STUPID IN LOVE (Chapter 7)

 

kyuhaetumblr_lyimbexooA1rngyzno1_500

STUPID IN LOVE

 

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 15+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Park Hye Jin, Cho Kyuhyun, Xiu Luhan.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini membuat anda mual. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

 

 

*CHAP SEVEN*

[AUTHOR SIDE]

“Ahya ah, eottokhe? Dia pasti salah paham” Kyuhyun menyambar pundaknya, mengguncangnya perlahan membuat Ahya bangun dari lamunannya. Tatapannya mengabur saat matanya tak dapat lagi menatap punggung Donghae yang sudah hilang dibalik pintu.

Ahya menghelan nafas, pandangannya beralih pada namja yang tengah terdiam dihadapannya dengan raut seribu kali lebih bersalah. “Entahlah, biar saja Kyu. Aku tak yakin dia marah, kita tak ada apa-apa” balasnya.

“Arraseo, tapi aku yakin dia cemburu padaku”

“Cemburu? Tidak mungkin! Kau melantur” Ahya tertawa hambar. Donghae cemburu pada Kyu? Mimpi saja! Pria itu mana mungkin menyukaiku, dia hanya menganggapku sahabat! Tidak lebih. Batinnya.

“Uh, mianhae harusnya aku tak memaksamu menyuapiku tadi. Ah, kurasa aku harus bicara dengannya” Kyuhyun melanjutkan langkahnya menatap kearah pintu kamar Ahya yang terletak dilantai dua, pintu itu tertutup rapat.

“Sudahlah Kyu, tak perlu. Biar aku saja yang bicara padanya,” Ahya menarik lengan Kyuhyun, mencegah namja itu menemui suaminya.

“Aniyo, aku yang membuatnya kacau jadi bi—“

“Sudahlah Kyu! Lebih baik kau berangkat kekantor sekarang!” nada suara gadis itu sedikit meninggi, ia bimbang. Ahya kalut, ada perasaan takut, lega dan bersalah jadi satu. Gadis itu tak mengerti perasaannya, tapi yang jelas saat ini ia ingin sekali menemui suaminya. Sementara Kyuhyun hanya bisa diam dan patuh, namja itu tersenyum sebelum pergi.

“Baiklah, tolong sampaikan permintaan maafku untuknya” Ahya hanya bisa mengangguk, setelah Kyuhyun pergi Ahya pun mulai menggerakkan kakinya dan melangkah dengan ragu.

Tangan gadis itu terangkat, mengepal dan hendak mengetuk pintu kamarnya sendiri. Ia terlalu bimbang dengan keadaan ini, akhirnya ia memilih untuk masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Matanya tertuju pada pria yang kini sedang sibuk dengan ponselnya, pria itu berdiri menghadap balkon yang ada dikamarnya.

“Do—Donghae ssi” panggilnya, namja itu bergeming namun detik selanjutnya ia menoleh, menatap gadis yang kini sedang menatapnya bersalah. Tatapan datar dan dingin setia menyambut Ahya pagi ini.

“Wae?”

Ahya terdiam, lidahnya kelu. Terlalu sulit baginya untuk mengatakan apa yang dilihat suaminya itu bukanlah seperti apa yang suaminya pikirkan.

“Ahya ssi, bagaimana rasanya menyuapi lelaki itu? Kau bahagia? Kau senang?” dengan susah payah Ahya meneguk ludahnya, matanya melebar tak percaya dengan serentetan kalimat yang baru saja ia dengar. Kenapa pria itu?.

“E—um, i—ii—ini.. tidak seperti yang kau bayangkan Donghae ssi” Ahya meremas tangannya sendiri, menahan gejolak hatinya saat ini. Sementara Donghae hanya bisa menghela nafasnya dengan sangat sulit, sungguh sulit.

“Aku—aku dan Kyuhyun hanya—hanya—“

#Flashback

“Baiklah, aku akan memakan semuanya asal kita bermain sekali saja. Bagaimana?” tawar Kyu sebelum memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya, Ahya terlihat sedang menimbang-nimbang.

 

“Bermain apa?”

 

“Hanya sebuah, batu gunting kertas. Otte? Tiba-tiba aku merindukan permainan konyol itu hehe” Kyuhyun memamerkan senyum konyolnya, sementara Ahya hanya mencibir perkataan Kyu tadi.

 

“Baiklah, jika kau kalah kau harus menghabiskan semuanya dalam hitungan menit!” Ahya tersenyum lebar, sedangkan Kyuhyun melongo tak percaya. Dalam hitungan menit? Menghabiskan roti panggang sebanyak itu? Apa gadis ini gila?. Pikirnya. Tapi bukanlah Cho Kyuhyun namanya jika tak menerima semua tantangan yang ada didepannya.

 

“Oke! Tapi jika kau kalah, aku akan tetap memakannya—“

 

“Woaaaa, jinja? Jika begitu untuk apa ki—“

 

“Asal kau yang menyuapinya” mulut gadis itu terbuka, tak menyangka jika permintaan Kyuhyun terdengar sangat konyol ditelinganya.

 

“Ottokhe?”

 

“Huh.. Baiklah”

#OFF

 

“Ahya ah, kenapa kau diam? Tak bisa mengatakan yang sesungguhnya jika kalian memang berpacaran huh?” mata gadis itu mengerjap berkali-kali. Telinga-nya tidak salah dengar bukan? Telinga gadis itu menangkap sebuah nada tidak suka dari perkataan Donghae barusan.

“Sudahlah, jika seperti ini kau tak ada bedanya denganku”

“Ania! Aku tak seperti dirimu! Yang berciuman dengan gadis lain, didepan istrinya sendiri”

“Lalu? Bagaimana denganmu huh? Kau menyuapi laki-laki lain dihadapan suamimu!” Ahya terdiam, kata-katanya habis. Baru kali ini ia kalah perang dengan Donghae. Benar juga, jika seperti itu mereka berdua terlihat sama. Saling berselingkuh dibelakang. Kini mereka berdua berhadapan, saling memandang satu sama lain.

“Ahya ah, kau tau? Kini, aku sudah mengetahuinya” Donghae berjalan, melaluinya dan mendudukkan tubuhnya disisi ranjang tidur mereka. Ahya pun memandangi Donghae yang terlihat lebih frustrasi darinya.

“Mengetahui apa?”

“Kita—kita sudah saling terikat, entah mengapa kita merasakan hal yang sama bukan? Saat aku atau dirimu berdekatan dengan orang lain?” Donghae menatap istrinya yang berada tak jauh dari hadapannya, tatapan mereka berdua sama. Terlihat lemah satu sama lain.

“Lalu? Kau mau apa?” jangan bilang kau akan menceraikanku saat ini. Tambahnya hanya didalam hati, cukup Ahya dan Tuhan saja yang mendengarnya. Jantungnya berdebar menunggu kata-kata yang akan terucap lagi dari bibir Donghae.

“Aku tak ingin terus merasakannya” Donghae, pria itu mencoba menyuarakan isi hatinya. Berusaha jujur pada perasaannya sendiri, entah apa nanti reaksi Ahya selanjutnya. Yang jelas, pria itu ingin Ahya mengetahuinya hanya dengan pernyataan sesingkat itu. Tapi justru terlihat sebaliknya, istrinya itu menyalah artikan ucapan suaminya.

“Baiklah, jika itu maumu. Mulai detik ini, kurasa kita tak perlu lagi mencampuri urusan masing-masing. Kita—kita..” Ahya menghentikan perkataannya, menghalau segala luka yang mulai tergores didadanya. Tenggorokkannya tercekat, tapi ia memang harus mengatakannya. Agar Donghae bahagia dengan jalannya sendiri. Pikirnya.

“Kita, hidup masing-masing. Kau urusi saja hidupmu sendiri, dan aku.. Aku tak akan lagi mencampuri urusanmu, begitu juga sebaliknya” Donghae terkejut, amat terkejut. Jadi? Aku salah selama ini? Aku pikir dia menyukaiku. Batinnya. Donghae bangkit dari duduknya, ingin sekali rasanya ia mendekap tubuh mungil itu tapi justru otaknya terus berkata jangan. Bukan itu, bukan itu yang diinginkan Donghae, Ahya! Kau salah.

Dengan hati yang amat kacau, Donghae meraih ponselnya dan berjalan pergi dari kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan keras, sehingga menimbulkan dentingan yang begitu kuat. Pertahanan Ahya luntur sudah, sesak yang sejak tadi dirasakannya ia lepaskan begitu saja. Airmatanya jatuh menganak dipipinya, mungkin ini memang jalan yang terbaik untuknya agar hatinya itu tidak lagi terluka semakin dalam. Ia tak mau jatuh semakin dalam kedalam pesona suaminya itu, Donghae tak pernah menyukaiku! Baginya, sahabat akan tetap menjadi sahabat sampai kapanpun. Batin Ahya menjerit.

==oOo==

Braaaakkk!

Donghae menggebrak meja kerjanya, sesampainya dikantor. Namja itu menghempaskan begitu saja tubuhnya dikursi miliknya, matanya terpejam. Hatinya sakit, amat sakit. Nafasnya terputus-putus seiringan dengan detak jantungnya yang pacu cepat karna kecewa. Ya! Donghae kecewa, sangat kecewa. Bermaksud untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi justru sebaliknya. Babak baru yang lebih hancur dari sebelumnya akan dimulai.

Tangannya dengan gamang menarik dan mengacak-acak rambutnya. Setelah itu kedua tangannya beralih mengusap-usap wajahnya dengan kasar dan cepat. Donghae begitu frustrasi hari ini. Tak ada kegiatan apapun yang dilakukannya lagi saat ini, pria itu hanya bisa diam dan diam hingga waktu menghantarnya menuju pukul 10 pagi, dimana meeting penting itu dimulai.

Setelah merapihkan penampilannya, kini pria itu berjalan lesu menuju ruang meeting dengan sebuah berkas yang semalam ia kerjakan. Donghae memasukki ruangan itu, tubuhnya membungkuk memberi hormat saat beberapa Client sudah berada didalam ruangan itu bersama ayahnya. Senyuman terpaksa pun diperlihatkannya.

“Hae-ya, ada apa dengan wajahmu huh?” Donghae menatap pria paruh baya yang sudah dikenalnya itu dari lahir, tatapan sendu yang diperlihatkannya membuat sang ayah semakin penasaran. Haruskah aku menceritakannya kepada ayah? Ah, rasanya tidak mungkin. Keluhnya dalam hati.

“Jika kau sedang bertengkar dengan istrimu, lupakanlah dulu. Kini, kau harus fokus pada project kali ini. Hidup mati Lee Corp ada ditanganmu nak.” Ayahnya tersenyum, tangannya menepuk-nepuk pundak anaknya itu. Donghae tersadar kembali, YA! Dia harus fokus, inilah puncak dari karirnya. Dia harus melupakan masalahnya sebentar, hanya sebentar.

“Gwenchana appa, kau bisa percayakan itu padaku” Donghae tersenyum, lalu duduk ditempatnya ia harus berada. Dibalik kursi Dirut Lee Corp yang tersedia hanya satu, dan itu hanya untuknya.

“Sepertinya, CEO Group Kim sangat menyukai cara kerjamu Hae” Ayahnya tersenyum bangga pada anaknya itu, setelah meeting selesai mereka berdua pergi untuk makan siang diluar. Donghae hanya membalasnya dengan senyuman, lelaki itu tampak tak berselera makan. Sedari tadi, ia hanya mencabik-cabik Tenderloin yang ada dihadapannya tanpa berniat untuk memasukkannya kedalam mulutnya. Tuan Lee, hanya bisa menggeleng mengerti.

“Hae-ya, kau ada masalah? Jika tak keberatan, ceritakan pada appa. Mungkin saja appa punya solusinya” Tuan Lee melepaskan peralatan makannya, kini kedua tangannnya menopang dagunya. Orang tua itu, siap untuk mendengar cerita anaknya. Donghae menatap ayahnya, Donghae ragu. Haruskah ia bercerita? Itu tidak mungkin rasanya, mengingat ini adalah masalah rumah tangganya. Hanya dia, istrinya dan juga Tuhan yang boleh mengetahuinya.

“Appa, bagaimana jika—“ Donghae menghentikan kata-katanya saat tiba-tiba ayahnya itu sibuk menjawab telepon yang masuk diponselnya.

“Sebentar Hae-ya” Donghae hanya mengangguk lesu, pikirannya kembali terpusat pada gadis itu. Sedang apa dia? Apa dia menangis? Atau dia justru sedang tertawa bahagia? Haaaah, aku merindukanmu. Donghae sibuk dengan duniannya sendiri, begitu juga dengan ayahnya. Namja itu meletakkan peralatan makannya, tangannya merogoh saku celananya. Kedua bola matanya berbinar seketika itu juga saat mendapati sebuah pesan masuk. Dengan satu sentuhan, Donghae dapat membaca isinya.

Selamat siang oppa^^

Jangan lupa makan siang ya sayang, saranghae^^

 

-Hyejin-

 

Raut wajahnya kembali seperti semula, murung, datar dan dingin. Kenapa harus gadis itu? Kenapa bukan istrinya?. Dengan sedikit mendengus, Donghae kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.

“Hae-ya, gawat” Donghae mendongakkan kepalanya, menatap ayahnya yang terlihat sangat gusar setelah mendapat telpon tadi.

“Wae appa?”

“XIU Corp membuat ulah, kau harus hati-hati nak” Donghae mengerutkan alisnya tak mengerti, sangat tak mengerti.

“Mereka tau, jika Group Kim akan menyetujui kontrak ini. Sebenarnya, sedari dulu XIU Corp sangat menginginkan perjanjian ini jatuh ketangan mereka. Mereka ingin sekali menguasai separuh saham Group Kim, dengan dasar akan membuat Colaps separuh sahamnya lagi. Dengan begitu, mereka akan kehilangan satu saingan bisnis mereka” Lanjutnya setelah menyadari raut wajah tak mengerti yang tampak dari wajah anaknya.

“Kenapa mereka seperti itu? Apa yang mereka inginkan?”

“Tentu mereka ingin sekali menguasai pasar Asia, mereka perusahaan terkuat dan nomer satu di China. Saingan terberat mereka hanyalah Lee Corp dan juga Group Of Kim di Asia. Jika kita bersatu, maka kekuatan pasar akan terus bertahan pada Korea Selatan. China akan tergeser, tentu saja. Takana Group dari jepang, mereka colaps saat XIU Corp membeli separuh saham mereka dan perlahan menghancurkan separuh saham milik Takana Group. Aku yakin, kini mereka pun akan menggunakan tak tik yang sama untuk menghadapi Group Of Kim” ayahnya bangkit dari duduknya, sambil memfokuskan diri pada layar ponsel miliknya. Sementara Donghae, hanya bisa terdiam. Ini pengalaman pertama kali menghadapi rival yang menurutnya berbuat curang. Kepalanya semakin berdenyut, ia tak yakin dapat menghadapi resiko yang mungkin sudah didepan mata seorang diri.

“Hae-ya, bisnis itu kejam. Jaga dirimu baik-baik, apapun yang terjadi jangan pernah lepaskan kontrak kerjasama kita nanti. Karna perekonomian Korea Selatan bergantung pada nasib Lee Corp dan juga Group Of Kim. Ingat itu nak” ayahnya beranjak pergi meninggalkan Donghae yang masih mencerna kata-katanya.

“Appa, kau mau kemana?” tanyannya. Ayahnya membalikkan badannya, menatap anak kesayangannya itu.

“Aku harus kembali kekantor, untuk mengantisipasi semuanya. Oh ya, jaga istrimu juga. Kita dalam bahaya” ayahnya tersenyum, senyum penuh kekhawatiran. Donghae hanya dapat mengangguk patuh.

Sementara itu, ditempat berbeda. Seorang gadis dengan setelan dress simple, dan juga rambut panjang cokelatnya yang dibiarkan terurai itu tengah duduk santai disebuah taman kota yang terletak tak jauh dari rumahnya. Ahya, tersenyum memperhatikan beberapa anak kecil yang tengah bermain dengan senangnya. Gadis itu juga mengenakan kacamatanya untuk menutupi matanya yang sembab sehabis menangis sedari pagi. Ahya memutuskan untuk mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya.

“Mau aku ramal?” Ahya menolehkan pandangannya pada seorang nenek tua yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Ahya tersenyum dengan tatapan menyelidik. Sejak kapan dia berada disampingku? Kenapa aku tidak tau?. Gumamnya dalam hatinya. Tiba-tiba nenek itu tersenyum seolah dapat membaca pikirannya.

“Nona, bisa kulihat telapak tanganmu sebentar?” Ahya bergeming, tapi detik selanjutnya ia mengangguk. Diulurkan tangannya itu, dibiarkan nenek itu melihatnya menyetuh setiap garis yang ada ditelapak tangannya.

“Kau gadis manis, sebenarnya hidupmu biasa saja. Tapi setelah ini sepertinya akan ada sesuatu yang—“ nenek itu menggantungkan kalimatnya, nenek itu terdiam sejenak. Membuat Ahya mengerutkan keningnya bingung.

“Yang apa? Halmeoni?”

“Ah, aniyo lupakan. Sekarang kau pilih salah satu ya” lagi-lagi Ahya tercengang saat tiba-tiba ada setumpuk kartu tarot dihadapannya. Seingatnya sedari tadi nenek itu tak memegang apapun. Dengan mantap, Ahya menarik salah satu kartu itu dan diberikan pada sang nenek.

“Omona!” desis nenek itu pelan, namun Ahya masih bisa mendengarnya. Raut wajah nenek itu berubah, serius sangat serius. Detik selanjutnya tatapan iba diperlihatkannya, membuat Ahya semakin penasaran dengan apa yang ia pilih.

“Jauhi dia, sebelum kalian berdua saling menyakiti. Biarkan kalian berdua hidup dijalan masing-masing tanpa saling menyakiti” Ahya berjengit kaget. Darimana nenek itu tau jika dia memiliki pasangan? Ah, gadis itu lupa. Nenek yang ada dihadapannya adalah seorang cenayang.

“Ma—maksudnya halmeoni?” Ahya menggigit bibir bawahnya sendiri, entah mengapa hatinya terasa hancur saat mendengar kata-kata itu.

“Kau pasti mengerti kata-kataku. Carilah solusi agar kalian berdua tak saling menyakiti, dan satu lagi. Kau dalam bahaya. Hati-hati nak” Ahya merunduk, pandangannya lurus kedepan mencoba mencerna kata-kata nenek itu. Apa aku harus bercerai dengannya? Benarkah kami tidak berjodoh? Umpatnya dalam hati.

“Nek—“ Ahya melotot tak percaya, saat ia menoleh sang nenek sudah tak ada. Kemana perginya nenek itu?. Ahya bangkit dari duduknya, memutar tubuhnya mengedarkan pandangannya keseliling, bermaksud mencari nenek itu.

“Nenek, kau dimana?” Ahya meremas tali tas yang tersampir dipundaknya. Tiba-tiba ia menjadi lemas, Ahya kembali terduduk. Entah mengapa saat mengingat kata-kata tadi dadanya seperti tertohok timah panas. Sangat sakit rasanya. Airmatanya jatuh dengan sendirinya.

“Haruskah kita bercerai, agar tak saling menyakiti?” tangannya kini beralih meremas ujung dress yang dikenakannya, sesekali Ahya menghapus airmatanya dengan sangat kasar, gadis itu tak menggunakan make up sedikit pun membuatnya leluasa mengusap wajahnya.

“Uljima” lagi-lagi seseorang mengejutkannya, kali ini bukanlah seorang peramal melainkan seorang namja tampan dengan setelan jas yang sangat rapih. Bukan Kyuhyun, apalagi Donghae. Ahya terdiam, lalu meraih selembar tissue yang ditawarkan pria itu.

“Gomawo—“

“Luhan” pria itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya, senyuman yang mungkin dapat menggetarkan setiap hati wanita yang melihatnya. Tapi rasanya tidak bagi Ahya, hatinya sudah terpenjara oleh hati suaminya. Gadis itu tak bisa berpaling.

“Ahya” balasnya lembut sambil mengulurkan tangannya, membalas jabat tangan pria itu.

“Sendirian?” tanya pria itu saat Ahya sudah mulai terlihat tenang. Ahya hanya membalasnya dengan sebuah anggukkan.

“Boleh tau, kenapa kau menangis?” Ahya terdiam sejenak, menghela nafasnya berat. Lalu menatap pria disampingnya disertai dengan senyuman yang dapat membuat pria itu terpaku.

“Hanya masalah kecil, yang tak bisa kubagi pada siapapun” Luhan kembali tersenyum, dan mengangguk mengerti. Pria itu berpikir, tak seharusnya juga ia menanyakan hal yang sebegitu privacy nya pada seorang gadis yang baru saja dikenalnya.

Tiba-tiba sebuah bola kecil berhenti tepat dikaki Ahya, gadis itu tertegun dan segera mengambil bola itu dengan kedua tangannya.

“Imo, itu punyaku” suara anak kecil yang berumur sekitar 5 tahun itu terdengar ditelinganya, Ahya tersenyum lalu berjongkok agar menyamai tinggi bocah itu. Gadis itu mengusap kepala bocah itu dengan lembut dan penuh kasih sayang lalu memberikan bola itu.

“Ireomimwoeyo?” tanya Ahya dengan lembutnya,

“Jongmin”

“Wah nama yang bagus, anak tampan” dengan gemasnya Ahya mencubi kecil hidung mancung Jongmin. Sementara Jongmin hanya bisa tertawa senang.

“Ahjussi, istrimu cantik” ucap Jongmin dengan polosnya sambil menatap Luhan dan Ahya bergantian, sementara Ahya dan Luhan tiba-tiba saling memandang dan tertawa hambar.

“Benarkah? Kau menyukainya?” tanya Luhan yang tiba-tiba ikutan berjongkok bersama Ahya. Jongmin mengangguk mantap. Dan Ahya, gadis itu hanya bisa terdiam. Tiba-tiba lidahnya kelu, dan pikirannya kembali terpusat pada Donghae suaminya.

“Jongmin ah, kau sendiri? Kemana orang tuamu?” ucap Luhan lagi.

“Ibu dan Ayahku sedang sibuk melayani pelanggan, itu disitu” Jongmin menunjuk sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada. Sebuah kedai yang menjajaki berbagai makanan berat seperti ramen dan juga bubur. Ahya dan Luhan segera mengikuti arah telunjuk bocah itu.

 

“Eum, Ahya ssi apa kau sudah makan? Jika belum, mari kita pergi kekedai orang tua Jongmin” Luhan kembali membuka suaranya. Kenapa pria ini? apa ia tidak tau jika ia berbicara pada istri orang?. Batin Ahya.

“Kajja” Ahya bangkit dari duduknya dan menarik lengan Jongmin lebih dulu, berjalan lebih dulu dan meninggalkan Luhan yang masih berjongkok ditempatnya.

“Hei, tunggu aku” gerutunya. Mendengar itu, Jongmin dan juga Ahya malah berlari meledek Luhan dan mengajaknya bercanda bersama.

“Kyaa! Kalian nakal ya” ujar Luhan, pria itu dengan cepat meraih tangan Jongmin yang satunya lagi. Membuat mereka berdua saling menggenggam tangan Jongmin. Tiba-tiba Ahya tersenyum pahit, kenapa mesti bersama dengan orang yang baru dikenalnya? Kenapa tidak dengan Donghae suaminya? Tuhan, kenapa begini? Desahnya dalam hati.

TBC..

20 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 7)

  1. Huuuaa yang ini sukses bikin aku ngeluarin airmata x’D bagus thor!!!lanjut ya hehe dan jangan lama2 lanjutnya ;D aku selalu penasaran sama kelanjutan FF ini soalnya FF ini yg paling aku suka diantara FF lain yg dipost diblog ini hehe :v dan next ceritanya lebih seru lagi y,lebih sweet lagi ^^ 9 Tambah semangat ya thor bikin ceritanya!

  2. dongekkkkk,,,,kembali kau,,,,,,!!!!!jelasin lagi ame ahya,,,,hadeuh,,,,ntu luhan nape nongol,,,???saingan dongek berat amat!!!thor,,,knp makin sini makin pendek????

  3. Koq merasa kalo ending’y bakalan sad ea… Aq gak suka sad ending thor #plaaaaak
    luhan jngan2 dy mata2’y xiu grup #soktau

  4. kenapa ada orang baru lagi , pasti nti konflik nya makin bertambah nih -,-
    please jangan, biarin ahya sama donghae aja -,-
    lanjuut thor
    ini FF emang bikin nyesek , huhuhu

  5. Kayanya luhan bakal jasi org jahat nih hmm…kenapa luhan si -_- dia kan sgt baik mukanya thor😦 kekeke saya sedih luhan dijadiin antagonis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s