STUPID IN LOVE (Chapter 16)

 

Duser-ix3donghae2361

STUPID IN LOVE

 

Author                  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre                   : Sad, Complicated, Married Life.

Lenght                  : Chapter

Rating                   : 16+

Main Cast            : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae.

Other Cast          : Park Hyejin, Cho Kyuhyun, Xiu Luhan.

Disclaimer           : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! Masih ada yang betah baca FF ini? kalo udah bosen, lambaikan tangan pada kamera? *loh?!

 

 

*CHAP 16*

[AUTHOR SIDE]

“AHYA AH!!”

Donghae terduduk lemas diatas sofa. Jantungnya berdetak tak karuan, terlebih saat mendengar ledakan dari ujung sana. Pikirannya kacau tak terkendali, dengan cepat Donghae mengambil kunci mobilnya dan bergegas mencari keberadaan Ahya.

Sambil menyetir, Donghae tak lupa menghubungi Ayahnya itu.

“Appa! Ahya, dia dia disandra oleh Xiumin!! Pihak dari Xiu Corp”

“APA?!” Tuan Lee terdengar begitu terkejut mendengarnya, hingga dirasakan seluruh tubuhnya ikut melemas.

“Aku sedang berusaha mencarinya”

“Baiklah, Appa juga akan kerahkan semua anak buah Appa untuk membantu mencari Ahya” Donghae melempar ponselnya ke jok samping, pria itu terus berkomat-kamit semoga tak terjadi apapun pada gadis itu. Tak peduli dengan pakaiannya saat ini. Donghae masih menggunakan celana training dan juga kaus putih polos dengan rambut yang masih basah karna Donghae baru saja selesai dari mandi ‘siang’nya.

Sedangkan disisi lain Ahya Kim sedang terperangah dengan kejadian dihadapannya. Xiumin sedang tergeletak tak berdaya, karna kakinya yang baru saja terkena tembakan timah panas.

“Kau baik-baik saja?” Ahya masih terdiam menatap Xiumin dan kedua anak buahnya sedang diringkus oleh pihak kepolisian. Sedangkan Kyuhyun masih sibuk melepas ikatan dikaki dan tangannya. Kyuhyun, pria ini yang sudah menolong Ahya dari semuanya. Kedatangan Kyuhyun terbilang sangat tepat, pria itu datang dengan segerombol polisi dibelakangnya.

“Terima kasih Kyu, aku sudah tak tau nasibku jika tak ada kau” ucap Ahya dengan nada gemetar dan trauma yang dialami tubuhnya. Kyuhyun pun mendekap tubuh mungil Ahya dan berusaha menenangkan gadis itu.

Kyuhyun mengangguk dan memapah Ahya untuk keluar dari ruangan itu, membiarkan para polisi menyisir lokasi kejadian. Ahya dan Kyuhyun terdiam sejenak didalam mobil Kyuhyun, memperhatikan para pelaku yang berhasil diamankan oleh para polisi.

“Xiu Corp, benar-benar kelewat batas” ucap Kyuhyun membuka percakapan. Kyuhyun yang notabene-nya juga bergelut didunia bisnis juga mengerti tentang persaingan bisnis yang kotor seperti ini. Demi uang dan kekuasaan semua orang dapat berbuat licik dengan tak terduga.

“Luhan?” Ahya melebarkan matanya tak percaya dan mencoba melihat seorang pria yang tak asing lagi dimatanya. Pria itu sedang digeret polisi memasukki mobil tahanan. Hatinya mencelos. Luhan? Kenapa dia ada disini? Gadis itu terus bertanya-tanya dalam hati.

“Kau mengenal Luhan?” Kyuhyun angkat bicara. Dan Ahya mengangguk, selanjutnya Ahya menatap Kyuhyun meminta penjelasan, siapa tau Kyuhyun mengetahuinya.

“Kenapa dia ada disini?”

“Kau tidak tau Luhan? Xiu Luhan?” tanya Kyuhyun.

“Xiu Luhan?” Ahya mengulangi lagi kata-kata Kyuhyun. Xiu apa itu marga Luhan?

“Iya. Dia Xiu Luhan, adik kandung Xiumin” Ahya menganga tak percaya, jadi selama ini Luhan memata-matainya?

“Kyu, aku tak mengerti dengan semua ini. Bisa kau jelaskan?”

“Kau tak tau dengan semuanya?” Ahya menggeleng dan Kyuhyun perlahan mulai menceritakannya. Mulai dari kontrak yang berjalan antara Group Of Kim dan Lee Corp sampai maksud dan tujuan Xiu Corp menyandranya. Semua petinggi perusahaan di Korea Selatan sudah mengetahui akan kontrak itu dan juga sifat dari Xiu Corp sendiri. Jadi bisa dibilang itu semua rahasia publik.

“Jadi, Luhan hanya mendekatiku untuk semua ini? Tapi kenapa tadi aku tak melihatnya?” Ahya masih tak percaya dengan cerita yang baru saja didengarnya. Donghae tak pernah memberitahunya tentang semua ini.

“Entahlah, sudah berapa lama kalian berteman? Mungkin Luhan menyukai mu” ujar Kyuhyun dengan nada bergurau dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Ahya masih terdiam.

‘Kumohon, jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah pergi keluar rumah seorang diri. Kau—dalam bahaya’

Kata-kata Luhan terngiang dan berputar diotaknya. Jadi ini maksud dari perkataannya dulu? Ahya menyadarkan kepalanya memejamkan matanya. Ahya sudah terlalu lelah dengan semua ini. Masalah datang tak henti-hentinya.

“Kau, salah paham lagi. Maksudku, aku tak mungkin membiarkan istriku bergaul dengan orang-orang yang tidak jelas asal usulnya begitu. Aku hanya—hanya—“

 

“Hanya tak ingin kau salah berteman”

 

“Ada apa denganmu? Hei! Bukankah kau sering mengatakan padaku dulu, jika tak boleh memilah-milih teman, hah? Kenapa sekarang kau jadi begini? Apa jabatan Vice Precident telah mempengaruhi sifatmu, menjadi seperti ini? Pribadi yang sombong”

 

“Aku sama sekali tak berniat seperti itu. Hanya saja, Luhan terlihat lain. Dia berbeda”

Ahya membuka matanya lebar saat Donghae hadir dipikirannya. Dia benar, Donghae benar! Maafkan aku Hae, mengabaikan kata-katamu dulu. Ahya bergumam dalam hatinya.

Kini mereka terdiam sepanjang perjalanan pulang. Kyuhyun memilih untuk tak membuka suaranya saat mendapati ekspressi Ahya yang kembali murung sembari mengusap-usap perutnya yang mulai membuncit. Rasa sayang Kyuhyun tak pernah pudar tiap harinya, bahkan rasanya semakin bertambah.

Sesampainya didepan rumah Ahya, Kyuhyun segera membukakan pintu mobilnya memperlakukan Ahya selembut mungkin. Ahya hanya dapat tersenyum manis pada pria itu meski Ahya tau betul jika Kyuhyun sedang berusaha merebut hatinya, tapi percuma jika hati gadis itu sudah tertawan pada Donghae.

“Istirahatlah” ucap Kyuhyun. Ahya mengangguk lemas. Sedangkan disisi lain Donghae sedang berusaha menahan emosinya melihat Kyuhyun yang dapat bersikap manis pada Ahya. Ingin sekali pria itu memukul Kyuhyun dan mempringati pria itu agar tak dekat-dekat dengan Ahya. Tapi, sekali lagi Donghae sudah tak punya hak atas itu semua terlebih dengan Ahya yang seakan sudah sangat membencinya saat ini. Ingin sekali Donghae memeluk dan melindungi Ahya beserta anaknya, tapi pria itu tidak bisa. Donghae tak terlalu siap jika Ahya mengusirnya tiba-tiba.

“Syukurlah, kau baik-baik saja. Meski aku benci padamu Kyu, tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih karna sudah melindungi Ahya” mata Donghae tak lepas-lepas dari kedua makhluk yang berada cukup jauh dari mobilnya tapi meski begitu Donghae bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Tiba-tiba terbesit pikiran untuk tidak memaksa Ahya kembali padanya suatu hari nanti, saat melihat Ahya begitu bahagia saat bersama Kyuhyun.

“Kau, terlihat begitu bahagia bersamanya. Suatu hari nanti, saat ini semua terbukti bisa kah aku membawamu kembali padaku? Aku tidak ingin lagi menyakitimu, dan aku tak ingin lagi melunturkan senyumanmu” mata Donghae panas seketika. Hatinya berdenyut sakit, apa Donghae harus merelakan jika suatu saat nanti Ahya lebih memilih Kyuhyun dari pada dirinya?

“Sepertinya, aku harus berpikir ribuan kali untuk memaksa mu agar kembali padaku. Aku sangat tak pantas untukmu” seusai berkata seorang diri, Donghae segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu dan juga tak lupa memberi kabar kedua orang tuanya jika Ahya baik-baik saja.

==oOo==

“Donghae ah” suara serak ayahnya terdengar diujung pintu ruangannya, membuat Donghae mau tak mau mengalihkan pandangannya sejenak dari tumpukkan file dimejanya.

“Eoh, Appa? Masuklah” Donghae bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Appa-nya yang kini sudah duduk disofa yang ada diruangannya.

“Ada apa? Nilai saham Lee Corp semakin memburuk? Haah, maaf Appa ini semua salahku” ucap Donghae lagi. Yah, akhir-akhir ini nilai sahamnya dipasar modal Asia sedikit menurun. Sejak skandal itu mencuat, posisi perusahaannya tak pernah lagi masuk kedalam jajaran Top Ten pasar Asia. Skandal itu begitu mempengaruhi perusahaannya.

“Ah, masalah itu biar Appa yang menangani. Ini semua sudah terjadi kau hanya tinggal menghadapinya saja. Appa yakin ini tak akan berlangsung lama. Percayalah. Oh ya begini, perusahaan kita yang baru akan dibuka di London. Dan Appa tak dapat mengurusnya, begitu juga dengan Hyung-mu. Donghwa sudah sibuk dengan cabang kita di Bangkok, jadi satu-satunya harapan kami adalah kau” Donghae terdiam, terlihat seakan sedang menimang dan memikirkan sesuatu. Jika ia pergi dari Korea, berarti Donghae harus siap meninggalkan Ahya.

“Berapa lama?”

“Tergantung, jika perusahaan yang kau pegang berjalan pesat yah secepatnya kau dapat kembali ke-Korea dan juga sebaliknya” Donghae menyederkan pundaknya pada senderan sofa. Menarik nafasnya berat. Pilihan ini begitu sulit diambilnya, Donghae belum siap meninggalkan Ahya. Itu adalah inti dari pikirannya.

“Bagaimana? Lagi pula, Appa kasian melihatmu. Setiap hari harus terkena sorotan kamera, sedangkan Hyejin saja sudah menghilang entah kemana”

“Lagi pula kau juga bisa sambil berlibur disana. Dan masalah Ahya, biarkanlah gadis itu bahagia sejenak dengan pilihannya. Jika kalian memang berjodoh, pasti takdir akan menyatukan kalian lagi nak” ujar Tuan Lee dan bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan Donghae dengan sejuta dilemma dipikirannya.

“Pikirkan itu, jika kau mau. Lusa kau berangkat” tambah Tuan Lee sebelum pria itu benar-benar pergi dari ruangan Donghae.

Donghae mengerang frustrasi. Apa yang harus dilakukannya? Mengambilnya kah? Dan meninggalkan Ahya disini? atau tetap tinggal untuk gadis itu?

Matanya melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tanpa pikir panjang, Donghae bergegas meninggalkan kantor dan berjalan menuju rumah Ahya. Donghae berniat untuk meminta pendapat gadis itu.

Sesampainya disana, lagi-lagi Donghae hanya dapat mendesah kesal saat akses jalan mobilnya harus terhalang dengan mobil Cho Kyuhyun. Saat melewati mobil Kyuhyun, Donghae ingin sekali menendang mobil itu tapi karna malu Donghae menahannya. Akhir-akhir ini Donghae sudah tak pernah lagi dikirimi laporan oleh Kyuhyun, hal itu membuat Donghae bertambah kecewa dengan pria itu.

Donghae terus berjalan menuju pintu rumah Ahya, dan langkahnya terhenti saat mendapat pemandangan yang sangat membuat hatinya panas terbakar cemburu. Kyuhyun dan juga Ahya sedang berpegangan tangan tak jauh dari pintu rumahnya yang tak tertutup rapat. Donghae berdiri mematung, telinganya terbuka lebar dan matanya sibuk menelusuri kedua makhluk itu dari sela-sela pintu.

“Aku benci melihatmu menangis. Berhentilah, aku mohon” suara Kyuhyun terdengar sayup-sayup ditelinga Donghae. Sementara Ahya tak menjawab apapun.

“Maka dari itu, jadilah istriku. Aku berjanji akan menjagamu dan juga anak ini dengan baik, aku akan berusaha membuatmu berhenti menjadi lemah seperti ini. Kau, maukan?” tangan Donghae mengepal kuat, jakun bergerak-gerak menahan umpatan-umpatan dihatinya. Suara Kyuhyun terdengar seperti bom yang menghancurkannya seketika itu juga. Kyuhyun benar-benar merebut Ahya darinya. Apa yang bisa diperbuat seorang Lee Donghae?

Pria itu tak bisa berbuat apapun. Donghae melangkahkan kakinya dengan cepat, pria itu tak mau mendengar apapun jawaban Ahya saat itu. Donghae tak dapat berpikir jernih saat itu juga.

Donghae merebahkan kepalanya disandaran jok mobilnya, menghempaskan nafasnya kasar. Ada apa dengannya? Kenapa saat Kyuhyun melamar Ahya tadi dirinya tak bisa berontak dan membuat keributan disana? Kenapa Donghae hanya terdiam dan memilih pergi? Ah, rupanya Donghae sudah berkaca pada dirinya sendiri.

Donghae sudah merenungkan hal ini, pria itu tak mau lagi memaksa Ahya untuk menemani kehidupannya. Karna jika pada kenyataannya gadis itu tak akan bisa bahagia bersamanya, dan mungkin Ahya akan lebih bahagia jika bersama Kyuhyun. Meski hatinya harus terluka dalam.

“Jadi ini yang kau rasakan saat aku sedang bersama Hyejin dulu? Sungguh sakit ternyata” tangan Donghae merambat naik menuju dadanya yang begitu sakit sekarang. Pria itu benar-benar menyesal kini karna telah menyia-nyiakan orang yang sayang padanya.

Donghae tersadar dan segera menghubungi Ayahnya. Donghae menyetujui tawaran Ayahnya siang tadi.

“Appa, aku menyetujuinya. Besok aku akan berangkat ke London tak perlu menunggu lusa”

Setelah itu, Donghae menyalakan mesin mobilnya dan berjalan menjauh dari rumah itu. Semoga kalian berdua bahagia, Kyu kumohon jaga Ahya baik-baik. Ucap Donghae dalam hatinya bersamaan dengan airmata yang mengaliri pipinya. Donghae sungguh pria pengecut.

==oOo==

“Hyejin ah” Hyejin tak bergeming saat gadis itu menerima pelukan yang tiba-tiba dari seorang pria yang baru saja dibukakan pintu olehnya. Pria itu mendekap Hyejin dengan erat. Kangin, pria itu tak mau lagi meninggalkan gadis yang sangat amat dicintainya itu.

“Ka—Kangin ssi. Se—sak” Ucap Hyejin saat dirinya merasa pasokan oksigen didadanya semakin menipis akibat Kangin yang memeluknya terlalu erat. Tapi, ada faktor lain yang membuat Hyejin seperti itu. Entah kenapa, gadis itu merasakan jantungnya tak berdetak seirima sejak Kangin memeluknya.

Kangin melepaskan pelukannya, menatap dalam Hyejin yang termenung menatapnya. Pria itu tersenyum manis, kemudian menarik Hyejin agar masuk kedalam apartemen gadis itu. Setelahnya mereka duduk bersama disofa yang ada diruangan itu.

“Kau sudah kembali?” tanya Hyejin saat sedari tadi Kangin hanya memandangnya. Kangin tersenyum manis lalu mengangguk.

“Kenapa? Kenapa harus menggunakan nama pria itu untuk mengakui kehamilanmu?” Hyejin terdiam. Tak dapat berkata. Bibirnya kelu.

“Mianhae” Hyejin menunduk dalam saat menyadari semua petaka yang dibuatnya. Gadis itu takut, sangat takut jika Kangin marah mengenai pemberitaan yang menyatakan Hyejin hamil anak Lee Donghae.

“Maafkan aku” ucapnya lagi saat tak mendengar sepatah katapun dari bibirnya. Kangin menghela nafasnya berat, sesungguhnya Kangin begitu murka dengan semua ini. Tapi, rasa marahnya itu menguap jika mengingat Hyejin tengah mengandung buah cintanya. Dan tandanya itu, Hyejin tak dapat lagi menolak cintanya.

“Semua sudah terjadi. Tak ada lagi alasan untukku marah, dan sebaliknya tak ada lagi alasan untukmu menolakku” Kangin kembali merengkuh tubuh Hyejin kedalam pelukan hangatnya. Maafkan aku menghamilimu untuk mendapatkan hatimu, karna ini satu-satunya cara agar kau tetap bersamaku. Ucap Kangin dalam hatinya sambil terus terseyum.

“Aku memang gadis bodoh. Gadis yang tak dapat berkutik atas perbuatanku sendiri. Aku sudah terlalu banyak membuat orang yang tak bersalah menderita. Aku—aku—takut” perlahan gadis itu mulai terisak dipelukan Kangin, dadanya sedikit sesak mengingat Ahya dan juga Donghae sudah bercerai akibat ulahnya. Ulah bodohnya.

“Sudahlah, besok kita buat konfrensi pers. Kita jelaskan semua ini, dan setelah itu kita pergi meminta maaf pada pihak yang dirugikan. Kau harus tetap meminta maaf pada mereka” betapa sabar pria ini, setelah jelas-jelas dikhianati oleh gadis itu Kangin masih tetap mencintainya dengan tulus. Tak banyak yang dapat dilakukannya untuk gadis itu, tapi yang jelas apapun yang terjadi pasa Hyejin, Kangin akan terus bersamanya.

Waktu terus berjalan tanpa henti, malam kini sudah berganti dengan cerahnya pagi hari. Embun menguap dimana-mana menyambut musim semi yang amat indah, bunga dan pepohonan akan mulai tumbuh dengan segar dan indah. Donghae menutup pintu mobilnya sesampainya didepan rumah kedua orang tuanya. Pria itu berjalan dengan berat, sambil sesekali menghela nafas.

“Eomma, Appa” panggilnya saat sampai didalam rumah dan mendapati kedua orang tuanya tengah sarapan bersama. Donghae mendudukan tubuhnya disebelah Eommanya. Donghae terdiam saat menatap tumpukan roti panggang diatas meja. Lagi, Donghae teringat pada Ahya yang sering memberinya roti panggang sebelum ia berangkat bekerja.

“Oppa!” Donghae mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang duduk dihadapannya sambil membawa selai strawberry ditangannya. Donghae sedikit terkejut.

“Eoh, kau Taeri? Sejak kapan kembali ke-Korea?” tanyanya.

“Sudah lama! Hanya saja aku belum sempat mengunjungimu, tapi aku sudah dua kali bertemu dengan mantan istrimu. Apa dia tak pernah bercerita jika pernah bertemu denganku?” jawab Taeri dengan wajah polosnya, sementara Donghae hanya terdiam saat Taeri menyinggung soal mantan istrinya. Semua orang disana langsung menatap gelisah Donghae yang terdiam dan raut wajahnya yang berubah secepat itu. Taeri dengan cepat menutup bibirnya, aku salah bicara sepertinya. Gumamnya sambil menggigit bibirnya.

Tuan Lee berdeham, membuat Donghae kembali kedunia nyatanya. Semua orang saling memandang satu sama lain, ketika Donghae mengembangkan senyumannya tiba-tiba. ‘Biarkan dia bahagia’ kalimat itu yang sudah mengembalikan Donghae kedunianya. Kalimat itu yang membuatnya tak boleh lagi berwajah suram seperti tadi.

“Donghae ah, kapan pesawatmu take off?” tanya Tuan Lee berusaha mengalihkan sedikit perhatian Donghae.

“Pukul 8 nanti, aku ingin sarapan disini dulu” jawabnya sambil mengambil satu buah roti kesukaannya.

“Kau benar akan ke London? Sendirian?” Eomma-nya ikut berbicara. Donghae mengangguk, tapi Tuan Lee segera menyanggahnya.

“Tidak sendiri, tapi bersama Lee Hyuk Jae”

“Mwo?? Lee Hyuk Jae?!” Taeri terpekik sendiri saat mendengar nama itu. Kini semua orang menatapnya. Dan meminta penjelasan akan sikapnya yang terkejut seperti itu.

“Ada apa memangnya?” tanya Donghae.

“Jadi? Jadi benar dia akan meninggalkanku disini? Aisssh! Hyuk Jae!! Awas kau” Taeri menggenggam erat-erat pisau roti ditangannya, gadis itu sepertinya begitu emosi membuat Donghae mau tak mau menatapnya bingung.

“Kenapa?” ujar Donghae lagi.

“Kau tidak tau? Ya ampun, Lee Hyuk Jae itukan pacar adik sepupumu Donghae ah. Jadi wajar jika Taeri seperti itu” balas Nyonya Lee.

“Mwo? Mworagoo?” Donghae melebarkan matanya. Apa ini? Lee Hyuk Jae yang disebut-sebut sebagai sahabatnya itu tak memberitahu jika dirinya berpacaran dengan adik sepupu Donghae sendiri? Akh, Lee Donghae kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Jadi hal sekecil ini kau tak mengetahuinya.

“Akh, Oppa. Jaga Hyuk Jae disana, jika kau ingin mencari istri baru kumohon jangan sekali-kali kau ajak Hyuk Jae bersamamu..”

“Aish! Bocah ini” Donghae mencibir Taeri yang terlihat begitu frustrasi saat mengetahui Hyuk Jae akan pergi jauh darinya. Apa Ahya juga akan sepertinya saat mengetahui aku pergi dari Korea? Donghae terus bergulat dengan pikiran-pikirannya itu.

==oOo==

“Jaga dirimu baik-baik nak disana” Nyonya Lee mencium pipi Donghae dan memeluknya sejenak, begitu pula dengan Tuan Lee. Bahkan Nyonya Lee tak kuasa menahan airmatanya, kini Nyonya dan Tuan Lee hanya tinggal berdua di Korea. Lee Donghwa, putra pertamanya sibuk dengan perusahaan mereka di Bangkok bersama istrinya. Dan Lee Donghae pun harus sibuk dengan tugas yang sama di London sana.

“Eomma dan Appa juga. Jaga kesehatan kalian” Donghae memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Entah kapan Donghae akan bisa memeluk kedua orang tuanya lagi, jika jangka waktu keberhasilan perusahaannya itu tak dapat ditebak.

“Kau sudah memberi tau Ahya?” Tuan Lee membuka suaranya. Donghae hanya bisa tersenyum meski hatinya tidak. Donghae berusaha bersikap tenang meski hatinya tak mungkin bisa tenang dengan semua ini.

“Aku, tak sanggup mengatakan ini padanya”

“Baiklah, lalu dengan skandalmu?”

“Aku tak memikirkan itu sama sekali. Karna aku yakin, seberapa kuat Hyejin membohongi publik itu semua pasti akan terbukti dengan sendirinya. Dan sekarang, lihatlah siapa yang menghilang lebih dulu?” Jawab Donghae dengan menggebu saat mengingat jika Hyejin menghilang begitu saja dari semua ini semenjak Ahya mengajukan surat cerai pada Donghae. Malam itu, malam yang tak pernah dilupakan oleh Donghae.

“Buktikan itu nak” Tuan Lee tersenyum bangga pada anaknya, meski pada awalnya Tuan Lee sempat begitu marah pada Donghae karna bisa-bisa nya pria itu melakukan sesuatu yang harusnya tak ia lakukan. Tiba-tiba suara peringatan pesawat terdengar ditelinga mereka, maka dengan berat hati mereka harus segera berpisah.

“Aku berangkat dulu” Donghae tersenyum pada kedua orang tuanya yang hanya dapat mengangguk dan mengantar sampai terminal keberangkatan saja.

“Hyuk ah! Palliwa” panggil Donghae saat Hyuk Jae masih saja bermesraan dengan Taeri. Tak tau kah seberapa muaknya Donghae dengan pemandanga itu? Pemandangan yang membuatnya semakin bersedih saja.

“Yaa, Hati-hati” Tuan Lee, Nyonya Lee dan Lee Taeri melepas keberangkatan kedua orang yang akan berjuang di London sana dengan suka cita. Semoga mereka berhasil disana. EunHae Ya! Hwaithing!!

‘Selamat tinggal Ahya, selamat tinggal anakku. Appa pasti akan menemui kalian suatu hari nanti. Dan berbahagia lah dengan kehidupanmu bersama Kyuhyun nanti’ ucap Donghae dalam hatinya saat mereka terus berjalan menuju pesawat.

Tiba-tiba ponsel Tuan Lee berdering, tanpa menunggu lama Tuan Lee segera mengankatnya.

“Tuan, segera lihat televisi sekarang. Aku tak dapat menghubungi Tuan Muda Donghae, ponselnya tidak aktif” suara itu segera menyambut Tuan Lee seusai dirinya mengucapkan salam. Dengan segera Tuan Lee mencari televisi diterminal keberangkatan itu, diikuti dengan Nyonya Lee berserta Taeri yang terlihat kebingungan.

Sementara itu, Ahya tengah meremas remote TV ditangannya dengan sangat keras menyalurkan semua emosinya. Airmatanya jatuh meleleh begitu saja saat menyaksikan tayangan live yang disiarkan oleh salah satu program televisi itu. Disana terdapat Hyejin bersama dengan Kangin yang sedang menggelar konfrensi pers mengenai semua ini.

“Maaf, aku sangat meminta maaf pada semua pihak yang dirugikan disini. Terutama Ahya Kim beserta Lee Donghae, semua ini murni kesalahanku. Semua ini memang benar hasil keteledoranku, dan semua ini memang hasil rekayasaku. Aku benar-benar meminta maaf” Hyejin mengatakan itu semua dengan airmata yang tak dapat ditahannya, sedangkan Kangin hanya bisa menggenggam tangan gadis itu, memberinya kekuatan.

“Sebenarnya apa tujuan anda melakukan ini semua? Apa anda hanya ingin merusak rumah tangga mereka?” suara salah satu wartawan terdengar. Hyejin sedikit terkejut mendengarnya.

“Apa benar begitu?” ucap wartawan lainnya saat Hyejin hanya terdiam membeku.

“Iya? Benarkan?”

“N—Ne” Jawab Hyejin dengan terbata. Ahya tak dapat lagi menahan amarahnya, tapi gadis itu juga tak dapat berbuat apapun. Mereka sudah berakhir, tak ada yang bisa perbaiki.

“Lalu, sebenarnya siapa ayah dari kandunganmu? Apa benar Lee Donghae?” tanya seorang wartawan lagi. Ahya segera membesarkan volume televisi itu.

“Bukan. Itu anakku!” Kangin berkata dengan begitu tegasnya membuat para wartawan itu segera menyorot wajah Kangin dan mengabadikan wajahnya. Hyejin masih terdiam.

“Maaf, karna Hyejin sudah mencemarkan nama baik Lee Donghae. Sekali lagi, kami minta maaf” lanjutnya.

“Lalu? Kapan kalian akan menikah?”

“Minggu depan. Kami akan menikah dan tinggal di Amsterdam—“

PIP!

Ahya mematikan televisi itu, membuang remotenya dengan kasar.

“Hyejin!! Kenapa kau lakukan ini padakuh?” Ahya meremas bantal sofa, seakan menyalurkan segala rasa sakit hati yang ia rasakan kini. Permintaan maafnya tak mungkin dapat mengembalikan rumah tangganya kembali utuh seperti dulu. Sekarang, apa yang dapat Ahya lakukan? Menunggu Donghae kembali padanya? Atau, melupakan segalanya dan memulai kehidupan yang baru dengan pria lain? Ahya begitu bimbang sekarang.

Ahya bangkit dari duduknya, mengambil mantel coklatnya. Ahya bermaksud untuk mendatangi rumah Donghae dan menemuinya, karna sedari tadi Ahya menghubunginya tapi nomer ponsel Donghae selalu berada diluar jangkauan. Ahya, betapa malang gadis ini. Dia tak tau jika Donghae tengah berada dipesawat yang akan membawanya ke London.

“Akh, sial!” Ahya kembali menutup pintu rumahnya saat mendapati beberapa wartawan sedang menunggunya diluar. Gadis itu berfikir sejenak, semua ini sudah jelas terbukti bahwa Donghae dan dirinya hanyalah korban. Dan untuk apa lagi Ahya menghindar dari orang-orang yang haus akan berita itu? Oh, baiklah Ahya mencoba kuat sekarang! Gadis itu melangkah kan kakinya keluar dari rumahnya, menerjang orang-orang itu.

Tak ada jalan lain baginya, Ahjumma dan Ahjussi Kwon sedang pergi kembali kerumah mereka di-Daegu dan Ahya sendiri tak pandai dalam hal menyetir mobil. Jadi mau tak mau gadis itu harus menggunakan kendaraan umum agar sampai kerumah Donghae dengan setiap konsekuensinya.

“Nona, apa tanggapan anda dengan  semua berita ini?”

“Park Hyejin baru saja mengadakan pertemuan dengan rekan kami yang lain. Dan mengakui semuanya”

“Apa reaksi anda?”

“Bicaralah sedikit”

Ahya terus terdiam menanggapi semuanya, meski telinganya begitu panas menanggapinya. Senyumannya terus melekat diwajahnya guna menutupi kekesalan dan juga kegundahan hatinya.

“Permisi, beri aku jalan” hanya itu yang keluar dari bibirnya, tapi memang dasar kepala batu! Para wartawan itu tak mengindahkan perkataannya. Hingga sebuah taksi datang sebagai jiwa penyelamatnya saat itu. Dengan cepat Ahya masuk kedalam taksi itu dan perlahan taksi itu berjalan meninggalkan mereka walau begitu mereka tetap tak henti mengambil gambar Ahya.

“Ahjussi, tunggu sebentar ne” ucapnya pada supir taksi itu dan berjalan memasukki rumah Donghae yang ternyata bebas dari wartawan. Ahya sempat bingung, karna biasanya wartawan sudah berbaris rapih didepan pintu gerbang rumah Donghae. Persis seperti didepan rumahnya, tapi kali ini berbeda. Begitu sunyi.

“Donghae ssi!!” panggil Ahya dengan cukup keras, karna sedari tadi tak ada respon darinya. Tanpa pikir dua kali, Ahya memasukkan passcode rumah itu dan lagi-lagi gadis itu harus menelan ludahnya saat passcode yang dimasukkannya salah. Donghae telah menggantinya. Perasaan kalut, resah dan bimbang menjadi satu. Kemana pria itu?

“Ahh!!” sedikit tersenyum cerah saat gadis itu mengingat jika mungkin saja Donghae pergi kerumah orang tuanya. Dan dengan berjalan yang sedikit lamban, karna gadis itu sangat menjaga kehamilannya. Ahya berniat menuju kediaman kedua orang tua Donghae.

Ahya sedikit heran saat mendapati suasana yang sama seperti dirumah Donghae, disini dirumah orang tua Donghae pu terlihat sepi. Ahya memutar tubuhnya ragu saat mendengar deruman suara knalpot mobil. Gadis itu menatap heran Nyonya Lee dan juga Lee Taeri yang baru saja turun dari rumahnya. Bahkan kedua orang tersebut juga terlihat sama terkejutnya dengan kedatangan Ahya.

“Ahya?” ucap Nyonya Lee. Tiba-tiba wanita paruh baya itu tersenyum pucat, begitu juga dengan Taeri yang tersenyum kaku. Ah, baiklah setelah beberapa saling berpandangan akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan didalam rumah. Tapi sebelum itu, Ahya tak lupa untuk membayar taksi yang digunakannya tadi.

“Ada apa kau kemari nak?” sapa Nyonya Lee lembut saat mereka sudah duduk diruang tengah.

“Apa Donghae ada disini? Tadi, aku kerumahnya tetapi sepertinya tak ada orang disana” Ahya tersenyum simpul. Tapi kedua orang didepannya justru terdiam saling berpandangan. Melihat ada sesuatu yang janggal, Ahya pun mengerutkan keningnya. Bingung.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

“Do—Donghae oppa—“ Taeri berusaha membuka mulutnya, tapi seketika ia terdiam mengingat Ahya mungkin akan syok mendengarnya. Terlebih pasti Ahya sudah menonton berita live itu, pasti Ahya ingin sekali menemui Donghae untuk menepati janjinya. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat.

“Donghae sudah pergi dari Korea nak” suara Nyonya Lee terdengar parau, seperti menahan isak tangisnya yang menyesakkan sampai kedadanya.

Begitu pula dengan Ahya, gadis itu tak tau harus bagaimana setelah mendengar semua ini. Tubuhnya hanya bisa diam membeku, rasa sakit dan sesak mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Matanya berair, tapi ia tak dapat menangis terisak. Bibirnya pun sepertinya ingin sekali berteriak, tapi seperti terkunci. Sangat kelu.

“Mwooh?” ucapnya lesu. Dan akhirnya airmata itu jatuh perlahan.

“Pesawatnya baru saja lepas landas menuju London untuk suatu pekerjaan. Eonni, kau harus kuat” Taeri berpindah tempat duduknya, gadis itu duduk disebelah Ahya meraih pundak Ahya yang bergetar. Mendekap gadis yang begitu rapuh itu. Bahkan, Taeri ikut menangis seakan dapat merasakan hal yang sama. Rasa sakit karna sudah ditipu hingga akhirnya rumah tangganya bubar, dan rasa sakit saat separuh hatinya memilih pergi jauh darinya.

“Ke—kenapa? Kenapa dia pergi?! Dia tak bersalah, wanita jalang itu baru saja mengakui semuanya! Tapi, kenapa dia pergi?!!!!” tubuh gadis itu terus bergetar seiringan dengan tangisannya yang semakin keras. Ada sedikit rasa penyesalan dihati Ahya, karna dulu ia memaksa Donghae untuk menceraikannya. Harusnya Ahya berpikir dua kali untuk itu. Harusnya, gadis itu baru bisa mengambil langkah yang tepat saat semuanya sudah terbukti. Tapi sayang, semua nya sudah terlambat. Nasi sudah berubah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali lagi. Mereka hanya dapat menjalani hidup masing-masing mulai sekarang.

“Donghae!! Kenapa dia tak memberi tahuku?” ucapnya lemas, gadis itu berhenti menangis saat kini ia mengingat jika dirinya tengah hamil muda. Apapun yang terjadi, gadis itu tak boleh terlalu stress agar tak terjadi apapun pada kandungannya.

“Donghae punya alasan tersendiri akan hal itu” Ahya mengangguk. Baiklah, mungkin ini memang sudah takdirnya. Donghae bukan jodohnya. Gadis itu terpekur sebentar, cinta yang dipaksakan memang tak pernah berakhir baik. Ahya bangkit dari duduknya, menghapus airmatanya dan berjalan mendekati Nyonya Lee.

“Eommonim, sebentar lagi tak kurang dari 8 bulan lagi aku akan melahirkan anaknya. Satu-satunya anak Lee Donghae, tapi sepertinya disaat persalinan nanti dia tak bisa disampingku” air bening itu lolos lagi dimatanya, begitu pula dengan Nyonya Lee. Wanita paruh baya itu memeluk Ahya dengan sayang, lalu melepaskan pelukannya dan mengusap perut mantan menantunya yang sedikit membuncit.

“Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau tak memberitahu kita semua jika kau sedang mengandung saat perceraian itu?”

“Maaf Eomma. Dulu, aku pikir jika ini lah terbaik. Menyembunyikannya agar aku bisa bercerai dengan Donghae, tapi ternyata langkah yang aku ambil salah besar. Aku menyesal, tapi ini semua sudah terjadi. Mungkin, aku dan Donghae memang tak berjodoh” Ahya menggenggam tangan Mantan Mertuanya itu. Menatapnya dalam.

“Baiklah, jika begitu kau tinggallah disini sampai Donghae kembali” Ahya menggeleng. Tidak, gadis itu tak ingin menunggu Donghae. Dia hanya ingin mengenang masa lalu mereka tanpa harus saling menunggu. Menurutnya jika Donghae memanglah takdirnya, mereka pasti bertemu meski tak saling menunggu.

“Aku, akan tinggal di Indonesia bersama orang tua-ku. Aku berjanji akan menjaga cucu Eomma ini dengan baik. Suatu hari nanti, aku akan membawanya kemari agar Eomma bisa melihat wajah cucu Eomma ini” bibirnya gemetar menahan isakannya. Ini begitu memilukan untuknya. Ahya bangkit dari duduknya dan tersenyum manis. Sebelum akhirnya pergi dari rumah itu.

“Aku pergi dulu. Jika Donghae oppa kembali, tolong sampaikan salamku untuknya” Ahya kembali tersenyum dengan airmata yang mengalir deras. Berjalan dengan gontai, sedangkan kedua orang itu hanya bisa terdiam menangisi kepergian sepasang suami istri yang sudah berpisah itu.

Ahya memilih untuk meninggalkan Korea, seperti apa yang Donghae lakukan. Korea begitu banyak menorehkan kenangan manis untuk mereka berdua. Dari kecil hingga besar, mereka selalu bersama. Tapi harus terpisah karna sesuatu hal yang sama sekali tak diduga oleh keduanya. Dan kini keduanya pergi dengan jalan dan tujuan masing-masing.

TBC..

 

Add/Follow Author Yuks..

FB : Nur Cahya Ilahi / Cahya IL

Twitter : @Me_Cahyaa

Gomawo^^

39 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 16)

  1. kenap ahya ga nungguin donghae ja..
    dan orng tua donghae kan bisa menghubungi donghae untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi..
    jadi tidak terjadi kslpahaman lagi..
    kasian donghae jika tidak tau yang sebenarnya
    makasi. next dech..

  2. hhuueeee auhtorr..tissuee mana tissuee. Tuh kann bkin nyesek lgii

    Authorrr mnyebalkn ishh ehehehhhee…tpi daebak :*
    Kajja part lnjutnya d share .gga’ sbarr nunggun euyyy

  3. Untung Hyejin eonni sudah mengakui perbuatannya yg keterlaluan. saat ahya eonni ingin bertemu dengan donghae oppa, donghae oppa sudah diperjalanan untuk ke London karena suatu pekerjaan.. kasian Ahya eonni.. Lanjut Thor!! FFnya makin seruuu🙂 Hwaiting!!😀

  4. sedih banget hiks hiks jd ikutan nangis ne, ak suka banget cerita nya
    bguuuuuus sx, penasaran ne ma ending nya, d tunggu ya thor

  5. wuaahhhhh,
    maaf eaa thor aqu bru bsa coment di chapter ne,
    kereeen bgt crita nyaa,
    aqu mpe nangisss ne bacanyaa…
    ditunggu next nya thor….

  6. kenapa pas dibandara bapaknya donghae nggak nahan donghae biar liat tv ?? khan jadinya kayak gini ..ckckckc -_-

  7. yah donghae pergi, nanti mereka ketemu lagi kan? terus gmn kyuhyun? dia pergi kemana tuh? pasti ditolak ahya kan??

  8. yah donghae pergi, nanti mereka ketemu lagi kan? terus gmn kyuhyun? dia pergi kemana tuh? pasti ditolak ahya kan??!

  9. Haduuhh,, please deh, ni FF bikin ane serasa udah lari maraton, konfliknya unik, aku suka😀 , ini masalah hampir mereda,,

  10. Annyeng……chingu…..
    mian bru ksh coment….

    aq nangis bacany….
    sungguh gak bsa byangn seandainy jd ahya….
    udah di awal cinta brtepuk sblah tangan, hdup dlm rumah tangga yg dingin….
    eh giliran udah bsa saling jujur membuka hati malah ancur….
    astaga…..

    btw part terakhr di protect yah, mau dong pw’ na,…..
    email aq : anak_tunggal15@yahoo.co.id

  11. huhuhu T_T
    sedih banget FF nya yang part ini
    semuany uda terlambat, donghae nya uda pgi meninggalkan korea
    semoga aja mereka nanti bertemu lagi

  12. Hay author…..
    Makin seru nich cerritanya FF stupid in love (chapter 16),suka bgt ma plotnya. Oy, tolong kirim passwordnya donk, buat stupid in love (chapter 17-end). Penasaran abis ma ceritanya.
    Terima kasih….ditunggu balasannya
    Kirim Passwordnya ke
    ririd.kim_laesya@yahoo.com

  13. thor aku tadinya mau minta pw leat dm, tapi nggak bisa soalnya author belom ngefollow aku
    aku ini tipe anak yang nggak suka buka fb, twitter dll, tapi gara2 ff ini aku rela buka twitter yang nggak pernah aku urus dari awal aku bikin, tapi nggak bisa ngeDM gara2 author belom ngefollow aku
    jadi kalau seandainya author udah baca ini aku kasih pwnya ya. . .. ini twitter aku ” @wind_3003 ”
    thankyou thor. . . .😀

  14. ehh mian thor twitter aku @_wind3003 bukan @wind_3003
    tuhkan thor keliatan banget kalo nggak pernah buka twitter, masa nama twitternya sendiri lupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s