Move On! | Part 2

Shin_Min-Ah2

 

Move On!

Author            : Kim Ha Joon

Genre              : Roma            nce

Part                 : 2

Cast                : Shin Min Ah, Choi Seung Hyun a.k.a TOP (Big Bang), Lee Seung Gi, Woo Ri, Park Hyung Sik, Krystal Jung,  and other casts.

 

“Berpisah dengan seseorang itu takdir. Bertemu dengan seseorang juga takdir. Namun  bersanding dengan cinta sejati selama sisa hidup kita, itu pilihan”

Suasana hening diruangan yg cukup besar untuk 6 manusia yg beberapa diantaranya sedang merasa di khayangan karena sedang menyaksikan jelmaan dewa super tampan dihadapan mereka itu tiba2 terpecah oleh suara cempreng sang bos yg akan cuti melahirkan.

“Aigooo… apa2an kalian ini? Dia supervisor baru kalian. Ayo beri salam pada Choi Seung Hyun banjangnim”

Dan background khayangan yg sedari td menghiasi ruangan itu pun menghilang. Mereka mulai tersadar dan dengan terbata-bata memberi salam pada namja yg telah mereka ketahui namanya tersebut.

“a.. a.. anyeong haseyo banjangnim” sambil membungkuk hampir 90 derajat mereka mengucapkan salam dengan tidak kompak.

“Anyeong haseyo..” balas Seung Hyun seraya membungkukkan badan  pula “naneun Choi Seung Hyun imnida. Saya menggantikan Kim banjangnim sementara beliau cuti. Mohon kerjasamanya”

Nampak bos Kim tersipu sementara yg lain menjawab serempak, “Nde banjangnim!”

“aaah.. tolong jangan panggil seperti itu. Panggil nama saja. Rasanya lebih  nyaman  kalo panggil nama” ujarnya sambil menyunggingkan senyum tipisnya.

“Nde Choi Seung Hyun sshi!!” dengan nada yg bersemangat dan serempak Hye Kyo, Hyung Sik dan Krystal menuruti permintaan Seung Hyun persis seperti anak TK yg sedang belajar membaca bersama-sama. Membuat Seung Hyun  tersenyum geli. Maniiiis sekali senyuman namja itu sampai2….

“tapi.. kenapa dia dari tadi hanya seperti itu?” Seung Hyun menunjuk ke arah Min Ah yg sejak td masih mlongo sperti patung lilin memandangi supervisor barunya itu.

“eoh? Haisshh.. jinja. Yak! Shin Min Ah! Cepat beri salam. Dasar, kau ini..” teriak bos Kim yg berdiri paling dekat dengan Min Ah sambil  menyenggol  Min Ah dengan sikunya. Min Ah tersadar.

“oh, ne? Mwo?”

Gubrak! Semua sontak menepuk jidat  masing2. Heran dengan kelakuan Min Ah. Bahkan Krystal yg notabene karyawan paling lemot seruangan pun kalah lemot oleh Min Ah. Hye Kyo pun berinisiatif memberi isyarat pada Min Ah agar memberi salam pada Seung  Hyun.

“aaah.. Anyeonghaseo..” dan sambil bow hampir 90 derajat akhirnya dia mengerti. Seperti dikomando, seisi ruangan pun menertawakannya. Min Ah ikut tertawa dicampur sedikit rasa malu. Lesung pipitnya muncul menambah indah parasnya. Suasana menjadi sangat hangat dan menyenangkan. Tidak ada rasa canggung antara atasan dan bawahan. Dan acara mereka lanjutkan dengan perkenalan diri pada sang bos baru. Sesekali mereka serius mendengarkan, sesekali pula mereka tertawa renyah bersama-sama. Menciptakan rasa hangat dan kekeluargaan. Dan menumbuhkan kesan positif bagi mereka pada namja tampan satu ini sebagai seorang atasan yg tidak hanya rupawan namun juga berperilaku sangat menawan. Ah, sebuah paket komplit bukan? Setidaknya itu yg ada di benak semua orang.

Setelah selesai dengan  sesi perkenalan, semuanya kembali ke tempat kerja masing2. Sambil masih membicarakan si jelmaan dewa. Para yeoja benar2 sangat terkesan olehnya. Namun tentu ada yg merasa tersingkirkan. Ya, Park Hyung Sik. Predikatnya sebagai pria tertampan di ruangan customer servis (sebelumnya emang cuma dia pria yg ada diruangan itu) tergeser oleh Seung Hyun. Dengan sempoyongan dan raut wajah sedih yg agak dibuat-buat (karena dia emg karakternya alay😀 ) dia berjalan ke tempat duduknya. Dan semuanya  kembali bergulat dengan suara2 keluh kesah konsumen yg tidak puas dengan produk dan pelayanan perusahaan. Meninggalkan Seung Hyun sendiri diruangannya. Meluapkan apa yg telah ditahan dan di  pendamnya sejak tadi. Sejak pertama masuk ruangan ini. Ah bukan, tepatnya sejak kembali ke tanah kelahirannya ini.

“huft, akting sungguh melelahkan” keluhnya sambil  menghempaskan tubuhnya ke kursi.

“kenapa aboji tega menyiksaku seperti ini? Menyuruhku kembali ke Korea dan menjadi karyawan biasa di perusahaan yg akan menjadi milikku sendiri nanti. Dan yg lebih parah, aku harus berpura-pura baik pada rakyat jelata seperti mereka? Oh God, are you kidding me? Sungguh membosankan! Hah, aku sungguh merindukan teman2ku di Amerika. Oh Amerika, tanah kebebasan. Dimana aku bisa berpesta sampai pagi dengan teman2 buleku. Menikmati malam diiringi lagu khas music DJ yg menghentak (kalo divisualin kurang lebih kyk MV nya TOP & GD yg judulnya High High). Huft.. aku rindu kebebasan. Disini mana bisa aku ke tempat seperti itu. Kalo aboji tahu pasti aku akan di pecat jadi anak. Haisssh.. Sedang apa mereka sekarang? Awas saja kalau sampai mereka bersenang-senang, berpesta pora seperti biasa tanpaku. Raja pesta sedang dipasung diruang sempit bernama Korea oleh aboji nya. Aaaaaargh… aku bisa gila!”

———

“eonni.. eonni.. coba kalian perhatikan disana. Bukankah itu Choi Seung Hyun sshi?” Krystal menunjuk ke arah meja lain di kantin perusahaan tempat mereka makan sekarang.

“eoddiseo?” tanya Min Ah.

“itu disana. Yang sedang makan sama manajer2 itu”

“emm… itu benar dia. Waaa.. daeeeebak. Selain ramah dan baik hati, dia juga pandai bergaul. Baru hari pertama bekerja sudah begitu akrabnya dengan para petinggi2 perusahaan  ini” puji Hye Kyo sambil geleng2 kepala.

Setelah menelan tetes terakhir jusnya, Min Ah menambahi “eo, dia benar2 lahir dengan segala keberuntungan. Ckckck.. sempurna”

“Min Ah eonni. Tapi.. tadi kenapa kau memandangnya sampai tak berkedip? Aaah.. kau suka ya padanya? Ayoo.. mengaku saja” Krystal mencoba menggoda Min Ah.

“ne, tentu saja aku suka padanya” jawabnya mantap.

“tuh kan! Benar dugaanku! Wah wah wah.. cinta pandangan pertama sungguh nyata. Ouuch.. kau sungguh romantis eonni” Krystal tertular penyakit alay nya Hyung Sik.

“Aigoo.. bicara apa kau? Aku kan hanya bilang suka”

“suka atau cinta itu kan sama saja. Iya kan Hye Kyo eonni?” Krystal mencoba mencari sekutu.

“baik ‘suka’ maupun ‘cinta’ itu hanya istilah. Mereka ambigu, tidak valid, tidak pasti, tergantung siapa orang yg menggunakannya. Apakah ia orang jujur, atau orang yg tak jujur bahkan pada dirinya sendiri. Yang valid itu perasaan, yang selalu jujur meski kadang dikhianati oleh ucapan yg mencoba membungkam kejujurannya. Jadi.. kita dengar saja penjelasan dari ‘suka’ yg Min Ah katakan tadi” tutur Hye Kyo dengan bijaksana.

“benar! Ayo jelaskan pada kami Eonn”

“iya aku memang menyukai Choi Seung Hyun sshi. Sekarang coba kita pikir, dia tampan, tinggi, baik, ramah, pintar, pandai bergaul, mapan. Yeoja mana yg tak menyukai namja se perfect itu eoh? Ini sama saja sperti saat kita jalan2 di mall lalu mellihat namja keren dan terpesona oleh penampilannya”

“heemm… benar hanya seperti itu?” Hye Kyo mengintrogasi.

“tentu saja, memang mau seperti apalagi? Ah, kalian ini. Seperti tak pernah begitu saja. Aku juga tau kalian sering melirik namja dongsaeng anak magang di kantor sebelah kan? Hemm…”

“yak eonni, kau ini malah mengalihkan pembicaraan” gerutu Krystal “tapi dongsaeng2 itu benar2 manis” ucapnya dengan nada dipelankan dan aegyo yg dibuat-buat.

“cchhh…” Min Ah menahan tawa.

“andwe! Aku hanya mengikuti Krystal. Lagipula umurku sudah kepala 3 jadi mana mungkin aku melirik dongsaeng” Hye Kyo membela diri “kau tidak lihat cincin tunangan dijariku ini hah?”

“ahaha.. araseo”

“aishh, kau benar2 pandai mencari alibi Hye Kyo eonni” Krystal menatap Hye Kyo dengan muka datar.

Tawa Min Ah pecah melihat penyangkalan2 kedua rekannya ini. Seolah puas mengembalikan bumerang pada tuannya. Song Hye Kyo mengalihkan topik.

“eh, tapi ngomong2 selama lebih dari sebulan kau bekerja disini aku perhatikan kau tak pernah dekat dengan  seorang pria”

“iya benar, bahkan aku pernah melihat pria dari departemen keamanan mengajakmu makan malam tapi kau menolaknya” tambah Krystal.

“aku disini untuk bekerja, bukan untuk mencari teman kencan”

“kerja sih kerja, tapi apa salahnya sekalian mencari pasangan. Atau jangan-jangan.. kau… tidak berkencan dengan pria. Tapi dengan wanita?”

“omo!!” Krystal shock

“yak eonni!! Apa aku terlihat seperti wanita yg tidak normal? Hah? Tentu saja aku pernah dekat dengan seorang pria”

“hahha.. aku hanya bercanda, mian”

“ccchhh… dasar Hye Kyo eonni, membuatku kaget saja” celetuk Krytal. Sementara Min Ah   hanya tersenyum karena tau Hye Kyo hanya bercanda.

“sebentar, kau tadi mengatakan ‘pernah dekat’. Jadi sekarang sudah tidak dekat lagi?” tanya Hye Kyo penasaran.

“yaaa.. bisa dibilang begitu”

“lalu eonni, kenapa kau tidak mencoba dekat dengan pria lain. Aha, apa jangan2 kau orang yg GAGAL MOVE ON?” pertanyaan Krystal sontak membuat Min Ah seperti lupa alfabet, lupa cara bicara, karena dia sungguh sulit untuk menjawab.

“ah itu… Mmm itu… aku… anu… jadi.. itu..” Min Ah bingung sejadi-jadinya. CPU diotaknya mencoba membuka folder lama yg tersimpan rapi dan tak pernah sedikitpun terfikir untuk menekan tombol ‘delete’. Folder itu ber judul ‘Lee Seung Gi’…

 

******

Hari itu hari Selasa jam pelajaran pertama, olahraga. Sang Guru berhalangan hadir. Anak laki-laki tetap berolahraga di lapangan basket. Sementara itu para kaum hawa kompak memilih tetap tinggal dikelas mencari aman dari serangan keringat dan terik matahari. Sebagian sedang bercermin memperbaiki dandanannya, sebagian bermain dengan gadget mereka, sebagian berkerumun membicarakan namja2 keren disekolah, sebagian mengendap-endap ke kantin, dan  sebagian lagi terlihat sibuk membuka buku pelajaran. Min Ah termasuk golongan yg terakhir. Ah, bukan karena dia siswa yg rajin. Tetapi karena dia belum mengerjakan PR nya. Dan begitulah dia, sering sekali mengerjakan PR disekolah. Sungguh bukan siswa teladan. Namun tentu saja ada alasan dibalik itu.

Pulang sekolah sampai menjelang berangkat sekolah lagi, hampir tidak ada waktu baginya untuk membuka buku pelajaran dirumah. Karena sepeninggal ibunya, dia yg menggantikan peran ibu untuk mengurus kedua adiknya sementara appa nya bekerja. Sebenarnya dia tidak sesibuk itu. Dia hanya sedikit malas mengerjakan tugas dan lebih memilih berbalas pesan dengan namja spesialnya, siapa lagi kalau bukan Lee Seung Gi. Aigoo.. begitulah orang yg sedang kasmaran. Lupa segalanya. Kembali ke kelas, Min Ah masih sibuk mengerjakan tugasnya. Tak sengaja dia mendengar percakapan teman2nya yg ternyata sedang membahas Lee Seung  Gi.

“dia benar-benar tipeku” kata seorang gadis yg duduk tepat dibelakang Min Ah

“aku suka giginya yg putih” yg lain ikut bicara.

“senyumnya juga sangat manis” satu lagi ikut menambahi.

“kalian tahu, aku bahkan hafal nomor handphone nya” gadis ke 4 ikut antusias.

“jinja? Kau sering sms an sama dia?” tanya gadis pertama

“ya, aku sering bertanya padanya ttg pelajaran B.Inggris dan dia selalu membalas pesanku. Aaah senangnyaa…”

“waaah, Seung Gi sungguh namja yg baik. Aku pernah memintanya mengantarkanku pulang waktu supirku tak bisa  menjemput. Dan dia mau. Aaaaak..” gadis ke 3 kegirangan.

“ya, jangan belebihan. Bukankah memang arah rumah kalian sama”

“tetap saja dia itu baik padaku”

“tapi siapa gadis yg ia suka? Aku penasaran. Hmmm…”

“mungkin dia menyukaiku” jawab gadis kedua sambil senyum2 gaje.

“aissh.. jangan bercanda. Apa dia pernah mengatakan suka padamu?”

“tidak pernah sih. Tapi..”

“yess, brarti aku masih punya kesempatan untuk memilikinya”

“andwe!! Dia akan jadi namjachinguku”

Begitulah seterusnya mereka saling memperebutkan Lee Seung Gi. Tanpa sepengetahuan mereka Min Ah mendengarkan percakapan mereka. Dengan perasaan sedih dia menghela nafas. Mencoba melanjutkan mengerjakan PR tapi konsentrasi sudah terlanjur buyar. Sedih. Iya Min Ah sedih. Bukan karena kenyataan yg baru saja ia ketahui bahwa bukan hanya padanya Seung Gi bersikap baik. Tapi sedih karena kenyataan lain. Bahwa semua gadis dikelasnya menyukai Lee Seung Gi. Karena hal ini akan sulit baginya. Sulit untuk bersaing dengan yeoja2 lain dikelasnya yg kebanyakan anak orang kaya, berparas cantik, terawat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berangkat sekolah diantar supir pribadi. Min Ah merasa minder. Dia tiba-tiba merasa tidak pantas dekat dengan Seung Gi. Karena Seung Gi pun anak keluarga cukup terpandang.

“hah, aku tidak bisa. Aku tidak pantas untuknya. Dia terlalu sempurna untukku” Min Ah  bergumam dalam hati

“oh Tuhan, mengapa aku bertemu dengannya sekarang? Saat aku belum bisa  menjadi sempurna untuknya. Perbedaan kami terlalu jauh. Dia rupawan dan anak orang kaya. Sedangkan aku, wajah biasa2 saja, uang pun tak punya. Oh Tuhan, ottokhe? Aku harus bgaimana sekarang?”

Berhari-hari Min Ah memikirkan hal itu. Saat dikelas, tiap dia melihat Lee Seung Gi, hal itu makin mengganggu pikirannya. Dia juga memperhatikan tingkah teman2 sekelasnya yg mencoba menarik perhatian Lee Seung Gi. Mentalnya makin anjlok, makin minder. Dia ingin menyerah. Saat ini hanya jurang perbedaan antara dia dengan namja yg telah mewarnai hari2nya itu yg ada di benaknya. Dia berfikir sebelum dia jatuh cinta lebih dalam pada  Seung Gi, dia harus  mengakhirinya. Ya, dia harus mengakhiri  kedekatannya sekarang. Dan dia berfikir bagaimana caranya. Sampai pada suatu hari, di bawah  pohon tempat biasa mereka bertemu….

“Seung Gi ya..”

“emm.. mwo?” tanya Seung Gi dengan earphone yg tetap menempel ditelinga kirinya, dan ujung lainnya ditelinga kanan Min Ah seperti biasa.

“Mmmm… apa kau… masih membuka biro curhat untukku?” Min Ah nampak ragu2.

“tentu saja. Katakan saja apa masalahmu. Dan ‘BAM!’, akan kulenyapkan dengan segera” Seung Gi mencoba bergurau sambil memperlihatkan senyum nya.

“aniya,  ini bukan suatu masalah. Aku hanya ingin menceritakan sesuatu padamu”

“oh? Baguslah. Apa itu? Ayolah ceritakan saja” Seung Gi antusias.

“aku… menyukai seseorang. Dia..  dia tetanggaku dan kami cukup lama dekat. Dia seumuranku dari sekolah lain dan dia orang yg baik. Mmm.. meskipun kami belum jadian tapi aku merasa cocok dengannya. Bagaimana menurutmu?”

Raut wajah Seung Gi berubah. Dengan terbata-bata ia menjawab  Min Ah.

 

“aah.. begitukah? Kalau begitu chukkae Min Ah ya”

“gomawo” Min Ah tersenyum getir.

“tapi kenapa baru sekarang kau cerita padaku? Aku sungguh baru tahu tentang hal ini. Ah, kau jahat sekali baru cerita sekarang. Jangan-jangan kau sudah menceritakannya pada orang lain lebih dulu, hah?”

“kau orang yg pertama tahu. Aku tak pernah menceritakannya pada siapapun” jawab Min Ah datar. Dan berusaha terlihat  meyakinkan agar Seung Gi percaya. Padahal semua itu  bohong belaka.

“oh, baguslah. Ahaha.. berbaik-baiklah padanya. Berbahagialah dengannya, eoh?” Seung Gi mencoba memberi nasehat sambil menepuk pundak Min Ah sambil menyunggingkan senyum lebar namun sedikit hambar.

“eoh” jawab Min Ah singkat sambil mengangguk.

Atmosfer disekitar pohon tempat mereka berteduh tiba2 berubah drastis, keduanya menjadi sangat canggung. Tak ada lagi sepatah kata pun keluar dari mulut masing2. Mereka terdiam. Hanya suara lagu yg mencoba memecah keheningan. Dalam diam, Min Ah berdoa agar keputusannya ini tepat. Agar dia tak akan pernah menyesal nantinya. Dia mengela nafas panjang.

———

“ya  anak-anak, silahkan mulai menggambar Vignet di kertas masing-masing” perintah  songsaenim. (ket: gambar vignet adalah sketsa gambar unik dan dekoratif)

Semua siswa mulai menggoreskan pensil membentuk gambar sesuai imajinasi masing-masing. Mereka nampak benar2 mencurahkan seluruh kreatifitas untuk memenuhi kertas putih didepan mereka dengan gambar vignet yg unik. Songsaenim berkeliling melihat hasil karya murid2nya. Belum  sampai selesai mereka menggambar, bel pulang pun berbunyi.

“karena waktunya telah habis namun masih banyak yg belum menyelesaikan gambar, silahkan dilanjutkan dirumah dan kumpulkan besok. Nah, sampai disini untuk hari ini. Sampai jumpa anak-anak”

“nde Songsaenim” jawab mereka serempak.

Seisi kelas mulai berhamburan keluar. Ingin segera pulang ke rumah. Min Ah masih sibuk memasukkan buku2nya ke dalam tas ketika Seung Gi menghampirinya.

“ini, gambarku sudah selesai. Bagaimana menurutmu?” Seung Gi menyodorkan kertas gambarnya yg telah terisi penuh.

“eoh?” Min Ah sedikit kaget “ooh.. wah, ini keren sekali” puji Min Ah

“tolong kumpulkan punyaku ini, karena sepertinya besok aku tidak masuk sekolah”

“okay, keundae wae…”

“aku pulang dulu”

“ya…” belum sempat Min Ah mengucapkan sesuatu, Seung Gi langsung pergi meninggalkan kelas. Min Ah hanya pasrah membiarkannya berlalu begitu saja. Lalu dipandanginya lagi gambar karya Seung Gi. Diperhatikannya dengan seksama. Dan baru memahami bentuk gambar Seung Gi. Min Ah kaget dan terpikir sesuatu. Secara reflek dia berlari mengejar Seung Gi yg belum terlalu jauh.

“Seung Gi ya! Jamkkanman!” Seung menghentikan langkah dan membalikkan badan.

“ada apa?”

“ini.. gambarmu.. apa maksudnya?” tanya Min Ah dengan nafas yg masih terengah-engah. “apa kau.. kau.. sedang patah hati?”

Terlihat dalam gambar itu sebuah bentuk menyerupai jantung yg terluka dan berdarah-darah serta ada tangan yg memegang panah yg penuh bercak darah pula. Namun karena itu gambar vignet jadi bentuknya dibuat abstrak dan tidak terlalu jelas.

“oh, itu tadi aku iseng dan bentuk aneh itu yg terpikir olehku jadi aku gambar saja seperti itu” jawabnya tegas namun seperti ada sesuatu yg disembunyikan.

“jeongmal?”

“emm.. lagi pula tidak pernah ada kata patah hati dalam kamus hidupku” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“begitukah? Syukurlah”

“kalau begitu aku pulang dulu. Anyeong”

“ah, nde..”

Lee Seung Gi sekarang benar2 pergi. Pergi dari sisi Min Ah. Meninggalkan banyak pertanyaan di benak Min Ah.

“Seung Gi ya, aku yakin ini bentuk hati yg terluka. Seung Gi ya, apa hatimu terluka karenaku? Apa kau terluka karena aku berkata bahwa aku menyukai orang lain? Seung Gi ya, apa kau menyukaiku? Jika iya, kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Mengapa kau terus membuatku merasa menjadi orang spesial bagimu? Mengapa ku selalu ada untukku? Mengapa kau selalu peduli padaku? Mengapa aku? Dan mengapa itu adalah kau, yg tak mampu kuraih?”

******

“Min Ah ya! Min Ah! Ya Shin Min Ah!” panggil Hye Kyo sambil melambai-lambaikan tangan didepan muka Min Ah.

“oh, nde?” jiwa Min Ah kembali pada tuannya setelah mengembara ke masa lalu.

“eonni, kebiasaan melamunmu kambuh lagi. Bukannya menjawab pertanyaanku kau malah melamun”

“aah, mian Krystal ah. Aku tadi hanya…”

“sudahlah, kalau memang kau belum mau bercerita pada kami tak apa2. Lain waktu saja” Hye Kyo mencoba menghangatkan suasana.

“gomawo eonni, kau pengertian sekali”

“araseo.. araseo. Kalau begitu mari kita kembali ke kantor. Jam istirahat sudah mau selesai. Kajja..”

———

Salju turun perlahan ketika Min Ah keluar dari minimarket untuk berbelanja beberapa makanan  untuknya dan Woo Ri sepulang  kerja.

“Januari yg dingin” gumamnya yg sedikit menggigil “aaah, dingin sekali. Bahkan mantel yg kupakai sama sekali tidak membantu”

Sepanjang jalannya menuju halte bis dia terus mengomel tentang udara yg dingin sambil sedikit kerepotan membawa belanjaannya. Ditengah perjalanannya  ia melihat seseorang yg wajahnya tidak asing baginya. Orang itu sedang memegang handycam dan terlihat merekam sesuatu. Setelah memastikan kebenaran siapa orang itu, ia menghampiri dan menyapanya.

“Choi Seung Hyun sshi, anyeonghaseyo…”

“oh Shin Min Ah sshi, anyeonghaseyo”

“apa yg Anda lakukan dipinggir jalan seperti ini. Dan apa itu?” Min Ah menunjuk handycam yg dipegang Seung Hyun.

“ah  ini.. aku hanya mencoba mengabadikan seluk beluk Seoul. Lalu kau sendiri kenapa baru pulang?”

“tadi saya mampir sebentar ke minimarket, mau menuju halte bis dan tak sengaja bertemu Anda disini”

“wah, saya juga mau naik bis untuk pulang. Kebetulan sekali, kalau begitu kajja..”

Mereka melanjutkan percakapan sambil berjalan bersama menuju halte bis.

“ngomong2, kenapa Anda merekam kota Seoul. Apa Anda belum prnah ke Seoul sebeumnya?”

“itu karena sudah lama aku tidak kesini. 3 tahun aku diluar negeri. Setelah kembali, ternyata Seoul berubah banyak”

“waah.. ternyata Anda dari luar negeri. Hebat sekali”

“ah tidak perlu dibesar-besarkan. Eh sepertinya kau kesulitan membawa belanjaan. Sini aku bawakan”

“eh tidak usah, nanti malah merepotkan”

“tidak apa-apa. Sini  tas belanjanya” Seung Hyun ‘mengambil paksa’ belanjaan Min Ah. Dia hanya bisa pasrah.

“ghamsahamnida”

“Seoul selain bangunan2nya berubah, ternyata udaranya juga brubah. Musim dingin sekarang rasanya lebih dingin  dari 3tahun lalu”

“apa iya?”

“sungguh, apa kau merasa kedinginan? Sepertinya kau menggigil sejak tadi”

“anio,nan gwenchana” tanpa meminta persetujuan, Seung Hyun mendaratkan mantelnya ke tubuh Min Ah. Min Ah sedikit terkejut.

“jah, sudah lebih hangat kan?”

“nde, jeongmal ghamsahamnida”

Seung Hyun menjawab melalui senyum. Min Ah dalam hati membenarkan perkataan Seung Hyun. Ya, badannya memang jadi lebih hangat, sampai2 hatinya pun menjadi hangat. Sikap Seung Hyun padanya membuat hatinya menjadi hangat dan sedikit berdebar. Kebiasaan melamunnya mulai kambuh. Dia tiba-tiba teringat perkataan appanya tentang mencari pria yg baik. Dia merasa sekarang dia telah menemukan pria yg diinginkan appanya itu. Mukanya mulai memerah dan senyum2 tak jelas. Dia masih asik dan makin tenggelam dalam lamunannya. Saat tiba-tiba ia merasa ada yg menarik tangannya dan mengajaknya untuk berlari.

“Choi Seung Hyun sshi? Ada apa? Kenapa kita tiba-tiba lari2an begini?”

“lihatlah ke belakang” sambil terus berlari Min Ah menoleh ke belakang. Nampak sekerumunan pelajar berlarian sambil berteriak dan membawa bom molotov dan bebatuan.

“mm.. mmwo?! Apa itu?”

“sepertinya mereka akan tawuran. Kita harus pergi dari sini” jelas Seung Hyun

“nde, araseo. Ayo lebih cepat Seung Hyun sshi”

Saat tengah sekuat tenaga berlari sekencang-kencangnya, mereka tiba2 mengerem  mendadak. Karena ada kerumunan yg lebih besar datang dari arah berlawanan. Sepertinya mereka musuh dari pelajar yg datang dari arah belakang. Seung Hyun dan Min Ah panik. Mereka tak bisa terus berlari kedepan dan tidak bisa kembali ke arah mereka datang. Kerumunan itu semakin dekat. Mereka hampir terkepung, terjebak tawuran antar pelajar. Min Ah mulai ketakutan.

“Choi Seung Hyun sshi, bagaimana ini? Apa yg harus kita lakukan? Aku takut. Mereka mengerikan sekali”

“tenang, pasti ada jalan keluar”

“dimana? Palliwa.. mereka semakin mendekat”

“aissh.. sial! Cepat sekali mereka berlari” dalam keadaan yg sangat genting itu, saat kedua kubu tinggal beberapa meter dari mereka berdua, Seung Hyun menarik tangan Min Ah “sembunyi disana! Ayo cepat!”

Mereka berlari menuju celah sempit antara dua gedung bertingkat. Bersembunyi dibalik tumpukan kardus kosong. Berharap nyawa selamat dari keganasan pelajar2 labil yg memilih jalan kekerasan yg sama sekali tak pernah bisa menyelesaikan  masalah. Suara teriakan, lemparan batu, gesekan benda tajam, dan pukulan membuat Min Ah tenggelam dalam ketakutan. Posisinya berdiri bersandar pada dinding. Dia menutup mata dan telinga berharap tidak melihat dan mendengar kerusuhan yg terjadi 10 meter dari  tempat mereka berdiri. Serta berharap tidak ada yg  menemukan mereka disini. Choi Seung Hyun yg berdiri didepannya menempatkan kedua tangannya di telinga Min Ah, mencoba membantu mengurangi sedikit rasa takutnya.  Sambil mengamati keadaan sekitar kalau2 ada yg membahayakan  mereka.

Salju turun dengan lembut namun tak berhenti. Mendarat perlahan diatas permukaan tubuh keduanya. Posisi mereka yg tak bergerak sama sekali menambah dinginnya udara malam itu. Celah yg sempit membuat tubuh mereka sangat dekat. Punggung Min Ah beradu dengan dinding serta wajahnya hampir menempel dibadan Seung Hyun.  Hampir tak ada jarak antara keduanya. Bahkan suara degup jantung Seung Hyun dapat terdengar oleh Min Ah. Dan hembusan nafas Min Ah dengan jelas terasa diwajah Seung Hyun. Keduanya jadi nampak menjaga posisi masing-masing. Sedikit canggung dan tak berani menatap satu sama lain.

Pikiran mereka pun jadi terisi banyak hal. Membayangkan hal-hal yang… ya begitulah. Hehe.. Min Ah berusaha membuang jauh2 pikiran itu. Dan berharap kerusuhan yg terjadi cepat selesai. Dia terus berdoa dalam  hati. Tiba-tiba  dia merasa wajah Seung Hyun semakin mendekat ke wajahnya. Terus mendekat, semakin mendekat, sampai akhirnya benar2 menempel. Min Ah tidak berani menatap wajah Seung Hyun. Dan karena udara terlalu dingin, badannya jadi kaku. Tak dapat bergerak sehingga tak menolak datangnya wajah Seung Hyun. Anehnya, lubuk hatinya pun tak menolak. Kini wajah mereka benar2 beradu. Bibir Seung Hyun pelan namun pasti mendarat dibibir Min Ah. Ciuman lembut antara mereka berdua pun tak terelakkan. Semakin lama semakin dalam dan semakin menghangat. Semakin lama rasa canggung dan ragu2 menghilang. Masing2 menikmati perlakuan ‘lawannya’. Keduanya makin tenggelam dalam kehangatan. Suasana mencekam tadi berubah menjadi bertema cinta dan kehangatan. Keduanya bahkan lupa siapa diri masing2. Salju yang tadi membuat mereka menggigil telah meleleh oleh hangat yg tercipta dari tubuh mereka. Kini sang dingin hanya mampu melihat mereka dari jauh. Tak berani mendekat. Hanya menjadi saksi betapa dua insan ini telah terjerat nafsu. Dan menjadi saksi bahwa potongan adegan ini adalah awal episode-episode panjang drama kehidupan yang akan mereka lalui bersama.

-TBC-

3 thoughts on “Move On! | Part 2

  1. Lagi seru”a eh tbc
    thor apa nanti si min ah sama seung hyun atau nanti seung gi dateng terus sama seung gi lagi?
    #kepomulai
    #lanjut thor cerita’a tambah seru nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s