Like Rain | FF Peserta Lomba

 

leejongsuk4

Author : https://www.facebook.com/dek.chuanthinie

Tittle: Like Rain

Genre: Au, Romance, General.

Cast’s:

o   Lee Jong Suk

o   Han Hye Ah

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

 

 

Annyeong ^^

 

 

 

Rintik hujan mulai membasahi dahan yang kering akibat musim kemarau. Memberikan setetes air bagi sang pohon agar tetap bisa bertahan hidup di tengah terik mentari yang begitu menyengat kulit. Di tengah derasnya hujan yang mulai membasahi jalanan Kota Seoul, seorang yeoja berlari kecil menghindari hujaman hujan yang akan membasahi kemeja birunya. Dia Han Hye Ah, yeoja yang saat ini sedang bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Korea. Bekerja sebagai seorang sekertaris sang direktur membuatnya harus bekerja extra. Termasuk menghadapi sang direktur yang masuk katagori namja pendiam dan tidak banyak bicara.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” Teriak seorang namja dari dalam mobil mewah yang mendadak berhenti di depan Hye Ah. Dengan kaca mata hitamnya dan setelan jas yang melekat di tubuhnya, membuat namja bermarga Lee itu nampak gagah.

 

Hye Ah menyipitkan mata onyx nya guna memastikan siapa gerangan namja itu. Menelisik dari gaya rambutnya dan nada bicaranya membuat Hye Ah begitu mudah mengetahui identitas si namja. “Anda pulang saja Lee Sajangnim. Masih ada hal yang harus aku selesaikan dahulu.” Tolak Hye Ah sedikit berteriak.

 

“Keras kepala.” Gumam Jong Suk geram. Ia melepas kaca mata hitamnya lalu turun dari mobil menggunakan payung guna melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan yang sudah pasti sangat-sangat dingin.

 

“Ikut aku.” Ucap Jong Suk dengan menarik paksa tangan Hye Ah hingga yeoja itu hampir jatuh terjungkal akibat heelsnya masuk di antara troatoar jalan.

 

“Lee Sajangnim. Apa yang anda lakukan? Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Hye Ah melepas genggaman tangan Jong Suk yang begitu kuat. Jong Suk yang sedang berdiri di depan Hye Ah sontak menoleh ke belakang. Ia merasa apa yang ada dalam genggamannya terlepas. Menatap lekat mata yeoja yang menjabat sebagai Sekertarisnya itu.

 

Membiaran tubuhnya diguyur air hujan yang turun dengan lebatnya seolah tak memberi ampun pada Hye Ah yang masih betah berdiri tanpa payung. Tubuhnya basah oleh air hujan. Sementara Jong Suk masih berdiri mematung payung tadi ada dalam genggamannya yang entah sejak kapan terlepas dari tangannya.

 

“Anda bisa sakit Lee Sajangnim.” Ucap Hye Ah mengambil payung berwarna merah lalu memayungi tubuh Jong Suk yang hampir sama dengannya, basah.

 

“Kenapa kau seperti ini pada ku?” Lirih Jong Suk dengan bibir bergetar. Menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang  membuatnya tidak mampu mengontrol emosinya saat ini.

 

Hye Ah tersenyum manis ke arah Jong Suk, masih memayungi Jong Suk. “Karena aku bawahan anda Tuan.” Sahut Hye Ah dengan nada suara yang sangat lembut. Menggetarkan gendang telinga Jong Suk yang seakan mati rasa. Mengingat kembali cinta pertamanya yang telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Menyisakan luka yang teramat dalam di hatinya. Dan sekarang ia menemukan sosok yeoja yang mirip dengan cinta pertamanya itu.

 

“Kau memikirkan ku?” Tanya Jong Suk merampas payung yang sejak tadi ada di tangan Hye Ah, membuangnya ke sembarang tempat. Dan sekarang tubuh mereka kembali di guyur air hujan yang turun begitu deras.

Tatapan mata Hye Ah berubah sendu. Merasakan perubahan yang begitu cepat dari Jong Suk. Namja yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Lee Jong Suk yang ia kenal, melainkan Jong Suk orang lain. Hye Ah hanya mampu menahan gumpalan cairan bening yang mulai bergejolak dan ingin keluar. “Apa maksud anda tuan?” Tanya Hye Ah yang tidak mengerti dengan apa yang sedang Jong Suk bicarakan.

 

“Kenapa ku memikirkan ku? Kenapa kau selalu mengganggu pikiran ku? Melihat senyum mu pada client luar negeri membuat hati ku sakit. Sampai kapan kau akan menyiksa ku seperti ini? Berhenti bersikap seperti ini pada ku Han Hye Ah.” Kata Jong Suk dengan bibir bergetar. Matanya memerah, meski tidak telihat jelas air mata yang menetes dari matanya akibat terhapus oleh air hujan yang masih setia membasahi kedua insan ini.

 

‘Siapa pun. Bunuh aku sekarang!’ batin Hye Ah. Getaran cinta sebenarnya sudah pernah ia rasakan dari sikap Jong Suk yang begitu baik padanya. Menanggapi setiap pertanyaanya dengan sangat baik, berbeda jika Jong Suk berhadapan dengan pegawai lain. Siakpnya akan berubah 180 derajat. “Apa yang anda bicarakan tuan Lee?” Ucap Hye Ah seolah ia tidak mengerti.

 

Jong Suk menyunggingkan senyumnya yang mampu membuat para yeoja tunduk tak berdaya. Hujan seakan lelah menemani kedua insan ini, ia memilih berhenti dan menyisakan tetesan airnya di dahan yang nampak basah. Permainan yang ia buat baru di mulai, sebuah hal yang akan mengikat Hye Ah. “Kau yang memancing kemarahan ku Nona Han.” Ucap Jong Suk kembali menarik paksa tangan Hye Ah. Memaksa yeoja itu memasuki mobil mewahnya.

 

“Tapi tuan. Saya harus pulang.” Tolak Hye Ah –lagi- dengan melapas paksa genggaman tangan Jong Suk pada pergelangan tangannya. Kemarahan Jong Suk sudah mencapai puncak, ia menghempaskan tubuh Hye Ah hingga yeoja itu duduk manis di kursi penumpang.

 

“And~”

 

“Berhenti memanggil ku dengan sebutan itu. Menjijikan.” Potong Jong Suk seraya memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Hye Ah. Sejenak mata keduanya bertemu, betatapan mencoba mencari celah cinta yang mungkin saja mereka pendam.

 

Deru nafas Hye Ah menerpa kulit wajah Jong Suk yang berada beberapa senti di hadapannya. Magnet berdaya kuat seakan menempel di mata mereka. Getaran cinta itu semakin kuat terasa, memaksa mereka mengakuinya. Sorot mata Hye Ah seakan berkata ‘Saranghaeyo Lee Sajangnim!’. Detak jantungnya pun berpacu sangat cepat, berada dalam jarak sedekat ini dengan atasannya membuta otak Hye Ah tidak mampu bekerja dengan baik.

 

“Saranghaeyo.” Bisik Jong Suk dengan suara yang berat dan sukses membuat darah Hye Ah berdesir hebat.  Sebelah alis Hye Ah terangkat ke atas tanda ia ingin memastikan apakah ini benar? Atau hanya mimpi?

 

Jong Suk semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hye Ah, hanya perlu beberapa centi saja untuk membuat bibir mereka menyatu. Menyadari maksud Jong Suk, segera Hye Ah menutup kedua matanya menanti benda kenyal milik Jong Suk menempel di daun bibirnya.  Kecupan yang singkat namun berefek luar biasa pada Hye Ah dan Jong Suk. Merasa bibir Jong Suk mulai menjauh dari bibirnya, Hye Ah kemudian membuka mata onyxnya. Memastika jika Jong Suk masih ada di dalam mobil.

 

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Jong Suk setelah kecupan itu berakhir. Ia melajukan mobilnya menuju apartement mewah yang menjadi rumahnya sekarang. Arah menuju rumah Hye Ah dan apartement Jong Suk berlawanan. “Kenapa kita lewat jalan ini?” Pekik Hye Ah tanpa sadar. Ia terlalu kaget hingga tidak sadar telah memecah konsentrasi Jong Suk.

 

Jong Suk melirik ke arah Hye Ah dengan sinis. “ Kita ke apartement ku. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu.” Terang Jong Suk yang masih fokus menatap jalan.

 

“Kenapa tidak bicara di sini saja, huh?” Bentak Hye Ah kesal. Ia ingin segera sampai di rumah, tapi sekarang seorang namja membawanya kabur tanpa izin dari kedua orang tuanya. Hye Ah seakan lupa sedang berhadapan dengan siapa hingga ia berani membentak Jong Suk.

 

“Tidak mungkin aku membicarakannya di sini. Gaji mu akan ku naikkan dua kali lipat untuk bulan ini.” Ucap Jong Suk yang sudah memarkir mobilnya lalu turun. Meninggalkan Hye Ah sendirian di mobil. ‘Sikapnya berubah lagi!’ Batin Hye Ah kesal.

 

Dengan pakaian yang masih basah kuyup, Jong Suk melangkah memasuki gedung apartement sendirian. Ia baru ingat membawa Hye Ah saat akan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai 15 gedung ini. Segera ia kembali ke mobil, memastika jika Hye Ah masih ada di sana. Seulas senyum menghiasi wajah Jong Suk kala melihat seorang yeoja dengan pipi mengempout duduk manis di mobilnya.

 

“Kenapa kau meninggalkan ku?” Tanya Hye Ah yang segera keluar dari mobil. Pakaiannya tidak jauh berbeda dengan Jong Suk, basah kuyup. Dan sekarang ia tidak membawa baju ganti.

 

“Di rumah ku ada pakaian wanita, kau tenang saja.”  Ucap Jong Suk dengan wajah dinginnya. Ia menutup pintu mobil lalu melangkah duluan menuju apartementnya.

 

“Aku ingin pulang.” Rengek Hye Ah menarik ujung kemeja Jong Suk seperti anak kecil yang meminta lolipop pada ayahnya.

Jong Suk berbalik lalu menarik tangan Hye Ah agar mau mengikuti langkah kakinya. Ia tidak akan melepaskan Hye Ah kali ini. Kesempatan emas seperti ini tidak akan datang dua kali. “Apa yang sebenarnya ada dalam otak mu, huh?” Bentak Hye Ah masih dalam keadaan di seret oleh Jong Suk.

 

Memasuki lift yang kebetulan kosong dan hanya ada mereka berdua saja. Jong Suk melirik Hye Ah sekilas berharap ada ekspresi lain yang bisa ia lihat di wajah Hye Ah. Namun hasilnya nihil, wajah yeoja itu nampak masih menyimpan dendam pada nya. Mata Jong Suk melirik angka yang tertera di dinding lift sudah menunjukkan lantai 4. Segera ia menggenggam tangan Hye Ah. “Aku bisa jalan sendiri Tuan Lee.” Hardik Hye Ah menghempaskan genggaman tangan Jong Suk.

 

“Kau memanggil ku apa tadi?” Tanya Jong Suk yang semakin mendekati Hye Ah hingga yeoja itu tersudutkan tepat di pojok dinding lift. Menyusuri lekukan wajah Hye Ah dengan tangan kanannya.

Hye Ah tersenyum manis ke arah Jong Suk. “Bukan begitu maksud ku, Tu~”

 

Kembali Jong Suk mendaratkan sebuah kecupan di bibir merah Hye Ah yang terasa dingin baginya. Kali ini kecupan yang kemudian menempel cukup lama hingga memaksa Hye Ah menutup matanya. Pada awalnya memang hanya menempel, tetapi sedetik kemudian Jong Suk mulai menggerakkan bibirnya. Melumat bibir yeoja yang kini tengah mengimbangi permainannya. Tangan kanan Jong Suk tak kalah, ia menggerakkan organ penting dalam tubuhnya itu ke atas menelusuri punggung Hye Ah, mendorong tubuh yeoja itu agar semakin menempel dengannya. Detak  jantung Hye Ah berpacu begitu kencang. Kakinya terasa lemas dan tidak kuat berdiri lagi. Tiiiiiing….

 

Bunyi lift terdengar menggema, memaksa Jong Suk menyudahi ciumannya. Beruntung keadaan saat lift terbuka sepi dan hanya ada mereka bedua. Ia kembali menarik Hye Ah keluar dari lift dengan cepat. Ayunan kakinya yang panjang berbading terbalik dengan Hye Ah yang memiliki kaki pendek. Langkah Jong Suk terhenti tepat di depan pintu apartementnya. Menekan beberapa kali deretan angka yang tertempel rapi di dinding dekat pintu, lalu terbukalah pintu. “Ayo masuk!” Ajak Jong Suk menarik tangan Hye Ah.

 

“Kau sudah pulang, eoh?” Tanya seorang yeoja paruh baya begitu melihat putera kesayangannya datang. “Mwo? Kalian kenapa basah begini?” Tanya Eomma Jong Suk khawatir.

 

Gwaenchananyo eomma. Hum, eomma tolong berikan Hye Ah baju Min Young Nonna yang masih ada di sini.” Pinta Jong Suk mendorong Hye Ah yang masih terlihat canggung berhadapan dengan eomma Jong Suk.

 

“Ayo Hye-ya. Aigo, mianhae atas sikap Jong Suk yang kekanak-kanakan. Kau pasti merasa tertekan menjadi yeojachingunya.” Ucap eomma Jong Suk merangkul tubuh Hye Ah yang sedikit menggigil akibat kedinginan.

 

 

Mendengar kata ‘ YeojaChingu’ membuat Hye Ah melepas rangkulan dari eomma Jong Suk yang lembut itu. Beralih menatap Jong Suk yang terlihat biasa saja, seakan tidak terjadi apa-apa. “Apa maksud eomma mu ini?” Ucap Hye Ah tanpa suara ke arah Jong Suk yang sibuk melepas dasi dan juga kemejanya.

Menyadari pandangan mata Hye Ah mengarah padanya, Jong Suk mendongak. Menatap manik mata yeoja yang ia perkenalkan ke keluarganya sebagai calon istrinya. Egois? Memang seperti itulah yang terjadi. Bersama setiap hari bahkan setiap jam membuat Jong Suk merasakan getaran aneh dalam dirinya. Hye Ah yang mengatur semua jadwal Jong Suk termasuk kapan ia harus makan dan juga beristirahat. Seulas senyum setan menghiasi wajah Jong Suk kala melihat ekspresi wajah panik Hye Ah. “Berani bicara macam-macam. Tamatlah riwayat mu.” Sahut Jong Suk sama seperti Hye Ah –tanpa suara- hanya gerakan bibir mereka saja.

 

“Eomma jangan menjatuhkan martabatku di depan sekertaris ku.” Ujar Jong Suk setengah merajuk.

 

Nde Nyonya Lee. Jong Suk oppa orang yang sangat menjaga sikapnya jika di kantor.” Ucap Hye Ah melirik sinis ke arah Jong Suk. Senyum manis sebagai tanda hormat pada calon ibu mertuanya terpaksa Hye Ah keluarkan.

 

Mengerti denga maksud ucapan Hye Ah, Jong Suk tersenyum manis namun dalam hatinya mengucapakan sumpah serapah yang ia  tujukan pada Hye Ah. ‘Kau tidak akan selamat Nona Han’ Batin Jong Suk menyeringai ke arah Hye Ah. Menghidari pertikaian batin semakin besar, Jong Suk memilih meninggalkan dua orang yeoja yang paling  ia cintai di ruang tamu.

 

Kajja! Kita ke kamar Min Young.” Ajak eomma Jong Suk dengan senyum keibuannya. Tanpa berakata apa pun lagi dan hanya mengikuti kemana pun ia di bawa pergi. Memasuki kamar minimalis dengan cat dinding berwarna pink dan segala macam benda berwarna pink menghiasi kamar itu. Sepertinya pemilik kamar ini begitu tergila-gila pada warna pink.

 

“Pakai ini.” Pinta eomma Jong Suk seraya menyodorkan kaos pink polos dan hotpants berwarna senada. Sungguh Hye Ah membenci warna pink, warna pink bukanlah warna favoritnya. Ingin menolak, tidak mungkin. Menerima? Sama saja dengan menyiksa diri sendiri.

 

Nde Nyonya Lee.” Sahut Hye Ah meraih pakaian itu.

 

“Jangan memangil ku seperti itu. Kau akan menjadi istri Jong Suk dan itu artinya kau akan menjadi anakku.” Ucap eomma Jong Suk memukul pelan lengan Hye Ah dengan gemas.

 

“Ah mianhae eommanim. Aku ke kamar mandi sebentar ne.” Pamit Hye Ah seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Bisa di tebak  raut wajahnya sekarang. Panik dan bingung.

 

“Kalau boleh aku tau, ini kamar siapa?” Tanya Hye Ah dengan hati-hati setelah ia kembali dari kamar mandi. Sepertinya kamar ini begitu berarti bagi keluarga Jong Suk.

 

“Ini kamar yeojachingu Jong Suk 3 tahun yang lalu. Mungkin tadi kau sempat mendengar Jong Suk memanggil Min Young dengan sebutan nonna, itu karena umur Min Young memang lebih tua dari Jong Suk. Min Young terkena stroke dan meninggal 3 tahun yang lalu.” Terang eomma Jong Suk yang mulai terlihat berkaca-kaca. Yang menjadi tanda tanya di otak Hye Ah adalah apa mereka sudah menikah? Kenapa tinggal dalam satu rumah?

 

“S..stroke?” Ucap Hye Ah tak percaya. Bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Jong Suk saat itu. Kecewa sudah pasti, sedih dan segala macam rasa keputus asaan pasti menghantui Jong Suk saat itu.

 

Nde. Eomma sempat bingung melihat sikap Jong Suk yang berubah menjadi pendiam dan tertutup. Mereka berencana akan menikah secepatnya, bahkan Jong Suk mengijinkan Min Young tinggal di sini. Tapi Tuhan berkata lain. Ia di panggil lebih cepat, dan itu membuat Jong Suk terpuruk. Setelah eomma mendengar kau menjadi sekertarisnya perlahan sikap Jong Suk mulai berubah, dia tidak lagi tertutup seperti dulu.” Ucap Eomma Jong Suk merangkul Hye Ah yang diam mematung. Apa karena dia Jong Suk berubah? Tapi apa alasannya?

 

“Aku? Tapi kenapa?” Tanya Hye Ah menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bodohnya.

 

“Ah, eomma tidak bisa mengatakannya sekarang. Biar Jong Suk yang mengatakan semuanya nanti. Eomma masak sebentar di dapur. Kau temui dia di kamarnya.” Pinta Eomma mendorong tubuh Hye Ah yang sudah mengenakan pakaian serba pink milik Min Young.

 

Memakai pakaian yang nampak pas ditubuhnya mebuat Hye Ah merasa risih, pasalnya ia membenci pakaian yang terlalu feminim. Dengan mengendap-endap Hye Ah memasuki kamar Jong Suk. “ Jong Suk-ah..” Panggil Hye Ah pelan. Mata onyxnya melihat Jong Suka yang meringkuk di balik selimut tebalnya.

 

“Jong Suk-ah, kau sakit?” Tanya Hye Ah mendekati Jong Suk lalu duduk di tepi ranjang tepat di sebelah tubuh Jong Suk yang berbalut selimut bermotif garis berwarna biru langit itu.

 

“Dingin..” Lirih Jong Suk pelan. Hye Ah menempelkan punggung tangannya di kening Jong Suk, memeriksa keadaan namja tampan itu.

 

“Kau demam.” Pekik Hye Ah begitu merasakan suhu tubuh Jong Suk cukup hangat. Sudah pasti penyebabnya adalah hujan yang mengguyur tubuh Jong Suk tadi. “Kau istirahatlah, aku akan ke dapur sebentar.” Ucap Hye Ah berdiri dari duduknya. Membenarkan selimut yang menutupi tubuh Jong Suk.

 

“Jangan pergi.” Lirih Jong Suk seraya menarik tangan Hye Ah hingga membuat langkah kaki yeoja itu terhenti tiba-tiba. Hye Ah kembali duduk di samping tubuh Jong Suk. Perlahan kedua mata namja berwajah tampan itu terbuka.

 

“Aku hanya ke dapur saja. Aku tidak akan pergi dari sisi mu, oppa!” Ucap Hye Ah memberi pengertian pada Jong Suk.

 

Jong Suk menggeleng pelan. “Temani aku di sini. Aku kedingian.” Lirihnya lagi dengan suara serak. Jong Suk merubah posisi tidurnya menjadi bersandar pada bantal yang bertumpuk-tumpuk. Menarik Hye Ah kedalam dekapannya.

 

Seulas senyum terukir indah di wajah Hye Ah, merasa hangat dalam dekapan Jong Suk membuatnya berani membalas pelukan Jong Suk. Menutup kedua mata onyxnya, menikmati belaian tangan Jong Suk di kepalanya. Kedua tangan Hye Ah melingkar di pinggang Jong Suk, semakin merapatkan posisi mereka. Seakan melupakan sakit yang sedang menyerang Jong Suk. “Diamlah di sini, di sisi ku.” Ucap Jong Suk melonggarkan pelukannya. Menatap manik mata Hye Ah yang terlihat kelelahan.

 

Hye Ah tersenyum mengiyakan ucapan Jong Suk. “Aku akan selalu ada di sisi mu, oppa.” Sahut Hye Ah. Ia bingung harus berkata apa di hadapan Jong Suk. Detak jantungnya berpacu begitu kencang. Begitu juga dengan Jong Suk, bahkan Hye Ah bisa mendengar dengan jelas detak jantung itu.

 

“Kau gugup, eoh?” Canda Hye Ah  seraya melepas pelukannya. Merapikan pakaiannya lalu duduk dengan benar di hadapan Jong Suk.

 

“Anniyo.” Sahut Jong Suk terlihat canggung. Raut wajahnya tidak bisa berbohong.

 

“Tsk! Lee Sajangnim, aku tau kau namja yang sangat pemalu dan tertutup.” Ucap Hye Ah meremehkan. Sontak saja bola mata Jong Suk membulat mendengar ucapan Hye Ah yang seakan melecehkannya.

“Ulangi perkataan mu tadi!” Pinta Jong Suk geram.

“Lee Sajangnim, kau seorang pemalu tingkat akut.” Ucap Hye Ah mendekatkan wajahnya ke wajah Jong Suk. Bertatapan dengan Jong Suk semakin membuat jantung Hye Ah berdetak kencang. Salahnya sendiri menantang namja seperti Jong Suk yang sikapnya kadang tidak terduga.

 

Sekali gerakan, Jong Suk mengunci tubuh Hye Ah yang kini ada di bawahnya. Menatap tajam yeoja yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Mungkin sebuah senyum permohonan maaf. “Kau ingin memulainya dari mana, heum?” Tanya Jong Suk pelan.

 

“A..apa maksud mu, eoh?” Tanya Hye Ah yang tidak mengerti. Berada dalam posisi seperti ini membuat otak kanannya tidak bisa bekerja dengan baik.

 

“Sebentar lagi kita akan menikah, jadi ada baiknya ritual itu kita lakukan lebih awal agar little Lee cepat tumbuh di perut mu.” Ucap Jong Suk menyapukan bibirnya dari kening Hye Ah lalu mata, pipi, hidung, dan yang terakhir ia berhenti sejenak. Menelisik benda yang mampu membuatnya mabuk kepayang.

 

“Shireo! Berani kau berbuat macam-macam pada ku, aku akan berteriak.” Ancam Hye Ah mencoba mendorong tubuh Jong Suk agar ia bisa bebas dari cengkraman namja itu. Sepertinya tidak akan mudah.

 

“Berteriaklah chagi. Eomma sudah pulang dan hanya ada kita berdua di sini.” Kata Jong Suk. Nada suaranya berubah menjadi sedikti menggoda. Ia tau yeoja yang kini ada di bawahnya sedang gugup.

 

Rona merah seketika menghiasi pipi chubby Hye Ah. Menatap mata Jong Suk saja tidak berani. “Lihat aku Nyonya Lee.” Lirih Jong Suk menarik dagu Hye Ah agar mau menatap matanya. Ia benci jika bicara dengan orang tetapi orang itu tidak melihatnya.

 

“Lepaskan aku.” Lirih Hye Ah dengan suara parau. Gumpalan benda cair mulai memenuhi pelupuk matanya.

“Waeyo?” Tanya Jong Suk pelan.

 

“Aku takut hamil di luar nikah.” Sahut Hye Ah yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena malu.

 

Jutaan kupu-kupu seakan memenuhi rongga paru-paru Jong Suk. Niatnya tadi hanyalah bercanda, tidak ada keseriusan sama sekali. Tetapi Hye Ah berpikir jika Jong Suk akan melakukan hal itu padanya. Konyol. “Di kantor kau terlihat pintar dan sangat berpendidikan. Tapi sekarang? Lihatlah, kau seperti anak TK!” Kata Jong Suk menyentil pelan hidung Hye Ah.

 

“Ini karena kau oppa.” Ucap Hye Ah merajuk. Jong Suk segera bangun dari atas tubuh Hye Ah, duduk di samping yeoja itu. Demam yang sempat menderanya seakan hilang tanpa jejak setelah kejadian tadi. Sepertinya menggoda Hye Ah menjadi obat yang sangat ampuh.

 

“Berjanjilah pada ku.” Kata Jong Suk menggenggam tangan Hye Ah lalu mengecup punggung tangannya dengan mesra.

 

“Hiduplah dengan ku. Penuhi hari-hari ku dengan senyum mu.” Lanjut Jong Suk menatap lekat mata onyx Hye Ah yang entah sejak kapan mulai berkaca-kaca.

 

“ Kita mulai kisah cinta kita dari awal dan kubur segalanya yang telah terlewatkan. Jangan pernah mengungkit masa lalu di hadapan ku.” Kata Jong Suk –lagi- ia seakan tidak mengijinkan yeojanya bicara sepatah kata pun. Bahkan untuk sekedar mengucapkan cinta pada nya.

 

“Jangan per~”

 

“ Kapan aku bicara oppa?” Tanya Hye Ah kesal. Sejak tadi ia tidak di berikan kesempatan bicara oleh Jong Suk.

 

Jong Suk tersenyum, menyadari kesalahannya yang mengabaikan Hye Ah. “Bicaralah.” Ucap Jong Suk mengulum senyum.

 

“Tidak ada yang ingin ku katakan lagi. Aku lupa ingin mengatakan apa pada mu, oppa!” Balas Hye Ah. Yes! Ia menang kali ini. Lihatlah wajah Jong Suk mulai kesal.

 

“Kau tidak mencintai ku?” Tanya Jong Suk kesal.

 

Hye Ah menggeleng dengan senyumnya. Dari gelengan Jong Suk tau jika Hye Ah tidak menncintainya. Tapi senyuman itu. “Benarkah” Tanya Jong Suk memastikan.

 

“Aku terlalu mencintai mu, oppa. Aku bingung.” Ucap Hye Ah yang membuat Jong Suk bernafas lega.

 

“Aku juga mencintai mu.” Balas Jong Suk seraya memeluk Hye Ah lagi.

 

Keduanya larut dalam pelukan masing-masing. Hujan yang sudah mereda kini turun kembali. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang sedang melandan Jong Suk dan Hye Ah. Menurunkan air yang mampu menghapus keringnya dahan pohon. Menyembunyikan debu yan hendak beeterbangan di setiap titik. Sama halnya dengan Jong Suk yang mampu menyembunyikan perasaannya selama 1 tahun belakangan dan kini semuanya telah menemukan titik terangnya. Kebahagiaanlah yang ingin ia raih bersama dengan Hye Ah.

 

END

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s