STUPID IN LOVE (Chapter 1)

dongBZrD9SNCIAA7STC

 

STUPID IN LOVE

Author  : @Me_cahyaa aka JinHae

Genre   : Sad, Romance.

Lenght  : Chapter

Rating   : 15+

Cast       : Ah Ya Kim, Lee Dong Hae, Park Hye Jin. And Others.

Disclaimer : THIS FF IS MINE! NO COPAS Tanpa Izin! And sorry kalo FF ini masih banyak mengandung kekurangan dan jalan cerita yang masih sangat monoton .-. tapi ini pure ASLI kaga pake kopi, ini buatan Author 100% dan hasil imajinasi author sendiri. Just for fun! Okey^^ Lets Read!

*CHAP ONE*

[AHYA SIDE]

“Haahh” dengusku lelah, sangat lelah! Kalian tau? Membuat skripsi itu sungguh sulit, sangat menguras otak, dan juga menguras uang jajan bulananku! Aigoo. Kurebahkan kepalaku diatas meja makan yang tersedia dikantin kampusku ini, memejamkan mataku sejenak dan berharap jika saat aku membuka mata laptopku masih berada ditempatnya kekekkekk.

Belum ada lima menit mataku terpejam, tapi rasanya ada seseorang yang menepuk pundakku. Kulihat seorang pria yang sudah sangat tidak asing bagiku kini tengah terduduk dikursi sebelahku sembari memakan makanannya.

“Ahya ssi, kau kenapa?” tanyanya, aku hanya menggeleng pelan dan kembali mengangkat kepalaku, menopangnya dengan kedua tanganku.

“Skripsimu bermasalah?” tebaknya, dan itu sangat benar. “He’eum” balasku dengan malas sembari menatap layar laptopku.

“Dimana?” kini tatapanku beralih pada wajahnya, wajah tampannya. Dia adalah sahabatku, sahabatku sejak Junior High School dulu. Namanya Lee Donghae, jujur aku sangat menyukainya sejak sekolah dulu hingga kini aku rasa aku sangat mencintainya. Tapi aku hanya bisa menganguminya secara diam-diam, kalian tau kenapa? Karna Donghae menyukai gadis lain, gadis yang kecantikannya mungkin lebih dariku. Gadis yang sangat populer dikampus ini, dia Hyejin. Park Hyejin, hatiku sangat sakit jika setiap kali Donghae menceritakan sesuatu tentang gadis itu. Gadis baik hati dan jauh lebih sempurna dariku.

“YA! Apa yang sedang kau pikirkan huh? Kenapa melamun?” ucapnya setengah berteriak didepan wajahku membuat semua lamunanku pergi menghilang entah kemana.

“E-eh, aniyo hanya saja aku sedang—“ belum sempat aku menjawab dengan sempurna, tiba-tiba seorang gadis sudah terlebih dahulu menghampiri kami.

“Oppa, kau kemana saja? Aku mencarimu sejak tadi” ucap Hyejin, gadis yang baru saja datang menghampiri kami.

“Aku sejak tadi disini, menemani panda kecil ini Hyejin ah” balasnya sambil menyenggol bahuku, aku tau kini Donghae pasti sedang gugup. Itulah kebiasaan buruknya, ia pasti akan menyengol sesuatu jika sedang gugup seperti ini.

“Donghae ssi! Jangan panggil aku Panda lagi!!!” protesku terhadapnya, meskipun begitu aku yakin ia pasti tak akan mengindahkan perkataanku. Mereka berdua hanya tertawa melihatku yang tengah menahan kesal. Lalu mereka asik mengobrol sendiri, dan lebih baik aku memfokuskan tugas skripsiku ini yang sedikit lagi hampir selesai dari pada harus mendengar mereka bersenda gurau. Sungguh membuat hatiku sakit saja!

Demi apa! Sepertinya aku sangat kekurangan pasokan oksigen saat ini, melihat mereka berdua sangat akrab seperti itu. Meski aku sudah sangat sering bersenda gurau dengan Donghae, tapi rasanya sangat berbeda. Tatapan Donghae pada Hyejin sangat berbeda dengan tatapannya kepadaku. Sungguh berbeda.

Entah mengapa pikiranku kembali mengingat kejadian 5 bulan lalu, saat-saat dimana mereka bertemu dengan uluran tanganku. Mereka berkenalan juga karna diriku. Dan ini semua memang salahku!

*Flash Back*

“Ahya, itu dia! Cepatlah, aku sudah tidak sabar” ucap Donghae padaku sesaat setelah melihat Hyejin tengah terdiam dipojokkan perpustakaan sembari membaca sebuah buku.

“Aish! Jangan berisik! Ini perpustakaan Donghae ssi” balasku sedikit kesal, sebenarnya bukan karna Donghae berisik diperpus tapi lebih tepatnya aku cemburu, sungguh cemburu. Tapi beginilah aku, sebagai sahabat yang baik mau tidak mau aku harus mengenalkan mereka berdua. Karna sekali lagi, aku tak ingin melihat Donghae bersedih atau frustasi karna tak dapat berkenalan dengan Hyejin.

Donghae mendorong pundakku pelan saat posisi kami sudah semakin dekat dengan posisi Hyejin, kutarik nafas pelan dan mulai mengeluarkan suara.

“Cogiyo” ujarku, dan Hyejin pun menengadahkan kepalanya untuk melihat aku dan Donghae yang tengah terdiri disampingnya.

“Eum? Ahya ssi? Ada apa?” balasnya sambil terseyum manis, dan kuyakin kini Donghae tengah tersenyum entah seperti apa. “Begini, eum.. apa lomba jurusan sastra minggu depan jadi dilaksanakan?” sahutku basa basi, karna sebelumnya aku dan Hyejin tergabung dalam sebuah kelompok penelitian sastra yang akan diikut sertakan dalam lomba se-Korea, jadi aku dan dia sudah sedikit akrab.

“Ouh, bukannya diundur menjadi bulan depan?” balasnya dengan wajah serius sembari menutup bukunya. Sebenarnya aku sudah sangat tau tentang berita ini, tapi lagi-lagi demi Donghae akupun rela berpura-pura bodoh seperti ini.

“Oh, begitu ya” tiba-tiba aku merasakan sebuah lengan yang menyenggol lenganku.  Oh Donghae! Demi apa aku tau kau sudah tak sabaran! Tapi kumohon, beri aku sedikit waktu untuk basa basi dan juga sekedar untuk melepasmu.

“Oh ya, Hyejin ssi. Kenalkan ini sahabatku, namanya Lee Donghae” ucapku tiba-tiba sembari berbalik menyengol lengan Donghae, dengan ramah Hyejin membalas uluran tangan Donghae. Mereka saling bersalaman, dan juga berkenalan.

“Anyeong Hyejin ssi, Donghae imnida” ucap Donghae sembari memberikan senyuman termanisnya.

“Aku sudah tau” balas Hyejin, yang membuat Donghae sedikit menaikkan alisnya. Tetapi Hyejin malah tersenyum melihatnya.

“Kau mengenalku?”

“Hem, siapa yang tak mengenal ketua Senat Universitas ini sih? Aku rasa semua mahasiswa disini mengenalmu Donghae ssi”

“Ah, aku lupa jika aku ini ketua Senat. Hehe” cih! Sebegitu nervous-nya kah kau saat berdekatan dengan gadis ini? sampai-sampai melupakan statusmu sendiri sebagai ketua Senat!

“Kau juga sangat terkenal dikampus ini Hyejin ssi” lanjut Donghae yang langsung mendapatkan senggolan kecil dipundaknya dari Hyejin.

“Ya! Tak usah berlebihan, aku hanya seorang mahasiswi biasa”

“Sudahlah, semua orang disini juga tau kalau kau itu seorang super model hehe” mereka terus berbincang sangat akrab, hingga aku benar-benar terlupakan! Haaah! Kenapa hatiku begitu sakit Tuhan? Melihat mereka tersenyum bahagia seperti ini?

*Flash Back End*

“Panda-ku aku pergi dulu ne” suara Donghae kembali menggema ditelingaku, namja itu berdiri dari duduknya sambil tersenyum kepadaku, begitu pula dengan Hyejin.

“Kerjakan skripsi mu dengan sungguh-sungguh! Jika tidak, aku yakin kau tak bisa memakai seragam sarjana nanti bersamaku. Hehehe” lanjutnya, tangannya mengacak-acak poniku. Aku pura-pura merajuk, tapi sesungguhnya aku sangat sangat menyukainya.

“Baiklah, baiklah! pergi sana, hus hus” usirku pura-pura sambil tersenyum. Mereka berdua perlahan menghilang dari hadapanku, airmataku jatuh seketika itu juga saat memandangi punggung mereka berdua dan juga jari-jemari mereka yang saling bertautan tak perlepas.

“Haaah! Haruskan aku menjadi super model sepertinya? Agar kau dapat mencintaiku?” sesalku.

==oOo==

“Caaaah” ujarku senang setelah melihat hasil skripsiku yang benar-benar sudah rapih dan juga selesai dengan bagus. Kulirik jam didinding, ternyata sudah jam 8 pagi. Aku kembali tersenyum, dengan langkah terburu-buru kuraih tas ku dan menenteng skripsiku. Berjalan keluar kamar dan pergi menuju kampus dengan terburu-buru, karna memang batas pengumpulan skripsi adalah hari ini pukul 9 pagi. Tak kuhiraukan suara Kwon Ahjumma yang berteriak-teriak memanggilku untuk memakan sarapanku pagi ini. Ah, mianhae ahjumma! Aku benar-benar tak boleh terlambat hari ini.

Akupun menyetop taksi yang kebetulan lewat didepan rumahku, baru beberapa detik aku berada didalam taksi tapi rasanya ini sungguh asing. Dulu setiap aku ingin pergi kekampus, pasti mobil Donghae sudah terparkir rapi didepan gerbang rumahku. Tapi sekarang? Jangankan mobilnya, Donghae nya pun kini rasanya terlalu sibuk dengan calon kekasihnya itu hingga dengan tega-nya dia melupakanku sabahatnya sejak 10 tahun lalu.

“Boggosipeoh..” desisku tanpa suara sambil menatap layar ponselku yang terpasang foto wajah ku dan juga Donghae yang tengah tersenyum lebar didalam sebuah kincir angin. Aku benar-benar merindukanmu, sungguh!

==oOo==

Jam sudah menunjukkan pukul 08.50 pagi, dengan cepat aku berlari menuju ruangan Dosen Kim yang berada dilantai 3. Ini sungguh menguras tenaga, mengingat aku harus rela berlari sambil menaiki anak tangga sampai dilantai 3 karna lift disini pasti sangat penuh.

“Dosen Kim, mianhae aku terlambat. Hhhhh” ucapku masih dengan nafas yang memburu tidak teratur. Kim Sam hanya tersenyum sambil menatap jam dindingnya yang sudah bertengger diangka 9 pagi. Aku hanya bisa terdiam sembari terus berdoa jika skripsiku dapat diterimanya.

“Belum terlambatkan Sam?”

“Belum, kau datang tepat waktu Ahya ssi”

Senyumanku tak mau luntur sedari tadi saat keluar dari ruangan Dosen Kim, akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana. Tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar, kulihat tertera nama Donghae dilayar ponselku. Akhirnya dia menghubungiku! Ah, dengan cepat kujawab panggilannya.

“Yeobseo”

“Ne, yeobseo. Neo eodiga? Ada hal yang sangat penting yang ingin kuceritakan padamu. Aku tunggu kau dikantin. Palliwa!!”

Tut—tut—tut—tut.

Aku hanya bisa menelan ludahku saat mendegar penuturan panjangnya, tanpa memberiku sedikit untuk mengeluarkan suara lagi. Dengan cepat aku berjalan lagi menuju kantin yang letaknya dilantai dasar. Aigoo sungguh lelah pagiku ini, terlebih aku belum sarapan sedikitpun hari ini.

Sesampainya dikantin, aku langsung duduk dibangku yang berhadapan langsung dengannya. Hari ini Donghae sungguh begitu berbeda, selain ia merubah tatanan rambutnya, dia juga terlihat tak melunturkan senyumannya sedari tadi saat melihatku dari kejauhan. Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku begitu tidak enak?

“Kau sudah sarapan?” tanyanya, aku hanya menggeleng. Sedetik kemudian, ia menggeser piringnya yang berisi nasi goreng kimchi miliknya yang masih utuh.

“Makanlah, nanti kau sakit” ujarnya lagi sambil tersenyum lembut, oh Tuhan! Kenapa rasanya Donghae bertambah manis? Apalagi sifat perhatiannya ini yang tak pernah berubah sama sekali padaku, ya walaupun akhir-akhir ini hubungan kami agak sedikit merenggang.

“Lalu kau?”

“Aku sudah sarapan tadi dirumah, kau makan saja” balasnya, lalu tanpa ragu aku memakan sarapannya. Jujur aku begitu lapar, bahkan semalam aku benar-benar melupakan jadwal makan malamku demi menyelesaikan skripsiku.

Donghae, lelaki itu benar-benar tak berhenti tersenyum sedari tadi. Ada apa dengannya? Apa dia sakit?

“Donghae ah, tadi kau bilang ada hal penting. Apa heum?” tanyaku sambil mengunyah sarapanku.

“Tunggu sebentar” balasnya, dan kepalanya kini menelusuri kearah pintu masuk kantin. “Ah itu dia” serunya sambil melambai-lambaikan tangannya, membuat kepalaku refleks berbalik agar dapat melihat sesuatu yang sedang membuatnya tersenyum lebar seperti itu.

Deg! Tiba-tiba hatiku mencelos, hingga gadis itu –Hyejin- berjalan menuju meja kami dan duduk disebelah Donghae. Mereka berpelukan sejenak, lalu bertukar senyuman dan kembali memandangku dengan  wajah cerianya.

“Ahya ah! Kita baru saja—“

“Jinja? Sejak kapan?” dengan cepat kusanggah ucapan Donghae, karna aku tak yakin dapat bernafas bebas setelah mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Donghae.

“Semalam” sahut Hyejin sambil tersenyum manis dan mengenggam erat jari jemari Donghae. Dadaku begitu sesak, ada sekitar sepuluh ribu anak panah yang sedang menghujam hatiku saat ini, begitu sakit! Sangat sakit. Bagaimana ini? haruskah aku ikut bahagia bersama mereka? Atau berteriak dan menangis seperti orang gila?

“Panda ya! Kau melamun lagi! Apa tak mau memberi kita selamat uh?” Donghae sedikit mengguncangkan lenganku, menyuruhku terbangun dari lamunanku. Entah kenapa, lidahku menjadi sangat kelu seperti ini.

“Cu—Cukkhaterimnida” ucapku.

“Ne, Gomawo” balas mereka berdua.

“Kalian benar-benar serasi, sangat cocok. Hehe, sama sama populer! Kurasa kalian berjodoh” lanjutku.

“Ah, aku lupa. Mianhae, aku harus pergi” lanjutku lagi dan meraih tasku dan hendak berjalan pergi, tapi Donghae menahan lenganku.

“Mau kemana?”

“Aku harus kebutik eomma, aku lupa jika ada janji dengan Yura eonni. Aku pergi dulu ne” dengan setengah berlari aku meninggalkan mereka berdua. Hatiku benar-benar sakit!

Airmataku benar-benar tak dapat tertampung lagi, mereka terus bergulir berjatuhan mengaliri pipiku. Oh Tuhan, kenapa sesakit ini? Rasanya aku memang sudah benar-benar gila! Mana bisa aku mencintai sahabatku sendiri yang nyata-nyata ia sudah mencintai gadis lain.

“Aggashi, kita mau kemana?” tanya supir taksi yang sedang kutumpangi ini. Aku berpikir sejenak, butik eomma? Ah tidak mungkin! Mereka pasti bertanya-tanya tentang mataku yang sembab. Rumah? Ah, aku tak mau pulang dulu saat ini. uh, aku ingat.

“Taman bukit matahari”

Beberapa menit kemudian, kurasa taksi ini berhenti. Aku turun dari taksi dan juga tak lupa untuk membayarnya. Dengan cepat aku berlari kebelakang bukit yang cukup tinggi itu. Aku terduduk dihadapan sebuah sungai buatan ini, menghempaskan tubuhku yang rasanya begitu lemah.

Airmataku tak pernah berhenti mengalir sedari tadi. Kucengkram erat-erat rerumputan yang ada disamping tubuhku, berteriak layaknya orang gila yang baru saja kehilangan makanannya.

“Aaaaaaaagggggh! Kenapa harus seperti ini? hiks, hiks, sungguh sakit!” refleks, tanganku memukul-mukul dadaku dibagian jantung. Karna itu yang memang terasa paling sakit. Tapi? Haruskah aku seperti ini? bukankah, cinta itu tak harus memiliki? Dan bukankah, harusnya aku bahagia melihat Donghae bahagia?

Harusnya memang seperti itu. Aku hanyalah sahabatnya, tidak lebih dari itu. Tapi rasanya begitu sulit untuk melengkungan sudut bibirku ini untuk melihat mereka berdua. Tuhan, kumohon kuatkan aku.

==oOo==

Tok tok tok! Tok tok tok! Tok tok tok!

“Ahya ah! Sampai kapan kau mau mengurung diri dikamar seperti ini huh? Ini sudah hari ke-2 kau tak keluar dari kamar!” suara eomma sungguh menggema ditelingaku, bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dengan kasarnya.

“Chagiya, cepat keluar nak. Kau belum makan sejak kemarin, nanti kau sakit. Ayo keluar nak” dan kini suara appa terdengar jauh lebih lembut dari suara eomma.

“Huh! Mianhae eomma, appa aku membuat kalian khawatir. Tenang saja, aku tak akan kelaparan, karna aku sudah menyetok cukup banyak makanan” ucapku lirih sambil menatap tumpukan roti yang kubeli dua hari lalu sepulang dari taman bukit matahari.

“Ayolah, Ahya keluar nak. Tadi, Donghae datang kemari dan menanyakan keadaanmu. Dia bilang nomer handphone-mu tidak aktif sejak kemarin.” Ujar eomma.

“Apa dia sudah pergi?” balasku dengan kencang, dan kini aku yakin mereka mendengar dengan sempurna.

“Sudah, harusnya kau keluar se—“

“Lalu eomma bilang apa padanya?” ucapku memotong perkataan eomma yang pasti akan menyuruhku untuk keluar kamar.

“Jika kau ingin tau, kau harus keluar dulu. Nanti eomma akan memberitahumu” aigoo jinja! Tapi aku tak kehabisan akal eommaaaaa.

“Aku tidak akan keluar sebelum eomma memberitahuku” ucapku berbalik mengancam eomma. Kekekekeke. Mianhae eomma, aku rasa kali ini aku begitu kurang ajar kepadamu.

“Yak! Baiklah. eomma hanya bilang jika kau sedang tak mau diganggu. Lalu setelah itu dia pergi” haah! Untunglah, eomma tidak mengatakan yang sesungguhnya, walaupun tak ada yang tau mengapa aku mengurung diri dikamar selain aku dan juga Tuhan.

“Ahya! Sudah. Sekarang waktunya keluar” sahut eomma lagi dari balik pintu kamarku.

“Ah, mianhae eomma. Aku sedang tak ingin diganggu, jadi nanti sore atau malam kurasa aku baru siap untuk keluar kamar. Mianhae”

“Kyaaaa! Neo………” dengan cepat, kupasang earphone dan menyetel lagu dengan volume yang paling kencang sehingga suara eomma benar-benar tak terdengar.

==oOo==

“Chagiyaaa, kau sudah keluar kamar rupanya. Aigoo, kau lapar ne?” tanya eomma dan appa yang tiba-tiba saja langsung memelukku yang sedang duduk didepan meja makan. Bukannya aku lapar eomma, hanya saja aku mulai bosan dengan roti-roti itu.

“Eoh, Ahya appa ada berita penting untukmu”

“Apa?” tanyaku sambil terus mengunyah makananku.

“Bulan depan kau menikah” bola mataku terasa ingin melompat dari sarangnya, begitu juga dengan jantungku. Refleks, aku menyemburkan semua makananku yang ada dimulutku dan mengenai wajah appa.

“MWOYA?!”

“Tak usah terkejut begitu, kami sudah menjodohkanmu sejak dulu. Dan ini saat yang tepat untuk membicarakannya padamu, karna minggu depan kau sudah lulus dari universitas, bukan?” kenapa nasibku begitu buruk seperti ini? baru saja merasakan sakit hati, dan kini sudah harus berlapang dada lagi untuk menerima ujian selanjutnya. Menikah?! Dengan siapa? Akupun belum tau!

TBC..

17 thoughts on “STUPID IN LOVE (Chapter 1)

  1. Waduuhh, baru sibuk selese’in skripsi udah main jodoh-jodohan ajah, haha😄

    good, maju ke bagian selanjutnya~

  2. Waduh dijodohinnya ama sapa nih? Donghae? Kalo sama donghae bisa ngancurin persahabatan mereka dong thor..kasian ahyanya😦 , fighting! Keep writing^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s