=New year’s promise =

newyearPromise

Author : Thilmaa

 

Main Cast :

Lee Min Ho

Jung Eun Mi (OC)

 

Genre  : Romance, Sad, etc

 

Lenght : Oneshoot

 

Disclaimer : The cast belongs to themselves. But, story line is mine. Please, don’t copy and paste!

 

 

Cuap-cuap author : annyeonghaseo, chingudeul..^^ hahh.. akhirnya ff ini selesai juga. Ff ini saya dedikasikan untuk Lee Min Ho -my idol, my inspiration, my everything-

Cerita ini masih jauh dari kata sempurna, typo yang bertebaran dimana-mana, plot yang kurang menarik, dan sebagainya. Tapi saya sudah berusaha sebaik yang saya bisa.^^ untuk itu mohon komentar dan saran yang membangun dari readers.. ^^ akhir kata…

 

=Happy reading=

 

“Love at the first sight? Mungkinkah aku merasakannya? Entahlah..  Cinta merasuki hatiku dalam hitungan detik, lalu meninggalkanku sendiri lagi hanya dalam sekejap mata. Adilkah cinta padaku?”

AUTHOR POV

 

Hujan merinai pelan, membasahi tanah Seoul di tengah musim dingin ini. Terlihat seorang laki-laki berlarian untuk mencari tempat berteduh. Laki-laki itu terus melangkahkan kaki panjangnya sambil melindungi kepala dari rintik-rintik hujan dengan telapak tangannya.

Aishh.. basah.. ck!” ia berdecak kesal sambil mengibas-ngibaskan tangan, mencoba membersihkan mantel hitam panjangnya yang terkena rintikan hujan.

 

“Huuuhh..” laki-laki itu kemudian mendesah pasrah. Ia mulai menyadari kebodohannya yang selalu lupa membawa payung. Ah, ralat. Bukannya lupa, tapi ia memang tidak mau membawa payung. Baginya membawa payung itu sangat tidak praktis. Ia akan membawa payung jika suatu saat nanti akan ada payung berbentuk pena yang bisa di masukkan ke dalam saku.

 

Lee Min Ho, laki-laki dengan postur tubuh tinggi ini adalah mahasiswa jurusan Film, Konkuk University. Hari ini, sehabis membicarakan tentang Film pendek -yang akan di ikut sertakannya di ajang Festifal Film akhir tahun- dengan teman-teman satu timnya, ia berencana ingin langsung pulang. Namun sayang, rintikan hujan menghalangi niatnya.

 

Setelah puas mengusap-usap mantelnya, ia mulai menoleh ke sekitar.  Ternyata sekarang ia sedang berdiri di depan sebuah cafe. “Chocolatte”, begitulah nama cafe ini. Cafe tempat para mahasiswa Konkuk university biasa menghabiskan waktu senggangnya. Cafe ini terletak di tengah-tengah kompleks universitas.

Min Ho  membalikkan tubuhnya kebelakang, berhadapan dengan dinding kaca yang membatasi cafe ini. Matanya menembus ke dalam ruangan cafe yang terlihat hangat. Tiba-tiba matanya terpaku pada satu titik dalam cafe itu, satu titik yang membuatnya sangat tertarik, satu titik yang membuatnya bergeming sejenak, dan.. satu titik yang membuatnya tanpa sadar melangkahkan kaki memasuki cafe itu.

 

Ting..

Terdengar dentingan pintu cafe saat kaki panjangnya telah memasuki cafe itu. Seketika kehangatan menjalari tubuhnya saat melangkah di dalam cafe. Sangat kontras dengan keadaan di luar yang sangat dingin.

Kini ia telah duduk di salah satu meja di sudut kanan cafe ini. Seorang pelayan menghampirinya. Setelah Min Ho mengucapkan pesanannya, pelayan itupun pergi.

 

Setelah pelayan itu pergi, ia kembali mengamati satu titik yang menariknya tadi.  Satu titik yang tak lain adalah seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu nan bergelombang, sedang duduk dan memainkan gitarnya di depan cafe. Rambut bergelombangnya yang ia biarkan tergerai itu, terlihat menutupi wajahnya. Namun, Min Ho tetap dapat melihat seulas senyum tipis dari bibir gadis itu.  Senyuman yang sangat damai dan indah.

 

Gadis itu tampak begitu menghayati permainan gitarnya. Ia menunduk, memperhatikan setiap petikan jarinya. Sesekali gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan, mengikuti musik yang di mainkannya. Ya, musik yang di mainkannya terdengar sangat merdu. Setiap petikan gitarnya terdengar sangat menenangkan.

 

“Ini pesanan anda tuan,” ucap seorang pelayan yang membuyarkan lamunan Min Ho yang sedari tadi memperhatikan gadis itu.

 

“Oh, khamsahamnida.” Balasnya sambil menundukkan sedikit kepalanya.

 

Secangkir Americano mengepulkan asap di hadapannya. Min Ho mengangkat cangkir americano itu, lalu mulai menyeruput isinya.

 

Entah berapa lagu yang telah di mainkan gadis itu, Min Ho masih setia mendengarkannya. Min Ho menopangkan dagu di kedua tangannya, menatap lurus pada gadis itu. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang di miliki gadis itu yang membuatnya sangat tertarik. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

 

Min Ho mengeluarkan secarik kertas dari tas ranselnya, lalu memandangi lagi wajah si gadis berponi yang memainkan gitar di hadapannya itu. Sedetik kemudian, ia mulai menuliskan sesuatu di atas kertas.

 

***

 

Hujan, hari ini kembali hujan. Musim dingin kali ini terasa semakin dingin ditemani oleh turunnya sang hujan. Jung Eun Mi, gadis itu menopangkan dagu sambil memperhatikan keadaan di luar melalui dinding kaca di sampingnya. Matanya menerawang menembus dinding kaca itu. Ia melihat rintik-rintik hujan yang turun dari langit mulai membasahi tanah di luar sana.

 

Setelah beberapa saat melamun, Eun Mi mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan. Tepatnya ke panggung kecil yang terletak di depan cafe yang di lengkapi oleh peralatan band.

 

Eun Mi membuka tas gitarnya, tiba-tiba secarik kertas meluncur dari dalam tas gitar tersebut.  Eun Mi memunguti kertas kecil itu dan membacanya. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat, mengukir seulas senyum tipis di wajah dinginnya. Kertas ini, kertas yang di terimanya dari pelayan cafe seminggu yang lalu.

 

Permainan gitarmu sangat indah. Dan sepertinya, aku akan menjadi pendengar setiamu mulai saat ini..^^

Begitulah isi memo kecil itu. Eun Mi merasa senang karena sekarang ia telah memiliki pendengar setia. Tapi sayangnya ia tidak tau siapa yang memberikan memo ini untuknya.

 

Setelah duduk di atas kursi, Eun Mi mulai memetik gitarnya. Ia begitu fokus dengan setiap gerakan jarinya. Gadis itu mulai terhanyut dalam nada-nada merdu yang di keluarkan oleh gitar akustik di dekapannya itu.

 

Eun Mi memejamkan mata sambil menghayati musik yang di mainkannya. Hingga saat ia membuka mata kembali, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata seorang laki-laki.

 

Waktu terasa berhenti sejenak,

Duggeun..

Duggeun..

Eun Mi serasa dapat mendengar detakan jantungnya sendiri yang terdengar lebih merdu dari biasanya. Ia mulai merasakan desiran aneh. Laki-laki itu, sudah 7 hari ini Eun Mi melihatnya duduk di sana. Ya, sudut sebelah kanan cafe ini adalah pilihan laki-laki itu. “Apakah dia yang telah memberikan memo itu untukku?” batin Eun Mi

 

Eun Mi masih memetik senar gitarnya, tanpa sadar matanya mengamati laki-laki yang kini juga sedang menatapnya itu. Mata laki-laki itu tidak terlalu sipit, bernaung di bawah sepasang alis yang tebal. Bibirnya berwarna merah alami, melengkung dengan sangat indah di bawah hidung yang sangat mancung. Rambutnya hitam kecoklatan, dengan potongan rapi dan sedikit poni. Menambah kesan cool dari laki-laki itu. Kulitnya terlihat sangat putih dan bersih, di topang oleh tubuh yang sangat proporsional. Perlahan terlihat guratan senyum di wajah laki-laki itu, membuat Eun Mi tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum.

 

Ting..

Tiba-tiba terdengar suara dentingan pintu cafe, membuat Eun Mi tersadar dari pengamatannya dan cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ia tampak sedikit salah tingkah.

 

LEE MIN HO POV

Lagi, hari ini lagi-lagi aku duduk di sini. Ya, sudut sebelah kanan cafe ini selalu menjadi pilihanku. Sudah 7 hari ini aku duduk di sini untuk mengamatinya, si gadis berambut coklat bergelombang itu. Si gadis berponi yang memainkan gitar akustik itu selalu membayangiku, membuatku tak henti-hentinya memikirkannya dan dengan rela meluangkan waktuku hanya untuk melihat permainan gitarnya.  Pekerjaan yang bodohkah? Entahlah, ini di luar logikaku.

 

Aku  mengamatinya yang sedang sibuk memainkan gitar. Perlahan gadis itu memejamkan mata, seperti mencoba menghayati permainan gitarnya. Pernahkah aku bilang bahwa gadis itu cantik? Sepertinya belum. Baiklah, aku akan mengatakannya sekarang. Gadis itu tidak cantik, tapi ia sangat manis.

 

Aku sangat menyukai hidung mancungnya yang mungil dan bibir cherrynya yang berwarna merah pucat. Dan… astaga.. ia membuka matanya. Di saat itulah aku melihat mata hitamnya yang bening itu. Tanpa sadar, kedua sudut bibirku terangkat membentuk seulas senyum. Aku tersenyum seperti orang bodoh yang sangat mengaguminya.

 

Tapi, tunggu.. Yatuhan, ia juga tersenyum padaku. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum itu, apa senyum itu untukku? Tahukah kau betapa bahagianya aku saat ini? Betapa bahagianya aku melihat senyum pertamanya itu. Sangat indah, sungguh indah. Dulu aku hanya melihat senyum itu secara samar di balik rambut coklatnya, namun sekarang ia tersenyum langsung padaku. Astaga.. jantungku serasa akan meledak karena bahagia.

 

Lama kami saling menatap dan bertukar senyum dari jauh, hingga…

 

Ting..

Terdengar suara dentingan pintu cafe, membuatku tersadar dari tatapanku padanya. Gadis itupun memalingkan wajahnya, seakan baru tersadar sepertiku.

 

Huuhh… tuhan, siapakah yang telah memasuki cafe ini dan mengganggu pemandangan indahku? Siapapun dia, aku menyumpahinya karena telah merusak kebahagiaanku yang sedang mengamati senyum di wajah gadis itu.

Aku menundukkan wajahku dengan tidak bersemangat. Tiba-tiba aku merasakan seseorang menyentuh bahuku.

 

“Hei, sudah lama menunggu?”

 

Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya. Huuhh.. ternyata dia, si laki-laki bermata sipit itu. Jadi dia yang telah membuat pintu cafe ini berdenting dan membuat gadis di depan sana itu memalingkan wajahnya. Aku menyipitkan mataku melihatnya.

 

“Huuhh.. ternyata kau.” Sahutku dengan tidak bersemangat.

 

“Iya.. memang kenapa? Ada yang salah denganku?”

 

Aniya.. sudahlah, ayo duduk.”

 

Laki-laki itupun duduk. Ya, dia Jung Il Woo. Temanku sejak di SMA dulu. Hingga sekarang kami masih sangat dekat. Aku ingin meminta bantuannya membuatkan soundtrack untuk film pendekku, karena kebetulan ia kuliah di jurusan musik.

 

Beberapa saat kemudian seorang pelayan mendekati kami, Ill Wo memesan secangkir latte hangat. Setelah pelayan itu pergi, kami melanjutkan perbincangan kami.

 

“Jadi, bagaimana? Kau bisakan membantuku membuatkan Soundtrack untuk film pendekku?” tanyaku langsung.

 

“Hmm.. mianhae Min Ho-ya.. sebenarnya ini yang ingin ku sampaikan padamu. Sepertinya aku tidak bisa membantumu, mianhae.. ” Semangatku langsung mencelos ketika mendengar ucapan Il Woo barusan. Dia tidak bisa? Huuhh… padahal ia yang ku harapkan bisa membantuku.

 

“Seminggu ini aku akan sibuk mempersiapkan festifal musik di Jeju, dan sepertinya aku tidak akan bisa membuatkan lagu untuk soundtrack filmmu dengan tepat waktu.” Lanjutnya lagi. Ya, aku tidak bisa menyalahkannya. Ia pun memiliki kesibukan lain, tidak mungkin aku memaksakannya membantuku sementara ia sedang sibuk.

 

Gwaenchana.. kau tenang saja, aku akan mencari orang lain. Sekarang kau lebih baik fokus pada festifal musik di Jeju itu.” Ujarku seraya menepuk pelan bahunya dan tersenyum.

 

Ani.. aku harus bertanggung jawab karena aku telah berjanji padamu. Kau tenang saja teman, aku sudah menyiapkan seseorang untuk membantumu.” Ucapan Ill Wo barusan seperti sebuah angin segar yang ku rasakan.

 

“Benarkah? Siapa dia?” tanyaku dengan antusias.

 

“Kau ingin tau sekarang?” tanyanya iseng. Aku mengangguk dengan pasti. “Lihat ke depan sana,” ucapnya kemudian. Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan ucapannya. Seperti mengerti kebingunganku, ia pun melanjutkan, “ Itu, yang di panggung kecil didepan sana. Gadis yang memainkan gitar itu yang akan membantumu.” Jelasnya.

 

Sebentar.. apa kata Il Woo? Gadis yang bermain gitar di depan sana? Aku menoleh ke arah yang di maksud Ill Wo. Gadis itu.. jadi gadis itu yang akan membantuku?

 

“Gadis itu? Kau mengenalnya?”  Tanyaku penuh selidik.

 

“Ya, aku mengenalnya. Ia temanku di jurusan musik. Kebetulan ia tidak ikut festifal musik di Jeju, dan kemarin aku sudah meminta bantuannya untuk menggantikanku membuatkan soundtrack untuk filmmu. Bagaimana? Kau setuju kan? Aku sudah menjelaskan…..”

 

Aku tidak menyimak lagi ucapan Il Woo. Saat ini, aku lebih memilih melihat gadis itu. Akhirnya.. akhirnya aku memiliki jalan untuk mendekatinya. Haha.. terimakasih tuhan, kau telah mengirimkan seseorang untuk membantuku dekat dengan gadis itu. Aku tidak jadi menyumpahi orang yang membuat pintu tadi berdenting, karena ternyata ia adalah Il Woo, sahabatku yang akan memberikan jalan untukku mendekati gadis itu. Aku tersenyum simpul mengingatnya.

 

Ya! kau mendengarku tidak? Huuhh…”

 

“Eh? Iya, tentu saja aku mendengarmu. Aku sangat setuju denganmu, hehe..” sahutku sambil terkekeh.

 

“Kenapa terkekeh seperti itu?” Il Woo mengangkat sebelah alisnya, ”Ooh.. sepertinya aku tau kenapa kau terkekeh seperti itu.” Lanjutnya lagi dengan nada curiga. Sepertinya ia mengerti apa yang ada di fikiranku.

 

“Jangan bilang, kau ingin menjadikan gadis itu sebagai targetmu?  Ya! aku peringatkan ya, dia tidak seperti gadis lain yang dengan gampang bisa kau dapatkan. Dia berbeda.”  Tegasnya. Apa maksudnya? Aku mengerutkan dahi dalam, mencoba mencerna ucapannya.

 

“Sulit untuk ku dapatkan? Hah..”  sebuah seringaian muncul di wajahku. “Mari kita lihat, sejauh mana ia susah untuk ku dapatkan..” ucapku dengan tegas.

 

“Baiklah, mari kita lihat. Dan sebagai informasi untukmu, ia termasuk gadis dingin yang susah di dekati. Aku saja yang tampan seperti ini tidak mampu meluluhkan hatinya. Apa kekuranganku, hingga ia tidak bisa luluh denganku.” Gumam Il Woo lagi.

 

“Tentu saja kau kurang tampan dariku.”

 

Plak.. sebuah jitakan mendarat di kepalaku. Aww.. jiatakan Il Woo cukup menyakitkan. Aku menegerucutkan bibirku dan menatapnya dengan dendam. Awas saja, akan ku balas jitakannya.

 

***

Kaki ku melangkah dengan ringan, melewati deretan pepohonan yang sudah meranggas dan di penuhi salju. Siang ini cuaca cukup bersahabat, tak ada tanda-tanda akan turunnya sang hujan. Meskipun langit tak begitu cerah, namun awan putih yang berarakan di atas sana terlihat sangat indah.

 

Saat ini aku sedang berjalan menuju taman belakang kampus. Il Woo bilang, gadis itu suka menghabiskan waktu dan mencari inspirasi untuk menulis sebuah lagu di taman belakang kampus.

 

Langkahku terhenti tepat beberapa meter di depan sebuah pohon besar. Dari sini aku bisa melihatnya. Dia, si gadis yang pandai bermain gitar itu. Jung Eun Mi, begitulah Ill Wo menyebut namanya.

 

Dia terlihat bersandar pada pohon besar itu sambil memejamkan mata dan menengadah ke atas. Terlihat sepasang headset putih tergantung di telinganya. Hei, apa dia tidur? Gadis yang cukup unik. Sekilas aku tersenyum melihat tingkahnya.

 

Terlihat sebuah gitar yang bersandar di sebelahnya. Dan sebuah buku beserta pena yang tergeletak di pangkuannya.

 

Aku mendekatinya, setelah sampai di hadapannya aku berdehem kecil. Berharap ia akan menyadari keberadaanku.

 

“Ehm.. cogiyo..” panggilku pelan. Takut akan membuatnya terkejut dari tidurnya.

 

Lama aku menunggu reaksinya, hingga aku dapat memperhatikan wajahnya dari jarak sedekat ini. Wajahnya sangat manis, namun terlihat begitu dingin dan pucat. Membuat kesan misterius dan tertutup.

 

“Jung Eun Mi-ssi..” panggilku kemudian karna tak kunjung mendapat jawaban darinya. Apa dia benar-benar tertidur?

 

“Ehm.. ne?” ucapnya pelan sambil membuka matanya. Dan.. inilah pertama kali kami bertatapan secara langsung sedekat ini. “ Nuguya?” tanyanya lagi sambil memperbaiki duduknya dan melepas headset dari telinganya.

 

“Oh, maaf..  Lee Min Ho imnida, aku teman Jung Il Woo.” Jelasku padanya.

 

“Oh.. ne, Jung Eun Mi imnida. Jung Il Woo sudah memberitahuku tentang soundtrack film pendekmu itu.”

 

“Mm.. bolehkan aku duduk di situ?” tanyaku sambil menunjuk tempat di sampingnya. Ia hanya mengangguk, dan anggukannya itu ku anggap sebagai jawaban “iya”. Dengan segera aku duduk tepat di sampingnya.

 

Seketika atmosfir canggung menemani kami. Tak ada sepatah katapun yang keluar kecuali sikap kikuk. Aku menghela nafas dalam, kemudian menghembuskannya kembali. Setelah tenang, aku mencoba memulai percakapan.

 

“Jadi.. apa kau sudah mulai menulis lagu itu?” tanyaku sambil menoleh padanya. Sedangkan ia hanya memandang lurus ke depan.

 

“Ya, begitulah.” Jawabnya pendek tanpa menoleh ke arahku.

 

“Mm.. jadi kau di sini sedang mencari inspirasi?” tanyaku lagi.

 

“Uhm..” gumamnya sambil mengangguk.

 

Gadis itu meraih gitar akustik di sampingnya, lalu mulai memetik senar gitar itu hingga mengeluarkan sebuah nada. kemudian mengambil buku dan menuliskan sesuatu di atas buku itu. Seperti nada balok yang tak ku mengerti.

 

“Apa aku mengganggu?”

 

“Sedikit.”

 

Aku tersentak mendengar jawabannya. Tak pernah ada seorang gadispun yang merasa terganggu berada di dekatku. Ck! Gadis ini benar-benar..

 

“Oh, maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin membantu jika ada yang ingin kau tanyakan tentang tema filmku.” Jelasku. Tapi ia hanya diam. Aku di acuhkan oleh gadis ini? Aisshh.. “Film pendekku itu bertema tentang cinta secara universal.” Tambahku.

 

“Ya, aku sudah tau dari Jung Il Woo.” Jawabnya dingin. Huuhh.. Benar, Il Woo benar sekali. Ternyata ia gadis yang sangat dingin dan susah di dekati. Jika gadis lain akan memandangiku terus dan berbicara panjang lebar sambil tersenyum, dia malah berbicara pendek dan bahkan tak memandangku. Namun sikapnya ini malah membuatku semakin semangat untuk mendekatinya.

 

“Apa ada yang bisa ku bantu?” tanyaku basa-basi.

 

“Sepertinya tidak.” Sahutnya dengan cuek sambil menuliskan not-not balok d bukunya.

 

Aargghh.. gadis ini benar-benar membuatku kesal, namun juga membuatku semakin tertarik dalam waktu yang bersamaan. Lihat saja, besok kau akan bertekuk lutut padaku.

 

***

 

Americano dan bluberry cake with cheese cream.”

Aku mengeluarkan tab dari tas ranselku setelah memesan menu. Saat ini aku telah  duduk di dalam “chocolatte”. Untuk melihat gadis itu bermain gitar? Tebakanmu salah. Lebih dari itu, aku memang sengaja menunggunya di sini. Kami sudah berjanji akan duduk di sini untuk membicarakan soundtrack itu. Ia bilang, ia hampir menyelesaikannya dan ingin aku mendengarkan dulu. Cepat juga kerjanya, baru 3 hari lalu kami bertemu dan sekarang ia hampir menyelesaikan lagu itu.

 

Aku melirik jam tanganku, 10 menit sudah aku menunggunya di sini namun belum ada tanda-tanda kehadirannya. Aku meletakkan tab yang ku gunakan untuk browsing tadi dan merogoh saku untuk mengambil ponsel.

Setelah selesai mengetik teks sms, aku mencari namanya di kontak ponselku. Kalian bertanya apakah aku memiliki nomor ponselnya? Tentu saja aku punya. Haha.. kalian tidak perlu meragukan kemampuanku dalam hal ini. Setelah menemukan namanya, aku berniat menyentuh tombol send. Tapi, tiba-tiba..

 

Ting..

 suara dentingan pintu cafe sukses menghentikan jari-jariku. Aku menoleh ke arah pintu cafe, dan saat itulah aku melihatnya sedang melangkah masuk sembari mengusap-usap coat berwarna creamnya yang terlihat sedikit basah. Sepertinya di luar kembali hujan. Aku mengangkat sebelah tanganku ke arahnya seraya tersenyum. Ia melihatku, lalu mempercepat langkahnya menuju mejaku tanpa membalas senyumku. Huuhh.. dasar gadis salju. Kenapa aku memanggilnya gadis salju? Karna ia sangat dingin sedingin salju.

 

Saat ini ia telah duduk di hadapanku, seorang pelayan mendekati kami. Setelah ia memesan pesanannya, pelayan itupun pergi meninggalkan kami.

 

“Maaf aku terlambat.”  Ucapnya.

 

Gwaenchana.. aku mengerti jika kau terlambat di kencan pertama kita ini.”

 

“Kencan?” ia mengangkat sebelah alisnya dan menatapku tajam.

 

“Hahaha.. aku hanya bercanda. Jangan telalu serius seperti itu.” Yeess.. aku berhasil mengerjainya. Ia tampak mengerikan dengan tatapan seperti itu, namun malah membuatku semakin menyukainya.

Secangkir coklat panas mengepulkan asap di hadapan kami. Aku mempersilahkannya meminum coklat panasnya dulu. Ia pasti kedinginan, mengingat tubuhnya yang di guyur rintikan hujan tadi.

Setelah menaruh kembali cangkir coklat panas itu, ia meraih tasnya lalu mengeluarkan sebuah I-pod berwarna biru.

 

“Ini,” ucapnya seraya menyerahkan I-pod itu ke tanganku. “Dengarkanlah, jika ada yang kurang pas kau bisa mengatakannya. Aku baru menyelesaikan setengah.” Jelasnya.

 

“Baiklah,”  gumamku. Aku menggantungkan headset putih itu ke telingaku, lalu menekan tombol play di I-pod biru miliknya ini.

 

Sebuah lagu mulai mengalun indah di telingaku. Aku mendengarkan tiap untaian nada  yang membuatku merasa bahagia. Terkesan manis, namun juga energik.  Sesuai dengan yang ku inginkan. Aku tersenyum puas mendengarnya.

 

“Bagus, sesuai dengan yang ku harapkan.” Aku tersenyum padanya sambil mengembalikan I-pod itu ketangannya.

 

“Syukurlah jika kau menyukainya.” Sahutnya sambil menyunggingkan seulas senyum di wajah pucatnya. Apa? Ia tersenyum? Yatuhan, senyumnya itu sangat manis.

 

“Tapi, kenapa belum ada liriknya? Aku hanya mendengar musik saja..”

 

“Ah.. itu masalahnya. Aku belum menyelesaikan liriknya,” ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Ini,” ia menyerahkan buku itu padaku. “ Aku baru menyelesaikan sampai sini. Bisakah.. kau membantuku?”  aku menyeringai, akhirnya gadis ini menyerah dan meminta bantuanku.

 

“Tentu, dengan senang hati aku akan membantumu.”

 

Aku membaca setiap lirik yang telah di buatnya. Sudah cukup bagus, tapi ada yang sedikit ganjil dari lirik itu.

 

“Mm.. sudah cukup bagus, tapi.. aku tidak merasakan feel seseorang yang sedang merasakan cinta dan bahagia.”

 

“Begitu ya?”  ia terlihat serius mendengarkanku.

 

“Tema filmku adalah cinta secara universal. Aku ingin menyampaikan pesan dalam filmku itu bahwa ada banyak cinta yang bisa kita rasakan di dunia ini. Cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada teman-teman, dan.. cinta kepada seseorang yang spesial bagimu. “Seseorang yang spesial” maksudku.. kau mengertikan?” jelasku. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

“Yang paling sangat membantumu untuk membuat lirik cinta adalah, dengan merasakan cinta itu sendiri. Kau bisa meresapi setiap cinta yang telah kau dapat dari orang-orang di sekitarmu. Dengan begitu, jiwamu akan tergugah untuk membuat lirik cinta yang indah.”  ia mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasanku.

Ia memasang headset ke telinganya, lalu meraih bukunya lagi. Terlihat ia mulai menuliskan beberapa kalimat. Ia terlihat sangat serius.

 

Aku menatap wajahnya. Sudah 3 hari aku tidak melihat wajah ini, aku merindukannya. Merindukannya? Haha.. sepertinya otakku memang sudah tidak waras. Ya, aku gila karnanya. Bahkan sekarang aku senyum-senyum sendiri sambil melihat wajahnya.

 

“Jangan menatapku seperti itu!”

 

“Eh?”  astaga! Aku ketahuan. Aku seperti seorang maling yang tertangkap basah. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku.

 

“Kau tau, matamu itu seperti mengeluarkan sinar X yang membakar wajahku. Ada apa dengan wajahku hingga kau melihatku begitu?” ucapnya dengan sinis sambil mengangkat sebelah alisnya.

 

“Ehhemm..” aku berdehem,  “Wajahmu terlalu manis,” ucapku malu-malu.

 

Blushing.. pipinya terlihat memerah mendengar ucapanku.

 

“hahh.. dasar playboy. Gombalanmu itu tidak mempan untukku.” Sahutnya datar sambil menyipitkan mata.

 

“Benarkah? Tapi kenapa pipimu memerah mendengarkan gombalanku? Hahaha..” aku menunjuk pipinya yang kini terlihat lebih merah.

 

Aisshh…” ia mengumpat, lalu kembali meraih penanya dan menunduk menatap bukunya. Hahaha.. ia terlihat salah tingkah. Sangat lucu melihatnya seperti ini.

 

“Eun Mi-ssi..”

 

“Mwoya?”

 

“Apa kau pernah jatuh cinta?” tanyaku dengan hati-hati. Aku sangat penasaran dengan gadis salju ini.

 

“tidak.”

 

“Benarkah?” aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. Dia tidak pernah jatuh cinta? Hei, apa dia serius? Maksudku, di umur 21 tahun ini ia belum pernah jatuh cinta? Waahh.. gadis yang benar-benar spesial.

 

Eun Mi menghentikan tangannya yang sedang menulis. “Iya.. memang kenapa? Kenapa terkejut seperti itu?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.

 

“Ah.. tidak.. aku hanya berfikir, berarti laki-laki yang akan menjadi cinta pertamamu adalah laki-laki yang sangat beruntung. Karena ia telah mampu meluluhkan hati gadis salju sepertimu. Dan semoga saja laki-laki beruntung itu adalah aku.” Ucapku sambil terkekeh.

 

“Huhh.. si playboy mulai menggombal lagi.” Ujarnya datar.

 

***

Angin berhembus cukup kencang, mengisyaratkan akan turunnya sang hujan. Aku merapatkan coat abu-abu yang ku kenakan. Saat ini aku sedang berjalan di tengah ramainya jalanan Insadong.

 

Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku melihat seorang gadis yang sedang berjalan sambil menggendong tas gitar. Bukankah itu dia? Apa yang dia lakukannya di sini? Aku mempercepat jalanku dan mendekatinya.

 

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tegurku saat sudah sampai di hadapannya. Ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk memperhatikan jalan.

 

“Kau?”  ia sedikit terkejut melihatku. “Aku.. aku hanya sedang mencari senar gitar yang baru.” Jelasnya. “Kau sendiri sedang apa di sini?” tanyanya kemudian.

 

“Aku bertemu dengan temanku di sini. “ aku memperhatikan wajahnya. Kenapa wajahnya semakin hari semakin terlihat pucat? Dan, tubuhnya juga semakin kurus.

 

“Ada apa? Kenapa melihatku begitu?” pertanyaannya mengagetkanku yang sedang memperhatikannya.

 

“Ah, tidak..” aku menggeleng. “Jung Eun Mi-ssi..” di luar kendali, tiba-tiba aku memanggil namanya.

 

“uhm?” gumamnya sambil menatapku penasaran.

 

“Wajahmu terlihat pucat. Dan tubuhmu juga terlihat lebih kurus. Apa kau sakit?” akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.

 

Lama ia terdiam, hingga akhirnya ia tersenyum tipis. “Tidak, aku baik-baik saja Min Ho-ssi.. terimakasih sudah memperhatikanku.” Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya itu. akhirnya ia menyadari bahwa aku sangat perhatian padanya. Hehe..

 

“Oh, ya.. bagaimana dengan soundtrack filmku? Apakah sudah selesai?” tanyaku kemudian.

 

“Uhm..” ia mengangguk. “Sudah selesai. Besok akan kuserahkan padamu.” Jawabnya.

 

Tik.. tik.. tik… tiktiktik…

Tiba-tiba rintikan hujan mulai menyentuh kami. “Hei, ayo berteduh!” Dengan refleks aku menarik tangannya untuk mencari tempat berteduh. Seperti dugaanku tadi, hari ini akan turun hujan.

 

Saat ini kami sedang berteduh di depan sebuah toko. aku mengusap-usap telapak tanganku, menghilangkan rasa dingin yang kurasakan. Aku menoleh ke samping, mendapatinya sedang menengadahkan tangan dan menyentuh air hujan yang jatuh melalui cucuran atap tempat kami berdiri.

 

Rambutnya menitikkan air yang jatuh hingga ke pipi. Tubuhnya hampir basah kuyup. Dapat ku lihat ia tersenyum sambil menyentuh air hujan itu.

 

“Apa kau sangat menyukai hujan?”

 

“Ya, begitulah. Aku sangat menyukai hujan.” Jawabnya dengan riang.

 

“Kenapa? Bukankah hujan itu selalu melambangkan kesenduan? Dan lagi, hujan membuat kita basah dan kedinginan.” Aku bertanya lagi.

 

“Iya, kau betul. Hujan selalu melambangkan kesenduan. Tapi, setelah hujan akan ada pelangi yang sangat indah.” jawabnya sambil tersenyum lebar. Aku ikut tersenyum mendengar jawabannya.

 

“Dan juga, coba kau dengar..” dengar? Dengar apa maksudnya? Aku mengerutkan dahiku bingung. “Jika kau dengarkan dengan seksama, kau akan mendengarkan suara hujan yang sangat indah. seperti sebuah nyanyian.” jelasnya sambil mulai memejamkan mata. “Pejamkan matamu!” perintahnya. Aku mengikuti perintahnya dan memejamkan mata.

 

“Dengarlah, hanya ada suara hujan.” Gumamnya pelan. Aku mencoba berkonsentrasi dan mendengarkan suara hujan.

 

Tik..tik..tik..tiktiktiktik… hei, benar.. Eun Mi benar. Sedikit demi sedikit aku bisa mendengar suara hujan. Rintikan-tintikan yang jatuh itu saling berkesinambungan, membentuk sebuah untaian nada dan terdengar seperti sebuah nyanyian. Aku mulai menikmati nyanyian hujan ini.

 

“Aku jadi terpikir sesuatu,” ucapku sambil membuka mata kembali. Ia juga membuka matanya dan menoleh padaku. “Bagaimana kalau kau membuatkan sebuah lagu untukku dari suara hujan ini?”

 

“Mwo?”

“Hei, bukankah kau seorang pencipta lagu yang hebat? Ayolah..” rayuku.

 

“Hmm.. baiklah.. akan ku coba.” Eun Mi menyetujui usulanku. Tiba-tiba ia merogoh saku coatnya, lalu mengambil sebuah pena.

 

“Untuk apa pena itu?”  tanyaku.

 

“Untuk merekam suara hujan..” jawabnya sambil menekan salah satu tombol di pena itu. Tombol? Aku baru tau sebuah pena memiliki tombol seperti itu. “Kenapa menatap begitu? Kau baru tau, ada alat perekam seperti pena ini?” tanyanya lagi.

 

“Ooh, jadi itu alat perekam. Perekam suara saja sudah ada berbentuk pena. Semoga saja besok akan ada payung yang berbentuk pena. hehehe..”

 

“Payung berbentuk pena? Haha..” ia tertawa. Baru kali ini aku melihatnya tertawa. “Lebih baik sekarang kita diam. Aku akan merekam suara hujan.” Perintahnya.

 

Dan.. inilah yang kami lakukan sekarang. Berdiaman sambil menikmati nyanyian hujan. Sejuta bahagia membuncah di dadaku. Meskipun hanya berdiaman, tapi saat ini kami hanya berdua, berdiri berdekatan. Aku sangat nyaman berada di dekatnya.

 

“Sepertinya cukup,” Ucapnya sambil menekan kembali tombol di penanya. Aku menoleh padanya, ia sedang tersenyum manis sekarang. Hahh.. entah telah berapa kali aku mengatakanya. Senyumnya sangat manis. Aku mohon jangan bosan mendengar pengakuanku ini.

 

“Eun Mi-ya..” panggilku. Tunggu.. Sejak kapan aku menggunakan akhiran –ya dan menghapus akhiran –ssi darinya? Entahlah, tapi ini terdengar lebih akrab.

 

Ne?” ia menoleh padaku.

 

“Aku menyukaimu..”

 

DEG! Apa yang telah aku katakan? Aishh.. kenapa aku mengatakannya sekarang? Yatuhan.. aku sudah terlanjur mengatakannya. Ya, hatiku tak bisa di bohongi. Aku menyukai gadis ini.

 

ia tersenyum miris. “ Jangan menyukaiku.”

 

“Kenapa?”

 

“Pokoknya jangan!”

 

“Apa aku tidak pantas menyukaimu?”

 

“Bukan.. Bukan kau yang tidak pantas menyukaiku, tapi akulah yang tidak pantas untuk kau sukai.”

 

Aku tersentak mendengar jawabannya. Apa maksudnya? Kenapa ia tidak pantas untukku sukai? Dimataku dia sangat pantas untuk ku sukai. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.

 

***

Ting.. pintu cafe berdenting. Aku melihat kebelakang, dan mendapatinya sedang berjalan ke arahku. Aku tersenyum padanya, dan.. hei! Kali ini ia membalas senyumku.

 

“Sudah lama menunggu?” tanyanya saat telah duduk di hadapanku.

 

“Lumayan. 30 menit..”

 

Mianhae..” sesalnya.

 

Gwaenchana..” sahutku sambil tersenyum.

 

Eun Mi membuka tasnya, lalu mengeluarkan satu keping disc. Ia menyerahkan disc itu padaku. “Ini,” ucapnya.

Aku mengambil disc dari tangannya. Hei.. apa ini? Tangannya terasa sangat dingin. Aku mengangkat kepalaku dan memperhatikannya, hari ini ia terlihat sangat lesu. Bibirnya pecah-pecah dan wajahnya terlihat pucat. Ada apa dengannya? Raut wajah khawatir tak dapat kuhindarkan dari wajahku. Aku menyentuh dahinya. Terasa panas.

 

“Kau kenapa? Apa kau sakit karena hujan kemarin?” tanyaku dengan panik.

 

Ia menepis tanganku dari dahinya. “Aku baik-baik saja. Sudahlah, tidak perlu khawatir.” Ucapnya sambil tersenyum lesu.

 

“Tapi..”

 

“Sudahlah,” ia memotong ucapanku. “Pemutaran filmmu seminggu lagi, ya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

 

“Iya, seminggu lagi. Tepat di malam tahun baru.” Jelasku. “Kau.. pasti datang, kan?” tanyaku dengan penuh harap.

 

“Mmm.. aku belum tau.”

 

“Apa? Hei! Kau harus datang! Di dalam film ku itu juga ada karyamu. Soundtracknya kan ciptaanmu.”

 

“Haha.. aku hanya bercanda.. kenapa emosi begitu.. haha..” ia tertawa lemah. Entah kenapa aku tidak bisa ikut tertawa. Tawanya itu tidak membuatku bahagia. Ia terlihat sangat lemah.

 

“Kau janji akan datang?” tanyaku ingin memastikan.

 

“Iya, aku janji.”

 

“Janji?” tanyaku lagi sambil mengulurkan jari kelingkingku.

 

“Janji..” ucapnya sambil menyatukan kelingkingnya denganku.  Baiklah, aku bisa tenang sekarang. Ia sudah berjanji. Aku tersenyum. Tiba-tiba.. aku melihat sesuatu yang aneh dari pergelangan tangannya.

 

“Eun Mi-ya.. apa itu? Tanganmu kenapa?” tanyaku sambil menyentuh benjolan di pergelangan tangannya.

 

“Ah.. itu bukan apa-apa..” ia menarik tangannya. Aku kembali mengamatinya. Dan.. itu.. mataku melebar melihat lehernya.

 

“Eun Mi, ada apa denganmu? Lehermu juga…” aku menunjuk benjolan di lehernya. Dengan cepat ia menutupi benjolan itu.

 

“Sudah kukatakan, aku baik-baik saja Min Ho-ya..” ia mengelak, namun wajahnya terlihat kaku dan cemas.

 

“Huuhh.. baiklah, jika kau tidak ingin cerita.”  Ujarku dengan pasrah. “Oh,ya.. lagu dari suara hujan untukku bagaimana?” aku mengulurkan tanganku.

 

Dia menepuk telapak tanganku yang terjulur. “Sabarlah! Kau kira gampang membuat sebuah lagu?” Ia mengerucutkan bibirnya.

 

“Haha.. baiklah.. aku tunggu di malam pemutaran filmku. Aku yakin, kau bisa menyelesaikannya dalam waktu seminggu.”

 

Ia mengangguk. “Tunggu saja.” Gumamnya. “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu seminggu lagi.” Ucapnya sambil mulai bangkit dari duduk.

 

“Hei, kenapa cepat sekali?”

 

“Aku ada sedikit urusan.”

 

“Baiklah, sampai bertemu seminggu lagi. Ingat, aku akan menunggumu sampai kau datang. Jangan pernah melupakan janjimu.” Tegasku.

 

“Haahh.. baiklah tuan cerewet.” Sahutnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya. Aku menerima uluran tangannya. “Good luck Lee Min Ho.. semoga filmmu menang.”

 

“Iya, terimakasih atas bantuanmu.”

 

Kami melepaskan jabatan tangan kami. Kami saling memandang untuk sejenak, lalu ia membalikkan tubuhnya. Perlahan, aku melihat punggungnya yang perlahan menjauhiku.. meninggalkanku di sini.

 

***

Aku melirik jam tanganku dengan gelisah.. jam 23.45, sekarang sudah jam 23.45 malam. Namun aku tidak melihat tanda-tanda kehadirannya. Aku mengedarkan pandanganku, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Tetap tidak ada dia.

 

Filmku telah selesai di putar. Semua berjalan lancar. Aku sangat bersyukur pada tuhan. Namun, semua itu terasa hambar tanpa kehadirannya. Kemana dia?

 

“Min Ho-ya..”

Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh kebelakang.

 

“Ah, Il Woo-ya..”

“Filmmu sangat bagus. Banyak pesan yang kau sampaikan di dalam film itu. Selamat ya..” ucapnya seraya memelukku.

 

Ne, terimakasih sudah menontonnya.” Jawabku sambil tersenyum. Kami melepaskan pelukan kami.

 

“Apa kau tau dimana Jung Eun Mi? Ia janji akan datang. Tapi sampai sekarang ia tidak datang.” Keluhku pada Il Woo.

 

“Jung Eun Mi? Hmm.. aku juga tidak melihatnya. Seminggu ini ia juga tidak masuk kuliah.”

 

“Benarkah?” aku mulai gelisah mendengar pernyataan Il Woo. Bahkan ia tidak masuk kuliah? Ada apa dengannya.

 

“Coba hubungi dia. Kau punya nomor ponselnya kan?” ah, iya.. kenapa tidak terfikir dari tadi olehku. Aku meraih ponselku dan mencari namanya.

 

Aku menghela nafas panjang, “Bagaimana?” tanya Il Woo. Aku menurunkan ponsel dari telingaku dengan tidak semangat.

 

“Ponselnya tdak aktif.” Jawabku. Aku melirik lagi jam tanganku, sekarang sudah jam 23.55. lima menit lagi tahun akan berganti. Ia tidak menepati janjinya padaku.

 

“Sudahlah.. mungkin ia memang tidak bisa hadir. Besok kan masih bisa bertemu.” Ucap Il Woo sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku menyunggingkan seulas senyum tipis padanya. “Ayo, kita berkumpul dengan teman-teman yang lain!” ajak Il Woo. Aku mengangguk dan mengikutinya. Tiba-tiba..

 

Drrtt.. drtt.. ponselku bergetar. Aku melihatnya, dan ternyata telfon dari Eun Mi. “Tunggu, Eun Mi menelfonku.” Aku menahan Il Woo.

 

Dengan tidak sabar aku mengangkat telfon itu.

 

Yeoboseyo?”

Ehm.. yeoboseyo..” aku mengerutkan dahiku. Kenapa suara.. laki-laki.. Il Woo memberi kode –bertanya- padaku. Namun aku tak menjawabnya.

 

“Benarkah ini Lee Min Ho-ssi?” tanya suara di seberang sana.

 

“Benar.. kau siapa? Kenapa memakai ponsel Eun Mi?”

 

“Aku adik Jung Eun Mi.” Aku menghela nafas dengan lega. Ternyata adiknya. Aku kira kekasihnya. Tapi.. hei, untuk apa adiknya menelfonku.

 

“Begini, apa noona memiliki janji padamu?” tanya suara itu lagi.

 

“Mmm.. iya, Eun Mi berjanji akan menemuiku hari ini.”

 

“Maaf Lee Min Ho-ssi.. noona minta maaf karena tidak menepati janjinya.” Suaranya terdengar bergetar. Ada apa dengannya?

 

“Tidak apa-apa. Tapi, memangnya ada apa dengan Eun Mi? Apa Eun Mi sakit?” tanyaku dengan khawatir.

 

Noona.. noona.. baru saja meninggal dunia..”

 

Duar…!! duar…!! terdengar suara dentuman kembang api yang menandakan telah bergantinya tahun. Ya, tahun baru telah datang. Tubuhku membeku, aku terkejut luar biasa. Bukan, bukan karena dentuman kembang api itu. Tapi karena kabar bahwa Eun Mi telah.. meninggal dunia.. apa ini? Apa aku salah dengar. Tidak, aku tidak percaya. Tubuhku bergetar hebat. Bibirku tak dapat berkalimat.

 

Mianhae Lee Min Ho-ssi.. Hiks..“ samar-samar dapat ku dengar isakan tangis di seberang sana. “Aku mewakili noona ingin minta maaf padamu. Ia benar-benar menyesal. Ia benar-benar ingin menepati janjinya. Tapi tuhan berkata lain. Aku mohon maafkanlah dia. Hingga akhir hayatnya, ia tak henti-hentinya mengucapkan maaf padamu.” Isakan di balik sana semakin menjadi, bahkan sudah terdengar seperti sebuah raungan.

 

Aku masih terdiam, tak dapat bergerak sedikitpun. Aku masih belum percaya. Dunia serasa membeku, membuatku menggigil kedinginan. Dingin.. hatiku terasa dingin sekali. Tanpa dapat di kendali, untaian air mata itu menjatuhi pipiku.

 

“Eun Mi.. Jung Eun Mi..!!!” aku berteriak, tanpa dapat di kendalikan tubuhku tersungkur. Aku berlutut di atas tanah. Il Woo yang melihatku langsung memelukku, mencoba menenangkanku. Jung Eun Mi.. kenapa kau meninggalkanku secepat ini? Kenapa?  Tuhan.. apa salahku? Kenapa dalam sedetik kau membuatku mencintainya, dan sekarang dalam sekejap mata kau mengambilnya dariku. Kenapa, tuhan?

 

***

Hujan merinai pelan, membasahi tanah pemakaman Eun Mi. Terlihat para pelayat sudah berjalan meninggalkan makam Eun Mi. Dapat kulihat ayah dan ibu Eun Mi sedang menangis sejadi-jadinya. Dan di belakangnya, berdiri seorang anak laki-laki yang berusaha menenangkan orang tuanya. Air mataku berderai begitu saja saat melihat makam Eun Mi.

 

“Sudahlah, cobalah untuk merelakannya. Ia tidak akan tersenyum melihat tangismu ini. Hapuslah tangismu itu, teman.” Il Woo menepuk-nepuk pelan pundakku. Aku menganggukkan kepala dan menghapus air mataku.

 

Kajja!” ajak Il Woo. Aku mengikuti langkahnya.

 

“Cogiyo…” seseorang menghentikan langkah kami. Aku menoleh ke belakang dan mendapati anak laki-laki tadi.

 

“Apa kau Lee Min Ho?” tanyanya kemudian. Aku menganggukkan kepalaku. “Aku Jung Eun Woo, adik Jung Eun Mi.” Jelasnya.

 

“Ah, ya.. annyeong Eun Woo-ssi.” Ucapku sambil sedikit menundukkan kepalaku.

 

“Eun Mi noona menitipkan ini untukmu.” Ucapnya seraya menyerahkan sebuah I-pod berwarna biru padaku. I-pod itu sudah tak asing lagi bagiku. I-pod milik Eun Mi. “Noona menyuruhmu untuk mendengarkan isi I-pod ini.”

 

Aku menerima I-pod dari tangannya. “Khamsahamnida.” Ucapku sambil membungkukkan tubuhku. Ia membalas membungkukkan tubuhnya dan berjalan meninggalkanku.

 

Aku menggenggam I-pod itu dengan sangat erat, lalu kembali melanjutkan jalanku.

***

 

Saat ini aku sedang berdiri di balkon kamarku. Aku menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya lagi dengan tidak bersemangat. Kemudian aku menengadahkan kepala menatap langit kelam di atas sana. Tidak ada bintang, membuatku menyeringai.

 

Sepi, dingin, hampa. Itulah yang kurasakan sekarang. Ia telah pergi, pergi keatas sana. Aku menunduk sejenak, menenangkan diri yang semakin tak kuasa menahan duka. Mataku sudah mulai berkaca-kaca mengingatnya.

Aku memasukkan telapak tanganku yang terasa dingin ke dalam saku. Tiba-tiba..

 

Aku mengeluarkan sebuah I-pod dari sakuku. Iya, ini I-pod yang diberikan adik Eun Mi tadi. “Noona menyuruhmu untuk mendengarkan isi I-pod ini.”  Kata-kata Eun Woo tadi terngiang-ngiang di telingaku. Aku menggantungkan headset putih itu di telingaku dan menekan tombol play.

 

Lama aku menunggu isi I-pod ini, tapi tak terdengar apa-apa. Hingga akhirnya terdengar sebuah suara.

 

“Hei, playboy tukang gombal!” Eun Mi? Aku tersentak mendengar suara itu. Tenggorokanku tercekat. Aku menoleh ke sekitar, tapi tidak menemukannya.

 

“Mungkin saat kau mendengar rekaman ini, aku sudah tidak ada lagi di sampingmu.” Suara itu terdengar begitu lemah. “Maukah kau mendengarku?” suara itu bertanya lagi. Aku hanya diam dan mendengarkannya.

 

“Lee Min Ho-ssi.. maaf.. maaf karena aku tidak menepati janjiku. Ingin sekali rasanya aku melihat pemutaran filmmu, tapi sayang.. tubuhku terlalu lemah untuk menunggu hingga hari pemutaran filmmu itu.”

“Lee Min Ho-ssi.. bolehkah aku berkata jujur? Ehm.. sebenarnya, aku telah mencintaimu sejak  pertama kali pandangan kita bertemu. Kau ingat? Di cafe itu saat aku memainkan gitarku? Ya, hari itu adalah hari ketujuh dimana aku melihatmu duduk di sudut kanan cafe itu. dan saat itu pula aku menyadari bahwa memo kecil itu adalah pemberianmu. Tebakanku benar, bukan? Min Ho-ssi, apakah ini yang dinamakan love at the first sight? Entahlah, yang aku tau semenjak kejadian itu jantungku selalu berdetak tak karuan bila di dekatmu. Dan, wajahmu itu selalu hadir di benakku.”  Aku menyunggingkan seulas senyum saat mendengarnya. Ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku.

 

Aku selalu berpura-pura tidak menyukaimu, berpura-pura cuek dan dingin di hadapanmu, bahkan terkadang aku juga sinis kepadamu, tapi sungguh.. semua itu ku lakukan agar kau tidak menyukaiku. Aku bukanlah gadis yang pantas untuk kau sukai. Aku hanya gadis penyakitan yang menunggu ajal. Kau tau Limfoma? Aku menderita Limfoma atau kanker getah bening stadium akhir. Sakit, tapi sedikit terobati dengan kehadiranmu di sisiku.” Mataku mulai panas. Hatiku terasa perih mendengarnya.

 

Sekuat apapun aku berpura-pura tidak menyukaimu, tetap saja hati dan logika tak dapat sekata. Logikaku berkata agar aku tidak menyukaimu, namun hatiku berkata aku menyukaimu. Dan pada akhirnya aku menyerah pada hatiku.”  Setetes cairan bening itu lolos dari pelupuk mataku. Aku mengusapnya cepat. Tidak, aku tidak boleh menangis.

 

“Pertemuan singkat kita ini telah memberikan banyak arti pada sisa hidupku yang sedikit ini. Seperti katamu, ada banyak cinta yang bisa kita rasakan di dunia ini. Aku telah merasakan cinta kepada orang tuaku, aku telah merasakan cinta kepada adikku, aku telah merasakan cinta pada teman-temanku dan orang-orang di sekitarku, namun ada satu jenis cinta yang belum aku rasakan. Yaitu, cinta kepada seseorang yang spesial. Dan kau mengizinkanku untuk merasakan cinta jenis itu sebelum aku pergi.  Terimakasih.”

Lee Min Ho-ssi.. Ingatlah, setelah hujan akan ada pelangi yang indah. anggaplah aku sebagai hujan yang singgah di dalam hidupmu yang damai, dan sebentar lagi setelah aku pergi akan ada pelangi yang menghiasi hidupmu. Percayalah.”

“Hei, jika kau menangis saat ini, hapuslah air matamu. Aku tidak suka melihatmu menangis. Aku akan tersenyum bila melihatmu tersenyum.”

 

“Satu lagi, aku pernah berjanji membuatkan sebuah lagu dari suara hujan untukmu. Sekali lagi aku minta maaf. Maaf karena aku tidak bisa menepatinya. Aku hanya bisa menyelesaikan setengahnya saja. Dengarkanlah lagu yang setengah jadi itu, aku harap lagu itu dapat menghiburmu. Tetap semangat mengejar cita-citamu! Aku tau, kau akan jadi sutradara yang sukses. Selamat tinggal Lee Min Ho-ssi. Selamat tinggal cinta pertamaku. Selamat, kau lah laki-laki beruntung yang menjadi cinta pertamaku. Saranghamnida, chagiya..”

Suara itupun berakhir, digantikan oleh suara petikan gitar yang di kombinasi dengan suara rintikan hujan. Lagu ini.. ya, ini adalah lagu yang di ciptakannya untukku.

 

Air mata mengucur deras dari pelupuk mataku. Aku terduduk, tersungkur di atas lantai yang dingin. Dadaku terasa sangat sesak. Aku juga mencintaimu Jung Eun Mi. Nado saranghae chagiya.. kenapa kau pergi begitu cepat? Bahkan sebelum aku bisa mengatakan seberapa besar cintaku padamu.

 

Aku menangis sesenggukan. Laki-laki tak boleh menangis, ayahku selalu bicara begitu. Tapi untuk kali ini aku mengalah, mempertaruhkan harga diriku. Hatiku tak dapat bohong. Aku terluka saat ini.

 

Aku merengkuh kedua kakiku, lalu membenamkan kepalaku di sana. Tiba-tiba kurasakan seseorang memelukku. Pelukan yang sangat hangat di malam yang dingin ini.

 

“Uljima, chagiya..”  bisiknya di telingaku.

 

“Aku mohon jangan menangis..” bisik suara itu lagi.

 

Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya.. dia.. Jung Eun Mi?

 

Tubuhnya terlihat pucat pasi. Ia tersenyum padaku. Senyuman di wajahnya yang sangat pucat itu, masih terlihat manis di mataku. Bagaikan menular, aku ikut tersenyum dalam tangisku. Ia merangkulku lagi, membuatku merasa sangat hangat. Biarlah aku berpuas-puas merasakan pelukannya ini, hingga waktu kembali memisahkan kami.

 

Terimakasih tuhan, engkau telah memberikan sedikit waktu untuk kami. Meski kini, dunia kami telah berbeda..

 

 

 

5 thoughts on “=New year’s promise =

  1. SUMPAHHHHHHHHHH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!… ff ini sukses bikin gue nangis di warnet…….DAEBAKKKKK .. keren …sukses buat yg bikin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s