STUPID IN LOVE (Chapter 6)

 

kyuhae

STUPID IN LOVE

 

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 15+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Park Hye Jin, Cho Kyuhyun,  And Others.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini masih banyak mengandung kekurangan dan jalan cerita yang masih sangat monoton .-. tapi ini pure ASLI kaga pake kopi, ini buatan Author 100% dan hasil imajinasi author sendiri. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

 

 

*CHAP SIX*

[AUTHOR SIDE]

Donghae melirik sejenak kearah ponsel putihnya itu, mendesis kecil setelah akhirnya ponsel itu bergetar lagi. Diraihnya benda itu, awalnya Donghae kembali meletakkan ponsel itu keatas nakas namun entah ada apa namja itu kembali meraih ponsel itu dan menjawab panggilan yang masuk.

“Yeobseo..”

“Oppa! Kenapa lama sekali huh?”

 

“Mian, aku baru saja bangun tidur. Hemm wae?”

“Oh, oppa tidak berangkat kekantor?”

“Tidak, sudahlah cepat katakan ada apa”

“Aku sakit oppa, bisakah kau belikan aku obat diapotek? Setelah itu tolong antarkan ke Apartement ku, jebal oppa—“ Donghae hanya mendengus kesal mendengarnya, meski namja itu kini masih kesal dengan Hyejin namun hati nuraninya masih berfungsi.

“Kemana managermu? Kenapa tidak ka—“

“Dia—eum, Kwang seo sedang pergi membatalkan semua jadwalku pada client hari ini”

“Tsk, baiklah!”

 

Donghae memutuskan jaringan teleponnya, kepalanya tertunduk, matanya terpejam. Namja itu menghela lagi nafasnya, membuka matanya dan memastikan lagi tekadnya jika ini semua baik-baik saja. Entah mengapa perasaan aneh menghampirinya sejak menerima telepon dari mantan kekasihnya –Park Hyejin-

Diraihnya mantel hitam kesayangannya beserta kunci mobil yang tergeletak diatas nakas, sejenak Donghae melirik jendela kamarnya memastikan jika salju sudah berhenti menuruni jalanan Seoul siang ini.

Saat dirasa semuanya aman, namja itu melanjutkan langkahnya menemui istrinya dibawah, lebih tepatnya didapur. Donghae sedikit menyesal karna tak bisa menyantap makan siangnya bersama Ahya, tapi namja itu tak mau mengambil resiko lebih jauh jika tak menemui Hyejin siang ini.

“Eoh, sejak kapan kau disitu? Kenapa diam saja huh?” Ahya mengangkat kepalanya dari atas meja, karna terlalu merasa nyaman dengan posisi kepala bersandar pada meja tadi membuat Ahya tak sadar jika sedari tadi Donghae memperhatikannya.

Donghae bergeming, masih terdiam menatapnya.

“Kenapa masih diam? Kau marah padaku, masalah Kyuh—“

“Mianhae, aku harus pergi” Donghae membalikkan tubuhnya dan berjalan perlahan meninggalkan Ahya yang masih terdiam tak mengerti.

“Ya~ kau tak makan dulu?” Ahya bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Donghae dan menarik kecil lengannya membuat namja itu menatapnya. Donghae pun bergeleng kecil sembari tersenyum.

“Aku sudah sangat terlambat, mianhae”

Chup!

Ahya menelan salivanya, darahnya semakin kencang mengalir begitu pula dengan detak jantungnya yang semakin berdebar cepat. Donghae mengecup keningnya dengan lembut dan sekilas. Setelah itu, Donghae berjalan membuka pintu dan menutup pintu rumahnya dengan cepat meninggalkan Ahya yang masih berdiri dengan tubuh yang tiba-tiba membeku.

Setelah beberapa saat, gadis itu tersadar dan berjalan kecil membuka pintu rumahnya. Bibirnya tertarik keatas memebentuk sebuah lengkungan yang indah, tangannya terangkat untuk melambai kearah mobil Donghae yang sudah menjauh dari rumahnya.

“Hati-hati.. Yeobo” Ahya kembali tersenyum, dan berjalan masuk kedalam rumahnya. Gadis itu terdiam sejenak dibalik pintu merasakan jantungnya semakin tidak beres setelah kejadian tadi.

“Lelaki itu, sungguh sulit ditebak! Huh”

*_*

Hari-hari terus berjalan tak terhenti layaknya embun pagi yang terus menguap setiap paginya dan tak akan kembali dihari yang sama. Begitu juga dengan kehidupan. Malam ini cuaca begitu dingin, bisa dibilang malam ini adalah malam puncak dari musim salju karna hari natal yang barusaja pergi meninggalkan kebahagiaan setiap makhluknya dan berganti dengan datangnya New Year yang sebentar lagi menyambut setiap makhluk dimuka bumi ini.

Waktu menunjukkan pukul 23.05 KST namun tak ada dari kedua orang yang berada didua tempat berbeda ini bangkit dari kegiatannya masing-masing. Ahya masih serius dengan sebuah novel digenggamannya yang sejak tadi dibacanya dengan beberapa bungkus snack yang kini hanya tinggal kulitnya saja. Begitu pula dengan Donghae yang masih duduk tenang dimeja kerjanya dengan seonggok berkas-berkas penting yang harus dikerjakannya sebelum tahun baru tiba.

“Hoooam” Ahya menutup novel yang baru dibelinya tadi pagi itu, tidak lupa menyelipkan secarik pembatas kertas agar esok ia bisa membaca kembali bagian yang belum dibacanya. Matanya melirik kearah ruangan kerja suaminya yang masih tenang dengan pintu yang tertutup dengan rapat.

Perlahan, gadis blasteran Indonesia-Korea itu membereskan semua sisa-sisa makanannya dan berjalan menuju dapur rumahnya. Tak sampai 7 menit, gadis itu sudah kembali dari dapur dengan membawa secangkir kopi susu hangat ditangannya. Ahya terus berjalan menuju ruang kerja Donghae, gadis itu mengetuk pintu terlebih dahulu meski bisa dibilang itu tidak perlu mengingat Donghae adalah suaminya.

“Masuklah” terdengar suara serak khas seorang Lee Donghae terdengar dari dalam sana, segeralah Ahya membuka pintunya dan berjalan masuk menghampiri Donghae yang sungguh sedang sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai tak melirik istrinya itu sedikitpun.

“Ige, minumlah. Udara begitu dingin, mungkin itu sedikit membantumu” Ahya meletakkan secangkir kopi buatannya disamping meja Donghae, membuat namja itu seketika menoleh kearahnya.

“Eum, wae? Kau tak menyu—“

“Aniyo, hanya saja tak biasanya kau seperti ini” mereka saling menatap, Ahya tersenyum kecil dan memukul pundak suaminya itu dengan pelan dan terlihat seperti bercanda, atau manja?

“Yeah, karna baru hari ini kau bekerja dirumah sampai selarut ini. Lihatlah, sebentar lagi matahari akan terbit Tuan Lee, haha”

Donghae tersenyum kecil, lalu menyesap kopi buatan istrinya untuk yang pertama kalinya.

“Aigoo, rasanya begitu buruk uh” komentarnya setelah meneguk kopi buatan Ahya dengan wajah yang dibuat seolah-olah itu adalah kopi dengan rasa terburuk sedunia, walau pada kenyataannya rasa kopi itu begitu nikmat.

“Kyaaa! Donghae ssi! Jika rasanya buruk, setidaknya kau tak perlu mengatakannya dihadapanku atau setidaknya katakanlah dengan nada yang—“

“Aku bercanda nona Kim” Donghae menatap Ahya sesaat dan tersenyum jahil, lalu kembali meneruskan aktivitasnya. Kepalanya kembali terfokus pada layar laptop dihadapannya. Ahya hanya bisa terdiam memandang suaminya itu, entah mengapa perasaan ganjil tiba-tiba saja datang saat dirinya menghela nafas. Perasaan perih yang langsung menjalar kedalam hatinya.

‘Perasaanku menjadi kacau sekali. Ada apa ini?’ gumam Ahya dalam hatinya.

“Yak! Nona Kim, kau marah? Aku hanya bercanda” Donghae kembali mengacuhkan pekerjaannya dan menatap Ahya yang tiba-tiba saja berubah menjadi pendiam.

Ahya tersadar dari lamunannya, dan berusaha tersenyum kaku menghadapi tatapan Donghae yang terlihat dalam dan menusuk.

“A—eum, arraseo”

“Kupikir kau marah, kau itukan sangat sensitif akhir-akhir ini” Donghae terkikik kecil dan kembali menatap pekerjaannya, sementara Ahya hanya bisa tersenyum bahagia mendengarnya. Tiba-tiba sebuah keinginan yang sedikit aneh terjadi pada dirinya, entah mengapa Ahya ingin sekali rasanya mengurangi beban pekerjaan Donghae yang begitu menumpuk.

“Kau lelah?” Ahya berdiri dibelakang kursi Donghae, tangannya merambat naik kepundak Donghae dan memijatnya perlahan.

Donghae bergeming, lagi-lagi ia merasa ada yang salah pada istrinya itu walau sebenarnya itu adalah hal yang sungguh wajar dilakukan seorang istri kepada suaminya yang sedang kelelahan dengan pekerjaannya.

“Tentu, aku lelah. Tapi, rasa lelahku sedikit hilang saat jari-jarimu itu menyentuh pundakku seperti ini. Ayo lebih cepat ya”

“Seperti ini ya?”

Ahya tersenyum jahil dan mulai melancarkan aksinya, gadis itu memijat dengan sangat kencang pundak Donghae membuat sang pemilik pundak berteriak sedikit agak kencang.

“Kyaaaaa! Apposeo! Jika seperti itu kau ingin membunuhku namanya” Donghae mendengus sebal, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Hihihihi, mianhae. Eum, ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau begitu sibuk, apa masih banyak?” Ahya menawarkan dirinya dengan lembut, akhir-akhir ini memang rumah tangga mereka sungguh harmonis. Rumah tangga yang berjalan dengan sesungguhnya, tak tampak ada pemaksaan sedikitpun.

“Tidak perlu, hanya tinggal beberapa saja. Sudahlah, kau tidur saja ini sudah terlalu larut”

“Lalu? Bagaimana denganmu?”

“Aku? Entahlah, tak usah dipikirkan lebih baik kau tidur saja”

“Eum, baiklah” Ahya mengangkat kedua tangannya dari pundak Donghae, dan berjalan pelan menuju pintu keluar. Tangannya berhenti memutar kenop pintu saat Donghae tiba-tiba memanggilnya.

“Ahya”

“Eum, ne?”

“Go—gomawoyo” Donghae tersenyum manis sambil menunjuk secangkir kopi tadi dengan dagunya, Ahya yang mengerti isyarat itupun langsung mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya.

Tapi, tiba-tiba gadis itu berbalik.

“Donghae ssi” Donghae mengalihkan tatapannya sejenak, dan menatap istrinya itu.

“Jaljayo”

Donghae membulatkan matanya, agak terkejut dengan perilaku yang dibilang baru pertama kali istrinya itu lakukan untuknya malam ini.

“Ne, Jalja Ahya ah” balas Donghae sambil terseyum, dengan segera Ahya membuka pintu ruangan itu dan berjalan keluar dari ruangan Donghae dengan degub jantung yang seperti tengah meledak-ledak dalam dadanya. Begitu juga dengan Donghae, mereka sudah mulai mencintai? Sepertinya begitu.

==oOo==

“Donghae ssi, ini masih pukul 6 pagi. Kenapa buru-buru sekali?” Ahya menatap heran suaminya yang sedang memakai dasinya, pukul 6 terlihat masih begitu pagi apalagi untuk ukuran seorang Direktur perusahaan. Tapi, kali ini Donghae terlihat begitu rajin dari biasanya.

“Aku harus memimpin rapat direksi pagi ini” lanjutnya, sambil berjalan menuju pantry dengan langkah yang cepat Ahya mengikuti Donghae.

“Apakah sepagi itu?”

“Eum, mmm ini mmm mengenai Tender saham baru mmm jadi aku harus bersiap dengan tim yang lain agar dapat memenangkannya mm” jawab Donghae dengan mulut yang penuh dengan roti panggang yang sengaja dibuatkan untuknya setiap pagi. Dengan cepat, namja itu meneguk susunya dan menghabiskannya tanpa sisa.

“Arraseo, tapi—“

“Sudahlah, aku harus pergi. Anyeong” Donghae menyambar kunci mobilnya dan beberapa berkas juga Laptop miliknya, meninggalkan istrinya yang masih berdiri dan berpikir keras jika ada meeting yang terjadi sangat pagi seperti ini.

“Uh, aku lupa” Donghae kembali menghampiri Ahya dan mengecup keningnya sekilas lalu kembali berjalan menuju mobilnya. Kegiatan itu sudah terjadi sangat rutin belakangan ini, entahlah ada apa tapi yang jelas mereka berdua menikmatinya.

“Aneh! Meeting? Sepagi ini? huh, aku yakin client-nya pun masih terlelap dirumah masing-masing” dengusnya, gadis itu berjalan lesu kemeja makan. Ia terdiam menatap beberapa potong roti yang masih tersisa banyak, gadis itupun bingung. Biasanya Donghae akan memakan lebih dari 3 potong roti, tapi pagi ini ia hanya menghabiskan 1 potong saja.

“Ah! Kyuhyun” senyuman kembali terpancar dari wajahnya, dengan lihai jari-jarinya itu mengetikkan beberapa diponselnya dan mengirimkannya kepada nomer Kyuhyun. Tak perlu menunggu lama, balasan dari Kyuhyun pun diterimanya.

Tak sampai 40menit, sebuah mobil Audi berwarna hitam metalic itu berhenti tepat didepan rumahnya. Ahya pun tersenyum, gadis itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar. “Masuklah dulu”

“Suami-mu eodiga?” ucap Kyuhyun sesampainya didalam rumah Ahya dan berjalan mengikuti langkah kecil Ahya yang membawanya ke-Pantry.

“Duduklah” balas Ahya. “Dia sudah berangkat dari satu jam yang lalu” lanjutnya.

“Mwo? Jinja?” ucap Kyuhyun terkejut, dan Ahya hanya bisa mengangguk. Namja itu melirik arloji ditangannya, keningnya berkerut saat melihat jam baru saja akan menuju pukul 7 pagi 5 menit lagi.

“Aigoo, Donghae-ssi adalah seorang Direktur paling rajin sedunia. Haha”

“Sudahlah, jangan bahas dia. Sekarang bantu aku ne? Habiskan saja jika kau mau, oke?” Ahya menyodorkan piring dengan beberapa potong roti panggang yang terlihat masih sangat banyak dan hangat.

“Semuanya?” Kyuhyun melongo tak percaya, dan hanya mendapat anggukkan mantap dari Ahya.

“Neo micheyoseo?”

“Ani” Ahya terkikik geli melihat ekspressi wajah Kyuhyun dihadapannya.

==oOo==

Sementara itu, disisi lain Donghae tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi karna kebetulan jalanan masih terlihat lenggang. Namja itu melajukan mobilnya berbelok arah dengan arah kantornya berada, Ya! Sebenarnya memang ada rapat Direksi yang harus dihadirinya tapi tidak sepagi ini, rapat itu dimulai pukul 10 nanti.

Donghae memarkirkan kendaraannya dibasement sebuah apaterment mewah, dengan langkah cepat namja itu sedikit berlari menuju lift dan menekan tombol 11 yang akan membawanya menuju lantai 11.

Tak sampai beberapa menit, kini Donghae sudah sampai dilantai 11 kakinya terus melangkah kearah kamar bernomor 223 yang kebetulan tak begitu jauh dari lift. Donghae berdiri terdiam didepan kamar itu, sebelum masuk namja itu memejamkan matanya memastikan langkahnya. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada sosok Ahya yang mungkin kini sedang terduduk tenang dirumahnya. “Mianhae Ahya ah, aku membohongimu pagi ini” gumamnya sebelum akhirnya jari-jarinya itu memasukkan passcode pada pintu apatrement itu.

“Hyejin ah! Neo eodisseo?” seru Donghae saat dirinya tiba diruang tamu apartement itu yang terlihat rapi seperti biasanya.

Merasa tak ada respon, Donghae pun melangkahkan kakinya dengan terburu menuju kamar Hyejin. Namja itu mengetuk pintunya terlebih dahulu, sebenarnya namja itu begitu khawatir dengan keadaan Hyejin setelah namja itu menerima pesan dari Kwang Seo –manager Hyejin- yang mengiriminya pesan pagi tadi, yang berisi bahwa Hyejin sangat frustasi saat Donghae meninggalkannya dan mengancam akan bunuh diri jika Donghae tak menemuinya hari ini.

“Hyejin ah, aku masuk” Perlahan, Donghae membuka pintu itu. Hampir setengah pintu terbuka, tapi tak ada tanda-tanda jika ada seseorang didalamnya.

“Hyejin ah” serunya lagi saat tak dapat menemukan sesosok orang pun didalamnya. Donghae mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamar Hyejin yang terlihat sangat amat berantakan, terlihat begitu kontras dengan ruang tamunya yang tertata begitu rapih.

Donghae terus melangkahkan kakinya, tak sengaja sepatunya itu menyenggol sebuah benda kecil. Donghae merunduk dan meraih benda itu, matanya membulat.

“Hyejin ah! Hyejin ah! Neo eodisseo?” panggilnya lagi, namja itu bergidik saat menatap benda yang disebut ‘Cutter’ itu berlumuran darah yang sudah agak mengering.

Donghae terdiam sejenak, membiarkan indera pendengarannya bekerja lebih keras. Suara isak tangis kecil terdengar dari arah kamar mandi yang memang berada didalam kamar Hyejin, Donghae berjalan hati-hati menuju sumber suara. Tak ada suara air, hanya ada suara isakan saja.

Duk, Duk, Duk.

“Hyejin ah, kau didalam?” suara tangis itu kembali terdengar dan kini terdengar lebih kencang. “Kau baik-baik saja? Keluarlah” Donghae terus berusaha membujuk orang yang diyakini itu adalah Hyejin agar keluar dari dalam kamar mandi.

“Anihh—“ suara balasan terdengar ditelinga Donghae, sayangnya suara itu terdengar begitu lemah membuat Donghae tak tahan lagi dan segera membuka pintu itu dengan kasar dan kebetulan pintunya memang tidak terkunci.

“Hyejin!!” Donghae sedikit berlari menghampiri seorang gadis yang tengah menangis sesegukkan sambil tertidur meringkuk dibawah bathup dengan hanya menggunakan piyama mandinya.

“Neo michyeoso? Ini dingin” Donghae meraih tangan Hyejin dan kemudian menggendong tubuh itu, membawanya keluar dari kamar mandi. Donghae membopong gadis itu dan merebahkannya diranjang tidurnya.

“Ne, aku gila karnamu” Hyejin bergumam dengan wajah matanya yang masih terkatup rapat.

“Kyaaa! Lepaskan!” Donghae meronta saat tiba-tiba Hyejin menarik lengannya dengan cukup kasar dan tangannya itu mengunci leher Donghae yang membuat namja itu menindih tubuh mungil Hyejin.

“Kau gil—“ Bibir Donghae terkunci begitu saja, saat tiba-tiba Hyejin menarik kepalanya lebih dalam hingga bibir mereka bertemu.

Donghae terdiam, pikirannya berpikir jika ini adalah tindakan yang salah tapi entah kenapa tubuhnya justru merespon sebaliknya. Sebagai pria normal, Donghae sempat tergoda. Terlebih ia sudah tak pernah menyentuh istrinya sejak kejadian malam itu saat Donghae lebih terkesan ‘Memperkosa’ istrinya sendiri. Tak lama, Donghae pun menyadarinya, ia adalah seorang suami ia tak pantas melakukan ini dengan gadis lain selain istrinya.

Dengan tenaga yang jauh lebih besar, Donghae berusaha melepaskan segala dekapan Hyejin ditubuhnya. Tak lama, Donghae sudah bisa bernafas lega dan segera bangkit dari posisinya. Tatapan membunuh diberikan untuk gadis itu, gadis yang kini sedang tersenyum licik penuh dengan sarat.

“Aku tak menyangka denganmu Hyejin ah” ujar Donghae sembari merapihkan jasnya.

“Kau terkejut Tuan Lee?” Hyejin bangkit dari tidurnya, dan berdiri mendekati Donghae sementara Donghae terus berusaha menjauh dari gadis itu. Langkahnya habis, hanya tersisa dinding yang kini menahan punggunggnya.

“Ini belum seberapa, tunggulah kejutanku yang lebih besar Tuan Lee” Hyejin tersenyum penuh kemenangan, tangannya mengusap-usap pipi Donghae dan merambat turun kebibir tipis pria itu. “Aku merindukannya” desis Hyejin lagi, dengan cepat Donghae mendorong gadis itu agar menjauh dan segera keluar dari kamar Hyejin dan pergi meninggalkan apartementnya.

“Akhhhhh” Donghae menghempaskan punggungnya dengan cukup keras, lalu menutup pintu mobilnya dengan sangat kencang. Donghae frustrasi. Tangannya terulur mengusap wajahnya dengan gusar, sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa ia merasa seperti dilemma? Saat ini, pikirannya hanya terpusat pada Ahya, istrinya. Entah mengapa Ahya kini lebih sering hadir dipikirannya.

“Aigoo, tertinggal” desahnya saat tangannya merogoh saku celananya dan tak menemukan ponsel yang dicarinya. Donghae teringat jika ia meninggalkannya dimeja rias kamarnya. Dengan mantap, namja itu menyalakan mesin mobilnya memutar arah tujuannya, dan kembali pulang kerumahnya. Tiba-tiba ia begitu merindukan istrinya.

Mobilnya terhenti tepat didepan gerbang rumahnya, saat akses jalan masuk mobilnya terhalang oleh sebuah mobil yang rasanya sudah tidak asing lagi. Cho Kyuhyun. Ya, mobil pria itu terasa silau dimata Donghae. Dengan langkah cepat dan perasaan yang sangat marah, Donghae berjalan masuk kedalam rumahnya. Untuk apa  ia bertamu sepagi ini? sedang apa mereka? Pertanyaan itu muncul dipikirannya.

Donghae terus memasukki rumahnya, pria itu terdiam mendapati ruang tamu kosong seperti tak ada tanda-tanda orang disana. Kakinya kembali bergerak, kini ia terhenti saat melewati pantry. Seperti ada pedang tajam yang menohok tenggorokannya, perasaannya tak bisa dijelaskan saat melihat istrinya sendiri tengah menyuapi seorang pria yang bahkan bukan mantan kekasihnya.

Donghae terdiam, hatinya kalut ia terlalu bingung untuk berbuat sesuatu. Perlahan, kakinya berputar ia berbalik dan hendak meninggalkan Ahya dan juga Kyuhyun. Tapi, langkahnya harus terhenti saat mendengar suara yang sangat dirindukannya sejak tadi.

“Donghae ssi” Ahya berdesis tak percaya, dengan cepat Ahya bangkit dari duduknya. Gadis itu terlalu terkejut dan juga panik, begitu juga dengan Kyuhyun. Mereka bertiga saling bertatapan, tapi tak lama Donghae memilih untuk pergi dari tempat itu.

“Donghae ssi!” panggil Ahya sekali lagi, namja itu terus berjalan menjauhinya.

TBC..

22 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 6)

  1. Wow seru!!!!>< lanjut min😀 bagus banget!!! ^^ oh iya jangan lama2 ya min penasaran aku soalnya sama kelanjutannya :3

  2. skarang giliran Donghae yang ngrasain cemburu..
    ga enak kan?? makanya jangan suka nyia-nyia’in orang yang sayang sama kamu..
    sakit kan kalau ngrasain sendiri..
    #ehh..

    lanjut min! penasaran sama lanjutannya.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s