“SARANGHAE ( 사랑 해)” | FF Peserta Lomba

 

dong20120902-155721

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author (FB & Twitter): VIE ANGELIQUEZ LIVINAMAYA

Title : SARANGHAE ( 사랑 해)

Genre : ROMANCE

Main Cast : – Lee Donghae
– Kang Soo Ki

Disclaimer : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

SUMMARY

“Jika membencimu adalah takdirku, aku akan meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawaku. Karena yang ku tahu, mencintaimu adalah takdirku. Membencimu sama seperti mengingkari takdir bukan?”
-Lee Donghae-

“Jika mencintaimu adalah takdirku, aku akan mempertahankan itu. Saat ini, esok, bahkan saat nanti di kehidupan yang akan datang, aku akan selalu mencintaimu. Karena membencimu adalah hal yang mustahil ku lakukan,”
-Kang Soo Ki-

 


****************

ALWAYS DONGHAE POV

Saat ini aku tengah berada di kamarku. Duduk diatas sofa yang menghadap kearah jendela, menatap hamparan pasir putih dan lautan, tempat favoritnya. Namun mungkin kini menjadi tempat yang dibencinya. Bukan hamparan pasir putih dan lautan itu, namun pada rumah ini.
Kembali kubuka album foto ini. Saksi bisu perjalanan cintaku dengannya. Kulihat foto yang kuambil saat pertama kali melihatnya. Aku masih ingat bagaimana aku bertemu dengannya.

##FLASHBACK
Hari ini aku berencana mengunjungi perpustakaan. Ada buku yang kuperlukan untuk tugas biologi. Dengan mengendarai sepeda motor aku pergi menuju perpustakaan.
Aku langsung menuju barisan buku biologi begitu selesai memarkirkan motor. Sebelum mencapai rak buku biologi, aku mengikat tali sepatu yang kurang kencang. Saat aku berdiri, saat itulah aku melihatnya. Sedang serius membaca sebuah buku tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku terus saja memperhatikannya. Kesadaranku seperti tersedot oleh pesonanya. Aku baru tersadar setelah dia mendongakkan kepalanya. Dan terlihatlah wajahnya yang cantik dengan bola mata yang bersinar dan bibir yang menyunggingkan senyum tipis.
Kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya. Seperti tidak peduli pada sekitarnya. Diam-diam aku mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Berharap Tuhan berbaik hati mempertemukan aku dengannya. Karena saat ini aku harus mencari buku biologi, hal yang hampir kulupakan ketika melihatnya. Aku tak mungkin menyapanya, karena pasti aku tak mungkin bisa menjauh darinya, kkkk. Buku biologi itu penting saat ini, aku tak mau terkena hukuman dari Kim seonsaengnim. Dia itu terlalu berbahaya kkkk.
##FLASHBACK END

Kubuka halaman-halaman berikutnya. Masih tetap berisi fotonya, yang ku ambil secara diam-diam tentunya. Tuhan memang baik. Dia mempertemukan aku kembali dengan yeoja itu. Dia adalah murid baru di kelasku.
Sampailah aku dihalaman yang berisi foto saat aku mengatakan cinta padanya. Foto itu diambil oleh Kim Ryeowook, salah seorang teman sekelas kami yang juga sahabat baikku. Posenya saat aku tengah berlutut menunggu jawabannya. Aku masih ingat bagaimana perasaanku saat itu.

##FLASHBACK
Sudah dua bulan aku mengenal Soo Ki, Kang Soo Ki, nama yeoja itu. Dan aku menyadari bahwa yang kurasakam memang benar cinta. Buka kagum semata. Hari ini aku berencana menyatakan cinta padanya.
Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung menghampiri Soo Ki, yang sedang membereskan buku-bukunya. Entah mengapa aku begitu gugup.
“Soo Ki-ya, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku saat berada di depannya.
“Ne oppa. Ada apa?”
Aku langsung menariknya menuju depan kelas. Beberaa siswa yang memang belum keluar kelaspun memperhatikan kami. Ku lihat raut bingung d wajahnya.
“Soo.. Ki-ya,” ucapku gugup.
“Ne oppa. Waeyo?”
“Mmmm… itu… begini…” kataku terbata.
“Begini bagaimana?” tanya Soo Ki bingung.
Sial! Kenapa aku gugup begini? Ayolah Lee Donghae, ini bukan pertama kalinya kau menyatakan cinta pada seorang gadis, ucapku dalam hati. Kuambil napas dan ku keluarkan perlahan. Ku kumpulkan keberanian dan,
“Kang Soo Ki, maukah kau menjadi yeojachinguku?” tanyaku sambil berlutut dan mengulurkan setangkai mawar putih padanya.
#FLASHBACK END

Kupejamkan mata untuk mengingat ekspresi Soo Ki saat itu. Dengan malu dia mengambil bunga mawar yang kuulurkan padanya. Tak ada yang bisa membuat senyumku pudar hari itu. Aku senang. Sangat senang.
Dan kini album foto itu memperlihatkan fotoku dan Soo Ki. Dengan latar belakang bunga sakura yang indah. Aku coba mengingat kapan aku berfoto dengan Soo Ki saat itu.
Ah… itu foto saat aku dan Soo Ki pergi ke festival musim semi. Di sebuah taman yang memang di tumbuhi banyak pohon sakura. Saat itu kami sedang melepas rindu setelah lama tak bertemu, sibuk dengan kuliah masing-masing. Kami memang sudah kuliah saat itu. Hubungan kamipun sudah berjalan 3 tahun.
Kami membicarakan banyak hal saat itu. Dari mulai kegiatan kami sehari-hari, takdir, cinta, massa depan dan entah apa lagi.

##FLASHBACK
“Oppa, kau kenapa?” tanya Soo Ki.
“Kenapa apanya?”
“Kau tahu, sepanjang jalan kau itu terus tersenyum. Aku takut kau itu..” Soo Ki kemudian menempelkan jari telunjuknya ke dahi (maksudnya mau bilang kaya orang gila xD).
“Ya! Aku itu namjachingumu! Berani sekali kau berkata seperti itu pada pacarmu sendiri,” aku melancarkan aksi protesku, sedangkan Soo Ki hanya terkekeh. Kami kemudian duduk dibawah pohon sakura.
“Oppa, apa oppa bahagia bersamaku,?” tanya Soo Ki setelah beberapa saat.
“Tentu saja pabo! Oppa bersamamu, orang yang oppa cintai. Bagaimana bisa oppa tidak bahagia,?”
“Bagaimana bisa oppa seyakin itu,?”
“Karena takdirku adalah untuk mencintaimu,”
“Bagaimana kalau oppa salah? Bagaimana kalau takdir oppa adalah membenciku,?”
” Jika takdirku adalah membencimu, aku akan meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawaku. Karena yang ku tahu, mencintaimu adalah takdirku. Membencimu sama seperti mengingkari takdir bukan,?” jawabku yakin. Kulihat air mata mengalir dipipinya. Jujur saja, aku tak sanggup melihatnya menangis.
“Chagiya, kau kenapa? Uljima ne,” ucapku panik seraya memeluknya.
“Oppa, gomawo,” ucapnya serak.
“Untuk apa,?”
“Semuanya. Terlebih kata-katamu tadi. Itu kata-kata yang sangat indah oppa,”
“Hmmm… cheonma chagi” ucapku sambil mengusap puncak kepalanya.
“Kalau kau sendiri, bagaimana,?” tanyaku.
“Jika mencintaimu adalah takdirku, aku akan mempertahankan itu. Saat ini, esok, bahkan saat nanti di kehidupan yang akan datang, aku akan mencintaimu. Selalu.Karena membencimu adalah hal yang mustahil kulakukan.”

##FLASHBACK END
Gomawo chagiya. Terima kasih karena kau tidak mengingkari takdirmu. Kau masih berada disampingku sampai saat ini. Sama seperti aku yang terus mencintaimu.
Dan maafkan aku. Untuk semua yang terjadi padamu. Untuk menjadi pusat rasa sakitmu. Untuk menjadi pusat rasa sedih dan air matamu.
Foto selanjutnya memperlihatkan sebuah kalung dengan tulisan “KiHae” sebagai bandulnya. Ini adalah kalung yang kuberikan pada Soo Ki saat melamarnya. Soo Ki sempat protes saat aku memberinya kalung saat melamar. Tapi setelah kujelaskan dia malah menangis. Aigoooo….. aku baru sadar jika yeoja-ku itu sangat sensitif.

##FLASHBACK
Aku sedang berlutut sambil mengulurkan sebuah kalung kearah Soo Ki. Aku sedang melamarnya saat ini. Sangat romantis menurutku.
Tapi keromantisan itu tidak bertahan lama saat tiba-tiba Soo Ki berdecak dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Akupun segera mendongak, kudapati ekspresi Soo Ki seperti kecewa.
“Soo Ki, chagi, kau kenapa? Apa tidak senang oppa melamarmu?” ucapku sedih.
“Aku senang oppa melamarku. Sungguh. Hanya saja,”
“Hanya saja apa,?” nadaku berubah menjadi cemas dan takut.
“Apa oppa benar-benar ingin melamarku,?”
“Tentu saja chagi,”
“Oppa tahu kan,? Jika seorang namja ingin melamar kekasihnya, bukankah ia memberikan cincin, bukan kalung seperti ini. Apa oppa serius ingin melamarku,?”
Aigoooo… ternyata hanya karena ini,? Aku kira ada apa, keluhku dalam hati.
“Biar saja namja-namja itu. Aku yang melamarmu dan inilah caraku. Aku memilih kalung karena benda ini menempel di dadamu, tempat hatimu berada. Kalung ini akan menjaga hatimu agar tak tersentuh oleh orang lain. Hatimu hanya untukku. Arraseo,?” jelasku. Dapat kulihat matanya yang berkaca-kaca.
“Oppa mianhae,” ucapnya membuat bahuku merosot. Apa dia menolakku?
“Mian karena aku telah berburuk sangka padamu. Aku kira oppa hanya main-main,” ucapnya pelan “Dan, ya. Aku menerima lamaranmu. Aku mau menjadi istrimu. Orang yang selalu ada disampingmu, bagaimanapun keadaanmu, apapun yang kau lakukan. Aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu,”. Hahhh…. aku kira dia akan menolakku. Langsung saja ku peluk tubuhnya.
“Oppa, didunia ini, kata apa yang paling kau suka,?” tanya Soo Ki tiba-tiba.
“Kata yang paling kusuka,?” Soo Ki mengangguk. “Kata yang paling kusuka adalah ‘KiHae’, karena itu penggabungan dari nama kita, Soo Ki-Donghae. Kau sendiri, kata apa yang paling kau suka,?”
“Saranghae,” ucapnya singkat.
“Kenapa,?”
“Molla. Hanya suka dengan kata itu,” ucapnya cuek, yang sukses membuatku penasaran.
##FLASHBACK END

Dan sampailah aku di halaman terakhir. Dimana halaman itu memuat foto terakhirku bersama Soo Ki. Foto pernikahanku dengannya. Hari dimana aku merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Dan hari dimana berpusatnya semua rasa frustasiku akhir-akhir ini.
##FLASHBACK
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Soo Ki. Senang? Tentu saja aku senang. Orang yang kupacari selama beberapa tahun akhirnya bisa menjadi milikku, seutuhnya.
Saat ini aku sedang berdiri didepan altar. Menunggu Soo Ki masuk ke dalam gereja ini. Aku kembali tersenyum saat mengingat awal kami berpacaran.
Aku dan dia sama-sama masih 17 tahun. Aku, yang entah bagaimana, sangat yakin jika Soo Ki adalah yeoja-ku. Yeoja yang kelak akan menjadi istriku. Ibu dari anakku kelak.
Saat musik terdengar, aku tersadar dari lamunanku. Aku menoleh kearah pintu. Dan aku lagi-lagi terpesona pada Soo Ki.Dia terlihat semakin cantik ketika mengenakan gaun pengantin.

>>WEDDING SKIP
“Aku tahu aku itu cantik oppa. Tapi bisakah kau fokus menyetir agar tidak tertabrak,?” ucap Soo Ki tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Saat ini aku, Soo Ki, dan Hyebin sedang dalam perjalanan menuju rumah baru kami. Rumah didekat pantai, tempat favorit Soo Ki. Hyebin adalah satu-satunya keluaga yang dimiliki Soo Ki setelah kematian kedua orangtua mereka dua tahun yang lalu. Aku sudah menganggap Hyebin sebagai adikku sendiri, jadi aku tak keberatan saat Soo Ki berkata akan mengajak Hyebin untuk tinggal bersama kami. Malah Hyebin yang keberatan. Dia bilang tak mau merepotkan siapapun. Dasar anak itu!
Kembali pada saat ini. Aku hanya berdeham mendengar ucapan Soo Ki. Sedangkan Hyebin terkekeh melihatku salah tingkah.
“Oppa, kau tahu, wajahmu itu seperti pertama kali melihat Soo Ki eonnie?” ejek Hyebin.
“Ck! Kalian itu. Eonnie dan dongsaeng sama saja,” rutukku. Soo Ki dan Hyebin malah tertawa semakin keras.
“Ya.. ya.. ya.. Kalian itu puas sekali eoh menertawaiku?”
“Tentu saja oppa. Ekspresimu itu sangat lucu,” Hyebin terkekeh “Dan kapan lagi aku bisa melihat ekspresi lucumu itu,” sambungnya pelan.
“Ada apa Hyebin?” tanya Soo Ki.
“Eoh, tidak apa-apa eonnie,”
“Gwaenchana saengi?”

“Heem. Gwaenchana eonnie. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Tidak apa-apa. Hanya merasa,”
“Merasa apa?”
“Ah.. aniyo. Eonnie pasti salah,”
“Eonnie tenang saja. Aku tidak apa-apa. Selama ada Donghae oppa, kita berdua pasti baik-baik saja.”
“Tentu saja kalian tidak akan apa-apa selama namja tampan ini bersama kalian,” ucapku sambil menengok kearah dua yeoja itu. Kulihat Hyebin tersenyum sementara Soo Ki memutar matanya malas.
“Ck.. kenapa aku bisa menikah dengan namja narsis ini?” cibir Soo Ki.
“Chagiya, jangan berkata seperti itu. Aku tahu kau itu jatuh cinta padaku karena ketampananku ini kan?” tanyaku menggodanya.
“Tidak. Siapa bilang? Bukannya oppa yang menyukaiku lebih dulu?” balas Soo Ki cepat. Terlihat wajahnya panik. Ya, kau kena chagi! Hahahaha.
“Ah.. sudahlah chagi. Mengaku saja,”
“Ck…tidak bisakah oppa hanya fokus menyetir? Aku tidak mau nyawaku dan Hyebi terancam,”ucapnya kesal karena ku goda terus menerus. Wajahnya sudah memerah. Kkkkk~ yeoja-ku ini sangat imut.
“Aku itu pandai menyetir chagi. Jadi tidak mungkin aku..”ucapanku terhenti saat melihat sinar lampu yang menyilaukan dari arah yang berlawanan dengan mobil kami. Aku seakan tak sadar dengan yang terjadi. Terakhir kali yang ku dengar adalah teriakan Soo Ki dan Hyebin.
“Oppa awas!!! Ahhh…..!!!!!”
#Flashback end

Aku tersadar dari lamunanku. Kecelakaan itu terjadi dengan cepat. Mobilku menabrak pembatas jalan karena menghindari truk yang melaju kencang dari arah berlawanan. Seakan belum cukup, dari arah kanan muncul sebuah mobil yang juga melaju kencang. Mobil itu menabrak bagian belakang mobilku. Naas bagi Hyebin, dia yang duduk dibelakang menjadi terhimpit dan membuatnya tewas.
Kejadian itulah yang membuat semuanya berubah. Hubunganku dengan Soo Ki mendingin begitu saja. Jujur saja, aku merasa bersalah pada Soo Ki. Sering ku dengar Soo Ki menangis setiap malam, mungkin dia teringat Hyebin. Aku ingin memelunya, namun sering kuurungkan niat itu. Aku merasa akulah yang telah merebut kebahagiaannya. Membuatnya kehilangan satu-satunya anggota keluarga, membuatnya kehilangan sebagian hidupnya, dan membuatnya kehilangan senyuman di wajahnya. Aku sungguh bersalah padanya. Kang Soo Ki, jeongmal mianhae.
-Donghae POV end-

-Special POV, Kang Soo Ki-
Annyeong, namaku Kang Soo Ki, saat ini statusku adalah istri dari Lee Donghae, namja yang aku cintai. Seharusnya aku bahagia kan? Namun aku sama sekali tidak bahagia dengan keadaan ini! Kecelakaan itu membuat semuanya berubah, termasuk hubungan kami. Setelah aku tersadar dari kecelakaan itu, aku merasa hubungan kami tak lagi sama. Hubungan kami mendingin, tak ada sebab pastinya. Namun aku yakin bahwa perubahan sikapnya adalah karena diriku.
Kecelakaan itu meluluhlantahkan seluruh kehidupanku. Hyebin, adik yang paling kusayangi meninggal dalam kecelakaan itu, Donghae oppa seakan tak peduli lagi padaku, dan aku kehilangan suaraku. Ya, aku bisu kini. Saat kecelakaan ada pecahan kaca yang merobek leherku dan mengenai pita suaraku. Mungkin karena aku bisu inilah Donghae oppa menjadi bersikap acuh padaku.
Hal itulah yang membuatku bersikap cengeng, sikap acuh Donghae oppa maksudku. Jika ada yang bertanya apakah aku sedih ketika Hyebin pergi, aku sangat sedih. Namun aku tahu bahwa kesedihanku tak dapat membuatnya kembali hidup. Oleh sebab itu, aku sudah mengikhlaskan kepergian Hyebin.
Pagi ini aku terbangun dan seperti biasa, kulihat Donghae oppa yang sedang terduduk menghadap kearah lautan. Akhir-akhir ini itulah yang dilakukannya. Tidur setelah aku tidur dan bangun sebelum aku terjaga. Tanpa menyapanya, aku langsung bangkit menuju kamar mandi. Beginilah nasib pernikahan kami. Tinggal satu atap, tidur satu ranjang, namun tak pernah ada komunikasi. Aku sangat berharap jika hubungan kami bisa kembali seperti dulu. Seringkali aku berfikir, tak apa jika kami tak menikah asalkan kami masih bisa bersama dan tertawa. Namun aku tahu itu tak mungkin.
Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat Donghae oppa sedang berdiri di balkon kamar kami. Wajahnya tetap menghadap kearah laut. Mungkin sedang mengadu pada lautan, mengapa dia bisa menikah dengan gadis bisu sepertiku. Ku dekati Donghae oppa untuk mengajaknya makan. Walaupun seringkali kulihat wajah dinginnya, namun ini kewajibanku bukan? Saat aku hampir sampai di dekatnya, kulihat ia menangis. Tak ada isakan yang keluar memang, namun aku yakin tangisannya penuh dengan luka. Oppa, apa oppa begitu membenciku? Apa oppa malu mempunyai istri yang bisu? Sungguh oppa, aku pun tak ingin seperti ini! Tuhan, aku rela jika Donghae oppa meninggalkanku, asalkan dia bisa tersenyum kembali. Aku tersiksa melihatnya seperti ini, batinku.
Aku terkejut saat Donghae oppa tiba-tiba membalikan badannya. Langsung saja kuhapus air mataku. Kulihat Donghae oppa juga membelalakkan matanya. Segera saja kubalikan badanku, bersiap masuk kedalam rumah. Namun langkahku terhenti saat kurasakan ada tangan yang memegang lenganku. Aku berhenti namun tak membalikan badanku, aku tetap memunggunginya.
“Soo Ki, mianhae,” ucapnya pelan.
Apakah ini akhir dari pernikahan kami? Jika memang ini yang terbaik, aku rela. Tapi mengapa air mataku tak mau berhenti? Segera saja kututup mulutku agar isakanku tak terdengar. Ku rasakan tangan Donghae oppa terlepas. Segera saja aku melangkah pergi. Namun lagi-lagi aku terhenti, bukan karena Donghae oppa memegang tanganku. Tapi karena Donghae oppa memelukku. Ya, dia memelukku. Pelukan pertama kami setelah kecelakaan itu dan mungkin pelukan terakhir kami. Memikirkan itu membuat air mataku kembali mengalir.
“Maafkan aku karena telah menjadi pusat rasa sakit dan air matamu. Aku memang lelaki yang tidak berguna,” ucapnya sambil tetap memelukku.
“Kau boleh menghukumku apapun, tapi tolong jangan menangis lagi. Kau tahu, air matamu adalah kesakitan untukku? Maafkan aku telah membuatmu kehilangan Hyebin, aku sangat bersalah padamu. Maafkan aku,”
Deg! Jadi ini penyebab perubahan sikapnya padaku? Rasa bersalahnya atas kematian Hyebin? Dan aku, bukannya berpikiran positif terhadap suamiku, aku malah menuduhnya? Ya Tuhan, betapa bodohnya aku. Bertahan dengan fikiran konyolku sehingga membuat pernikahan kami berantakan.
Segera saja kuhadapkan badanku. Kugelengkan kepalaku dan mencoba menghentikan tangisanku. Tapi air mata ini seakan tak mau berhenti. Ini adalah air mata bahagia. Aku bahagia karena akhirnya bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini.
“Soo Ki, tolonglah berhenti menangis. Aku tahu aku bersalah padamu, tapi jangan seperti ini. Aku mohon. Kau boleh membenciku, tapi…”
Aku langsung memeluk Donghae oppa sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak akan pernah bisa membencinya, apapun yang terjadi. Bukankah sudah ku katakan bahwa membencinya adalah hal yang mustahil.
“Aku mencintaimu,” kata itu yang kuucapkan saat ku lepaskan pelukanku. Walau kata itu terucap tanpa suara dan hanya diikuti gerakan, aku yakin Donghae oppa mengerti.
“Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucapnya seraya memelukku. Benarkan? Ia pasti mengerti dengan ucapanku.
——————————————————————–
-Epilog-
Kau pernah bertanya padaku, mengapa aku menyukai kata “saranghae”. Saat itu aku menjawab tidak tahu, dan sampai sekarangpun aku tidak tahu mengapa aku menyukai kata itu. Yang aku tahu adalah, kata itu mempersatukan kita, kata itu membuat kita lebih saling mengerti, kata itu menjadikan kita semakin kuat dan kata itu membuat aku semakin mencintaimu. Karena di dalam kata itu ada namamu. Hae, sarangHAE.
사랑 해
“THE END”

One thought on ““SARANGHAE ( 사랑 해)” | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s