STUPID IN LOVE (Chapter 10)

donghae-92

 

STUPID IN LOVE

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 16+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Xiu Luhan.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! Chapternya semakin panjang nih. Author Cuma berharap kalo readers ga bosen ya bacanya😀 hehe. Oke, Let’s read!

*CHAP TEN*

[AUTHOR SIDE]

“Apa?!”

“Kenapa kau lakukan itu?” langkahnya terus berlanjut, membuat istrinya semakin terpojok dan berhenti saat tubuhnya membentur tembok. Langkahnya habis. Donghae mengangkat satu tangannya. Mengunci gerakan istrinya itu.

“La—lakukan apa? Aku—aku tidak berbohong. Dia hanya temanku. Sungguh” manik mata mereka beradu. Kilat-kilat amarah begitu kentara dimata Donghae. Nafasnya tak teratur menahan emosinya. Andai saja kondisi tubuhnya sedang fit, mungkin tadi Donghae akan menghampiri pria itu dan langsung memukulnya.

“Aku tak berbohong. Percayalah padaku” mata gadis itu berair. Sekali kedip saja mungkin air matanya akan jatuh. Bukan. Bukan karna gadis itu takut Donghae tak percaya padanya. Gadis itu hanya takut kehilangan pria itu. Benar saja, airmata itu jatuh dengan mulusnya melewati wajahnya. Lagi-lagi membuat Donghae tak kuasa untuk memeluknya. Dengan erat dan menahan tangisannya Ahya meremas ujung suiter pria itu.

“Percayalah padaku. Aku tak mungkin bisa mengkhianatimu”

“Kenapa?” Donghae mempererat pelukan gadis itu. Mencurahkan segala rasa yang ia rasakan saat ini. Sakit, kecewa, bahagia menjadi satu.

“Karna—karna aku mencintaimu” Donghae melepaskan pelukannya. Menatap gadisnya dalam, sebelum akhirnya meraup wajah gadis itu. Dan menciumnya penuh perasaan. Isakkan gadis itu semakin terasa menyakitkan saat lagi-lagi kata-kata nenek tempo hari mengitari kepalanya. Aku sungguh mencintainya, aku tak mau berpisah dengannya.

Saat ciuman itu terlepas. Mata mereka lagi, menatap satu sama lain. Jemari Donghae terulur menghapus jejak-jejak airmata yang tersisa dipipi istrinya. Apa kau juga mencintaiku? Tanya gadis itu dalam hatinya saat Donghae hanya diam tak berkata. Gadis itu ingin sekali mengeluarkan kata-kata itu dari bibirnya. Hanya saja lidahnya begitu kaku untuk mengatakannya.

“Baiklah, aku percaya padamu” Donghae tersenyum lalu mengacak-acak rambut Ahya gemas. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum dengan ringisan dihatinya. Jadi, kau hanya membutuhkanku? Tidak mencintaiku?. Kekecewaannya bertambah saat Donghae meraih bungkusan putih yang sejak tadi digenggamnya. Gadis itu berpikir setelah ia mengatakan cintanya, Donghae juga akan mengatakan hal yang sama. Nyatanya, berbeda. Pria itu tak mengatakan apapun.

“Mana yang harus aku minum?” gadis itu tersetak dari dunianya. Mencoba bersikap seperti biasa, meski hatinya tak bisa. Dengan senyuman, gadis itu mengeluarkan obat-obat yang tadi dibelinya.

“Ige. Apa buburnya sudah habis?” Ahya berjalan menuju sofa sambil menggandeng tangan Donghae agar mengikutinya. Pria itu mengangguk bangga.

“Dua yang ini, dan satu yang ini” ucapnya lagi sambil menyodorkan dua kotak obat berwarna putih dan juga hijau. Donghae hanya menurut dan meminumnya.

==oOo==

Pagi yang cerah. Cuaca yang bagus untuk memulai aktifitas dipenghujung tahun 2012. Hari ini, tepatnya 31 Desember 2012 salju tak turun lagi. Hanya menyisakan angin yang menusuk tulang dengan segala ampasnya yang masih mengumpul tak mau menguap dari bumi.

Pagi itu, dengan semangat yang tak berkurang gadis itu memasak dengan sebagaimana mestinya. Menyediakan makanan terbaik dipagi hari hanya untuk suaminya. Suaminya yang paling dicintainya, tapi sayangnya hingga saat ini Ahya tak mengetahui perasaan Donghae sebenarnya. Apa pria itu benar hanya membutuhkanku? Dia, sama sekali tak mencintaiku. Pandangannya buram seiringan dengan air-air bening yang mulai menumpuk dipelupuk matanya.

“Kau masak apa hari ini?” gadis itu tersentak dari lamunannya. Dengan segera satu tangannya menghapus kumpulan airmata yang belum sempat terjatuh itu. Kepalanya menengok kesumber suara, mendapati Donghae dengan rambut basah khas mandi pagi tengah menuangkan susu segar kedalam gelasnya disudut meja.

Pria itu mendongak saat tak mendengar reaksi apapun. Hanya tatapan kosong yang ia dapat dari istrinya itu. “Kau kenapa melamun begitu? Masakanmu bisa hangus nanti” lagi, gadis itu melamun. Dengan gusar ia menggelengkan kepalanya mendapati firasat-firasat buruk tengah menghampiri pikirannya. Dengan kaku, gadis itu mencoba tersenyum pada suaminya.

“A—um, ani. Hanya sedikit mengantuk” jawaban terkonyol itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tak mau Donghae melihat ekspressi bodohnya, gadis itu kembali memfokuskan wajah dan tatapannya pada nasi goreng yang tengah dimasaknya.

“Ouh” Donghae hanya menggumam lalu mendudukkan tubuhnya dengan rapi dikursi makan. Memperhatikan punggung istrinya yang tengah sibuk menuangkan nasi kedalam wadah keramik. Senyuman tiba-tiba terukir indah diwajahnya tatkala ia sedang teringat masa-masa saat mereka memutuskan untuk saling merubah rumah tangga ini.

“Yeobo. Bagaimana jika nanti sore kita ikut pesta New Year disungai Han?” ujarnya saat istrinya itu sudah duduk ditempat persis dihadapannya sambil menyendokkan nasi goreng kedalam piringnya. Gadis itu tak merespon, masih terus terfokus pada pekerjaannya sebelum memastikan untuk membuka mulutnya.

“Gurae. Tapi, apa kau sudah cukup sehat untuk menikmati festival malam tahun baru itu?” Ahya menyendokkan nasi kedalam mulutnya sambil menatap Donghae yang juga sedang sibuk mengunyah. Pria itu mengangguk sesaat.

“Tentu, aku kan sakit sudah dari dua hari yang lalu. Jadi, aku rasa tubuhku sudah sangat sehat” cengirannya tercetak jelas. Yang mau tak mau, seakan mengajak Ahya untuk tersenyum juga.

“Tapi” Donghae mendongak saat mendengar Ahya hendak berkicau lagi. Kata-katanya sengaja digantung oleh gadis itu.

“Setelah kita membereskan rumah dan membersihkan akuariummu. Baru kita berangkat. Bagaimana?” Donghae tampak berpikir sejenak. Akuarium? Kenapa tiba-tiba pria itu melupakan benda keramat miliknya itu.

“Omo. Aku lupa. Hehe baiklah, asal kau mau membantuku” pria itu tersenyum manis. Senyuman yang dapat melelehkan hati setiap gadis yang melihatnya begitu pula dengan Ahya. Tiba-tiba gadis itu, termenung lagi. Cinta sepihak itu menyakitkan! Gumamnya dalam hati. Ingin sekali ia menangis saat ini, tapi ia tak mungkin menunjukkannya dihadapan Donghae. Bisa-bisa pria itu mencercanya dengan ribuan pertanyaan.

“Aku selesai” sendok dan sumpit milik gadis itu sudah tergeletak disamping piring makannya. Entah kenapa, tiba-tiba selera makannya menguap begitu saja. Sekarang yang ingin dilakukannya hanyalah memandangi pria yang benar-benar dirasa sudah mencuri hati dan nyawanya seluruhnya.

“Mwo? Kau baru makan sedikit” Donghae menatap istrinya dengan curiga, terlebih saat Ahya hanya tersenyum padanya. Kenapa gadis itu?

“Aku sudah kenyang. Segelas teh hangat sudah mengisi perutku terlebih dulu”

“Aihh, jika hanya segelas teh bagaimana bisa kau memiliki tenaga untuk membersihkan rumah, huh?” pria itu mendecak sebal. Menatap istrinya yang tiba-tiba menatapnya sebal juga.

“Aku bisa”

“Ani! Kau harus makan. Kau bisa sakit jika begitu!” Donghae menatapnya, dan Ahya hanya bisa menggeleng tak mau. Donghae semakin melebarkan matanya. Gadis ini!

“Kalau begitu, lebih baik aku telpon bibi Hong untuk membersihkan rumah ini” Donghae hendak bangkit dari duduknya, tapi secepat kilat gadis itu menahannya. Pria itu tersenyum sesaat, senjatanya ampuh! Ya, gadis itu tak ingin sekali jika rumahnya menggunakan jasa pembantu. Gadis itu ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Mengerjakan seluruh keperluan keluarganya sendiri. Lagipula, rumahnya tak terlalu besar jadi tak perlu membuatnya mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengurusnya.

“Kenapa?” tanya pria itu saat Ahya tak membuka mulutnya sedari tadi. Ahya hanya menggenggam lagi sumpitnya. Ujung tenggorokkannya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi sangat sulit.

“Ah, aku tau!” Donghae tersenyum lebar. Pria itu menggeser posisi duduknya, menjadi tepat disamping istrinya. Pria itu juga menggeser piring miliknya, ia menyendokkan sesendok nasi lalu menyodorkannya pada Ahya. Gadis itu bergeming, perasaannya tak karuan. Dia bisa membaca pikiranku? Desahnya dalam hati.

“Ayolah, aku tau kau ini ingin aku suapi” Donghae tersenyum manis. Dan perlahan Ahya membuka mulutnya, menerima suapan pertama Donghae semenjak menjadi suaminya. Dulu, mereka sering sekali melakukan hal ini tanpa canggung sedikitpun. Tapi masalahnya kini sudah berbeda.

“Lalu, kapan kau makan?” protes Ahya saat Donghae sedari tadi hanya menyuapinya.

“Ah, aku lupa. Ige. Ayo” Donghae menyodorkan sendok yang tadi ada dipiring Ahya, menyuruh gadis itu menyuapinya. “Ayo cepat!” Donghae membuka mulutnya tidak sabar. Gadis itu hanya tersenyum sambil menyuapi suaminya dan terkikik sesekali. Dulu kami sering melakukan hal ini. Seru mereka bersamaan dalam hatinya, hanya dalam hati.

==oOo==

“Biar aku saja. Kau terlihat sangat pucat, kau sudah terlalu lelah” Donghae merebut tangkai pellan (?) *Gatau namanya. #AuthorKUDET-_-. Dari tangan Ahya, gadis itu menggeram menolak. Butiran peluh sudah menghiasi wajah dan tubuhnya sejak tadi, entah kenapa sekarang tubuhnya mudah sekali berkeringat dan lelah.

“Ania, apa pekerjaanmu sudah selesai?” gadis itu kembali merebut alat tadi dari tangan Donghae. Pria itu mengangguk semangat. Lalu kembali merebutnya dari tangan Ahya.

“Aku sudah selesai, dan aku juga sudah mencuci piring. Dan sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaanmu” Ahya terdiam, dia sungguh terkejut. Donghae menggerakkan alat pel itu dan mulai membersihkan dua ruangan lagi, yaitu dapur dan ruang tengah yang kini sedang dikerjakan oleh Ahya.

“Kau mencuci piring? Kenapa cepat sekali?” gadis itu terdiam, berfikir sesuatu. Apa dia begitu lambat hari ini? yah, memang tadi gadis itu sempat menghentikan pekerjaannya beberapa kali. Karna pusing yang tiba-tiba saja bertamu dikepalanya. Gadis itu sakit.

Donghae mendongak, menatap istrinya. “Yah, kau yang terlihat sangat lamban hari ini. Apa kau sakit?” Ahya terdiam, kenapa tiba-tiba pria itu begitu perhatian padanya? Oh, gadis itu melupakan sesuatu. Bukankah Donghae mengatakan ingin merubah rumah tangganya?

“Jangan bilang tidak! Wajahmu pucat sekali” serobot Donghae cepat, saat gadis itu hendak menggeleng tidak. Sesaat Donghae melepaskan alat pembersih lantai itu. Lalu selanjutnya, tangan besar pria itu mengeser tubuh gadis itu. Membimbingnya untuk duduk tenang disofa.

“Tunggulah disini. Aku akan menyelesaikan ini dulu”

“Aku tidak apa-apa”

“Jangan membantah!” Ahya menghela nafasnya pelan. Gadis itu tak bisa menolak lagi, matanya terus menatapi Donghae yang tengah sibuk membersihkan lantai. Tiba-tiba rasa pusing dan kantuk menyerangnya diwaktu yang bersamaan. Direbahkan tubuhnya kesofa panjang itu. Tangannya berjalan memijat keningnya, yang seharian ini berdenyut tak jelas. Sampai-sampai kesadarannya hilang, gadis itu pergi menuju alam mimpinya karna kelelahan.

Setelah menyelesaikan semuanya, Donghae kembali menghampiri istrinya. Kedua sudut bibirnya terangkat saat matanya menatap istrinya yang sedang tertidur lelap diatas sofa. Peluh masih sedikit membanjiri keningnya, padahal cuaca sungguh dingin.

“Apa mesin pemanas ini terlalu panas?” gumamnya sendiri. Donghae mengusap kening gadis itu dengan punggung tangannya. Dan perlahan menggendong tubuh mungil istrinya menuju tempat tidur mereka.

==oOo==

Tubuhnya menggeliat kecil, matanya mengerjab berkali-kali berusaha menyesuaikan sinar lampu yang seakan mengetuk-ngetuk retina matanya. Gadis itu tersadar dari tidurnya, senyumannya mengembang saat mendapati pundaknya sedikit memberat karna kepala suaminya yang sedang tersandar dipundaknya. Begitu juga dengan tangan Donghae diperutnya. Pria itu memeluk istrinya dengan erat. Gadis itu tampak termenung, mengingat sesuatu. Kepalanya menoleh menatap jam dinding.

“Omo! Sudah malam!” serunya panik. Jam menunjukkan pukul 7 malam, itu tandanya acara festival malam tahun baru baru saja dimulai. Tangannya menepuk-nepuk pipi suaminya, memaksa pria itu untuk bangun dari tidurnya.

“Donghae ah. Sudah malam, kita terlambat” Donghae menggeliat kecil, mempererat pelukannya. Membuat gadis itu tersentak dan masuk kedalam dekapan Donghae. Kepalanya tenggelam diantara dada dan leher pria itu. Ahya terdiam, sepertinya mulai detik ini gadis itu terhipnotis oleh wangi ferofon suaminya. Maskulin.

“Ya. Ireonaaa” Ahya merengek kecil saat menyadari detak jantungnya berdegub tak normal. Gadis itu tak ingin Donghae mendengarnya. Akhirnya, pria itu membuka matanya meski dengan malas. Tapi, mau tak mau ia harus bangun. Bukankah, dia yang menyarankan datang ke festival itu?

“Jam berapa?” tanya pria itu, sambil mengusap wajahnya.

“Tujuh malam”

“Apa?!” pria itu terlonjak kaget. Bagaimana bisa ia tertidur selama itu? Pikirnya, Ya mereka tertidur sejak pukul 1 siang hingga pukul 7 malam. Mungkin karna terlalu lelah ditambah cuaca sejuk yang mendukung jadi mereka tak menyadari jika mereka sudah tidur dari batas yang normal.

“Cepatlah mandi. Aku juga ingin mandi” Ahya beringsut turun dari ranjang, tapi gerakannya terhenti saat Donghae memulai aksinya. Mengatakan hal yang tidak-tidak.

“Jadi, kau mau kita mandi bersama? Begitu?” ingin rasanya gadis itu memukul kepala pria ini berkali-kali, agar pikirannya itu terbebas dari hal-hal kotor seperti itu. Gadis itu hanya bisa mendengus.

“Siapa bilang? Maksudku, aku mandi dikamar mandi sana. Dan kau, mandi dikamar mandi yang bawah. Jadi kita tak terlalu lama—“

“Aish, aku pikir kau—“

“Buang pikiran kotormu itu jauh-jauh!” Ahya melanjutkan langkahnya, membuka pintu kamar mandi lalu menutupnya dengan cukup kencang.

“Aigoo!” Donghae mengusap wajahnya frustrasi, lalu segera bangkit dari duduknya. Berjalan mengikuti instruksi istrinya.

Kira-kira 45 menit kemudian, mereka berdua sudah siap untuk pergi. Ahya terlihat cantik dan sederhana dengan setelan jeans hitam dan shirt pink muda dibalut dengan mantel berwarna coklat pekat dan tak lupa scraft berwarna pink melilit menutupi leher indahnya. Begitu pula dengan pria tampan manis itu. Ia terlihat lebih maskulin dengan jeans abu-abu plus shirt hitam ditambah mantel cokelat muda miliknya. Donghae berusaha mencocokkan pakaiannya dengan gadis itu. Tapi scraft miliknya tak mungkin berwarna pink, tapi merah pekat.

“Kajja” ujar Donghae dengan semangat, menggandeng tangan istrinya. Tapi, Ahya menghentikan langkahnya saat mereka sudah sampai didepan pintu. “Apa lagi?” tanya pria itu heran.

“Aku ingin kita naik bus. Mau kan?” gadis itu menyatukan kedua telapak tangannya. Memasang senyuman memohonnya. Pria itu hanya dapat menghela nafasnya. Lagi-lagi pria itu terpedaya oleh istrinya. Dengan lemas Donghae mengangguk dan melemparkan kunci mobilnya ke meja dekat sofa. Gadisnya hanya tersenyum puas.

“Kajja!” teriaknya semangat, Ahya menarik tangan Donghae dengan semangat.

“Kenapa kau begitu semangat saat menaiki bus, huh?” tanya Donghae heran saat sedari tadi gadis itu bergerak senang saat perjalanan dari rumahnya menuju halte bus terdekat. Dan kini mereka tengah menunggu bus itu datang.

“Entah, aku juga tak begitu tau. Tapi yang jelas, duduk didalam bus sambil menikmati pemandangan diluar itu rasanya sangat nyaman. Dibandingkan menaiki kendaraan pribadi” lagi gadis itu tersenyum bahagia. Akhirnya kini dia bisa membawa Donghae lagi menaiki bus umum.

“Kau gadis aneh!” cibirnya. Ahya tak peduli, gadis itu hanya sedang terfokus memandang sebuah bus yang tengah melaju mendekati halte. “Ah, itu dia! Kajja!” saat bus berhenti mereka berdua segera naik, saat Donghae sibuk membayar dengan electronik card-nya. Istrinya itu malah sudah duduk rapih dikursi paling belakang.

“disini” Ahya tersenyum pada Donghae yang berada diujung bus. Donghae pun menghampirinya. Mendudukkan tubuhnya dengan tenang. Suasana bus tak terlalu ramai, hanya ada beberapa pasang remaja yang mungkin sedang berpacaran. Menikmati indahnya malam tahun baru.

“Bagaimana? Seru,kan? Disini kau bisa melihat pasangan lain, dibandingkan menaiki mobil sendiri. Hehe”

“Cih, untuk apa melihat kemesraan orang lain? Kau pikir, aku akan iri? Tidak!” guraunya. Hanya sebuah gurau-an tapi rasanya gadis itu menganggapnya serius. Donghae tak iri? Benarkah? Kenapa pria itu seperti itu? Ahya mengusir pikiran buruknya, dan kembali menerbitkan senyumannya saat melihat pemandangan diluar. Banyak kembang api yang mulai menghiasi langit Seoul malam ini.

“Terkahir kali aku naik bus bersamamu itu.. 4 tahun yang lalu, saat kita masih SMA” kicaunya lagi, pandangannya tak teralihkan dari kaca jendela sejak tadi. Donghae hanya bisa tersenyum mengingatnya, entah kenapa hatinya terasa damai saat menatap wajah Ahya yang sedang tersenyum seperti itu.

“Kau benar. Itu sudah sangat lama sekali”

“Ah, Donghae! Lihat itu!” Ahya menunjuk-nunjuk kaca jendela dengan jarinya. Memaksa Donghae untuk melihat apa yang ditunjuk gadis itu. “Apa? Tidak ada apa-apa” sahutnya.

“Yang itu—“ gadis itu terdiam, mengunci bibirnya. Saat gadis itu menoleh, ternyata wajah Donghae hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Mereka berpandangan lama, hingga—

“Donghae ah, ini tempat umum!” Ahya memalingkan wajahnya saat Donghae tiba-tiba memiringkan wajahnya. Sial! Umpatnya dalam hati. Pria itu mendesah kesal. “Jika dimobil sendiri, kau pasti bisa berbuat bebas sesuka hati tanpa ada yang melihat! Tidak seperti ini” dengusnya. Gadis itu hanya tertawa kecil saat mendengarnya. Terlebih mendapati tatapan frustrasi Donghae.

==oOo==

Saat mereka sampai, ternyata pengunjung sudah cukup banyak memadati kawasan sungai Han. Suasana begitu riuh, terlebih saat sebuah konser musik dimulai menampilkan artis-artis papan atas Korea. Davichi contohnya. Mereka berdua berdiri mematung diantara kerumunan orang yang tengah menyaksikan konser musik itu. Musik mulai mengalun indah, mengiringi suara indah personel Duo Davichi, Lee Haeri dan juga Kang Min Kyung. Saat dua dara cantik itu menyanyikan lagu yang berjudul Don’t Say Goodbye, entah perasaan janggal dari mana mulai menyusup kedalam relung hati Donghae. Pria itu termenung sesaat meresapi setiap lirik lagu tersebut.

Oneulbam geu malmaneun marayo

Wae nal beorigo ganayo

Nan meumi apa, gaseumi apa nunmul cha orayo

Aji geun annyeong urin andwaeyo

Neon geu ibeul deo yeoljima

Annyeongirago naege malhajima..

(Malam ini tolong tidak mengatakan kata itu

Mengapa kau tinggalkan ku?

Hatiku sakit, dadaku sakit dan airmataku terus mengalir

Kita tidak akan katakan selamat tinggal,

Jangan buka bibir itu lagi

Jangan katakan selamat tinggal padaku..)

“Annyeongirago naege malhajima..” desis Donghae, mengalun bersamaan dengan musik dan suara kedua wanita cantik itu. Ahya menoleh menatap Donghae, saat genggaman tangan pria itu semakin mengencang ditelapak tangannya. Tiba-tiba airmata menumpuk dikelopak gadis itu. Apa dia tak salah dengar? Donghae memintanya untuk ‘Jangan katakan selamat tinggal padaku’. Ah tidak! Dia hanya menyanyi! Jangan bermimpi gadis bodoh! Umpatnya dalam hati, sebelah tangannya digunakan untuk mengusap airmatanya secepat mungkin. Selagi Donghae masih menatap luruh kearah stage, menatapi dengan seksama penampilan Haeri dan Minkyung.

“Min Kyung sangat mempesona. Cantik sekali. Benarkan?” Donghae menatap istrinya. Sementara Ahya hanya mencibir tak terima. Bagaimana bisa, seorang suami memuji gadis lain dihadapan istrinya sendiri? Hanya suami cari mati yang seperti itu.

“Eitss, tapi lebih cantik istriku. Hehe, jauh lebih cantik dari siapapun!” lanjut Donghae saat mengetahui airmuka Ahya yang berubah cemberut. Tapi sedetik kemudian wajahnya terlihat memerah, menahan senyuman malunya.

“Jangan menggodaku!”

“Kenapa memangnya?”

“Ah, sudahlah. Ayo kita cari makan. Aku lapar” Ahya menggeret tangan Donghae, mencoba keluar dari kerumunan orang-orang itu. Tapi Donghae mencoba protes dan berjalan lambat.

“Tapi, Minkyung belum selesai menyanyi!”

“Ah, ayolah! Huh. Gurae, kau disini saja. Aku pergi sendiri” bibir gadis itu tampak maju beberapa milimeter. Berusaha mengeluarkan andalannya merajuk. Donghae hanya terdiam mengejeknya. Tak mendapat respon baik, gadis itu benar-benar pergi dengan wajah sebalnya. Tapi, Donghae justru kalang kabut melihat gadisnya marah seperti itu. Sepertinya, Donghae memang mencintainya, hanya saja ia tak bisa mengungkapkannya.

“Aish jinja! Tunggu aku! Ya! Tunggu” Donghae mempercepat langkahnya, mengikuti istrinya dari belakang dan terus berkomat-kamit meminta maaf.

TBC..

15 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 10)

  1. di cerita part 10 khusus buat ahya dan donghae…
    wah… author benar-benar bikin cerita ini so sweet…

    donghae ternyata menyadari juga perasaan terhadap ahya…

  2. Kyyyaa ceritanya keren banget thor!!>< makin sweet tapi ceritanya makin pendek hehe lanjut ya thor!!ayo dong semangat ^^9

  3. akhirnya saat” yang bahagia buat hae sama ahya ada juga , semoga aja kea gini terus keadaan nya
    ayo cepetan hae blg kalo lu suka sama dia -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s