Make a Happiness | FF Peserta Lomba

 

Kang-Min-Hyuk-1

Author (FB & Twitter): Lia Agustin (Lia Agustin / @lia_agustiin)

Title : Make a Happiness

Genre : General, Romance

Main Cast : Kang Minhyuk (CN BlUE), Park Bo Young (Actress)

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

.

“Aku … tidak bahagia.“

Tiga kata yang terluncur dari bibir Bo Young membuat Minhyuk menoleh ke arah gadis itu dengan kerutan di dahi. Buku tebal yang dijadikannya sumber membuat esai pelajaran sastra Inggrisnya dianggurkan dulu sejenak di atas meja. Pulpen di tangan kanannya pun ikut membantingkan diri.

“Aku iri padamu,“lanjut gadis itu dengan tatapan muram.

Minhyuk kembali menggenggam pulpen hitamnya, melanjutkan tulisannya di atas kertas double-folio. Sebelah sudut dari bibirnya sedikit terangkat, tetapi dia mencoba untuk se-serius dan se-fokus mungkin. Sehingga tentu saja Bo Young yang ada di hadapannya menggerutu tak jelas, mengeluhkan sifat yang sudah menjadi bawaan lelaki itu sejak lahir. Apatis.

Menyadari bahwa gadis bertubuh mungil itu akan meledak, maka Minhyuk berhenti menulis, namun pandangannya masih berputar-putar di sekitaran area tulisan-tulisan super kecil di buku yang diketahui berjudul Cultural and Histories of England itu.

“Biar kusimpulkan dari pernyataanmu barusan. Kau tidak bahagia karena kau iri padaku?“ Minhyuk sepenuhnya telah memutar bola matanya, menatap lurus-lurus ke mata gadis di hadapannya.

“Bukan seperti itu,“ Bo Young menggembungkan pipi, “aku hanya iri padamu yang bisa nampaknya begitu bahagia.“

Minhyuk terkekeh. “Oh, jadi begitukah?“ tanyanya dengan alis yang terangkat jenaka. Senyum manis terkembang di wajahnya.

Bo Young menganggukkan kepalanya dalam durasi tiga detik. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya di depan meja kafe yang rencananya akan mereka sewa selama beberapa jam sebelum kafe buka. Menatap Minhyuk penuh harap, karena ia punya permintaan yang sebentar lagi akan dia ajukan.

“Ajari aku, bagaimana caranya untuk mendapatkan kebahagiaan.“

Minhyuk menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit kafe. Sesungguhnya, ia sedang menghindari tatapan gadis itu. Ia memejamkan matanya barang sejenak, tapi tak butuh lama untuk menunggu Minhyuk kembali tegap dan terkekeh geli.

“Aku tak tahu darimana kau bisa ber-spekulasi bahwa aku bahagia. Tetapi, sepertinya tak ada salahnya juga aku mencoba ‘mengajarimu’.“

Bo Young tersenyum lebar. “Terima kasih. Kapan kita akan mulai?“

“Tentu saja mulai detik ini.“

Tiba-tiba suara seseorang menyela percakapan mereka yang sungguh menyenangkan bagi Bo Young. Minhyuk segera meloncat dari tempat duduknya seraya membereskan buku-buku serta peralatannya yang bertebaran di atas meja. Minhyuk merapikan seragam krim-nya sejenak sebelum akhirnya melirik sekilas ke arah Bo Young.

“Mulailah dari tidak-banyak-pikiran.“

Bo Young terdiam membisu saat Minhyuk meninggalkannya dan bergabung bersama orang-orang yang berseragam sama dengannya di balik konter kafe. Lihatlah Minhyuk, dia selalu berlagak bahwa dia adalah orang paling bahagia se-jagat raya. Wajahnya berseri-seri, tersenyum lebar sepanjang hari, seperti tak pernah ada beban dalam hidupnya. Minhyuk hanya pintar menyembunyikan semua kemelut masalahnya, dan itulah yang membuatnya bahagia.

Bo Young iri sekaligus benci pada sikap Minhyuk itu. Kenapa dia bisa melakukan hal itu?

Saat Bo Young akan mengubah sisi papan ‘close’ menjadi ‘open’ di depan  pintu kafe, ia kembali mendesah. Telinganya mendengar suara tegas yang diyakini milik bosnya, tengah membentak-bentak. Bo Young berbalik badan, dan dilihatlah Minhyuk yang menjadi korban keganasan kemarahan pertama pagi ini. Minhyuk hanya tertunduk, tapi kemudian segera ceria dan kembali tersenyum.

Minhyuk … apakah berat untuk menahan semuanya?

Apa begitu sulit untuk menjadi bahagia?

.

Setiap bangun pagi, alih-alih mengucapkan doa pagi hari atau bermeditasi untuk menenangkan pikiran, gadis bernama Bo Young itu justru mengeluh, menggerutu dan menyerapah. Mengeluhkan tagihan listrik, tagihan telepon, dan tagihan sewa apertemen yang masih ditunggaknya. Belum lagi biaya kuliah semester ketiga-nya yang masih jalan di tempat. Hidup itu sulit. Sungguh. Dan Bo Young tak pernah sekali pun memimpikan hal-hal yang tak menyenangkan seperti ini terjadi dalam kehidupannya.

Hidupnya tak pernah tenang, selalu diliputi kegelisahan tiada tara. Tugas-tugas kuliah yang turut membuatnya stress, tetangga sebelah apartemennya yang super menyebalkan, ketidakmampuannya untuk sekedar berjalan-jalan santai dan berbelanja pakaian bersama teman-temannya, serta tingkat kelelahannya akibat bekerja paruh waktu di sebuah kafe yang pemiliknya ternyata seorang pria tempramental. Ingin sekali ia menenggelamkan dirinya dan tak lagi menimbulkan dirinya di Sungai Han.

Sebenarnya, untuk seorang gadis berusia duapuluh satu tahun, jumlah pemikirannya memang kelewat batas untuk ditampung di otaknya yang tak seberapa besar. Bo Young selalu merasa ada saja sesuatu hal yang harus ia pikirkan, entah penting atau tidak, tapi semuanya begitu mengganggu.

Mungkin tak akan menjadi seperti itu jika saja orangtuanya masih bernapas dan hidup. Gadis itu merasa hidupnya sungguh-sungguh berat, tapi semua jadi berbeda ketika ia bertemu Minhyuk di semester keduanya ia berkuliah, bertemu di kelas Sastra Inggris yang sebenarnya merupakan kelas-salah-pilih Bo Young.

Bukan berarti ia langsung bisa merasakan kebahagiaan berkat bertemu dengan Minhyuk. Justru, ada impresi berbeda yang pria itu berikan tentang sesuatu yang berembel-embel kebahagiaan. Minhyuk hanya mengucapkan hal yang biasa-biasa saja padanya, tapi Bo Young tahu dia adalah manusia yang bahagia dari raut wajahnya yang tak dibuat-buat. Para lelaki penguasa kampus biasanya suka mengolok-olok orang macam Minhyuk, tetapi mereka tak pernah sanggup membuat Minhyuk marah ataupun dengki. Minhyuk tak pernah melawan. Ia hanya tersenyum penuh arti, walau bibirnya bonyok karena diberi bogem mentah. Dan terakhir berucap pada dirinya sendiri namun sangat keras,“aku kasihan padamu.“ Kumpulan lelaki jahat yang memukulinya tak mengerti, namun wajah mereka merah padam dan akhirnya menarik lengan pakaian Minhyuk dan kembali meninjunya. Namun Minhyuk masih bisa berkata,“Aku kasihan padamu, untuk kedua kalinya.“

Bo Young pernah melihat kejadian itu, jauh sebelum ia benar-benar mengenal Minhyuk. Bo Young baru sadar bahwa hidup Minhyuk jauh dari kata baik.

Minhyuk pernah tiba-tiba datang menghampiri Bo Young yang sedang termenung di kelas sendirian, bertanya pada gadis itu apakah dia punya pekerjaan paruh waktu. Bo Young langsung mengangguk dan mengatakan tempat di mana ia bekerja di pagi hari sebelum pergi kuliah. Minhyuk berkata ia butuh pekerjaan dan bertanya apakah ia boleh bekerja di kafe itu juga? Bo Young langsung mengangguk setelah menyadari bagian depan sneakers Minhyuk sudah terbelah dua. Minhyuk ikut menatap sneakers-nya dan menggaruk kepalanya. “Ya. Aku memang berniat membeli sneakers baru.“

.

.

“Kau tak mendengarkan kata-kataku tadi,“ tuding Minhyuk yang entah kapan bisa muncul tiba-tiba di kelas Matematika-nya yang sudah dimulai sejak beberapa belas menit yang lalu.

Bo Young berjengit karena lamunannya buyar. Namun ia lebih terkejut lagi mendapati Minhyuk ada di sampingnya. “Kenapa kau masuk kelas ini? Bagaimana kelas Biologimu?“

Minhyuk terkekeh. “Aku belum mengerjakan tugas yang diberikan dan kabur ke tempat ini. Hei, jangan alihkan pembicaraan. Kau sedang memikirkan apa? Bukankah kusuruh agar jangan terlalu memikirkan banyak hal? Otak kerdilmu itu nanti bisa meledak.“

“Walaupun aku berusaha untuk tidak memikirkannya, aku juga tidak akan bisa, Minhyuk-ah.“

Minhyuk langsung terdiam mendengar nada dingin dan menusuk dari Bo Young. Minhyuk memilih untuk memandang papan tulis berukuran raksasa dan mendengarkan Mr. Stuart yang sedang menerangkan soal statistik.

“Jika kau tak bisa menghentikan otakmu untuk banyak berpikir, maka sederhanakanlah pemikiran-pemikiranmu itu. Hanya menyederhanakan.“

Bo Young menoleh ke arah Minhyuk yang sedang fokus mengerjakan esai Sastra Inggrisnya yang belum selesai. Bo Young tahu Minhyuk memang tak main-main untuk mengajarinya berbahagia, tapi gadis itu merasa butuh banyak waktu untuk terbiasa.

.

“Sederhana.“

Bo Young menekankan satu kata itu di otaknya, tapi nampaknya tak memberikan efek berarti. Malahan kepalanya tambah pusing karena diberikan beban baru.

Minhyuk kembali menoel pundak Bo Young, ingin membuat gadis itu menoleh. “Kau sedang menyederhanakan pemikiranmu?“

Bo Young memutar bola matanya. “Iya. Dan itu tambah memusingkan.“

Minhyuk tersenyum. “Kau tak tahu caranya. Akan kuberikan contoh. Misalkan kau punya banyak tunggakan, kau harus berpikir bisa membayarnya dengan cara bekerja lebih giat. Lalu tetanggamu yang berisik misalnya, berpikirlah bahwa kau bisa kapan saja menghentikannya dengan meninju rahang orang itu setelah dia membukakan pintunya kala kau mengetuk. Kau tak punya uang untuk berbelanja dan bersenang-senang. Berpikirlah bahwa hal-hal itu hanyalah menghabiskan uang, dan berbanggalah diri di hadapan teman-temanmu karena daripada menghabiskan uang, kau justru menghasilkan uang. Aku rasa yang terakhir ini mirip dengan berpikir positif. Sesungguhnya berpikir sederhana dan positif itu hampir mirip.“

Minhyuk berbicara dengan cepat, tapi Bo Young sangat mengerti. Bo Young tersenyum, bersyukur lelaki seperti Minhyuk turut ada di dalam kehidupannya. Sebelum Bo Young mengucapkan terima kasih, sebuah spidol menghantam kepala Minhyuk.

“Hey you! Re-explain about my statement about the cause of death of Lady Diana.“

Minhyuk mengusap-usap kepalanya sebelum memberikan jawabannya dengan penuh kepercayaan diri dan lancar. Sastra Inggris memang kesukaan nomor satu Minhyuk.

.

Bo Young langsung menghantamkan tubuhnya yang lelah di atas kasurnya yang keras di apartemen kecil sesaknya. Suara musik rock yang seakan bisa membuat gempa bumi itu masih saja berdenging memekikkan telinga seluruh penguni apartemen. Tapi anehnya tidak ada yang berani menegurnya. Bo Young tercenung dan mencoba mempraktekkan apa yang Minhyuk bilang. Mengetuk pintu tetangga sebelahnya, meninju rahangnya jika dia tak juga mau menurut untuk mengecilkan volume speakernya. Namun andaikan sang tetangga sebelahnya adalah pemilik apartemen ini atau apapun yang berpengaruh, dia bisa ditendang mentah-mentah.

Bo Young tiba-tiba mengingat sesuatu dan langsung duduk di hadapan meja kayu dengan lampu kecil tersampir di sana. Ia mengambil secarik kertas tulisan tangan Minhyuk yang berisikan tiga hal yang biasanya suka Minhyuk lakukan untuk bahagia – atau setidaknya cukup membuat hidup tenang.

1. Jangan terlalu mengkhawatirkan hari esok.

Bo Young sering berpikir setiap saat, apakah ia bisa menyesaikan perkuliahannya jika hidupnya seperti ini melulu. Dia tahu masa kelulusan itu masih cukup lama, dan dia suka menambah beban pikiran itu ke beban pikirannya hari ini. Ya, memang dia yang salah, dan hal ini memang benar adanya. Minhyuk bilang, nasib seseorang tidak ada yang tahu. Bisa saja kan tiba-tiba Bo Young menemukan uang dua puluh juta won di jalan atau ada seorang bangsawan yang tiba-tiba mengajaknya menikah hingga ia tak perlu memikirkan kondisi keuangannya? Siapa tahu.

2. Berfokuslah pada hal-hal baik. Kalau kau sedang gundah, buatlah daftar hal-hal baik yang kau miliki dan syukurilah itu.

Bo Young ingat ia juga belum menyelesaikan tugas kelas Matematikanya. Jika saja sang tetangga sebelah tidak menyetel musik rock yang membahana, maka bisa dipastikan Bo Young akan langsung terlelap sampai besok pagi.

Ketika bosnya di kafe suka memarahinya, maka ia harus bersyukur karena berkatnya lah Minhyuk suka melerai dan membela Bo Young. Ah, iya. Lebih tepatnya Bo Young senang karena dia punya Minhyuk.

3. Sewaktu kau resah, ceritakanlah masalahmu kepada orang yang bisa menghiburmu.

Minhyuk. Hanya lelaki itulah yang tertera jelas di balik otak Bo Young. Gadis itu tersenyum mengingat Minhyuk yang suka menyumpalinya dengan kata-kata bijaksana, dan betapa perhatiannya lelaki itu padanya. Minhyuk adalah sang penghibur jenius nomor satu di hatinya. Dan mungkin pencuri hatinya? Oh, Bo Young, apa yang kau pikirkan?

.

Keesokan harinya Bo Young bilang bahwa hatinya sudah cukup tenteram berkat Minhyuk – sebenarnya bukan sepenuhnya atas nasihat Minhyuk.

Minhyuk begitu lega dan hanya tersenyum memikat.

“Tetapi aku masih iri padamu.“

Minhyuk yang baru saja menyelesaikan cucian piring ketiganya memandang Bo Young heran. “Karena aku masih nampak terlalu bahagia?“

“Ya. Aku mau tahu caranya memendam kesusahan dan mengutamakan kebahagiaan.“

“Kau salah jika berpikir aku memendam masalahku. Aku hanya melepasnya dan sedikit trik-triknya sudah kuberikan padamu, kan?“ Minhyuk mencuci piring keempat.

“Iya sih, tapi … rasanya masih kurang.“

“Kurang? Kenapa begitu?“ Piring kotor kelima dicomot oleh Minhyuk.

“Karena aku belum mendapatkan sumber kebahagiaannya.“

Alis Minhyuk mengernyit. “Hei, apa maksudmu?“

“Sumber kebahagiaanku itu sedang mencuci piring-piring kotor, dan menganggap piring-piring itu lebih enak dipandang daripada gadis yang berdiri tak jauh darinya.“

Piring ketujuh, terjatuh dari tangan Minhyuk. Ia menatap Bo Young tak berkedip.

“Jadilah pelengkap kebahagiaanku. Aku mencintaimu.“

Bo Young langsung berbalik dengan ujung hidungnya yang merah. Ia berlari cepat-cepat keluar dari dapur kafe.

Minhyuk mengambil piring ketujuh yang dijatuhkannya, dan tersenyum miring. “Ada-ada saja gadis itu.“

.

“Kebahagiaan bukan untuk didapatkan, tapi kebahagiaan datang karena diciptakan.”

FIN

2 thoughts on “Make a Happiness | FF Peserta Lomba

  1. Keren”..aq suka gaya penulisan.a yg gak bnyak dialog tpi bisa mnjelaskan keadaan yg terjadi…
    Tpi knpa menggantung bgini? Prasaan mnyuk ke bo young gmna??? Aiiisshhh pe-na-sa-ran😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s