STUPID IN LOVE (Chapter 5)

 

kyuhaew1

STUPID IN LOVE

 

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance, Married Life.

Lenght  : Chapter

Rating   : 15+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Park Hye Jin, Cho Kyuhyun,  And Others.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini masih banyak mengandung kekurangan dan jalan cerita yang masih sangat monoton .-. tapi ini pure ASLI kaga pake kopi, ini buatan Author 100% dan hasil imajinasi author sendiri. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

 

*CHAP FIVE*

[AUTHOR SIDE]

 

Sementara itu Donghae, hanya bisa menatap Hyejin dengan tatapan serendah mungkin. Donghae begitu murka dengan gadis itu sekarang.

“Oppa! Oppa!” Panggil Hyejin, tapi Donghae tak menghiraukan gadis itu dan terus berlari untuk mengejar istrinya itu.

 

Hyejin mengepalkan tangannya, menahan semua emosinya, hingga airmatanya turun begitu saja.

“Aku bukan gadis lemah yang gampang menyerah” gumamnya dan beranjak meraih tasnya lalu pergi meninggalkan rumah Donghae.

==oOo==

“Ahya!! Neo eodiga?” Donghae kini benar-benar seperti orang bodoh yang berteriak teriak memanggil nama seseorang dijalan yang penuh salju itu. Langkahnya sungguh terhambat, karna salju sudah sangat menumpuk.

Tapi, lelaki itu tak menyerah dan terus berlari sembari berteriak mencari Ahya tanpa merasa malu dengan tatapan orang-orang yang dilaluinya.

“Ahyaaaa!!” Donghae mempercepat gerakan kakinya saat sepasang matanya menangkap sesosok tubuh wanita bermantel coklat yang sedang tersungkur jatuh ditumpukan salju itu.

“Ahya ah” Donghae membantu wanita yang ternyata benar-benar istrinya itu.

Ahya mendongak, dengan gamang tangannya menepis tangan Donghae yang hendak membantunya berdiri. Donghae hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak percaya.

“Lepas! Aku bisa sendiri!” sergah Ahya ketika Donghae mulai menyentuh tangannya lagi dan hendak membantunya lagi, dengan tertatih Ahya bangkit dari duduknya.

Airmatanya masih enggan berhenti mengalir sedari tadi, membuat kedua matanya tampak kembali membengkak begitu pula dengan hidungnya yang sangat memerah.

“Kau mau kemana? Rumah kita harusnya kearah sana” Donghae menahan pergelangan tangan Ahya yang hendak pergi berlalu dari hadapannya.

“Apa kau ingin tau, aku pergi kemana? Aku rasa itu bukan lagi urusanmu”

“Itu urusanku! Kau istriku”

“Aku rasa, aku bukanlah istrimu” Ahya menghempaskan tangan Donghae yang melingkari pergelangan tangannya, gadis itu kembali berjalan meski tertatih.

Donghae? Namja itu hanya bisa terdiam mendengarkan kalimat yang baru saja terlontarkan dari bibir Ahya, rasa sakit begitu menghujam jantung hatinya.

Sementara Ahya masih enggan menghentikan tangisanya, wanita itu terus berjalan dengan kondisi sangat kelelahan dan juga kedinginan. Hingga, kepalanya terasa sangat sakit dan memberat.

Perlahan, wanita itu kehilangan keseimbangannya, semuanya gelap. Hanya gelap yang terasa, hingga akhirnya tubuh mungilnya ambruk begitu saja.

“AHYA AH!!”

==oOo==

“Siwon ah, eottokhe?”

“Demam biasa, tapi kau harus tetap menjaganya. Jika panasnya bertambah, cepat hubungi aku” pria gagah dengan setelan kemeja dengan jas putih khas milik dokter itu beranjak pergi meninggalkan kamar Donghae dan juga Ahya.

“Ne, gomawo Siwon ah. Mianhae mengganggumu malam malam begini”

“Aish, itu memang sudah menjadi tugasku bukan? Dokter pribadi keluarga Lee?” Siwon tersenyum dan menepuk kedua pundak Donghae dengan kedua tangannya.

“Ah, kau benar”

“Yasudah, aku harus kembali kerumah sakit. Kau jaga istrimu baik-baik, dan cepatlah memiliki anak hehe” Siwon memamerkan kedua lesung pipi nya yang indah, dan beranjak pergi dari hadapan Donghae.

Setelah memastikan mobil Siwon sudah menjauhi rumahnya, kini Donghae kembali masuk kedalam kamarnya.

Ditatapnya wajah Ahya yang hampir membiru kedinginan, diambilnya selembar kain kompress yang tadi diberikan Siwon padanya. Dengan telaten Donghae mengganti kain kompress itu setiap 5 menit sekali dengan membasuh lagi kain itu kedalam mangkuk berisi air hangat.

“Mianhae, Ahya ah” Donghae merebahkan tubuhnya disamping tubuh Ahya yang masih terasa sedikit dingin padahal mesin penghangat ruangan sudah dinyalakan dengan taraf yang terbilang paling panas.

“Mianhae” sekali lagi, lelaki itu mendesiskan kalimat serupa sedari tadi. Tangannya dibiarkan melingkar diatas perut datar milik Ahya, menghapus jarak keduanya. Donghae tersenyum sembari memandangi wajah Ahya yang terlihat sungguh lelah terlebih dibagian kedua matanya yang terlihat cukup bengkak.

Donghae menaikkan sedikit tubuhnya, membuat matanya bisa lebih leluasa menatap wajah Ahya. Lelaki itu bergerak maju, mengecup kening wanita itu, turun merambat menuju kedua kelopak matanya.

“Mianhae, matamu selalu bengkak setiap bertengkar denganku”

Pergerakan Donghae kembali turun mengecup hidung istrinya, kedua pipinya, dan berhenti diatas daun bibir istrinya itu.

CUP

Donghae mengecupnya,

Cup, Cup, Cup.

Dia mengulanginya hingga berkali-kali, tapi untungnya Ahya sedang tertidur pulas dibawah pengaruh obat penurun demam yang Siwon suntikan tadi pada tubuhnya hingga wanita itu tak menyadari apa yang Donghae lakukan padanya.

“Jalja..”

Donghae membisikkan kalimat itu tepat ditelinga Ahya, setelah itu Donghae kembali keposisinya semula dan mulai memejamkan matanya. Berjalan menuju alam mimpinya yang indah.

==oOo==

“Eunghh..”

Wanita berkulit putih itu menggeliat didalam selimutnya, sayup-sayup matanya mulai bergerak, perlahan matanya terbuka berusaha menyesuaikan setiap inci sinaran matahari yang berusaha menerjang retina matanya. Meski ini musim salju, tapi tetap saja matahari selalu datang dengan cerah setiap paginya.

“Eoh?” gumamnya, saat dirinya berusaha bangkit dari tidurnya matanya menerawang kesegala penjuru kamar yang sangat tak asing baginya, karna itu kamarnya sendiri dan saat ia merasakan sebuah benda basah menempel dikeningnya.

“Ireonaseyo?” Ahya tergugup saat mendapati seorang lelaki yang 3 bulan ini selalu membuatnya menangis, tapi juga lelaki itu yang sudah merebut hatinya sejak 10 tahun lalu.

Harum aroma bubur nasi buatan Donghae begitu menyeruak menyebar keseluruh ruangan, termasuk mengetuk indra penciuman Ahya. Donghae mengulum senyumnya sembari berjalan membawa semangkuk bubur buatannya, menuju sisi ranjang tidurnya.

“Jangan banyak bergerak, kau belum sepenuhnya pulih” sergah Donghae saat Ahya berusaha bangkit dari tidurnya dan hendak pergi dari ranjang saat Donghae datang mendekatinya.

Gadis itu mendengus sebal, dengan berat hati gadis itu kembali duduk ditempat semula. “Makanlah dulu” Donghae menyodorinya semangkuk bubur buatannya itu. Ahya bergeming masih terdiam, sementara Donghae hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar ia tau jika istrinya itu masih marah padanya.

“Aku tidak lapar, terima kas—“

“Jangan berbohong”

“Aku tak berbohong!”

“Tapi kau harus tetap makan! Setelah itu minumlah obatmu, agar kau cepat sembuh. Dan agar kau—“

“Agar aku tak merepotkanmu huh? Baiklah” dengan kasar Ahya merebut mangkuk berisi bubur itu dari pangkuan Donghae, dengan cepat ia memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya.

“Kenapa kau masih…disini mmm..? apa..kau bolos dari mm.. kantor huh?” tanya Ahya dengan mulut yang masih penuh dengan bubur, sedangkan Donghae hanya bisa tersenyum mendengarnya.

“Kau mengusirku?” Ahya terdiam tak menanggapinya, wanita itu terlalu sibuk dengan buburnya kini.

“Apa aku salah?”

“Mianhae”

‘Ting’ sendok yang dipegangnya jatuh begitu saja kedalam mangkuk putih dipangkuannya, Ahya begitu syok mendengar perkataan Donghae yang tiba-tiba saja meminta maaf padanya. Potongan kejadian semalam terlintas lagi dibenaknya. Getaran yang menusuk jantung hatinya kembali kentara didadanya, rasanya begitu sesak, sakit dan ah! Tak bisa dijelaskan!

“Gwenchana?” ujar Donghae saat melihat perubahan yang sangat drastis dari wajah Ahya yang tiba-tiba saja memucat tanpa ekspressi.

“A—ah, gwencahana” Ahya kembali menarik sendoknya dan memasukkan lagi sesendok bubur kedalam mulutnya.

“Kejadian itu—semalam, tak seperti yang kau lihat sungguh aku—“

“Sudahlah, bukankah suatu yang wajar jika sepasang kekasih ber—ekhm, ciuman?” Ahya mengulum senyumannya, menahan segala rasa sakit yang mulai menyusup lebih kuat kedalam rongga hatinya.

“Ah, tapi aku dan Hyejin sudah—“

“Emm, Donghae-ssi obat mana yang harus aku minum?” sergah Ahya, gadis itu tak mau lagi membahas kejadian semalam yang menurutnya sudah sangat tak pantas jika dibahas. Sementara Donghae, hanya bisa mendesah kecil dan beringsut menuju meja nakas lalu memberikan obat-obat yang harus diminum istrinya itu.

‘Maafkan aku Hae, bukan bermaksud lancang memotong pembicaraanmu, hanya saja aku tak kuat lagi jika harus mendengarkan cerita dirimu dan gadis itu’ lirih Ahya dalam hatinya.

==oOo==

[ AHYA SIDE ]

 

“Kyaaa! Berhentilah mengganguku!” omelku pada pria yang entah sejak kapan jadi senang sekali mengganti-ganti channel TV yang sedang kutonton. Siapa lagi kalau bukan Lee Donghae? Sejak pria itu memutuskan untuk membolos dari kantor dengan alasan ingin menjagaku, pria itu jadi sering sekali mengikutiku hingga kini ia ikut-ikutan duduk didepan televisi bersamaku.

“Jinja! Tak ada acara yang menarik pagi-pagi begini” balasnya sambil sedikit memanyunkan bibir tipisnya itu, entah mengapa sejak pagi tadi sikap Donghae padaku berubah 180o. Dia jadi sedikit, perhatian, manja, dan kekanakan. Sebenarnya ada apa dengannya? Aku sungguh penasaran, tapi jujur aku menyukai dia yang seperti itu. Lee Donghae yang dulu telah kembali.

“Aku tau, aku tampan! Jangan menatapku seperti itu” segera kupalingkan wajahku menghadap televisi. Aku sungguh malu, tertangkap basah memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang terbilang sempurna itu. Kurasa, sofa ini bergerak! Oh tidak! Donghae mendekat padaku, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku segugup ini? oh Tuhan, atau siapapun! Aku mohon, bantu aku..

“Ahya ah, kau tau? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu” sebisa mungkin aku menahan nafasku saat pundak kami sudah saling bersentuhan. Oh God! Apa yang ingin Donghae bicarakan? Perceraiankah? Apa secepat ini?

“A—apa? Kata—“

Drrtt..Drrt..Drrrt..

Tiba-tiba ponselku bergetar panjang, dengan terlonjak kaget kuraih benda persegi panjang yang sedang tergeletak diatas meja itu dengan cepat.

“Kyuhyun?” gumamku,

“Jangan diangkat” Donghae ternyata diam-diam ikut mengintip layar ponselku. Aku hanya bisa tersenyum menyeringai saat mendengar larangannya. Apa aku sebodoh itu Tuan Lee? Haha.

“Yeobseo, oppa?” kujawab panggilan Kyuhyun dengan nada yang dibuat-buat sangat ceria dan seakan-akan sedari tadi aku memang hanya menunggunya menelponku.

“Eoh, jinja kau mengkhawatirkanku?” bisa kulihat dari sudut ekor mataku, kini Donghae kembali dengan aktifitasnya yang tadi –mengganti channel TV berulang-ulang- dan sepertinya kini tekanan pada remote itu lebih kuat. Apa dia cemburu padaku? Ah, melantur kau Ahya.

“Ani, naneun gwenchana.. Mwo? Oh, baiklah. Bekerjalah dengan baik, hehe Anyeong” saat sambungan telepon terputus, aku kembali menatap Donghae yang masih seperti tadi tapi bedanya, ekspressi wajahnya kini lebih datar dari sebelumnya.

“Kenapa kau tak mendengarkanku?” tanyanya, masih tak mau menatapku. Hei, ada apa denganmu? Apa semalam kepalamu itu terbentur?

“Kenapa? Kyuhyun hanyalah temanku” balasku dengan santai, sambil melipat kedua tanganku didada menantikan ekspressi Donghae selanjutnya.

“Tapi, aku tak suka padanya”

“Sejak kapan kau mulai peduli padaku?” Skak Mat! Donghae terdiam, dihempaskannya remote TV itu dan dia bangkit dari duduknya, berdiri sambil menatapku.

Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya saja jakunnya bergerak-gerak seakan menahan sebuah kata yang sangat sulit terucapkan. Kenapa begitu sulit mengatakannya? Apa kau ingin menceraikanku? Hah, ceraikanlah saja. Jujur, aku sudah lelah denganmu Lee Donghae! Aku tau, kau tak bahagia bersamaku.

Ayo cepat katakan! Kenapa hanya terdiam seperti ini? aku menunggumu, Donghae ssi asal kau tau, meski aku mencintaimu tapi aku akan rela melepaskanmu asalkan kau bahagia.

“Tsk!” Hanya itu yang keluar dari bibirnya, setelah itu tubuhnya berputar dan berjalan meninggalkanku. Menaiki tangga, dan menghilang dibalik pintu kamar. Kenapa dia pergi? Apa begitu sulit mengatakan perpisahan?

“Hah! Dasar pria aneh! Saat ini aku sudah tak takut lagi jika harus kau ceraikan! Karna, aku sudah lelah bersamamu” gerutu-ku lalu meraih remote TV dan menyalakan lagi TV itu yang sempat dimatikan tadi oleh Donghae.

Entah mengapa, kini acara televisi itu menjadi membosankan setelah tak ada Donghae disampingku. Kutarik nafas panjang lalu kuhempaskan dengan kasar, kupijit keningku yang masih terasa berdenyut efek semalam. Kini sudah hampir setengah jam setelah kejadian sedikit cek cok dengannya, aku tak melihat tanda-tanda jika Donghae sudah keluar dari kamar. Apa benar dia marah padaku?

Aish! Mana mungkin? Sudah lah jangan melantur lagi nona Kim!

“OMO!!!” Aku langsung bangkit seketika itu juga saat pandanganku menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.45, berarti jam makan siang segera tiba.

“Babo! Babo! Babo” seketika itu juga aku meratapi kebodohanku, pasti namja itu sudah sangat lapar! Dengan langkah seribu kuberlari menuju arah dapur, membuka kulkas dan berharap masih ada persediaan bahan makanan yang bisa kumasak.

“Kya? Habis? Ottokhe?” gumamku pasrah, terlebih saat menatap kearah luar jendela. Hujan salju sedang turun begitu lebat, tak mungkin aku keluar dari rumah dan berlari menuju mini market karna dipastikan aku akan menjadi es daging setelah itu.

Senyumanku mekar setelah tak sengaja melihat tumpukan telur yang tersusun rapih dipintu kulkas.

“Aha!!”

Aku teringat sesuatu, ya! Segera kubuka lemari penyimpan mie instant. Mengambilnya beberapa bungkus, “Oh, untung saat di-Indonesia aku pernah belajar membuatnya hehe” dengan cepat kurebus air, sambil menunggunya mendidih aku bergegas membuat bumbunya. Saat ini, aku ingin membuat ‘Omlet Khas Indonesia’ hihi. Semoga Donghae suka, tapi jujur ini sangat tidak pantas jika dijadikan untuk makan siang. Tapi tak apalah daripada kelaparan. Hehe

20 menit berselang, kini makanan itu sudah sangat siap dihidangkan. Dengan langkah terburu, aku menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarku.

Kubuka pintu itu perlahan, aku hanya dapat mendesah kecil mendapati Donghae yang tengah tertidur dengan lelapnya. Kulangkahkan kaki ku untuk lebih dekat lagi dengannya, dengan ragu kuangkat tanganku untuk menepuk pundaknya –hendak membangunkannya- tapi, tiba-tiba ponselnya bergetar.

“Hye—hyejin?” kini, ponsel itu sudah ada ditanganku. Entah mengapa, rasanya ingin sekali aku membanting ponsel ini. ada apa gadis itu menghubungi suamiku? Ah! Ahya Kim! Apa kau lupa? Mereka itu sepasang kekasih.

“Haaaah” kembali kutatap lagi ponsel itu, haruskan aku mengangkatnya? Apakah aku mempunyai hak untuk hal itu?

Oh, baiklah aku bukanlah gadis kurang ajar yang dengan santai mengobrak abrik kehidupan pribadi orang lain.

“Do—Donghae ah. Ireona” kuguncangkan lengannya perlahan, tapi  namja ini tak kunjung bangun.

“Ya! Tuan Lee! Ireonaaa. Ponselmu berdering! Cepatlah bangun”

“Eungggh” OMO! Dia hanya menggeliat kecil dan hei hei hei! Lihat, dia malah menarik selimut lebih erat. Oh Tuhan!

“Donghae ya! Hye—Hyejin menelponmu” Glek! Aku hanya bisa menelan ludahku, saat tiba-tiba tangan pria aneh ini terulur seakan memintaku dengan segera memberikan ponselnya dariku. Oh Hyejin ah, sihir apa yang kau gunakan?

“Ige! Yaaaa! Ireo—“ DEG! Saat aku menyentuhkan ponsel itu ketangannya, tiba-tiba Donghae menarik lenganku dan membuat tubuhku jatuh tepat diatas tubuhnya hingga ponsel itu terlempar entah kemana. Tubuhku menegang, desiran darahku tak terkendali terlebih dengan detak jantungku. Ku mohon! Siapapun! Tolong aku!

“Donghae ya” desisku sambil berusaha bangkit, tapi sialnya tangan besarnya itu justru mendekap pinggangku lebih erat. Apa yang kau lakukan Donghae ya?

“Biarkan seperti ini”

“Tapi ini saatnya makan siang” kepalaku mendongak, menatap wajah damainya dengan mata yang masih terkatup rapat. Nafasnya menerpa keningku, hangat, sangat hangat.

“Sebentar lagi”

“Donghae Ya! Makanannya akan dingin” aku terus berusaha melepaskan tubuhku, jujur aku suka seperti ini dengannya tapi aku tak mau lagi terjerumus lebih dalam kedalam cintanya. Karna kuyakin jika nanti mungkin aku tak bisa melepasnya.

“Donghae ah”

“Tsk!” namja itu mengendurkan dekapannya, dengan cepat aku bangkit dari tubuhnya.

“Aku menunggumu dibawah” ucapku lalu berjalan pergi meninggalkannya yang kini sedang terduduk diranjang sembari merentangkan tangannya. “Oh ya, tadi kekasihmu menghubungimu. Dan ponselmu mungkin ada disudut ranjang”

TBC..

17 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 5)

  1. Donghae bikin kaget aja si -_-ckck.jangan php gitu dong ama ahya..tp keliatan nya donghaenya udh suka noh ama ahya kekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s