촌스럽게 왜 이래 (You don’t Know Love) | FF Peserta Lomba

YouDontKnowLove

 

Author (FB & Twitter): EunRanHae (https://www.facebook.com/ranhaelovely & https://twitter.com/EunRanHae)

Title : 촌스럽게이래 (You don’t Know Love)

Genre : Romance, Friendship

Main Cast : Eun Ran Hae, Kim Kibum and Lee Donghae

Support Cast : Chaerin and Kangin

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

Seberkas cahaya pagi membiaskan bayangan dua orang di rerimbunan taman belakang SMA Kirin. Seorang namja bertubuh tegap dan yeoja berambut pirang sebahu berdiri dengan tubuh berhadapan. Angin semilir pun tampak memainkan rambut yeoja tersebut.

“Saranghaeyo noona.” Seru namja tersebut seraya tertunduk gemetar.

Yeoja dihadapannya hanya dapat menghela nafas perlahan, “Jeoseonghaeyo, Kibum-ah…” jawabnya ragu.

“Waeyo Chaerin noona?” katanya dengan tatapan sendu.

“Bukankah kau tau jika aku sudah memiliki Kangin oppa? Mengapa kau masih melukai dirimu dengan mencintaiku? Bagiku kau hanya hoobae, Kibum-ah.”

“Arra..”

“Lalu kenapa kau masih saja mencintaiku? Bukankah sudah aku katakan berulang kali jika kau hanya aku anggap sebagai dongsaeng? Aku tak ingin melukaimu Kibum-ah..”

“Aku begitu menyukaimu tanpa aku tau mengapa aku menyukaimu. Aku tak peduli kau sudah bersama Kangin Hyung, yang aku tau, aku hanya menyukaimu. Aku akan terus menunggumu noona. Aku akan selalu di sisimu walau aku hanya kau anggap bayangan. Aku ingin menjaga dan membuatmu bahagia. Aku…”

“Chaerin-ah….” Panggil seorang namja dari kejauhan seraya mendekap bola.

Mereka pun menoleh, “Kangin oppa…” kata Chaerin seraya melambai.

Namja bertubuh tegap dengan suara bariton itu pun mendekat dan merangkul Chaerin, “Ayo pulang.” Katanya menarik tubuh Chaerin. Chaerin pun memasrahkan segala gaya berat pada tubuhnya. Ia hanya tersenyum datar pada Kibum sebelum akhirnya pergi menjauh. Kibum hanya bisa memandangi sepasang punggung sunbaenya itu. Tatapan sendu dibalut cahaya orange yang menyinari tubuhnya menjadi momen pembuka pagi yang begitu pilu.

“Chaerin noona, suatu saat kau takkan aku panggil dengan sebutan noona lagi. Aku hanya akan memanggil Chaerin dan kaulah yang akan memanggilku oppa. Tunggulah saat itu.. noona..”

 

######################################################

 

Di Kelas… Suasana kelas yang riuh renyah gelak tawa tak membuat Kibum beranjak dari dimensi pikirannya. Memorinya terus mengulang rekaman kejadian pagi tadi. Ia sesekali memejamkan mata seraya menghela nafas panjang mengingat penolakan dari yeoja yang ia cintai. Kim sonsaengnim pun masuk..

“Ok anak-anak, hari ini kita menyambut seorang siswa transfer dari Jepang. Walau ia 10 tahun tinggal di Jepang, namun ia memiliki darah Korea dari abeonimnya. Jadi, kalian tak perlu khawatir berkomunikasi dengannya karena ia lancar 4 jenis bahasa. Ia menguasai bahasa Inggris, Korea, Jepang dan Prancis. Ditambah lagi, ia peraih medali emas olimpiade matematika saat ia masih di SMP. Jadi, bersikaplah baik padanya.”

“Annyeong haseyo. Eunranhae imnida. Panggil saja Ran. Mannaseo bangapseumnida.” Katanya membungkuk 90 derajat.

“Neomu yeppeo.. Benarkan, Kibum-aaahh..” bisik seorang namja berwajah tegas yang duduk tepat di belakang Kibum. Namun sepertinya panggilan itu tak terdengar karena Kibum masih belum kembali dari lamunannya. “Kibum-aahhhh..” panggilnya lebih keras lagi. Kibum masih tak bergeming. “Kibum-aahh!!” teriaknya kesal. Kibum pun tersentak.

“Lee Donghae! Mwohaneungeoya jigeum?” pekik Kim sonsaengnim.

“A… anieyo. Jeoseonghaeyo, Sonsaengnim.”

            Ran pun membungkuk seraya berjalan perlahan menuju bangku kosong di sebelah Kibum. Ran tersenyum pada Kibum namun Kibum hanya tersenyum datar dan memilih kembali pada lamunannya.

 

######################################################

 

 

            Jam istirahat…

“Hai gadis Jepang. Lee Donghae imnida.”

“Ne.”

“Ah.. Pasti karena kejadian tadi ya kau tau namaku?”

“Ne.”

“Ran-ssi, mari kita bicara informal saja. Kita teman sekelas bukan?”

“Ah, ne.” angguknya.

“Ran-ah, kau beruntung duduk di sebelah Kim Kibum.”

“Kim Kibum?” Tanya Ran heran.

“Mworago Donghae-ah?” kata Kibum seraya bangkit.

“Anie. Aku hanya ingin memberitahu Ran jika namja yang duduk di sampingnya adalah siswa dengan IQ tertinggi di Kirin.”

“Hentikan tindakan bodoh itu. Memberitahu gadis yang tak kita kenal itu membuang waktu. Lebih baik kau kerjakan tugasmu.” Kata Kibum seraya pergi ke luar kelas.

“Ah.. maafkan dia Ranhae-ah.. Sepertinya moodnya sedang buruk hari ini.”

“Ne. Arrayo.” Katanya tersenyum simpul.

 

######################################################

 

            Di kantin… Sepasang mata dengan tatapan pilu memandangi Chaerin dan Kangin. Yah, yang sedari tadi memperhatikan mereka adalah Kibum. Chaerin yang tampak sadar diperhatikan oleh Kibum menoleh sesekali. Kedua bola mata mereka beradu sekilas, Chaerin buru-buru mengalihkan padangannya pada Kangin. Tak beberapa lama, sepasang kekasih itu pun pergi. Kibum menarik nafas dalam seolah ribuan oksigen yang berhimpit di dadanya enggan mengantri masuk ke paru-parunya. Sesak. Kibum pun memejamkan matanya seraya menenggelamkan mukanya dibalik kedua telapak tangannya.

“YA!” tepuk seseorang ke pundak Kibum.

Kibum pun terlonjak dan menoleh cepat, “Mwoneun geoya?? Aish.. jinjja.. neo!”

“Wae? Mengapa kau begitu sensitif hari ini? Pasti semua karena Chaerin noona.. benar bukan?”

“Chaerin noona?” Tanya Ran yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Kibum.

Kibum kembali menoleh cepat, “Ran-ssi, mwohaeyo?”

“Ah.. tadi aku mengajaknya kemari.” Seru Donghae menarik kursi untuk Ran.

“Gomapseumnida.”

“Kibum-ah, kau sedari tadi belum bicara pada Ran. Nanti jika kita pulang, kita bisa mengajaknya pulang bersama karena apartemennya searah dengan rumah kita. Eotte?”

“Terserah kau saja.”

            Ran dan Donghae hanya saling menatap canggung melihat tingkah Kibum. Mereka bingung bagaimana lagi cara memulai pembicaraan karena Kibum kembali menghanyutkan dimensi pikirannya. Akhirnya Ran dan Donghae pun memilih terjebak dalam sunyi.

 

######################################################

 

            Sepulang sekolah…

            “Ayo pulang..” ajak Donghae pada Kibum dan Ran yang masih sibuk membereskan peralatan sekolah mereka.

“Kau duluan saja.” Kata Kibum segera bergegas pergi.

“Aish.. dia itu selalu seenaknya saja.” Kata Donghae kesal.

“Sudahlah. Mungkin dia ada urusan.”

“Ya sudahlah. Ayo kita pulang..” seru Donghae.

            Di gerbang SMA Kirin…

“Bukankah itu Donghae?” Tanya Ran.

Donghae mengalihkan pandangan sampai jarak 20 meter ke arah utara dan tertangkaplah sosok Kibum yang terlihat sedang bicara dengan Chaerin, “Aish.. Lagi-lagi anak itu. Dia pasti tadi buru-buru karena ingin mengejar Chaerin noona.”

“Memangnya kenapa? Bukankah yeoja itu yeojachingunya?”

“Mworago? Anie. Yeoja itu memang yeoja yang disukainya tetapi ia bukan yeojachingunya. Kibum bertepuk sebelah tangan tepatnya. Yeoja itu kakak kelas kita. Kibum sudah menyukainya sejak dulu. Tepatnya semenjak ia kelas 9. Yeoja itu dahulu kakak kelasnya saat bimbingan belajar. Chaerin noona memang sangat cerdas. IQ-nya dan Kibum tak berbeda jauh, Kibum 138 sedangkan Chaerin noona 135. Mereka berdua selalu mewakili SMA Kirin saat ada olimpiade Sains ataupun debat bahasa Inggris. Biar kuberitahu yaa.. Kibum itu besar di Amerika. Ia tinggal di sana sekitar 10 tahun dan baru kembali saat umurnya 14 tahun. Sebelum Chaerin noona berpacaran dengan Kangin Hyung, Kibum dan Chaerin noona sangat dekat. Mereka pun digosipkan punya hubungan lebih bukan hanya sekedar sunbae dan hoobae. Chaerin noona itu merupakan cinta pertama Kibum.”

“Lalu, bagaimana bisa Chaerin eonnie berpacaran dengan Kangin oppa dan bukannya Kibum? Apa Kangin lebih hebat dari Kibum?”

“Wah, sepertinya kau begitu penasaran?” ledek Donghae seraya berjalan meninggalkan Ran.

Ran pun mempoutkan mulutnya dan mengejar Donghae, “Mianhae.” Katanya seraya berjalan mengikuti irama langkah Donghae.

“Mianhae?”

“Ne. Aku terlalu ingin tahu padahal aku baru mengenal kalian. Maafkan ketidaksopananku.”

Donghae pun tersenyum dan mengacak rambut Ran ringan, “Aku hanya bercanda Ran. Saat kau bertanya dan penasaran soal Kibum aku jadi sedikit merasa…”

“Merasa apa?”

“Ah.. anie. Lupakan. Begini saja. Besok saat istirahat aku akan mengajakmu berkeliling dan mengenalkan betapa hebatnya SMA Kirin. Aku jamin SMA Kirin sehebat SMAmu di Jepang. Eotte?” tawar Donghae.

“Kedengarannya ide bagus.” Jawab Ran tersenyum simpul.

            Merekapun berjalan beriringan. Donghae sesekali memandang Ran seraya tersenyum sedangkan Ran masih memikirkan soal Kibum, Chaerin dan Kangin. Entah mengapa cerita cinta di sekolah yang baru saja ia datangi itu bagai magnet yang merekat dalam benaknya.

 

######################################################

 

            Waktu istirahat keesokkan paginya…

            Terlihat Ran dan Donghae berkeliling SMA Kirin. Mereka tertawa dan bercanda bersama. Sesekali Donghae menunjuk ke beberapa tempat. Ia melakukannya karena sudah berjanji memperkenalkan SMA Kirin pada Ran. Setelah lelah berjalan mengitari sekolah, mereka pun berjalan ke arah kantin. Seperti biasa terlihat Kibum yang sedang duduk sendirian. Mereka pun menghampiri Kibum.

“Annyeong..” sapa Ran pada Kibum.

“Ne. Annyeong..” sapa Kibum dengan lembut.

Ran membulatkan kedua matanya, ini pertama kalinya Kibum bersikap lembut padanya, “Kau sedang senang Kibum-ssi?”

“Kau boleh menggunakan bahasa informal padaku Ran.” Jawab Kibum.

Ran dan Donghae saling berpandangan, “Ya! Kibum-ah, moodmu sedang baik hari ini?” Tanya Donghae dengan wajah heran.

“Anie.” Jawabnya tersenyum.

“Kibum-ssi, ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Dulu aku kira kau benci padaku.” Kata Ran denga nada ragu.

“Mianhae, Ran. Kemarin moodku memang sedang buruk. Aku harap kau tak salah menilai kesan pertamamu padaku.” Jawabnya tersenyum kembali.

Deg.. deg.. deg.. degup jantung Ran kian tak karuan. Senyum Kibum yang menawan sudah menghentikan sejenak aktivitas oksigen dalam darahnya. Killer Smile! Ya, Kibum memiliki itu. Auranya sangat berbeda jika ia tersenyum, begitu pikir Ran.

“Ok. Aku tau ada sesuatu yang terjadi padamu. Sekarang ayo jelaskan.”

Kibum lagi-lagi tersenyum sembari memainkan sedotan yang ada pada gelas dihadapannya, “Tak perlu aku beritahu pun berita itu akan tersebar secepat kilat, Donghae-ah.”

“Berita? Berita apa?” Tanya Donghae kian penasaran.

Kibum kembali mengulas senyum, “Sabarlah.. sebentar lagi kau akan tau.”

“Teman-teman!” teriak seorang yeoja yang baru saja tiba dengan setengah berlari ke kantin. Semua orang memandangnya heran, begitu pula dengan Donghae dan Ran. Hanya Kibum yang terlihat tersenyum mengisyaratkan sesuatu akan kejadian itu. Ran dan Donghae saling berpandangan melihat senyum penuh makna yang Kibum munculkan.

Yeoja itu mulai bicara terengah-engah, “Berita besar! Chaerin eonnie dan Kangin oppa putus! Pasangan paling serasi SMA Kirin yang telah 3 tahun menjalin kasih, putus!”

“Mwo?” koor seluruh penghuni kantin. Mereka mulai riuh membicarakan berita besar itu. Chaerin dan Kangin memang pasangan yang paling terkenal di SMA Kirin. Chaerin adalah siswi paling cantik dan pandai di Kirin, sedangkan Kangin adalah pesebakbola yang kariernya sudah mendunia. Ia adalah Captain tim nasional U-19 Korea. Kangin pun berhasil membawa Korea menjadi juara dunia U-19.

Mata Ran dan Donghae membulat. Mereka seakan tak percaya apa yang mereka dengar. Hanya Kibum yang lagi-lagi menikmati berita tersebut.

“Bagaimana bisa?” tanya Ran heran.

“Berita bagus bukan?” kata Kibum tersenyum picik.

“Kibum-ah, apa yang kau lakukan pada mereka? Apa kau yang membuat mereka putus?”

“Mworago? Donghae-ah, sudah sewajarnya mereka putus. Chaerin noona sudah tak tahan dengan sifat si brengsek itu. Kau tau, selama 3 tahun Chaerin noona diperlakukan kasar olehnya. Aku sungguh membenci si Racoon itu.” Kata Kibum dengan tatapan tajam.

            Donghae dan Ran memilih diam. Mereka masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Entah apa yang terjadi. Apa ini awal dari hubungan baru antara Kibum dan Chaerin?

 

######################################################

 

            Sepulang sekolah…

“Noona!” panggil Kibum seraya berlari mengejar Chaerin.

Chaerin pun menoleh dan berhenti, “Kibum-ah..”

“Noona, ayo pulang bersamaku.”

“Ne?”

“Sudahlah noona, sekarang tak ada alasan bagimu untuk tak mau pulang denganku.

“Kau.. kau sudah tau kabar aku putus dengan Kangin?”

“Ne. Nan neomu haengbokhae.”

“Kibum-ah, ini tak seperti yang kau bayangkan.”

“Sudahlah noona, aku akan melindungimu mulai hari ini. Ayo pulang.” Gandeng Kibum pada Chaerin. Chaerin hanya bisa diam tak tau apa yang harus dia lakukan pada hoobaenya itu.

            Sesampainya di rumah Chaerin…

“Noona, aku masih menyukaimu. Aku harap, kau bisa memikirkan aku mulai hari ini.” Kibum mendekatkan mukanya pada Chaerin dan mencium bibir Chaerin lembut. Chaerin pun hanya dapat membulatkan matanya dan tak bisa berbuat banyak. Namun perlahan ia mulai menutup matanya dan menggerakkan tangannya memeluk Kibum.

 

######################################################

 

            Semenjak kejadian itu, Kibum dan Chaerin kembali dekat. Hari demi hari mereka terlihat selalu pulang bersama. Banyak orang yang mulai membicarakan hubungan mereka berdua. Donghae dan Ran hanya bisa diam memandang kedua orang tersebut setiap pulang sekolah. Sudah seminggu Kibum tak bicara pada mereka. Setiap ada waktu luang, Kibum menghabiskannya dengan Chaerin hingga tak ada waktu untuk mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Donghae-ah, hari ini aku ada urusan. Jadi aku tak bisa pulang bersamamu.”

“Ada apa? Bagaimana jika aku ikut?”

“Anie. Aku harus pergi ke rumah ahjummaku. Kau duluan saja.”

“Bukankah bahaya jika kau pergi sendiri?”

Ran pun tersenyum, “Tak perlu khawatir. Aku pergi dulu. Annyeong..” jawab Ran seraya melambaikan tangan.

“Ran, apa aku benar-benar tak boleh ikut?” teriak Donghae.

Ran menoleh dan tersenyum, “Anie. Cepatlah pulang!” katanya segera berlari menjauh.

            Donghae tersenyum dan melambaikan tangan pada punggung Ran yang kian menjauh. Ia hanya bisa tersenyum datar seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan pergi ke arah berlawanan dengan Ran.

 

######################################################

 

            Ran berjalan menyusuri deretan pertokoan sambil menyandang ransel dan menggenggam bungkusan hitam yang ia terima setelah berkunjung ke rumah bibinya. Saat melewati jalan sepi, langkah kakinya perlahan mulai melambat. Ia memfokuskan pandangannya pada satu sudut sempit di jalan itu. Ia seperti melihat seseorang terduduk di sudut sempit, namun ia tak bisa melihat dengan jelas karena terhalang sebuah kotak pos berwarna merah. Ia pun menelan ludah dan menguatkan langkahnya mendekati sudut tersebut. Begitu posisinya tepat dan jelas melihat sudut sempit tersebut, ia membulatkan mata, nafasnya memburu dan tanpa sadar ia menjatuhkan bungkusan hitam serta ranselnya.

“Ki.. kibum-ah!” teriaknya segera berlari. Ia menghampiri sosok yang dikenalnya dengan baik tersebut. Kibum bersandar penuh darah. Pipi kanannya membengkak dan biru, baju seragamnya sudah robek di sana sini dan matanya pun tertutup. Ran segera memeriksa denyut nadinya. Lemah. Ia pun memeriksa nafas Kibum. Kibum hanya bernafas sesekali, itu pun tersengal. Ran segera menggopohnya dan membawa Kibum pergi.

 

######################################################

 

Kibum’s POV

            Aku mulai membuka mata, seberkas cahaya seolah tak mengijinkan mataku terbuka bebas. Samar. Kepalaku berputar hebat. Ah.. appeuu.. kucoba terus melawan sinar yang menghalangi jarak pandangku. Hingga bayangan benda dihadapanku bisa jatuh tepat di retina dan terbaca oleh otak. Mataku mulai berpendar, kulihat sesosok yeoja terbaring menelungkupkan mukanya di samping tempat tidur. Dimana ini? Sepertinya ini sebuah kamar, namun kamar siapa ini? Yeoja di sampingku mulai mengangkat mukanya, sepertinya ia yang membawaku. Kucoba mengingat apa yang terjadi. Ah.. aku ingat! Aku dipukuli Kangin hyung dan teman-temannya.

“Ran?” tanyaku seraya bangkit dan ia langsung membantuku duduk.

“Tidurlah Kibum-ah, kau terluka parah.”

“Aku harus pulang. Maaf merepotkanmu.”

“Kibum-ah..!”

Bruuukk.. Aku pun tersungkur. Ran membantuku dan kembali mendudukanku di kasur, “Sudah kubilang untuk tak bergerak bukan? Lukamu sangat parah Kibum-ah.”

“Ah.. si Racoon itu keterlaluan! Jika saja dia dan teman-temannya tak memukuliku dan kami satu lawan satu, aku yakin, aku bisa menang!” dengusnya kesal.

“Racoon? Maksudmu Kangin oppa? Kau dipukuli Kangin oppa? Kenapa?”

“Bukan urusanmu!”

“Baiklah jika kau tak mau bicara, duduklah di sini, akan aku buatkan hobakjuk untukmu.”

            Ran pun meninggalkan aku sendirian. Aku heran padanya, aku selalu bersikap kasar namun ia terus menerus menolongku.

“Kau sedang mencari apa?” Tanya Ran yang sudah berada di belakangku.

“Ponsel.. Kau liat ponselku?” kataku membalikan badan.

“Anie.”

“Ah, pasti tertinggal di tempat tadi. Aku harus pergi.”

“Kibum-ah, duduklah. Kau belum sembuh.”

“Bukankah sudah kukatakan bukan urusanmu!”

“Jika kau mau memakai ponsel, gunakanlah ponselku.”

“Baiklah.”

#Kibum’s pov end

Ran pun menaruh hobakjuk dan memberikan ponselnya pada Kibum. Kibum menekan beberapa angka hingga terdengar bunyi suara di seberang sana.

“Noona, kau dimana?”

“Nuguseyo?”

“Ini aku Kibum. Ponselku terjatuh di suatu tempat. Aku akan menjemputmu sekarang. Tunggulah aku.”

            Kibum pun menyerahkan ponselnya pada Ran…

 “Kibum-ah, kau mau kemana? Kau belum benar-benar pulih.”

“Sudah kukatakan ini bukan urusanmu.”

“Kalau begitu, makanlah ini dulu.” Kata Ran sembari menyodorkan hobakjuk.

“Anie.” Kibum pun segera bersiap pergi namun Ran menghalanginya.

“Aku akan mengijinkanmu pergi jika kau menghabiskan ini.” Katanya kembali menyodorkan kembali hobakjuk.

Kibum pun terlihat mulai kesal, “Ran, menyingkirlah.”

Ran pun bersikeras berdiri dengan menyodorkan hobakjuk, “Anie.”

Kibum semakin terlihat menahan amarah, “Menyingkirlah!”

            Kibum berusaha pergi namun Ran tetap bersikeras berdiri dihadapannya. Kibum pun kehilangan kendali dan berusaha menerobos. Praaannggg..

“Ran…” seru Kibum terkejut.

            Ran jatuh terduduk di antara pecahan mangkok hobakjuk. Tangan kanannya berlumuran darah. Kibum pun membulatkan mata dan menyergah tangan kanan Ran namun Ran menepisnya.

“KA!” pekiknya.

“Ran, mianhae.”

“Neol.. KA!!!” teriaknya sembari terlihat menangis.

Kibum pun terlihat pucat, ia tak tau apa yang sudah dilakukannya, “Ran..”

“KAA!!!” pekik Ran mencoba bangkit walau sulit.

“Ran.. aku..”

“KAA!! Kim Kibum, sekali lagi aku katakan padamu, KA!!!” pekik Ran membukakan pintu.

            Kibum pun hanya menundukdan bergegas pergi. Ran menutup keras dan mengunci pintu kamarnya. Ia bersandar pada pintu tersebut dan menangis sejadi-jadinya. Kibum yang sudah ada di depan rumahnya hanya memandang jendela kamar Ran, ‘Ran mianhae.’ Katanya khawatir dan mulai melangkah pergi.

 

######################################################

 

            Keesokan paginya.

“Pagi, Kibum-ah” sapa Donghae yang baru saja datang.

“Ne.” jawabnya datar.

“Ya! Mengapa mukamu itu? Kau habis berkelahi? Siapa yang berani memukulimu? Beritahu aku, biar aku hajar orang itu!” kata Donghae seraya memgang muka Kibum.

Kibum pun menepis tangan Donghae, “Gwaenchana.” Jawabnya tak antusias.

“Kau ini, selalu begitu. Mengapa kau selalu diam saja? Mengapa kau tak mau menceritakan masalahmu padaku?”

“Aku baik-baik saja. Sudahlah. Ini hanya pertengkaran antar laki-laki.” Jelasnya.

Donghae hanya menggeleng dan mengalihkan pandangannya pada Ran, “Ran-ah, ada apa dengan tanganmu?” tanyanya seraya menggenggam tangan Ran yang dibalut perban.

“Anie.” Jawab Ran datar.

“Jeongmalyo?”

“Ne. Aku hanya terluka karena saat memasak tak hati-hati.” Jelas Ran.

            Donghae hanya mengangguk sedangkan Kibum kembali menerbangkan dimensi pikirannya pada kejadian yang membuat tangan Ran terluka.

 

######################################################

           

Sepulang sekolah…

“Ran, hari ini aku tak bisa pulang bersamamu karena ada urusan.”

“Ah, gwaenchana.”

            Donghae pun segera bergegas pergi meninggalkan Ran yang masih sibuk membereskan peralatan sekolahnya. Setelah selesai, ia pun menutup pintu ruang kelas. Di langkahkan kakinya menusuri setiap sudut kota. Ia mengambil rute yang tak biasa, rupanya ia berniat ke Lotte World untuk menghibur diri dari penatnya aktivitas. Baru beberapa langkah memasuki Lotte World, matanya mengerjap. Retinanya menangkap pantulan namja yang dikenalnya. Kibum, gumamnya. Namun ia heran karena Kibum terlihat lesu. Ran pun menghela nafas dan mendekatinya ragu. Saat berada di hadapannya, Kibum menengadahkan wajahnya.

“Ran? Sedang apa kau di sini?”

“Kau sedang apa di sini?”

“Anie.” Jawab Kibum sambil menggenggam erat tangan kanannya.

Ran bisa melihat sekilas benda berkilau yang digenggamnya, “Itu untuk Chaerin eonnie?”

Kibum pun membulatkan mata, “Ne.” jawabnya datar.

“Kau akan memberikannya besok?”

Kibum terlihat tersenyum pilu, “Anie.”

“Lalu?” Tanya Ran sembari duduk di samping Kibum.

Kibum pun menarik berat, “Aku tak akan bisa memberikannya.”

“Mwo?”

“Ne. Chaerin noona baru saja mengembalikannya.”

“Jin.. Jinjja? W.. wae?”

“Ia memilih kembali pada Kangin.”

Ran hanya terdiam, ia menggigit bibirnya dan menghela nafas panjang, “Kibum-ah, mianhae.”

Kibum tersenyum datar, “Gwaenchana. Aku memang sudah tau akan begini jadinya.”

Ran pun menepuk pundak Kibum dan segera berdiri menarik tangan Kibum. Kibum menatap heran, seakan bertanya apa yang akan Ran lakukan. Namun Ran hanya tersenyum dan menariknya. Rupanya Ran mengajaknya untuk menaiki beberapa wahana. Awalnya Kibum menolak karena suasana hatinya sedang buruk, namun Ran terus menariknya dan ia hanya bisa memasrahkan gaya beratnya. Kibum yang awalnya terlihat jenuh, mulai bisa tersenyum bahkan tertawa. Tak terasa matahari telah kembali keperaduannya. Ran dan Kibum pun berjalan pulang. Canggung menyergap mereka. Sesampainya di depan rumah Ran, mereka masih disergap canggung.

“Ran..” kata Kibum menarik tangan Ran.

Ran pun menoleh, “Ye?”

“Gomawo. Kau membuatku merasa lebih baik.”

“Gwaenchana.” Jawabnya tersenyum.

Jantung Kibum mendadak tak karuan melihat senyum Ran, “Ran..” katanya dengan nafas tak beraturan.

“Mianhae. Kau begitu baik padaku namun aku… aku…”

            Ran mencium bibir Kibum sekilas dan segera masuk ke rumah sebelum Kibum menyelesaikan kata-katanya. Muka Kibum memerah. Ia menggigit bibirnya dan tersenyum sipu. Ia memandang jendela kamar Ran dan tak lama beranjak pergi dengan perasaan bahagia.

“Babo.” Seru seorang namja yang sedari tadi memerhatikan Ran dan Kibum dekat lampu jalan. Ia memandangi sebuket bunga yang sedari tadi dipeluknya, “Neol jinjja baboya Lee Donghae.” Katanya seraya menyingkap air matanya dan membuang bunga tersebut.

 

######################################################

           

Keesokkan paginya..

“Pagi…” seru Kibum dan Ran yang baru datang pada Donghae.

Donghae hanya memandangi mereka penuh kebencian dan segera pergi dari kelas. Ran dan Kibum terlihat bingung dengan tingkah Donghae pagi itu. Tak biasanya ia seperti itu. Jam pelajaran berbunyi namun Donghae belum juga kembali. Ran sesekali menoleh ke belakang memandangi bangku Donghae yang kosong. Kibum melirik Ran dan mengerti apa yang sedang Ran pikirkan. Jam istirahat pun tiba. Ran segera bangkit tergesa. Kibum hanya memandangi kepergian Ran heran.

            Ran menyusuri anak tangga dan di bukanya sebuah pintu di atap gedung sekolahnya. Benar dugaannya, Donghae sedang duduk seraya minum sekaleng orange jus. Ran mendekatinya dan mengambil kaleng jus tersebut.

 “Kenapa kau tak masuk kelas?”

“Bukan urusanmu.”

“Apa kau sedang ada masalah?”

“Anie.” Jawab Donghae datar seraya bangkit.

“Kau mau pergi kemana?” sergah Ran.

“Minggir.”

“Mengapa kau seperti ini?”

“Apa urusanmu? Mengapa kau tampak khawatir?”

“Aku.. aku.. bukankah kita teman sekelas?”

“Teman sekelas? Cih… Hahahaaa.. Teman sekelas?” Donghae tampak kecewa dengan jawaban yang Ran lontarkan.

“Ayo masuk.” Kata Ran menarik tangan Donghae.

Donghae menepis tangan Ran, “Sudah kubilang bukan urusanmu!”

Ran pun terjatuh, “Auuww..”

“Ran..” seru Donghae seraya membantunya berdiri, “Gwaenchana, per.. perbanmu terbuka!”

“Lepaskan.” Seru Ran menatap Donghae tajam.

“Ran, mianhae… Aku..”

“Shireo”

“Ran, aku akan melakukan apapun agar kau memaafkan aku.”

Ran pun tersenyum jahil dan segera bangkit, “Ayo masuk.” Katanya menggandeng Donghae.

“Mwo? Jadi kau.. kau hanya berpura-pura? Aish..”

            Ran tersenyum jahil dan terus menarik Donghae sedangkan Donghae hanya tersenyum melihat Ran menggandeng tangannya. Mukanya tersipu namun ia coba menutupi dengan memasang sikap kesal di depan Ran.

            Sepulang sekolah…

“Ayo pulang…” seru Ran bersemangat.

Kibum dan Donghae saling pandang dan hanya tersenyum. Ran segera menggandeng kedua tangan namja tersebut dan bergegas keluar kelas.

“Hey, apa kalian pernah berpikir menyukai yeoja sepertiku?” Tanya Ran tiba-tiba.

“MWO?” pekik Kibum dan Donghae seraya membulatkan mata dan melepaskan gandengan tangan Ran.

Ran terlihat bingung melihat kedua namja tersebut, ia pun tertawa, “Wah, kalian kompak sekali? Apa benar kalian tidak menyukai yeoja manis sepertiku?” goda Ran.

“Shireo.” Seru Kibum.

“Nado. Menyukai yeoja jahil sepertimu? Sungguh menyebalkan.” Jawab Donghae.

“Ne. Memikirkannya saja sudah tak ingin.” Jawab Kibum.

“Aish.. kalian sungguh menyebalkan!” pekik Ran dan segera melangkah pergi.

            Kibum dan Donghae sekilas berpandangan dan menahan senyum mereka sambil memandang punggung Ran yang semakin menjauh.

“Kibum-ah.. Apa pikiranmu sama denganku?” Tanya Donghae.

“Sepertinya begitu. Sudah berapa lama kita bersahabat?”

“Sepertinya 7 tahun.. Dan aku rasa ini pertama kalinya ‘kan?”

“Yah, aku rasa begitu. Ini pertama kalinya kita menyukai gadis yang sama, Donghae-ah.”

“Ya!” seru seorang yeoja menepuk punggung mereka.

            Kibum dan Donghae menoleh dan terkejut.

“Aku sudah merekam kata-kata kalian tadi.” Seru Ran.

“MWO?” seru Donghae dan Kibum.

“Kalian menyukai gadis yang sama? Nugu? Nugu?” Tanya Ran penasaran.

Kibum dan Donghae saling berpandangan dan mengangguk, “Molla.” Jawab mereka bersamaan seraya mengacak rambut Ran.

“Neol!” teriak Ran kesal. Kibum dan Donghae pun segera berlari. Ran pun segera mengejar mereka sampai halaman sekolah. Langkah Kibum tiba-tiba terhenti.

“Wae? Nanti kita kena amukan Ran jika tak cepat lari.”

Kibum hanya memandang ke arah lapangan sepak bola. Donghae pun tau apa yang sedang dipandangi temannya. Ran yang mengejarnya pun berhenti tepat di depan Kibum. Terlihat Chaerin dan Kangin tersenyum pada Kibum dari kejauhan.

“Kibum-ah…” kata Kibum dan Ran bersamaan.

Kibum mengalihkan pandangannya pada Donghae dan Ran, “Gwaenchana. Melihat Chaerin noona bahagia, aku juga bahagia. Cinta tak dapat dipaksa bukan? Lagipula ada seorang yeoja bodoh yang sudah menarik hatiku dari Chaerin noona sekarang ini.” Jelas Kibum seraya memandang Donghae.

Donghae pun memukul dada Kibum lembut. Kibum dan Donghae pun tertawa sedangkan Ran bingung siapa yeoja yang mereka dibicarakannya. Yah, sepertinya Kibum dan Donghae memilih menyimpan rahasia itu hanya untuk mereka dan memilih menjadikan Ran sahabat mereka. Yups.. You don’t know love, You don’t have to encourage it, or welcome it, but you better learn to suck it up from time to time.. if you only know yourself and you still don’t know love..

~THE END~

2 thoughts on “촌스럽게 왜 이래 (You don’t Know Love) | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s