Y (WHY) | FF Peserta Lomba

 

dong2

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author (FB & Twitter): Uniessy LeeRichard Casillas & @uniessy

Title : Y (WHY)

Genre : Drama, Romance

Main Cast : Lee Donghae, Lee Eunhee (OC), and Super Junior member

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

*****

.

.

.

Title : Y (WHY)

 

“Jika kau ingin mendapatkan seorang Pangeran, maka jadilah seorang Puteri yang mulia.” – Tanpa Nama

 

*****

 

“The breakup that you prepared hurts me so bad that i could die, even after time passes. There’s still so much that i have to do before i let you go…” – Super Junior, Y

*****

.

.

.

KEINDAHAN alam di Mokpo mungkin menggoda banyak orang untuk melaut di sini. Bukan hanya keindahan alamnya mungkin, tapi lebih kepada daya pancing yang tinggi yang pada akhirnya menggugah rasa ingin orang-orang luar untuk datang dan mendapatkan banyak ikan segar.

Aku sudah delapan belas tahun hidup di sini, di tanahku. Tanah kelahiranku. Bersama dengan Eomma dan Appa yang seorang pelaut. Appa terbiasa pergi di sore hari dan kembali lagi pagi dengan hasil tangkapan ikan yang sangat banyak. Dan kelak seperti Appa, aku akan menjadi nelayan yang baik. Yang akan mendapatkan ikan segar setiap harinya. Untuk kujual, atau kunikmati sendiri.

 

“Oppa,” Sebuah suara mengejutkanku. Membuat beberapa buku terlepas dari genggaman. Assh, suara itu, selalu membuat dadaku berdegup dengan kurang ajar. “Yaaakh, buku-bukumu jatuh!”

 

“Ah, aku pasti sedang lapar,” Aku meringis malu, kemudian meraih beberapa buku yang berserakan di lantai kelas. Dia membantuku merapikan buku-buku tadi.

 

“Kau selalu bilang bahwa kau sedang lapar ketika di dekatku, Oppa!”

 

Dan kau selalu membuatku kalang-kabut, Soojae-ya…

 

“Euhm, sebaiknya kita pulang. Kau mampir saja ke rumahku. Eomma memasak ikan bakar dengan bumbu jeruk hari ini.”

 

“Woaah, benarkah? Apa ada kimbab juga?” Park Soojae, teman sekolah─atau lebih baik kusebut sahabat ya? Karena kami sering kali bersama─mengangguk setuju. Dan segera setelah buku dirapikan, kami melangkah menuju gerbang sekolah, bergegas menuju rumahku untuk menyantap ikan bakar dan nasi panas.

*****

.

.

.

“Aku akan berkelana, Oppa…” katanya begitu aku bertanya tentang hal apa yang akan dia lakukan setelah kami lulus dari sekolah. Kelulusan tinggal menghitung minggu. Dan itu berarti aku sudah boleh merencanakan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Tidak ada perguruan tinggi. Tidak ada. Appa sudah berkata padaku untuk menjadi nelayan saja sama seperti Donghwa Hyung yang sudah lebih dulu membantu Appa sejak tiga tahun yang lalu. Lagipula menurutku, menjadi nelayan tidaklah buruk.

 

“Berkelana ke mana?” tanyaku penasaran. Aku terus mengayuh sampan menjauh dari pantai tempat sampan ini tadi tertambat. Langit malam bertabur bintang yang selama belasan tahun ini kunikmati, memayungi kami di sabtu malam ini. Kulihat Park Soojae menutupi wajahnya.

 

“Nan mollasseo…” Dia mendongak, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. “hei, kita sudah di tengah.”

 

“Belum, pantainya bahkan masih kelihatan.” Dia menoleh berbalik dan agak sedikit kecewa mendapati pantai tadi masih terlihat. “Kau mau berkelana ke mana, Soojae-ya?”

 

“Eh? Ke mana ya? Ke mana saja… yang penting tidak di sini…”

 

Ke mana saja? Tidak di sini?

 

Aku meragu. Mencerna kalimatnya barusan. Apa mungkin pendengaranku ya yang salah? “Lalu bagaimana denganku?”

 

“Tidak tahu.” katanya sambil tergelak.

 

“Kau mau meninggalkanku di sini?”

 

“Aku tidak meninggalkanmu, Oppa… Nanti aku akan kembali. Aku mau mencoba tempat selain Mokpo. Korea Selatan punya begitu banyak tempat untuk kupijak.”

 

Aku menelan ludah. Pahit rasanya mendengar Soojae berkata demikian. Aku sering mendengarnya terpukau ketika kami belajar geografi. Berkata bahwa suatu kali dia akan menjejakkan kaki di sini, di sana, di sana lagi dan di sananya lagi. Tapi mendapati kenyataan bahwa dia benar-benar ingin merealisasikan mimpinya untuk berkeliling Korea Selatan, hatiku rasanya remuk.

 

“Oppa, lihat! Bintangnya bersinar!” Kudengar dia memekik seru. “Apa itu bintang jatuh? Oppa! Cepat buat permintaan. CEPAT!” Aku bisa melihat dengan jelas, wajahnya berbinar terang dan matanya mengatup. Tangannya menangkup di depan dada ketika mulutnya bergerak tak jelas, membuat permintaan. Pelan, aku ikut mengatupkan mataku. Menggumamkan permintaanku dengan teramat sangat pelan.

 

Tuhan, aku ingin menjadi pria yang ia inginkan…

*****

.

.

.

“Hae-ya, angkat jaringnya cepat…” perintah Appa terdengar. Aku buru-buru menarik juluran jaring dari samping perahu kecil milik Appa. Ada sekitar belasan ikan menggelepar di dalam sana. Wajahku cerah, begitu juga Appa. Sinar bulan yang menerangi kegiatan kami sebagai nelayan, membuat keadaan semakin semarak. Appa menepuk-nepuk pundakku. “Bagus. Kau sudah semakin lihai menarik jaring.”

 

Aku meringis tertawa mendengarnya, teringat saat awal-awal dulu melaut bersama Appa. Melepas jaringnya ketika ada seekor ikan melompat bebas ke tanganku, merobek jaring, terjungkal ke laut, membuat perahu menjadi banjir, dan yang lebih parahnya adalah aku membuat mesin perahu mati begitu kami sedang di tengah laut. Donghwa Hyung sampai harus mencari kami ketika siangnya kami belum juga kembali ke rumah.

 

“Berkat ajaranmu, Appa.”

 

Beliau menepuk pundakku lagi dan tersenyum terangguk-angguk, lalu menengadah ke arah langit. “Sebentar lagi fajar tiba, sebaiknya kita sudahi saja hari ini. Lumayan banyak ikan yang kita dapat. Cukup untuk makan hari ini dan beberapanya kita jual untuk membeli beras. Eomma-mu bilang beras sudah menipis sejak dua hari yang lalu.”

 

Aku mengangguk setuju, lalu beranjak ke arah kemudi perahu dan mengatur laju perahu.

 

Perahu ini milik Appa. Sejak Appa masih muda hingga sekarang aku dan Donghwa Hyung sudah seperti sekarang, perahu inilah yang selalu menemani kami mencari nafkah. Kadang Appa pergi bersama Donghwa Hyung, kadang pergi bersamaku. Saat masih sekolah dulu, aku sering pergi dengan Appa saat sabtu malam hingga minggu pagi. Jika sedang tidak, aku mengayuh sampan bersama Park Soojae. Berbincang tentang… ah iya, sekarang kami sudah lulus. Dan aku bertanya-tanya, apakah dia masih dengan ketetapannya untuk pergi dari Mokpo?

 

“Hae-ya, mengendarai perahu, sebaiknya kau jangan melamun.” Suara Appa membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang meledak di pikiran. Aku kembali fokus pada kendali perahu. Mengarahkannya dengan benar, menuju pantai.

.

.

.

Kami tiba di rumah tepat ketika fajar menyingsing. Dengan beban di tangan kanan dan kiriku, aku bergegas masuk rumah. Eomma yang membukakan pintu. Tersenyum cerah saat melihat bawaanku.

 

“Woah, kalian dapat banyak?”

 

“Ne, Eomma. Untuk beli beras.”

 

“Hahaha, Appamu pasti yang bilang kan?” Eomma tergelak. “Sudah letakkan di dekat dapur saja. Di dalam baskom seperti biasanya ya. Setelah itu kau mandi, dan bantu Eomma di dapur.”

 

“Kenapa tidak langsung membantu Eomma saja? Aku masih kuat kok untuk mengaduk masakan.”

 

“Masakan kali ini akan lebih banyak, Hae-ya… Kau mandi sajalah dulu. Badanmu bau amis.”

 

“Heissh, nelayan memang bau amis, Eomma!” Aku protes. Seingatku dulu Eomma tetap saja mencium kening Appa setiap Appa pulang melaut. Tidak pernah protes tentang bau amis dan semacamnya.

 

“Baiklah,” kataku pada akhirnya. “omong-omong memangnya ada pesta apa hingga kita akan masak banyak? Seingatku, ulang tahunku baru saja lewat…”

 

“Bukan kita yang pesta, tapi Keluarga Park. Memangnya kau tidak tahu, Hae-ya? Aneh sekali, kalian kan bersahabat,” Aku baru akan mengambil handuk untuk mandi ketika mendengar Keluarga Park disebut Eomma barusan. “apa Soojae tidak cerita padamu?”

 

“Cerita? Tentang?”

 

“Dia akan ikut pamannya ke Seoul, besok lusa. Makanya keluarganya mengadakan semacam pesta kecil-kecilan. Sekalian untuk mendoakan…”

 

Telingaku kebas. Rasanya lututku juga. Diikuti dengan hatiku yang mencelos dan sedikit perih mendengar bahwa dia… bahwa Park Soojae akan pergi ke Seoul besok lusa. Dia bahkan tidak berkata apapun padaku tentang ini, lalu tiba-tiba dia ingin pergi begitu saja?

 

“Donghae! Lee Donghae! Yaaa! Anak itu, yaaa! Kau mau ke mana? Mandi dulu, kau bau amis! Aigoo…”

 

Aku tidak peduli. Aku harus bertemu dengannya. Harus.

.

.

.

Park Soojae sedang menyetrika pakaiannya ketika aku datang. Dia menyunggingkan senyum dan aku sama sekali tidak ada niatan untuk membalas. Kulihat dia mematikan alat setrikanya dan kemudian menghampiriku. Mengajakku untuk duduk di balkon rumahnya.

 

“Aku tidak tahu bahwa hari ini akan ada pesta di rumahmu.” kataku datar. Aku tidak mau melihat wajahnya. Aku kecewa, tentu saja. Merasa aku tidak dianggap.

 

“Hanya pesta kecil-kecilan, Oppa…”

 

“Dan kau akan pergi setelahnya,” Sialan, suaraku mendadak serak. Jangan menangis, Donghae babo. Jangan menangis.

 

“Kau benar.”

 

“Dan kau tidak mengabariku sama sekali.”

 

“Maafkan aku,”

 

“Apa kau pikir dengan minta maaf, semuanya akan baik-baik saja?” Baiklah, aku sudah menangis sekarang. Aku cengeng. Aku lemah. Biar saja. Aku tidak peduli.

 

“Oppa…”

 

“Sebenarnya kau anggap aku apa, Soojae-ya? Kau anggap aku apa?” Aku membiarkan mataku berair. Panas. Aku masih tidak mau menatapnya. “Kau bahkan dengan mudahnya mau meninggalkanku.”

 

“Maafkan aku, Oppa. Tapi kau tahu ini semua tentang mimpiku.”

 

“Mimpi apa, Soojae-ya? Apa tentang menjejakkan kaki keliling Korea? Apa tentang menjadi orang pertama dari Mokpo yang berhasil menjejakkan kaki di Seoul? Apa salahnya dengan tinggal di sini? Apa salahnya dengan laut Mokpo? Kau selalu bilang di sini banyak hal baik. Salah satunya adalah aku. Tapi kau pergi begitu saja bahkan tanpa niatan mengabariku. Kau dengan mudahnya meninggalkan aku,”

 

“Aku tidak bermaksud begitu.” Suaranya masih sama. Tidak ada perubahan. Aku tidak mendapat kesan bahwa dia menyesal tidak mengabariku. Membuatku semakin perih dan muak. Harusnya aku segera hengkang dari sini.

 

“Kenapa harus pergi ke Seoul jika kau bisa hidup dengan baik di sini. Kenapa harus berjauhan denganku jika aku bisa memastikan bahwa kau akan baik-baik saja selama kau berjarak dekat denganku, Soojae-ya… Kenapa?”

 

Aku menoleh, memberanikan diri menatap wajahnya. Matanya bergerak pelan, menatapku. Sebelum mengucapkan kalimat yang akan kuingat seumur hidupku. Kalimat yang membuatku sakit hati dan mengutuk kehidupan yang telah diberikan Tuhan untukku.

 

“Sama sekali tidak ada yang salah di sini, Oppa…” Dia berkata lembut sambil tetap menatapku. “Aku tetap menyukai laut Mokpo dan tidak akan memungkiri keindahannya. Tapi seperti yang kau ketahui, aku ke Seoul untuk meraih mimpiku, Oppa. Aku bosan hidup miskin dan aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu kau menyayangiku. Aku juga. Aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu. Tapi membayangkan kenyataan bahwa aku akan tetap hidup miskin jika aku terus bersamamu, aku tidak bisa. Aku hanya tidak bisa, Oppa. Maaf,”

 

Sialan! Sialan! Hidup miskin sialan!

 

Pertahananku runtuh, aku menangis seperti anak kecil. Begitu ketakutan mendengar jawaban jujur dari mulut orang yang aku sayangi. Merasa kerdil karena aku tidak akan bisa membantah satu kalimatpun yang ia lontarkan barusan.

 

Jadi aku bangkit, dan mengambil langkah panjang-panjang. Menjauh dari rumahnya.

 

Aku muak. Muak dengan kehidupan. Kenapa aku harus terlahir miskin? Kenapa aku harus miskin hingga bahkan mendapatkannya pun begitu sulit?

*****

.

.

.

Hidupku tak lagi sama setelahnya. Rasanya setiap bangun tidur di pagi hari, aku selalu menyesal karena masih bisa melihat matahari. Begitu menyesal karena ternyata masih diberi kesempatan untuk menghirup udara. Dia sudah pergi ke Seoul dua tahun yang lalu. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegah langkahnya.

 

Aku hanya berdiri diam di balik jendela rumahku, ketika mobil yang ia tumpangi untuk membawanya ke Seoul, melintas. Melihat mobil itu melaju tanpa hambatan, membuatku membenci diriku semakin jauh.

 

Dia bilang dia mencintaiku, hanya saja dia bosan hidup miskin.

 

Dan apalah yang bisa diberikan oleh seorang anak nelayan yang sama sekali tidak punya keahlian apapun selain melaut?

 

Aku menyerah pada takdir. Menyerah atas cintaku pada gadis bernama Park Soojae. Berusaha melupakannya dengan cara lebih sering melaut. Hanya saja, terkadang jika aku mendongak menatap langit malam, yang kutemui hanya hamparan bintang, yang kemudian hanya membuat hatiku perih. Dan meskipun ada puluhan kali binar bintang berpendar seperti bintang jatuh, aku tak lagi mengucapkan permintaan seperti ketika dia menyuruhku. Percuma, aku tahu. Sangat percuma dan hanya membuatku gusar. Aku sudah mengucapkan satu permintaan kala itu, tapi kemudian aku sadar bahwa permintaanku takkan pernah terkabul.

 

Menjadi pria yang ia inginkan?

 

Park Soojae mungkin sudah menemukan seorang pria yang baik di Seoul sana. Atau mungkin belum, aku tidak tahu. Yang jelas aku harus melupakannya. Dan meskipun aku bersikeras untuk melupakannya, toh aku tetap merasakan rindu tak terkatakan, padanya. Hanya padanya.

 

“Hae-ya, kau ikut aku melaut tidak?” Donghwa Hyung menepuk pundakku.

 

“Memang Appa tidak ikut?”

 

“Appa sepertinya kecapekan. Makanya aku mengajakmu.”

 

“Oh, baiklah.”

 

“Jam tujuh malam, selesai makan malam kau harus sudah siap. Aku mau ke rumah Park Chanri dulu ya.”

 

“Ngapain, Hyung?”

 

“Ya pacaran lah. Memangnya kau? Jomblo mengenaskan!”

 

“Sialan kau!”

*****

.

.

.

Cuaca malam ini sungguh tidak bersahabat. Petir menyambar di angkasa sana. Hujan turun dan meski begitu, Donghwa Hyung masih saja ngotot untuk melaut. Hampir tidak ada tangkapan untuk malam ini.

 

“Kita harus mendapat ikan, Hae. Kita perlu makan.”

 

“Tapi, Hyung… Hujannya makin deras.”

 

“Kau mau makan hanya dengan garam?!”

 

“KAU MAU KITA MATI DAN MENINGGALKAN EOMMA DAN APPA?!”

 

Aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Donghwa Hyung tampak tercenung. Lalu kemudian menghela napas panjang. Di antara butiran hujan, dia melangkah menuju kendali perahu.

 

“Baiklah, kita pulang.”

 

Sepertinya ini bukan hanya sekedar hujan, tapi badai angin juga. Perahu beberapa kali bergoyang walau Donghwa Hyung terus mengarahkannya menuju pantai. Aku menggigil, kedinginan dan ketakutan. Bajuku basah semua dan yang bisa kulakukan hanya duduk di sebelah Donghwa Hyung yang masih berkonsentrasi. Aku teringat dua hari yang lalu badai besar menghantam laut hingga kami yang baru saja hendak berangkat, membatalkan niatan. Tidak ada bintang sama sekali pada saat itu. Yang ada hanya gemuruh besar. Jadi selama dua hari, kami tidak melaut hingga stok makanan di rumah menipis sekali. Aku paham apa yang dipikirkan Donghwa Hyung. Tapi aku juga tidak mau mati konyol hingga Eomma dan Appa menangis mendapati kedua anaknya pulang hanya tinggal nama.

 

Syukurlah kami masih bisa mencapai pantai. Aku loncat dari atas perahu, diikuti Donghwa Hyung. Suasana pantai sepi sekali dan itu wajar mengingat sekarang masih pukul satu malam. Rumah kami tidak begitu jauh dari pantai, kami hanya perlu berlarian di tengah hujan selama beberapa puluh meter. Mengetuk pintu rumah dan meminta Eomma membuatkan kami teh hangat.

 

“Donghae! Chakkaman!” Langkahku terhenti begitu Donghwa Hyung berteriak memanggil. Aku menyipitkan mata, melihat Donghwa Hyung masih berdiri di bibir pantai, menunjuk-nunjuk sesuatu. “ADA ORANG DI SINI!”

 

Orang?

 

Aku berlari lagi, menghampirinya. Rasa dingin menerpa kembali. Hujan masih lebat dan sinar rembulan membuatku melihat bahwa memang ada sesosok tubuh terkapar di dekat kaki Donghwa Hyung. Seorang pria.

 

“Nuguya, Hyung?”

 

“Nan molla. Kita kan sama-sama tiba di sini barusan. Kurasa dia terdampar begitu saja,” Donghwa Hyung melempar pandang ke arah laut. “tidak ada apapun. Kurasa sebaiknya kita menolongnya. Bantu aku mengangkat tubuhnya. Cepat!”

*****

.

.

.

Nama pria itu adalah Lee Sungmin. Kudengar dari mulutnya sendiri bahwa dia sedang melakukan perjalanan laut ketika tiba-tiba kapal yang dia tumpangi oleng dan semuanya menjadi semrawut. Lee Sungmin berpikir bahwa dia tidak akan selamat. Dia sudah terombang-ambing di laut selama dua hari. Kurasa kejadiannya tepat ketika badai menyerang beberapa hari yang lalu kan.

 

Dia bertanya apakah kami punya telepon untuk menghubungi keluarganya di rumah. Ah, iya… keluarganya pasti cemas.

 

“Kami tidak punya telepon, Sungmin-sshi. Tapi ada telepon di kantor kepala desa. Kau bisa menggunakannya di sana. Tapi kau harus pulih dulu untuk bisa ke sana.” Eomma membantunya bangkit dari tidur karena hari ini dia harus makan.

 

Lee Sungmin tidak sadarkan diri selama tiga hari. Dia hanya terus mengigau tanpa bisa kami bangunkan. Eomma-lah yang dengan telaten merawatnya hingga ia siuman seperti sekarang. Aku menatapnya yang kini mengenakan kaus hijau milik Donghwa Hyung. Tubuh Lee Sungmin sama besar dengan Donghwa Hyung. Sedangkan pakaian yang ia kenakan saat itu, sudah terlipat rapi di dalam lemariku. Setelan yang biasa digunakan oleh orang-orang kaya yang sering kulihat berbincang dengan pengusaha-pengusaha dengan kapal besar untuk menangkap ikan.

 

“Baiklah, maaf aku menyusahkan kalian.” Lee Sungmin bicara setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. Kulihat Eomma tersenyum tulus sambil bergegas menyuapinya lagi. Senyuman Eomma selalu membuatku nyaman. Aku bertanya-tanya apa Lee Sungmin juga merasakan hal yang sama ketika melihat senyuman Eomma?

 

“Tidak ada yang merasa disusahkan, Sungmin-sshi… sudah kewajiban kami, setiap manusia, untuk membantu manusia lainnya,” Eomma menyorongkan segelas air yang langsung diseruput oleh pria itu. “hal seperti ini bisa saja menimpa puteraku, Donghwa maupun Donghae, jadi aku hanya berpikir bahwa setidaknya nanti puteraku bisa mendapat pertolongan yang sama.”

 

“Mereka beruntung sekali memiliki Anda,” cetus pria itu lagi. Aku tersenyum sekilas. Tentu saja aku bersyukur, Lee Sungmin-sshi!

 

Suara ribut terdengar dari pintu depan. Aku menoleh dan mendapati Donghwa Hyung dengan wajah cerah mendekati Lee Sungmin sambil menyodorkan sesuatu. Hei, darimana dia. Seingatku dia langsung pergi begitu mendengar Lee Sungmin bertanya tentang telepon.

 

“Ige, Sungmin-sshi…” Donghwa Hyung tampak senang sekali ketika menyodorkan benda kecil berwarna pink itu. “Ini kupinjam dari pacarku, Park Chanri. Dia begitu senang kau siuman dan berkata bahwa kau boleh menggunakan ponselnya untuk menghubungi keluargamu.”

 

“Donghwa-ya, biarkan Sungmin-sshi tenang dulu…”

 

“Tidak apa-apa, Eommonim… sebaiknya aku bergegas menghubungi keluargaku. Aku khawatir mereka berpikir yang tidak-tidak tentangku sekarang.”

 

Lee Sungmin mengambil alih ponsel di tangan Donghwa Hyung dan menekan-nekan ponsel itu. Terdengar bunyi tut beberapa kali.

 

“Oh, maaf… ponselnya agak sedikit aneh. Chanri bilang speakernya menyala. Dan tidak bisa menelepon jika tidak begitu. Mungkin rusak.”

 

“Gwaenchana. Aku sudah bersyukur ada alat komunikasi untuk menghubungi keluargaku.” Lee Sungmin memasang senyumnya selagi ponsel itu ber-tut lagi.

 

“Yeobsseo?” Terdengar suara perempuan dari ponsel itu.

 

“Yoojin-a…”

 

“OPPA?!” Suara di seberang memekik. Kentara sekali berharap besar. “Oppa, apa kau baik-baik saja? Neo eoddiga? Eoddigayo???! Oppa, yaa Tuhan… Oppa… Tuhan…” Lalu suara itu menangis. Lee Sungmin masih terlihat tenang.

 

“Yoojin-a, hei, aku baik-baik saja. Tidak perlu menangis. Bagaimana Yoonsung dan Yoona? Apa mereka baik-baik saja?”

 

“Oppa, kupikir kau… kupikir kau…” Lalu perempuan itu menangis lagi. Kurasa itu istrinya. “Mereka baik-baik saja. Kau di mana, Oppa. Aku panik mendengar kabar kapalmu tenggelam dan… dan aku berpikir… Oppa, kau di mana?”

 

“Aku di Mokpo, dekat dengan pantai. Di sini bagus sekali pemandangannya, Yoojin-a… Sepertinya aku akan di sini beberapa hari lagi, tubuhku belum pulih benar.”

 

“Aku akan ke sana kalau begitu. Beri aku alamatnya!”

 

“Tidak usah, sebaiknya kau di rumah, menjaga anak-anak.”

 

“OPPA!” Suara perempuan lain terdengar. Astaga, pria ini sebenarnya punya berapa perempuan sih?

 

“Tidak perlu berteriak, Hee-ya. Aku tidak tuli.”

 

“Oppa, aku dan Yoojin Ounni menangis selama berhari-hari dan sekarang kau melarangku berteriak? Apa-apaan kau! Kulaporkan kau nanti pada Eomma dan Appa karena sudah membuat kami cemas! Kutuntut kau nanti! Ergh, kau menyebalkan!”

 

Kulihat Lee Sungmin tertawa kecil. Eomma bergerak lalu berdiri, menuju keluar kamar dengan piring bubur yang sudah tinggal sedikit di tangannya. Mungkin pekikan gadis itu membuat Eomma terkejut. Donghwa Hyung masih duduk di dekat Lee Sungmin dengan wajah sumringah.

 

“Arasseo. Maafkan aku. Nanti kau bisa memukulku begitu kita bertemu. Teleponnya kututup dulu ya. Aku akan pulang begitu kondisiku sudah baikan. Dan akan terus mengirim kabar. Kau jaga dua keponakanmu itu, jangan ajari Yoona yang tidak-tidak. Dia bukan wanita karir sepertimu, jadi jangan ajari dia memakai kemeja dengan dua kancing terbuka,” Entah kenapa aku tertawa mendengar gurauan pria ini. “Bilang pada Yoojin Ounni-mu, aku mencintainya.”

 

“Oh aku bosan menyampaikan hal yang sama setiap kali kau menelepon dan Yoojin Ounni ada di dekatku, Oppa!” Gadis itu mengomel tapi suaranya terdengar terisak. “Kau sampaikan saja sendiri begitu tiba di sini. Jaga kesehatanmu. Minggu ini kau harus ada di Seoul. Akan ada pesta kelulusanku di sekolah dan sebaiknya kau ada di sini! Aranta?”

 

“Oke, i will. Sudah, teleponnya kututup ya. Anyeong…”

 

Donghwa Hyung menerima kembali uluran ponsel pink itu dari tangan Lee Sungmin yang terus-terusan mengucapkan terima kasih. Donghwa Hyung juga berjanji akan membawakan ponsel ini lagi setiap sore meski Lee Sungmin berkata bahwa dia tidak ingin merepotkan. Dia bisa menggunakan fasilitas telepon di kantor kepala desa begitu dia sudah sembuh. Tapi Donghwa Hyung bersikeras ingin meminjaminya ponsel. Berkata bahwa mestinya Lee Sungmin mengabari terus menerus keluarganya agar mereka tahu dan tidak khawatir.

 

“Terima kasih, Donghwa-sshi. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian.”

 

“Tidak perlu seperti itu, Sungmin-sshi. Aku senang pada akhirnya aku mendapat seorang keluarga baru.”

*****

.

.

.

Lee Sungmin sudah pulih dan itu berarti dia sudah bisa melakukan perjalanan jauh. Yang mana artinya adalah dia akan pergi kembali ke rumahnya. Setahuku dia tinggal di Seoul. Lee Sungmin banyak berbincang tentang kehidupannya di Seoul. Kota yang selalu membuatku perih setiap mendengar, mengingat atau melafalkannya.

 

Dia tinggal dengan istrinya yang bernama Park Yoojin dan dua anaknya, Lee Yoonsung dan Lee Yoona. Juga bersama adik perempuannya, Lee Eunhee. Keluarga harmonis, aku menebak. Pria itu bekerja sebagai Direktur Komisaris di sebuah perusahaan berkembang bernama Sendbill. Dari sebutannya─Direktur Komisaris─aku sudah paham bahwa dia bukan orang sembarangan.

 

Eomma memeluk Lee Sungmin dan menepuk punggungnya. Begitu juga Appa. Donghwa Hyung juga. Chanri Nuna hanya membungkukkan badan begitu Lee Sungmin hendak berangkat kembali ke Seoul. Dia tampak tampan dengan kaus berkerah, berwarna merah muda. Dipadu dengan celana cargo berwarna krem. Aku pernah memegang kausnya ketika Eomma selesai menyetrika kaus itu. Bahannya lembut sekali. Aku belum pernah punya kaus seperti itu. Kausku kebanyakan lusuh, dan kadang ada yang berlubang di bagian tertentu karena dimakan ngengat.

 

“Terima kasih sudah mau menampungku di sini,” Lee Sungmin akan ikut dengan mobil menuju Seoul. Akan memakan waktu sekitar dua hari untuk tiba di sana. “aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika aku tidak selamat. Aku berhutang nyawa,”

 

“Tidak perlu bicara begitu, Sungmin-sshi.” Appa menyela.

 

“Harus begitu, Tuan Lee… Aku harus berterima kasih,” sahutnya. Aku ingin menangis. Bagiku dia orang baik. Dan aku percaya, orang baik akan selalu mendapat pertolongan Tuhan di manapun dia berada. “uang berlimpahpun tidak akan setara dengan nyawa yang kini masih ada di dalam tubuhku,” Dia melanjutkan. “untuk itulah, jika kalian tidak keberatan, aku ingin mengajak Donghwa-sshi atau Donghae-sshi, untuk bekerja di perusahaanku. Aku tidak menjanjikan apa-apa. Hanya saja melihat dari kebaikan dan ketulusan kalian, aku yakin kalian punya potensi. Dan dengan sedikit asahan, sepertinya kalian akan bisa memupuk karir yang bagus.”

 

Chanri Nuna langsung memeluk Donghwa Hyung. “Tidak. Jangan kau, Donghwa-ya… Jangan kau…”

 

Dan semua mata mengarah padaku.

 

“Kau bisa pulang satu bulan sekali ke sini, Donghae-sshi,” Lee Sungmin melanjutkan tawarannya. Eomma menghampiriku dan memelukku.

 

“Pergilah. Ikutlah dengan Sungmin-sshi. Mungkin takdirmu bukan menjadi nelayan seperti Appa-mu, Hae-ya… Ini tawaran bagus.”

 

Tapi Eomma, kenapa secepat itu kalian memutuskan? Aku akan pergi jauh, dan lagipula aku ditawari tinggal di Seoul, di kota sialan yang selama bertahun-tahun disebut Park Soojae sebagai tempat tujuannya meraih mimpi. Ada jutaan hal yang mesti ku pikirkan untuk meninggalkan desa ini. Nelayan, laut, ikan… Eomma, Appa, Donghwa Hyung… taburan bintang…

 

“Pergilah, Hae-ya… kau bisa mengunjungi kami sebulan sekali kan?”

 

“Atau kami yang akan ke sana!” Donghwa Hyung menyemangati. “Aku akan menjaga Eomma dan Appa di sini, Hae-ya. Pergilah.”

 

Aku melihat sedikit binar harapan. Teringat akan permohonanku pada bintang jatuh. Tentang menjadi pria yang diinginkan oleh Park Soojae… Bahwa jika aku ikut pria baik ini ke Seoul, aku mungkin bisa mengumpulkan pundi-pundi uang dan kemudian menjadi kaya. Aku dan keluargaku tidak akan hidup dalam kemiskinan lagi. Kami akan kaya dan kemungkinan besar Park Soojae akan menerimaku. Karena aku tidak akan hidup miskin lagi.

 

Jantungku berdegup. Lalu yang kuingat kemudian adalah aku melesat ke dalam kamar, mengepak beberapa pakaian lusuhku.

*****

.

.

.

Kota Seoul sama sekali berbeda dengan desa mungilku di Mokpo. Di sini banyak bangunan besar dan tinggi. Aku sampai harus mendongak sampai kepalaku sakit untuk melihat ujung teratas gedung itu. Lee Sungmin bicara banyak selama perjalanan kami tiga hari dua malam (perjalanannya molor karena beberapa kali mobil yang kami tumpangi harus berhenti karena bannya pecah). Dia menggamit tanganku begitu kami sampai di sebuah halte. Mengucapkan terima kasih pada supir mobil itu dan berkali-kali membungkukkan badan.

 

Sebuah mobil berhenti. Agak sedikit aneh melihat ada mobil yang berhenti begitu saja di depan kami. Apakah Lee Sungmin kenal dengan supirnya?

 

“Namyangju, ahjusshi…” katanya setelah aku dan dia duduk di kursi belakang. Mobil melaju lagi dan aku hanya diam. “Sebentar lagi kita sampai, Hae-ya…”

 

Yeah, dia berhenti memanggilku dengan akhiran sshi setelah aku memintanya untuk bersikap tidak formal. Aku juga menyebutnya Hyung setelah itu.

 

“Kau tidur saja juga boleh, nanti aku bangunkan.”

 

Baiklah, lagipula mataku lumayan berat.

.

.

.

“Kita sudah sampai.” Sebuah suara membangunkanku dari tidur. Sedikit pusing, aku membuka mata. Mendapati aku tengah berada di kursi belakang mobil yang kini berhenti di depan rumah besar dengan taman hijau terhampar, di balik pagar tinggi. Sungmin Hyung bergegas keluar dan menyuruh supir itu untuk menunggu. Aku mengikutinya, dengan ransel lusuh di pundak.

 

Dia memencet bel di dekat pagar tinggi yang tertutup itu. Lalu kemudian terdengar pintu rumah terbuka lebar. Wajah perempuan yang keluar dari rumah itu tampak sumringah.

 

“OPPA!!!” Gadis itu berlari dengan kecepatan cahaya. Membuka pintu dan kemudian menubruk Sungmin Hyung yang tersenyum lebar. Aku diam saja. Memangnya aku harus apa? “Oppa, kau pulang! Kenapa kau tidak mengabari kami? OUNNI! YOOJIN OUNNI, SUNGMIN OPPA SUDAH PULANG!!!”

 

“Aku tidak mengabari karena tidak mau tidur kalian terganggu karena menunggui kedatanganku.” sahut Sungmin Hyung. Gadis itu belum juga melepas pelukannya ketika seorang perempuan lainnya mendekat bersama seorang gadis mungil dalam gendongannya. Seorang anak lelaki berusia tiga tahun nampak berlari kecil dan ikut menubruk Sungmin Hyung. Kulihat perempuan itu menangis.

 

“Hee-ya, taksinya belum kubayar…” kata Sungmin Hyung. Membuat gadis itu melepas pelukan dan sambil tertawa-tawa dengan mata berair, dia berlari ke taksi. Lalu Sungmin Hyung menghampiri perempuan dengan perempuan kecil di gendongannya, dan memeluknya.

 

“Aku baik-baik saja, Jinnie-ya… tidak perlu cemas.” Sungmin hyung mengecup keningnya, kemudian meraih bocah lelaki ke dalam gendongannya. “Bagaimana jika kita bicara di dalam?”

 

Sungmin Hyung menoleh dan mendapatiku tercenung seorang diri di tempatku berdiri, tidak tahu harus berkata apa. Sepertinya dia baru menyadari bahwa dia datang bersamaku juga.

 

“Oh, aigoo… maafkan aku, Hae-ya, aku lupa. Aku terlalu senang bertemu dengan keluargaku,” Sungmin Hyung menyuruhku mendekat. “Jinnie-ya, Eunhee-ya, ini Lee Donghae, yang menolongku ketika aku pingsan di pinggiran pantai.”

 

Dan aku langsung ditubruk oleh gadis bernama Eunhee itu. Erat sekali.

 

“Terima kasih, Donghae-sshi. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa Oppaku!” katanya riang. Aku tersipu begitu dia melepaskan pelukannya. Istri Sungmin Hyung membungkukkan badannya, ikut berterima kasih.

 

“Ahjusshi, telima kacih cudah pulang dengan Appa.” Bocah kecil itu memeluk leherku selagi dia dalam gendongan Sungmin Hyung.

 

“Dan dia akan tinggal bersama kita, bekerja di perusahaan. Kebetulan perusahaan membutuhkan tenaga pemantau. Kita membutuhkan orang-orang jujur seperti Donghae di sana.”

*****

.

.

.

Aku bekerja sebagai tim audit di kantor milik Sungmin Hyung. Meski aku hanya tamatan SMU dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, Sungmin Hyung berkata bahwa pekerjaan yang kulakukan luar biasa bagusnya. Aku teliti dan cepat tanggap, itu katanya. Jadi selama satu tahun ini aku terus mempelajari berbagai bidang yang ada di perusahaan itu. Aku belajar diam-diam dan seorang diri. Otodidak, benar. Jadi aku menyerap ilmu-ilmu yang bisa kuserap. Sungmin Hyung pernah mengajakku rapat dan tiba-tiba aku bersuara. Entah dapat keberanian dari mana, aku bersuara tentang ide yang sebaiknya perusahaan jalankan, demi kemajuan perusahaan itu sendiri.

 

Dan ideku diterima.

 

Tepat tidak lama setelah ideku dijalankan, perusahaan yang bergerak di bidang retail itu, mengalami kemajuan yang pesat dalam penjualan. Aku diangkat menjadi Manajer Penjualan.

 

Penghasilanku? Tidak usah ditanya berapa penghasilanku. Yang jelas, aku sudah bisa membeli apartmen sendiri di dekat kantor dan mengendarai mobil Renault Samsung SM7. Mobil yang sama dengan yang Sungmin Hyung gunakan setiap ke kantor. Mobil itu lebih sering diam di garasi sih sebenarnya, kugunakan saat libur saja, karena setiap hari aku ikut dengan Sungmin Hyung ke kantor.

 

Aku pulang sebulan sekali dengan mobil itu. Rumah di desa juga kuperbaiki dan kuubah agar aku layak tinggal. Aku bahkan bisa membiayai pernikahan Donghwa Hyung dengan Chanri Nuna di sana. Yah, tidak mewah sih, tapi cukup membuat mereka berdua memelukku sampai aku sesak.

 

Aku bersyukur menyelamatkan Sungmin Hyung saat itu. Karena aku diberi anugerah yang sangat teramat besar. Aku punya kehidupan yang lebih baik. Di usia dua puluh satu, aku sudah bisa ini-itu dan beberapa kali melakukan perjalanan keluar negeri untuk keperluan perusahaan. Kenal dengan Sungmin Hyung, membuatku mengenal Park Yoojin, istrinya yang sangat baik. Dua orang anaknya sudah kuanggap sebagai keponakanku sendiri. Begitu juga Lee Eunhhe. Dia sudah kuanggap adikku sendiri.

 

Tapi aku sama sekali tidak lupa. Tujuan awal aku ke sini. Semangat yang mendorongku untuk menerima ajakan Sungmin Hyung. Bertemu Park Soojae.

 

Seringkali aku bercermin dan kemudian tersneyum lebar. Aku yang sekarang bukan lagi Donghae yang dulu. Bukan lagi pemuda miskin yang bernasib sebagai nelayan penjaring ikan setiap tengah malam di laut Mokpo. Aku sudah berubah, Soojae-ya…. Permohonanku terkabul. Permohonanku pada bintang jatuh ketika kau menyuruhku untuk secepat mungkin mengajukan permintaan, terkabul Soojae-ya…

 

Aku sudah berubah menjadi pria yang kau inginkan.

 

Tidak sulit menemukanmu di Seoul, rupanya. Fasilitas internet di kota ini benar-benar menguntungkan.

*****

.

.

.

Jantungku berdegup di luar kendali. Assh, ini kah yang dirasakan seseorang ketika rindu begitu menggebu untuk bertemu orang yang sudah lama tidak ia temui?

 

Dia, Park Soojae… Dia ada di sini. Di kafe ini.

 

Aku mendapat informasi dari beberapa sumber yang kutelaah, bahwa gadisku ada di sini, bekerja sebagai pelayan kafe. Jadi aku ke sini sepulang kerja, untuk menemuinya. Untuk mengajaknya hidup bersamaku. Dia pasti tidak akan menolak kan? Aku sudah kaya. Tidak miskin lagi.

 

“Pesan apa, Tuan?”

 

Ah, suaranya belum berubah.

 

“Aku pesan coffee latte. Dua.”

 

“Baik. Tunggu sebentar.”

 

Dia tidak mengenaliku. Itu bagus. Berarti aku benar-benar sudah berubah.

 

Beberapa menit kemudian, dia kembali dan meletakkan kopi pesananku di atas meja. Kemudian berlalu setelah berkata, “Selamat menikmati.”

 

Aku masih tidak mengatakan apapun. Dia berlalu begitu saja, menghampiri meja lainnya dan menanyakan pesanan. Diam, aku menyeruput kopi latte ku. Hampir tersedak karena tiba-tiba aku begitu ingin berlari memeluknya. Begitu ingin meneriakkan kalimat bahwa aku, Lee Donghae, ada di sini. Untuk mengambilnya kembali.

 

Tapi kutahan.

 

Aku bertahan hingga kafe kemudian tutup dan dia tampak berkemas untuk pulang. Beberapa pegawai kafe tampak sibuk mengatur bangku-bangku kafe dengan menaikkannya ke atas meja.

 

“Maaf, Tuan, tapi kafe akan tutup dalam beberapa menit,” Suara itu lagi. Itu suara gadisku.

 

Aku mendongak dan menatap manik matanya. Iris matanya masih tetap hitam. Iris yang biasanya kunikmati setiap malam ketika kami duduk berhadapan dan aku mengayuh sampan. Iris yang kurindukan.

 

“Park Soojae,” Aku melirik label nama yang tersemat di seragamnya. “tidakkah kau ingat padaku?”

 

Alisnya nampak terangkat sebelah. Kurasa ia berpikir keras untuk mengenali siapa yang ada di hadapannya sekarang. Dia lalu menggeleng dengan bibir mengerucut. “Tidak. Apa kau artis? Member boyband kah?”

 

Aku tertawa. Miris.

 

“Soo, My Lady Soo… ayo kita pulang, mobil mahalku sudah menunggumu, sayang…” Sebuah suara membuat kami berdua menoleh. Ada seorang pria tinggi tegap, berkemeja dan berdasi, tengah tersenyum lebar sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya.

 

“Tunggu sebentar, beb… Masih ada orang.”

 

Aku terkesiap. Apa itu pacarnya? Atau mungkin suaminya?

 

“Oh maaf,” Aku bangkit hendak keluar. Berdehem sekali, menghilangkan suaraku yang tiba-tiba parau, “kau bilang kau tidak akan melupakan keindahan laut Mokpo. Tapi kau memang tidak bilang bahwa kau tidak akan melupakanku. Maaf, permisi.”

 

Aku melangkah cepat, bergegas keluar dan masih sempat mendengarnya berdesis, “Donghae Oppa…”

*****

.

.

.

Lee Eunhee memaksaku mengantarnya ke salon bahkan ketika aku belum bangun dari tidur. Dia menyuruh Yoona menciumi pipiku sampai aku terbangun. Dan aku bangun dengan wajah basah.

 

“Heish, Yoona-ya… ahjusshi masih mengantuk. Nanti saja kita mainnya. Aigoo~ wajahku basah!” Aku mengomel dan menelungkup, membenamkan wajahku yang penuh air liur, ke bantal.

 

“Ahjusshi jahaattt…” teriaknya. Bukan, bukan Yoona. Dia masih kecil. Tidak mungkin berteriak begitu. Itu suara Eunhee. Gadis itu mengarahkan tangan Yoona untuk memukulku.

 

“Yaaa, aku mengantuk, Hee-ya!”

 

“Oppa, temani aku ke salon, ppalii… kau tampan tapi bangun siang terus setiap libur. Menyebalkan!”

 

“Aku habis meeting kan tadi malam sampai jam sepuluh.”

 

“Aku juga habis main game sampai jam sebelas. Tapi aku bangun pagi,” Dan punggungku dibebani tubuh Yoona. Heissh, “Oppa, kau harus bangun. Cepat temani aku! Di sana kan banyak wanita cantik. Mungkin kau akan punya pacar nanti. Walau nanti pacarmu harus berhadapan dulu denganku! Ish, cepat bangun!”

 

Aku berbalik dengan mata menyipit. Yoona langsung terarah ke mukaku, air liurnya terasa lagi. “Yaaa, kuadukan pada Yoojin Nuna bahwa kau suka menggunakan Yoona dan menyuruhnya menciumiku setiap kali membangunkanku! Kau sudah mengajarinya yang tidak-tidak, Hee-ya! Aigoo, dia bahkan masih bocah!”

 

“Lalu kau mau aku bagaimana ketika membangunkanmu?”

 

“Eh?” Aku berpikir. Kulihat bibir Eunhee mengerucut. Membuatku tersenyum licik. “Bagaimana jika… kau saja yang menciumiku agar aku terbangun?”

 

“Yaaakh! SUNGMIN OPPA, DONGHAE OPPA MESUUUM!!!”

 

“Heish, pengaduan! Aku kan hanya bercanda!”

*****

.

.

.

HOAH!

 

Syukurlah Eunhee mengajakku ke sini. Syukurlah dia memaksaku menemaninya ke salon! Dia benar, banyak wanita cantik di sini. Tapi yang kusyukuri bukan itu. Aku bersyukur… ketika Eunhee mendaftarkan namanya untuk creambath dan pijatan di salon, gadis di sebelahnya membuat hatiku mencelos.

 

Itu Park Soojae.

 

Dan dia datang dengan balutan gaun berwarna kuning cerah. Baru selesai merapikan diri, sepertinya. Dia sedang mengeluarkan selembar kartu dari dompetnya dan kemudian menandatangani secarik kertas.

 

“Soojae-ya…” Refleks aku bergumam. Dia menoleh, tampak terkejut. Eunhee juga.

 

“Oppa…” Kali ini dia tidak bergeming begitu saja. Dia mendekat dan menghambur dalam pelukan. Sedikit menangis dan terus mendekapku erat. Kulihat Eunhee memandangnya kaget. Ini di tempat umum, aku tahu.

 

“Soojae-ya…”

 

“Oppa, mianhae… mianhae… aku tidak mengenalimu saat di kafe. Aku… Kau…” Dia menangis. Make-upnya berantakan sedikit. Tapi dia tetap cantik. “Kau berubah begitu banyak. Kau sangat tampan dan aku tidak percaya bahwa itu kau, Oppa. Lee Donghae yang kukenal di Mokpo,”

 

Dan yang kau tinggal demi mendapat impianmu, Soojae-ya…

 

“Aku terlalu senang dan hanya bisa mematung begitu kau berlalu. Hari berikutnya aku berharap kau datang lagi ke kafe. Juga hari berikutnya. Aku berharap kau datang. Tapi kau tidak. Kau tidak datang lagi,” Dia masih terus menangis. “dan sekarang aku bertemu lagi denganmu. Aku bertemu lagi. Kau tahu, aku…” Dan kemudian dia memelukku lagi.

 

“Soojae-ya, apa kau punya waktu,” Aku berkata pelan. Sedikit ragu ketika teringat lagi dengan pria tinggi tegap berkemeja dan berdasi waktu itu. “untuk jalan denganku sekarang? Ada beberapa hal yang ingin kukatakan dan ingin kudengar darimu. Aku… merindukanmu.”

 

Dia mengangguk dan masih tetap menangis. Aku menoleh pada Eunhee yang masih dengan wajah terkejutnya. Agak aneh melihatnya dengan wajah sedemikian. Aku belum pernah melihat wajah Eunhee seperti itu semenjak pertama kali kami bertemu.

 

“Hee-ya, aku keluar dulu dengannya. Sebentar. Apa tidak apa-apa aku meninggalkanmu di sini?”

 

“Gwanechana.” Eunhee menyahut. Dan jika aku tidak salah dengar, suara gadis itu terdengar serak.

*****

.

.

.

Soojae bercerita padaku bahwa dia sempat terlunta-lunta ketika tiba di Seoul. Paman dan Bibi tempat dia tinggal juga kehidupannya tidak lebih baik daripada kehidupannya di Mokpo. Jadi dia bertahan dengan bekerja apa saja. Sampai akhirnya dia menjadi seorang pelayan kafe, karena pacar terdahulunya bekerja di sana. Dia kemudian putus dengan pacarnya dan dekat dengan manajer kafe─pria yang waktu itu kulihat. Soojae berkali-kali minta maaf padaku dan bersyukur aku mempunyai kehidupan yang baik sekarang. Sementara aku menahan gejolak di dalam dadaku untuk berkata, “Aku sudah kaya, Soojae-ya… maukah kau menikah denganku?”

 

Aku harus memperbaiki beberapa susunan kalimat untuk memintanya menikah.

 

Jadi malam ini, aku mengundangnya untuk makan malam bersama keluarga Sungmin Hyung. Soojae belum pernah kuajak ke rumah ini, jadi dia merasa begitu gugup. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia dan pacarnya saat aku mengajukan ajakan makan malam.

 

“Aku dan dia sudah putus, Oppa.” katanya saat itu. Aku senang mendengarnya, tentu saja. Jadi begitu aku menjemputnya di apartmen mungilnya, di sudut kota Seoul, untuk makan malam di rumah, aku sudah tidak ada beban.

 

Meja makan sudah dikelilingi oleh Yoojin Nuna, Sungmin Hyung, Yoona dan Yoonsung. Tidak ada Eunhee. Kemana dia?

 

“Eunhee eoddigayo, Hyung?” tanyaku setelah Soojae duduk di salah satu kursi.

 

“Dia bilang, dia sakit perut dan tidak bisa ikut makan malam bersama, Hae-ya,” Yoojin Nuna berkata sambil kerepotan membetulkan posisi duduk Yoona di kereta makannya.

 

“Eunhee angis…” Yoonsung menyahut. Dia memang terbiasa menyebut Eunhee tanpa embel-embel apapun. Tapi sebentar, Eunhee menangis katanya?

 

“Mungkin perutnya sangat sakit, makanya dia menangis.” Yoojin Nuna menambahkan. Aku merasa tidak enak. Aku memang seringkali khawatir dengan anak itu. Belakangan dia jadi cuek padaku dan terlihat menghindar. Apalagi ketika aku bercerita tentang Soojae. Dia pasti akan menyela ucapanku dan berkata bahwa ada hal yang ingin dia kerjakan.

 

“Aku ke atas sebentar.” kataku meminta izin, kemudian bergegas menaiki tangga, menuju kamar Eunhee di lantai tiga.

 

Tok, tok…

 

Aku mengetuk pintu dua kali. Tidak ada jawaban.

 

“Hee-ya, apa kau di dalam?”

 

masih tidak ada jawaban.

 

“Hee-ya, apa kau baik-baik saja?”

 

“Aku baik-baik saja…” Suaranya terdengar. Tapi lebih kepada gerungan. Ada yang aneh.

 

“Lee Eunhee, buka pintunya. Biar aku melihatmu,” pintaku cepat. “Hee-ya, kau dengar aku…”

 

“Tidak apa-apa, Oppa…” Dia mengerung lagi. Sepertinya menangis. “Kau makan malam saja dengannya. Dia pasti sudah menunggumu.”

 

Aku memutar kenop pintu berkali-kali tapi toh tetap tidak terbuka. “Eunhee-ya, kau terdengar tidak oke sama sekali. Mana bisa aku makan malam jika kau seperti ini?”

 

“Tidak apa-apa. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa…” Dia berkata cepat. Lalu terdengar sesegukan.

 

“Buka pintunya cepat. Aku tidak akan beranjak sama sekali jika kau tidak membuka pintu!”

 

Hening. Lalu lima detik kemudian, pintu terbuka. Diikuti dengan tubuhnya menubruk tubuhku.

 

“Eunhee…”

 

“Aku menyayangimu, Oppa… Aku menyayangimu bukan seperti aku menyayangi Sungmin Oppa. Aku menyayangimu seperti seorang gadis menyayangi pria pujaannya,” Dia berkata sambil terus memelukku. “Aku tahu aku salah. harusnya aku tidak punya perasaan seperti ini. Aku tahu kau mencintai Soojae Ounni dengan baik. Aku tahu kau mencintainya. Tapi aku hanya ingin kau tahu, Oppa…”

 

Aku tergugu. Sama sekali tidak menyangka gadis yang selama setahun ini mengusik pagiku, mengusik tidurku, memaksaku, membentakku… akan berkata hal ini padaku.

 

“Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku menyayangimu lebih daripada kau menyayangi Soojae Ounni. Aku tidak mau kau pergi dengannya, atau dengan siapapun. Kau harus pergi denganku. Kau harus denganku… Donghae Oppa, aku menyayangimu. Maafkan aku egois,” Dia masih menangis dan aku mulai merasakan kausku basah. “tapi aku sangat menyayangimu.”

 

Diam, dan terus terdiam. Aku hanya diam ketika dia mencengkram pinggangku untuk mempererat pelukan.

 

Lee Eunhee… kau…

*****

.

.

.

Denting piano mulai mengalun dan beberapa orang mulai berdansa. Aku menarik tangan seorang gadis yang kini sudah resmi menjadi istriku. Dia tampak cantik dengan balutan gaun berwarna merah muda. Terlihat sumringah ketika mendekat ke tubuhku. Eomma dan Appa ku beserta Donghwa Hyung dan Chanri Nuna tampak mengangkat gelas berisi wine. Pestaku meriah.

 

Pesta pernikahan kami meriah.

 

Beberapa saat tadi, Lee Chunhwa, Appa dari Sungmin Hyung, memberi alih jemari anak gadisnya, ke tanganku. Mempercayakan anak gadisnya untuk hidup bersamaku. Gadis itu tampak senyum malu-malu dan dia terlihat bagai seorang puteri raja yang tengah di pinang oleh seornag pangeran.

 

Pangerannya tentu saja aku.

 

Gadis itu bernama Lee Eunhee. Gadis yang dengan tidak tahu malu menyatakan cinta padaku. Yang seketika itu juga membuatku mulai meragu tentang siapa gadis yang akan kuminta untuk hidup bersama. Aku berpikir terus selama tiga bulan ke depan. Masih mempertahankan sosok Park Soojae di dalam hatiku sendiri. Hingga pada akhirnya, aku mengetahui kenyataan sebenarnya.

 

Park Soojae selama ini hidup seperti parasit. Dia berhubungan dengan seorang pria hanya agar bisa hidup enak bersama pria itu. Lalu ketika ada pria lain yang tingkat kehidupannya lebih tinggi dari pria sebelumnya, dia akan berpindah ke pelukan pria tersebut. Begitu seterusnya, hingga dia bertemu aku dan memutuskan pria berdasi yang kulihat memutar-mutar kunci mobil saat di kafe dulu. Park Soojae memakiku ketika aku mengatakan bahwa aku mencintai Lee Eunhee dan berniat untuk mengajaknya menikah. Dia bertanya apa kekurangannya, lalu berkata bukankah dulu dialah yang selalu kuinginkan.

 

Benar, dia tidak salah. Dulu memang aku sangat menginginkannya. Dan aku berusaha keras untuk merubah diriku hingga bisa seperti sekarang. Dan setelah sekarang aku seperti ini, aku menyadari sesuatu. Hal yang kemudian dengan lantang kukatakan padanya, tepat di depan wajahnya;

 

“Kau menginginkan seorang pria tampan, kaya dan terhormat sepertiku,” kataku terang-terangan. “Tapi gadis sepertimu, tidak pantas bersanding dengan pria sesempurna itu.”

*****

.

.

.

 

END

 

One thought on “Y (WHY) | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s