Waterlily | FF Peserta Lomba

 

waterlily

Author : Fanficfunny (Eka Apriyaniie and @Apriyani96)

Tittle : Waterlily

Genre : Horror, romance, absurd

Main Cast : Bae Suzy Miss A and Xi Luhan Exo-M

Disclaimer : This Fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me!

 

.

Teratai Putih..

Tengelam di balik lumpur

Mati..

Di antara rawa kotor

Luhan, kuharap kau takkan pernah seperti itu.

.

 

Deru angin berdesir membawa bulu kudukku meremang, membuatku harus mengeratkan jaket navy blue-ku. Tak ada yang spesial di malam pertengahan Juli ini, semuanya tampak sama dengan aktifitas yang memabukkan. Berangkat kuliah, kerja part time, dan pulang. Selalu aktivitas monoton yang membuatku hampir tak bisa merasakan sensasi apa pun dari hidup yang kujalani.

Tapi apa peduliku ? Aku hanya ingin menjadi seorang pria yang berprofesi  hakim dan membahagiakan diriku sendiri. Tak ada orang lain karena yeah.. memang tak ada orang tua disisku ataupun kerabat lainnya.

Aku hidup murni karena diriku dan untuk diriku. Apa sedikit terdengar egois?

Aku tak peduli itu.

Oh Sial! Malam ini udara terasa sangat menyiksa kulitku dengan aroma dinginnya yang khas. Dan lagi perjalanan tempat kerja-rumahku cukup membuat kakiku harus berakhir di perendaman air panas ditemani segelas teh hangat kental.

Suara cicit-cicit tikus got yang bekejaran di malam hari serta suara ringkingan jangkrik membuat pendengaranku terganggu. Aku yakin semua binatang itu bersatu di pekarangan milik Tuan Bae yang isinya hampir di penuhi dandelion dan bunga liar.

Dulu aku pernah menawarkan diri untuk mempercantik pekarangannya itu namun lelaki jangkung itu malah meneriaku tak jelas.

Abaikan si pria tua yang suka main catur itu.

Lebih baik aku memikirkan bagaimana caranya bisa lolos dari mata pelajaran Dosen Ahn tanpa mengerjakan tugas bahasa Inggrisnya dan tanpa mematuhi perintahnya yang mencekik itu.

 

 

Bunga Teratai… Oh Bunga Teratai

 

Terdengar suara asing yang langsung ditangkap gendang telingaku, membuatku langsung mengernyit Bingung. Manusia mana yang menyanyi pada pukul 11 malam di daerah yang hampir tak ada rumah di sini.

 

Terbangun… Terbuka… Tertutup…

Menari…

Indah…

 

Nyanyian itu kini terdengar lebih jelas di pendengaranku, membuat gema yang cukup unik di sana.

Perlahan aku mendekati asal suara itu yang sepertinya berasal dari semak belukar yang menutupi jalan masuk pekarangan Tuan Bae. Langkahku terus bertambah menyambangi pekarangan Tuan Walcott

Tak ada apa pun di sana.. hanya semak belukar dan dedaunan kering. Nyanyian misterius itu seketika  hilang, seperti ditelan kegelapan malam yang mendominasi tempat ini.

 

“Mungkin hanya perasaanku saja. Lebih baik aku cepat pulang.”

 

Teratai Putih..

Suci…

Namun kelam jika tak dijaga…

 

Rasa penasaran menggelitikku lebih dalam, membuat napasku hampir tercekat. Entah ini hanya sugesti-ku atau memang udara di pekarangan ini semakin menipis, membuat seluruh bulu kudukku merinding.

 

Teratai putih…

Teratai Putih….

Kenapa kau menangis…

 

Demi Tuhan aku belum pernah mendengar lagu apa pun yang menceritakan tentang tanaman air Nymphaea itu. Beragam hipotesa aneh memenuhi seluruh isi otakku.

Bagaimana jika dia bukan manusia ?

Atau aku terlalu kuno dalam dunia permusikan ?

Tapi tidak mungkin! Dia pasti hantu!

Lututku rasanya melemas seketika seperti tak ada tulang putih yang menopangku, dan jantungku berdegup kencang melebihi batas ambang normal.

 

Mati..

Tengelam di balik lumpur

Mati..

Di antara air kotor

Mati ?

 

Nadanya yang  mengalun indah namun sendu semakin mendominasi pekarangan ini. Ya Tuhan jika aku mati tolong jadikan aku hakim dulu selama seminggu, aku tak ingin mati muda.

Kini kurasakan ada sensasi aneh di sini, sebuah aura kesedihan yang bergumul dengan aura kemarahan bercampur menjadi satu. Aku tak berani ke manapun, sumpah aku sangat takut!

Lampu jalan yang menjadi penerang satu-satunya setelah bulan tiba-tiba mati. Jangan, kumohon!

Lima detik kemudian lampu itu menyala, lalu mati lagi, menyala, dan mati lagi.

Seluruh tubuhku lemas, meski aku laki-laki tapi ini benar-benar diluar jangkauanku..

Angin berbisik pelan menamparku dalam ketakutan tingkat tinggi yang anehnya justru membuat rasa penasaranku terpacu. Dalam hitungan menit, aku telah berjalan menjelajahi isi pekarangan Tuan Bae, terus berjalan seolah ada magnet di ujung kakiku yang akan terhubung dengan sesuatu. Aku tak begitu yakin tapi… entahlah.

Sejauh aku berjalan tak ada yang istimewa kecuali bunga mawar liar yang tumbuh dengan subur dan.. sebuah kolam kecil yang dipenuhi teratai.

Iris mataku membulat sempurna melihat seorang gadis berambut panjang lurus sepunggung tengah duduk di tepi kolam.

Entah setan apa yang merasukiku, aku berani melangkah mendekati gadis dengan dress selutut putih-nya, padahal yang kutahu Xi Luhan adalah lelaki penakut.

“Haii.”

Sebuah sapaan hambar keluar dari bibirku.

“Kau di sini? Ayo duduk.”

Kenapa dia berbicara padaku seolah tahu siapa aku ? Seolah kami teman lama yang bersahabat.

“Luhan.. apa kau ingin terus berdiri di situ.?”

Kini kurasakan seluruh tubuh gemetar. Dapat kurasakan napasku memburu membuat semua menjadi lambat dan mengerikan.

“Duduklah.”

Mata coklat kelamnya kini menatapku, agar segera mematuhi perintahnya. Seakan dia adalah dalang dalam pementasan wayang kulit yang pernah sekali kulihat bersama Mahasiswa Indonesia dan aku sendiri adalah wayang-nya.

Aku duduk di sampingnya, tepat di samping sebuah kolam.

Jemari lentiknya menyapu air kolam yang teduh, menyibakkan air yang membuat riak-riak kecil.

Aku tak pernah melihat gadis itu sebelumnya, di kampus, tempat kerjaku, di lingkunganku, ataupun di jantung kota Seoul, tak ada gadis yang menyerupainya. Aku memperhatikan segala yang melekat dalam dirinya, tubuh mungilnya yang dibalut dengan dress white soft dengan renda-renda bunga teratai di ujung dress-nya, lalu rambut hitam lurusnya tertiup angin malam dan rona mukanya yang putih pucat dipadukan dengan bibir mungilnya yang tak kalah pucat. Aku yakin semua laki-laki pasti mengaguminya.

Dari sekian keindahan yang gadis itu tawarkan aku lebih tertarik dengan manik cokelat kelam-nya yang menurutku menawarkan keunikan tersendiri. Aku tak berbicara matanya yang belo atau bulu matanya yang memanjang indah tapi aku berbicara tentang isi dari pandangannya yang seakan menyatu dengan teratai. Putih bersih dan cantik.

Dan anehnya aku merasa pernah mengenal gadis itu saat menatap intens matanya.

“Luhan.”

Aku terperanjat kaget saat nada sendunya memanggilku lirih.

“Ap-apa?” tanyaku hampir tercekat.

“Kau takut padaku ‘kan?”

“Tidak,” potongku cepat takut menyinggung perasaannya

Ia tersenyum kecil dan kemudian kembali menyelami dunianya sendiri. Begitupun denganku, menyelami duniaku tentang gadis mendekati sempurna itu.

“Luhan,” panggilnya lagi “Kau tahu kenapa aku menyukai teratai ?”

“Tidak. Kenapa.?”

Seolah ikut larut dalam nada kelembutan yang gadis itu tawarkan aku menjawabnya seolah dia teman lamaku.

“Karena Teratai putih melambaikan pencerahan, sebuah kasih putih tulus yang membuat hati kita damai. Bunga Teratai juga melambangkan tubuh, pikiran, jiwa yang bersamaan dengan kesempurnaan dan perdamaian sifat seseorang.”

Aku hanya tersenyum mendengarkan ia berbicara tentang pandangannya tentang bunga dari suku Nymphaeaceae itu, sedangkan ia sepertinya ingin meluapkan apa yang ia ketahui sepenuhnya.

“Pernahkan kau tahu ? Bunga teratai berjuang sepenuh hatinya untuk bisa berdiri dengan tegak di atas air dan ia berjuang terus menjadi putih di antara lumpur serta air kotor yang mengepungnya.”

“Apa dia akan kalah?” tanyaku penasaran.

“Tergantung. Seperti halnya manusia.. . banyak manusia baik yang harus berjuang melawan nafsu dunia yang gemerlap hanya demi sebuah kejujuran tulus serta keputihan dalam dirinya. Jika dia bisa melawannya maka dia akan hidup kekal menjadi teratai putih namun jika tidak, lumpur serta air kotor dan lainnya akan menenggelamkannya hingga dia hancur.”

“Dan kau…”

Ia terdiam sebentar lalu menunjukkan senyum termanis yang pernah kulihat seumur hidupku.

“Adalah teratai putihku.”

Sial! Senyumannya seolah pembawa bom bagi jantungku yang kini berdetak sangat keras, menyalurkan sensasi hangat ke seluruh tubuhku. Ini gila! Aku baru bertemu dengannya tapi kenapa saat bersamanya aku dilingkupi rasa nyaman?

“Kau bercanda ‘kan?” ujarku mencoba menghilangkan rasa gugupku.

“Tidak Luhan. Untuk itu tetaplah jadi manusia berhati putih, aku tak mau kau tenggelam Luhan, aku takut.”

Kini sebulir air mata keluar perlahan menetes membingkai mata cokelat-nya. Ia terisak pelan, membenamkan kepalanya dalam lipatan lutut yang ia peluk.

Rasanya aku ingin sekali merengkuhnya dalam pelukan hangatku tapi entah apa yang membuat kedua tanganku berhenti di udara, seperti ada sekat yang membatasiku dengannya.

“Luhan aku takut.. Luhan.” Suaranya kian memilu, memecah kesunyian malam ini.

“Luhan,” isakannya semakin keras.

Ia semakin tenggelam dalam tangisnya. Demi Tuhan aku ingin sekali memeluknya tapi apa yang kulakukan sekarang? Hanya terdiam memandangnya penuh iba.

“Aku takut kau akan menjauh dari daun teratai yang membuatmu akan tenggelam dalam kebodohanmu sendiri Lu,”

“Seperti…”

Kepalanya terangkat, ia memandang lurus ke depan, matanya masih sembap.

“Ayahku.”

“Ayahmu?”

“Bae Jung Yeon.”

Aku menjerit tertahan. Bae-Jung-Yeon ? Maksudnya Tuan Bae pemilik pekarangan ini ? Bukankah putrinya sudah lama meninggal dua tahun yang lalu dan setahuku dia hanya hidup sebatang kara. Lalu .. siapa gadis ini ?

“Aku anaknya, kau pasti mengenalku ‘kan ?”

Mataku membulat sempurna saat dia menatapku penuh jenaka. Tatapan itu… hanya satu tatapan penuh keceriaan yang pernah ku temui. Bae Suzy.. anak dari pemilik kebun semangka sekaligus pekarangan ini.

“Suzy?”

“Ya.”

“Tidak! Kau pasti bercanda!”

“Tidak Luhan, aku memang Suzy.”

“Tapi.. kau .. berbe-berbeda,” ucapku hampir menjerit.

“Kita bertemu terakhir kalinya saat umurku tujuh belas tahun ‘kan.?”

Kupikir memang iya, tapi itu bukan alasan yang logis.

“Kau pasti percaya apa yang dikatakan orang bahwa aku belajar di luar negeri ‘kan?

“Sebenarnya aku tidak diantarkan ayah ke Jepang… aku dikurung di dalam gubuk tua itu hanya karena aku menolak perjodohan dengan David anak dari Pengusaha kaya Itali. Tak apa jika aku dijodohkan dengan pria baik tapi dia menjodohkanku dengan pemerkosa sahabat baikku-Eun Kyung. Mana bisa aku menikahi pria berengsek itu

“Ayah tak mau mendengarkanku ia malah lebih memilih mendapat pengaruh dari Tuan Weasly untuk terus memaksaku menikahi anaknya..

“Dan kau tahu sendiri.. aku adalah gadis kepala batu. Semakin ayah menekanku maka semakin kuat pula keinginanku untuk berontak. Akhirnya ayah membuangku di salah satu pekarangannya yang seluruh tepinya di batasi pagar tinggi dan tanaman merambat yang membuat warga tak sadar jika aku sedang dikurung

“Dia menanami beberapa petak tanah dengan berbagai jenis sayuran agar aku bisa makan sesekali ayah mengirimiku daging.

“Kejadian itu berlangsung hingga satu tahun.. lalu setelahnya ayah menangis di hadapanku meminta maaf dan takkan mengulanginya lagi. Ayah membawa aku kembali ke rumahnya.. sayang keluarga berengsek Weasly kembali mempengaruhi ayahku hingga ayahku dengan teganya mengancam akan mengasingkanku ke Jepang jika aku berani memberontak.

“Kupikir aku harus menerimanya tapi.. tidak ketika dua orang Korea dan satu orang Jepang menangis di hadapanku menceritakan seluruh aib David, hal itu tentu saja membuatku murka. Aku kembali menolak perjodohan itu.

“Tak lama setelah itu ayah menjebloskanku ke pekarangan sialan ini 3 bulan sebelum umurku genap dua puluh tahun. Miris bukan ?

“Aku tak tahan dengan cobaan ini pada akhirnya aku memilih untuk mengakhiri semuanya.

“Aku bunuh diri di kolam ini, menenggelamkan tubuhku selama mungkin.”

Tubuhku melemas mendengar semua penuturannya. Ada perasaan sakit menggarang di hatiku. Tanpa kusadari air mataku menetes dari sarangnya, terus meluncur melewati pipiku.

“Jangan menangis Luhan, kau hanya akan membuatku merasa bodoh dengan keputusanku” isaknya

“Kau satu-satunya teman terbaiku Luhan.”

“Lalu kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku!” pekikku marah.

“Aku tak ingin menambah bebanmu dan aku tahu ternyata itu salah”

“Maafkan aku Xi Luhan.”

Nada menyesalnya membuat hatiku teriris sembilu, rasa marah yang menguasaiku sekian sekon yang lalu hilang di balik sebuah penyesalan tiada ujung. Menyesal karena sudah menganggapnya wanita kuat.

“Luhan,” panggilnya dengan senyum yang mengembang “Apa cita-citamu? Apa kau masih ingin menjadi Superman?”

Aku tergelak, ia masih mengingatnya. Cita-citaku delapan belas tahun yang lalu.

“Cita-citaku..? Aku ingin menjadi hakim yang jujur dan adil seperti teratai putih.”

“Aku yakin kau bisa, Luhan.”

“Kau tidak bertanya alasanku Suzy?”

Suzy tersenyum kembali, ia melihatku dengan sorot penuh tanya.

“Kenapa?”

“Karena.. aku membenci kecurangan. Kau ingat saat kita di fitnah oleh Ha Young mencuri tempat pensilnya?”

“Tentu saja, kita bahkan mendapat luka memar dikedua lutut kita karena di pukul oleh Guru Baek.”

“Dan hal yang membuatku tak bisa memaafkan Guru Baek, adalah dia tak ingin mendengarkan penjelasan kita hanya karena Ha Young anak kepala sekolah. Sungguh menyebalkan”

Aku mendesis kesal mengingat kejadian itu, sedangkan Suzy tertawa pelan membuatku mau tak mau ikut tersenyum.

“Luhan.” Suaranya berganti serius.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku memanggilmu karena aku kesepian Luhan.”

“Aku akan menemanimu,” potongku

“Kau ingin mati konyol?”

Mulutku terkunci rapat. Menemaninya bukan berarti mati ‘kan? Aku bisa menemaninya seperti ini di seluruh hidup yang kupunya.

“Ini hanya terjadi sekali..”

Dagunya ia letakkan pada tekukkan lututnya. Matanya yang sembap sudah tak terlihat lagi..  kini, mata cokelat kelamnya bertambah cerah dan senyuman yang menggantung di bibirnya menggambarkan kepuasannya karena sudah menyampaikan bebannya.

“Luhan,”

“Apa?” tanyaku tanpa semangat.

“Maukah kau membantuku untuk yang terakhir kalinya ?”

Aku mengangguk.

“Tolong sampaikan pada ayahku dia tak harus menghukum dirinya sendiri, dia hanya perlu melanjutkan hidupnya dengan baik. Itu cukup untuk menebus dosanya dan katakan pada Eun Kyung aku sudah membalas dendamnya…”

Suzy menyeringai tajam menampilkan aura mengerikan.

“Aku sudah membunuh David.”

Aku bergidik ngeri melihatnya memamerkan senyum liciknya.

“Yang terakhir untukmu”

Auranya kembali berbeda, ia menatapku lembut.

“Katakan pada Xi Luhan bahwa aku mencintainya dan katakan bahwa dia harus menjadi Hakim Teratai. Hakim yang adil.”

Napasku tercekat, jadi selama ini Suzy mencintaiku ? Oh ya Tuhan seharusnya dulu aku mengatakan persaanku padanya dengan begitu kejadian malang ini takkan pernah menimpanya.. Aku bodoh! Luhan Pengecut!

“Jangan menyalahan dirimu sendiri Luhan”

Senyum lembutnya mampu membuatku lebih baik.

“Waktuku sudah habis, aku harus pulang”

Dia berdiri dan refleks aku pun ikut berdiri. Sekali lagi Suzy tersenyum ke arahku, membuat hatiku bergejolak sama seperti dua tahun yang lalu.

“Aku pulang, Luhan.”

“Tidak!”

Aku berlari kencang saat tubuh Suzy berpendar menjauh dari jangkauanku. Aku mencoba menggapai jemarinya yang tampak seperti kepulan asap yang tak bisa kuraih, aku baru menyadari bahwa sedari tadi tak ada kontak fisik di antara kami.

“Suzy Tunggu! Aku ingin ikut!”

Suzy menggeleng, ia tersenyum menampilkan eyesmile-nya yang terakhir kalinya untukku. Tubuh Suzy berpendar mengeluarkan cahaya yang semakin lama semakin terang membuatku mau tak mau harus menghalangi sinarnya dari jangkauan mataku.

Sinar itu hilang begitu saja, begitupun dengan Suzy.

Setelahnya dapat kurasakan kepalaku berdenyut tak keruan membuatku harus menahan sakit pada kepalaku dan rasa lemas yang entah darimana menyerangku tiba-tiba. Pandanganku seolah mengabur, membenamkanku antara keadaan sadar dan tidak. Dapat kurasakan tubuhku ambruk menyentuh permukaan tanah kering, menyisakan sedikit rasa perih di lenganku.

Terakhir kali yang kulihat hanya gelap

.  ||  .

Aku menyipitkan mataku saat kurasakan sesuatu yang terang mulai menyergap retinaku. Ini terlalu terang. Aku menggeliat kasar di dalam tempat tidurku.. Tunggu tempat tidur ?

Manik hazel-ku menatap ke sekeliling tak percaya.. aku sedang berada di kamarku..

Benar ‘kan ini kamarku ?

Kasur berukuran sedang yang berada di dekat jendela, meja belajar kayuku serta cat dinding cokelat cream ku. Aku yakin sepenuhnya jika ini kamarku.

Lalu kejadian semalam ..? Apakah itu hanya Ilusi semata ? Tak nyata ? Tapi sungguh Demi Tuhan aku merasa semuanya nyata, bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas peristiwa semalam.

Tapi buktinya.. ?

Kepalaku semakin berdenyut-denyut memikirkan hal itu.

Tanpa sengaja manikku menangkap sesuatu yang aneh dalam kamarku.. Sebuah vas berwarna Orange yang berisi setangkai bunga Teratai segar. Aku bersumpah, selama hidupku au tak pernah menyukai hal-hal yang ebrbau bunga.

Aku yakin.. Sangat yakin.. Kejadian semalam nyata..

Senyum mengembang di bibirku.

“Selamat pagi Suzy.”

 

-END-

 

Thanks For Fikha ^^ yang udah mau review FF absurd ini.

Dan bagi readers, aku tahu waktu kalian baca ini FF pasti langsung meluk suami kalian  dan laporin deh ke polisi kalo ada ff nyasar yang ancur pake banget #aapan sih? Lebay amat..    :D

Makasih udah baca, sekarang tinggal giliran like (Jika kamu suka)  dan yang pasti malahan wajib harus coment, itung-itung saling menghargai lah. Dalam bentuk apapun comentnya aku bakal seneng banget..

 

5 thoughts on “Waterlily | FF Peserta Lomba

  1. Huwaaa… Suzy nemenin luhan terus yah nantinya.. Assiikk..
    Tp aku ngebayanginnya Myungsoo terus.. Haha.. Maklum.. Myungzy shipper..
    Ohya.. Aku dpt recomendation (?) dari yeodongsaeng aku di fb.. Aku kira ini ff yg pernah aku baca.. Soalnya jdulnya sama .. Eh.. Paas di buka trrnyata beda bgt..
    Keren thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s