Dead Decision | FF Peserta Lomba

 

deaddecision

Lomba Menulis Fanfiction (@Page_KPDK & PenerbitQanita )

Author  : Glowing Girl

FB : Dewiks ShonavifaLidefa

 Twitter: @dewiks_azkia

Title : Dead Decision

Genre : Crime, Mystery

Length : PG-13

Main Cast :

  • Lee Hyuk Jae (Super Junior)
  • Lee Dong Hae (Super Junior)
  • Lee Sung Min (Super Junior)
  • Park Jung Soo (Super Junior)
  • Kim Young In (OC)

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

Selamat Menikmati ^^

Dead Decision

 

Hari berubah menjadi gelap saat matahari sudah menenggelamkan seluruh wujudnya. Tidak jauh berbeda dengan hati seorang pria yang kini tengah termenung di depan teras rumahnya. Pria itu menatap kosong pemandangan yang terlukis cukup indah di hadapannya. Entahlah, perasaannya saat ini benar-benar kalut; layaknya langit yang berubah menjadi hitam. Perlahan hatinya berubah menjadi gelap karena tidak ada lagi yang dapat menyinarinya semenjak ia kehilangan seseorang yang amat berarti di hidupnya. Tanpa sadar air matanya menetes. Kilatan-kilatan memori 2 tahun silam yang sangat menyakitkan itu kembali terlintas jelas di dalam otaknya. Ia meremas kasar rambutnya yang sedikit berantakan.

Ayolah, Lee Hyuk Jae, lupakan! jeritnya dalam hati.

 

###Dead Decision###

 

@Kantor Kejaksaan, Seoul.

 

Seorang pemuda berperawakan tampan tengah sibuk membolak-balikkan sebuah berkas yang berada di tangannya. Kedua bola matanya mengikuti arah gerak jarinya yang bergerak di atas tulisan -entah-apa-itu-. Pemuda itu adalah Lee Hyuk Jae. Seorang kepala kejaksaan yang terkenal dengan ketampanannya, namun selalu berhasil memecahkan teka-teki atau misteri sesulit apaan itu. Semua perkara yang ia tangani pasti akan selalu menemukan titik terang. Sehingga selain ketampanannya, ia juga dikenal sebagai jaksa terbijak dalam menangani sebuah kasus. Tak heran bila sekarang ia menduduki jabatan sebagai kepala jaksa yang disegani banyak orang.

 

“Jaksa Lee! Ada laporan penting untuk Anda!” seru salah seorang berjas hitam yang tengah menghampirinya dengan tergesa-gesa.

 

Hya! Mengapa seformal itu? Kita teman kan? Panggil saja ‘Hyuk’!” protesnya sambil beranjak dari tempat duduknya.

 

“Tapi kau adalah kepala jaksa. Aku tidak bisa memanggilmu seperti itu di tempat kerja, arra?” bisik pria yang kini berdiri di depan Hyuk Jae.

 

Aish! Jadi, ada laporan apa, Sungmin-ah?” tanya Hyuk Jae sambil tersenyum kecil.

 

“Jaksa Lee, ini akan terdengar menyakitkan, tapi saya baru saja mendapat kabar dari pihak kepolisian, bahwa telah terjadi pembunuhan berantai di kediaman orang tua Anda. Kedua orang tua dan adik kandung Anda ditemukan tidak bernyawa pukul 06.00 pagi tadi, dan kemungkinan besar mereka dibunuh oleh seseorang,” jelas Sungmin dengan wajah sendu.

 

Senyum Hyuk Jae memudar seketika saat mendengar ucapan Sungmin. Hyuk Jae terlihat sangat syock. Tubuhnya terasa lemas. Ia dapat merasakan jantungnya bergemuruh hebat. Bahkan seluruh otot sarafnya seperti berhenti berfungsi. Dengan sedikit tenaga yang masih ia miliki, Hyuk Jae mencoba menggerakkan sedikit bibirnya dan mengeluarkan suaranya meskipun seperti tercekat di dalam tenggorokan.

 

Mwoya? Kau bilang keluargaku dibunuh? Tidak mungkin!” Hyuk Jae memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Ia hampir saja tumbang kalau saja tangan Sungmin tidak segera menahan tubuhnya.

 

Sungmin segara memapah tubuh Hyuk Jae agar duduk di kursinya. Hyuk Jae menarik napasnya panjang.

 

“Sungmin-ah, bisakah kau mengantarku ke rumah orang tuaku?”

 

“Tentu,” sahut Sungmin.

 

Sungmin bermaksud membantu Hyukjae berdiri, namun tangan Hyukjae segara menahan lengan Sungmin dan memberi isyarat bahwa ia masih mampu untuk sekedar berjalan menuju ke tempat ia memakirkan mobilnya. Sungmin yang mengerti maksud isyarat tersebut hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Hyukjae menuju tempat parkir.

 

Sungmin segera menyalakan mesin mobil Hyukjae dan mengemudikannya. Di perjalanan, Hyukjae hanya diam dan matanya tampak memerah menahan air mata yang hampir tumpah. Kalau saja tidak ada Sungmin di sampingnya saat ini, mungkin Hyukjae sudah menumpahkan seluruh air matanya. Bagaimanapun juga ia merasa sangat sakit dan hancur mendengar keluarganya mati terbunuh. Meskipun sebelumnya ia sempat bertengkar hebat dengan orang tuanya.

 

“Hyukjae-ya, aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kau harus kuat! Ingatlah bahwa semua yang hidup pasti akan mati, tenangkan dirimu! Kau harus mengikhlaskan mereka,” ucap Sungmin di sela-sela aktivitas mengemudinya.

 

Hyukjae hanya menggangguk pelan dan kali ini air matanya berhasil mengalir meskipun hanya aliran kecil yang ia ciptakan.

 

Tidak begitu lama, mereka sampai di depan rumah orang tua Hyukjae. Banyak orang yang datang ke rumah itu untuk sekedar mencari informasi tentang kejadian tersebut termasuk dari pihak kepolisian. Tampak juga garis polisi yang melintang mengelilingi bangunan tersebut. Hyukjae turun dari mobilnya dengan perasaan berkecamuk melihat keramaian di tempat ia dibesarkan.

 

“Jaksa Lee, Anda sudah datang? Mari ikut saya! Jasad para korban masih berada di dalam dan akan segera kami bawa ke rumah sakit untuk diotopsi,” ucap salah seorang berseragam polisi yang baru saja menghampirinya.

 

“Kepala kepolisian Park, tunggulah beberapa menit! Aku ingin melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya. Tapi apa istriku juga datang kesini?” tanya Hyukjae sambil melangkah masuk ke rumah tersebut.

 

“Maaf, aku tidak melihatnya, mungkin istri Anda belum mengetahui tentang hal ini,” jawab kepala kepolisian Seoul; Park Jung Soo.

 

Hyukjae tersenyum kecut dan segera masuk ke dalam tempat yang pernah ia singgahi bersama orang tuanya. Relung hatinya seperti terkena lelehan besi. Panas! Sakit! Melihat wajah ibunya yang terlihat sangat pucat dan kaku. Hyukjae menggenggam erat tangan ibunya yang sudah tidak bernyawa dengan tetesan darah yang terdapat dalam bagian perutnya.

 

Eomma,” panggilnya lirih disertai isakan dan tetesan air mata yang sudah tidak sanggup lagi ia bendung.

 

Mianhaeyo, selama ini aku sudah menyusahkanmu, Eomma. Dan aku berjanji akan menemukan orang yang telah merenggut nyawa eomma,” ucap Hyukjae sambil mengecup tangan ibunya.

 

Hyukjae menoleh ke samping dan menatap jasad ayah serta adik perempuannya yang berada di samping jasad ibunya.

 

Appa, maafkan aku yang selalu menentangmu,” isak Hyukjae pedih.

 

“Hyuna-ya, kau pasti sangat membenci seorang kakak sepertiku, ‘kan?” racau Hyukjae dengan tersenyum miris. Dan aliran air matanya bertambah deras.

 

Pihak kepolisian segera membawa jasad para korban ke rumah sakit setelah dimasukkan ke dalam mobil ambulance.

 

“Sungmin-ah, kau ikut mereka ke rumah sakit, aku ingin disini sebentar!”  pinta Hyukjae kepada Sungmin yang sedari tadi berada di sampingnya. Sungmin mengangguk dan segera menyusul mobil ambulance yang baru saja melenggang dari halaman rumah tersebut.

 

Hyukjae menghapus air matanya dan mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi seseorang.

 

“Donghae-ya, bisakah kau membantuku untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang menimpa keluargaku?” ucap Hyukjae melalui ponselnya.

 

“Tentu, aku pasti membantumu. Saat aku mendapat berita ini, aku langsung mengkhawatirkan kondisimu, kau baik-baik saja, ‘kan?”

 

Nde, kau tidak perlu khawatir, kau hanya perlu membantuku untuk menemukan siapa pelakunya, aku mempercayaimu, karena kau adalah detektif terhebat yang pernah kukenal.”

 

Hyukjae segera mengakhiri pembicaraannya dan mematikan teleponnya. Hyukjae melangkah perlahan mengelilingi rumahnya dan tampak mengamati setiap sudut ruangan yang mengingatkan masa-masa kecilnya saat ia masih tinggal di rumah ini. Hyukjae mengamati meja makan di depannya; dimana jasad para korban ditemukan. Hyukjae sedikit membulatkan matanya saat melihat sisa makanan yang terdapat dalam meja makan tersebut. Alisnya mengernyit, karena ia heran melihat makanan tersebut bukan dari hasil buatan restoran maupun catering. Setahu dia, ibunya dan Hyuna –adiknya— tidak bisa memasak dan selalu memesan makanan untuk makan malam mereka atau makan di luar. Namun Hyukjae menyimpulkan, mungkin semalam bibinya datang juga untuk makan malam bersama. Lantas, siapa yang telah membunuh keluarganya? Mungkinkah bibinya? Tidak mungkin! Agh! Entahlah, saat ini Hyukjae tidak bisa berpikir logis. Hyukjae memilih pergi dari rumah itu sebelum ia benar-benar stress dengan keadaan ini.

 

***

 

Pagi ini adalah hari dimana keluarga Lee dimakamkan setelah kemarin selesai diotopsi. Selama pemakaman berlangsung, Hyukjae hanya memasang wajah datar melihat para kerabat yang hadir untuk menyampaikan bela sungkawa. Tampak juga Kim Young In, istri Hyukjae yang selalu berada di sampingnya untuk memberi ketenangan kepada suaminya itu. Setelah acara pemakaman keluarganya selesai, Hyukjae langsung bergegas untuk pergi ke kantornya. Namun Young In segera menahannya.

 

“Hyukjae-ya, tidakkah sebaiknya kau libur dulu?”

 

Anni, Yeobo, aku harus segera menemukan siapa pelakunya, aku benar-benar ingin menjatuhi hukuman yang seberat-beratnya kepada orang itu!”

 

“Tapi, Hyuk, kau juga perlu istirahat.”

 

“Sudahlah, aku baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskanku,” ucap Hyukjae tidak peduli dan langsung meninggalkan tempat pemakaman orang tuanya tanpa memperdulikan orang-orang yang hadir dalam pemakaman tersebut.

 

Sungmin sebagai sahabat Hyukjae yang juga berada di tempat itu segera mengikuti Hyukjae dibelakangnya. Kedua orang itu masuk ke dalam mobil Hyukjae dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

 

Yeoboseyo?”

 

Hyukjae-ya, aku sudah sampai di lokasi, ada beberapa orang dari pihak kepolisian yang juga datang ke tempat ini.”

 

Ne, tunggulah beberapa menit! Aku hampir sampai.”

 

@Lokasi Kejadian, Rumah Keluarga Lee Hyukjae

 

“Selamat siang, Jaksa Lee!” sapa Park Jung Soo yang juga ada di tempat kejadian perkara.

 

“Jungsoo-ya, kau juga datang kesini, eoh? Mengapa kau tidak menyuruh anak buahmu saja?” tanya Hyukjae.

 

“Karena aku ingin turun tangan dalam menyelidiki kasus yang menimpa keluarga dari sahabatku sendiri.”

 

Jeongmal gomawo, Jungsoo-ya.” Hyukjae, Jungsoo dan Donghae segera masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Sebenarnya Donghae, Hyukjae, Jungsoo, dan Sungmin sudah bersahabat sejak berumur 10 tahun. Sehingga mereka saling mengenal satu sama lain. Dan mereka mempunyai cita-cita yang sama. Yaitu memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan. Jadi wajar, bila sekarang mereka bekerja di bidang pemberantasan kejahatan seperti menjadi seorang polisi, jaksa maupun detektif.

 

Keempat orang itu tampak sibuk mengamati setiap titik ruangan yang terdapat dalam rumah tersebut untuk mencari sebuah bukti. Selain itu, Jungsoo menyuruh para anak buahnya untuk mencari sejumlah saksi yang dapat dimintai keterangan.

 

Tanpa terasa, 2 jam sudah mereka menyelidiki rumah tersebut, namun sepertinya mereka belum menemukan sebuah titik terang yang dapat menuntunnya untuk menemukan siapa pelakunya. Raut wajah Hyukjae terlihat kecewa karena ia belum menemukan sebuah bukti kuat untuk menemukan si pelaku. Hyukjae beserta para ketiga sahabatnya memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan di rumah itu besok pagi.

 

Hyukjae segera kembali ke apartementnya. Ia langsung masuk ke dalam tempat tinggalnya, dan melihat istrinya tengah tertidur di sofa ruang tamu. Perlahan Hyukjae mendekatinya dan mengecup lembut kening istrinya itu.

 

“Young in-ah, kau menungguku? Mianhae,” lirih Hyukjae sambil mengusap pipi Young In.

 

Young in membuka matanya ketika merasakan sentuhan hangat pada wajahnya. Wanita itu sedikit menggeliat untuk meregangkan otot-otot sarafnya.

 

“Hyuk, kau sudah pulang?” tanya Young In pelan.

 

Hyukjae menatap lembut wajah Young In, kemudian ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.

 

“Sekarang aku hanya memilikimu, Yeobo. Kuharap kau tidak meninggalkanku, saranghaeyo,” ucap Hyukjae sambil mengecup pangkal kepala Young In.

 

Young In mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya, dan Hyukjae dapat merasakan bahwa tubuh Young In bergetar hebat; seperti ketakutan.

 

Nado. Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Hyuk,” sahut Young In.

***

 

@Kantor Kejaksaan, Seoul.

 

Hyuk jae terlihat sangat sibuk dengan berkas-berkas yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia masih belum juga menemukan titik terang siapa pelaku pembunuhan tersebut. Ia mengacak frustasi rambutnya dan mencoba menenangkan pikirannya yang sedikit kacau.

 

“Jaksa Lee, dari hasil otopsi diterangkan bahwa orang tua serta adik Anda meninggal karena diracun terlebih dahulu, dan pelaku menusuk tubuh para korban setelah mereka kehilangan kesadaran. Itu menurut analisa saya,” tutur Sungmin.

 

Ne. Aku sudah memperkirakan seperti itu juga, tapi mengapa pisau itu tidak ada di dekat para korban? Atau mengapa di rumah orang tuaku tidak ada satupun barang bukti yang bisa membantu menemukan siapa pelakunya?” timpal Hyukjae.

 

Sungmin menatap sendu wajah Hyukjae, ia tahu bahwa perasaan sahabatnya ini sedang sangat kacau. Apalagi ambisinya untuk menemukan si pelaku membuat Hyukjae terlihat sangat kelelahan dan kurang memperhatikan kesehatannya.

 

“Sungmin-ah, menurutku si pelaku adalah orang yang dekat dengan keluargaku, mereka terbunuh ketika makan malam, dan yang aku tahu mereka memasak makanannya sendiri. Tapi, selama ini eomma dan Lee Hyuna tidak bisa memasak, mereka selalu memesan makanan dari luar. Jadi kemungkinan besar orang itu adalah orang terdekat dan sengaja memasak makanan untuk makan makan yang telah diberi racun,” jelas Hyukjae.

 

“Lalu, menurut Anda siapa orang terdekat itu?”

 

Molla. Apa bibiku? Atau sepupuku? Mana mungkin mereka yang membunuhnya!”

 

“Atau mungkin istri Anda?” ujar Sungmin pelan.

 

Hyukjae membulatkan matanya mendengar ucapan Sungmin. Ia tidak percaya bahwa sahabatnya bisa berbicara seperti itu. Apa? Istrinya? Ia menuduh istrinya yang membunuhnya? Tidak mungkin!

 

“Maaf, jika saya lancang, maaf! Saya tidak bermaksud menuduh istri Anda.” Sungmin segera meralat kata-katanya.

 

“Tidak perlu berbicara seformal itu kepadaku! Dan tidak mungkin Young In melakukan semua itu! Dia gadis yang baik dan sangat menyayangi orang tuaku. Hati-hati kau dalam berbicara, Sungmin-ah,” tandas Hyukjae sedikit kesal.

 

Ne. Mianhae, Hyuk. Aku percaya, bila Young In tidak mungkin membunuh keluarga dari suaminya. Sekali lagi aku minta maaf! Tapi bukankah pernikahan kalian tidak direstui oleh keluargamu?”

 

“Tapi bukan berarti Young In yang melakukannya! Lebih baik sekarang kau temani aku ke rumah orang tuaku, aku ingin mencari barang bukti yang mungkin masih tertinggal disana.”

 

Sungmin mengangguk setuju dan segera bergegas pergi ke tempat tersebut.

 

***

 

@Kediaman Orang Tua Hyukjae

 

Di rumah itu terlihat beberapa polisi yang sibuk mencari titik terang dari kasus pembunuhan tersebut. Hyukjae melihat Donghae dan beberapa anak buahnya tengah mengamati setiap sudut ruangan.

 

“Donghae-ya, apa kau sudah menemukan sesuatu?”

 

“Belum. Mianhae,” sesal Donghae.

 

Gwaenchana. Kajja ikut aku ke dapur!” ajak Hyukjae.

 

Di dapur terlihat Jungsoo tengah mengusap kaca  lemari menggunakan sebuah alat khusus untuk menemukan sidik jari si pelaku.

 

“Jungsoo-ya, kau tampak sibuk. Gomawo atas bantuanmu,” sapa Hyukjae.

 

“Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang polisi,” sahut Jungsoo sambil tersenyum.

 

Donghae melangkah menuju meja makan dan seperti mencari-cari sesuatu. Sedangkan Hyukjae melangkah menuju wastafel yang terdapat di dalam dapur untuk mencuci tangannya yang sedikit berdebu.

 

Namun tiba-tiba kedua bola mata Hyukjae membulat saat menyalakan kran wastafel, karena ia melihat sesuatu yang mengkilat tergeletak di dalam lubang pembuangan air wastafel. Hyukjae segera mengambil benda tersebut. Dan kali ini bola matanya seperti hampir keluar saat melihat benda tersebut dengan jelas. Keringatnya tiba-tiba mengalir sangat deras. Darahnya seakan membeku. Dan untuk sejenak ia kesulitan untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Hyukjae kembali mengamati benda tersebut. Ia sangat tidak percaya benda itu bisa berada di tempat ini. Benda yang sangat ia kenal dan selalu dilihatnya setiap hari. Tubuh Hyukjae sedikit bergetar karena ia merasa seperti kehilangan keseimbangannya. Namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tepukan di bahunya. Dengan sigap Hyukjae segera menyembunyikan benda tersebut ke dalam saku jasnya.

 

“Hyukjae-ya, apa kau menemukan sesuatu?” tanya seseorang di belakangnya yang ternyata adalah Donghae.

 

Anni, aku tidak menemukan apa-apa,” jawab Hyukjae sedikit gugup.

 

Gwaenchana? Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat. Kau sakit, eoh?” tanya Donghae cemas melihat perubahan pada wajah sahabatnya itu.

 

“Hyukjae-ya, lebih baik kau pulang saja, dan beristirahat!” saran Sungmin yang juga menghampiri Hyukjae.

 

Gwanchana, aku baik-baik saja,” elak Hyukjae.

 

“Kau keras kepala sekali,” ucap Donghae sambil memuul ringan dada bidang Hyukjae.

 

“Pulanglah! Biar kami yang menyelidiki kasus ini,” seru Jungsoo.

 

Mendengar ucapan ketiga sahabatnya itu, Hyukjae pun sedikit luluh dan menuruti ucapan para sahabatnya. Hyukjae memilih pulang dan beristirahat di apartementnya.

 

Saat tiba di dalam apartementnya, Hyukjae melihat Young In tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya beserta istrinya. Hyukjae menatap ragu punggung Young In, hingga wanita itu menoleh ke arahnya dengan tersenyum. Hyukjae mendekatinya perlahan dengan tatapan datar.

 

“Kemarin malam saat terjadinya pembunuhan di rumah Eomma dan Appa, kau ada dimana? Sepertinya saat itu kau tidak berada di rumah,” tanya Hyukjae tiba-tiba.

 

“Mm.. aahh.. itu.. aku pergi ke rumah Hyo Jae,” jawab Young In dengan terbata-bata.

 

Jinjjayo? Mengapa malam itu kau tidak pulang?”

 

“Aku menginap di rumahnya, karena kupikir kau tidak akan pulang, jadi aku memutuskan untuk menginap di rumah Hyo Jae,” jawab Young in sedikit gugup dan menghentikan aktivitasnya sejenak.

 

Hyuk jae menatap wajah Young In lembut dan mencoba mencari kejujuran dari sinar mata yang terpancar pada istrinya tersebut. Namun ia tidak menemukannya. Hyukjae meraih tangan kanan Young In dan mengecupnya.

 

“Dimana cincinmu? Mengapa tidak kau pakai?” tanya Hyukjae dengan rasa takut yang kini menyelimuti hatinya. Takut bahwa istrinya yang telah melakukan semua ini.

 

“Mmm.. aku tadi melepasnya ketika mencuci piring, dan aku lupa memakainya lagi,” jawab Young In dengan tersenyum kaku.

 

“Oh.. bisakah kau memakainya lagi sekarang?” pinta Hyukjae. Dan kali ini hatinya berdesir hebat. Ia tidak ingin ucapan yang didengarnya dari Sungmin adalah sebuah kebenaran.

 

“Nanti aku akan memakainya lagi. Lebih baik kau sekarang mandi dan makanlah! Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu.”

 

Anni. Aku ingin kau memakainya sekarang!” lantang Hyukjae, membuat Young In tersentak kaget.

 

Wae? Mengapa kau aneh sekali, Hyuk?”

 

Hyukjae menatap kembali wajah Young In dengan mata memerah menahan amarah sekaligus rasa sakit yang sudah mulai tumbuh di hatinya.

 

“Kau membohongiku, ‘kan?” Hyukjae meninggikan suaranya dan mengeluarkan cincin dari saku jasnya.

 

Young In tampak ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat melihat cincin pernikahannya berada di tangan Hyukjae. Bagaimana bisa benda itu berada di tangan suaminya?

 

“Apa yang kau lakukan di rumah Eomma dan Appa? Katakan yang sejujurnya kepadaku!”

 

“Hyukjae-ya, aku. . . aku hanya . . . anni. Aku tidak pergi ke rumah Eomma!”

 

“Aku mohon, katakan yang sejujurnya kepadaku, setahuku, kau tidak pernah ingin pergi ke rumah orang tuaku, tapi mengapa aku menemukan cincin ini di tempat itu?”

 

“Jadi, apa kau menuduhku yang melakukan semua ini?”

 

“Aku tidak berkata seperti itu, aku tidak menuduhmu, CHAGI, aku hanya ingin kau berbicara jujur kepadaku, sebelum orang lain mengetahui kebenarannya!” Suara Hyukjae kembali meninggi.

 

“Hyukjae-ya.” Bibir Young In bergetar menahan air mata yang sudah mulai mengalir. Belum pernah ia melihat suaminya semarah ini kepadanya. Hyukjae memegang kedua pipi Young In untuk menelisik bola mata istrinya tersebut.

 

“Young in-ah, aku berharap bukan kau yang melakukannya. Jangan katakan kau yang melakukannya, kumohon!” isak Hyukjae.

 

Mianhae, Hyuk. Jeongmal Mianhae,” lirih Young In.

 

Andwae, kumohon jangan katakan!” pekik Hyukjae.

 

“Maafkan aku.”

 

Hyukjae menjatuhkan lututnya di atas lantai sehingga ia berlutut di depan Young In yang terisak sama halnya dengan dirinya.

 

Wae? Mengapa kau harus melakukannya?”

 

“Karena aku sudah tidak sanggup lagi, Hyuk. Mereka selalu mengusikku, mereka menghinaku dan Eomma sering menamparku, kau tau ‘kan kedua orang tuamu tidak merestui pernikahan kita? Dan Hyuna juga sangat membenciku.”

 

Hyukjae mengangkat kepalanya untuk melihat wajah istrinya.

 

“Kau tidak tahu, Hyuk. Bahwa ketika kau bekerja, mereka selalu datang ke apartement kita dan menghinaku, eomma selalu saja memaksaku untuk menceraikanmu, sedangkan aku tidak mungkin bisa pergi darimu, aku sudah tidak tahan lagi, Hyuk,” isak Young In.

 

Hyukjae meremas dadanya yang terasa semakin sesak. “Tapi tidak seharusnya kau melakukan semua itu.”

 

Mianhae, saat itu aku benar-benar kehilangan kendali. Malam itu Hyuna menjemputku dan mengajakku makan malam di rumah, aku menolak, tapi Hyuna memaksaku. Dan saat tiba di rumah, mereka terus saja menyindirku dan mencaciku, hatiku terasa panas mendengarnya. Hingga entah setan apa yang menyuruhku melakukan semua itu. Mianhae, aku terbakar emosiku, dan tidak bisa mengendalikan amarahku,” ungkap Young in masih terisak.

 

Geumanhae! Kumohon jangan bicara lagi! Apa yang harus aku lakukan? Mengapa harus kau?” Hyuk jae perlahan bangkit dari tumpuannya dan menggenggam kedua bahu Young In.

 

“Tidak seharusnya kau melakukannya jika kau benar-benar mencintaiku. . . Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mengapa harus dirimu, Chagiya? Kau tahu ‘kan, aku adalah seorang jaksa yang menuntut dan menjatuhi hukuman bagi orang yang bersalah. Tapi bagaimana aku bisa melakukannya jika orang itu adalah kau?” Hyuk jae mengusap frustasi kepalanya. Hatinya menjerit perih. Ia benar-benar tidak ingin mempercayai semua yang baru saja ia dengar. Memang terkadang sebuah kebenaran sangatlah menyakitkan. Jadi banyak yang memilih berdusta hanya untuk menghindari rasa sakit itu meskipun sebenarnya berbohong itu lebih menyakitkan, karena menyembunyikan sebuah kebenaran hanya akan membuat hati kita tersiksa dan perlahan berubah menjadi gelap.

 

Hyukjae memalingkan tubuhnya dari wajah istrinya. Tangannya mengepal menahan segala kepedihan dan kebimbangan yang menyerang dirinya. Ia terlihat sangat kacau. Keputusan apa yang harus ia ambil? Haruskah ia menggugat hukuman mati bagi istrinya? Tidak! Itu sama saja ia mencabut paksa jantungnya dari dalam tubuhnya. Atau sebaiknya dia menyembunyikan kebenaran ini? Tapi dia bukan seorang jaksa yang pengecut! Yang menghindari masalah untuk mencari aman.

 

Arrgghh!!” Hyukjae menggeram marah. Marah pada dirinya sendiri yang tidak dapat melindungi istri dan keluarganya. Ia kesal karena tidak bisa menjaga perasaan Young In; istrinya.

 

Hyukjae menoleh sekilas untuk menatap wajah Young In. Kemudian ia kembali memalingkan wajahnya sambil berucap, “Young in-ah, besok ikut aku ke kantor polisi dan katakan semua kebenarannya. Setelah itu, jangan tanyakan kepadaku apa yang akan terjadi selanjutnya kepada dirimu,” ucap Hyukjae yang masih bisa mendengar isakan keras Young In.

 

Saranghae,” gumam Hyukjae sebelum berlalu pergi ke kamarnya.

 

***

 

Pagi harinya, Hyukjae sudah terlihat rapi dengan setelan jas kerjanya sebagai seorang jaksa. Namun berbeda dengan Young In yang terlihat berpakaian sederhana. Mereka terlihat hening dan sedikit canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan dan hanya suara angin yang berhembus mengiringi perjalanan mereka ke kantor kepolisian; Seoul. Park Jungsoo terkejut melihat sahabatnya itu datang ke tempat kerjanya bersama Young In.

 

“Jaksa Lee, ada perlu apa kau kemari?” tanya Jungsoo.

 

Hyukjae tidak menjawab pertanyaan Jungsoo dan tiba-tiba ia meletakkan beberapa berkas di atas meja Jungsoo.

“Semua ini adalah berkas pengakuan si pelaku beserta barang bukti yang sudah aku masukkan di dalamnya, kau bisa menangkap pelaku tersebut sekarang juga. Dan aku sudah mempersiapkan sidang untuk menuntut si pelaku,” ucap Hyukjae yang berhasil membuat bola mata Jungsoo membulat.

 

“Siapa yang kau sebut pelaku?” tanya Jungsoo bingung.

 

“Seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku,” jawab Hyukjae datar.

 

“Maksudmu? Tidak mungkin Young In, bukan?” lontar Jungsoo tidak percaya.

 

Young in terlihat sangat ketakutan dan menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan sedikit ketakutannya. Hyukjae yang menyadari hal itu segera menggenggam tangan Young In. Bagaimanapun juga, ia masih sangat mencintai istrinya itu. Ia tidak ingin kehilangan lagi orang yang disayanginya. Dan ini adalah keputusan terberat yang harus Hyukjae ambil.

 

Jungsoo membuka mulutnya –terkejut— dan menatap wajah Hyukjae dengan hati-hati. Hyukjae membalas tatapan Jungsoo seolah memberi jawaban atas pertanyaan Jungsoo.

 

***

 

Tiba saatnya hari dimana persidangan Kim Young In dilaksanakan. Sekaligus hari terberat yang harus Lee Hyuk Jae hadapi. Tampak beberapa orang sudah memenuhi ruang sidang, tak terkecuali dengan Lee Hyuk Jae yang berpura-pura kuat untuk mnyembunyikan kepedihan hatinya. Di tempat itu hadir juga Park Jungsoo, Lee Donghae, dan Lee Sungmin untuk turut menyaksikan persidangan tersebut. Mereka sangat mengerti perasaan sahabatnya itu saat ini. Dimana ia harus menentukan keputusan terberat dalam hidupnya.

 

Persidangan berlangsung dengan hikmat dan tenang. Hyukjae tidak berani sedikitpun untuk menatap wajah istrinya yang berdiri di podium tersangka. Ia takut pertahanannya runtuh. Ketiga sahabat Hyukjae menatap wajahnya sendu, mereka mengkhawatirkan kondisi Hyukjae saat ini.

 

Dan kini saatnya seorang jaksa untuk membacakan tuntutannya. Hati Hyukjae berdesir hebat, ia terlihat menghela sedikit napasnya untuk mengontrol perasaannya agar tidak terlihat gugup. Hyukjae menatap sekilas wajah istrinya dan mulai mengeluarkan suaranya.

 

“Menurut keterangan sejumlah saksi dan beberapa barang bukti yang telah kami temukan serta pengakuan dari mulut tersangka, maka saya putuskan—”

 

Hyukjae menghentikan ucapannya. Apa yang harus ia katakan? Tidak seperti biasanya, ia terlihat ragu-ragu dalam menjatuhi hukuman. Namun kali ini memang bukan kasus biasa! Melainkan kasus yang melibatkan orang terkasihnya. Bagaimanapun juga ia adalah seorang suami yang tidak ingin kehilangan istrinya. Tapi dia juga seorang jaksa yang harus memberikan hukuman setimpal kepada orang yang melakukan tindak kejahatan. Dan saat ini posisinya adalah sebagai seorang jaksa. Seorang jaksa yang patuh terhadap hukum dan harus menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Tampak bola mata Hyukjae memerah menahan air matanya.

 

“Saya putuskan . . . untuk memberikan tuntutan hukuman mati bagi si tersangka,” ucap Hyukjae. Bibirnya terasa sangat panas setelah mengucapkan kalimat tersebut. Dan air matanya mengalir begitu saja saat menatap wajah istrinya.

 

Mianhae,” lirih Hyukjae perih. Ia tidak percaya bahwa ia telah menjatuhi hukuman mati kepada istrinya sendiri.

 

Setelah hasil keputusan hakim disampaikan, sidang pun berakhir. Hyukjae dapat melihat istrinya tengah menangis, dan itu semakin membuat hatinya teriris. Ketiga sahabatnya menghampiri Hyukjae untuk menenangkan perasaannya.

 

Begitulah kebenaran. Tidak tampak, namun sangat menyakitkan bila harus diungkapkan. Tidak jauh berbeda dengan keadilan, meskipun berat untuk diputuskan, namun kita harus bisa bersikap adil sesuai kenyataan tanpa melihat siapa orang tersebut.

 

END

One thought on “Dead Decision | FF Peserta Lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s