Remember… | Twoshoot

 

JAEJOONGkorea

Remember… by. Kim Ha Ki

18 Januari 2014 pukul 3:39

Starring:

– Kim Ki Bum

– Kim Jae Joong

~

oke, ini apa sebenarnya aku juga gak ngerti. yang penting nulis apa yang ada di otak dah, lagi aku bawa nama laki sekaligus ini pertama kali aku bawa nama jejung si emak dalam tulisanku. berharap banget yang baca ngerti maksud dari tulisanku…

gak usah panjang2 dah, semua isi cerita keseluruhan milik saya, semua cast milik mereka sendiri, orang tua dan Tuhan. kalo ada kesamaan cerita sama yang lain, tolong diliat tanggal terbitnya. karena aku gak plagiat berarti yang lain yang diragukan jika terbit setelah ini, jangan bash saya, jangan judge saya, dan jangan CURI karya saya… bisa dipotong tanganmu! hahahaa ^^

sebelum membacanya, para readers bisa siapkan headphone lalu play lagu Magic Castle piano ver miliknya DBSK, kalo belum ada silahkan download dulu, karena itu akan sedikit membantumu mendapatkan feel.. hehe

~

“aku lelah…”

“lalu,”

“hanya berusaha untuk jujur, aku ingin semua berakhir,”

“akan kucoba untuk mengerti,”

“terima kasih, dan terima kasih…”

“hmm?”

“terima kasih untuk sudah mengerti, dan terima kasih untuk waktu yang sudah kau habiskan bersamaku.”

“maaf,”

“untuk?”

“tidak mampu disampingmu hingga akhir.”

“kuharap ini akan jadi akhir yang paling indah,”

“aku pergi,”

“tolong beri aku kabar yang jauh lebih indah.”

kriiinggg…!!!

kubuka mataku,

mimpi itu datang lagi. mimpi yang sama. mimpi yang selalu menciptakan degupan keras dijantungku. perlahan kutatap jam alarm yang selalu tepat membangunkanku, satu hal yang membuatku selalu tak berhasil melihat akhir dari mimpiku. aku bangun dari baringanku, kuusap kasar wajahku lalu tersenyum menatap pria yang sekarang berbaring disampingku. masih larut dalam tidurnya, entah apa yang sedang ada dalam mimpinya. ah, kuharap dia tak sedang bermimpi. ada banyak hal di dunia nyata yang selalu menganggunya, akan sangat kasihan jika bahkan di dunia mimpipun dia terganggu.

kuraih penjepit rambut berwarna biru yang berada di atas bupet kecil samping tempat tidur kami, lalu mulai memasangnya di rambut panjangku yang akhirnya membentuk ekor kuda. aku beranjak turun dari tempat tidur dan sedikit membenarkan selimut pada suamiku. tolong jangan terbangun hingga aku selesai menyiapkan semuanya, kumohon. sedikit berjinjit berjalan kearah pintu lalu membukanya dengan tanpa suara, dia tak terbangun kan? semoga…

kami sudah menikah selama 2 tahun, tolong jangan bertanya atau berusaha mencari tahu bagaimana pertemuan kami, karena aku juga tidak mengingatnya. ya, aku lupa. bukan terlupa tapi sengaja tak berusaha mengingatnya. aku jahat? baiklah, aku jahat. sangat jahat hingga kuberi point 100/100 untuk kejahatanku. aku adalah istri yang baik, tapi wanita yang sangat jahat. bahkan berani taruhan, semua ibu pasti mengidamkan menantu wanita sepertiku untuk anak lelaki mereka. tapi untuk hatiku? entahlah…

aku tidak pernah mencintainya…

sebuah kenyataan pahit dan mengejutkan jika orang-orang mengetahuinya. aku selalu berbohong saat berkata aku mencintainya, berani kujamin itu bahkan dengan nyawaku…

senin, akan sangat sibuk untuknya setiap hari senin. dia sangat suka sarapan roti panggang ditemani telur mata sapi setengah matang dan segelas susu hangat, tunggu dulu sebuah apel hijau jangan lupakan. aku menyiapkannya secepat mungkin sebelum dia lebih dulu terbangun.

“yeobo~ng!” panggilan khas untuk membangunkannya setiap pagi, jangan tertawa. hanya berusaha bersikap manis.

“hmmm…”

pria itu hanya mengerang, persis induk ayam saat didekati. aku sangat yakin jika sekarang ditariknya kembali selimut yang menutup hampir seluruh tubuhnya itu. jika sudah begini, saatnya bertindak. sambil sedikit berdecak, aku kembali berjalan menuju kamar tidur dan benar apa yang kutemukan. dengan memasang wajah jahil aku mulai membuka selimutnya dan menarik kedua tangannya.

“ayolah! bangun tuan beruang,” rengekku. dia menyukainya, aku tahu itu makanya selalu kulakukan.

“ada batu di pundakku,” dia menatapku, berharap aku mengerti jika seluruh tubuhnya pegal dan lelah.

“akan kusingkirkan! hush! hush!” aku bertingkah seolah menyingkirkan sesuatu dari kedua pundaknya. dia tersenyum dan bangun dari baringannya.

“baiklah, aku menyerah.” akhirnya dia berdiri, sedikit kudorong tubuhnya menuju kamar mandi. tak lupa kuraih handuk putih dari gantungan di dekat pintu kamar mandi lalu melingkarkannya di pundak suamiku.

“cepatlah, nanti terlambat!”

aku sedikit berteriak sebelum akhirnya meninggalkannya, menyiapkan kemeja dan celana panjang untuk dia bekerja, lalu meletakkanya rapi di atas tempat tidur. ah lupa, belum kuceritakan? suamiku bekerja sebagai seorang dokter ahli bedah di rumah sakit terbesar Korea, tugas rutinnya hanya setiap hari senin hingga kamis namun tiga hari yang lainnya tetap dia habiskan disana, jadi kurasa dia sebenarnya memang tak punya waktu libur. ah iya, namanya Kim Kibum…

setelah beberapa menit menunggu…

“sudah siap?” dia berjalan kearahku sambil menyerahkan dasinya lalu duduk menghadap meja makan.

“eum,” aku tersenyum dan mulai memasangkan benda yang aku sendiri sebenarnya bingung apa kegunaannya itu.

“wah, seperti biasa… tetap enak.” Kibum mengunyah sandwick karyanya sendiri, hanya telur yang diapit dengan dua roti panggang tapi dia selalu ingin melakukannya sendiri.

“makan perlahan,” aku menyodorkan segelas susu hangat.

“thanks,” dia menyambutnya lalu mereguh semuanya, meraih sebuah apel dan beranjak dari tempat duduknya.

“jas? bagaimana dengan tas?” aku menggodanya.

“ah!” dia tersenyum aneh.

“jika tuan yang satu ini?” aku memamerkan kunci mobilnya.

“baiklah, kau menang.” dia menghampiriku lalu memberikan kecupan hangat di keningku dan meraih semua benda yang berada ditanganku.

“hati-hati,”

“bye.”

aku melambaikan tanganku sambil tetap tersenyum menatap mobilnya yang sekarang berlalu, aneh bukan? aku melakukannya dengan sukses tanpa cinta dan tanpa terbebani sedikitpun. semua hal yang kulakukan, kurasa bisa dilakukan oleh yang lain juga. bukan, tapi semua wanita.

kring…!!! kring…!!!

suara alarm lagi? bukan, sedikit mirip tapi itu suara telepon rumah yang berbunyi. sayup terdengar dari teras depan tempat dimana aku berdiri sekarang, itu membuatku sedikit berlari menuju ruang keluarga dan menerimanya.

“hallo…”

tak ada sahutan dari sana untuk sapaan pertamaku.

“hallo?”

tetap tak ada sambutan.

“katakan sesuatu, atau kututup,” ancamku hingga,

“aku merindukanmu…”

suara itu, suara yang sangat aku kenal. suara yang bahkan hanya dengan memikirkannya saja sudah mendebarkan jantungku. aku terdiam, tak mampu berkata apapun. apa yang harus kulakukan sekarang? aku masih berusaha mengatur nafasku agar tidak terdengar aneh.

“kau?”

“bisa bertemu?”

“bertemu?”

“aku ingin menyampaikan sesuatu,”

“di?”

“tempat terakhir kita bertemu,” dia menutup sambungannya.

entah sadar atau tidak, aku mulai tersenyum. ada sesuatu yang sedikit aneh memaksaku untuk tersenyum, aku bahagia? boleh aku jujur? ya, aku sangat bahagia. belum kuceritakan, mengapa aku tidak pernah bisa mencintai suamiku? karenanya, cinta pertamaku. entah mengapa, hanya dia yang mampu berada dihatiku dengan tanpa menyisakan ruangan untuk yang lain. aku akan menemuinya, harus…

sedikit kurapikan rambut panjang yang terurai indah di kedua pundakku, lalu membenarkan posisi kemeja yang kukenakan serta memeriksa polesan wajahku di cermin. aku berlebihan? mengertilah, ini seperti ketika kau bertemu dengan pria pujaanmu untuk kencan pertama kalian. aku memulai langkah pertamaku memasuki cafe tempat dimana kami berjanji untuk bertemu tadi, langkahku sedikit terasa aneh. entah karena aku yang tak bisa menguasai jantungku atau memang karena kakiku sedikit sudah tidak terbiasa mengenakan high heels, konyolnya aku bahkan mengenakan rok selutut berwarna merah sekarang. semoga saja parfume yang kukenakan tidak berlebihan…

kuarahkan pandanganku pada seluruh sudut ruangan, mencari seseorang yang kuingat sudah 2 tahun tidak bertemu. ditemukan. dia berdiri tersenyum menatapku, senyuman yang sangat kusukai, senyuman yang hanya memikirkannya saja sudah membuatku gila. dia melambaikan tangannya, itu membuatku sedikit menyunggingkan senyumanku. aku mendekatinya. green tea, parfume favoritnya yang juga sangat kusuka mulai semerbak tercium begitu aku berhasil mendekatinya.

“sudah lama?” bodoh, apa ini? itu kalimat pertamaku untuk pria yang sudah 2 tahun tak kutemui? bukankah seharusnya apa kabar? atau long time no see?

“tidak juga, duduk.” dia tersenyum dan mempersilahkanku duduk.

“ya,” aku mengikutinya.

“maaf sudah kupesankan, masih jus lemon?” dia menatapku. aku mengangguk, jantungku kembali berdegup kencang. dia masih ingat minuman favoritku?

“ada apa?” aku mencoba menormalkan suasana kami. sedikit menyeruput jus lemon dihadapanku.

“aku hanya bingung, tak terlintas siapapun diotakku selain kamu, entahlah…”

“hmm?”

“kau, ah iya bagaimana kabar suamimu?”

“baik, istrimu?”

“begitulah…” dia menyeruput lemon tea dihadapannya.

aneh bukan? kami bertemu secara rahasia tanpa diketahui oleh kedua teman hidup kami, entah selingkuh atau apapun yang mereka bilang, aku tahu ini gila tapi aku menyukainya. setelah berpisah malam itu, kami tak lagi bertemu. aku hanya mendengar jika dia akhirnya menikah dan kukira dia juga mendengar kabar tentang pernikahanku. entah apa yang dia rasakan, tapi perasaanku padanya tak pernah berubah. masih sama…

“begitulah?”

“menyesakkan,”

“hmm?”

“disini, bisakah kau menemaniku berkeliling sejenak?”

“baiklah, aku akan jadi guide untukmu…”

kami mulai meninggalkan cafe. kuharap ini tak akan cepat berakhir. ayolah, aku ingin menghabiskan semua waktuku untuk hari ini bersamanya. jika kau mengira aku terasa seperti burung yang berhasil bebas dari sangkar, maka kau salah. jujur aku tak terbebani, sama sekali tak terbebani dengan kehidupan pernikahanku bersama Kim Kibum. hanya saja tanpa cinta, sederhana kan? bisa kau bayangkan saat kau begitu mencintai makanan manis namun dokter melarangmu memakannya? seperti itulah, tak terbebani namun kadang terasa kosong.

“kita akan pergi kemana?”

“ikuti saja arahan guide-mu ini,”

dia terus menyetir, seolah kami kembali ke masa lalu. dia pria yang hangat, tenang, dan sedikit misterius. masih seperti dulu saat aku begitu mencintainya. aku lupa sejak kapan, yang aku ingat aku sudah sangat mencintainya, seperti sekarang. apa aku lupa lagi? namanya Kim Jaejoong.

aku pernah bermimpi ada saat dimana aku benar-benar menjadi bagian dari hidupnya. bahagia bersamanya dan dua buah hati kami di rumah yang sederhana namun damai. seperti yang biasa kulakukan pada Kibum, aku akan menjadi istri yang super baik untuknya sekaligus menjadi ibu yang hebat untuk anak-anak kami. tapi semua mimpi itu tiba-tiba terasa datar dan putih, aku bosan. seperti yang mereka bilang, saat kau merasa bosan pada sesuatu maka carilah hal yang lain. aku melakukannya. bukan, tapi kami melakukannya. entah ini takdir atau apa, aku justru terjebak dalam apa yang mereka sebut pelarian. entahlah, mungkin untuk selamanya.

“kau ingat tempat ini?”

dia menggeleng. menatapku dalam dan mencoba mencari tahu apa yang kupikirkan. aku hanya tersenyum, untuk sekarang hanya sampai disitu jawabannya. perlahan mobil berhenti. aku berinisiatif turun lebih dulu. kubuka pintu mobil dan mulai meraih tas berwarna cream milikku.

“kau benar-benar tidak ingat?”

aku menatapnya lagi. dia masih menatap sekeliling dengan tatapan bingung. satu lagi hal yang sangat kusuka darinya. dia akan sangat manis ketika sedang bingung. tak ada gambaran apapun yang terlintas di otaknya, aku bisa melihat itu dengan baik. bukan salahnya jika dia tak mengingatnya, karena tempat yang seharusnya dipenuhi salju itu justru terlihat sangat indah dengan ribuan bunga-bunga kecil yang tumbuh. ini musim semi.

“bisa memberiku petunjuk?”

akhirnya,

ucapan yang menandakan jika ia menyerah itu muncul juga. terlihat jelas diwajahnya jika ia berkata aku butuh bantuan, tolong aku.

“hmm… salju?” aku menggodanya

“dimana?”

“pikirkan lagi,”

“apa aku melupakan sesuatu?”

“akan ada hukuman untuk yang menyerah,”

“apapun… aku menyerah.”

“tempat dimana kau mengajariku meluncur di es.”

“ah! disini?”

“hmm…”

“kukira aku mulai mengingatnya,”

“maaf, aku pasti sangat merepotkan,”

“boleh aku jujur?”

“jangan lakukan!”

“haha…”

ya, aku ingat hari itu. hari dimana aku terlihat sangat bodoh. tapi dia tak menyerah, tetap mengajariku hingga akhir. hal yang aku tahu sangat merepotkan, bahkan mungkin akan sangat menjengkelkan.

dia meraih tanganku, menggenggamnya erat diantara jemarinya yang hangat. aku hanya membalasnya dengan senyuman terbaikku, tepatnya lagi aku berusaha melakukannya. salahkah yang kulakukan? apapun, aku hanya akan melakukan semua yang bisa membuatku bahagia untuk hari ini.

“aku tahu ini gila, tapi kurasa aku akan meledak jika tak mengatakannya,”

Jaejoong menatap mataku dalam, mencoba menyampaikan isi hatinya padaku sebelum bibirnya berusaha mengucapkannya. aku hanya bisa menunggu. menunggu kelanjutan dari apa yang bahkan sepatah katapun belum dia ucapkan. hembusan nafas berat itupun terlempar keras, aku tahu dia sedang berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkannya.

“katakan saja,” aku mencoba mengurangi bebannya

“aku bercerai…”

satu detik…

dua detik…

aku hanya menatapnya lama. haruskah aku bahagia? haruskah aku berduka? ekspresi seperti apa yang harus kutujukan padanya sekarang? aku sangat ingin berkata jika aku turut sedih, namun hatiku bergejolak dan memaksaku berkata aku bahagia mendengarnya. tapi tunggu dulu, apa itu artinya dia juga merasakan hal yang sama sepertiku? merasa terjebak, merasa takdir telah mempermainkan hidupnya, atau?

hembusan lembut angin membelai rambutku, aroma musim semi yang tentram akhirnya membuatku mampu memikirkan ribuan hal dalam satu detik. mata beningnya hanya tertunduk, mencari kata yang pas untuk melanjutkan kalimat yang masih belum sempat ia selesaikan. ribuan keraguan terlihat jelas disana, rasa bersalah dan sikap ceroboh apa yang baru saja dia sampaikan padaku justru semakin membebaninya. kurasa aku tahu harus bersikap seperti apa sekarang.

“tak apa, anggap saja aku boneka pengakuan.” aku tersenyum. berharap beban yang menyelimuti hatinya akan hilang walaupun sedikit.

“hidupmu bahagia?” dia menatapku dalam, berusaha membuat jawabannya sendiri dan berniat membuatku mengikuti jawabannya.

apa yang harus aku lakukan? harus berbohong dan berkata aku bahagia? berbohong? entahlah, tapi aku tak merasakan apapun. sedihkah? bahagiakah? aku tak mengerti sebenarnya apa yang kurasakan pada suamiku. seperti robot. sehangat apapun yang orang lain lakukan padanya, namun dia tetaplah robot. tak mampu merasakan apapun.

“kurasa apa yang terjadi diantara kita adalah sebuah kesalahan,” berhenti sampai disitu, dia tak berusaha melanjutkan tapi kurasa aku mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini akan berakhir.

“aku ingin kembali…” sambungnya.

degupan jantungku seolah terhenti. semua hal yang berada disekiraku seolah menghilang entah kemana. aku hanya menatapnya yang berdiri dihadapanku, tak berusaha mendengar jawabanku, juga tak berusaha mencari jawabanku. matanya menatapku penuh rasa kepercayaan. seolah ingin menyerahkan akhir dari semua ini padaku. aku masih diam, berusaha keras mencari happy ending dari apa yang terjadi hari ini.

mencoba lebih berani melihat tak ada tanggapan dariku, Jaejoong mulai memperpendek jarak diantara kami. aku masih tak melakukan apapun, entah itu penolakan ataupun persetujuan. lebih berani lagi, dilepaskannya kedua genggaman itu lalu dengan lembut meraih kedua pipiku. jemari lembutnya bahkan mampu meraih dagu dan rahangku secara bersamaan. masih tak ada respon dariku. matanya menatap sendu mataku, entah apa yang dia pikirkan aku sama sekali tidak mampu membacanya lagi. aku memejamkan mataku, apapun yang akan terjadi selanjutnya akan kuterima.

semua menjadi begitu damai, seperti musim salju dalam sebuah bola kaca. aku kembali ke masa lalu, masa dimana semuanya terasa tak akan pernah berakhir. jantungku yang sempat berhenti sekarang kembali mengatur degupannya. semuanya terasa begitu hangat ketika bibir manisnya dengan lembut menyapa bibirku. kau bisa membayangkannya, ada saat semua terasa cukup dan kau tak meminta apapun lagi untuk seumur hidupmu.

to be continued…

apa ini? apa ini? apa ini?! isengku kumat, sebelum menyelesaikan epep yang menegangkan itu bisakah kalian meluangkan waktu untuk ini? hahaha

kenapa bahasaku jadi ikutan begonong? ah lama, intinya jebal komen juseyo… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s