Firefly = Cho Kyuhyun | FF Peserta Lomba

 

kytumblr_m380g61wMs1qeayfbo1_1280

Author (FB & Twitter)         : Zhangputri Dandelion/@zhangputri

Title                                        : Firefly = Cho Kyuhyun

Genre                                      : Romance, sad

Main Cast                                : Cho Kyuhyun, Lee Zhang Hyun

Disclaimer                              : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

***

Kunang-kunang, binatang kecil yang terabaikan di pagi hari dan tampak dipuja pada malam hari. Tak banyak yang memerhatikan binatang yang satu ini, karena keberadaannya yang hanya muncul di balik tirai malam yang kelam. Terkesan pemalu dan menjauh dari keramaian. Mereka adalah binatang duplikat bintang. Kelap-kelip memberikan cahayanya untuk menghias alam di kala malam. Mereka tampak sempurna menghias malam bersama titik-titik garis rasi bintang.

Kini aku bediri menatap ribuan kunang-kunang yang beterbangan mengelilingiku. menakjubkan, hanya satu kata itu yang bisa kuutarakan untuk menggambarkan mereka. Tanpa terasa bibirku ikut tertarik untuk mengembangkan senyum yang menarik. Aku begitu mengagumi serangga ini. Layaknya keajaiban alam di malam hari, tak pernah berubah sekalipun dunia yang dulunya hijau dengan pepohonan ini telah bertransformasi  menjadi gedung-gedung pencakar langit. Tapi setidaknya aku masih menemui serangga kecil ini di sini. Tepatnya di daerah Busan, Korea Selatan.

“Ini untukmu.” Suara parau itu sontak mengejutkanku. Kuulas senyum indah setelah melihat siapa sosok tegap yang kini memeluk tubuhku dari belakang. Seorang pria yang begitu kukagumi ketampanan rupanya. Senyum menawan seperti biasanya terlihat sangat menakjupkan dipandang mata. Tetapi pandanganku kini beralih pada botol kecil yang disodorkannya padaku. Botol kecil dengan kelap-kelip cahaya kunang-kunang di dalamnya. Sungguh menakjubkan.

Gomawoyo.” kuraih botol kecil itu dengan mata berbinar, layaknya kunang-kunang yang mengeluarkan cahaya dari abdomennya.

“Kau menyukainya?”

“Tentu. Ini sangat indah.”

“Seindah dirimu.”

Aku tersipu, pipiku merona merah muda. Selalu seperti itu, hal kecil yang dilakukannya tampak bermakna untukku. Berkali-kali kuucapkan rasa syukur pada Tuhanku karena telah memberikan seorang pria yang begitu baik, sayang, dan mencintaiku apa adanya. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.

“Mungkin cahaya kunang-kunang ini tak kalah indah dengan cahaya Menara Eifel,” bisikku tanpa mengalihkan pandangan mataku dari sang kunang-kunang.

“Menara Eifel dan gemerlap kota Paris adalah kunang-kunang peradaban.” Kulirik dia sekilas. Tak paham maksud ucapannya. Kunang-kunang peradaban? Apa itu?

Babo-ya! Sekalipun kau bodoh, jangan menunjukkan hal itu pada orang lain. Agar mereka tak bisa meredahkanmu.” Lagi. Berperan ganda sebagai orangtua yang selalu mengingatkan anaknya. Mengingatkanku untuk senantiasa menjadi gadis mandiri yang kuat.

“Kunang-kunang peradaban?”

“Gemerlap Menara Eifel adalah kunang-kunang masa kini. Keindahan hasil karya cipta manusia. Kunang-kunang peradaban.” Aku tak berkedip. Mulutku terbuka sedikit. Sejak kapan seorang iblis menjadi penyair bijak seperti ini? Tanpa kusadari aku tertegun. Terkagum-kagum dengan perumpamaan yang dibuatnya.

“Sudah malam gadis manis, kunang-kunang ini sudah mulai mengantuk,” Ucapnya sembari meletakkan dagunya di bahuku. Menghirup napas di situ.

“Aku masih belum puas di sini. Kunang-kunang ini sangat sayang untuk dilewatkan.” Aku cemberut. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Bahkan aku belum merasa bosan sekalipun sudah seharian kami berjalan-jalan. Aku tak ingin pulang, aku masih ingin di sini, melihat sang kunang-kunang itu lebih lama lagi.

“Kau bisa membawa pulang kunang-kunang dalam botol itu,” Bisiknya tepat di belakang telingaku. Aku bergidik karena sensasi geli yang ia timbulkan dari terpaan napasnya.

Oppa benar,” Jawabku lirih. Terdengar pernuh harap. Ingin sekali aku merajuk agar bisa mengulur waktu bersamanya lebih lama. Jujur, aku masih merindukannya.

Aku berjalan dengan terpaksa, ketika Kyuhyun Oppa menarik tanganku dalam genggaman tangannya. Menuntunku untuk berjalan beriringan dengannya. Aku masih bisa merasakan tangan hangatnya. Kehangatan yang selalu sama, tak pernah berubah sejak dua tahun yang lalu. Hubungan kami memang masih belum lama, tapi aku telah memantapkan hati untuk memilihnya. Berharap hubungan kami tak hanya sebagai pemikiran anak muda belaka, tetapi juga untuk masa tua kita nantinya.

Dewi batinku tertawa ketika memori otakku mengingat artikel kampus mengetikkan kalimat bahwa kami adalah pasangan serasi dengan tingkat kemesraan paling tinggi. Semua itu memang tak sepenuhnya salah, tapi fantasi mereka tentang kami terlalu berlebihan menurutku.

Cho Kyuhyun, pria dengan tingkat kepopuleran tertinggi di kampus itu memang tampak manis dengan wujud dewanya, tapi tak banyak orang yang tahu jika separuh jiwanya adalah titisan iblis yang turun secara langsung dari neraka. Entah apa yang dia sukai dari gadis miskin sepertiku. Gadis sederhana yang hidup sebetangkara di dunia. Kehilangan kedua orangtuaku di usiaku yang ke-13. Aku enggan bertanya mengenai hal itu, karena pada hakikatnya dia selalu ada di sisiku tanpa pernah mengeluhkan segala kekuranganku. Menutupi sisi gelapku dengan cahaya khas kunang-kunang yang terpancar tak langsung dari dalam dirinya.

“Kita sudah sampai, cepatlah turun dan tidurlah!” Aku mengangguk dan berniat untuk turun dari mobilnya. Tapi tiba-tiba tangan kekar melingkar erat mengelilingi tubuhku. Semakin erat dan lebih erat lagi.

Oppa.”

“Tetaplah seperti ini sebentar saja,” Ucapnya sembari menenggelamkan wajahnya di lekuk leherku. Sesungguhnya aku ingin bertanya, apakah terjadi sesuatu padanya. Tapi kuurungkan niatku ketika ia membalik badanku dan kembali memelukku erat. Sungguh, perasaanku berubah tak nyaman kali ini. Seolah tersugesti akan terjadi hal yang buruk sebentar lagi.

“Aku ingin kau selalu bahagia. Sekalipun aku tak lagi bersamamu.”  Napasku tercekat di titik ini. Mengapa dia mengatakan hal seperti itu. Seolah-olah ini adalah tanda perpisahan.

“Besok aku dan keluargaku akan pindah ke Paris, dan aku tak yakin aku bisa menolak keinginan orangtuaku itu.” Dadaku kembali sesak untuk kesekian kalinya. Dia, priaku akan pergi meninggalkanku. Kyuhyun Oppa melepaskan rengkuhannya, dia menatap dalam ke arah mataku yang entah sejak kapan telah berlinang air mata. Air mata yang begitu kukutuk keberadaannya.

“Maafkan aku.” Kulihat matanya memutar ke arah lain. Enggan menatap mataku yang telah membengkak dan memerah.

“Haruskah kau pergi? Lalu, bagaimana denganku?” Untuk kesekian kalinya air mataku kembali membasahi pipiku. Mata sipitku kian menyipit ketika genangan air mata tak mampu lagi kubendung. Isakan kecil kini mulai keluar dari bibirku.

“Kumohon, maafkan aku Zhang Hyun-ah. Sungguh aku tak berniat untuk meninggalkanmu, hanya saja… kedua orangtuaku tak menghendakiku untuk tetap tinggal. Air mata ibuku, membuatku tak sanggup untuk menolak keinginan mereka.” Dia berucap dengan nada bersalah. Matanya terlihat berkaca-kaca. Lalu bagaimana denganku? Haruskah aku mengalami kesakitan akan rasa kehilangan? Lagi, haruskah aku merasakan hidup dalam kesendirian? Orangtuaku sudah ada di surga, dan di dunia ini aku hanya punya dia, pria yang aku cintai. Aku hanya punya Cho Kyuhyun.

“Aku tanpamu bagaikan butiran debu,” Desisku lirih, hampir tak terdengar. “Ketika kau pergi maka aku hanyalah butiran debu yang harus dihapuskan.”

“Jangan berkata seperti itu! Kau lebih dari sekadar istimewa. Aku mengenalmu lebih baik dari pada kau megenal dirimu sendiri. Yang kuharapkan kau bahagia Zhang Hyun-ah. Berhentilah merendahkan dirimu sendiri.”

“Jika kau ingin aku bahagia, seharusnya kau tak akan berniat meninggalkanku Oppa. Kebahagiaanku cukup berada di sampingmu.” Dia memelukku sedetik kemudian. Kuharap Tuhan membantu meyakinkannya untuk tak pergi meninggalkanku.

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan tetap pergi besok. Maafkan aku.” Pupus sudah harapanku. Aku tak bisa mencegahnya pergi. Kebahagiaanku akan sirna, seiring debu yang hilang tertiup angin kencang. Mungkin terdengar seperti kalimat hiperbola, tapi itulah kenyataannya.

“Pergilah!” Akhirnya, setelah beberapa menit kami terdiam. Kalimat itu keluar dengan berat dari mulutku.

“Zhang-ah…”

“Pergilah sekarang juga Oppa, jangan buat aku menyesali keputusanku!” Aku berlari keluar dari mobil. Berhenti ketika kakiku terasa berat untuk kulangkahkan lagi. Ya Tuhan, apa yang baru saja kukatakan. Aku tidak ingin dia pergi Tuhan, aku ingin dia ada di sisiku. Aku ingin…

“Maafkan aku!” Kurasakan rengkuhan pada tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya ketika dia mengeratkan pelukannya. Aku benci keadaan ini, Aku benci ketika sebuah perpisahan kembali menghantuiku. Aku layaknya rumah yang kini akan kehilangan tiang penyanggahnya.

“Aku mencintaimu,” Dia berucap pelan tapi terasa begitu keras menerpa telingaku. “Jika Tuhan berkehendak, kuharap kita dipersatukan suatu hari nanti. Saranghaeyo Lee Zhang Hyun.”

Tak ada jawaban dari mulutku. Dia berkata jika Tuhan berkehendak. Kehendak mana yang dia maksudkan? Kehendak Tuhan adalah sebuah misteri. Bagaimana jika Tuhan berkehendak lain? Berkehendak pada sebuah perpisahan yang tak akan ada lagi sebuah pertemuan. Ya Tuhan, bagaimana hidupku tanpa pria ini di sampingku?

“Bisakah kau datang ke bandara besok pagi? Aku akan sangat senang jika aku bisa melihat wajahmu sebelum aku pergi ke Paris.” Suaranya terdengar serak. Dia menangis. Priaku yang tampan kini menangis bersamaku. Sesungguhnya dewi batinku ingin tertawa, yang mana untuk pertama kalinya seorang Cho Kyuhyun menangis. Tapi kurasakan air mata ini semakin deras meluncur, memberikan perekat kuat pada bibirku hingga terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.

“Terima kasih untuk dua tahun ini, maafkan aku.”

Dia pergi. Melepas pelukan hangatnya pada tubuhku. Suara derap langkahnya menjauh dariku. Semakin jauh hingga tak terjangkau lagi oleh indra pendengarku. Tubuhku luruh ke atas tanah, ketika suara mesin mobilnya bergerak meninggalkanku dalam keterpurukan ini. Aku kembali dari kesendirianku. Melepaskan kunang-kunangku dan bertahan hidup tanpa cahayanya.

***

            Tak terasa pagi telah menyapa dunia. Mengingatkan manusia jika tanggal pada kalender telah bertambah satu digit angka dari sebelumnya. Silau mentari pagi membangunkan tidurku yang baru kurasa nyaman sekitar satu jam yang lalu. Bahkan kini cahaya kunang-kunang dalam botol yang kuletakkan di atas meja pun tampak remang, karena kalah bersaing dengan teriknya sang mentari pagi.

Mataku masih berat untuk terbuka, terlihat jelas mata ini telah bekerja keras memproduksi air mata dalam jangka waktu yang cukup lama. Memori otakku memutar ulang peristiwa semalam. Mengingat jika priaku pagi ini tak akan lagi menapakkan kakinya di negara yang sama denganku. Cho Kyuhyun, dia akan ke Paris bersama keluarganya. Aku menangis, lagi. Pasalnya aku harus berlapang hati untuk melepasnya pergi.

Kulirik ponsel yang sejak semalam kulempar asal di atas ranjang. Baru kusadari jika aku tidur sambil menekuk kaki dan bersandar di samping tempat tidurku. Kuraih ponsel itu dan membuka berpuluh pesan dan panggilan yang terjawab. Dari orang yang sama, Cho Kyuhyun.

Aku tersenyum miris mendapati setiap pesannya tertera dengan kata maaf, meskipun dengan kosa kata yang berbeda di setiap pesannya. Kata maaf, entah sejak kapan aku mulai membenci kata itu. Maaf tak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Air mataku kembali luruh ketika kudapati sebuah E-mail dari Cho Kyuhyun beberapa menit yang lalu.

“Aku tak pernah tahu alasan mengapa aku mencintaimu. Yang kutahu, setiap berada di dekatmu serasa ada seebuah api unggun yang menghangatkan tubuhku. Mencairkan sisi beku dalam diriku. Lee Zhang Hyun, kau harus tahu jika selama ini aku selalu mengusahakan takdirku untukmu. Dunia ini tak selamanya memihak apa yang kita inginkan. Sejak awal aku selalu berusaha melindungimu, berusaha meyakinkanmu jika kau pantas untukku. Tapi kau selalu mengganggap rendah dirimu sediri. Kauingat ketika aku megajakmu menemui kedua orangtuaku? Kau mengatakan tak ingin menemui mereka terlebih dulu, tidak percaya diri adalah permasalahannya kala itu. Zhang Hyun-ah mianhae, aku tak bermaksud meninggalkanmu. Orangtuaku membutuhkanku, sekalipun di sisi lain aku juga membutuhkanmu. Mianhae, saranghae…”

Aku menjerit keras. Kuremas kemeja tepat di bagian dadaku yang kini terasa sesak. Hatiku tersayat keras, sakit yang menyakitkan. Nafasku tercekat, aku hanya bisa bersimpuh dalam balutan tangis di atas lantai. Aku merasa sangat bodoh, tak pernah menyadari semua hal yang dilakukannya adalah untukku, hanya untukku. Betapa egoisnya aku yang hanya bersembunyi di balik ketakutan tak diterima oleh dunia. Maafkan aku Oppa, maafkan aku.

Kuhapus kasar air mataku yang tak kunjung berhenti menetes. Beranjak cepat sembari meraih botol kecil berisi kunang-kunang pemberian Kyuhyun Oppa padaku. Aku berlari kencang, berharap aku masih sempat bertemu Kyuhyun Oppa di bandara. Benar, aku berniat untuk menemuinya, tak peduli dengan apa yang terjadi nantinya. Yang kubutuhkan sekarang adalah bertemu dengannya.

Aku berlari menuju stasiun bawah tanah, berharap kereta itu mampu membawaku ke bandara tepat waktu. Dan kusadari jika aku tak membawa uang sepeser pun dalam kantongku. Tapi sayangnya Tuhan berkehendak lain, kereta terakhir sudah berangkat sekitar 15 menit yang lalu. Tak putus asa dengan itu, aku segera berlari mencari rute terdekat untuk sampai di bandara.

Kaki kecilku bekerja keras kali ini. Terus berlari hingga titik lelah mengharuskanku berhenti beberapa kali. Bersyukur jika letak bandara tak terlalu jauh dari flat tempat tinggalku. Sekitar 5 kilometer lagi, aku akan sampai di bandara. Kulirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Hanya tersisa 30 menit sebelum pesawat Kyuhyun Oppa lepas landas.

Oppa, gidarilkheyo. Kajimayo!” Aku berlari dan terus berlari. Menyangkal rasa lelah yang senantiasa menggerogoti energi dalam tubuhku. “Yaa Tuhan, kumohon kuatkan aku dan kaki kecilku ini. Beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya, sekalipun ini yang terakhir kali.” Aku berdoa dalam derap langkah kakiku yang kian melemah akibat lelah.

Tiga puluh menit berlalu, dan masih menyisakan sekitar satu kilometer lagi untuk sampai di bandara. Rasa putus asa semakin kuat menjalari tubuhku. Aku tak yakin jika aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kyuhyun Oppa. Sudah jelas jika pesawat yang akan ditumpanginya telah lepas landas. Entah kekuatan dari mana kakiku terus melangkah, bergerak pelan hingga kini aku benar-benar sampai tujuan.

Aku berhenti tepat di pintu masuk bandara. Nafasku terengah-engah. Kuelus dadaku pelan, berharap nafasku segera menormal. Setelah merasa cukup, aku bergerak mencari, mengelilingi berbagai sudut bandara ini. Kini aku tak lagi mencarinya sendiri, karena tanpa kusadari air mataku senantiasa menemani.

Tanganku gemetar, pikiranku kalut, dan kakiku mulai melemas tak mampu lagi menopang berat badanku. Aku kembali menangis terisak dalam tekukan lututku. Sungguh aku menyesal ketika mataku tak mampu menemukan sosok priaku. Kyuhyun Oppa, dia sudah benar-benar pergi meninggalkanku.

Oppa, mianhae. Jeongmal mianhae. Tak pernah kusadari jika kau begitu peduli padaku. Begitu memperhatikan kebahagiaanku. Aku mencintaimu Oppa, karena itu aku berusaha menjadi orang yang pantas untukmu. Sekalipun aku tak pernah yakin akan hal itu.” Aku terus terisak. Tanpa mempedulikan orang-orang sekitar yang kuyakin menatap aneh ke arahku. Aku tidak peduli.

“Aku berbohong. Aku berbohong ketika aku mengatakan merelakanmu pergi. Sungguh, aku ingin kau tetap di sini.”

“Benarkah?” Aku terlonjak kaget. Dengan sigap kuangkat kepalaku dari tekukan lututku. Mataku mencoba mengoreksi siapa sosok yang berdiri tepat di depanku saat ini. Seolah tak percaya, aku mengerjap-erjapkan mataku. Sekali lagi, aku terpaku.

“Zhang Hyun-ah, kenapa kau berjongkok layaknya anak kecil seperti itu hem? Sampai-sampai kau tidak sadar jika kau menjatuhkan botol ini.” kulihat Kyuhyun Oppa mengulurkan sebuah botol kecil berisi kunang-kunang milikku. Tanpa basa-basi aku segera menghamburkan diri dalam pelukannya.

“Aku tidak butuh cahaya kunang-kunang itu lagi. Aku hanya membutuhkan cahayamu Oppa,” tuturku dengan satu kali hembusan nafas.

“Masalahnya aku tidak punya cahaya,” bisiknya bodoh. Kucubit kecil pinggangnya. Dia merintih kemudian terkekeh kecil. Dadanya terasa bergetar karena tawanya. Masih sempatkah dia tertawa di saat seperti ini? Menyebalkan.

Tangannya tergerak untuk melepas rengkuhanku. Tapi aku bersikukuh tak ingin melepasnya. Kueratkan kembali rengkuhanku pada tubuhnya. Dia pun menyerah. “Aku butuh sandaran sekarang. Kakiku terasa lemas setelah berlari untuk sampai ke sini.”

Mwo? Jadi kau menyusulku ke sini hanya dengan mengendarai kaki pendekmu itu?” Dia tampak terkejut dan aku hanya cemberut.

“Aku tertinggal pemberangkatan kereta terakhir. Aku lupa tak membawa uang sepeserpun dalam kantongku. Keadaan memaksaku untuk berlari.” Dia menatapku tak percaya. Tapi kemudian kulihat seulas senyum tersungging di bibirnya. Terima kasih Tuhan, aku bersyukur karena mata ini masih bisa menjangkau senyumnya.

“Sebesar itukah rasa takutmu kehilangan seorang Cho Kyuhyun?” Dia berujar sembari menyisir rambutku dengan jari-jarinya. Kuakui, kepercayaan dirinya sangatlah tinggi. Lebih tinggi dari pada tingginya menara Eifel. Eifel? Yaa Tuhan, dia tidak jadi pergi ke Paris?

Oppa, kau tak jadi pergi? Pesawatmu sudah lepas landas sedari tadi. Bagaimana kau-”

“Ikutlah denganku!” Dia berucap tanpa mengindahkan pertanyaanku. “Ikutlah bersamaku ke Paris.” Mataku membulat sempurna. Ini adalah sebuah permohonan. Dia memohon padaku untuk ikut dengannya. Oh, duniaku berhenti di titik ini, dan aku lupa menghirup oksigen untuk respirasiku.

Oppa, apa maksud ucapanmu itu? Bagaimana mungkin aku bisa pergi denganmu?” Tanyaku tanpa beralih dari mata coklatnya. Memasuki celah retinanya untuk mencari sebuah kebohongan yang mungkin tersirat di sana. Tapi, tidak ada. Aku hanya menemukan sebuah kepercayaan di sana.

“Setelah aku menceritakan semua tentangmu, orangtuaku ingin bertemu denganmu. Kita akan terbang ke Paris untuk menemui keluargaku. Ikutlah denganku!” Manik matanya menghunus tajam ke arahku. “Aku tidak akan pernah tega membiarkanmu sendirian di Korea. Kuharap kita akan membuat keluarga baru di Paris.”

Diam tanpa kata. Air mataku luruh seketika. Butiran kristal bening membasahi pipiku tanpa permisi lebih dulu. Aku dan Cho Kyuhyun, sebuah keluarga baru. Dewi batinku melompat girang. Tuhan begitu sempurna dengan segala rencananya.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Aku memeluknya sangat erat. Begitupun ia. Merasa waktu seakan memuja kami berdua hingga dunia seakan menundukkan kepalanya pada keajaiban cinta yang tak pernah kuduga sebelumnya.

“Aku juga mencintaimu, Lee Zhang Hyun.”

Kini langkah kecil kaki ini telah mencapai tujuannya. Meskipun dalam kelamnya kehidupan, aku masih punya kunang-kunang alam nyata yang senantiasa memberikan kilau cahayanya.

***FIN***

2 thoughts on “Firefly = Cho Kyuhyun | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s