Summer in My Winter | FF Peserta Lomba

 

sehun7

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author (FB & Twitter)         : Luphe SiMinozsejati / @luphelf18

Title                : Summer in My Winter

Genre                         : Comedy, Romance, and Sad

Main Cast      : Kang Hyun Ae (OC)

                          Sehun Oh EXO-K

Disclaimer      : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

Kang hyun ae duduk mengayun-ayunkan kedua kakinya sambil memandang langit-langit ruang yang lambat laun terasa dingin. Menghembuskan nafas pelan, sangat pelan, kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dingin. Cuaca hari ini mulai dingin. Apa musim dingin tahun ini datang lebih cepat? pikirnya dalam hati. Tiba-tiba ia terhentak saat mendengar suara memanggil namanya.

“kang hyun ae !” panggil bos Good day Cafe, Lee Donghae. Hyun ae menengok ke belakang.

 

Ya. Kang Hyun Ae adalah nama lengkap perempuan itu yang diberikan kedua orang tuanya. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya tapi ia tidak tahu dimana mereka hidup sekarang sejak cerai beberapa bulan yang lalu. Ia kemudian memutuskan hidup di Seoul. Kuliah dan bekerja adalah hal yang sudah biasa ia jalankan demi hidup yang ia impikan.

 

“sedang apa kau? Cepat layani pelanggan meja nomor 4” perintah Lee Donghae. Segera hyun ae beranjak dari kursi yang 15 menit lalu ia duduki.

“siap!” ia mengangkat kedua jari tangan kanannya ke atas pelipis.

 

Pukul 4.00 pm

 

“boleh aku pulang? Aku harus pergi kuliah” hyun ae bertanya meminta izin pada bosnya seperti biasa. Si bos hanya menganggukkan kepala.

 

“gamsahamnida” Hyun ae berterima kasih sambil membungkukkan badan nyaris 90° sempurna. Kemudian dia pergi keluar sambil membopong buku-buku yang akan digunakan untuk kuliah hari ini. Ya, hyun ae selalu membawa buku bersama saat ia bekerja di cafe. Hyun ae berjalan dengan langkah lebar yang tak sebanding dengan tubuhnya yang bisa dibilang mungil. Ia hanya bertinggi 158 cm, belum cukup tinggi untuk ukuran seorang model.

 

BRUUK…!

Buku-buku hyun ae berjatuhan tepat di depan air mancur yang berada di depan cafe.

“Aiissh..! Kenapa mesti ada acara berantakan begini?” gerutunya sambil memungut buku satu persatu.

 

“mau aku bantu?”

 

Seorang laki-laki dengan telinga tersumbat earphone berdiri tepat di depannya, menghalangi sinar matahari, menawarkan diri membantu hyun ae. Hyun ae mendongak. Sinar matahari yang terhalang laki-laki tersebut membuat hyun ae tidak dapat melihat muka laki-laki di depannya dengan jelas. Buram yang ia dapat. Sedikit lama ia terdiam. Sampai akhirnya laki-laki itu melambai-lambaikan tangannya.

 

“Ya! Mau aku bantu tidak?” lelaki itu menawarkan untuk yang kedua kalinya.

“ah, tidak usah. Aku bisa sendiri. gomawoyo” hyun ae menolak tawarannya namun masih perlu berterimakasih. Segera hyun ae memungut bukunya dan pergi. Namun pemuda tadi masih berdiri di tempat pertama hyun ae bertemu laki-laki itu. Hyun ae melihat dia jongkok. Ia tidak tahu apa yang dilakukan laki-laki itu. Sedetik kemudian laki-laki tersebut menoleh ke arah hyun ae. Hyun ae kaget lantas membuang muka, pura-pura tidak melihatnya. Ah sudahlah, untuk apa dipikirkan. Batin hyun ae sambil memukul-mukul kepala.

 

Pukul 8.30 pm

 

Hyun ae duduk di bangku di depan ruang perpustakaan.

“ahh! Kenapa dingin begini”

“capucino…” celetuknya.

 

“capucino?”

Seorang laki-laki di balik tembok (di perpus) tempat hyun ae duduk, mendengar seseorang mengatakan ‘capucino’ yang membuatnya mengingatkan pada teman masa kecilnya. Teman masa kecilnya itu selalu mengatakan ‘capucino’ jika hawa pada saat itu dingin. Kemudian laki-laki itu mengintip ke sumber suara, ternyata perempuan yang ia temui di depan cafe.

 

“ya, hyun ae! Kau tidak pulang?” salah satu teman hyun ae, lee ji eun bertanya padanya.

“nanti. Kau tidak tahu, ini dingin” ia menjawab.

“ini sudah malam lho..” kata ji eun melirik jam tangannya.

“emangnya siapa yang bilang siang?” batin hyun ae.

“ini aku pinjami sweater. Besok kembalikan ya? Kalo begitu aku pulang dulu” ji eun menyodorkan sweaternya dan segera berlalu.

“iya!” hyun ae menjawab kesal. Ia mencium sekilas bau sweaternya. Huek! Benar-benar bau.

“hati-hati ya…? Malem-malem begini sendirian” kata ji eun meledek hyun ae.

“ya! Hantu takut sama aku soalnya aku terlalu cantik” jawab hyun ae sambil terkekeh. Lalu memukul kepalanya sendiri. “apa-apain sih ini”

 

1 setengah jam kemudian…

Malam semakin larut. Angin malam mulai mendarat di sekujur tubuh hyun ae. Hyun ae menggosok-gosokkan kedua tangannya mencoba mencari kehangatan. Kemudian hyun ae menengok ke kanan dan ke kiri, mencoba memastikan apakah masih ada orang atau tidak. Ternyata nihil. Kosong. Benar-benar senyap. Huft! Ia kemudian memutuskan pulang dengan memakai sweater temannya yang ia prediksi 1 bulan tidak dicuci. Bisa dibayangkan seperti apa baunya.

 

Tap…tap…tap…

 

Hyun ae melangkahkan kaki menuju rumah. Ia merasa seseorang mengikutinya sejak meninggalkan kampus. Ya sekitar 10 menit yang lalu. Lalu ia mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya ujung kakinya mencium batu di tengah jalan. Bruuk! Hyun ae tersandung dan terjatuh. Lalu ia menengok ke belakang.

 

“YA! Siapapun kau, perlihatkan dirimu! Pecundang! Kau mengikutiku 10 menit yang lalu. Aku tahu itu. Lebih tepatnya sejak aku keluar dari gerbang kampus!”

 

Panjang lebar mulut hyun ae berdialog. Ia masih tersungkur di jalan. Amarahnya sudah tak terbendung lagi. Hingga terlintas di otaknya untuk melempar sepatu kanannya. Ketika sepatu melayang, stalker itu tiba-tiba keluar dari balik dinding rumah.

 

DUAK!!

 

Terdengar sangat keras. Refleks hyun ae mengusap-usap dahinya. Terlihat stalker itu mengusap-usap dahinya. Hyun ae melihat dengan cermat orang itu, memiringkan kepala dan menyipitkan kedua matanya. Dan beberapa detik kemudian mata hyun ae membulat. Hah! Dia orang yang tadi pagi di depan cafe tempatnya bekerja.

 

“aww!!” laki-laki itu mengeluh kesakitan. Ia mengambil sepatu yang jatuh di depan kakinya dan  menggenggamnya erat.

“kau ini perempuan atau apa? Huh?” ia bertanya dengan marah sambil menodongkan sepatu itu ke depan.

“lalu kau pikir kau siapa? kau ini paparazzi atau apa? Kau tahu, aku ini bukan artis!” suara hyun ae terdengar lebih keras, dan ia berusaha bangun dari jalanan dimana ia terjatuh.

“maaf.. aku hanya ingin mengembalikan…”

“…pinmu” sambil mengulurkan tangan kanannya, namun hyun ae sudah berlalu.

“di mana dia? YAAA!!!”

 

Aku bertemu dia kedua kalinya. Dia mengikutiku pulang seperti paparazzi. Tapi ketika aku bertemu dia, kenapa jantungku dag dig dug? Aku bisa gila kalau sampai terbawa mimpi atau apalah yang sejenisnya. Pikir hyun ae. Berulang-ulang bayangan orang itu muncul di kepalanya.  Sekelebat bayangan masa lalunya terlintas di kepala.

 

“aku janji akan menemuimu di tempat ini suatu saat nanti. Aku tau karena kau pernah bilang padaku kalau aku adalah musim panas di musim dinginmu”

 

 

12.30 pm @kelas ( jam kuliah siang)

 

“to kang hyun ae. Sepatu bagian kananmu tertinggal di rumahku setelah kita berkencan. Aku mau bertemu kau setelah jam kuliah selesai. Arraseo? From X Boy”

 

Tertulis jelas di whiteboard kelas hyun ae. Semua teman hyun ae yang berada di kelas terus berbincang-bincang dengan teman lainnya. Sementara kang hyun ae masih belum masuk kelas dari jam istirahat.

 

“wah itu benar-benar dari X Boy?”

“aku rasa itu hanya rekayasa dia saja”

“beruntung sekali dia bisa berkencan dengan laki-laki yang ganteng itu”.

Mereka mulai bertanya-tanya.

 

Kkreeek..!

 

Hyun ae masuk dengan wajah tak bersemangat. Sesekali menguap. Ia belum menyadari kalau terdapat tulisan jelas yang menyebutkan dirinya terpampang di papan tulis.

 

“hyun ae, apa itu benar?” salah satu temannya bertanya penasaran.

“ha?” hyun ae tampak bingung.

 

Semua temannya menunjuk ke papan tulis, menyuruh hyun ae melihatnya. Hyun ae tampak mengeja tulisan han-gul besar yang tercetak di depan. Lima detik kemudian kedua matanya membulat diimbangi mulutnya yang membentuk huruf o. Dengan sigap, ia menanggapi. Ia membalikkan badan berjalan mundur ke depan kelas dan membelakangi papan tulis.

 

“tidak. Ini tidak benar. jeongmal! Mana mungkin aku berkencan dengan orang yang tidak aku kenal. Benar kan?” hyun ae mencoba menyangkal. Ya, dia menangkal karena ia memang tidak berkencan dengan siapapun semalam.

 

“sepertinya hanya sepatuku yang berkencan” ia mencoba membuat lelucon. Namun gagal. Semua penghuni memandang dalam diam, kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing

 

“iya juga sich, sepertinya tidak mungkin dech dia bisa berkencan dengan laki-laki itu” terdengar bisik-bisik mereka. Hyun ae tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia menunduk, tawanya berubah menjadi ekspresi balas dendam.

“Orang itu, awas kau!”

 

Tiba-tiba…

 

BRAKK!!

 

Pintu kelas berdebam keras. Semua orang di dalam kaget, memandang sumber suara. Sebagian besar dari mereka berdiri. Pintu itu memberi celah sedikit, kemudian melebar. Pluuk! Sepatu tanpa pasangannya yang tak bertuan jatuh. Hah! Itu kan sepatuku. Hyun ae yang masih di depan kelas tampak bingung. Siapa yang menaruh di sini? Pikirnya. Hyun ae menggigit bibir kemudian berjalan mendekati sepatu tersebut. Belum sampai, tiba-tiba seorang laki-laki memungutnya.

 

“ini sepatumu kan?” dia menggoda hyun ae, mengangkat tinggi sepatu hyun ae.

“wah itu si X Boy!” semua perempuan di kelas terkagum-kagum.

 

“kembalikan!” hyun ae mencoba meraihnya, tapi tidak sampai karena makhluk di depannya ini terlalu tinggi.

 

Salah satu temannya berteriak ke hyun ae “hyun ae, kau sangat beruntung!”. Hyun ae menoleh ke ji eun yang barusan berteriak tidak jelas. Ciiiaaaat…!! Hyun ae terbelit kakinya sendiri. Tangan hyun ae mencoba mencengkeram lengan makhluk tinggi di depannya. Namun, cengkeramannya membuat mereka jatuh bersama. Bruuk!  Tangan kanan laki-laki itu menyanggah kepala hyun ae agar kepalanya tidak terbentur lantai. Melihat pemandangan itu, teman-teman hyun ae melongo. Mereka berdua berpandangan. Bola mata hyun ae terlihat berlari ke kanan-kiri, gugup. Sementara laki-laki itu memandangnya dengan tenang.

 

“mari kita berkencan saat turun salju pertama.” ajak laki-laki dengan senyum evilnya. Tangan kirinya memegang sepatu hyun ae, masih menyanggah berat badannya agar tidak menimpa tubuh hyun ae.

“sepatumu akan kukembalikan saat pertama kita berkencan” ia berbisik di telinga kanan hyun ae. Kemudian laki-laki itu mencium kening hyun ae dengan lembut. Jantung hyun ae berdegup kencang. Hyun ae kemudian mendorong laki-laki itu agar menyingkir dari posisinya.

 

“kau lancang, mencium ken..” belum selesai hyun ae menyelesaikan kata-katanya, laki-laki itu menarik paksa hyun ae, menyuruh agar mengikutinya. Hyun ae hanya pasrah, langkahnya terseret-seret.

 

“YA! Aku bisa jalan sendiri” kata hyun ae sedikit berteriak mencoba memberontak. Tangan kanan laki-laki itu menarik tangan kiri hyun ae, sementara tangan lainnya menggenggam sepatu hyun ae. Mereka berdua menuju lapangan di dekat sungai. Setelah sampai, laki-laki itu melepas genggamannya.

 

“kau ini siapa? Huh? Kembalikan sepatuku!” marah hyun ae.

“tenanglah sebentar saja” laki-laki itu mencoba menenangkan hyun ae yang marah.

 

Mereka duduk di lapangan terbuka. Laki-laki itu membaringkan tubuhnya dan dilihatnya langit yang redup. Suasana tiba-tiba hening. Lambat laun, hyun ae yang duduk di samping kiri laki-laki itu ikut berbaring sejajar dengan laki-laki itu.

 

“hyun ae-ssi,” laki-laki itu mulai membuka dialog. Hyun ae sedikit kaget. Bagaimana bisa dia tahu namaku, sedangkan aku tidak pernah ada hubungan apalagi berteman, pikirnya. Hyun ae masih terdiam.

 

“kau pasti heran, kenapa aku tahu namamu sedangkan kita tidak pernah bertemu apalagi berteman, bukan?” ia masih menatap langit yang redup. Lho kok dia tahu apa yang aku pikirkan, pikir hyun ae.

 

“aku bukan peramal kok. Aku hanya bertanya namamu pada temanmu” ia berbohong. Berbohong untuk kebaikan.

“aku sehun. Oh sehun” laki-laki itu menyebutkan namanya walaupun dia tahu kalau hyun ae tidak bertanya siapa namanya. Hyun ae hanya mengangguk. Hanya satu kata yang terdengar dari mulutnya “oow” terlihat sangat dingin.

 

~flashback~

 

Terdengar samar-samar suara orang menangis. Kemudian oh sehun yang mendengar suara itu menghampirinya di balik tanaman yang membentuk pagar. Dilihatnya seorang anak perempuan menangis. Menekuk lutut dan mendekapnya erat.

 

“hey kau kenapa? Apa kau tersesat?” sehun mencoba bertanya pada anak perempuan di hadapannya itu.

“kau siapa?” tanyanya jutek. Ia sedikit mendongakkan kepalanya.

“sehun. Oh sehun”

“aku tidak tanya namamu. Kau pikir kau siapa? Berani bertanya padaku?Huh?” ia sedikit marah.

Aaiish perempuan ini, menyebalkan.

“aku mencoba bertanya, kenapa kau menangis? Tersesat atau kau dimarahi ibumu?” sehun mengulang pertanyaannya dan menambahkan sedikit susunan kata-katanya. Tetapi perempuan itu malah menangis lebih keras.

 

“YA! Aku tanya baik-baik” sehun mulai marah. Ia benci melihat orang menangis. Ia mencoba mengendalikan emosinya. Tiba-tiba hujan salju di hari pertama turun.

“baiklah. Aku tinggal di panti asuhan di sekitar sini” sehun mencoba menjelaskan. “kalau kau tidak ingin membeku kedinginan di sini, ikutlah denganku.”

“sireo!” jawabnya mantap tanpa pikir panjang. Sehun mulai meninggalkan perempuan itu. Baru lima langkah,

“tunggu..” ia menghentikan langkah kaki sehun

“..aku ikut” nadanya sangat datar.

~flashback end~

 

Oh sehun tahu kalau sifat jutek hyun ae akan muncul jika baru bertemu dengan orang baru, apalagi kalau orang baru itu mengajaknya bicara. Ia hanya memakluminya saja.

“kau tahu, kau masih seperti yang dulu pertama kita bertemu” ia berkata dalam hati.

 

“lalu kenapa kau mengikutiku kemarin malam seperti paparazzi? Emangnya, muka aku mirip artis yah?” Hyun ae mulai ge-er.

“ani,” jawab sehun datar.

 

Keduanya diam. Sehun tidak tahu apa yang sedang dilakukan hyun ae juga hyun ae tidak tahu apa yang sedang dilakukan sehun sekarang. Kemudian sehun meraih tanaman dengan bunga yang ada di ujung tangkainya yang panjang, yang berada di kanan sehun berbaring. Ia rangkai bunga itu menjadi sebuah cincin.

 

“sebenarnya, kemarin malam aku mengikutimu hanya ingin mengembalikan…” sehun memalingkan kepalanya ke tempat hyun ae terbaring.

“…pinmu”

Sehun mendapati hyun ae tertidur. Bagaimana bisa dia tertidur saat suasananya seperti ini, pikir sehun. Sehun memutar kembali kepalanya seperti semula.

“bicaraku tadi…, sia-sia. Kau tak mendengarkan aku” sehun berbicara sendiri kemudian tersenyum.

“pinmu terjatuh waktu buku-bukumu jatuh. Dan sejak saat itu aku menemukanmu…”
“…kembali”

 

Tiba-tiba hujan turun. Hujan salju di hari pertama. Muka sehun mendadak berubah menjadi kekecewaan. Ia berharap hujan turun di hari pertama ia dan hyun ae berkencan. Tapi sehun tidak menyalahkan salju yang turun, ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa ia baru menemukan gadis kecilnya itu. Di sela-sela kekecewaannya, ia tersenyum, memandang hyun ae yang tertidur. Kemudian ia pasangkan cincin bunga yang sedari tadi ia buat, ke jari manis kiri hyun ae. Sehun kembali ke posisi semula.

 

“hey, bangun! Salju turun. Nanti kau basah” sehun yang masih telentang menghadap langit, membangunkan hyun ae. Salju yang turun membuat pakaian keduanya perlahan basah.

 

“cepat, kita harus pulang” ia menggoyangkan tangan hyun ae.

“ah,, aku tertidur. Berapa lama kita di sini?”

“mmm… sekitar 1 setengah jam yang lalu”

 

******

 

“kalau seseorang mencium keningmu, itu tandanya apa?” hyun ae yang sedang mengelap gelas-gelas, bertanya pada Lee Donghae di café tempatnya bekerja.

“itu artinya dia menyayangiku atau mengkin mencintaiku” terlihat mata Lee donghae berandai-andai. Tapi ia kemudian tersadar.

“tapi kalau laki-laki yang mencium keningku… itu menCURIGAKAN!” lee donghae tergidik sendiri membayangkannya. Hyun ae mulai berpikir apakah sehun suka dengannya? Kemudian ia melirik jari di tangan kanannya. Cincin. Cincin yang kemarin? Ia bertanya-tanya di mana cincin yang kemarin ia gunakan.

 

~Flashback

 

Hyun ae berjalan ke arah rumahnya dengan melipat kedua tangannya. Udara sore itu dingin, dan tentunya hujan salju. Berjalan di temani sehun yang baru ia kenal 2 jam yang lalu.

 

“aku sudah sampai rumah. Segeralah pergi” ia memberi kode agar sehun cepat pergi. Sehun pergi pulang ke rumahnya. Sementara hyun ae masuk rumah. Ia keluar lagi memastikan jika sehun sudah benar-benar pergi dan tidak terlihat oleh matanya lagi. Kemudian ia melirik tangan kirinya yang bersemayam cincin dari rumput-rumputan dan membuangnya di tempat sampah di samping pintu masuk rumahnya.

“buat apa aku simpan cincin begituan?”

~Flashback end

 

“haduh bagaimana ini kalau dia menanyakan cincin yang kemarin?” hyun ae nampak bingung.

“masa iya aku harus ngorek-orek tempat sampah?” ia bertanya pada diri sendiri.

“tapi…, buat apa aku cari lagi? Toh juga ngga penting bagiku” ia menjawab pertanyaannya sendiri. Kemudian ia meneruskan mengelap gelas yang ada di atas meja.

 

“hyun-noona, ada yang mencarimu” Lee Taemin yang juga bekerja di cafe memberitahu hyun ae kalu ada yang mencarinya.

“nugu?” tanya hyun ae. Taemin memberi kode dengan menggerakkan dagunya, menyuruh agar hyun ae menengok ke arah taemin maksud.

“Tumben dia ke cafe ini” batin hyun ae setelah melihat Lee Ji eun. Hyun ae balik ke belakang membawa sesuatu.

 

Brukk!

“kukembalikan sweatermu yang baunya selangit!” hyun ae meletakkan sweater ji eun tepat di kepala ji eun. Tapi ji eun tidak merespon, marah ataupun malu. Pandangannya menerawang entah ke mana. Hyun ae heran, ada apa dengan makhluk ini. Hyun ae duduk berseberangan dengan ji eun. Hyun ae tetap diam, memandang ji eun.

 

“hyun ae!” mata ji eun melebar.

“kenapa kau mengagetkanku, huh?” hyun ae ngejitak dahi ji eun.

“kau harus berkencan dengan sehun!” kata ji eun sambil mengusap dahinya. Kata-kata ji eun tersebut membuat bahu hyun ae tegap.

“maksudmu?” hyun ae tidak mengerti.

“iya,” jawab eu ji.

“memangnya kau tidak melihat tanda-tanda kalau dia itu teman dekatmu dulu?”. Hyun ae semakin bingung.

“ji eun, kau tahu tidak, kemarin sehun ngasih aku cincin dari tanaman, tapi aku buang” hyun ae bercerita pada ji eun. Tiba-tiba mata ji eun berbinar-binar.

“o yah? Wah bagus itu!” kata ji eun sambil menopangkan dagunya di kedua tangan.

“apanya yang bagus?” hyun ae protes.

 

Kemudian pelanggan dengan jaket biru tebal, lengkap dengan syal yang melingkar di lehernya, masuk ke café.

 

“selamat datang!” hyun ae membungkukkan badan menyambut pelanggan yang baru masuk itu. Ji eun menoleh ke pintu.

 

“ah sehun-ssi. Kau datang” ji eun girang.

 

‘sehun’? hyun ae yang belum kembali berdiri, mendengar bahwa sehun pelanggan yang barusan ia sambut, datang ke café nya. Ia berdiri, mundur mengendap-endap dengan hati-hati ke belakang

“ji eun sudah mengenalnya?”

 

Sehun dan ji eun asik mengobrol, sementara hyun ae tetap tidak muncul di depan mereka. Hyun ae memilih mendengarkan obrolan mereka di balik dinding yang letaknya tidak jauh dari meja sehun dan ji eun, tetapi ia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka obrolkan.

 

“hyun ae, kau sedang apa?” taemin yang datang dari belakang, mengagetkan hyun ae yang sedang menguping. Hyun ae yang membungkuk refleks menegakkan badannya. Ia salah tingkah. Kemudian hyun ae pergi ke belakang.

 

“kenapa aku tidak diajak mengobrol? Dasar menyebalkan!” menggerutunya sendiri.

 

“kau sudah bertukar nomor dengan hyun ae?” ji eun bertanya.

“belum, tapi aku sudah mencuri nomor hp nya” jawab sehun diiringi tawa ringannya. Hyun ae keluar membawa dua cangkir berisi capucino.

 

“kau suka hyu ae tidak?” sedikit berbisik, ji eun bertanya pada sehun. Sehun mengedipkan kedua matanya membuat ji eun mengerti jawabannya.

“aku mendukungmu!” ucap ji eun dengan tegas.

“mendukung apa?” Tanya hyun ae penasaran.

“bukan apa-apa” jawab ji eun dengan santainya.

 

“wah sepertinya hujan saljunya lebat” ji eun mengalihkan pembicaraan.

“aduh.., bagaimana ini? Aku tidak bawa payung” hyun ae ribut sendiri. Sehun kemudian mengeluarkan payung lipat dari tas yang ia bawa. Ia membawa dua, yang satunya diletakkan di luar cafe. Sehun menawarkan pada hyun ae, tapi ji eun mengambilnya sebelum hyun ae berkata “terima kasih” atau “tidak usah”.

 

“sebaiknya kalian satu payung berdua. Arrasseo?”ji eun pergi membawa payung milik sehun.

 

“mau atau tidak?” sehun menawarkan hyun ae.

 

Keduanya sudah di depan cafe.

“kau harus pakai sweater yang tebal” sehun melakukan penekanan pada kata tebal, “bukankah kau tidak suka dingin?” sehun  mencoba menebak di sela-sela obrolannya di jalan.

“memang ia” jawab hyun ae mantap. Ia heran, kenapa orang ini tahu kalau aku tidak suka dingin ?

 

Sepulang kuliah, hyun ae yang berada di koridor kampusnya, melihat sehun menghampiri mobil di depan kampus. Hyun ae tidak tahu siapa dia. Tapi ia mengira-ira kalau itu supirnya. Mobil itu pergi meninggalkan sehun. Sehun berjalan ke arah hyun ae berdiri dengan melindungi kepalanya dengan payung.

 

“kau mau pulang sekarang ?” sehun bertanya sesampainya di depan hyun ae.

“aku bisa pulang sendiri” jawabnya jutek sambil melipat kedua tangannya .

“ingat, kau tidak bawa payung lho..” sehun mulai merayu, “kalau tidak mau ya sudah”

……

“hey tunggu aku” hyun ae menghentikan sehun yang baru berjalan beberapa langkah.

Kejadian itu mengingatkan hyun ae saat ia pertama bertemu dengan teman dekatnya yang sekarang ia tidak tahu di mana dia. Kemudian ia memandang sehun yang berada di samping kiri hyun ae dan mulai berfikir “apa benar yang ji eun katakan ?”

 

“kau lihat apa? Aku ganteng kan?” sehun sadar kalau sedari tadi hyun ae memandangnya. Mendengar apa yang sehun katakan, hyun ae hanya mengernyitkan dahinya.

 

Mereka masih berjalan menuju rumah mereka masing-masing. Mereka berjalan ke jalan yang menuju rumah hyun ae. Hyun merasa ada yang menyentuh tangan kirinya, hyun ae melirik ke tangan kirinya. Ia mendapati jari-jari sehun yang panjang masuk ke sela-sela jari-jari tangannya. Ia tidak pernah merasa sehangat ini sekalipun ia duduk di depan perapian.

 

“bolehkah?” sehun meminta izin. “bukankah ini hangat?”

“ia” jawab hyun ae datar.

Sehun menggenggam erat tangan hyun ae. Aku rindu seperti ini, pikir sehun dalam genggamannya.

 

“masuklah. Jangan lupa minum yang hangat-hangat” perintah sehun sebelum hyun ae masuk. Sehun merogoh saku bagian kiri. Mengeluarkan benda kecil.

“ini milikmu. Terjatuh saat buku-bukumu berjatuhan” sehun mengulurkan tangannya. Hyun ae mengambil pin di tangan kiri sehun sambil berkata terima kasih. Hyun ae masuk, kemudian ia keluar lagi untuk memastikan sehun baik-baik saja.

“Ternyata hatinya begitu hangat” kata hyun ae sambil melihat pin di tangan kanannya.

“mikir apa aku ini” hyun ae ngejitak dahi sendiri.

 

“selamat malam”, “selamat tidur”, “selamat pagi”, “jangan lupa makan”

 

Sepanjang hari sehun selalu mengucapkannya untuk hyun ae lewat sms walaupun terkadang hyun ae tidak membalasnya. Sampai saat ini pun dia selalu menyempatkan pulang bersama hyun ae walaupun selalu ada mobil bertengger di depan kampus yang menjemputnya. Sampai suatu saat hyun ae bertanya mengapa sehun tidak pulang dengan mobil jemputannya itu. Tapi sehun hanya berkata bahwa ia lebih suka jalankaki. Tapi sebenarnya sehun ingin selalu berada di dekat hyun ae.

 

Pagi hari tanpa sinar matahari dan tentunya hujan salju yang terus turun ke bumi, hyun ae sedang menunggu seseorang yang tentunya dikenalnya di taman bermain dekat café tempat hyun ae bekerja. Tapi sehun tidak kunjung datang. Hyun ae masih tetap menunggu, padahal dia paling tidak suka dingin. Entah apa yang ia pikirkan sampai rela menunggu untuk seseorang yang dia rasa tidak spesial baginya. Namun terbesit rasa yang tak biasa dalam diri hyun ae. Ia merasa nyaman bila berada di dekat sehun.

Sehun tiba di depan hyun ae. Napasnya terengah-engah.

 

“kenapa kau masih di sini?” sehun marah pada hyun ae yang tubuhnya kini menggigil. Sehun mengangkat bahu hyun ae, menyuruhnya berdiri.

“kau sudah datang” suara hyun ae nyaris hilang. Sehun kemudian memeluknya.

“seharusnya kau pulang saja kalau aku tidak datang”

“aku hanya ingin menepati janji” hyun ae menjawab dalam dekapan sehun.

 

Sehun dan hyun ae masuk cafe tempat hyun ae bekerja. Mereka memesan dua cappucino.

 

“tunggulah sebentar. Kau akan merasa hangat” sehun menggosok-gosokkan kedua tangannya dan menempelkannya di kedua pipi mungil hyun ae.

 

“aah hyun ae-noona” lee taemin yang membawa dua gelas capucino kaget melihat hyun ae yang ternyata memesan capucino yang dibawanya.

“ssstttt!” hyun ae menyuruh taemin diam agar bosnya, lee donghae tidak melihat hyun ae membolos kerja.

 

“jangan bilang ke bos ya? Jebal?” hyun ae memohon.

“oke oke. Aku ini kan baik hati” taemin membanggakan dirinya sendiri. Hyun ae memanyunkan bibirnya. Keduanya menikmati capucino yang sehun pesan, sementara taemin pergi melayani pelanggan lainnya.

 

“kau suka capucino?” sehun bertanya seolah-olah ia tidak tahu.

“ya”

“o yah” sehun mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan sepatu hyun ae yang malam itu hyun ae lempar. Sehun menaruhnya di meja, menyuruh agar hyun ae mengambilnya kembali.

“ini aku kembalikan. Untuk apa aku simpan, hanya sebelah. Tidak bisa digunakan kalau tidak ada pasangannya, bukan begitu?” kata sehun sambil meminum capucinonya.

“kalaupun ada pasangannya, tidak akan muat di kakimu, bukan?” tebak hyun ae sambil tersenyum. Sehun ikut tersenyum melihat hyun ae tersenyum.

 

“kau tahu, sebenarnya mobil yang selalu menjemputku itu…”

suara handphone menghentikan sehun yang sedang berbicara. Kemudian sehun meminta ijin pada hyun ae. sehun membuka isi sms

 

Jika kau mengatakan semuanya, dia akan hilang. Ingat, waktumu tinggal 2 jam dari sekarang. Aku sudah menjemputmu berkali-kali dengan mobilmu tapi kau selalu meminta tambahan waktu. Harap patuhi peraturan yang telah kau buat!

 

Sehun menelan ludah.

 

“ada apa? Kau tampak gugup” hyun ae bertanya.

“gwaencanha” sehun mencoba menguasai dirinya agar tetap tenang. Ia melirik jam tangannya. Pukul 09.00.

“hari ini aku anggap kita berkencan” kata sehun sambil tertawa kecil.

“tidak salahkan?”

Hyun ae hanya tersenyum. Ia merasa senang.

 

“bos! Hyu ae-noona membolos dan sekarang dia disini!” taemin mengadu ke donghae. Hyun ae yang melihatnya langsung menarik tangan sehun. Sebelum kabur, hyun ae menyempatkan menghabiskan kopinya. Mereka berdua pergi dari cafe itu.

 

“awas kau kalau kembali” donghae mengancam hyun ae yang sudah pergi jauh.

 

“kau mau main ice skating?” Tanya sehun. Hyu ae menganggukan kepalanya.

 

Mereka berjalan dan saling bergandengan dan ditemani dengan salju di samping kanan dan kiri mereka. Mereka berdua sudah sampai di  depan Lotte World. Keduanya membeli tiket masuk ice skating. Mereka memakai sepatu yang sudah disediakan. Hyun ae meletakkan sepatu bagian kanan yang dikembalikan sehun saat mereka di café di bawah kursi yang hyun ae duduki. Sehun menarik tangan hyun ae, mengajak ke tempat skating.

 

“aku hanya bisa sedikit” kata hyun ae ragu-ragu.

“tidak masalah” sehun menarik hyun ae ke tengah.

 

Sehun meluncur dengan gampangnya. Tangan kanannya menarik kedua tangan hyun ae. Kaki hyun ae meluncur sejajar. Ia merasakan tarikan tangan sehun. Tangan sehun yang begitu hangat. Ia berteriak-teriak.

 

“hey berhenti” pinta hyun ae. Sehun menghentikannya. Mereka saling berpandangan.

“bolehkah aku memanggilmu Oppa?” Tanya hyun ae menunduk.

“harusnya begitu” jawab sehun sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut hyun ae.

 

Kedua tangan mereka menyatu membentuk sebuah lingkaran yang cukup untuk dimasuki satu orang. Mereka berputar pelan. Terlihat wajah sehun menikmatinya. Hyun ae tidak pernah melihat sehun segembira ini. Mungkin selama ini ia selalu merasa kesepian. Pikir hyun ae. Hyun ae melepaskan tangan sehun dan menepi. Ia terus memandang sehun yang menari-nari di lapangan ice skating. Entah kenapa, hyun ae merasa dirinya kembali seperti dulu. Rasa hangat selalu menyelimuti dirinya sejak sehun si X Boy itu selalu mengisi hari-harinya, ya, walaupun bukan dengan ikatan sebagai sepasang kekasih.

 

Satu jam mereka bermain ice skating, sehun mengajak ke restoran di sana. Tentu saja memesan capucino.

 

“kita mau kemana lagi?”tanya sehun.

“ini sudah cukup” jawab hyun ae.

Ya, sehun rasa ini cukup menyenangkan menghabiskan hari bersamanya. Bukan sehari, tapi beberapa jam.

 

“oppa bagaimana kalau aku menyukaimu?” secara tidak langsung hyun ae mengungkapkan rasa sukanya pada sehun. Sehun yang sedang meminum, mendongak.

“tidak apa-apa. Aku juga menyukaimu” jawabnya singkat dengan senyumannya dan membuat hyun ae tersenyum senang mendengar jawaban itu. Tiba-tiba sehun memandang hyun ae dengan lekat, penuh kasih sayang. Jantung hyun ae berdegup kencang. Ia menelan ludah, gugup. Sehun semakin dekat, hyun ae menutup kedua matanya.

 

“kenapa kau menutup mata?”

“memangnya kau mau apa?”tanya hyun ae ragu-ragu.

“matamu ada yang aneh. Kau pakai soflens?” sehun masih memandang hyun ae.

“iya. Bagus kan?” jawab hyun ae malu kemudian ia memainkan matanya.

“bukan itu. Maksudku, kau hanya memakai satu soflen, bagian kanan” sehun menjelaskan.

“oh, jinjja?” terlihat hyun ae malu. Ia menutup mata kanannya.

“pantas saja, saat main ice skating ada yang aneh di matamu. Apa itu model sekarang, pakai satu soflen?”tanya sehun lugu.

Tuukk! Hyun ae memukul jidat sehun. Sehun mengusap-usap jidatnya.

 

Mereka berdua pergi bergandengan tangan. Jari tangan kanan sehun menyatu dengan jari tangan hyun ae. sehun memasukkan tangannya dan tangan kiri hyun ae ke saku jaketnya. Hangat. Hyun ae merasakannya. Sesekali sehun melihat jam di tangan kirinya. Waktunya sudah tidak banyak. Sehun kemudian berjalan, mengajak hyun ae ke tempat di mana ada sebuah pohon yang besar sekali, dan terdapat satu makam, entah makamnya siapa. Hujan salju sudah reda. Mereka berdua berbaring sejajar di bawah pohon itu dan di atas salju. Sepatu hyun ae yang tidak berpasangan, ditaruhnya di tengah antara mereka berbaring.

 

“oppa, kenapa kau mendapat julukan X Boy?”tanya hyun ae.

“itu karena aku sempurna dan baik hati. Excellent boy” jawab sehun terkekeh.

“aiissh kenapa memuji diri sendiri? Ckckck. Julukanmu juga aneh” hyun ae mengejek.

“tidak apa-apa” selalu jawabannya seperti itu.

 

“kau ingat saat ada seseorang berjanji akan menemuimu di suatu tempat?” tanya sehun.

“tentu saja” jawab hyun ae datar. Sehun kaget.

“jinjja?”

“iya. Kau akan menemuiku di tempat ini, bukan?” hyun ae memalingkan kepalanya ke kanan di mana sehun berbaring.

“sejak kapan?”

“kapan ya…?” hyun ae menghitung jarinya.

“kau masih simpan cincin yang aku buat?” Tanya sehun

“maaf, aku buang di tempat sampah” hyun ae menyesal. Terlihat wajah sehun muram. Hyun ae merogoh saku kiri. Dan memperlihatkannya pada sehun.

 

“tadaaaa…! Tenang saja masih aku simpan kok. Aku dengan terpaksa harus mengorek-orek tempat sampah seperti gelandangan. Kau tahu?” terlihat hyun ae memanyunkan bibirnya. Hyun ae melirik sehun. Terlihat wajahnya berseri kembali, dan ia tertawa.

Tiba-tiba sebuah mobil bertengger tidak jauh dari mereka. Mereka hanya melirik mobil itu dan saling berpandangan tidak tahu. Sehun melirik jam tangannya lagi. 10 detik

 

“hyun ae-ssi, kau ingat aku?” terdengar suara sehun pelan sekali

“tentu saja aku mengingatmu. Aku merindukanmu. tapi aku lupa namamu. Maaf ya?” hyun ae menoleh ke sehun. Ia kaget. Kenapa sehun tidak ada di sampingnya. Kapan ia pergi? Kenapa pergi tidak minta ijin dulu?

 

“sehun oppa! Sehun oppa!” ia mencari sehun. Memandang ke sekeliling. Mobil yang barusan di sini tidak ada. Apa sehun dijemput ayahnya? Pikir hyun ae. ia hanya melihat sepucuk surat menempel di pohon itu.

 

“Apa ini dari sehun oppa? Kapan ia menulisnya?” ia mengambil surat itu dan membacanya

 

Dear kang hyun ae,

Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku pergi begitu saja, bukan? Maaf, aku harus pergi mendadak. O yah, aku senang sekali kau masih mengingatku. Kau masih ingat saat kita bertemu dulu? Saat itu kau menangis dan aku mengajakmu ke tempat aku hidup, panti asuhan. Sejak itu aku sudah menyukaimu, pasti kau tidak tahu kan? Hehehe. Aku pendam itu, karena aku tidak mau kau tahu kalau aku suka dengan orang yang cantik seperti kamu, hingga akhirnya kau mengatakan kalau kau suka padaku. Dan aku juga suka kamu, hyun ae-ssi. Aku kembali ke sini karena aku ingin memastikan kau hidup bahagia bersama temanmu atau mungkin bersama kekasihmu. Kau bisa lihat makam di dekat pohon? Itu adalah makamku. Kau mungkin bertanya-tanya, lalu selama ini kau bersama sehun siapa? Ia kan? aku hanya ingin menepati janjiku untuk menemuimu di tempat ini, karena aku tahu kalau aku itu musim panas di musim dinginmu. Aku mencintaimu. Apa ini aneh? Tidak apa-apa ya, walaupun kita tidak pernah menjadi sepasang kekasih, setidaknya aku bisa berkencan dan mengembalikan sepatumu yang kau lempar tepat di dahiku. Dan bukankah cinta itu tak harus memiliki? J mobilku sudah menungguku. aku akan merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu, kang hyun ae. Selamat tinggal.

 

Sehun

 

Hyun ae menitikan air matanya sepanjang membaca surat dari sehun. Tubuhnya merosot lemah. Ia tidak percaya dengan semua ini. Ini tidak mungkin, pikir hyun ae. ia menggenggam erat surat yang ia baca. Dalam hidupnya, baru sekali ada orang yang mengatakan bahwa dia mencintai hyun ae. Lalu kenapa kau meninggalkanku lagi? Tiba-tiba lee ji eun datang.

 

“kau sedang apa di sini? Aku mencarimu kemana-mana” napas ji eun tersengal. Ia kaget melihat hyun ae berlinangan air mata. Pipinya basah oleh air matanya.

 

“sehun oppa, kenapa kau meninggalkanku?” hyun ae masih menangis sesenggukan.

Ia masih tidak percaya akan kenyataan yang ia terima. Ji eun mendekat mencoba menenangkannya. Ji eun memeluk hyun ae, mengusap-usap punggung hyun ae agar bersabar dan berhenti menangis, tapi hyun ae tidak juga berhenti menangis, membuat baju yang ji eun kenakan basah walaupun memang sudah basah sedari tadi oleh salju. Ji eun melepas pelukannya.

 

“uljima” ji eun mengusap air mata di pipi hyun ae. Ji eun mengambil surat yang dipegang hyun ae dan membacanya. Keduanya duduk di bangku dekat pohon.

 

“kau baca ini” ji eun menyerahkan selebaran Koran lama ke hyun ae dan menyuruhnya membaca.

 

“kau lihat, ini Koran tahun 2004. Aku menemukannya ketika aku di perpustakaan umum di dekat kampus” ji eun menunjuk berita yang ia maksud.

 

Ji eun menujuk pada berita kecelakaan kereta api. Dan menyuruh hyun ae membaca daftar penumpang yang mati akibat insiden itu. Dengan cepat, ji eun menujuk pada satu nama yang mereka kenal. ‘Sehun’ tewas dalam kecelakaan itu. hyun ae mengeluarkan air matanya lagi. Ji eun kembali memeluknya.

 

“sudah relakan saja. Kau pernah dengar tentang 49 hari? Seseorang yang telah mati tapi ia ingin hidup lagi harus mencari 3 tetes air mata tulus dari orang yang mencintainya. Tapi sepertinya kejadian ini lain” kata ji eun sambil mengusap punggung hyun ae.

 

“sehun datang ke sini karena ia ingin menepati janjinya yang pernah ia buat dulu waktu aku harus berpisah dengan sehun. Ia berjanji akan menemuiku di tempat ini” hyun ae sesenggukan. Hyun ae berdiri. Berjalan mengambil sepatu yang tergeletak di atas salju. Ia menuju makam yang ada di bawah pohon. Ia berjongkok dan menaruh sepatu di atas tanah yang timbul tersebut.

 

“ini buatmu saja. Aku akan menyimpan sepatu kiriku, dan kau akan menyimpan sepatu kananku. Itu artinya kita sudah berpasangan kan?”

 

Ji eun mendekati hyun ae. Ji eun menyuruh hyun ae berdiri. Dan mengajaknya pulang.

 

“aku mencintaimu juga, sehun-ssi” dalam hati hyun ae. Mereka berdua pergi dari tempat sehun beristirahat.

 

“terimakasih kau sudah mencintaiku” terdengar di telinga hyun ae suara sehun. Ia menengokkan kepalanya ke belakang.

“kau akan selalu menjadi musim panas di musim dinginku”

 

~END~

 

 

One thought on “Summer in My Winter | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s