kau tidak mau. Aku sih orang kaya, jadi kalaupun aku dikeluarkan dari pekerjaan karena video ini tersebar, aku masih bisa hidup, uangku masih banyak. Tapi kau? Tchh.. aku yakin kau akan menjadi gelandangan kalau kau dikeluarkan.  Tapi kalau itu maumu, ya sudah”

“aissshh.. kau benar-benar orang paling brengsek yg pernah ku kenal”

“hah, tidak usah banyak bicara. Kau setuju tidak?! Kalau kau tidak mau aku akan memperlihatkan video ini ke orang-orang. Ah itu ada Park Hyung Sik, aku akan memanggilnya dan membuatnya menjadi orang yg pertama kali tau. Ya! Park Hy…”

“yak! Hajima! Hajima!” secepat kilat Min Ah  membungkam mulut Seung Hyun “Ku mohon jangan lakukan itu”

“heh, jadi kau sudah memutuskan menerima tawaranku? Hah?”

“huft, nde..” terima Min Ah dengan pasrah.

“naah, begitu kan enak jadinya. Hahahaha..” Seung Hyun tersenyum puas.

“jadi berapa lama aku harus jadi budakmu? Cepat katakan!”

“Mmm… 1 bulan?”

“hah? 1 bulan? Itu terlalu lama. Aku tidak mau. Bagaimana kalau 1 minggu saja?”

“3 Minggu!”

“10 hari!”

“20 hari!”

“2 Minggu!”

“haisssh.. yak! Park Hyung Sss…”

“aaah, ya ya ya  ya.. 20 hari. Baiklah 20 hari”

“deal?” Seung Hyun mengulurkan telapak tangan kanannya.

“deal!” Min Ah pun menyambutnya. Terpaksa. Seung Hyun memasang smirknya lagi. Smirk khas evil jahat namun selalu punya cara yg licik untuk menang. Dia pun berlalu, meninggalkan Min Ah dengan segala nasib buruk yg menimpanya. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya menahan agar air matanya tak keluar. Namun sedih dan kesal tak kuasa ia tahan. Dia pun terisak, meratapi kejadian buruk yg telah dan yg akan menimpanya  setelah ini.

——-

Dari pagi hingga menjelang jam istirahat makan siang Min Ah tidak fokus bekerja. Pikirannya terus dipenuhi tentang nasib sial yg menimpanya. Dia tak habis fikir kalau masalahnya jadi sangat menyusahkan begini. Dan juga tak habis fikir kalau supervisor barunya itu ternyata bagaikan seekor musang licik yg berpura-pura menjadi domba berbulu indah. Tiap kali dia melihat kearah ruangan Seung Hyun yg bersekat sebuah pintu dan kaca di sebagian dinding atasnya, dia akan sangat kesal. Memaki-maki dengan sumpah serapah dan segala macamnya. Namun tentu tak bersuara. Sedangkan Seung Hyun dari balik kaca ruangannya yg hanya bisa mellihat satu  arah (yg didalam bisa melihat keluar, tapi yg diluar gak bisa liat kedalam) tersenyum puas dan sangat gembira atas kemenangannya saat dillihatnya Min Ah  menatap tajam ke arah ruangan sambi mulutnya komat-kamit.

“titiiiit.. titiiiit..” telepon Min Ah berbunyi tepat satu menit sebelum jam istirahat tiba. Dia kira itu adalah telepon dari costumer.

“yeoboseo. Dengan costumer service PT. Korean Cell disini. Ada yg bisa  kami bantu?”

“ya Shin Min Ah, tugas pertamamu sebagai budakku.. ah, aniya. Kata budak terlalu kasar. Mmm… aku akan menyebutmu Dobby! Ya Dobby! Itu cocok untukmu. Karena kau persis seperti Dobby, kurcaci milik Harry Potter yg selalu menurut pada tuannya. Dan akulah tuanmu sekarang wahai Dobby. Haha..”

“yak!!” bentak Min  Ah dengan suara melengking. Alhasil seisi ruangan menoleh padanya. Merasa di diperhatikan banyak orang, ia memelankan suaranya. Sambil berpura-pura ramah pada si penelpon. Seolah-olah orang diujung telpon adalah seorang pelanggan “aah.. nde ahjussi.. apa masalahmu? Mungkin aku bisa membantumu”

“tch.. kau juga pandai berpura-pura rupanya. Dasar Dobby! Hhh..”

“bisakah Anda langsung pada masalahnya,ahjussi? Karena sebentar lagi waktu istirahat kami. Jadi sambungan akan kami tutup” ucap Min Ah lembut lengkap dengan senyum tapi dengan gigi yg menggeretak (?) dan lirikan maut ke arah ruangan Seung Hyun.

“ne.. ne.. araseo. Tugas pertamamu adalah membersihkan ruanganku sekarang!”

“mwo??!!” Min Ah hampir lupa dengan perannya karena terlalu kaget. Tapi seketika ia kembali ingat “oh tidak bisakah itu diselesaikan nanti, ahjussi? Ini sudah waktunya kami istirahat”

“jadi kau menolak? Baiklah.. siap-siap saja jadi gelandangan”

“aniya! Baiklah ahjussi. Saya akan membantu Anda sekarang”

“tut.. tut..” telepon terputus tapi Min Ah masih berpura-pura menerima telpon. “aishh.. orang ini  sungguh menyebalkan” runtuknnya dalam hati.

“eonni.. ayo kita makan siang” ajak Krystal.

“oh? kalian duluan saja. Nanti aku menyusul”

“wae? Kau masih ada pelanggan? Tutup saja sebentar. Suruh menelpon satu jam lagi. Ini kan waktunya istirahat” Hye Kyo mencoba memberi saran.

“tapi ini penting. Menyangkut reputasi perusahaan di mata pelanggan. Jadi aku harus melayaninya dengan baik”

“jeongmal??”

“Emm.. tenanglah, aku akan menyelesaikaannya dengan cepat. Kalian makan saja duluan”

“ya sudah kalau begitu kami makan dulu. Krystal, Kaja!”

“kaja Hye Kyo eonni, Min Ah eonni fighting!” Krystal menyemangati dan kemudian bergegas menuju kantin. Setelah mereka  menghilang dibalik pintu dan ruangan itu sepi, barulah gagang telpon yg daritadi digunakan sebagai kamuflase, ditaruh lagi pada tempatnya. Tak lama muncullah Seung Hyun dari ruangannya. Melenggang santai penuh senyum kemenangan melewati Min Ah.

“aisshh.. jinja, si brengsek ini sungguh menyebalkan”

Mendengar dirinya dikatai, Seung Hyun menghentikan langkah dan mundur kembali ke depan meja Min Ah. “ah Dobby, bersihkan ruanganku sampai bersih ya? Kalau perlu pel lantainya sekalian. Setelah selesai baru kau istirahat. Orang brengsek ini mau makan dulu. Haduuuh.. perutku lapar sekali” ucapnya pada Min Ah dengan maksud mengejek sambil melenggang pergi.

“Tch.. dasar! Semoga kau makan-makanan beracun supaya mati, Harry Potter brengsek!”

Seung Hyun yg samar-samar masih bisa mendengar kutukan Min Ah hanya nyengir meremehkan. “ternyata tinggal di Korea tidak begitu membosankan”

——–

Setelah hampir separuh waktu istirahatnya digunakan untuk membersihkan ruangan Seung Hyun yg ternyata memang sengaja dikotori hanya untuk mengerjai Min Ah, sekarang ia pun bisa menikmati makan siangnya, sendiri tentunya.

“sruuuup.. hrawk.. hrawk..” begitulah kira-kira bunyi-bunyian yg dihasilkan ketika Min Ah makan dengan sangat cepat. Dia harus buru-buru menghabiskan makanannya karena jam istiirahat akan segera habis.

“gara2 Harry Potter gila itu aku  harus makan tanpa mengunyah, sendirian pula. Hah, awas saja kau brengsek. Suatu saat kau akan mendapat balasannya! Prak!” umpat Min Ah sambil menggebrak meja yg justru membuat sendoknya terjatuh.

“yaaah.. sial! Kenapa pakai jatuh segala ini sendok, aku makan pakai apa? Haduuh..” diambilnya sendok yg jatuh ke arah belakang kursi. Saat mau beranjak berdiri, dia tak sengaja melihat seseorang di meja seberang. Dia terkejut. Tak percaya pada apa yg dilihat. Orang itu? apa benar dia? Ah tidak mungkin. Setelah mengucek-ngucek mata, Min Ah melihat orang itu sekali lagi. Dengan lebih seksama. Apa yg dilihatnya tidak berubah. Itu benar-benar orang yg dia kenal.

“Lee Seung Gi?” ucapnya lirih. Nampak orang itu menoleh ke arah Min Ah. Tapi Min Ah justru membalikkan badan. Badannya gemetar, jantungnya berdegup lebih kencang, dia tak tahu harus bagaimana jika orang itu benar-benar Lee Seung Gi. Tak tahu harus berkata apa jika harus bertemu kembali setelah bertahun-tahun lost contact. Min Ah memberanikan diri melihat ke belakang. Dia makin gemetaran ketika dilihatnya orang itu beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah Min Ah. Min Ah seketika terduduk dan kembali membalikkan badan tak berani melihat orang itu lagi. Badannya makin bergetar hebat. Matanya terpejam. Entah kenapa dia setakut ini. Bukankah seharusnya dia senang bertemu dengan orang yg selama ini masih ada di dalam hatinya. Perasaan apa ini? Kenapa seperti ini? Aah, mungkin dia grogi. Ya, grogi karena harus dipertemukan kembali dengan orang yg membuatnya belum bisa move sampai sekarang.

“ottoke? Apa yg harus aku katakan kalau itu benar-benar dia? Haruskah aku meminta maaf padaanya dan mengatakan yg sebenarnya bahwa aku berbohong waktu itu? Dan mengatakan yg sebenarnya bahwa dialah orang yg kusuka? Hah bagaimana ini? Ottoke? Ottoke?” suara langkah kaki terdengar makin mendekat. Semakin dekat. Dan sekarang benar-benar dekat. Min Ah merasakan ada tangan yg memegang pundaknya dan seseorang duduk disampingnya.

“Min Ah ya, nugu? Orang yg kau sukai nuguya? Apa itu aku?” suara namja yg sangat familiar ditelinga Min Ah membuyarkan semua ketegangan. Min Ah curiga dan membuka sebelah matanya melirik seonggok manusia yg duduk disampingnya.

“huft, ya Park Hyung Sik! Kau membuatku kaget! Ku kira kau adalah…” kata-kata Min Ah terhenti. Pandangannya mengelilingi seluruh penjuru kantin, mencari sosok seseorang. Namun tak ketemu. “dimana dia? Kenapa tidak ada? Apa aku salah lihat tadi? Hmm, ya! mungkin aku hanya salah lihat”

“nuguya? Kau kira aku siapa? Dan kenapa kau clingak-clinguk begitu? Aaah.. kau takut ketahuan Krystal kalau kau sebenarnya menyukaiku ya? Iya kan? Haha.. mengakulah. Hmm.. benar kan dugaanku. Ya, aku tahu aku begitu tampan. Jadi semua gadis menyukaiku” Hyung Sik berlagak sok cool sambil membenarkan kerah bajunya dengan penuh percaya diri.

“Tch.. sungguh namja yg penuh percaya diri”

“tenanglah chagi, aku akan membagi waktuku. Separuh untuk Krystal dan separuh lagi untukmu. Bagaimana?” Hyung Sik menggoda Min Ah seperti biasa sambil flirting dan menaik turunkan alisnya.

“kau mau aku pukul dengan piring ini, hah?” ancam Min Ah sambil mengangkat piring.

“wuoh.. wuoh.. tidak tidak.. aku hanya bercanda. Hehe.. jangan.. jangan lakukan itu. Mian, hehehe…” ucap Hyung Sik sambil menurunkan tangan Min Ah, mengembalikan piring itu ada tempatnya.

“kau ada-ada saja. Kenapa kau kesini? Bukankah sebentar lagi waktu istirahat habis?” tanya Min Ah.

“Kau sendiri kenapa makan sendirian? Tumben.. biasanya kau makan bertiga dengan Krytal dan Hye Kyo eonni” Hyung Sik balik bertanya.

“itu.. tadi aku ada urusan sebentar makanya aku menyuruh mereka makan duluan. Haha.. iya begitu” jawab Min Ah agak kikuk. Mencoba menutupi kejadian sebenarnya.

“oooh… tapi tadi kau sepertinya mengira aku orang lain?  Dan sepertinya kau mencari seseorang?” tanya Hyung Sik penuh curiga.

“eoh? Aniya.. itu.. aku hanya terkejut kau tiba-tiba duduk disini. Lagipula itu bukan urusanmu. Hemfh.. ah sudahlah aku mau kembali kantor” elak Min Ah sambil pergi meninggalkan Hyung Sik.

“ya! Shin Min Ah! Tunggu aku!” Hyung Sik menyusul Min Ah kembali menuju ruangan kerja.

Sepanjang berjalan di koridor menuju ruangannya, Min Ah kembali berpikir tentang sosok mirip Lee Seung Gi yang dilihatnya tadi. Sebagian dirinya berkata kalau orang itu benar-benar Lee Seung Gi yg Min Ah kenal. Namun sebagian lagi berkata kalau Min Ah hanya salah lihat. Lagipula bagaimana bisa Seung Gi ada disini? Bukankah dia kuliah di Chuncheon? Dan mungkin sekarang dia sudah mendapat pekerjaan disana.

“huft.. apa aku begitu merindukannya sampai-sampai berhalusinasi begini. Dan jika benar aku merindukannya, apa.. itu boleh? Dia bahkan sudah menjadi milik wanita lain, dan aku mengenal wanita itu. Oh Tuhan, apa ini hukuman untukku? Aku tak mampu membuang namanya dari hatiku. Bahkan disaat aku tau dia telah mencintai orang lain, cinta ini masih untuknya. Awalnya aku kira akan baik-baik saja. Tapi rasanya benar-benar sakit saat harus melihatnya memberikan  perhatian pada wanita lain. Apa ini hukuman karena aku tidak jujur pada diri sendiri? Tidak jujur padanya. Berusaha membunuh rasa cinta hanya karena perbedaan kasta? Dan sama sekali tak ada niat untuk memperjuangkan cinta itu? Tuhan, sampai kapan aku harus menanggung hukuman ini? Kumohon hentikan.. hapuskan rasa ini jika memang dia bukan untukku. Jangan biarkan aku menanggung derita ini seumur hidup. Aku juga ingin bahagia Tuhan.. ku mohon..” langkah Min Ah terasa berat. Jalannya agak diseret-seret. Seolah sedang memanggul beban yg begitu berat. Rasa penyesalan sekaligus rasa sakit begitu menghujamnya ketika mengingat Seung Gi. Sekuat tenaga ia terus berjalan menuju ruangannya. Tiba-tiba lagi-lagi  ada yg memegang pundaknya.

“yak!! Park Hyung Sik!! Apa lagi?!” seketika dia meraih tangan itu, dan membuangnya dari pundaknya. Lalu ia membalikkan badan.

“lama tidak bertemu, Shin Min Ah” sosok namja itu tersenyum pada Min Ah.

Alih-alih membalas sapaan namja itu, Min Ah jutru terdiam membatu. Matanya membulat. Jantungnya berdegup kencang. Dia tak tahu harus bagaimana. Seolah tak percaya dengan apa yg dilihatnya. Ternyata tadi dia tidak salah lihat. Orang itu benar-benar ada disini. Dengan terbata-bata ia berusaha berkata-kata, untuk meyakinkan dirinya bahwa yg ada dihadapannya sekarang adalah cintanya.

“Lee…. Seung… Gi…?”

“eoh, na ya. Lee Seung Gi. Apa kabar?”

Deg! Jantung Min Ah serasa berhenti. “dia.. benar-benar ada dihadapanku sekarang” ucapnya dalam hati. Karena mulutnya masih tak mampu berkata-kata. Sementara dihadapannya, Seung Gi tersenyum gembira karena bertemu orang yg telah lama tidak dilihatnya. Senyum dengan lesung pipit yg indah, lesung pipit yg masih nampak sama seperti beberapa tahun lalu. Keduanya mematung dengan ekspresi seperti itu untuk beberapa saat. Sementara dikejauhan nampak ada yg memperhatikan mereka. Dengan penuh rasa ingin tahu, dia.. Choi Seung Hyun, memperhatikan keduanya. Bertanya-tanya siapa lelaki itu. Dan ada apa diantara mereka.

-TBC-

8 thoughts on “Move On! | Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s