Gimbaps Love | FF Peserta Lomba

GimbapLove

 

Lomba Menulis FanFiction(@Page_KPDK & PenerbitQanita)

Author(Fb & Twitter) : Nur Rahmatillah

Title                             : Gimbaps Love

Genre                           : Romantic  & Drama

Main Cast                    :- Moon Chae Won,Song Joong Ki, Kim So Hyun, Yoo jung hyun as Song Min Ha.

Disclaimer                   : This Fan Fiction is original story of mine. The cast belongs to themselve. So, don’t bash me.

 

***

            “Chae Won eonni,” Kim so hyun mengejar kakaknya yang berlari sambil emosi ketika ia menceritakan bahwa teman sekolahnya mencemooh dirinya. “Chae Won eonni, jebal, keuman!” So hyun hampir meraih lengan kakaknya. “Eonni,”

            Kim so hyun memeluk kakaknya dari belakang. Napas mereka terengah-engah. “Eonni, jebal. Hentikan semuanya,”

            Moon Chae won tidak menanggapi kata-kata adiknya. Ia mengatur napasnya agar segera kembali kekeadaan normal.

            “Eonni, hidupku sudah terpuruk jadi jangan tambah keterpurukanku, jebal.” So hyun menyenderkan kepalanya ke punggung kakaknya.

            Napas Moon Chae Won hampir normal. Ia berbalik dan melihat wajah adiknya dengan mata yang sayu.

            “Eonni, aku tidak peduli mereka bicara apa tentangku. Tentang aku yang miskin, tentang kita yang sudah tidak punya orang tua, tentang nama kita yang marganya berbeda, atau tentang apapun, aku tidak peduli itu. Asalkan eonni selalu ada di sampingku dan tetap bersamaku, aku bisa hadapi itu semua.”

            “Hyun-ah,”

            “Hem?”

            “Mian, eonni terlalu emosi. Eonni tidak terima kalau adik eonni dihina,”

            “Gwenchana, eonni.” Moon Chae Won memeluk adiknya.

 

Malam semakin larut. Moon Chae Won dan adiknya-Kim So Hyun kembali ke rumah. Keadaan rumah begitu gelap. Benar. Sejak sore tadi, mereka belum menghidupkan lampu untuk menerangi rumahnya. Rumah kecil yang jauh dari kata bagus itu menjadi satu-satunya istanayang mereka miliki. Setelah beberapa tahun lalu, ketika ayah dan ibu Moon Chae Won meninggal saat kecelakaan mobil, Moon Chae Won terpaksa pindah rumah karena semua harta yang dimiliki termasuk rumah besar milik keluarganya harus diambil bank, karena sebelumnya perusahaan ayah Moon Chae Won tertipu oleh perusahaan lain.

“Eonni, raportku sudah keluar,” So hyun menyerahkan raport sekolahnya kepada kakaknya.

Chae won melihat nilai-nilai adiknya dengan seksama. “Bagus!” katanya kemudian.

So hyun tersenyum, “Eonni, dengan nilai seperti ini, aku pasti bisa masuk ke sekolah favorit tempat eonni sekolah, kan?”

Chae won meletakkan raport So hyun di meja, “Tentu, maka dari itu, pertahankan beasiswamu,”

“Ahaaa, aku pasti bisa.” Kata So hyun penuh semangat, “Oh iya eonni, sebentar lagi eonni akan ujian akhir, dan eonni pasti melanjutkan ke universitas, kan?”

Moon Chae Won yang tadinya hendak minum air, sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan Kim So Hyun.

“Universitas?” tanyanya pada diri sendiri begitu pelan. Chae won termenung sejenak. Sebenarnya ada sebuah penawaran hebat dari gurunya. Sebuah beasiswa untuk siswa berprestasi. Tapi ia belum benar-benar memikirkannya. Saat ini ia hanya fokus pada ujian dan pekerjaan sampingan yang ia lakukan untuk memnuhi kebutuhan hidupnya sekaligus adiknya.

“Eonni,” panggil adiknya menyadarkan chae won.

“Emh?”

“Bagaimana? Eonni pasti ke universitas, kan?”

“Pasti,” kata Chae won kemudian. Hanya kata itu yang ia pikir bisa membuat adiknya senang.

Moon Chae Won dan Kim So Hyun, keduanya memang kakak beradik, tapi dilihat dari marganya keduanya berbeda. Benar. Tepat ketika Moon Chae Won awal masuk SMA, ia melihat Kim so hyun dengan tergesa-gesa berlari ke arah dirinya yang sedang berdiri di depan rumah kecilnya. Kim So Hyun menceritakan dirinya yang sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang preman karena ia tidak sengaja melempar preman-prema itu dengan batu. Setelah kejadian itulah, Moon Chae Won memutuskan untuk mengajak Kim So Hyun untuk tinggal bersama, karena Kim So Hyun saat itu bernasip sama Chae Won, yaitu tidak punya siapa-siapa.

Di sekolah.

“Pelayan, hotdog satu dan air mineral satu.” Teriak salah seorang siswi kepada pelayan kantin. Moon Chae Won dengan segera menyiapkan hidangan yang dipesannya oleh pelanggan itu.

“Opsss, mian,” salah seorang siswa dengan sengaja menabrak Chae Won yang sedang membawa nampan, alhasil,  yang ada di atas nampan jatuh berantakan.

Moon Chae Won melihat nampan yang sudah berantakan itu, sedikit makanan mengotori bajunya, “Hhhhh,” Moon Chae Won mendengus kesal, “Hey, apa gunanya punya mata kalau tidak digunakan?” kata Chae Won dengan penuh amarah.

“Hey, lalu bagaimana denganmu? Dimana letak matamu?” Kim Eun Sook yang tidak lain adalah temannya yang membuat masalah menantang kata-kata Moon Chae Won.

“Hey,” bentak Moon Chae Won tiba-tiba. Semua mata pengunjung kantin itu tertuju pada mereka berdua.

“Apa hey-hey? Jangan membentakku seenaknya.” Kim Eun Sook tidak mau kalah. “Moon Chae Won, jangan pernah berlagak disini, kamu itu miskin, jika bukan karena beasiswamu itu, kamu sudah ditendang jauh-jauh hari dari sekolah ini.”

“Ahhh begitu, bukankah itu bagus? Setidaknya derajatku lebih tinggi disini walaupun aku miskin, aku bisa bersekolah tanpa harus meminta uang pada orang tua, tidak seperti seseorang yang sangat manja, kekanak-kanakan dan selalu merepotkan orang tuanya,”

“Apa maksutmu, ha? Apa yang kamu maksut itu aku?”

“Aku tidak menuduhmu. Aku hanya mengatakan seseorang,”

“Dasar perempuan gila,”

“Tch, hey…” Bentak Moon Chae Won.

“Aigoooo, sudah-sudah,” Kang Sook ahjumma menengahi mereka. “Chae won-ah, sudah, ambilkan lagi makanannya.”

Dengan mata yang penuh dendam Moon Chae Won mengalihkan pandangan dari tatapan Kim Eun Sook.

“Chae Won Sunbae, gwenchana?” seorang gadis yang memesan makanan tadi mencoba menghibur Moon Chae Won.

“Gumawo.” Moon Chae Won langsung mengambilkan makanan yang dipesan Song Min Ha-gadis yang menghiburnya tadi.

“Hey, Yeo-Dongsaeng,”Seorang laki-laki menghampiri Song Min Ha dan Moon Chae Won. Song Joong Ki, kakak Song Min Ha yang baru saja pindah dari Amerika kemarin langsung duduk di kursi tepat di samping adiknya.

“Hello, Oppa,” sapa Song Min Ha. “Hey Chae Won Sunbe, kenalkan, ini kakakku, dia baru saja pindah dari Amerika,” Moon Chae Won hanya melihat kakak Song Min Ha yang kemudian melanjutkan meletakkan makanan Song Min Ha.

“Oh iya, Oppa, apa oppa sudah tahu kelas, oppa?”

“Emh,” Song Joong Ki mengangguk. Ia melihat Moon Chae Won  yang menunduk sambil meletakkan gelas terakhir di meja mereka.

“Aku rasa oppa akan sekelas dengan Chae Won Sunbae, benar, kan Eonni?” Song Min Ha mendadak memegang lengan Moon Chae Won yang baru saja hendak pergi.

Moon Chae Won terlihat kaku tangannya dipegang seperti itu. Lama ia terdiam dan hanya melihat tangannya yang masih dipegang oleh Song Min Ha.

“Chae Won Eonni,” panggil Min Ha.

“Mollayo,” hanya itu yang Moon Chae Won katakan. Ia melepas pegangan Min Ha.

“Siapa dia?” Song Joong Ki meminum air mineral yang dipesan oleh adiknya.

“Ahh, itu Chae Won Sunbae. Moon Chae Won,”

“Moon Chae Won?” ulang Song Joong Ki.

“Hem. Siswi terpintar di sekolah ini.” Kata Song Min Ha. “Mengangumkan, bukan?”

“Dia? terlihat arogan,” tebak Song Joong Ki.

“Benar.” Song Min Ha membenarkan.

“Cuek,”

“Benar,”

“Angkuh.”

“Benar,”

“…” Song Joong Ki melihat adiknya. “Lalu kenapa kamu terlihat ramah sama dia?”

“Aku suka dia.” Song Joong Ki tertegun mendengar kata-kata adiknya. “Dia memang angkuh, arogan, cuek, bahkan dia sangat keras kepala, kadang juga egois, tapi percayalah oppa, itu hanya tampilan luarnya saja, sebenarnya dia sangat lembut.”

“Kenapa?” tanya Song Joong Ki.

“Kenapa?” Song Min Ha juga balik bertanya.

“Kenapa kamu menjelaskan itu semua padaku.”

“Ha? Ahhhh, hanya saja… ingin bilang kalau aku suka Chae Won Eonni.” Kata Song Min Ha tersenyum.

 

“Apa itu berat?” Song Joong Ki mencoba menegur Moon Chae Won ketika melihat dia menenteng seplastik besar boneka.

Moon Chae Won yang sadar akan teguran itu hanya menoleh sejenak. Ia pikir, ia tidak ingin berurusan dengan orang baru. Ia melanjutkan langkahnya untuk segera pulang.

20 menit berjalan, itu tidak membuat Moon Chae Won lelah. Ia sudah biasa melakukan semuanya. Tanpa disadarinya, Song Joong Ki secara diam-diam mengikutinya dari belakang.

Tepat disebuah pohon besar, Song Joong Ki berhenti dan melihat Moon Chae Won dari kejauhan. Ia melihat Moon Chae Won masuk ke dalam sebuah rumah yang tidak terlalu besar.

“Eonni,” seseorang memanggil Moon Chae Won ketika ia sudah keluar dari rumahnya.

Moon Chae menoleh ke arah suara itu, “Eonni melupakan ini,” Kim So Hyun memberikan topi yang biasa digunakan oleh Moon Chae Won. Moon Chae Won hanya tersenyum,

“Eonni pergi dulu,”

“Hati-hati, salamkan pada adik-adik disana.” Kim So Hyun melambaikan tangannya.

Song Joong Ki yang sejak tadi belum pergi semakin penasaran. Ia mengikuti Moon Chae Won lagi. Sambil merasakan pertarungan antara hati dan pikirannya, ia mengira-ngira tempat yang akan didatangi oleh Moon Chae Won.

Cukup lama Moon Chae Won berjalan, hingga akhirnya ia sampai di sebuah tempat, dimana tepat di depan sebuah rumahkecil sedang duduk anak-anak kecil yang sedang menunggu Moon Chae Won.

Ketika melihat Moon Chae Won datang, anak-anak itu berlari ke arah Moon Chae Won. “Chae Won Eonni,” kata mereka bersahutan.

Sambil tersenyum Moon Chae Won mengeluarkan beberapa roti dari dalam tasnya yang kemudian diberikan kepada mereka.

“Oppa,” Song Min Ha mengejutkan kakaknya yang sedari tadi mengintip di balik pohon besar. Sadar akan sapaan adiknya, ia langsung menarik Song Min Ha untuk bersembunyi juga di balim pohon.

“Oppa ngapain disini?” tanyanya Song Min Ha.

“Kamu?” tanya Song Joong Ki juga.

“Aku?” Song Min Ha berpikir sejenak. “Ahh, aku rasa aku tahu ngapain oppa kesini,” Song Min Ha melihat Moon Chae Won dari balik pohon.

“Gara-gara Chae Won eonni, kan?” tebak Song Min Ha sambil tersenyum menggoda.

“Hey, jangan bicara seperti itu,” Song Joong Ki menutup mulut adiknya.

“Mmm,” Song Min Ha berusaha melepas tangan kakaknya. “Oppa, inilah yang membuat aku menyukai Chae Won eonni. Dia memang angkuh, tapi dia memiliki sisi baik yang orang lain tidak tahu. Oppa, kalau Chae Won eonni tahu oppa sudah mengikutinya, dia pasti akan marah.”

“Wae?”

“Chae Won eonni tidak mau orang lain tahu tentang semua sisi baiknya. Dia berusaha menutupi semuanya. Sama seperti dulu saat pertama kali aku tahu sisi baik Chae Won eonni, lama sekali dia marah, bahkan dia tidak mau berhubungan atau bahkan melihatku, tapi lambat laun aku bisa membuatnya percaya kalau aku tidak akan bicara pada siapa-siapa. Maka dari itu, walaupun di sekolah, Chae Won eonni bersikap seperti tidak kenal padaku, inilah alasannya.”

Song Joong Ki melihat Moon Chae Won. “Moon Chae Won.” Desisnya.

“Oppa, lebih oppa pulang sebelum Chae Won eonni tahu oppa disini, aku kesana dulu.”

“Moon Chae Won.” Desis Song Joong Ki lagi. Ia tidak segera walau adiknya telah menyuruhnya pergi. “Perempuan seperti apa dia?” tanyanya pada diri sendiri dengan nada yang begitu pelan. “Moon Chae Won…”

 

“Hyun-ah,” Moon Chae Won memanggil adiknya. Rambutnya yang basah ia keringkan menggunakan handuk yang terlihat sedikit kusam. “Hyun-ah,” panggilnya lagi.

“Mmm?” Kim So Hyun muncul dari balik pintu.

“Apa ini?” tanya Moon Chae Won. Tangannya menunjuk pada benda asing yang tiba-tiba ada di rumahnya sore ini.

“Kipas angin,” jawab Kim So Hyun singkat.

“Hey Hyun-ah, eonni tahu ini kipas angin. Maksut eonni, mengapa ada benda ini disini? Dari mana asalnya?”

“Mollayo,” Kim So Hyun memakan ice creamnya yang sedikit mencair. “Seorang laki-laki tadi mengantarkannya kesini,”

“Laki-laki?” Moon Chae Won melihat adiknya yang terus memakan ice cream. “Nugu?” tanyanya lagi.

“Mollayo,” kata Kim So Hyun lagi, “Eonni,  aku rasa dia kenal eonni, bahkan dia menitipkan salam pada eonni.”

“Salam?”

“Mm. Eonni, dia itu sangat tampan.”

“Hey, Kim So Hyun,” bentak Moon Chae Won. Kim So Hyun terkejut, “Eonni tidak peduli dia itu tampan atau tidak, yang penting, kalau dia kesini lagi, kembalikan semua barang-barang ini, mengerti?!”

“Mm.”

 

“Oppa, darimana?” Song Min Ha menghidupkan televisi lalu duduk di depannya.

“Rumah teman,” jawab Song Joong Ki singkat.

Jawaban singkat dari kakaknya menarik perhatian Min Ha. “Rumah teman? Nugu?” tanyanya lagi.

“Apa perlu oppa memberi tahumu?”

“Sebenarnya tidak perlu, hanya saja sedikit aneh,”

“Aneh?”

“Mm. Aku kenal oppa. Oppa tidak sembarangan main ke rumah teman apabila teman itu tidak kenal lama. Lalu, teman yang kenal berapa lama hingga oppa berani main ke rumahnya?”

Song Joong Ki tertegun mendengar kata-kata adiknya. Benar. Sudah berapa lama ia mengenal Moon Chae Won? Sudah berapa dalam ia mengenal sosok Moon Chae Won? Mengapa ia berani mengunjungi rumahnya? Mengapa ia rela membelikan kipas angin untuknya? Bertemu dengan adiknya dan membelikannya ice cream yang dia suka.  Mengapa? Mengapa semua itu harus ia lakukan?

“Hey Min Ha-ah,”

“Mm?”

“Apa Moon Chae Won…”

“Ahhh, jadi oppa dari rumahnya Moon Chae Won?”

“Hey, bisa kamu kecilkan suaramu?” kata Song Joong sedikit kesal.

Song Min Ha terkikik, “Ok Ok. Apa yang mau oppa tanyakan?”

“Apa Moon Chae Won tidak punya orang tua?”

Song Min Ha tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya. Ia berpikir sejenak hingga akhirnya memulai jawabannya. “Chae Won eonni memang tidak mempunyai orang tua, orang tua Chae Won eonni sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.” Song Joong Ki tidak berkutik. Ia membiarkan adiknya untuk melanjutkan kata-katanya.

“Ahh, oppa, bisa minta tolong ambilkan laptop itu,” Song Joong Ki mengambil laptop dan menyerahkan ke adiknya. Song Min Ha menghidupkan laptopnya dan membuka saluran internet. Ia mengetikkan beberapa kata. “Lihat oppa”

Song Joong Ki melihat berita yang ditunjukkan oleh adiknya. Berita itu tentang sebuah kecelakaan keluarga yang terjadi beberapa tahun lalu. Disana juga tampak foto keluarga Moon Chae Won, itu artinya berita itu tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Moon Chae Won waktu itu.

“Oppa bisa klik yang ini?”

Song Joong Ki mengklik link yang ditunjukkan oleh adiknya. Lalu ia membaca berita selanjutnya dengan seksama.

“Chae Won eonni sebenarnya pewaris tunggal dari presiden Moon. Warisan itu meliputi beberapa hotel yang berkembang sangat pesat di beberapa negara. Tapi karena waktu itu Chae Won eonni masih SMA, dan dia tidak mengerti apa-apa tentang bisnis, jadi untuk sementara semua hotel yang dimiliki presiden Moon dialihkan ke pamannya, adik dari presiden Moon, tapi sayangnya, adik presiden Moon tidak senang hanya menjabat sebagai pemilik sementara, ia ingin memiliki semuanya secara permanen. Maka dari itu, ia buat laporan palsu sehingga semua hotel dan bisnis presiden Moon terlihat seperti terlilit hutang dan harus disita oleh bank. Rumah Chae Won eonni juga harus dijual hanya karena laporan palsu itu.”

Lama keduanya terdiam. Song Joong Ki menyerap kata-kata adiknya.

“Kenapa?” Song Joong Ki bertanya dengan pandangan tertuju pada foto Moon Chae Won di internet. “Kenapa kamu tahu semua itu?”

“Karena aku sangat mengenal Chae Won eonni, begitu juga dengan oppa. Chae Won eonni adalah…” Song Min Ha berhenti sejenak, “Gimbap eonni.”

Gimbap eonni. Kata itu membuat Song Joong Ki terkejut.

 

12 tahun yang lalu.

“Oppa,” Moon Chae Won kecil menangis ketika melihat Song Joong Ki hendak menaiki mobil. “Oppa, berjanjilah akan kembali,” Katanya sambil terisak.

Sambil meneteskan air mata Song Joong Ki kecil menghampiri Moon Chae Won. “Hey Gimbap Yooja, jangan menangis.” Song Joong Ki menghapus air mata yang menetes di pipi Moon Chae Won.

“Oppa jahat. Oppa bilang tidak akan pernah meninggalkan aku. Oppa bilang kita akan sekolah ditempat yang sama, oppa bilang kita akan selalu membawa gimbap, tapi kenapa oppa sekarang mau pergi?”

“Mianhe,”

“Oppa,” Moon Chae Won memegang lengan Song Joong Ki. Ia terus menangis.

“Oppa,” Song Min Ha yang masih sangat kecil memanggil kakaknya.

Ayah Song Joong Ki menarik lengan anaknya pelan. Ia membawa Song Joong Ki pergi ke Amerika karena perceraiannya dengan istrinya. Keluarga mereka pecah saat itu juga. Song Joong Ki, Moon Chae Won dan Song Min Ha yang sudah terbiasa bermain bersama kini sudah tidak ada lagi. Mereka yang biasanya makan gimbap buatan ibu Song Joong Ki ataupun ibu Moon Chae Won kini sudah tidak terlihat lagi. Semuanya berakhir saat itu juga.

 

“Oppa, sebaiknya oppa bawa pergi semua ini. Eonni tidak suka dengan semua ini.” Kim So Hyun mengembalikan kipas dan barang-barang lainnya yang diberikan oleh Song Joong Ki.

“Ok. Algesseoyo, nanti kuberikan sendiri pada Chae Won. Hey Kim So Hyun, mau kuajak makan siang?”

“Mmmm,” Kim So Hyun berfikir sejenak.

“Ayolah,” Song Joong Ki langsung menarik tangan Kim So Hyun.

 

“Hahahahaha,” Song Joong Ki dan Kim So Hyun tertawa bersama sambil memakan ice cream yang mereka beli tepat ketika selesai makan siang.

“Oppa, ice cream oppa rasa apa?”

“Ice cream,”

“Aihhh oppa..”

“Hey Kim So Hyun,” Moon Chae Won berdiri di samping pintu. Matanya menatap begitu mematikan.

“Oh, eonni,” Kim So Hyun terkejut dengan mimik wajah yang takut. Ia yakin, pasti kakaknya akan marah. Itu sudah pasti.

“Hello, Moon Chae Won,” Song Joong Ki melambaikan tangannya kepada Moon Chae Won. tapi ia tidak mendapat balasan dari Moon Chae Won.

“Kim So Hyun, masuk.”

“Ne,” Kim So Hyun masuk dengan kepala tertunduk.

Kini tinggal mereka berdua. Song Joong Ki dan Moon Chae Won. Keduanya saling memandang. Ah bukan. Saling menatap. Menatap dengan tatapan yang sama-sama dapat membunuh keduanya.

“Siapa kamu?” tanya Moon Chae Won.

“Song Joong Ki,” jawab Song Joong Ki.

“Apa maksutmu datang kesini?”

“Hanya bermain,” keduanya terdiam. “Oke. Aku pergi dulu.” Song Joong Ki melangkah pergi. Tak lama kemudian, ketika Moon Chae Won sadar bahwa Song Joong Ki sudah pergi dari hadapannya, ia buru-buru menyusulnya. Tidak lupa ia juga membawa barang-barang Song Joong Ki yang sengaja ditinggalkan.

“Hey Song Joong Ki, tunggu.”

 

“Dangsin-eun nugu-inga?” tanya Moon Chae Won dengan nada penuh penekanan.

“Naega mal haessjanh-a,  Jeo neun Song Joong Ki ieyo,” jawab Song Joong Ki santai. Keduanya terdiam. Hening. Tidak ada suara apapun kecuali suara daun yang digoyang-goyangkan oleh angin.

“Apa maumu?”

“Ani.”

“Kojitmal.” Moon Chae Won menyipitkan matanya. Sedangkan Song Joong Ki tetap diam.

“Hey Song Joong Ki, aku tidak tahu siapa kamu, dan aku tidak mau tahu. Tidak bisakah kamu juga begitu?”

“Hm?”

“Tidak bisakah kamu berpura-pura kamu mengenalku? Tidak bisakah kamu berpura-pura menganggap aku tidak ada? Ha?”

“Apa harus seperti itu?”

“Ya. Memang harus seperti itu.”

“Wae?”

“Karena aku tidak suka ada orang lain mengusik kehidupanku dan adikku,”

“Ahhh, begitu,”

“Ya. jadi mulai sekarang  bersikaplah tidak mengenalku, berhenti datang kerumahku, berhenti mengajak makan Kim So Hyun dan berhenti mengirimku barang-barang yang tidak kubutuhkan ini.” Suara Moon Chae Won meninggi. Ia begitu emosi. Tidak lupa ia juga menendang barang-barang Song Joong Ki hingga menjauh darinya.

Song Joong Ki melihat barang-barangnya, “Kamu. Kamu itu sudah miskin, egois, keras kepala, angkuh, sombong pula?!”

“Ahh, begitukah?” Moon Chae Won menanggapi kata-kata Song Joong Ki. Suaranya gemetar.

“Ya. semua sifat buruk ada padamu. Tidakkah kamu sadar?” Moon Chae Won tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. “Hey Moon Chae Won, apa ini sifatmu yang…”

“Lalu kenapa?” Moon Cjae Won memotong kata-kata Song Joong Ki. “Kenapa kamu masih disini?”  “Hey Song Joong Ki, kamu bilang aku ini miskin? Lalu kenapa kamu mau berhadapan dengan orang yang miskin? Kamu bilang aku keras kepala? Lalu kenapa kamu mau berhubungan denga orang yang keras kepala?”

“Apa sudah selesai?”

“Anio,”

“Lanjutkan.”

“Kamu bilang aku sombong, lalu apabila aku sombong itu sangat menyakitkanmu? Ha?”

“Sangat.”

“Tch,” Moon Chae Won tersenyum licik.

“Wae?”

“Choaheyo,”

“Ha?”

“Choahe. Song Joong Ki sangat menyukai Moon Chae Won.”

Mereka saling menatap. “Laki-laki gila.” Moon Chae Won pergi dari hadapan Song Joong Ki.

“Hey Moon Chae Won. aku tergila-gila padamu,” Kata Song Joong Ki sedikit berteriak. “Gimbap Yooja,”

Moon Chae Won terhenti dari langkahnya. Ia tertegun. GIMBAP YOOJA. Kata itu menarik perhatian. Tapi kata itu benar-benar menarik perhatiannya. Ia berbalik. Kini dihadapannya Song Joong Ki tersenyum kecil.

Song Joong Ki mendekat. “Hey Gimbap yooja, ini aku, Gimbap Namja.” Kata Song Joong Ki pasti.

“Gimbap Namja?”

“Mm.” Moon Chae Won meneteskan air matanya lagi. Ia melihat Song Joong Ki merentangkan tangannya dan memberi kode agar Chae Won berlari padanya.

Ibarat sebuah drama, adegan perlahan telah terjadi. Moon Chae Won kini berada dipelukan Song Joong Ki. Rindu mereka bertumpah saat itu juga. Song Joong Ki mendekap sahabat kecilnya begitu erat. Sehingga enggan sekali untuk melepasnya.

“Song Joong Ki. Babo namja. Babo.”

“Mianheyo, Chae Won-ah. Mianhe, karena baru bisa mengunjungimu sekarang.” Song Joong Ki melepaskan pelukannya. Kini tangannya memegang wajah Moon Chae Won. jarinya menhapus air mata yang mengalir dipipi gadis yang selama ini dirinduinya. “Sekarang, aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji.”

“Oppa,” kata Chae Won lirih. Ia memeluk Song Joong Ki lagi.

 

“Mianhe, Won-ah, aku tidak tahu berita tentang keluargamu. Aku tidak tahu tentang…”

“Sudahlah, semuanya sudah berakhir.”

“Aku kagum padamu, kamu yooja yang kuat.”

“Hidupku baru saja dimulai. Aku tidak boleh lengah sedikitpun, masih ada So Hyun yang harus kuperjuangkan hidupnya, bukan begitu?”

“Mm.”

“Ahh, bagaimana oppa mengingatku?”

“Sebenarnya aku selalu mengingatmu. Hanya saja kurang sadar ketika kamu itu gimbap yoojaku. Hey apa kamu masih suka makan Gimbap?”

“Tidak terlalu, Oppa tahu sendiri, uri eomma sudah lama tidak ada dan aku tidak begitu pandai memasak, jadi…”

“Sssst. Cukup. Tidak usah diteruskan. Oppa mengerti. Nanti mainlah ke rumah, kita makan gimbap bersama, oke?”

“…” Moon Chae Won tersenyum.

“Hey, kamu banyak berubah ya? sekarang kamu itu jelek. Tidak secantik dulu waktu kecil, bahkan kamu sangat egois, pantas saja hingga saat ini kamu belum punya namja chingu,”

“Hey, oppa, bukan begitu,”

“Lalu bagaimana? Ahhhh, atau jangan-jangan, kamu menungguku, ya?”

Moon Chae Won melihat Song Joong Ki dari samping.

“Seperti yang aku bilang tadi. Choaheyo dan juga Saranghae. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga.” Keduanya tersenyum.

Dibawah pohon yang rindang. Keduanya bercanda. Semua kerinduan, rasa sayang dan juga cinta kini tertumpahkan. Jarak dan waktu yang terjadi diantara mereka tidak membuat mereka saling melupakan. Justru karena jarak dan waktulah rasa rindu yang dipupuk tetap tersimpan. Disanubari mereka.

 

Beberapa tahun kemudian.

“Uisa nim,” panggil salah seorang perawat pada Moon Chae Won.

“Ne?” Moon Chae Won menoleh.

“Pasien di kamar nomer 23 belum di cek keadaannya,”

“Kamar nomer 23? Sejak kapan ada pasien disana?”

“Tadi pagi. Beliau mendapat kecelakaan kecil. sebenarnya tidak ada luka berat hanya saja beliau meminta saya untuk menghubungi dokter, katanya, beliau ingin konsultasi mengenai kesehatannya.”

“Oh, baiklah, saya akan kesana lima menit lagi.”

“Baik, Uisa nim.”

 

“Selamat pagi,” Moon Chae Won memasuki kamar nomer 23. Terlihat olehnya seorang laki-laki duduk membelakangi Moon Chae Won dengan mengenakan baju pasien di atas tempat tidur.

“Anneyong,” Sapaan informal yang Moon Chae Won dapatkan. Sedikit aneh menurutnya.

“Bagaimana keluhan Anda?” Moon Chae Won mendekati pasien itu.

“Saya merasa sedikit mengalami sakit hati, Uisa nim,” pasien itu tidak menoleh. Ia menekan dadanya menggunakan tangannya.

“Boleh saya periksa?” Moon Chae Won mengeluarkan stetoskop dari saku seragam putihnya.

“Tidak perlu,” jawaban itu membuat Moon Chae Won sedikit terkejut.

“Ne? Lalu, apa yang harus saya lakukan? Bukankah anda harus diperiksa?”

“Temani saja aku disini. Itu sudah cukup.”

Lama keduanya terdiam. Meski sedikit canggung, Moon Chae Won berusaha menetralisir keadaan. Pasien yang dihadapi saat ini berbeda dengan pasien yang sering ia tangani.

“Uisa nim,” panggil pasien itu.

“Ne?”

“Apa ada obat untuk hati yang sedang rindu?”

“Ne?” Moon Chae Won meyakinkan. Pasien seperti apa yang sedang ia hadapi sekarang? Apa pasien ini sedang salah rumah sakit? Moon Chae Won bukanlah Psikolog. Benar. Pasien ini pasti salah alamat.

“Hatiku sedang rindu, Uisa nim, pada seseorang yang sangat menyukai Gimbap.”

Deg. Gimbap. Moon Chae Won diam saja. Ia sedikit tertegun dengan kata-kata Pasien yang ada dihadapannya.

“Dia. gadis yang kuat. Walau sudah lama ditinggal keluarganya, tapi ia tetap melanjutkan hidupnya.” Pasien itu berhenti sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya, “Gadis itu, gadis jelek yang sangat keras kepala, egois, angkuh dan juga sombong.” Pasien itu tersenyum. “Saya sempat bertemu dengannya sekali. Kami sempat menjalin sebuah hubungan, tapi sayang, dia harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan belajarnya. Berat sekali rasanya membiarkan dia pergi, tapi saya terpaksa melepasnya karena dia ingin sekali meraih impiannya, maka dari itu dia tidak membuang-buang kesempatan ketika sebuah beasiswa datang kepadanya.”

Mata Moon Chae Won berkaca-kaca mendengar penuturan pasien itu. Ia tetap tidak bisa bicara. Bibirnya gemetar.

“Uisa nim, apa menurut anda saya bisa bertemu dengannya lagi?” Pasien itu setengah menoleh ke arah Moon Chae Won. “Saya rindu sekali padanya, Uisa nim,” Kata-katanya sedikit bergetar, “Uri Gimbap yooja, Bogosipho,” Pasien itu meneteskan air matanya.

“Nomu bogosipho,”

“Oppa,” Moon Chae Won menhampiri pasien itu. Ia berdiri dihadapannya. Song Joong Ki, laki-laki yang ada dihadapannya kini tersenyum ditengah air mata yang menetes.

Moon Chae Won memeluk Song Joong Ki. “Oppa, Bogosipho. Naneun, nomu bogosipho.”

Song Joong Ki mengeratkan pelukannya. Ia tidak ingin melepaskan gadis yang ia cintai lagi. sudah sekian lama ia menunggu saat-saat seperti ini. Saat kedatangan Moon Chae Won dari Amerika dan melihat dia sukses mewujudkan impiannya.

Berterima kasihlah pada jarak dan waktu, mungkin tanpa keduanya, saat ini tidak akan datang. Berterima kasihlah pada jarak dan waktu, mungkin tanpa mereka hubungan akan terasa hambar, dan berterima kasihlah pada jarak dan waktu, karena kehadiran jarak dan waktulah sebuah hubungan dapat diuji kesetiaannya.

 

‘Seperti Gimbap. Nasi yang dibalut dengan rumput laut. Berisi bermacam-macam sayuran, telur, daging, sossis dan biji-bijian. Itulah cinta mereka. terbuat dari rasa yang sudah terjalin lama, dibalut dengan rasa saling percaya hingga keduanya tetap setiap menunggu dan berisi dengan kasih sayang dan cinta.’

Gimbap yooja & Gimbap namja :panggilan khusus karena keduanya sama-sama menyukai Gimbap.

END

Sorry, jika FF-nya masih membosankan. J

Salam KPDK. J

NRT

3 thoughts on “Gimbaps Love | FF Peserta Lomba

  1. Anyeong salm knal….aQ ijin bc ffnya ya !!
    Ada ChaeKi couple aQ sk bgd s couple ini, mnurtQ crtnya udh bgs tp alurnya msh agk kcpatan. tp feelnya udh dpet koQ. Truss brkarya bwt author smga krya slnjutnya lbh baik lg !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s