We Have a Baby | FF Peserta Lomba

 

dongBYs2ZQqCUAA7U8d

Author: Yoshiko Sakura

Title: We Have a Baby

Genre: Drama

Cast: Lee Haera
Lee Donghae
Other Cast

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Dont
bash me !

_____________

“Izinkan suamimu menikah Haera”

Tersenyum, yah aku tersenyum, entah ini caraku untuk menghibur diri, atau memang aku sudah gila.
Bukan kalimat yang mengejutkan, aku bahkan sudah menduganya dari awal, aku tau hari ini akan datang, dan kalimat itu akan di ucapkan ibu mertuaku sendiri, tatapan sinisnya padaku ketika bicara soal keturunan, sudah menjelaskan semua.

Di lakukan orang pada umunya, setelah menikah dengan ucapan “Selamat menempuh hidup baru”. Tapi tidak denganku, aku menjalani hidup baru dengan diagnosa Polycystic Ovarian Syndrome penyakit pada wanita yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan hormon. Penyakit yang membuat ribuan wanita di dunia patah hati karna penyakit ini adalah salah satu penyebab kemandulan pada wanita, termasuk aku.

Menyedihkan, tapi siapa yang harus di salahkan? Takdir? Konyol.
Yang perlu aku lakukan hanya meyakinkan diri, bahwa ini adalah sekenario dari Tuhan yang harus ku jalani.
Entah berakhir bahagia atau sebaliknya, ku serahkan pada takdir, aku hanya perlu berusaha.

“Beri aku waktu eomeonim” Cicitku pelan, entah sampai kapan aku akan menghindar, mungkin aku terlalu pengecut untuk memberi keputusan, atau memang aku terlalu takut memberi jawaban.

“Minggu lalu eoma sudah memberi mu waktu Lee Haera” Ucapnya penuh tekanan, sama sekali tidak mengurangi kecantikan khas Nyonya_Lee, walaupun usia nya menginjak kepala lima.

Aku terdiam, benar, aku memutusan terlalu lama, aku larut dengan ketakutanku sendiri. Donghae oppa menikah lagi, dan mendapat keturunan dari yeoja lain, hal yang tidak bisa ku berikan padanya. Mereka akan hidup bahagia dan melupakanku, bagaimana kelanjutan hidupku jika itu terjadi?
Aku memejamkan mata sejenak, berfikirlah sedikit berkelas Lee Haera!!

Dengusan sarat kekesalan terdengar nyata di telingaku, apa aku sagat menyebalkan sehingga dapat dengusan kasar seperti itu?

*******

“Aku mengizinkan mu menikah oppa” ucapku pelan, aku bahkan tidak bisa membedakan antara ragu dan takut. Otakku di penuhi rasa takut…

“Apa yang eoma katakan?” Dia mengomentari keputusan ku dengan pertanyaan, yang sebenarnya tepat, sesuai dengan kenyataan.

“Aniyo… Aku sepenuhnya sadar diri oppa, aku tidak……”

“Cukup Lee Haera! Aku menolak, sekalipun kau memberi izin” Potongnya cepat, entah, walapun dia tidak memperdulikan izinku, tapi rasa bahagia mendominasi isi kepalaku, aku berhak bahagia atas ini, Donghae oppa menolak.
Aku tau, dia menolak karna ingin menjaga perasaanku, Donghae oppa suka anak kecil, itu fakta yang tidak mugkin aku lupakan.

“Kau butuh keturunan oppa”

“Aku menikahimu bukan karna keturunan Haera-ya, dan aku tidak mau memperpanjang pembicaraan ini” Donghae oppa mengacak rambut belakangnya frustasi, aku tau dia serba salah, antara menjaga perasaanku, atau mengikuti kemauan eoma.

“Apa eoma mau tau alasan mu oppa? Apa eoma mau mengerti? Bahkan sebenarnya ada atau tidak adanya izinku itu tidak penting, pada akhirnya kau akan menikah oppa” Aku terisak, pertahanku runtuh, aku pun manusia yg punya asa dan rasa, akal dan logika.

“Ada cara lain” Aku mendongak memandangnya, ada sedikit keyakinan di matanya.

“Kita coba Inseminasi”

*********

*At St Mary Seoul International Hospital *

Entah dapat stok atau bisa di bilang tau dari mana, Donghae oppa tentang Inseminasi, dia bisa bertanya dengan pertanyaan yang sangat-tidak-memalukan, untuk kami ukuran orang awam dalam program ini, mimik wajahnya terlihat sangat antusias, setiap mendengarkan jawaban, atas pertanyaan yang di lemparnya kepada Dokter Park, entah pertanyaan ke berapa, cukup membuatku sedikit pusing.

“Dalam proses Inseminasi sel telur matang diambil dari indung telur ibu, dibuahi dengan sperma di dalam medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke rahim dengan harapan berkembang menjadi bayi.”
Jelas Dokter Park panjang lebar, aku mengerti dan tidak terlalu buruk.

“Berapa persen keberhailannya Dokter Park?” Hanya satu pertanyaan yang ku ajukan, tapi cukup membuat ruangan ini hening.

“Tingkat keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh masalah teknis di lapangan. Sekitar 30%.”
Jawaban yang sederhana, aku tersenyum miris, dari ekor mataku, kulihat Donghae oppa memandangku nanar, dia mengusap pinggangku, seolah meyakinkan.

“Kalian harus mencoba” Kalimat pendek dari Dokter Park berdampak besar untuk nyaliku, kami memang harus mencoba, masih ada 30% kesempatan kami untuk mempunyai keturunan, tanpa harus merelakan suamiku menikah lagi.

“Kami akan datang besok Dokter” Ucapku yakin, di iringi anggukan yakin Donghae oppa, dan senyum lebar Dokter Park.

“Aku tunggu” balasanya..

Masalahnya sekarang adalah eomeonim.

********

*At Home*

“Bukan masalah dan semoga berhasil” Aku dan Donghae oppa hanya berpandangan tak mengerti, aku kira akan menjadi masalah paling berat dalam program ini, tapi pernyataan eoma tidak kami sanggka sama sekali, cukup mengejutkan, mengingat sifat eomeonim berbanding terbalik dengan sifat Donghae oppa yang sabar.

“Kita pasti tidur nyenyak nanti malam” Kata Donghae oppa sambil terkekeh pelan, aku memukul pelan pungungnya dan ikut terkekeh.

“Saranghae Lee Haera” Ucapnya pelan di telingaku, kalimat bak mantra yang membuatku tidak bisa lepas dari Lee Donghae.

*******
3 days later

Aku menutup sambungan telfon dari Dokter Park, memang dari awal harusnya aku sadar, keberhasilannya hanya 30%, aku salah jika terlalu berharap dari program ini, tangan ku bergetar hebat, rasanya bukan hanya hatiku yang sakit, tapi sendi dan tulang ku seperti di cincang dengan pisau tumpul, sakit, sangat sakit.

Aku jatuh terduduk, harapanku yang terlalu besar semakin membuatku terpuruk mengingat kegagalan ini.
Pada akhirnya, aku memang harus merelakan Donghae oppa menikah lagi.

“Kita coba lagi” Suara itu, apa aku harus membagi suara itu dengan yeoja lain? Aku tidak bisa, biarlah aku egois dalam hal ini.

“Berdirilah, besok kita mencobanya lagi, kita buat 30% itu menjadi keberuntungan kita”

Aku berdiri dan memeluknya erat, tak akan ku biarkan yeoja lain menyentuh bahu ini, tangan kekar ini, semua tubuh Donghae oppa hanya milikku.

*******

“Aku senang kalian tidak menyerah, dan akupun akan berusaha keras membantu kalian”
Lihatlah Lee Haera, orang lain pun ingin membantu keberhasilan ini, aku tersenyum tulus, senyum bahagia dan penuh keyakinan, aku mengengam tangan Donghae oppa erat, dan dia membalas dengan senyum yang selalu menjadi faforitku.

“Ayo kita mulai”

———

Waku memang terasa lama jika kita menunggu hari yang kita nanti.
Tapi akan berbanding terbalik, jika kita tidak menginginkan hari itu cepat datang.

Hari yang sama dengan kemarin, omelan eomeonim dan sindiran terang terangan tentang kegagalan program ini. Aku hanya menghela nafas sabar, dengan Donghae oppa di sampingku yang memberi kekuatan untuk bertahan, dan yakin program ke-2 kami berhasil.

“Bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku tunggu”

Pesan singkat dari Dokter Park yang kembali membuat jantungku berdetak di atas normal, bisa atau tidak, aku akan mengusahakan datang, sendiripun tak masalah, mengingat Donghae oppa sedang sibuk di kantor.

******

Aku mengetuk ruangan Dokter Park pelan, dan masuk setelah mendapat izin dari pemilik ruangan, yang mengejutkan Donghae oppa pun di dalam, sejak kapan? Exspresi wajahnya tidak bisa ku baca, apa gagal lagi? Ohh Tuhan, sabarkan aku.

“Ada 3 indung telur yang berhasil dibuahi, tapi hanya 1 yang berhasil menjadi embrio” deg, ini nyata? Kami berhasil? Air mataku jatuh entah untuk alasan apa.
Sigap Donghae oppa memelukku erat.

“Kita hampir berhasil Haera-ya”

“Chukkae, kalian hebat” Ucapan selamat pertama kami. Terimakasih Tuhan.

“Jeongmal kamsahamnida Dokter Park” nafasku tercekat, mengingat dialah orang yang paling berjasa di program ini.

“Simpan rasa terimakasihmu Haera-sii, ayo kita lanjutkan program ini, kita buat embrio ini hidup di rahimu” Aku tersenyum, aku siap, sangat siap,

********

2 months later

“Jika dia namja, aku ingin dia tampan sepertiku”
Aku mendengus pelan,

“Wae?”

“Ani” balasku pendek, sambil mengelus pelan rambutnya yang ada di pangkuanku.

“Oppa?”
Dia tidak menjawab, sibuk menempelkan telingganya di perutku yang masih rata, aku tau dia bahagia, sama seperti ku.

“Saranghae Donghae appa”
Aku cekikian setelah kalimat itu dengan sukses keluar dari mulutku. Konyol. Reaksi Donghae oppa justru terlewat konyol, dia tertawa terbahak bahak, sambil meremas perut nya.

“Wae? Ada yang salah?” Tanyaku agak kesal.

“Ani, aku suka,” Jawabnya sambil merengkuh pinggangku untuk mendekat ke tubuhnya, pelukan ini selamanya hanya aku yang bisa merasakan,.

“Saranghae Lee Haera”

“Nado oppa”

————-

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s