STUPID IN LOVE (Chapter 9)

 

dongh0

STUPID IN LOVE

 

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 16+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Xiu Luhan.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini membuat anda mual. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

 

 

*CHAP NINE*

[AUTHOR SIDE]

“Donghae ssi, apa yang akan kau lakukan hari ini?” gadis itu berdiri tegak sambil menyenderkan lengannya dibalkon kamarnya. Mengikuti jejak sang suami yang juga melakukan hal yang sama sedari tadi sambil membebaskan pandangannya pada tumpukan salju yang ada disepanjang matanya memandang. Lalu, satu tangannya tak sengaja menyentuh lengan suaminya itu. Hangat, atau lebih tepat panas.

“Hae-ya! Kau sakit hum?” Ahya melonjak, memegang dahi Donghae. Dan benar, tubuhnya hangat. Pria itu sakit.

 

“Ania, mungkin hanya kurang tidur akibat kegiatan kita semalam” Pria itu tersenyum, membuat pipi gadis itu kembali memerah pagi ini.

“Oh ya. Tak ada yang ingin aku lakukan saat ini. Memangnya kau ingin melakukan sesuatu denganku?” senyuman menyeramkan mulai lagi terlihat diwajah Donghae saat itu juga. Pria itu berjalan mendekat dan mendekap tubuh istrinya. Yang disambut gerakan kaku darinya. Gadis itu masih terlalu kaget dan harus terbiasa dengan kebiasaan Donghae mulai saat ini. Mata pria itu tak henti-hentinya mengujami istrinya itu dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Tapi setidaknya, tatapan itu sudah cukup dimengerti oleh Ahya sejak semalam.

“Berhentilah menjadi pria mesum! Itu menjijikan!” Ahya menarik nafasnya sambil terus mendengus kesal saat Donghae mulai menempelkan wajahnya itu tepat dileher gadis itu. Seketika itu juga Donghae tergelak dan mengangkat wajahnya.

“Ada yang salah jika aku melakukan hal itu pada istriku sendiri? Heum?” Donghae semakin mengeratkan pelukannya dipinggang gadis itu. Memotong jarak yang tersisa diantara keduanya. Satu tangannya terulur merapihkan letak poni istrinya itu. Dengan gerakan yang lembut dan penuh kasih sayang, Donghae merapihkan anak-anak rambut Ahya.

“Hae-ya! Itu memang wajar, tapi setidaknya aku masih belum terbiasa dengan sifatmu yang seperti itu. Sungguh diluar dugaan. Lagipula kau itu sedang kurang sehat” sahutnya sambil memainkan kancing kemeja Donghae. Membuat Donghae semakin bertambah gemas dengannya. Lalu membawa tubuhnya kedalam dekapan hangatnya. Membiarkan Ahya mendengarkan dengan jelas degup jantungnya yang tengah berpacu cepat saat ini.

“Aku baik-baik saja Nyonya Lee. Dan baiklah, mulai saat ini kau harus terbiasa dengan semuanya”  Donghae terkekeh kecil, seakan dirinya merasa menang karna sudah membuat istrinya salah tingkah pagi ini. Masih dalam dekapan Donghae, Ahya teringat sesuatu.

“Hae-ya. Aku ingin ke mini market sebentar, bisa kau lepaskan aku?” Donghae melepaskan pelukannya, menatap bingung istrinya itu. Sedangkan Ahya hanya bisa mengerutkan keningnya mendapati ekspressi Donghae.

“Wae?” tanya nya lagi.

“Kenapa hanya itu yang kau minta? Apa kau tak ingin memintaku untuk mengantarmu huh?” Donghae mengatakannya dengan nada sungguh tak enak didengar. Dia merajuk. Omona~ sejak kapan pria ini berubah menjadi kekanakkan?

“Hahaha, aigoo kau merajuk? Donghae ah. Aku hanya sebentar, lagipula hanya untuk membeli beberapa kebutuhan perempuan. Jadi kau tak perlu mengantarku” Ahya menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman tertahan dibibirnya. Dan melangkahkan sedikit kakinya. Tapi, secepat kilat Donghae meraih pergelangan tangannya membuat lagi-lagi langkah gadis itu terhenti.

“Tapi, aku tak bisa membiarkanmu pergi sendirian”

“Aku tak pergi sendiri. Bukankah, didalam bus itu banyak orang heum? Misalnya ada supir bus dan juga penumpang yang lain. Jadi kau tak perlu khawatir” terdengar helaan nafas yang cukup kuat dari diri Donghae. Pria itu tak habis pikir kenapa istrinya suka sekali pergi seorang diri.

“Aku tetap akan mengantarmu” Donghae berjalan mendahului Ahya yang masih tediam. Gadis itu menggeleng. Dan berjalan menyamai langkahnya, meraih kembali lengan hangat pria itu.

“Kau sedang sakit Hae ah. Aku tak ingin kesehatanmu semakin memburuk. Cuaca memang cerah, tapi udara begitu dingin. Kumohon, mengerti kondisimu” Donghae bergeming. Menatap lurus mata istrinya yang terlihat begitu khawatir. Jika sudah seperti ini rasanya untuk berbicara lagi Donghae pun sulit. Lebih baik ia menurut. Toh istrinya benar. Kondisinya akan semakin parah jika dipaksakan pergi keluar rumah.

Donghae mengangguk lemas, meski tidak rela ditinggal sendirian tapi setidaknya Donghae tak akan kesepian dalam jangka waktu yang lama. Karna Ahya menjanjikan tidak kurang dari 1 jam gadis itu akan kembali ada dihadapannya. Setelah beberapa saat. Gadis itu kembali dari dapurnya, menyeduhkan bubur instan yang dimilikinya. Mungkin disaat yang dibilang cukup genting, makanan instanlah yang sangat membantu.

“Hae ya. Kau makanlah dulu” Ahya meletakkan mangkuk bubur itu dinakas yang tak jauh dari ranjang mereka. Gadis itu terdiam sejenak. Donghae tak kunjung bergerak dari dalam selimut yang membalut seluruh tubuhnya. Apa pria itu tidur? Atau justru sengaja mendiamkan gadis itu?

“Hae ya. Kau tidur?” Ahya menyingkirkan selimut itu sedikit hingga terbuka sampai pundaknya. Gadis itu mendecak saat mengetahui Donghae sedang tertidur lelap. “Pria ini! kenapa suka sekali tidur dengan perut kosong, huh?!” Ahya terdiam. Apa yang harus dilakukannya saat ini? gadis itu tak mungkin pergi sebelum memastikan Donghae memasukkan sesendok makanan kedalam mulutnya. Ini salah satu kebiasaan buruk yang dimiliki Donghae mungkin sudah sejak lahir. Pria itu sering kali mengabaikan jam makannnya. Membiarkan tertidur dengan perut kosong. Mungkin ini juga salah satu faktor Donghae terserang demam ringan hari ini.

“Hae ya! Ireonaa” gadis itu mengguncang-guncang tubuh Donghae perlahan. Mau tidak mau, gadis itu harus membangunkan Donghae. Bagaimanapun caranya, pria itu harus makan!

Sudah hampir dua menit Ahya menggunakan cara itu, tapi nyatanya Donghae tak kunjung membuka matanya. Pria itu hanya menggeliat kecil. Sial! Ahya tak punya banyak waktu. Sebelum pukul 12 siang gadis itu sudah harus sampai dimini market itu. Jika tidak maka ia akan terjebak macet dibagian kasir. Apalagi mengingat ini adalah hari libur panjang menjelang tahun baru. Super market ataupun mini market sekalipun pasti ramai pengunjung. Karna diskon akhir tahun yang bertebaran dimana-mana.

“Hae ya! Aku tak punya banyak waktu. Ayolah bangun sebentar dan makanlah. Jika kau terus seperti ini, mungkin waktu satu jam tidak cukup untukku berbelanja. Pasti aku harus mengantri panjang dikasir” Donghae menggeliat. Memutar posisinya yang tadinya memiring kekanan kini menjadi terlentang. Ahya hanya bisa membuka mulutnya tak percaya jika Donghae bisa tertidur seperti tupai yang sedang menghadapi musim dingin. Cepat tertidur dan sulit terbangun.

Tiba-tiba satu ide konyol hadir memenuhi kepalanya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa membuat Donghae terbangun. Tapi, tidakkah itu terlalu agresif? Ah! Persetan denga semua itu. Yang jelas saat ini pria itu harus terbangun dan makan!

Perlahan, Ahya membungkukkan tubuhnya. Mensejajarkan wajah mereka. “Hae-ya.. ireonaa” Donghae masih bergeming. Oh baiklah! dengan gerakan ragu, gadis itu mendaratkan bibirnya. Sial! Tak sampai satu menit, pria itu bereaksi. Bahkan hanya dengan satu kali kecupan, bibir Ahya sudah habis olehnya.

“Hae-ya!!” geram Ahya saat mengetahui Donghae tertawa kecil dengan mata yang masih terkatup setelah melepaskan ciumannya. Pria itu, benar-benar menjadi mesum. Siapa yang mengajarinya seperti itu?

“Kau mengerjaiku ya?” perlahan mata sipitnya mengerjapkan beberapa kali hingga terbuka sempurna. Senyumannya berubah menjadi gelak tawa saat matanya menatap Ahya yang sedang mendengus dengan wajah memerah akibat ulahnya sendiri yang seakan menantang singa yang sedang tertidur.

“kekekkkk, mianhae. Habisnya siapa suruh memasak lama sekali hum?” Donghae bangkit dari tidurnya, dan menyenderkan tubuhnya pada dashboard ranjangnya. Pria itu memperhatikan Ahya yang tengah mengambil mangkuk bubur yang mungkin sudah mendingin.

“Air hangatnya habis. Jadi aku harus memasaknya dulu. Cah, sudahlah kau makanlah. Aku tak punya banyak waktu lagi” Ahya menyodorkan mangkuk itu dan memaksa Donghae untuk mengambilnya. Gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada. Menunggu Donghae memasukkan satu sendok bubur itu kedalam mulutnya. Bagaimanapun, gadis itu masih belum bisa pergi jika Donghae tak memasukkan makanan kedalam mulutnya meski hanya satu sendok saja.

“Haa, arraseo” Donghae memasukkan bubur-bubur itu kedalam mulutnya dengan sendokkan yang cukup banyak membuat mulutnya begitu penuh. Meski tak perlu mengunyah lagi.

“Harusnya, disaat sang suami sedang sakit. Istrilah yang harus menyuapinya. Bukan malah makan sendiri seperti ini” masih seperti tadi. Donghae memakan bubur itu dengan cepat. Ekor matanya sedari tadi tak henti-hentinya mengikuti arah tubuh istrinya yang kini tengah mencari sepatu flatnya.

“Ayolah Hae. Persediaanku dan juga bahan makanan sudah menipis. Terlebih pasti supermarket maupun minimarket akan penuh. Kau lupa? Ini akhir tahun! Diskon begitu dicari”

“Lalu?” dengan tampang polosnya Donghae mengeluarkan kata-kata itu. Bahkan pria itu dengan santainya menggigit sendok sambil menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir istrinya. Ahya menghela nafasnya. Bagaimana bisa, seorang Lee Donghae tak menggunakan otaknya saat berbicara? Atau jangan-jangan pria ini benar-benar sudah menjadi polos? Sepolos kertas koran.

“Itu pasti akan sangat ramai! Dan itu tandanya intensitas 1 jamku untuk berbelanja akan terasa sangat sebentar! Understand?” sedetik kemudian, hanya sebuah cengiran mirip kuda yang ditampilkannya. Gadis itu meraih tasnya, mendekati Donghae. Yang masih sibuk dengan buburnya.

“Aku berangkat dulu. Sepulang dari mall aku akan mampir sebentar ke apotek. Membeli obat penurun demam untukmu” Donghae tersenyum, mengangguk pertanda mengerti. Seberapa bahagia dia, memiliki seorang istri yang sangat mengkhawatirkannya.

==oOo==

“Haaah. Ini semua karna mu Lee Donghae!!” gerutu Ahya yang sedari tadi sedang mengantri dibagian kasir. Sudah hampir 15 menit gadis itu mengantri tapi rasanya tak kunjung dilayani. Matanya menatapi pintu masuk supermarket itu yang semakin ramai. Efek diskon akhir tahun yang merajalela. Ini lah hasilnya, menjadi bejubal seperti ini.

Lagi. Gadis itu menghela nafasnya. Matanya berganti melirik jam tangan silvernya. 12.45 siang. Tandanya gadis itu hanya tinggal memiliki waktu tidak lebih dari 15 menit lagi untuk sampai dirumah. Dengan gelisah, Ahya meraih ponselnya. Tak ada pesan. Tak ada missed call. Apa pria itu tertidur lagi? Menyebalkan! Lalu, dengan gerakan cepat jari-jari gadis itu merangakai sebuah kata lalu dikirimnya menuju nomer ponsel Donghae.

Aku mungkin pulang terlambat. Mall sangat ramai. Tak usah menungguku, kau lebih baik tidur siang. Dan aku janji akan segera pulang^^

 

 

Nyatanya pria itu masih tetap terjaga. Tidak tertidur seperti tadi. Buktinya tak perlu waktu lama, balasan darinya segera datang.

Arraseo.. tapi, aku tak bisa tidur. Kepalaku begitu berdenyut sekarang. Cepatlah pulang, aku menunggumu..

 

“Ah, pria ini begitu keras kepala!” dengusnya lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya tanpa berniat membalas pesan Donghae. 10 menit berikutnya, gadis itu sudah bisa keluar dari kerumunan para pemburu diskon itu. Satu tangannya digunakan untuk menenteng barang belanjaannya yang terbilang lumayan banyak. Setelah sampai didepan mall itu, Ahya kembali terdiam. Hujan salju turun lagi. Sialnya, ia tak membawa payung. Bagaimana ini?

Dirasakan ponselnya bergetar dari dalam tasnya itu. Dengan cepat diraihnya, dan mendapati sebuah icon pesan dilayarnya. Nyatanya, Donghae kembali mengiriminya pesan.

Ahya, salju turun lagi. Kau tidak membawa payung, kan? Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan menjemputmu!. Ahya membelalakkan matanya. Apa gadis itu tidak salah membaca? Donghae ingin menjemputnya? Bagaimana bisa? Bukankah, pria itu bilang jika kepalanya masih sangat berdenyut? Hah, pria itu benar-benar! Tak menunggu lama, gadis itu segera menelpon Donghae, mencegah pria itu untuk menjemputnya.

“Yeoboseo. Donghae ah, kau dimana? Masih dirumah bukan? Jangan menjemputku, aku sudah didalam taksi. Kau diamlah dirumah, sebelum kesehatanmu semakin buruk. Aku tak akan membiarkanmu keluar rumah barang sebentar saja! Dengar itu” rentetan kata-kata itu keluar dengan cepatnya. Ahya, gadis itu  bahkan tak membiarkan Donghae membalas salamnya. Dia terlalu khawatir dengan suaminya kini. Bagaimanapun, ia tak mau suaminya bertambah sakit hanya karna menjemputnya. Meski harus berbohong seperti ini.

“Ck! Arraseo, cepatlah pulang. Aku merindukanmu” pipi gadis itu memanas seketika. Apa yang dikatakan pria itu?. Ah baiklah, mungkin Donghae memanglah seorang pria yang paling romantis. Tapi tak taukah dia jika gadisnya itu tengah berada ditempat umum? Oh, lupa! Ahya berbohong dengan mengatakan jika dirinya sudah didalam taksi.

“Aku tau itu. Hehe sudah ya, sampai bertemu dirumah” balasnya dan dengan cepat, gadis itu memutuskan jaringan teleponnya. Menghela nafasnya yang sempat memburu karna ulah suaminya itu. Setelah memasukkan ponselnya kedalam tas, Ahya kemudian merapatkan mantelnya. Berjalan pelan, tapi langkahnya itu terhenti ketika seseorang memegang lengannya. Gadis itu menoleh, dan mendapati seorang pria tampan tengah tersenyum, sambil mengenggam tangannya.

“Luhan” desisnya, pria itu kembali tersenyum membuat Ahya mau tak mau membalas senyumannya.

“Ahya ssi, kita bertemu lagi. Hmm, sedang apa disini?” Ahya terdiam tak menjawab, justru matanya menelusuri jari-jari Luhan yang sedang mengenggam tangannya. Mengerti dengan keadaan itu, Luhan segera menarik tangannya.

“Uh, mianhae. Aku tidak bermaksud”

“Ah, gwencaha” mereka tersenyum kaku. Luhan menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya. Perasaan yang tak pernah dirasakan sebelum bertemu Ahya. Jantung pria itu berdegub ketika mereka saling menatap. Darahnya berdesir kencang saat kulit mereka bersentuhan. Apa ini? Pria itu jatuh cinta pada Ahya? Ah, baiklah mungkin itu terdengar biasa saja jika Ahya masih berstatus single. Tapi kini? Ahya sudah bersuami dan sayangnya Luhan sepertinya belum tau semua itu.

“Oh iya. Kau habis berbelanja pasti ya? Dan sekarang apa kau sedang menunggu taksi?” tanya Luhan lagi. Matanya menelusuri wajah cantik dihadapannya. Luhan, pria itu begitu terpesona oleh Ahya sayangnya ia tak boleh jatuh cinta pada gadis itu. Dari segi apapun Luhan memang tak boleh mencintainya.

“He’um. Luhan-ssi, sedang apa kau disini? mengantar pacarmu berbelanja?” Luhan tergelak seketika. Wajahnya memerah saat mendengar penuturan gadis itu. Pacar? Mana mungkin aku jatuh cinta padamu jika aku sudah memiliki pacar? Desisnya dalam hati. Sedangkan gadis itu hanya dapat mengerutkan kening. Apa aku salah bicara?

“I don’t have girlfriend!”

“Woaa? Its joke! I don’t belive you!” Ahya mengembangkan senyumannya. Benar. Dari segi apapun, setiap orang yang melihat Luhan pasti akan mengira pria tampan sepertinya mustahil jika tak memiliki kekasih.

“Haha, ini bukan lelucon! Aku tak berbohong. I’m single now!” Luhan menunjukkan wajah seriusnya. Dilihat dari tatapannya, dia memang tak berbohong. Ah baiklah, meskipun pria itu berbohong toh tak ada manfaatnya untuk Ahya.

“Yah, baiklah anggap saja aku percaya padamu” kini mereka hanya bisa tertawa kecil. Luhan terus terpaku pada gadis itu, tak ada objek lain yang dapat dilihatnya sekarang. Hanya gadis itu. Menyadari tatapan Luhan, Ahya memperhatikan seluruh tubuhnya baik-baik. Takut-takut gadis itu memakai baju yang salah. Merasa tak ada yang salah, gadis itu menatap Luhan bingung.

“Apa ada yang salah denganku?” secepat kilat, Luhan menggelengkan kepalanya. Mengalihkan objeknya. Pria itu tersenyum kaku dibuatnya.

“Ah, aniyaa. Neoumu yeppoda” jawabnya jujur. Ah, mianhae hyung biarkan aku mencintai gadis ini sebelum semuanya dimulai, sekali lagi mianhae. Batin Luhan. Pria itu menyembunyikan sesuatu yang cukup besar. Sesuatu yang mungkin tak dapat dijelaskan dengan kata-kata namun dapat dibuktikan suatu saat nanti. Kita lihat saja.

“Kyaaa! Apa kau tau? Tidak baik, menggoda istri orang eoh” Ahya kembali tersenyum hangat. Membuat hati Luhan rasanya hancur berkeping setelah mendengar itu. Sebenarnya ia sudah tau tentang itu, tapi tak mau Ahya curiga pria itu mencoba terkejut.

“Mwo?? Jinja? Kau—kau, sudah menikah? Kenapa baru katakan sekarang?” jawabnya. Sekali lagi dengan wajah pura-pura terkejut. Aku tau itu. Lanjutnya dalam hati.

“Mian, siapa suruh tak tanyakan dari dulu?”

“Ahh, benar juga yah” lagi. Mereka berdua tersenyum kaku. Ah ralat, tepatnya hanya Luhan. Pria itu tersenyum sambil menjerit didalam hati. Kenapa bukan aku yang bertemu lebih dulu dengannya? Kenapa harus pria itu! Sesalnya dalam hati.

“A—Luhan ssi. Mianhae aku harus segera pulang. Taksi—“ ucapannya terpotong saat pria itu lagi-lagi menahan lengan Ahya. Membuatnya terhenti dan kembali menatap Luhan. Pria itu bergeming, dan Ahya hanya mendengus sebal saat taksi yang tadi dipanggilnya sudah ditumpangi lebih dulu oleh orang lain.

“Kyaaa! Aku ketinggalan taksi!”

“Biar aku antar kau pulang”

“Apa?” gadis itu menautkan alisnya yang terpisah. Gadis itu berpikir, Luhan akan menjauhinya setelah mengetahui jika dirinya sudah bersuami. Nyatanya? Pria itu masih sama.

==oOo==

Mereka terdiam disepanjang perjalanan pulang. Luhan dengan senang hati mengantarkan Ahya menuju apotek terdekat lalu mengantarkan gadis itu pulang kerumahnya.

Ponsel Ahya bergetar, diraihnya benda itu. Matanya melebar segan saat mendapati Donghae menghubunginya. Apa yang harus dia katakan? Gadis itu sudah terlambat lebih dari 30 menit.

“Yeo—yeobseo”

Kau dimana? Sudah lebih dari 30 menit

 

“Arra. Aku baru saja kembali dari apotek. Sebentar lagi sampai. Sabarlah sedikit”

Haah, apa jalanan macet? Kurasa ti—

“Sangat! Salju hampir menutup separuh jalan”

Ah, baiklah. Cepatlah kembali. Nan gidaryeo

“Arraseo, sampai jumpa nanti”

Ne.

Setelah menutup percakapannya dengan Donghae. Gadis itu menghela nafas pelan. Apa yang dikatakannya nanti jika pria itu tau, istrinya pulang dengan lelaki lain? Rasanya, gadis itu tak bisa berpikir sekarang.

“Nugu? Suamimu?” ujar Luhan dengan pandangan masih menatap jalanan dihadapannya. Ahya mengangguk lesu. Sebenarnya perasaanya berubah menjadi tidak enak saat Luhan mengajaknya pulang bersama. Tapi, tak ada pilihan lain. Gadis itu harus segera pulang.

“Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu. Ah baiklah, tadinya aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Tapi, kelihatannya itu tidak mungkin” Luhan tersenyum, meski hatinya meringis. Gadis itu menatap wajah sendu pria yang masih terfokus pada jalanan.

“Mianhae”

“Aku mengerti. Aku juga seorang pria. Terlebih memiliki istri cantik dan baik sepertimu. Lelaki mana yang tidak khawatir? Heum?” candanya. Tak disangka gadis itu tersipu. Pipinya memanas. Pria itu sama saja. Suka sekali merayu! Dan wanita pun sama. Mudah sekali terkena rayuan. Huh, payah!

“Jangan berlebihan begitu. Oh, ya. Setelah ini belok kanan” Ahya memberi petunjuk arah rumahnya. Luhan hanya mengangguk sambil terkikik. Tak butuh waktu lama lagi. Kini mobil Luhan sudah sampai didepan rumah gadis itu. Dengan ragu dan hatinya yang terus berdoa, gadis itu turun dari mobil Luhan. Gadis itu cukup terkejut saat Luhan tiba-tiba saja membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu diam membeku, sambil sesekali melirik kearah jendela kamarnya dilantai dua dan berharap Donghae tak melihatnya.

“Gomawo Luhan-ssi” ujar Ahya sambil membetulkan bungkusan plastik yang dibawanya. Luhan tersenyum dan mengangguk. Sesekali Luhan melirik kearah sebuah sudut kaca yang ada diatas rumah Ahya. Luhan melirik seorang pria yang tengah berdiri mematung disana. Seakan tak mengindahkan tatapan tajam yang diberikan pria itu, meski dari jauh Luhan tau pria itu sungguh cemburu. Luhan justru menepuk-nepuk pundak Ahya dengan pelan.

“Cheonmaneyo”

“Kau, tak ingin mampir?” ujar Ahya basa-basi dan berharap jika Luhan tidak mau mampir kerumahnya. Karna jika itu terjadi habislah ia.

“Eum, tidak. Terima kasih. Aku harus segera kembali kekantor” hah, syukurlah pria itu tau batasannya. Ahya bisa bernafas lega sekarang. Matanya menatap punggung Luhan yang berjalan memasukki mobilnya. Perlahan mesin mobil itu menyala. Luhan kembali tersenyum sambil melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar pergi dari rumah itu. Membuat gadis itu mau tak mau membalas lambaiannya.

Setelah dirasa mobil Luhan cukup menjauh. Ahya membuka pintu gerbang rumahnya, masuk perlahan. Sepi. Itu yang dirasakan gadis itu saat memasukki rumahnya. Lalu langkahnya terus berlanjut menuju kamarnya setelah sebelumnya ia meletakkan barang belanjaannya didapur.

“Hae-ya?” panggil Ahya saat mendapati tempat tidur kosong. Gadis itu masih menenteng plastik obat yang tadi dibelinya. Dengan ragu, gadis itu melangkah lagi menuju beranda lantai dua rumahnya. Hendak mencari Donghae diruang olahraga miliknya. Biasanya Donghae sering menghabiskan waktunya untuk berolahraga dengan alat-alat yang ada disana.

Kakinya terdiam gemetar. Saat mendapati Donghae tengah berdiri didekat jendela besar ruangan itu. Matanya menatap lurus kearah depan, memandangi jalanan. Jantungnya berdegup cepat. Apa Donghae melihatku? Desahnya.

“Hae-ya. Minum obat dul—“

“Dari mana kau?” Glek! Gadis itu menelan ludahnya dengan sangat sulit. Tatapan itu, sungguh mensiratkan sebuah kemarahan yang sungguh-sungguh. Mereka berpandangan lama. “Siapa pria itu?” matilah kau Ahya Kim! Bibirnya bergerak tertahan saat ingin mengeluarkan sepatah kata saja.

“Di—dia. Dia. Luhan. Hanya temanku”

“Setelah Kyuhyun, kini kau memiliki yang baru?” Donghae berjalan mendekat. Meski kepalanya masih sangat pusing, pria itu memaksakan tubuhnya bangkit dan bergerak tidak jelas. Pria itu sedari tadi hanya mengkhawatirkan istrinya. Sampai-sampai ia rela berdiri didepan jendela besar, dan menunggu istrinya disana. Menatap jalanan dan berharap dapat melihat istrinya turun dari taksi. Tapi nyatanya?

“Apa?!” gadis itu memekik tak percaya. Apa yang dikatakan pria itu? Dia menuduh istrinya berselingkuh lagi?

TBC..

19 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 9)

  1. argghh!!! ada apa ini? Luhan Oppa menyukai Ahya?? Donghae oppa menuduh Ahya berselingkuh??
    Lanjut thor!! ceritanya makin seru!!😄

  2. Mereka udah akur…
    Eh, donghae ngeliat ahya sama pria lain selain kyuhyun…
    Panas tingkat badai nih….
    Luhan udah tau kalau ahya sudah punya suami…

    Haeppa harus pertahankan ahya di sisi mu oppa…

  3. makin seru aja ceritanya thor!!!>< tapi mereka bertengkar lagi😦 tetep lanjut ya!aku seneng banget loh pas tau ceritanya udah lanjut :3 makin semangat bikin ceritanya!^^9 dan mudah2an gak kehabisan ide buat kelanjutan ceritanya😀 maaf ya thor aku sebenernya dari semalem udah baca ceritanya tapi baru sempet komen sekarang hehe aku gak berniat jadi silent reader loh….😉

  4. tuh kan, bener dugaanku!
    Luhan emang mencurigakan..
    dia tau kalau Ahya udah nikah tapi tetep mendekatinya dengan alasan yang amat mencurigakan.
    Jangan-jangan Luhan tuh suruhan Perusahaan Rivalnya Lee Corp.?? yg diutus buat menghancurkan rumah tangga Donghae??

    #analisis

    next thor..😉

  5. awal yg romantis🙂
    Luhan dah tw tentang Ahya kyk nie.. apa Luhan punya mksud lain ke Ahya?? -,-
    Donghae salah paham gi, –“

  6. Adoooh,, mulai lagi,, kesel juga waktu donghae bila “setelah kyuhyun, kini kau memiliki yang baru?” eeuhh pengen nyekek dah,

  7. oh noo, kenapa mesti bertengkar lagi
    padahal mereka kan uda baikan -,-
    jebal, jangan berantem lagi
    lanjuut thor . hwaiting !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s