Move On! | Part 1

 

shin-min-ah1

Move On!

Author            : Kim Ha Joon

Genre              : Roma            nce

Part                 : 1

Cast                : Shin Min Ah, Choi Seung Hyun a.k.a TOP (Big Bang), Lee Seung Gi, Woo Ri, Park Hyung Sik, Krystal Jung, and other casts.

 

“Andai aku punya satu kesempatan, aku akan memulainya dari awal. Mengulanginya sekali lagi,percaya pada hatiku agar aku bisa disisimu sekarang”

 

Min Ah baru selesai mandi ketika ia mulai menyalakan laptopnya. Dengan handuk yang terus menggosok rambut panjangnya kekiri dan kanan yang masih basah itu ia mulai menuliskan alamat jejaring sosial favoritnya. www.facebook.com jari-jari Min Ah seperti  sudah sangat mengerti tuannya. Mereka bahkan langsung melaksanakan tugas tanpa harus diperintah. Dia mulai menggerakan sedikit badannya mencari posisi paling pas untuk duduk. Kakinya bersila diatas tempat tidurnya itu. Matanya mulai menatap tajam persegi berukuran 12inchi didepannya. Tanpa satu titik pun yang terlewat oleh manik matanya yang berwarna coklat itu. Kadang dahinya berkerut, kadang bibirnya tersenyum, kadang matanya membulat  dan kadang mulutnya bergumam sendiri. Tapi yang sering terdengar adalah…

“aiisshh… kenapa dia tidak pernah meng update statusnya. Untuk apa dia punya facebook kalau isinya hanya iklan. Haiisshh…” gumamnya kesal sambil membanting bantal yang dari tadi di pangkuannya. Tanpa ia sadari ternyata bantal itu mendarat mulus tepat diatas kepala yeoja yang sejak tadi pula berbaring tengkurap sambil membaca majalah disamping Min Ah.

“au! Ya eonni! Kau marah pada orang itu tapi malah aku yang kau lempari bantal” ujarnya dengan bibir yang agak dimaju-majukan. Sedetik kemudian bantal itu kembali terbang pada tuannya. Namun Min Ah dengan mudahnya menghindar dari ‘serangan balik’ yeoja berambut panjang lurus yang usianya 5tahun lebih muda dari Min Ah itu.

“oh, mianhe Woo Ri ya. Aku tak sengaja” ucapnya sambil tersenyum.

“aaah eonni ini, kenapa kau selalu membuka akun facebook orang itu? Dan lihatlah, bahkan kau punya 507 permintaan pertemanan yg tak sedikitpun kau hiraukan. Sebenarnya siapa namja itu heum?”

“kau ini, wae? Kenapa kau begitu ingin tahu?”

“bagaimana aku tak ingin tahu, tiap saat kau selalu bergumam sendiri ketika membuka akun namja itu. Separuh waktumu kau habiskan didepan laptop maupun handphone hanya untuk melihatnya. Kau bahkan tidak pernah menulis apapun di dindingnya. Ayolah eonni.. ceritakan padaku siapa dia ne”

“mwo? Ternyata kau selama ini menguntitku anak kecil? Haah.. jinja, dasar kau ini”

“sudah berapa kali kukatakan, jangan memanggilku anak kecil. Aku ini sudah kuliah. Bukan anak kecil  lagi. Huh..”

“ehm, arraseo.. baiklah, aku tak akan memanggilmu seperti itu lagi nona mahasiswa. Kau puas?”

“nee, begitulah seharusnya eonni memanggilku. Hhe.. lalu, ceritakanlah padaku siapa dia. Hmm.. dari fotonya dia tidak terlalu tampan”

“dasar kau ini, jangan menilai orang dari fisiknya Woo Ri ya. Aigo.. kau bahkan tidak tau siapa dia. Ya sudah, kalau begitu  tidak akan ku beritahu”

“aniya, bukan begitu maksudku eonni. Mianhe.. ayolah ceritakan. Nanti aku bisa mati penasaran” Woo Ri merengek pada kakak sepupunya itu. Sekarang posisinya sudah duduk berhadapan dengan Min Ah.

“hmm.. baiklah akan aku ceritakan padamu siapa dia” Woo Ri membenarkan posisi duduknya dan mendengarkan dengan seksama. “dia.. chinguku waktu SMA…..”

 

*****

“suaramu merdu Shin Min Ah” namja bernama Lee Seung Gi itu memuji Min Ah yg baru saja menuntaskan alunan lagu yg dinyanyikannya. Min Ah menyambut pujian itu dengan senyum malu-malunya yg bercampur sedikit rasa gugup.

“ah, aniya. Kau juga menyanyi dengan sangat baik Seung Gi sshi”

Keduanya lalu saling menebar senyum satu sama lain dan kembali menyanyi diiringi petikan gitar salah satu teman mereka. Rombongan siswa yg sedang dalam perjalanan pulang berlibur dari pulau Jeju itu melebur  dalam suasana gembira karena setelah ini mereka naik ke tingkat terakhir (naik kelas 3 SMA maksudnya). Tak terkecuali Min Ah yg merasa liburan ini lebih dari sekedar perayaan kenaikan kelas. Inilah awal dia mendapat warna  baru  dalam hidupnya.

——

“bagaimana masalahmu yg kau ceritakan semalam? Apa kau dan temanmu itu sudah baikan?”

“hfft..” Min Ah mendengus pelan.

“wae? Apa kalian masih bertengkar?”

“dia masih tidak mau bicara padaku. Padahal  aku sudah meminta maaf. Hah ottokhe Seung Gi ya? Aku tak mau kehilangan temanku”

“it’s okay, jangan takut. Dia hanya akan marah sebentar. Kalian pasti akan bersama lagi. Aku akan membantu bicara padanya kalau perlu” Seung Gi menepuk lembut pundak Min Ah, tak lupa dengan senyum manisnya yg mampu membuat Min Ah seketika terlepas dari masalahnya.

“jinja?!”

“emm..” Seung Gi mengangguk.

“aaah, kenapa kau sangat baik? Tiap hari aku mengeluhkan masalah-masalahku padamu. Apa kau tak bosan mendengarnya? Sedangkan aku tak sekalipun membalas kebaikanmu. Tak pernah mendengarkan keluh kesahmu. Aissh.. teman macam apa aku ini?”

“gwenchana.. aku akan selalu siap mendengarkan ceritamu”

“kau ini.. sungguh nyaman bila menceritakan suatu hal padamu. Dan kau bahkan selalu mencarikan solusinya. Jeongmal gomawo Seung Gi sshi” kali ini Min Ah yg tersenyum sangat manis. Dia tak menyadari bahwa hal itu membuat namja yg sedari tadi duduk disampingnya, yg sama-sama bersila dibawah pohon rindang berdua dengannya di taman belakang sekolah itu berdesir hatinya.

“eoh, kalau begitu nanti aku akan membuka biro curhat. Semua orang bisa datang padaku jika ada masalah. Dan khusus untukmu Shin Min Ah, kau tak perlu membaya   r.  Datanglah sesuka hatimu”

“mwo? Mana ada tempat seperti itu? Kecuali kau seora            ng psikolog wahai kau tuan kerempeng” ledek Min Ah karena memang namja itu berperawakan kurus dan cukup tinggi.

“kenapa tidak? Aku bisa saja membuat yg seperti itu wahai nona dekil” balas Seung Gi tak mau kalah. Ledekan Seung Gi tak sepenuhnya keliru. Min Ah memang berkulit agak gelap  tak terawat dan berambut pendek sepundak.

“bukankah kau akan meneruskan kuliah dijurusan Bahasa Inggris? Itu kan pelajaran favoritmu. Bahkan nilaimu sempurna dipelajaran itu”

“oh, kau benar sekali. Mmm… kalau begitu aku akan membuat biro curhat khusus untukmu. Hanya kau yg bisa datang kesana. Datanglah dengan 1000 masalahmu, aku akan mengubahnya menjadi 1000 senyuman. Datanglah kapanpun kau mau. Aku akan selalu ada disana. Untukmu”.

DEG!

Kali ini bukan hanya masalah yg terlepas dari diri Min Ah saat mendengar perkataan Seung Gi. Tapi jantungnya juga hampir terlepas dari tempatnya karena tak kuat menahan debaran yg begitu dahsyatnya.

——

Min Ah terlihat sedang asik dengan ponsel poliponiknya ketika kelasnya dalam suasana yg tak jauh berbeda seperti pasar. Jam kosong. Surganya para siswa sekolah. Terlihat beberapa kali ponselnya berbunyi, ada pesan masuk. Namanya sama dengan pesan-pesan sebelumnya “Seung Gi”. Yap! Mereka memilih berbalas pesan daripada berbicara langsung dikelas.

“apa kau membawa cd playermu? Aku sedang menyukai lagu baru. Apa kau mau mendengarnya?” Min Ah lalu menekan tombol ‘kirim’ setelah mengetik beberapa alfabet itu.

“ne, kajja ke tempat biasa” Seung Gi tampak beranjak dari kursinya yg berada selisih 2kursi didepan kursi Min Ah. Sebelumnya ia membuka tasnya meraih sesuatu berbentuk hampir bulat penuh dan digelayuti kabel kecil bercabang dua diujungnya yg disebut earphone. Tampak sebelum melangkah keluar kelas ia menoleh ke arah Min Ah menggoyangkan sedikit kepalanya memberi isyarat. Min Ah lgsg memahami isyarat tersebut. Sejurus kemudian dia pun melangkahkan kakinya menyusul Seung Gi yg sudah bisa ditebak keberadaannya. Pohon rindang di taman belakang sekolah.

Kini kedua anak manusia itu telah duduk bersandar pada batang pohon yg menjadi saksi bisu kedekatan mereka beberapa bulan terakhir. Ditempat ini mereka sering bertemu, menghabiskan waktu istirahat mereka atau saat setelah bel pulang sekolah berbunyi. Tempat ini seakan menjadi benteng rahasia mereka karna hanya mereka yg sering berada  disini. Hanya sekedar berteduh dari terik matahari, mendengarkan lagu-lagu barat favorit mereka, berlomba siapa yg paling cepat mengerjakan tugas Bahasa Inggris, atau berpura-pura menjadi bintang Hollywood dan berbicara dengan English sekenanya. Ya, English adalah pelajaran yg sangat mereka sukai. Mereka punya kesamaan dalam hal ini selain selera musik yg juga sama.

“lagu ini bagus bukan? Ah, aku sangat menyukainnya” ucap Min Ah dengan satu earphone yg menempel di telinga kanannya. Sedangkan ujung earphone satunya lagi berada telinga kiri Seung Gi.

“emm.. aku tahu lagu ini. Beberapa kali aku mendengarnya di radio”

“jinja? Jadi kau sudah tahu? Lalu bagaimana menurutmu?”

“aku suka”

“bagian mana yg kau suka?”

“sebenarnya dari awal sampai akhir aku menyukainya. Matt Shadows menyanyikannya dengan rasa yg dalam. Membuat siapapun yg mendengarnya tersentuh”

“kau benar. Mereka sungguh jenius disetiap lagu yg mereka ciptakan. Kisahnya seperti benar-benar mereka alami”

“nee.. Avanged Sevenfold memang salah satu favoritku sejak dulu”

“oh, benarkah?”

“tentu saja.. eoh, lalu bagian mana yg kau suka Min Ah ya?”

“mmm.. sebenarnya aku paling suka liriknya. Terutama bagian reffnya”

“waeyo?”

“kalimat itu, yeoja mana yg tak luluh hatinya jika mendengar namja yg ia cintai mengucapkannya. Hah, pasti sangat menyenangkan jika kita tahu ada orang yg tetap mencintai kita dan mendoakan kita bahkan saat saling berjauhan, saat mata tak bisa saling menatap” Min Ah tersenyum renyah mengiringi pemaparannya tadi. Alunan lagu Dear God masih mengisi rongga pendengaran mereka.

“ah, seperti itukah pikiran para yeoja?”

“tentu saja. Ah dasar tuan kerempeng. Masa hal seperti itu saja kau tak tahu. Apa kau tak pernah menyukai seorang gadis?”

“molla.. lalu, kau sendiri bagaimana?”

Min Ah, terdiam sejenak. Menarik nafas. Menarik sedikit bibirnya ke belakang. Pandangannya lurus kedepan, matanya berbinar. Seakan penuh pengharapan.

“aku.. pasti hatiku akan meleleh karena terlalu senang jika ada seseorang yg menyanyikannya untukku” senyumnya masih merekat dibibirnya.

“aku akan menyanyikannya untukmu” Seung Gi mengalihkan tatapannya yg sedari tak tak lepas pada Min Ah. Kali ini dia yg menyunggingkan senyum kecil namun cukup untuk memamerkan lesung pipitnya sambil memandang lurus ke depan.

“m.. mwo?!” sontak Min Ah menoleh secepat kilat ke arah Seung Gi. Bibirnya berubah membentuk bulatan. Matanya yg sudah lebar itu semakin melebar. Mengharap ada penjelasan oleh namja yg baru saja membuat jantungnya membuncah hampir meledak. Namun tak ada jawaban yg terdengar. Namja itu malah dengan penghayatan melantunkan bait-bait yg baru saja membuat goresan sejarah hidup mereka.

“dear God.. the only thing I ask of You is to hold her when I’m not around when I’m much too far away”

*****

 

“omo!!! Seung Gi oppa sungguh romantis. Aaaaakk..” teriak Woo Ri.

“oh my God! Pelankan suaramu. Kau mau membangunkan semua penghuni apartemen ini, hah?” tangan Min Ah membungkam mulut Woo Ri. Woo Ri tak berkutik. Hanya bisa menggelengkan kepala pertanda tidak akan berteriak lagi.

“bagus, jangan keras-keras. Ini sudah malam. Tetangga pasti sudah tidur. Jadi jangan berisik, kau bisa menyusahkanku agashi labil. Arraseo?” sekarang Woo Ri mengangguk. Mulutnya sudah bebas bersyarat, sudah tidak lagi menjadi tawanan tangan Min Ah.

“oke, aku akan melanjutkan ceritaku. Setelah itu….”

Narasi Min Ah terhenti saat ponselnya berbunyi. Bunyinya tidak asing. Dan bagi Woo Ri, dia bergumam sendiri. Dia sekarang mengerti kenapa kakak sepupunya ini tidak pernah mengganti nada dering ponselnya. Ya, suara khas Matt Shadows menggema dari ponsel Min Ah memenuhi kamar berisi dua tempat tidur itu. Namun suara itu terhenti bersamaan dengan suara Min Ah yg  menjawab telepon dari orang diseberang sana.

“yeoboseo?”

“Min Ah ya! Kau belum tidur?”

“oh, appa! Kenapa appa juga belum tidur? Ada apa menelfon malam-malam begini? Jangan tidur larut malam appa, tak baik untuk kesehatanmu”

“appa merindukanmu. Makanya aku menelfon. Tapi kau malah menceramahiku”

“apa itu terdengar seperti ceramah? Hah, aku hanya khawatir pada kesehatanmu. Makanya aku seperti itu”

“nee.. appa mengerti. Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau sehat? Apa kau makan dengan baik? Dan apa kau menjaga Shin Woo Ri dengan baik? Ah, berbaik-baiklah padanya. Dia juga saudaramu”

“nee appa. Jangan khawatir. Kami berdua baik-baik saja disini. Appa yg harus jaga diri disana. Eoh, apakah Min Young memasak untukmu? Dan bagaimana dengan jagoan kita Min Woo? Apa dia masih jadi anak manja?”

“kau tenanglah, kedua adikmu itu menjaga appa dengan baik. Masakan Min Young sekarang lebih lezat dari masakanmu, kau tahu? Dan Min Woo, dia sudah bisa mencuci bajunya sendiri. Bahkan adik kecilmu itu kadang membantu appa diladang”

“syukurlah.. dimana mereka sekarang? Apa mereka sudah tidur?”

“emm.. mereka sudah tidur sejam yg lalu”

“oh, sayang sekali. Padahal aku ingin berbicara pada mereka. Aku merindukan mereka appa. Aku merindukan kalian dan rumah kita di Chuncheon sana. Aku juga rindu eomma. Sudah lama aku tidak ke makam eomma” mata Min Ah mulai berkaca-kaca.

“datanglah kalau kau merindukan kami. Bukankah Seoul dan Chuncheon itu tidak terlalu jauh?”

“nee appa, aku juga ingin kesana. Tapi ternyata bekerja diperusahaan besar lebih sibuk dari yg kubayangkan. Aku bahkan tak sempat menikmati hari liburku”

“kau ini, jangan bekerja terlalu keras. Kau sudah terlalu bekerja keras saat di Chuncheon. Sekarang nikmatilah hidupmu di Seoul. Dan jangan lupa, cari calon suami yg baik disana. Kapan kau akan memberi appa cucu heum?”

“ya, oppa. Aku disini untuk bekerja bukan mencari jodoh”

“ahaha.. tidak apa jika kau bisa mendapat keduanya sekaligus. Pekerjaan dan calon suami. Bukankah itu hal yg baik?”

“emm.. arraseo. Aku akan mencarinya demi appa. Oh iya, aku akan datang kerumah saat libur nanti. Sekarang appa tidurlah. Ini sudah larut”

“baiklah, kau juga tidurlah anakku. Appa selalu mendoakanmu disini. Mimpilah yg indah”

“gomawoyo appa.. appa juga mimpilah yg indah”

Telepon terputus. Min Ah menarik nafas panjang meluapkan kelegaannya. Setidaknya rindunya pada keluarganya di Chuncheon terobati walau hanya secuil. Matanya beralih  melirik Woo Ri yg telah pulas bergelut dengan mimpinya. Min Ah tersenyum lalu menyelimuti Woo Ri. Diapun merebahkan diri disamping Woo Ri, dan mulai ikut memejamkan mata dibawah selimut yg sama. Nampak tempat tidur disebrangnya kosong karena penghuninya sedang menginap ditempat tidur Min Ah.

——

“oh bos, kau sungguh akan meninggalkan kami?”

“ya Shin Min Ah! sudah kubilang jangan panggil aku bos. Panggil aku eonni. Tidakkah itu lebih enak didengar?”

“arraseo bos. Eh!! Eonni.”

“aissh.. kau ini. Dasar anak baru. Berbaik-baiklah pada senior-seniormu disini ne”

“ne, baru  sebulan aku disini tapi rasanya kalian sudah menjadi keluargaku. Dan sekarang harus merelakan eonni meninggalkan kami, aku menjadi sangat sedih”

“tenang chagia, masih ada aku disini. Kau tak perlu sedih” pria kocak  bernama Park Hung Sik itu mendekat pada Min Ah dan menggodanya.

“oppa! Bagaimana denganku? Aku juga sedih. Kenapa kau cepat sekali berpindah kelain hati,huh?”

“oh, jangan marah Krystal ku yg cantik. Hanya kau yg ada disini” rayu Hyung Sik sambil menepuk dada kirinya. Krystal pun tersenyum malu-malu.

Kelakuan kedua insan yg sedang dimabuk asmara ini sontak membuat Min Ah dan yg lainnya terkekeh. Menjadikan mereka keluar sejenak dari suasana perpisahan yg tentu membuat hati sedih. Ya, hari ini bos bagian Customer Service di sebuah cabang perusahaan provider telepon seluler terkemuka di Korea itu akan cuti panjang. Dan sekarang mereka melingkari meja bos diruangan yg bersekat kaca dengan ruangan anak buahnya itu. Pesta kecil diadakan dalam rangka perpisahan sekaligus menya            mbut bos baru yg akan menggantinya.

“ya ! Park Hyung Sik! Krystal Jung! Berhentilah bersikap seperti itu. Suasana yg menyenangkan ini hanya menambah rasa berat meninggalkan kalian” Min Ah mengelus lembut pundak bosnya itu, mencoba menenangkan.

“jangan terlalu sedih eonni bos, bukankah kau hanya cuti sementara waktu? Setelah anakmu lahir kau akan tetap menjadi bos kami kan?” kali ini yeoja berperawakan anggun yg angkat bicara. Usianya sekitar 30tahun.

“Hye Kyo eonni benar eonni bos. Kau akan kembali kan?” Min Ah mengulangi pertanyaan Song Hye Kyo mencoba memastikan.

“ne.. kalian benar. Aku hanya cuti sampai anakku lahir. Dan pasti aku akan kembali kesini”

“syukurlah… eoh, lalu siapa yg akan menggantikanmu selama kau cuti eonni?” tanya Krystal.

“aigo.. aku lupa memberitahunya pada kalian. Nanti akan ada utusan dari owner perusahaan untuk menggantikanku sementara waktu. Dia masih muda tapi kemampuannya sungguh tidak bisa diremehkan. Berbaik-baiklah pada bos baru kalian ne”

“dia itu yeoja atau namja?” Min Ah nampak penasaran. Sama penasarannya dengan rekan-rekannya yg lain.

“diaaa… ah, itu dia datang”

Berpasang-pasang mata itu serempak bak dikomando menoleh ke arah pintu ruangan bos. Begitu sesosok manusia nampak muncul dari balik pintu, mata-mata itu makin tajam memandang seperti seekor elang yg enggan kehilangan mangsanya. Dan ketika sosok manusia itu telah jelas sepenuhnya mereka lihat, mata-mata itu menjadi semakin lebar dan enggan berkedip. Terutama bagi para gadis. Bagaimana tidak, karena yg mereka lihat adalah sesosok namja rupawan bagaikan bintang Halyu jelmaan malaikat setengah dewa.

Namja tampan tingkat dewa itu berjalan memasuki ruangan bos dengan gaya yg sangat elegan. Mengenakan kemeja abu-abu yg pas menempel dibadan tegapnya membuat abs  nya tetap jelas terihat, serta jas putih yg membuat kulitnya yg berwarna sedikit kecoklatan itu semakin besinar. Senyum tipisnya mempunyai kekuatan menyengat lebih mematikan dari sengatan listrik. Bentuk wajahnya tegas sempurna menyiratkan keberanian seorang pria sejati. Rambutnya yg tersisir rapi tegak bagai jajaran pohon pinus di musim semi. Sungguh sangat cool. Dan bentuk matanya yg tidak terlalu lebar dengan alis cukup tebal yg ujung dalamnya rendah kemudian agak naik lurus keujung luarnya membuat tatapan matanya begitu tajam. Yeoja manapun akan hilang kesadaran saat menatap pandangan mautnya. Tak terkecuali Shin Min Ah.

Mata Min Ah sempat beradu dengan mata namja itu sepersekian detik. Karena Min Ah memang tak melepaskan pandangan darinya sejak jelmaan malaikat itu memasuki ruangan. Dan ketika tak sengaja mata mautnya bergerak ke arah Min Ah, dua pasang mata itu saling bertemu.

DEG!!

 

-TBC-

 

Gomawo chingudeul yg uda mau baca ff pertama saya. Author masih sangat amatir nih. Jadi mohon tulis KRITIK dan SARAN dari chingudeul. Mian kalo ff nya kurang menarik dan banyak kekurangan la            innya. Tetep tunggu dan baca part selanjutnya ya… ^_^

5 thoughts on “Move On! | Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s