STUPID IN LOVE (Chapter 8)

 

kyuBb5kQ6KIIAA5KN_

STUPID IN LOVE

 

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 16+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Park Hye Jin, Cho Kyuhyun, Xiu Luhan, Lee Taeri.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini membuat anda mual. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

 

 

*CHAP EIGHT*

[AUTHOR SIDE]

Tak sampai 5 menit, mereka sudah menginjakkan kakinya didepan kedai milik kedua orang tua Jongmin yang dimaksud anak itu. Kebetulan saat mereka  sampai, suasana sedang tak begitu ramai seperti tadi. Dengan senyum yang merekah Jongmin, bocah itu mengenalkan kedua orang yang baru saja ia kenal pada orang tuanya itu.

“Kalian pengantin baru ya? Sangat cocok” ibu Jongmin tersenyum senang sambil memberikan buku menu yang sejak tadi dipegangnya. Sedangkan Ahya dan juga Luhan hanya bisa menatap satu sama lain, dengan hambar Ahya tersenyum dan mengatakannya “Ani ahjumma, kami saja baru bertemu tadi” balasnya, ahjumma itu hanya mengangguk mengerti.

Siang ini, salju sudah tak turun lagi. Namun, angin yang berhembus justru semakin kencang dan otomatis menusuk tulang. Sepanjang kegiatan makan siang itu Luhan berusaha mengakrabkan diri dengan gadis yang baru saja ditemuinya hari itu. Pada dasarnya Ahya adalah seorang gadis yang periang juga terbuka dalam artian bertemu orang baru gadis itupun cepat akrab karna sifatnya sungguh bersahabat. Setelah makan siang, Luhan dan juga Ahya berinisiatif untuk mengitari taman disudut kota Seoul itu. Mereka bercengkarama, bercanda layaknya seorang remaja yang baru saja berkenalan.

“Ahya ssi, aku harus kembali kekantor jam makan siang sepertinya sudah berakhir” Luhan melirik arloji ditangannya, dan setelah itu memfokuskan tatapannya pada gadis ini. Gadis yang sudah merebut perhatiannya. Ahya mengangguk cepat.

“Ne, kau kembalilah kekantor” Ahya tersenyum, gadis itupun bangkit dari duduknya. Merapatkan mantelnya. “Suatu hari, bisakah kita bertemu lagi? Bolehkan aku meminta nomer ponselmu?” Ahya terdiam, sebenarnya gadis itu ingin sekali mengatakan jika dirinya sudah memiliki suami. Tapi otaknya terus mengingat kejadian beberapa jam lalu, saat dirinya bertemu dengan seorang nenek yang diyakini adalah seorang cenayang yang hebat.

“Hidup masing-masing! Jika kalian tidak ingin saling menyakiti satu sama lain”  kata-kata itu terus berputar layaknya sebuah rol film yang sedang diputar. Mungkin aku harus membuka hatiku, karna tak selamanya aku akan menjadi istrinya. Pernikahan ini tak akan berjalan lama, aku yakin. Lalu apa salahnya aku mencari yang terbaik mulai dari sekarang?. Gumamnya dalam hati sebelum dengan berat mulutnya membeberkan satu persatu angka yang merupakan nomer ponselnya.

*_*

Wajah tertunduk, sepanjang perjalan Ahya hanya bisa menundukkan wajahnya. Meratapi nasibnya dan mulai menimbang-nimbang tawaran Donghae tempo hari.

‘Aisssh! Tidak secepat itu. Maksud ku jika aku atau dirimu sudah saling jenuh bahkan tersiksa dengan pernikahan ini, maka aku atau dirimu mempunyai hak untuk mengajukan cerai. Bagaimana?’

 

Ahya memejamkan matanya, menarik nafasnya setelah itu menghempaskan lagi dengan cepat. Apakah gadis itu akan mengambil tawaran itu?. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah kaki yang terbalut highells simple yang berada tak jauh dari kakinya. Dengan malas, gadis itu mengangkat wajahnya. Wajahnya berubah menjadi sedikit cerah dan berbinar saat melihat sesosok gadis yang sangat tak asing baginya.

“Eonni!” panggilnya dengan senyum yang merekah, tangan mereka terulur dengan cepat. Mereka berpelukan dengan sangat erat, melepas rindu masing-masing. “Taeri ya! Sedang apa disini?” ujarnya setelah pelukan mereka terlepas, senyuman tak henti-hentinya luntur saat bertemu lagi dengan sahabat atau lebih tepatnya sepupu suaminya sendiri.

“Aku, baru saja membeli beberapa makanan dan mau kembali lagi kebutik ku. Kau sendiri?”

“Aku? Emm, hanya sedang berjalan-jalan saja. Suntuk berada dirumah sendirian” balasnya dengan nada yang dibuat seceria mungkin saat mengingat ‘rumah’. Tiba-tiba Taeri menarik lengan Ahya mengajaknya menyebrangi jalan dan menggiringnya memasukki sebuah butik yang cukup besar.

“Taeri ya!” omelnya sedari tadi Taeri menariknya menuju tempat ini, dengan sedikit memaksa Taeri akhirnya dapat membuat Ahya duduk didepannya.

“Ini butikku, jangan sungkan ne. Tadi aku menyeretmu kemari karna aku tau sepertinya kau sedang ada masalah dengan Donghae oppa. Supaya kau bisa lebih leluasa bercerita padaku” Taeri, gadis itu dengan santai memaksa Ahya untuk menceritakan masalahnya. Tangan gadis itu menopang wajahnya dengan kedua tangannya, bersiap mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari bibir Ahya.

Ahya menggigit bibirnya sendiri, meremas tangannya. Ia bimbang, saat ini ia memang sangat butuh teman untuk mendengarkan semua masalahnya. Karna kedua orang tuanya yang sibuk dengan bisnis keluarganya di Indonesia. Tapi, haruskah ia menceritakan semua masalah rumah tangganya ini dengan adik sepupu Donghae sendiri? Apa itu tidak terlalu berbahaya?

“Masalah kerahasiaan, kau bisa percaya padaku. Dan jika itu menyangkut Donghae oppa, anggap saja aku bukanlah adik sepupunya. Ayolah, berbagi masalahmu” sahut Taeri lagi saat Ahya masih juga terdiam bimbang. Akhirnya, bibir Ahya terbuka untuk menceritakan setiap masalahnya, mulai dari awal pernikahan mereka terjadi, pertengkaran yang tak ada ujungnya, keharmonisan yang hanya terjadi beberapa saat dan juga mengenai steatment yang baru saja gadis itu keluarkan ‘Hidup masing-masing, tanpa harus mengurusi kehidupan pasangan’.

Airmatanya seperti diperas hari ini, jika matanya bisa terteriak mungkin ia akan mengatakan. Aku lelah memproduksi airmata hari ini, berhentilah menangis. Bahkan, tak jarang Taeri ikut menahan airmatanya.

Sementara itu, disisi lain seorang Dirut Lee Corp. Lee Donghae, pria itu tak berkerja sama sekali setelah menghadiri rapat pagi tadi. Pikirannya begitu kacau setelah pagi tadi bertengkar dengan istrinya, ditambah penuturan ayahnya yang berkata tentang Xiu Corp yang mungkin akan mengancam keselamatan keluarga mereka. Donghae hanya terdiam sambil sesekali mengurut pelipisnya tatkala pikirannya kembali terpusat pada Ahya istrinya yang entah sedang apa hari ini.

Diliriknya jam dilengannya, pukul 4 sore. Tanpa pikir panjang, Donghae menyambar kunci mobilnya. Berjalan keluar meninggalkan ruangan kerjanya, pikirannya hanya tertuju pada sosok istrinya. Aku harus meminta maaf padanya, mungkin tadi aku terlalu kasar saat menyuruhnya jujur tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Dengan pikiran yang bercabang Donghae mengendarai mobilnya dengan cukup cepat. Saat ini, mungkin meminta maaf dan menjelaskan maksud yang sesungguhnya adalah sesuatu yang tepat. Sebelum mungkin kejadian yang tak pernah diduganya akan muncul menghampiri mereka.

 

Kesan pertama yang dirasakannya saat menginjakkan kakinya dirumahnya itu adalah ‘sepi’ seperti tak ada tanda-tanda jika ada orang didalamnya. Donghae berjalan lagi kini menuju kamarnya, berharap dapat menemukan sesosok gadis yang ingin sekali ditemuinya. “Ahya ah! Neo eoddiseo?” panggilnya saat tak menemukan sesosok yang sedari tadi dicarinya. Tangannya terulur merogoh sakunya, mencari-cari ponselnya. Setelah mendapatkannya dengan cepat Donghae menghubungi gadis itu.

‘Maaf, nomer yang anda tuju dengan tidak aktif atau—‘

“Arrggggh! Neo eodiseo?!!” geramnya, dengan gusar Donghae melepas jas kerja begitu juga dengan dasinya.

*_*

Dengan langkah yang gemetar, gadis itu membuka pintu gerbang rumahnya. Hujan salju turun lagi malam ini, Ya! Malam. Ahya baru beranjak pergi dari butik Taeri sejak pukul menunjukkan pukul 7 malam. Dan 30 menit kemudian gadis itu sudah sampai didepan rumahnya. Matanya menyipit saat mendapati mobil Donghae sudah terparkir rapih digarasi rumahnya, begitu pula dengan lampu rumahnya yang sudah semuanya menyala.

Kakinya terus melangkah, dan terhenti saat ia mendengar suara gelas yang pecah dan bersumber dari pantry rumahnya itu. Gadis itu terdiam, jantungnya berdebar sangat cepat. Siapa disana? Barang kali itu seorang pencuri yang hendak mengobrak-abrik rumahnya. Atau? Donghae?!

Tanpa menunggu apalagi, Ahya dengan cepat berjalan menuju pantry. Gadis itu terenyuh saat melihat seorang pria dengan pakaian santainya sedang memunguti beberapa pecahan kaca yang berasal dari piring yang mungkin tadi dipegangnya. Tatapannya beralih pada makanan yang sudah tertata rapih dimeja makan. Siapa yang memasak itu semua? Apa itu Donghae yang membuatnya?

“Eoh, kau sudah pulang?” Ahya kini mengalihkan lagi pandangannya pada pria yang sedang menatapnya dengan senyumannya yang terkembang cerah. Ahya menyipitkan matanya saat melihat senyuman itu terbit dibibir Donghae, sejujurnya Ahya sedari pagi selalu membayangkan jika Donghae begitu marah dengannya karena masalah pagi tadi.

“Hei, kau kenapa terdiam?” dengan gerakan lambat Ahya menggelengkan kepalanya. Gadis itu masih terlalu bimbang untuk mengeluarkan sepatah kata saja.

“Ah, kau pasti belum makan kan? Aku baru saja memasak beberapa makanan, mari kita makan” setelah membuang serpihan piring yang sudah menjadi kepingan itu ketempat sampah, kini Donghae mendorong pelan pundak Ahya dan mendudukan gadis itu dikursi tepat dihadapannya. Kini mereka sedang duduk berhadapan. Ahya masih enggan membuka mulutnya, sedari tadi hanyalah matanya yang berbicara. Donghae tersenyum, seakan dapat membaca arti tatapan Ahya.

“Makan malam ini, tidak ada maksud apapun. Hanya saja, aku sedang lapar dan karna kau belum pulang. Jadi aku—“

“Mianhae” Donghae menatap istrinya yang sedang tertunduk dalam. Meremas jemarinya sendiri dibawah meja. Tak ada suara lagi setelah itu. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga..

“Harusnya aku tak pulang semalam ini, lagipula tak biasanya kau pulang secepat ini” kepalanya sedikit demi sedikit terangkat. Jantung gadis itu kembali berdebar dengan kencang saat menatap ekspressi Donghae yang tak bisa diduganya, dia tersenyum manis.

“Tak apa, aku tau kau bosan berada disini. Terlebih, ketika sedang bersamaku. Iyakan?” masih dengan senyumannya, Donghae mengajukan pertanyaan yang mungkin lagi-lagi akan membuat hubungan mereka terasa menjauh. Ahya terdiam, terbesit rasa bersalahnya. Mungkin setelah ini Donghae yang akan mengugat cerainya terlebih dahulu, bukan dirinya.

“Ah, sudah tak usah dipikirkan. Hehe, sekarang mari kita makan” Donghae mengambil sumpitnya mengaduk-aduk nasi campur yang barusaja dibuatnya. Dengan lahap, pria itu memakannya. Sementara Ahya masih terdiam dengan pikirannya sendiri. Ia terlalu kalut dengan semua ini.

“Ahya ssi, kau tidak menyukainya? Mian, mungkin masakanku tak seenak masakanmu tapi—“

“Ah, ania. Aku menyukainya” sesuap demi sesuap nasi yang masuk melewati tenggorokkannya seakan menyisakan luka disetiap pergerakannya. Ahya dengan lamban menyantap makanannya. Bukan karna rasanya yang ‘cukup’ buruk, tapi karna pikirannya yang terus mengatakan jika ini mungkin menjadi moment yang paling tak bisa dilupakannya seumur hidup.

“Ahya, boleh aku mengatakan sesuatu padamu?” Donghae kembali membuka suaranya, masih dengan mulut yang penuh. Ahya pun menghentikan aktifitasnya mengunyah.

“Aku tidak akan meminta pendapatmu tentang rasa masakanku ini, karna aku tau rasanya begitu absurd bukan?” tanyanya berusaha mencairkan suasana yang begitu canggung ini. Ahya tersenyum kecil. Ini pertama kalinya kau membuat lelucon yang sama sekali tak menarik Tuan Lee. Desahnya dalam hati.

“Ah, baiklah. Emm.. masalah pagi tadi, bukan begitu maksudku—tapi tapi—“ Ahya meletakkan peralatan makannya, menatap suaminya yang sedang menatapnya dengan gugup.

“Apa?”

“Aku tidak ingin seperti ini. Maksudku, aku tidak ingin hidup masing-masing seperti yang kau bilang. Aku hanya ingin memperbaiki hubunganku dengan mu. Aku ingin, kita hidup layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai” Donghae mengigit bibirnya sendiri setelah mengucapkan kata-kata itu. Ia menunggu respon gadisnya itu. Gadis itu hanya bisa terpaku, dan menelan salivanya dengan susah payah sebelum memberikan jawaban. Ya! Donghae akan mengakhirinya sekarang. Bukan dengan perceraian, tapi dengan cara mencoba mencintai satu sama lain.

“Donghae ssi, sebenarnya apa yang kau rasakan denganku?” jawaban yang sungguh menjebak, jawaban yang sama sekali tak pernah terlintas dipikiran Donghae jika Ahya akan mengajukan pertanyaan itu. Tapi dengan cepat dan tanpa berpikir lagi, rasanya Donghae sudah memiliki jawaban atas pertanyaan itu.

“Entah, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku. Tapi yang aku tau, aku sangat membutuhkanmu” Ahya terhenyak. Gadis itu tak bisa berbicara lagi, otaknya sudah tidak bisa bekerja saat ini karna jantungnya yang terus saja berdegub semakin kencang.

“Ahya, kau maukan memperbaiki semuanya? Kita mulai ini semua dari awal” mata indah gadis itu masih mengerjab tak percaya saat entah sejak kapan Donghae sudah meraih tangannya dan berlutut disampingnya. Gadis itu memposisikan tubuhnya agar menghadap suaminya. Haruskah aku mengatakan ‘Iya’ jika diakhirnya aku tak tau nasib apa yang akan menimpa keluarga ini? haruskah aku menerimanya jika hatiku berkata ‘ragu-ragu’? ada apa ini sebenarnya?. Jerit gadis itu dalam hatinya. Ahya memang begitu mencintai pria yang ada dihadapannya, tapi entah kenapa sejak bertemu dengan nenek tadi rasanya Ahya tak bisa berpikir jernih tentang hubungan keluarganya ini. kata-kata itu seakan menjadi sihir bagi otaknya. Tapi nyatanya gadis itu melawan arus pikirannya, ia hanya mengikuti isi hatinya.

“Aku mau” kalimat yang berisi dua kata yang cukup singkat itu akan merubah segalanya mulai detik ini. Cinta. Mungkin mereka akan terlihat bahagia setelah ini. Atau justru saling menyakiti? Entahlah, mereka tak akan memikirkan hal itu saat ini.

“Gomawo” Donghae menarik Ahya agar bangkit dari duduknya, mendekapnya kedalam pelukan yang hangat ditengah turunnya hujan salju yang cukup lebat malam ini. Ahya pun mengangguk didalam dekapan Donghae. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka melepaskan pelukan itu meski tergambar ketidak relaan diantara keduanya.

“Sekali lagi, maafkan aku. Maafkan sikapku selama ini” Donghae berbisik tepat ditelinga gadis itu, membuat gadis itu menegang dengan sekejap. Perlahan, bibir namja itu terasa diseluruh permukaan wajah Ahya membuat gadis itu hanya bisa memejamkan matanya. Terus mengecupinya hingga berhenti dibibir mungil gadis itu. Gerakan yang begitu lembut, membuat gadis itu seakan melayang dengan perlakuan suaminya.

Seakan mendapat respon, Donghae mengendong tubuh istrinya. Membawanya dalam dekapan dan indahnya malam ini.

“Bolehkan aku?” tanya Donghae sebelum memulai aksinya, dengan pasrah gadis itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk dibawah kendali Donghae yang sudah menghimpit tubuhnya saat ini. Donghae membalas senyuman itu, tangannya merapihkan poni Ahya yang sudah berantakan dikeningnya. Sebelum akhirnya namja itu kembali mendaratkan bibirnya dikening gadis itu dan terus menurun menuju bibirnya.

*_*

Desember. Bulan penuh kejutan. Salju turun tak menentu. Terkadang menangis dengan derasnya. Tetapi terkadang ia tersenyum cerah layaknya matahari yang barusaja diizinkan untuk menampakkan sinarnya. Seperti hari ini, setelah semalaman salju menuruni kota Seoul rasanya itu tidak akan terjadi dihari ini. Cuaca memang tak terlalu cerah, namun cukup menggembirakan bagi sebagian orang yang bisa leluasa berbelanja dan berekreasi hari ini. Mengingat tahun baru 2013 sebentar lagi menunggu.

29 Desember 2012. Sabtu pagi, hari libur panjang siap menyambut masyarakat diseluruh dunia. Hari ini, mungkin lebih banyak orang yang sibuk dengan kegiatannya menyambut tahun baru yang akan datang tak lebih dari 48 jam lagi. Atau justru sebagian dari mereka akan menghabiskan waktu ini bermalas-malasan seperti halnya dengan pasangan yang baru saja merajut rumah tangganya yang sempat tak terbentuk dan tak berjalan dengan baik.

Mereka berdua masih nyaman terlelap dibawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tak ada tanda-tanda dari kedua orang itu yang hendak melepaskan pelukan mereka sejak semalam. Bahkan rasanya untuk membuka matapun sulit. Tapi 30 menit kemudian sang gadis mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang cukup terang yang merambat masuk melalui celah-celah jendela kamar mereka.

Gadis itu tertegun sejenak, memperhatikan pemandangan yang selama ini ditunggunya. Membuka mata saat sang suami masih terlelap. Menatapi wajah tampannya. Dan mensyukuri takdir yang ternyata memberikan jodoh yang sangat sempurna untuknya. Gadis itu tersenyum, jemarinya terulur merapihkan anak-anak rambut yang menghalangi pemandangannya untuk melihat betapa tampan suaminya itu. Telunjuknya terus bergerak perlahan, mengikuti garis tegas wajah pria itu. Masih sambil mengulum senyumannya, bibir basah miliknya mulai mendarat dipipi sang suami. Memberinya kecupan singkat dan berharap jika pria itu tak akan bangun saat itu juga. Semoga.

“Kenapa hanya disitu?” Ahya tersentak, dengan cepat ia menarik jemarinya. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami saat dirinya tertangkap basah seperti ini.

“Yak! Sudah tertangkap basah, masih saja menghindar eoh?” Donghae mengeratkan pelukan dipinggang gadisnya. Masih dengan mata yang terkatup rapat, pria itu tersenyum manis. Dadanya bergemuruh saat potongan kejadian semalam terlintas dimemory-nya.

“A—aniyo! Aku—“ dengan terbata Ahya membuka mulutnya yang sejak tadi terkatup rapat. Wajahnya terasa panas, semburat merah kini sudah tampak hingga menyelimuti wajah cantiknya.

“Bibirku belum” Donghae memutar tubuh gadisnya dengan paksa. Kini mata sipitnya masih enggan terbuka. Mungkin jika ia membukanya sekarang pria itu tak akan sanggup menahan hasratnya untuk segera menyerang istrinya lagi saat itu juga.

“A—ah! Shireo!” Donghae melebarkan matanya dengan sekejap, menatap wajah gadisnya yang sungguh berantakan karna ulahnya semalam. Tapi itu justru terlihat sexy baginya.

“Baiklah, jika kau tak mau aku akan—“

“Mwo?”

Chup. Tanpa menunggu lama lagi, Donghae segera menyerang bibir cherry istrinya yang seakan menjadi maghnetnya saat ini. Tak lama, hanya berselang beberapa detik ia melepaskannya. Lagi. Pipi gadis itu merah padam. Dengan gerakan cepat, Ahya memeluk Donghae dan menyembunyikannya didada bidang suaminya. Sedangkan Donghae tak tahan untuk tak mentertawai tingkah laku istrinya itu.

Ahya tersenyum. Tapi justru perasaan mengganjal tumbuh dengan cepat. Terlebih saat tangan Donghae menyusup mengusap-usap kepalanya dengan sayang. “Donghae ssi” panggilnya masih dengan posisi yang sama. Enggan menunjukkan rupanya yang masih memerah karna kejadian tadi.

“Heum..?”

“Bagaimana dengan Hyejin?” tangannya gemetar menunggu respon sang suami yang sepertinya sama sekali tak memperdulikan pertanyaan yang sudah mengumpul diotak Ahya sejak semalam.

“Lalu? Kau sendiri? Bagaimana dengan Kyuhyun?” Puk! Pukulan kecil mendarat didada pria itu. Dengan gemas, Ahya memukulnya sekali lagi. Bukan itu yang ingin dia dengar saat ini.

“Yak! Appo!”

“Rasakan itu! Siapa suruh berbalik tanya seperti itu huh?” Ahya melepaskan pelukannya. Membaringkan tubuhnya, matanya terdiam menatap kosong kearah langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali penuh dengan pertanyaan seputar gadis bernama lengkap Park Hyejin itu.

“Aigoo. Haha, aku hanya bertanya memangnya salah?”

“Jelas salah. Aku hanya ingin mendengar tentang gadis itu dari mulutmu. Bukan malah berbalik tanya seperti itu” Donghae tak melunturkan senyumannya. Sejak hari ini, kebiasaan buruk miliknya dulu kembali tumbuh. Dulu, Donghae begitu senang menggoda gadis ini.

“Kau begitu sensitif panda! Baiklah, Hyejin. Haaah, aku sudah tak berhubungan lagi dengan gadis itu sejak kejadian saat itu. Kau tak usah khawatir” Ahya menatap mantap wajah suaminya, yang sedang berdiam menatapnya serius. Dia sudah kembali. Sungguh Donghae yang dulu telah kembali. ‘Panda’ gadis itu kini sudah tak membenci panggilan itu, tapi justru sangat merindukan Donghae memanggilnya lagi seperti itu.

“Kejadian apa?”

“Itu. Saat itu. Kau tidak ingat? Hah, syukurlah. Dan kumohon jangan pernah mengingatnya lagi” senyuman kembali terlukis jelas diwajahnya. Tak terhitung sudah berapa kali ia tersenyum seperti itu pagi ini.

“Oh, kejadian itu? Saat kau menciumnya? Iyah?” gadis itu mengulum senyumnya. Bergurau sedikit untuk memutar memory mereka dulu sebelum menikah dan masih berstatus sebagai sahabat.

“Dia yang menciumku. Bukan aku yang menciumnya” dahi gadis itu berkerut. Tak percaya. Ahya tak cukup bodoh untuk dibohonginya.

“Aku tidak percaya”

“Wae?”

Kedua ibu jari dan juga telunjuknya saling mengait satu sama lain. Meyakinkan kesan gugup yang melandanya. Jujur, sebenarnya gadis itu sudah tidak mau lagi mengingat kejadian itu. Tapi rasanya, pikirannya selalu tak mau berhenti mengingatnya.

“Haaah! Saat ini saja, sudah tak terhitung berapa kali kau menyerang bibirku. Dibandingkan aku yang menyerangmu. Jadi, dapat kusimpulkan jika kau! Yang mencium gadis itu terlebih dahulu bukan?” Donghae melotot tak percaya. Kekehan kecil keluar dengan lancarnya dari bibir gadis itu, tak ada tujuan lain. Saat ini ia ingin sekali mengajak pria itu bercanda seperti dulu. Tertawa lepas bersama, tanpa beban sedikitpun.

“Yak! Kau meledekku huh?” Donghae bergerak cepat. Kini ia sudah berada diatas gadis itu lagi dengan senyuman miring khas Lee Donghae. Dan Ahya? Gadis itu terbujur beku saat itu. Tak bisa berkutik, dan hanya bisa berdoa jika seseorang membantunya saat ini.Tubuhnya begitu lelah untuk bermain-main lagi dengan suaminya.

“Ma—mau apa kau?” tanyanya gugup saat wajahnya mulai mendekat. Seringaian kembali menghiasi wajah tampannya. Ahya seakan mengerti akan hal itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kyaaaa! Berhenti menjadi pria mesuuuuuuuum!!!!!”

TBC..

23 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 8)

  1. aighooo,,,,,dongek mesum,,,,,mau dong di mesumin,,,,ahya,,,,jangan terlalu percaya ramalan,,,takdir qt yg buat dan tuhan yg menentukan,,,tak perduli akhirnya yang penting usaha yg kita lakukan,,,,

  2. aaahahahahahhahahahahaha ngakak bacanyaa…ahhh authorr pkoknya hrus brtanggung jawab yakk..palli d share lgi hihihih …

    mudah2n kebahagian mreka tdk akn brakhir d part ni ya thor.. Kasian ahya

  3. Wwwwwaaaa keren ceritanya thor ^^ makin seru dan so sweet!!!!>< lanjut yyyyyyaaaaaa ceritanya hehe makin semangat bikin ceritanya ^^9 makin suka sama nih cerita udah castnya ada hae nya trus ceritanya seru, so sweet lagi ouh menyentuh hati {}😀

  4. whoa, akhirnya donghae sudah memperbaiki hubungan nya dengan ahya . semoga aja setelah ini jangan terjadi hal” yang ga menyenangkan .-.
    apa XIU corp itu punya luhan yaa , hmm ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s