STUPID IN LOVE (Chapter 14)

 

dong4d0f2964cd_z

STUPID IN LOVE

 

Author                  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre                   : Sad, Complicated, Married Life.

Lenght                  : Chapter

Rating                   : 16+

Main Cast            : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae.

Other Cast          : Park Hyejin, Cho Kyuhyun, Xiu Luhan.

Disclaimer           : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! Masih ada yang betah baca FF ini? kalo udah bosen, lambaikan tangan pada kamera? *loh?!

 

 

*CHAP 14*

[AUTHOR SIDE]

“Luhan, kau ingin mampir dulu?” tanya Ahya saat turun dari mobil Luhan melewati pintu belakang rumahnya. Luhan menggeleng.

“Tidak, terima kasih. Aku tak mungkin menggangu pertemuan kalian. Dan oh ya kau berbohong padaku” ujarnya sakartis, Ahya hanya terkikik geli.

“Maaf. Tadi aku ingin sekali menemui mereka jadi aku bilang tak ada jalan lain. Tapi setelah melihat gadis itu, aku menguburnya dalam-dalam”

“Baiklah, aku mengerti” Luhan tersenyum dan mengangguk. Pria itu kembali mengutuk dirinya sendiri yang bisa jatuh dalam pesona gadis yang sudah bersuami. Tapi, Luhan tak memperdulikannya. Pria itu yakin jika rumah tangga mereka tak bertahan lama. Luhan hanya tinggal menunggu semua ini selesai dan pria itu tak akan menunggu lama lagi untuk menyatakan perasaannya. Tapi itu tidak mudah mengingat masih ada satu lagi saingannya. Cho Kyuhyun.

 

 Setelah mobil Luhan benar-benar menghilang dari pandangannya, Ahya dengan segera masuk kedalam rumahnya dengan terburu-buru. Gadis itu tertegun sejenak saat melihat Hyejin sedang duduk dengan gelisah disofa ruang tamunya. Ahya tak mengeluarkan kata-katanya, bibirnya tak bisa berkata sedikitpun.

“Nona Ahya, kau sudah pulang?” Ahya menoleh menatap Kwon Ahjumma sedang berdiri dibelakangnya sambil membawa dua gelas teh hangat diatas nampan. Hyejin yang mendengar itupun langsung bangkit dari duduknya.

“A—Ahya”

“Duduklah” ucapnya dingin, Ahya merasa ada sesuatu dalam tubuhnya yang meronta ingin menghina dan menghujat gadis dihadapannya itu. Tapi Ahya tak dapat mengungkapkannya. Gadis itu sedikit berdeham untuk menghilangkan rasa kecewanya pada gadis dihadapannya itu, dan bersikap normal seperti biasa.

“Ada apa kau kemari?” masih dengan nada dinginnya Ahya melontarkan pertanyaannya, sungguh gadis itu tak dapat menyembunyikan rasa kekecewaannya pada Hyejin. Sedangkan Hyejin? Gadis itu terlihat sedikit lebih santai dari sebelumnya. Kini diruangan itu hanya ada mereka berdua disana. Ahjumma Kwon sudah kembali kedapur dan bodyguard Hyejin menunggu didepan pintu.

“Sebelumnya, aku minta maaf yang sangat padamu” Ahya menghela nafasnya, gadis itu yakin jika Hyejin datang kemari hanya untuk menggumamkan kata maaf. Ahya bergeming, tatapan kosong. Beribu kata maaf pun tak dapat mengubah rumah tangganya kembali utuh seperti dulu meski keduanya belum resmi bercerai.

“Aku mohon, lepaskan Donghae untukku” mata gadis bermarga Kim itu melebar dengan sangat. Ahya terkejut luar biasa, mendengar secara langsung dari bibir Hyejin yang menyuruhnya untuk berpisah dari Donghae. Tangan Ahya mengepal kuat, menyalurkan semua emosinya yang sudah sampai keubun-ubun. Bahunya bergetar menahan tangisannya agar tak keluar. Tapi, percuma ditutupi karna toh matanya berair.

Aku benci kau Hyejin! Aku benci kau!!

“Kenapa? Kenapa aku harus melakukan itu?!” nada suara gadis itu meninggi, menatap Hyejin yang sedang terdiam tak dapat ditebak.

“Karna aku—aku—Hamil” biji bola mata Ahya seakan ingin keluar saat itu juga. Jantungnya bertalu tak terima, sakit kembali menerjang hatinya. Tak ada alasan lagi untuk airmatanya tak kembali turun. Dengan satu kali kedipan airmatanya jatuh tak tertahankan.

“Katakan!! Katakan itu bukan anak Donghae! Katakan!!” Ahya bangkit dari duduknya berdiri sambil menangis tak tertahan. Wanita mana yang tidak terpukul dengan semua situasi ini? Hyejin tergagap dengan ekspressi yang sungguh sangat meyakinkan siapapun yang melihatnya.

“Mi—mian, tapi kenyataannya memang begitu” bagai luka yang masih basah kemudian diguyur dengan segayung air garam. Perih, rasanya sangat perih hati gadis itu saat ini. Tak ada lagi yang keluar dari bibir Ahya kecuali suara tangisan yang tiada hentinya. Kakinya melemas. Ahya juga sedang hamil! Bagaimana ini?

Baiklah bukankah dari awal kasus ini muncul, Ahya memutuskan untuk pergi dari Donghae? Tak perduli bagaimana pun keadaannya. Gadis itu tetap ingin pergi. Mungkin inilah garisan yang sudah ditakdirkan Tuhan padanya. Sebesar apapun rasa cintanya pada Donghae, tetap saja mereka harus berpisah. Ahya mengalah bukan untuk gadis itu, tapi Ahya mengalah untuk mereka semua.

“Donghae sudah tau?” Hyejin menggeleng,

“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku membutuhkannya” Hyejin melangkah pergi dari hadapannya, meninggalkan Ahya yang masih terdiam dengan tangisan yang menghiasi wajahnya. Gadis itu memohon pada Tuhan agar mencabut nyawanya sekarang juga.

“Aku mohon, kau mengerti keadaanku” lanjut gadis itu. Ingin sekali Ahya berteriak jika dirinya juga sedang hamil, tapi sekali lagi bibirnya menolak untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Aku benci kalian! Aku benci kalian berdua!!”

==oOo==

“Jauhi dia, sebelum kalian berdua saling menyakiti. Biarkan kalian berdua hidup dijalan masing-masing tanpa saling menyakiti”

Ahya memejamkan matanya, memijat keningnya yang benar-benar terasa sakit dan berat. Terlebih saat kata-kata nenek tempo hari itu selalu menggerayangi pikirannya. Ahya mendesah, sekarang ia ingin sekali bertemu dengan nenek itu tapi kemana ia harus mencarinya? Nenek itu datang dan pergi dengan tak terduga dan mendadak. Orang ajaib sepertinya sangat sulit untuk ditemui pastinya.

Setelah kejadian itu, hari-harinya terasa sangat berat. Setiap hari atau tepatnya setiap pagi Ahya selalu mengalami mornig sick. Dalam benaknya, disaat membahagiakan seperti ini harusnya ada suami yang sedang menenangkan tubuhnya. Harusnya ada suami yang memijat lehernya, ada suami yang dapat memenuhi semua keinginannya. Tapi, itu hanya dapat ia rasakan didalam angan-angannya saja. Karna kenyataanya gadis itu melewatinya seorang diri, berjuang seorang diri.

Orang tuanya ingin sekali datang dan memeluk putrinya saat ini, tapi Ahya menolak dengan tegas keinginan kedua orang tuanya yang ingin menemuinya dengan alasan ‘ingin tenang seorang diri’ tapi bukan itu alasan sebenarnya. Ahya hanya tidak mau keluarganya tau jika gadis itu sedang mengandung.

Ahya juga tak ingin membagi airmatanya dan memperlihatkan seberapa rapuh dirinya saat ini pada kedua orang tuanya. Gadis itu memilih untuk memendamnya seorang diri, meski itu sangat sakit. Ahya terbangun dari lamunannya, tiba-tiba gadis itu ingin sekali memakan kue beras. Jam menunjukkan pukul 7 malam, jadi masih ada waktu untuknya mencari makanan. Tapi, tubuhnya terasa segan untuk berjalan keluar rumah. Bukan, bukan karna para wartawan sialan itu. Tapi, karna anaknya. Dan para wartawan? Mereka sudah tak pernah menyambangi rumah Ahya lagi sejak Kwon Ahjumma memberi pernyataan jika Ahya sudah tak tinggal disini lagi.

Terpaksa, gadis itu terpaksa membohongi publik dengan cara seperti ini. Karna toh, itu demi keselamatan dirinya. Tak ada waktu yang tepat untuknya bicara kehadapan publik, karna dirinya juga tak ada masalah dalam skandal ini. Yang ada adalah dirinya menjadi ‘korban’ dalam skandal heboh ini.

Baru saja gadis itu bangkit dari sofa, handphone-nya sudah bergetar panjang. Matanya memandang datar layar ponselnya. Dan menjawab panggilan itu.

“Kyuhyun ah—“

“Kau ada dirumah?”

“Tentu, ada apa?”

“Tak apa, aku ingin mengunjugimu. Kau sedang ingin makan sesuatu, mungkin? Selagi aku masih dijalan, nanti kubelikan” Ahya meringis mendengarnya. Pria itu sangat baik padanya, andai dulu Ahya bisa memilih pasti gadis itu akan memilih dinikahi oleh Kyuhyun dari pada dengan Donghae jika akhirnya gadis itu menderita seperti ini. Harusnya, ini tugas Donghae. Tapi, lagi-lagi gadis itu harus meratapi takdir. Airmata mulai mengerayangi pipinya.

“Ahya, gwenchana?” gadis itu tersentak dari lamunannya.

“A—um, Gwenchana. Aku, aku ingin sekali makan kue beras. Bisakah kau belikan untukku?” jawabnya dengan suara seraknya. Membuat Kyuhyun yang jauh disana semakin khawatir.

“Apa hanya itu?”

“Tentu, sebelumnya terima kasih Kyu”

“Ah, ne. Yasudah tunggu aku, nona cantik” Ahya sedikit tergelak mendengarnya, dan memutuskan jaringan diantara keduanya.

Ahya kembali pada posisinya semula, tangannya mengelus-elus perut datarnya. Hatinya kembali bergetar, sudah lebih dari 4 hari gadis itu menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Rahasia itu masih utuh terjaga hingga kini, hanya dirinya dan Kyuhyun beserta Tuhan yang tau ini. Bahkan Kwon Ahjumma yang tinggal satu rumah dengannya tak tau jika gadis itu sedang hamil muda. Ahya terlalu pintar menyembunyikannya.

Kepala gadis itu kembali berputar, kini skandal itu sudah ‘tak terlalu’ mencuat kepermukaan. Para pemburu berita kini beralih pada skandal artis papan atas yang terlibat cinta lokasi. Beruntung, karna Hyejin masih berstatus artis tak terlalu terkenal jadi berita tentang Hyejin dan Donghae sudah tak terlalu ramai dibicarakan.

“Aku merindukanmu” gadis itu bergumam ngilu saat pikirannya kembali terpusat pada Donghae. Pria itu dari hari pertama Ahya pergi, dia selalu berusaha menghubungi Ahya. Tapi gadis itu memilih untuk menghindarinya, alasan gadis itu menghindar pasti sudah jelas. Ahya marah dengan semua ini, terlebih saat Hyejin mengatakan jika dirinya sedang hamil anak Donghae. Ahya semakin tak ingin bertemu Donghae, tapi hatinya menolak keras semua ini. Hatinya begitu merindukan pria itu.

“Apakah aku terlalu lama?” Ahya menggeleng dan mempersilahkan Kyuhyun duduk disofa yang sama dengannya. Perlahan, Kyuhyun membuka beberapa bungkus makanan yang dibelinya tadi, termasuk kue beras pesanan Ahya.

Mata gadis itu berbinar-binar saat Kyuhyun membukanya. Kue beras. Gadis itu sungguh menginginkannya. Tak perlu lama, Ahya segera memasukkan sepotong kue beras itu kedalam mulutnya hingga terlihat begitu penuh.

“Pelan-pelan Nona Kim” Ahya tersenyum sambil terus mengunyahnya dan Kyuhyun tergelak dan membuka bungkusan ramyun yang dibelinya tadi.

“Kau mau?” Kyuhyun menyodorkan segulung ramyun yang terlilit disumpitnya, gadis itu hanya menggeleng. Ahya hanya ingin kue beras. Gadis itu tidak tertarik dengan yang lain.

==oOo==

Donghae terjaga dari tidurnya, waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Matanya terbuka lebar. Sejenak, pria itu menatap kearah sampingnya. Biasanya dulu Ahya selalu ada disampingnya sembari menatapi wajahnya setiap bangun tidur. Atau biasanya gadis itu sudah berteriak disampingnya agar dirinya segera terbangun, tapi sekarang berbeda. Tak ada lagi yang memperhatikan wajahnya pada pagi hari. Tak ada lagi yang berteriak padanya agar cepat terbangun. Donghae mendengus, dan ia teriangat sesuatu.Tangannya meraba-raba sebelah bantal tidurnya mencari-cari ponselnya. Masih sama, setiap pagi Donghae pasti selalu mengecek handphone-nya dan berharap Ahya membalas pesannya atau berbalik menghubunginya. Tapi, hasilnya pun masih sama. Nihil.

Donghae mengacak-acak rambutnya, 4 hari tanpa Ahya disampingnya pria itu terlihat seperti mayat hidup. Tak pernah tersenyum, bahkan berbicara pun jarang. Donghae lebih sering termenung, memikirkan istrinya yang entah sedang apa. Dengan keberanian yang sudah terkumpul, Donghae mencoba menghubungi nomor ponsel Ahya. Seperti biasa. Tapi, lagi-lagi hanya panggilan tunggu yang didapatnya.

Pria itu tak kehabisan akal. Hari ini, ia harus berbicara dengan Ahya. 7 Januari 2013, hari ini istrinya itu genap berumur 24 tahun. Donghae tak pernah melupakan hari ini, dulu setiap tanggal 7 Januari Donghae selalu datang tengah malam kerumah Ahya hanya untuk memberinya kejutan. Tapi, kali ini berbeda.

“Yeobseo. Ahya ah. Apa kabar? Kau baik-baik saja kan? Baiklah, aku tak ingin menggangumu. Aku hanya ingin mengucapkan. Selamat Ulang tahun yang ke-24. Semoga kau selalu diberi kesehatan, dan panjang umur. Ahya ah, aku merindukanmu. Kembalilah kerumah, maafkan aku”

Pip! Donghae mengirim Voice Note itu dengan segera. Hari ini, akhirnya Donghae berani untuk mengirimkan suaranya untuk gadis itu. Setelah berhari-hari lalu, pria itu hanya dapat merekam suaranya dan selalu saja membatalkan pesan itu saat ingin terkirim. Tapi hari ini, pria itu tak dapat menahannya.

Ponselnya bergetar, Donghae sedikit terlonjak. Tapi, pria itu kembali murung. Dipikirnya itu pesan dari Ahya, tapi salah Kyuhyun lah yang mengirimkannya pesan.

Dia baik-baik saja, semalam kami makan dengan baik. Tapi, gadis itu masih terlihat murung.

Kyuhyun mengirimkan laporannya pagi ini. Donghae memejamkan matanya, sedikit rasa lega menghampirinya saat Kyuhyun selalu memberi kabar tentang gadis itu. Karna, berita dari Kyuhyun itu seakan menjadi motifasi dirinya untuk kembali kedalam dunia-nya. Yaitu bekerja, dengan tenang. Masih seperti biasa, Donghae segera bangkit dari tidurnya sesaat setelah Kyuhyun mengiriminya kabar. Bisa dibilang kini ‘nafas’ Donghae bergantung dari berita yang Kyuhyun kirim padanya.

==oOo==

Ahya terjaga dari tidurnya sejak pukul 2 pagi tadi. Gadis itu tidak bisa tertidur, matanya kembali berair saat bayang-bayang Donghae hadir dibenaknya. Hari ini, tepat setahun yang lalu Ahya masih merasakan kebahagiaan surprise hari ulang tahunnya yang Donghae berikan. Tapi, semua itu hanya angan-angan untuknya. Sedari malam, Ahya menatapi layar ponselnya berharap Donghae menghubunginya. Sekali lagi, gadis itu melirik ponselnya. Dan benar saja benda itu bergetar panjang. Tangannya bergetar menatap layar ponselnya. Donghae seperti biasa menghubunginya dijam yang sama. Dan masih tetap sama, Ahya hanya dapat menatap nanar ponselnya. Ingin sekali gadis itu mengangkat panggilan itu, gadis itu sangat merindukan suara khas Lee Donghae yang selama 4 hari terakhir tak didengarnya.

Tapi, sisi egoisnya mengatakan tidak. Dan sisi egoisnya itu dapat dengan cepat menguasai tubuhnya, saat otaknya mengingat jika Hyejin tengah mengandung anak Donghae. Detik selanjutnya, ponselnya berhenti bergetar.

Gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kosong, ini hari ulang tahunnya tapi tak ada yang spesial dihari ini. Pikirnya. Bahkan kedua orang tuanya pun belum memberinya selamat. Mungkin karna perbedaan jam, orang tuanya itu jadi belum menghubunginya. Ahya memaklumi semua itu.

Tak berselang lama, ponsel gadis itu kembali bergetar. Bukan sebuah panggilan, melainkan sebuah Voice Note yang Donghae kirimkan padanya. Perlahan Ahya mulai memutar pesan itu.

“Yeobseo. Ahya ah. Apa kabar? Kau baik-baik saja kan? Baiklah, aku tak ingin menggangumu. Aku hanya ingin mengucapkan. Selamat Ulang tahun yang ke-24. Semoga kau selalu diberi kesehatan, dan panjang umur. Ahya ah, aku merindukanmu. Kembalilah kerumah, maafkan aku”

Airmatanya jatuh tak tertahan. Dadanya kembali merasa sesak.

“Aku juga merindukanmu”

==oOo==

Pundaknya masih gemetar menahan tangis, sesekali gadis itu menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Jantungnya kembali bertalu-talu saat mobilnya berhenti didepan rumah orang tua Donghae. Tadi, Appa nya Donghae meminta Ahya datang kerumahnya malam ini. Tentu untuk membicarakan semua masalah ini. Gadis itu akan mengakhirinya sekarang.

Airmatanya tak mau berhenti mengalir meski gadis itu sudah menyekanya berkali-kali. Jantungnya seakan berhenti saat melihat mobil Donghae sudah terparkir rapih dan satu lagi mobil yang tidak dikenalnya. Perlahan Ahya berjalan masuk kedalam rumah mewah itu tapi sebelumnya gadis itu memastikan jika airmatanya tidak kembali jatuh.

“Maaf, aku terlambat” Ahya membungkukkan tubuhnya sejenak dan tersenyum pada Appa dan juga Eomma Donghae yang sedari tadi menunggunya. Donghae tertegun melihat gadisnya, gadis yang sangat dirindukannya walau baru tak bertemu selama 4 hari. Ahya mendudukkan tubuhnya disebelah Donghae, karna hanya itulah tempat duduk yang tersisa. Matanya sedari tadi hanya menatap kosong kedepan tanpa mau menengok menatap Donghae dan juga Hyejin yang sedang menatapnya.

“Ahya” Donghae memanggil namanya dengan lembut, perlahan tangan pria itu bergeser mengenggam tangan Ahya. Baru saja tangan mereka bersatu, tapi Ahya segera menarik tangannya seakan kulitnya akan rusak jika disentuh sedikit saja oleh Donghae.

“Sangiel cukkaheyo” Ahya terdiam, menatap wajah Donghae yang sudah amat dirindukannya. Ingin sekali dirinya menghambur kedalam pelukan pria itu. Tapi, gadis itu tak bisa. Dia tak bisa menyakiti hatinya lebih jauh lagi.

“Eomma, Appa katakan sekarang. Maaf, aku tak bisa terlalu lama disini” Ahya membuka suaranya saat Donghae baru saja ingin mengeluarkan suaranya lagi. Donghae menatap Ahya yang sungguh berbeda, gadis itu berubah menjadi sedingin es.

“Baiklah. Pertama, aku ingin bertanya padamu Nona Park. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari semua ini?” kini semua orang yang ada disana menatap kearah Hyejin, kecuali Ahya. Ahya merasa sudah sangat tidak ingin melihat wajah itu seumur hidupnya. Rasa gugup menghampiri Hyejin, hingga gadis itu harus menghela nafas beratnya.

“Aku—aku—“

“Dia hamil Appa” tetesan airmata itu jatuh lagi dipipi Ahya. Gadis itu sudah tak dapat lagi mengontrol emosinya. Orang-orang disana terbelalak mendengarnya. Termasuk Donghae sendiri.Tak ada yang tau mengenai perihal itu, kecuali Ahya karna memang sampai saat ini Hyejin masih menutupnya rapat. Pria itu mengalihkan pandangannya pada Hyejin yang sedang terdiam mematung. Kilat-kilat amarah begitu kentara dimata kedua orang tua Donghae. Begitupula dengan Donghae.

“APA?!” Donghae berteriak histeris hingga dirinya bangkit dari duduknya. Tangannya mengepal menahan emosi. Setelah menikah pria itu merasa tak pernah menduri gadis lain selain Ahya, istrinya. Donghae memang dulu pernah ‘bermain’ dengan gadis itu. Tapi dulu, saat dirinya belum terikat dengan Ahya dan itu terjadi hanya satu kali. Dan pria itu sangat ingat jika saat itu dia memakai pengaman, jadi tak mungkin hamil. Dan jika hamil sekalipun, harusnya itu sudah terjadi dari dulu. Bukan sekarang, rasanya tak masuk akal.

“Gadis ini bohong!” lanjut Donghae.

“Apa benar itu, Hyejin ssi?” Eomma Donghae menanyakannya dengan penuh tekanan, sarat kekecewaan yang mendalam. Hyejin tak berkutik, airmatanya jatuh saat itu juga seiringan dengan anggukan kepalanya. Ya Tuhan, semua orang disana menahan amarahnya.

“Mi—mianhae”

“Hyejin! Aku tak pernah, akh baiklah. Jujur, aku pernah melakukannya sekali dengan Hyejin. Tapi, itu terjadi sudah lebih dari 4 bulan yang lalu. Eomma, Appa. Apa masuk akal jika gadis ini hamil sekarang? Dan itu, anakku?” jantung Hyejin berdetak tak karuan, gadis itu gelisah. Semua orang kini tampak berfikir, tapi Hyejin tak kehabisan akal untuk membela diri.

“Aku tidak berbohong! Ini—ini benar anakmu”

“ITU BUKAN ANAKKU!”

“Tapi, Oppa—“

“Apapun alasannya, aku tidak percaya padamu! Kau gadis licik!”

“Kau! Benar-benar buat malu keluarga!” Tuan Lee mengepalkan tangannya, pria tua itu masih shock dengan apa yang barusaja didengarnya. Selama ini, pria tua itu tidak menyangka jika anaknya sebejat itu.

PRANGG.

Ayah Donghae melempar vas bunga yang ada dihadapannya. Pria tua itu marah dengan amat sangat, hingga emosinya meledak begitu saja. Kini semua orang terdiam.

“Donghae ssi, aku sudah memutuskannya. Tolong—“ Ahya menghapus airmatanya sejenak sambil mengeluarkan sebuah map coklat dari tasnya dan mengeluarkan isinya.

“Tolong tanda tangani ini” lanjutnya, perih begitu menguasai hatinya. Bahkan nafasnya terdengar putus-putus saat menyodorkan selembar surat ‘cerai’ mereka. Donghae dan kedua orang tuanya terbelalak kaget. Kedua orang tua Donghae menatap menantunya tak percaya. Sedangkan Ahya masih terdiam menahan tangisannya.

“Tapi—tapi—“

“Maaf, aku tak dapat meneruskan semua ini. Sekali lagi maaf” Donghae menggeleng. Hyejin tak bergerak, wajahnya pucat. Gadis itu sudah berjalan sejauh ini. Perbuatannya sungguh membuat banyak orang terluka. Tak ada jalan untuknya kembali mundur dari semua ini. Kekacauan yang dibuatnya bertambah parah.

“Aku tidak bisa! Sampai kapanpun aku tidak bisa menandatangani surat biadab itu” Donghae membantah, kedua orang tuanya hanya dapat mendesah resah dan berdoa jika Ahya dapat mengubah jalan pikirannya. Tapi sayangnya, gadis itu sudah terlalu mantap dengan pilihannya.

“Kumohon Donghae ah. Jika kau ingin aku bahagia. Tolong—tolong tanda tangani ini” Ahya kembali terisak. Dadanya sungguh sesak. Gadis itu terlalu mencintai pria dihadapannya. Tapi, hatinya terlalu sakit untuk bertahan bersamanya.

“TIDAK! Aku tidak mau” Donghae menarik gadis itu kedalam pelukannya. Perlahan airmata Donghae pun ikut turun, Hyejin semakin dibuatnya tercengang. Hyejin sudah terlalu jauh melukai perasaan Donghae. Ahya menarik tubuhnya, menggeleng keras.

“Aku, tak mungkin bisa hidup denganmu. Aku bukan gadis gila yang akan menghalangi cinta kalian. Aku tak ingin merusak hubungan kalian seperti dulu. Tolong, lepaskan aku” Ayah Donghae pergi dari tempat itu, pria tua itu tak kuasa melihat drama dihadapannya. Bagaimana pun, pria tua itu dapat merasakan apa yang anaknya rasakan. Sedangkan Nyonya Lee masih bertahan ditempat itu dengan airmata yang mengambang dipelupuk matanya. Sesekali wanita paruh baya itu melirik tajam kearah Hyejin. Gadis yang sudah merusak kebahagian menantu dan anaknya.

Donghae masih bersikukuh tidak ingin menandatangani surat itu. Ahya merasakan tubuhnya lemas dan merosot begitu saja dihadapannya. Gadis itu berlutut dihadapan Donghae.

“Kumohon Donghae ah. Ini semua salahku, harusnya dulu aku tak pernah menerima perjodohan ini. Pasti semua ini tak akan terjadi” Donghae terdiam airmata masih mengalir disudut matanya, dengan cepat Donghae ikut merunduk menyamakan tubuhnya dengan Ahya. Menyeka airmatanya.

“Maaf—“

“Donghae ah. Aku tak mungkin membiarkan anak itu lahir tanpa ayah” Ahya merasakan jantungnya seperti ditusuk-tusuk timah panas. Dan aku merelakan anak kita lahir tanpamu. Lanjutnya dalam hati.

“Baiklah. Aku akan menurutimu, walau itu bukan anakku. Tapi, kau harus kembali padaku suatu hari nanti. Disaat semua ini terbukti, jika itu bukan anakku” Ahya mengangkat wajahnya menatap lekat wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi ‘mantan suaminya’

“Baiklah, aku akan kembali padamu” Donghae mengangguk mantap. Dengan gemetar, Donghae mengambil kertas itu dan menandatangani surat itu tepat diatas materai.

“Donghae ah!!” ibunya menjerit. Maaf ibu, maaf. Donghae hanya bisa bergumam saat itu. Kembali, ibunya menatap tajam Hyejin yang sedang berdiri membeku diposisinya menyaksikan buah dari perbuatannya.

“Terima kasih” Ahya bangkit dari duduknya. Menghapus airmatanya dan kembali memasukkan kertas itu kedalam tasnya. Sedangkan Donghae masih terduduk lemas sambil menatap tangan kanannya yang dengan bodohnya menandatangani surat biadab itu.

Ahya berjalan gontai dan membungkukkan badannya saat melewati tubuh ibu Donghae yang terlihat sekali sedang menahan amarahnya.

“Maaf Eomma”desis Ahya dan kembali berjalan. Ini, kado terburuk seumur hidupnya. Kado yang tak pernah terpikir olehnya. Gadis itu benar-benar pergi dengan sejuta kenangannya.

“Kau lihat itu?! Kau lihat!! Betapa kejamnya dirimu, menghancurkan kebahagiaan anakku!” Nyonya Lee memaki Hyejin yang masih mematung ditempatnya, menatap Donghae yang masih terkulai lemas dengan airmata yang mengalir namun tanpa suara isakan sedikirpun yang keluar dari bibir tipisnya.

Hyejin hanya dapat menunduk. Gadis itu berhasil. Rencana busuknya berhasil membuat Donghae dan juga Ahya bubar. Tapi, bukan bahagia yang ia kira, tapi justru rasa menyesal yang amat sangat.

‘Hyejin ah! Kau tak boleh menyesal! Ini sudah terlanjur, dan kau tinggal menikmatinya! Semangat’ gumamnya menyemangati dirinya sendiri.

TBC..

 

Add/Follow Author Yuks..

FB : Nur Cahya Ilahi / Cahya IL

Twitter : @Me_Cahyaa

Gomawo^^

25 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 14)

  1. ya ALLAH thor sumpah part ni nyesek abissss..bikiinn nangisss huuuhuhuuuu
    Hikkss..hikksss ..ckup ya thor ..sdih2nya d part ni aja yee ,,ksian ah ya eonni hikkss hikss

    Ehh tpi ko’ mkin ksini partnya mkin pndek yee aiisshhh thoor gmna sikk😥

  2. Aaaaaaish aq bnci hyejin bner2 wnita rubah,pngen aq cabik2 za dan donghae s’gtu mudah’y mau tndatngan… Shrus’y d’testpack dlu hyejin biar k’bukti kalo dy bhong… Jngan lma2 ea thor ngepost’y penasaran ma next part’y😉

  3. Sumpah aq jd nangis rasa’a nyesek bgt Ahya sampai segtu’a minta Cerai ke Donghae T.T
    Yakh!! Hyejin dasar nenek lampir!!
    #jambak
    Feel’a berasa bgt,jd emosi.. bener2 KEREN!! DAEBAK!!😀

  4. ToT mewek aku bacanya thor! ini FFnya sedih banget😥 yaudah lanjut yaa thor seru!tapi bener2 menyayat hati para pembaca (?) tetep semangat bikin ceritanya dan jangan ampe kehabisan ide buat kelanjutannya

  5. semangat apaan hyejin ??buang ke laut juga iya, kasihan ahya udah rela berkorban rasanya pasti nyess, #apaandah

  6. Yaakk, dasar biadab tu orang, ane yakin kalau hyejin hamil itu bukan anak donghae, mungkin dia hanya mengarang saja,,

  7. aish, wae ? kenapa mereka mesti cerai, yaampun
    hye jin bener” keterlaluan banget . dasar PHO -,-
    nyesek bacanya , kasian ahya
    huhuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s