Dr.Choi Saranghae | FF Peserta Lomba

 

DR CHOI

Tittle      :               Dr.Choi Saranghae

Author  :              BRz

                                Fb : https://www.facebook.com/balqis.imout

                                Twitter : https://twitter.com/Im_BRz

Cast       :               Im Jihyun (OC)

                                Choi Minho

                                Kim Na Na (OC)

                                Cho Kyuhyun

                                Other cast

Genre   :               Happy, Romance, Mix.

Rating   :               PG-15

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

Cover FF By Puput Artwork

 

                                Fanfic ini REAL by Author. Tanpa Mencotek ataupun Menyamai cerita dengan FF lainnya. I Hope You Like It, Please No Bashing!!

 

                Happy Reading ^^

++++++++++

                                Author POV

 

                Seorang yeoja cantik berjalan mengendap ngendap, kedua matanya terlihat fokus terhadap keadaan disekitarnya. Sepatu miliknya sengaja ia tenteng agar tidak menimbulkan suara yang berisik yang dapat mengangu konsentarsinya, wajahnya terlihat cemas disekitar dahinya sudah terlihat butiran butiran keringat walau mudah namun butuh tenaga yang exstra.

                “Jjang…” dia tertawa dengan puas didalam mobilnya, kedua matanya menatap kunci mobil yang sedang ia pegang. Wajahnya terlihat sangat bahagia.

                “Akhirnya aku bisa mengendarai mobil sendiri” gumamnya dengan semangat lalu menghidupkan mesin mobil miliknya, tak lama kemudian mobil bewarna hitam gelap itu berhasil keluar dari rumah mewah yang terletak disalah satu perumahan elit di Seoul.

Jihyun POV

                Aku mengendarai mobil milik appaku ini, mobil keluaran baru berwarna hitam gelap. Sebenarnya appa dan eomma belum mengizinkanku membawa mobil sendiri ke kampus, katanya sangat  berbahaya oh ayolah aku sekarang sudah dewasa seharusnya mereka paham akan hal itu.

                Didalam mobil sebuah lagu yang ceria mengalun dengan keras, dengan semangat aku ikut menyanyikan lagu itu. Sejauh ini aku sudah berhasil membawa mobil milik appaku ini dan butuh waktu sepuluh menit lagi aku akan sampai dikampusku.

                Tiba tiba perasaanku menjadi takut saat ada pertigaan didepan sana, dengan perlahan lahan aku memutar setir mobilku. Yes, berhasil! Aku menghembuskan nafas dengan lega . Tapi, kelegaanku itu tidak berlangsung lama. Menit berikutnya aku harus bisa melewati jalan yang jelek dan aigo… kenapa banya sekali kendaraan yang berlawanan arah. Dengan kesalnya, aku memutar setir mobilku dengan cepat dan…

                “Argh…….”

                Detik itu juga aku merasakan semuanya gelap.

===========

                Aku mengerjap ngerjapkan mataku, mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam kedua mataku. Aku menatap kesekelilingku dengan bingung, hoamm…. aku masih mengantuk.

                “Dimana ini?”

                “Jihyunie, kau sudah bangun eoh? Syukurlah kalo begitu” seru eommaku dari depan pintu dan langsung berlari mendekat kearahku, dengan cepat eomma memeluku dengan erat. Jujur saja, aku bingung… aneh, ada apa ini?

                “Wae? Eomma, aku dimana?” tanyaku dengan bingung.

                “Pabo, kau sedang berada dirumah sakit” jawab saudara laki lakiku, Dia kakaku satu satunya.

                “Ya!! Tidak harus memukul jidatku oppa” kataku sambil cemberut, dengan gemasnya oppaku mencubit pipi chubbyku.

                “Ya!! Appo, Dasar namja gila” Seruku dengan kesal, dia hanya tertawa sambil terkekeh.

                “Sudahlah kyuhyun-ah, adikmu ini baru sadar tidak perlu mengodanya… Dasar anak nakal” ucap eommaku sambil mencubit telinga oppaku.

                “Ya!! Eomma, appo…” teriak oppaku dengan kesakitan sambil mengelus telinga kirinya yang sedikit merah. Hahaha, aku menjulurkan lidah kearahnya. Eomma hanya mengelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

Ruangan tempat aku dirawat tiba tiba dibuka, masuklah appaku dan seorang ajjushi yang memakai jas putih dengan rapi.

                “Jihyunnie, kau sudah sadar eoh? Syukurlah” ucap appaku sambil tersenyum senang, aku hanya menunduk merasa bersalah padanya.

                “Mianhae appa” balasku masih tertunduk, appa terkekeh sambil mengelus pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.

                “Gwaenchana, tapi jangan diulangi lagi ya…!  appa takut kau kenapa napa, makanya appa melarang kamu untuk membawa mobil sendiri kekampus” ucap appa sambil tersenyum, aku menganguk sambil tersenyum kearahnya.

                “Gomawo appa, jihyun sayang appa” ucapku sambil memeluknya dengan erat, dia membalas pelukanku sambil mengelus pungungku dengan penuh kasih sayang.

                “Jihyunie, ini Dr.Kim selama kau dirawat disini dia yang akan menjaga dan memeriksa kondisimu setiap harinya” ucap eomma, Ajjushi tua itu hanya tersenyum ramah.

                “Anyeong Dr.Kim, Jihyun Imnida”

==========

                Sudah tiga hari aku berada dirumah sakit ini, sungguh bosan hanya berdiam diri diruangan ini. Walaupun fasilitasnya lengkap, tapi tetap saja aku merindukan kampusku. Sebenarnya lukanya tidak terlalu parah, tapi eomma memaksa agar aku dirawat dirumah sakit saja.

                “Jihyun-sshi, baiklah hari ini saya akan memeriksa kondisimu” ucap Dr.kim, aku menganguk. Setelah selesai memeriksa, ia menulis disebuah kertas. Ia tersenyum lalu pergi meningalkanku sendiri.

                Aku berjalan menghampiri jendela yang terletak disudut ruangan, dari atas sini pohon pohon yang berbaris rapi dibawah terlihat sangat mungil. Aku mendongakan kepalaku keatas, ruangan apa diatas? Penasaran aku nekat keluar dari kamar ini.

                “Eomma, appa aku izin keluar sebentar” batinku teringat pesan kedua orang tuaku yang melarangku untuk keluar dari ruang rawatku itu.

                Aku menaiki lift, iseng saja aku menekal tombol paling atas. Tak lama kemudian aku sampai diruangan paling atas.

                “Pintu apa itu?” penasaran aku membuka pintu itu, betapa terkejutnya aku ternyata dari atas sini pemandangan gedung gedung tinggi terlihat sangat jelas.

                “ternyata atap rumah sakit ini tidak terlalu buruk, dari sini aku bisa melihat awan dengan jelas” gumamku sambil berjalan kedepan. Untung saja ada pagar yang mengelilingi atap ini, aku pikir ini bisa disebut sebagai lapangan karna memang cukup luas disini.

                Aku menatap kebawah, ternyata dari atas sini pohon pohon bahkan terlihat seperti semut yang berbaris. Aigo, lucunya… merasa terhalangi oleh pagar, dengan nekatnya aku memanjat pagar itu.

                “Argh…..” aku berteriak sesuka hatiku.

                “Ya!! Nona, Andwae jangan bergerak nanti kau bisa jatuh diam disana!!” seseorang berteriak, aku menolehkan kepalaku menatap kebawah. Ada seorang namja disana? Aneh, kenapa dia berteriak histeris seperti itu.

                Aku mengangakat bahuku dengan cuek, entahlah siapun orang itu mungkin pikirannya terlalu dramatis mengangap tingkah laku ku tadi sebagai adegan percobaan bunuh diri.

                “Ya! Nona, kau??” dia terkejut saat melihatku berjalan menuju pintu dan berhendak akan turun lalu kembali keruangan tempat aku dirawat.

                “Wae?” tanyaku bingung, namja yang aneh pikirku.

                Namja itu menghela nafasnya, lalu terduduk dilantai atap gedung rumah sakit ini. Dia menatapku dengan pandangan tidak suka, aku hanya menatapnya dengan bingung.

                “Ya!! Nona, jauh jauh aku berlari dari sana kesini ternyata kau…”

                “Ya!! Ajjushi, jangan berpikir aku akan bunuh diri…. aigo, pikiranmu itu sungguh dramatis” ucapku menatapnya dengan sebal.

                “Mwo?? Ajjushi, aigo.. anak ini menyebalkan” ucapnya sambil menatapku dengan tajam.

                “Mwo? Menyebalkan, aish… dasar ajjuushi tua” balasku, dia menatapku dengan cepat.

                “Ya!! Siapa yang kau pangil ajjushi, aku ini masih muda dasar anak kecil” balasnya tak mau kalah.

                Liftpun berhenti tepat dilantai lima, aku terkejut ternyata dia juga turun dilantau yang sama tempat ruangan rawatku berada. Kami membuang muka satu sama lain kemudian berjalan menuju arah yang berlawanan. Iseng iseng aku menolehkan kepalaku dan ternyata ajjushi tua itu juga sedang melihatku , aku menjulurkan lidahku mengejeknya dia menatapku dengan sengit. Hahaha, dia namja yang lucu.

                Aku tertawa lalu membuka pintu ruangan tempat aku dirawat, kyuhyun oppa menatapku dengan bingung lalu duduk disofa tepat disampingku.

                “wae? Apa terjadi sesuatu padamu?” tanyanya dengan bingung, aku menatapnya kemudian tertawa dengan puas membuatnya semakin bingung.

                “Ani, tidak terjadi apapun padaku oppa”

===========

                Keesokan harinya selesai sarapan pagi aku menunggu Dr.Kim, aneh tidak biasanya ia telat. Sudah satu jam aku menunggunya tapi Dr.Kim juga belum datang.

                “Mianhae, saya telat” ucap seseorang yang masuk kedalam ruanganku, aku mendongakan kepalaku sambil tersenyum.

                “Gweanchana Dr.K… eh?”

                “Kau/Kau!!”

                “Ajjusi?”

                “Aigo, bagaimana bisa kau memakai seragam Dr.Kim? ah, kau dokter gadungan ya? Ayo cepat mengaku!!” ucapku sambil menunjuk tepat dihidungnya.

                “Ani, ini seragamku… Lihat!!” balasnya sambil menunjukan name tagnya yang terletak dikanan seragam dokternya.

                “Choi Minho?” dia menganguk sambil tersenyum.

                “Karna Dr.Kim hari ini berhalangan hadir maka saya yang akan mengantikannya” ucap namja yang bernama minho itu dengan bangga.

                “Anio, aku tidak mau” balasku.

                “Ya!! Anak kecil, aigo.. anak ini benar benar menyebalkan” katanya sambi menatapku dengan kesal.

                “Mwo? Anak kecil?”

                Tiba tiba eomma dan appa masuk kedalam ruangan ini, eomma membawa sekeranjang buah.

                “Anyeng Dr.Choi, ku dengar kau yang akan mengantikan posisi Dr.Kim untuk merawat jihyun ya?” tanya eomma ramah sambil membungku dengan sopan dan tersenyum ramah.

                “Ah… Ne saya yang akan mengantikan posisi Dr.Kim untuk sementara waktu” balasnya sambil tersenyum ramah.

                “Ku dengar kau masih berkuliah? Betulkah itu?” tanya appa, namja itu menganguk sambil tersenyum.

                “Wah, daebak…” ucap appa sambil menepuk pelan bahu namja yang akan mengantikan Dr.Kim untuk merawat kondisiku.

                “eomma, aku tidak mau jika Dr.Kim diganti dengan ajjushi ini” ucapku sambil menunjuk namja itu, namja itu hanya tersenyum. Sok manis sekali.

                “Wae? Aigo,  Jihyunie umurnya masih muda… ia seumuran dengan oppamu” balas eomma sambil tersenyum.

                “Pokoknya jihyun gak mau!” ucapku dengan tegas sambil cemberut.

                “Dr.Choi kami serahkan semuanya padamu, kami percaya padamu… jadi lakukan yang terbaik untuk jihyun” ucap appa, apa? Aigo, menyebalkan. Aku menatap tidak suka kearah appa. Sedangkan Dr.Choi itu tersenyum kearah appa, ia menatapku sambil tersenyum mengejek.

                “Hari yang menyebalkan akan segera datang”

                Dr.Choi, aish… namja menyebalkan itu masuk kedalam kamarku. Ia datang bersama seorang suster yang membawa sarapan pagiku.

                “Gomawo, suster lee..” ucap Dr.Choi ramah sambil tersenyum, suster itu membalas senyuman Dr.Choi sambil menunduk malu. Aish, kenapa suster lee semangat sekali tidak biasanya.

                “Baiklah saya akan memeriksa kondisimu, anak kecil…” ucapnya, aku hany mengikuti kemauannya dengan malas. Ia tersenyum senang.

                Setelah memeriksa kondisiku, ia mencatat hasilnya disebuah kertas sama seperti apa yang dilakukan Dr.Kim.

                “Sekarang ayo kita sarapan!” ucapnya, aku menatapnya dengan malas.

                “Ani, aku belum lapar” jawabku singkat.

                “Ya! Tidak bisa, kau harus makan sekarang!” ucapnya dengan tegas. Saat ia akan mendekat kearahku, aku berjalan menjauh darinya. Al hasil, kami berlari lari didalam ruangan ini haha.

                “Ya!! Cepatlah makan, nanti kondisimu menurun” kata Dr.Choi dengan kelelahan.

                “Aku mau makan, asal….”

                “Ya!! Dr.Choi jangan dicopot hidung badutnya haha” ucapku sambil tertawa dengan puas, dengan pasrahnya namja itu mengikutiku sambil memasukan sesendok demi sesendok bubur kedalam mulutku.

                “Ya!! Kau ingin memalukanku eoh?” ucapnya dengan kesal, sekarang kami sedang duduk bersama disekitar pohon pohon sakura yang berada ditaman rumah sakit ini.

                “haha, kau mau aku mengadukanmu pada eomma dan appaku?” ancamku, mata bulatnya membesar sepertinya ia terkejut detik kemudian ia mengeleng dan tersenyum kepadaku haha. Senangnya punya dokter seperti ini.

==========

                “Dr. Choi…” pangilku, aku sedang duduk bersamanya ditempat favoritku. Ditaman rumah sakit dan tentunya disekitar pohon pohon sakura yang berbaris dengan rapi, aigo… cantiknya.

                “wae?” tanyanya yang serius membaca sebuah buku.

                “Aku mau ice cream” jawabku, dia tersentak dan menatapku dengan terkejut.

                “Ya!! Tidak boleh” balasanya.

                “Ayolah, aku merindukan makanan manis satu itu” ucapku dengan manja sambil menatapnya dengan memohon, dengan berat hati ia menganguk.

                Lima belas menit, akhirnya dokter itu datang dengan membawa tiga ice cream. Rasa coklat, vanila juga strawberry.

                “Aku tidak tau kau sukanya rasa apa, maka dari itu aku membelinya semua untukmu” ucapnya.

                “Gomawo Dr. Choi…” balasku dengan semangat sambil memeluknya lalu mengambil tiga buah ice cream itu dan melahapnya dengan semangat.

                “Mashita…”

===========

                “Jihyun-ah” pangil oppaku.

                “wae?” tanyaku sambil tersenyum.

                “Oppa, Perhatikan belakangan ini kamu suka senyam senyum sendiri… wae?” tanya kyuhyun oppa penasaran, aku hanya tersenyum.

                “eomma, apa kau melihat Dr.Choi?” tanyaku saat melihat eomma barusan masuk kedalam ruanganku.

                “Dr.Choi? Ne, eomma melihatnya. Wae? Bukannya ia sudah memeriksamu pagi tadi?” tanya eomma bingung.

                “Dia ada dimana?”

                “Ditaman rumah sakit”

                Dengan cepat aku keluar dari ruanganku, eomma dan appa menatapku dengan bingung.

                “Dr.Choi…” Pangilku.

                “Jihyunie, wae?” tanyanya sambil memainkan ponselnya.

                “Ya!! Berhenti memangilku seperti itu” ucapku dengan kesal.

                “Wae? Bukannya eommamu sering memangilmu dengan sebutan yang seperti itu?” ucap Dr.Choi sambil terkekeh.

                “Kau sedang apa?” tanyaku pensaran.

                “Ah, aku sedang mengambil foto kupu kupu yang cantik ditaman ini” jawabnya sambil mengarahkan ponselnya ke kupu kupu yang hingap disekitar pohon. Aku hanya menganguk sambil ber oh ria.

                “Jihyunie…”

                “Wae?”

                Sekilas cahaya mengenai indra penglihatanku, Dr.Choi tertawa dengan puas.

                “Ya!! Berhenti mengambil fotoku” ucapku sambil cemberut.

                Dengan jahilnya, ia kembali mengarahkan kamera ponselnya kearahku.

                “Dapat, aigo… lucunya” ucap Dr.Choi sambil tertawa dengan puas.

                “Ya!! Dr.Choi Delete fotoku sekarang!!”

 

Minho POV

                Aku terkejut saat aku sedang membaca sebuah buku ditaman, terasa berat sekali bahuku saat ku tolehkan wajahku aku melihat jihyun sedang tertidur dengan pulasnya. Yeppo, dia sangat cantik jika seperti ini.

                “Gomawo Dr.Choi kau sudah mengendong jihyun sejauh itu” ucap eomma jihyun dengan ramah, aku hanya tersenyum lalu pamit.

                Keesokan harinya, Jihyun akan keluar dari Rumah sakit ini. Jujur saja, aku merasa sedikit sedih karna kehilangan seorang pasien selucu dia. Tapi, aku jauh lebih senang karna ia sudah sembuh total.

                “Dr.Choi, bolehkan aku mengunjungimu kapan saja?” tanyanya dengan polosnya, aigo.. anak ini benar benar mengemaskan. Walau usianya jauh lebih muda dariku sekitar tiga tahun tapi hebatnya kami bisa dekat seperti ini.

                “Tentu, aku akan menunggumu jihyunie” jawabku sambil tersenyum.

                “Jinja?” tanyanya dengan semangat dan senang, aku menanguk. Dia memeluku dengan cepat sambil melompat lompat dengan senang.

============

                Hari hari berjalan begitu cepat, sudah satu minggu jihyun keluar dari rumah sakit ini itu bearti sudah satu minggu juga ia dengan setianya membawakanku bekal makan siang.

                “Dr.Choi, hari ini eomma memasak nasi goreng dan daging apa kau mau? Ayo kita makan bersama” ucapnya dengan semangat, jujur aku tidak tega untuk menolaknya tapi apa dia tidak berpikir aku ini sibuk dan sibuk. Aish…

                “Wae? Dr.Choi apa kau tidak suka?” tanya dengan sedih.

                “Mianhae jihyun, aku pikir kau tidak harus mengunjungiku setiap harinya karna aku sangat sibuk menjelang akhir pelatihanku ini. Aku tidak ingin…”

                “Apa aku mengangumu? Baiklah aku tidak akan datang siang hari lagi” katanya, syukurlah dia bisa mengerti akan hal itu.

                Malam harinya saat aku akan pulang aku terkejut ketika melihat jihyun sedang duduk ditaman rumah sakit, dengan cepat aku menghampirinya.

                “Dr.Choi…” katanya dengan senang.

                “Jihyun? Ngapain kamu kesini?” tanyaku dengan terkejut.

                “Menunggumu” jawabnya dengan polos.

                “Aigo, apa tidak ada kerjaan lain selain menemuiku?” tanyaku dengan kesal, dia hanya tersenyum dengan lebar.

=============

                Aku dan Nana berjalan bersama melewati lorong lorong rumah sakit, dari arah taman jihyun melambaikan tangannya dan berlari menghampiriku.

                “Dr.Choi aku da…. eh” katanya dengan bingung.

                “Minho-sshi, siapa dia?” tanya nana, aku hanya menatap jihyun dengan malas.

                “Ah, aku ingat kau pasien yang dirawat minho dulukan?” tanya nana, jihyun menganguk.

                “Anyeong eonni, jihyun imnida” sapanya dengan ramah dengan nana, nana menatap jihyun tidak suka.

                “Ya!! Anak kecil, apa tidak ada kerjaanmu selain menemui minho, minho dan minho. Apa kau tau dia itu sibuk?” bentak nana dengan tajam, jihyun terkejut ia meremas ujung dressnya.

                “Mianhae eonni, aku pikir minho oppa tidak…”

                “tentu saja aku keberatan” jawabku dengan cepat, aku kesal karna jihyun selalu bergantung padaku dan aku tidak suka akhir akhir ini sikapnya sangat manja.

                “ta…tapi”

                “Jangan pernah temui minho mulai hari ini, karna aku yeojachingunya…” ucap nana dengan tegas, jihyun tersentak ia menatap tak percaya kearah nana. Jihyun menatapku, wajahnya berubah merah.

                “Mianhae…” ucapnya sambil berlari dengan cepat, aku tau ia pasti sedih dan sekarang mungkin ia sedang menangis. Tapi, akibat sikapnya yang selalu menemuiku membuat teman teman mengejeku yang suka sama anak dibawah umur sepertinya. Menjadi mahasiswa belum tentu dewasa, bukannya ia belum lama menjabat sebagai seorang mahasiswa?

==========

                Aku sedang duduk termenung dikursi salah satu ruangan, tiba tiba datanglah taemin menepuk pelan bahuku.

                “Kemana pacar SMA mu itu? haha” ejek taemin, aku memandang tidak suka kearahnya.

                “Dia seorang mahasiswa, bukan anak SMA” jawabku.

                “tetap saja, aku pikir kau mulai mencintai anak dibawah umur itu ckck” ejek taemin sambil menepuk pelan bahuku, apa? Mencintaimu? Tidak mungkin!.

                Aku melangkahkan kakiku menuju taman rumah sakit, memandangi kursi taman yang kosong. Biasanya, jihyun dan aku akan menghabiskan waktu bersama disana. Walaupun terkadang aku malas mendengar ceritanya tapi tetap saja anak itu dengan semangatnya bercerita mengenai musim semi .

                “Kemana kamu jihyunie?”

                “Minho-sshi?” sapa nana, aku menatapnya dia mengajaku duduk disalah satu kursi taman yang kosong.

                “Sudah satu minggu anak kecil itu tidak mengunjungimu, apa kau senang?” tanya nana sambil menatapku. Aku hanya diam, jujur saja aku juga tidak tauh harus menjawab apa.

                “Minho-sshi, aku… aku mencintaimu” ucapnya, aku tersentak dan menatapnya dengan terkejut dia tersenyum kearahku sambil menunduk.

==========

                Aku melangkahkan kakiku menuju taman kota, musim semi akan berakhir lusa. Aku baru teringat jika jihyun sangat menyukai musim semi, aku hanya tersenyum mengingat pertemuan pertamaku dengan anak itu. entahlah, Apa mungkin aku merindukannya? Mungkin saja, dan… apa mungkin aku suka padanya? Aigo, aku saja tidak tau.

                “Jihyunie” gumamku sambil memandang pohon sakura, bunga bunga sakura yang cantik itu terjatuh dari atas pohonnya.

                Aku mengambil salah satu bunga yang terjatuh dijalan, memutar mutar bunganya… aku baru sadar jika bunga sakura ini sangat cantik dan warnanya juga sangat menarik sama seperti jihyun, ia cantik dan sifatnya yang semangat juga ceria itulah yang aku suka darinya.

                Aku menatap lurus kedepan, tepat didepanku dengan jarak yang cukup jauh aku menatap seorang yeoja yang sedang diam berdiri disana sambil menatapku dengan wajahnya yang cantik.

                “jihyun…” aku menghampirinya, kedua bola matanya yang indah menatapku dengan serius.

                “Saranghae” ucapnya, aku tersenyum lalu memeluknya.

                “Nado saranghae”

                Bunga bunga sakura yang berguguran dijalan menjadi saksi cinta kami, selamat tinggal musim semi dan selamat tinggal bunga sakura aku mencintaimu, seperti aku mencintai jihyunku ini.

-END-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s