그리워서 (I Miss You) | FF Peserta Lomba

 

IMissYou

 

 

 

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author (FB & Twitter): Dinda Fitria (@imDJF) (https://www.facebook.com/HyerinKimJongin?ref=tn_tnmn)

Title : 그리워서 (I Miss You)

Genre : Sad Romance

Main Cast :

  • Kim Hye Jin [OC]
  • Park Chan Yeol [EXO]

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

-=-=-=-=-=-=-=-= Happy Reading =-=-=-=-=-=–=-=-

Terlihat seorang yeoja tengah menatap ponselnya di atap gedung fakultasnya dan sesekali tersenyum miris. Dilihatnya kembali layar ponsel touch screen-nya, lalu tepampanglah foto seseorang yang sangat ia rindukan. Sosok hangat dan periang yang begitu dirindukan.

 

Saat dimana yeoja itu dan sosok periangnya selalu menghabiskan waktu di tempat itu saat kelas sudah berakhir. Ia sangat merindukan saat-saat itu.

Yeoja itu menitikan air matanya, kemudian berbalik dan meninggalkan tempat itu. Ia merasa diam ditempat itu malah lebih membuatnya terluka. Karena kenangan yang ia lakukan selama ini bersama sosok periang-nya.

.

.

.

.

.

Ia lalu berjalan menuju halte, tapi tiba-tiba hujan mengguyur kota Seoul dan membuatnya harus berlari cepat agar segera sampai di halte bus.

Hyejin –nama yeoja itu-  terdiam melihat orang-orang yang saling berdesakan di halte bus yang kecil itu. Kenangan itu teringat kembali di pikiran Hyejin. Saat dimana Chanyeol –Namja periang itu- memeluk Hyejin karena Halte yang mereka pakai untuk berteduh sudah penuh dengan orang-orang yang ingin berteduh juga.

Hyejin lalu ikut masuk ketengah kerumunan orang-orang itu, tapi tak lama kemudian bus yang akan ia tumpangi telah datang. Hyejin segera masuk kedalam bus itu dan duduk di kursi kedua dari belakang dekat jendela.

Ia lalu memasangkan earphone-nya dan memandang keluar jendela yang terkena butiran air hujan.

Hyejin memandang sendu kea rah kursi belakang. Ia ingat saat Chanyeol tertidur dibahunya dan mengigaukan dirinya. “Saranghae.. hehehe. Poppo Hyejin-ah.”  “Dasar otak mesum.” Decak Hyejin geli.

.

.

.

Hyejin memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Membuat kedua orang tuanya terkejut. Ibu Hyejin lalu menyusul anak semata wayangnya itu, dan mendapati Hyejin tengah menelungkupkan wajahnya dibalik bantal.

“Jangan seperti ini nak, Chanyeol tidak akan senang melihatmu jika ia kembali nanti.” Ucap ibu Hyejin sambil mengelus surai panjang milik Hyejin, sayang. Ia tahu semenjak Chanyeol pergi meninggalkan putrinya tanpa sebab, Hyerin selalu menangis karenanya.

Hyejin terus menangis sampai ia tertidur karena lelah sehabis menangis.

.

.

.

-=-= Hyejin POV  =-=-

 

Perlahan kubuka mataku, mengerjapkannya agar bisa beradaptasi dengan silaunya cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Rasanya kepalaku berat sekali, ahhh mungkin efek menangis tadi.

Menangis? Rasanya aneh, mengingat setiap hari aku seperti ini. Menangisi orang yang aku cintai tapi ia tak pernah menyadarinya. Ya aku menangis hanya karena aku merindukannya.

‘Apa kau baik-baik saja? Apa kau masih mengingatku?’ kata-kata itu yang selalu terngiang dikepalaku saat aku mengingatnya setiap hari. Ingin sekali aku mengatakan hal itu pada Chanyeol, tapi mungkin itu hanya anganku saja. bahkan aku tak tahu dimana Chanyeol berada, tapi yang pasti dia tidak ada di Korea.

‘Apa kau akan kembali?’ pertanyaan itu yang selalu ingin aku lontarkan. Tapi pada siapa? Chanyeol tidak mungkin mendengarnya. Tidak ada lagi komunikasi diantara kami setelah kelulusannya dua tahun lalu di Kyunghee. Kurasa sekarang ia sedang meneruskan kuliah S2-nya di luar negeri, atau mungkin sudah lulus? mengingat dia cukup cerdas dan bisa mendahuluiku lulus bersama para sunbaenim kami.

Aku tersenyum miris mengingat aku sedang membicarakan Chanyeol. Apa dia juga sepertiku? Selalu mengingatku setiap detik? Jawabannya pati tidak! Ya karena dia orang sibuk, dan mana mungkin dia sempat mengingat masa lalunya.

Sungguh, aku sangat membencimu Park Chanyeol. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang terus menangis dan tertawa hanya karena mengingat dirimu.

Aku merindukanmu … aku merindukanmu …

 

 

Bagaimana kerasnya aku berusaha untuk melupakanmu, aku tetap tidak bisa.

Terlalu banyak kenangan indah yang kita alami selama ini.

Seberapa keras aku berusaha agar kau kembali, kau tetap tidak akan kembali kesini. Tapi teteap saja, aku menunggumu disini. Berharap suatu saat kau datang dan menemuiku disini. Ditempat pertama kali kita bertemu dan mengungkapkan perasaan kita satu sama lain.

Bahu-ku gemetar, rasanya sakit sekali mengingat masa-masa indah kita selama ini. Bercanda, bermain, dan saling menggoda. Duduk dibawah pohon maple yang rindang dengan kau yang terlelap dipangkuanku. Rasanya sangat indah kurasa.

Tak terasa air mata kini terjatuh dari pelupuk mataku, setelah beberapa saat berdesakan dipelupuk mataku. Entah apa yang harus katakana selain ‘Aku merindukanmu.” Rasa rindu ini sangat besar, bahkan tidak ada kata apapun lagi yang bisa mewakili rasa rinduku saat ini.

Kehilanganmu….

Aku seperti kehilangan kaki untuk berjalan, seperti kehilangan mata untuk melihat.

Bagaimana cara aku melupakanmu…

Entah mengapa sampai saat ini kau tak pernah mengatakan apa salahku..

Entahlah, mungkin memang semua ini harus berakhir sampai disini..

Mengapa aku berfikir jalan ini terlalu pahit dan rumit untuk kulalui? Mengapa kadang aku berfikir tak ada lagi hari yang harus kulalui?

Apakah harus ku akhiri hidup sampai disini? Mugkin lebih baik aku mati.

Aku kecewa..

Aku putus asa..

Karena aku tidak bisa menjadi seperti dulu. Menjadi diriku sendiri dan keluar dari keterpurukan ini.

.

.

.

.

-=-= Author POV =-=-

Hyejin berjalan menelusuri jalanan di sungai Han. Tempat kencannya yang ke 3 bersama Chanyeol. Walaupun hanya sekedar jalan-jalan, tapi saat itu Hyejin merasa sangat bahagia. Seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.

 

Hyejin berjalan melewati kedai eskrim, ingatannya kembali berputar saat sepasang kekasih keluar dari kedai eskrim itu dengan membawa eskrim yang selalu Hyejin dan Chanyeol beli.

Hyejin lalu memasuki kedai eskrim itu, seperti biasanya ia memesan eskrim coklat kesukaannya.

.

.

.

Duduk di kursi taman sambil memandang hamparan air sungai Han adalah kebiasaannya dan Chanyeol saat memakan eskrim bersama. Ia menghela nafasnya kasar, melirik kesebelah kiri dan mendapati seseorang yang ia kenali. Seseorang yang selama ini di rindukannya, itu Park Chanyeol.

Hyejin berdiri, hendak berlari menghampiri Chanyeol. Tapi kakinya seolah membeku, saat melihat seorang yeoja tengah menarik Chanyeol untuk berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan bergandengan tangan. Dan Chanyeol mengecup surai yeoja itu, seperti yang ia lakukan dulu pada Hyejin

“Cocok.” Pikir Hyerin saat ia sekilas melihat wajah yeoja itu. Mereka cocok, Chanyeol tampan, dan yeoja itu cantik. Tanpa sadar ia terjatuh bersamaan dengan jatuhnya air matanya.

Jadi selama ini tangisannya sia-sia? Karena Chanyeol dengan mudah mempunyai pengganti dirinya, dan pasti tidak pernah mengingat dirinya barang sedetikpun.

Ia menangis dengan pilunya sambil menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya. Betapa bodohnya dia selama ini, terpuruk hanya karena seorang Park Chanyeol, dan sekarang buktinya? Chanyeol bahkan tak pernah mencoba mencari Hyejin dan malah memilih mencari penggantinya.

.

.

Tak terasa hari sudah mulai malam, dan Hyerin masih setia duduk dipinggiran sungai Han.

Memandang kosong kearah hamparan air yang menjingga karena terkena pantulan sinar matahari yang terbenam. Ia merasa enggan untuk pulang, karena ia pasti akan ditegur lagi oleh ibunya karena terus menangisi Chanyeol.

Beberapa kali ponsel Hyejin terus berdering, dan siapalagi sang pemanggil jika bukan ibunya? Ia menghela nafasnya kasaar, merasa risih dengan suara ponselnya yang terus berdering. Hyejin lalu merogoh tas selempangnya lalu mengambil benda persegi panjang itu.

Alangkah terkejutnya Hyejin, saat matanya membaca nama sang pemanggil dilayar ponselnya. Dengan perlahan Hyejin menggeser icon berwarna hijau lalu menempelkannya di telinga kanannya.

“Yeoboseyo..” suara itu. Suara berat itu yang selalu dirindukan oleh Hyejin, akhirnya dia bisa mendengarnya lagi.

“……”  Tidak ada jawaban dari Hyejin. ia mulai merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Sangat ia masih terkejut dan tidak bisa menstabilkan debaran jantungnya.

“Hyejin-ah, apa kau masih disana?” Tanya-nya lagi dan sukses membuat Hyejin tersadar dari lamunannya.

“Eoh, ne Chanyeol-ah.” Lirih Hyejin, setelah ia bisa menstabilkan debaran jantungnya.

Lama dalam keadaan hening akhirnya Hyejin mengeluarkan suaranya.

“Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, akan ku tutup telfonnya.” Ketika Hyejin akan mematikan telfonnya, tiba-tiba Chanyeol berteriak “Chamkanman.”

 

“Bogosipeo Hyejin-ah.” Lirih Chanyeol disebrang sana, tapi masih bisa Hyejin dengar.

DEG

 

Itu adalah kata-kata yang selalu ingin Hyejin dengar. Ia tersenyum, tapi seketika senyuman itu hilang saat ia mengingat bahwa Chanyeol sudah mempunyai penggantinya. “Mianhae Yeol-ah.”

“Aku tahu kau pasti marah padaku Hyerin-ah. Karena aku meninggalkanmu tanpa sepatah katapun. Maafkan aku.”

“Jika hanya itu yang ingin kau katakan aku akan tutup telfonnya. Kau menggangguku.”

Tuuuutt…. Tuuuuttt….

 

 

Hyejin segera menutup telfonnya dan me-non aktifkan ponselnya. Hatinya hancur, ia merasa dipermainkan oleh Chanyeol. Baru beberapa jam yang lalu ia melihat Chanyeol bermesraan dengan yeoja lain, dan tadi dia mengatakan bahwa ia merindukan Hyejin. Benar-benar Chanyeol itu.

.

.

.

.

.

“Aku pulang.” Ucap Hyejin, dan dia langsung naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. “Kau sudah makan malam?” Tanya ibu Hyejin dan hanya mendapat sikap acuh dari putri sematawayangnya.

Sementara sang ayah hanya memutar bola matanya. Ia sudah cukup kesal dengan sikap putrinya yang selalu acuh selama 2 tahun ini. Dan penyebabnya adalah Park Chanyeol.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

 

 

Hyejin meng-aktifkan lagi ponselnya dan menggeletakannya diatas ranjang miliknya. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

“ARRRRGGGHHHH PARK CHANYEOL KAU GILAAAA… hikkss hikksss.. ARRGGHH..” teriak Hyejin di dalam kamar mandi, diiringi tangis pilunya. Ibunya yang mendengar itu merasa sangat sedih, ia tidak bisa diam saja melihat anaknya seperti mayat hidup yang hanya terus melamun dan menangis tanpa makan dan minum.

.

.

Hyejin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang segar, kaos lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana tidur dengan surai panjangnya yang tergulung keatas dengan handuk menambah kesan imut pada wajahnya.

Ia lalu meraih ponselnya dan betapa terkejutnya dia, 20 missedcall dan beberapa belas pesan singkat yang dikirimkan oleh satu orang, yaitu Park Chanyeol. Dan ternyata isinya adalah.

“Hyejin-ah kenapa kau tidak mengangkat telfonku?”

 

“Hyejin-ah tolong angkat sebentar saja, ada yang ingin aku bicarakan.”

 

“Ya Kim Hyejin apa kau sudah tidur?.”

“kau pasti sudah tertidur. Baiklah, aku tunggu kau ditempat kita kencan pertama kali jam 10. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

 

 

.

.

.

Esoknya, Hyerin enggan untuk pergi ke tempat Chanyeol berada. Meski hatinya mengatakan jika ia benar-benar ingin pergi, tapi egonya terlalu besar hanya untuk sekedar pergi ke Sungai Han. Tempatnya dan Chanyeol kencan untuk pertama kalinya.

Saat Hyejin akan berbaring di ranjangnya, ibu Hyerin masuk dan memaksa putrinya itu untuk segera pergi ke sungai Han.

“Kau harus cepat pergi ke caffe 345, nak.” Titah ibu Hyejin. “Shireo.” Kata Hyejin acuh.

“Jika kau tidak akan kesana, kau pasti akan menyesal nak. Ayo cepat pergi.” Ucap ibu Hyejin sambil menarik-narik tangan putrinya itu.

Hyejin akhirnya menurut dan bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak dipakai untuk keluar rumah. Dan ibunya hanya tersenyum manis saat putrinya berpamitan pergi.

“Yeobo, aku senang.” Ucap ibu Hyejin pada suaminya.

.

.

.

.

Hyejin hanya mengendus kesal saat ia dengan malas berjalan menuju halte bus. Ia meruntuki ibunya sendiri, kenapa dia memaksa Hyejin pergi menemui Chanyeol? Padahal ibunya tahu jika Hyejin bertemu dengan Chanyeol dia pasti akan menangis. Dan bukankah ibu Hyejin benci melihat putrinya menangis, apalagi jika Hyejin menangis karena Chanyeol.

-=-=-=-=-

 

“Apa aku harus mendatanginya?” Tanya Hyejin pada dirinya sendiri, saat ia sudah ada di taman yang dekat dengan sungai Han. Setelah mantap dengan pilihannya, Hyejin akhirnya mendekati seseorang yang berada dibawah pohon maple.

“huhhhh.” Hyejin menghela nafasnya kasar saat ia melihat punggung tegap Chanyeol dari belakang. Ia begitu mengenali Chanyeol dengan hanya melihat punggungnya.

Perlahan ia mendekat kearah Chanyeol, lalu berdiri disampingnya.

“Kau datang?” ucap Chanyeol sambil tersenyum bahagia. Sementara Hyejin hanya berdehem dan mengangguk, tanpa menoleh sedikitpun pada Chanyeol, ia tidak mau melihat wajah Chanyeol yang hanya bisa membuatnya sedih.

“Duduklah Hyejin-ah.” Ucap Chanyeol.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Cepat katakan. Kau membuang waktu istirahatku.” Ucap Hyejin ketus, Chanyeol yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengelus surai Hyejin. Dan itu sukses membuat Hyejin terasa jantungnya bedetak dengan sangat cepat.

“Mianhae Hyejin-ah.” Tangan kanan Chanyeol yang sedari tadi mengelus surai Hyejin kini turun menuju pipi kiri Hyejin dan mengelusnya. Hyejin sangat membenci kata maaf, apalagi jika Chanyeol yang mengatakannya. Menurutnya orang-orang dan Chanyeol tidak pernah melakukan kesalahan padanya. Hanya keadaan yang membuat mereka sedikit berbeda dengan biasanya.

Perlahan Hyejin meneteskan air mata yang sedari tadi ingin dia keluarkan. Dengan cepat Chanyeol mengusapnya dengan kedua ibu jarinya. “Maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun, dan membuatmu merasa sakit.” Chanyeol mengelus pipi Hyejin, sayang. Ia tahu selama dia pergi Hyejin seperti tidak mempunyai semangat hidup. Menjalani aktifitas seperti robot, tanpa tersenyum dan keceriaan yang biasanya ia perlihatkan.

“Kenapa…”

“Kenapa kau kembali? Kenapa kau mempermainkan perasaanku?”

“kenapa kau meninggalkanku saat kita akan merayakan anniversary kita, yang telah aku persiapkan susah payah? Kenapa kau meninggalkanku selama ini? Kau fikir aku tahan dengan hubungan ini?” ucap Hyejin sambil meneteskan air matanya. Kali ini ia benar-benar ingin mengutarakan semua idi hatinya yang selama ini ia pendam sendiri.

“Kenapa kau tega sekali Park Chanyeol. Kau tidak tahu betapa hancurnya hati ini saat orang yang benar-benar aku cintai pergi dan tak kembali lagi. dan setelah bertahun tahun akhirnya dia kembali dengan membawa seorang gadis.”

Chanyeol terdiam, ia membiakan Hyejin mengeluarkan isi hatinya. Tapi kalimat terakhir Hyejin membuatnya semakin sakit. Gadis? Siapa?

“Gadis itu. Kau pasti mengetahuinya Hyejin-ah.”

DEG

 

‘Jadi benar dia kekasih baru Chanyeol’ batin Hyejin.

“Bahkan kau tidak mengatakan kata bahwa hubungan kita sudah berakhir. Dan itu membuatku semakin bingun. Sebenarnya aku ini siapa bagimu.”

“Kau tahu? Selama ini aku tersiksa karena memikirkanmu. Tersiksa karena aku merindukanmu. Bahkan aku seperti orang bodoh karena selalu menangis dan tertawa hanya karena memikirkanmu Park Chanyeol.”

Chanyeol terdiam. Benarkah dia sejahat itu? Benarkah ia tega membuat orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu tersiksa hanya karena dirinya? Ya Tuhan betapa menyesalnya Chanyeol saat ini.

Hyejin menundukkan kepalanya. Chanyeol merengkuh tubuh mungil Hyejin. Tapi dengan cepat Hyejin menepis tangan Chanyeol kasar.

“Aku pergi.” Hyejin lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang mematung sendirian.

.

.

.

BRAAAKKK

 

Hyejin menutup pintunya kamarnya kasar. ‘lagi-lagi begini’ fikir ibu Hyejin. Padahal ia baru saja bahagia saat Chanyeol mengajak putrinya bertemu, tapi kenapa akhirnya malah seperti ini?

Hyejin menangis-lagi- di kamarnya dengan memeluk Teddy bear besar yang Chanyeol berikan 3tahun lalu. Saat merayakan Anniversary mereka yang kedua. “Hyejin-ah maafkan eomma.” Ucap Ibu Hyejin sambil mengelus surai panjang putrid tercintanya “Seharusnya eomma tidak memaksamu menemui Chanyeol.” Lanjutnya.

“Anni eomma. Hiks, kenapa Park Chanyeol itu sangat menyebalkan dan jahat eomma? Aku membencinya. Sangat membencinya. Hiks hiks.” Hyejin menangis dipelukan ibunya hingga ia tertidur.

“Kau pasti akan bahagia setelah penderitaan ini, nak.” Lirih ibu Hyejin lalu mengecup kening putrinya yang tengah tertidur. Diusaapnya kedua pipi Hyejin, dan menyentuh lingkaran hitam dibawah mata Hyejin. Ia merasa sedih karena sang putri tidak seceria dulu.

.

.

.

.

Pagi harinya, Hyejin tengah menyirami tanaman dihalaman depan rumahnya. Tiba-tiba seseorang menutup mata Hyejin. Ia mengira itu adalah tangan ayahnya, karena tangan besar itu tidak mungkin milik ibunya. “Appa, jangan menutup mataku.” Ucap Hyejin dengan nada ketus. Orang yang dipanggil ‘Appa’ oleh Hyejinpun melepaskan tangannya.

“Apa aku terlihat seperti ahjussi-ahjussi?” Tanya orang itu yang ternyata adalah Chanyeol. Hyejin? Dia hanya terdiam dan kembali membalikkan badannya yang sedari tadi berhadapan dengan Chanyeol.

“Mau apa kau kesini?” Hyejin kembali menyirami tanaman tanpa menatap Chanyeol yang sedari tadi memperhatikannya.

“Ayo ikut aku Hyejin-ah.” Chanyeol menarik lengan Hyejin paksa, Hyejin meronta dan berteriak kepada ibunya agar ia bisa terlepas dari Chanyeol. “Eomma.. tolong aku.. aku tidak mau pergi dengannya eomma.”

‘Maafkan eomma, tapi kali ini kau pasti bahagia.’ Batin ibu Hyejin, saat ia melihat putrinya masuk kedalam mobil Chanyeol.

.

.

.

.

.

Chanyeol menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang, errrr indah menurut Hyejin.

Rumah sederhana dengan halaman depan yang luas dan beberapa pot yang berisikan bunga-bunga cantik. Serta pohon rindang yang berada disudut kiri halaman rumah itu.

“Hyejin-ah?” panggil Chanyeol pada Hyejin yang sedang melihat keindahan rumah itu. “Apa kau menyukainya?”

“Apa kau tahu? Kenapa aku pergi mendadak tanpa member tahumu? Itu karena aku harus segera menyelesaikan pengobatanku yang sudah parah di Amerika. Agar aku bisa terus berada disisimu, hingga kita menikah nanti. Setahun lalu aku pulang ke Seoul dan aku membangun rumah ini. Bukankah ini rumah yang kita idam-idamkan?” Lanjut Chanyeol.

“Rumah ini untukmu Hyejin-ah. Untuk kita berdua, agar saat kita menikah nanti kita tidak perlu tinggal di apartement.” Chanyeol membalikan tubuh Hyejin dan memegang kedua bahu Hyejin. Tubuh Hyejin bergetar, ia menangis. Ia merasa bodoh selama ini karena menganggap Chanyeol laki-laki yang brengsek.

“Hikkss.. mianhae Yeol-ah. Maafkan aku, karena aku bersikap dingin padamu. Maafkan aku.. hikss” sesal Hyejin dengan sesegukan. Chanyeol merengkuh tubuh mungil Hyejin kedalam pelukannya. “Gwaenchana, aku mengerti perasaanmu Hyejin-ah. Maafkan aku juga karena aku baru memberi tahumu tentang ini sekarang.”

“Hikss.. bogoshipo Chanyeol-ah.” “Nado bogoshipo Hyejin-ah. Saranghae.” Chanyeol mengecup pucuk kepala Hyejin, lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.

.

.

.

.

“Silahkan mempelai pria mencium mempelai wanita.” Ucap seorang pendeta yang menjadi saksi pernikahan Chanyeol dan Hyejin.

Chanyeol perlahan mengecup bibir plum Hyejin dan suara tepuk tangan tamu pun menggema didalam ruangan.

“Terimakasih karena telah bersedia menjadi istriku.”

-=-=-=-=-= END =-=-=-=-=-=-

 

 

.

.

.

.

.

 

EPILOG

 

“YA! Jangan berlarian seperti itu. Kau bisa jatuh.” Teriak seorang Yeoja di ambang pintu.

Brukkkk….

 

“Huweeee… huweee…” orang yang tadi diteriaki Hyejin kini menangis karena terjatuh. “Bukankah eomma sudah bilang, kau jangan lari? Lihatlah kau jadi terjatuh kan Leo?” omel Hyejin pada Leo. Putranya dan Chanyeol yang baru berusia 3 tahun.

“Leo-ya, Appa pulang.” Teriak Chanyeol dari dalam rumah, lalu berjalan menuju halaman belakang tempat Hyejin dan Leo berada.

“Appa, leo terjatuh.” Adu Leo pada Appanya yang baru saja pulang bekerja. “Benarkah? Apa sakit?” Tanya Chanyeol khawatir. “Anio, leo kan kuat.” Leo lalu tersenyum pada Chanyeol.

Hyejin mengambil tas yang sedari tadi Chanyeol pegang. “Kemarilah, aku ingin memelukmu.” Chanyeol lalu menarik Hyeji kedalam pelukannya dan mengecup kening istrinya dengan sayang.

“Terima kasih karena sudah hadir dan mewarnai hidupku. Saranghae Hyejin-ah, saranghae Leo-ya.” Chanyeol lalu memeluk kedua malaikatnya dengan penuh perasaan.

-==-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-==-

 

 

One thought on “그리워서 (I Miss You) | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s