Be With You | FF Peserta Lomba

 

wooyoung_everlast_by_chaBomb21

Author (FB & Twitter):

https://www.facebook.com/ambararum.cakra

https://twitter.com/AmbarCakra

 

Title : Be With You

 

Genre : Fantasi, Romance

 

Main Cast :

–        Jang Wooyoung (2pm)

–        Park Hye Wool (OC)

 

Back Song : Jang Wooyoung – Be With You

 

Disclaimer  : This Fan fiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me !

 

Happy Reading :)

 

Matahari bersinar cerah, daun-daun mulai berguguran dan semilir angin berhembus pelan menerbangkan beberapa helai daun yang telah menguning. Musim gugur. Ya, saat ini kota Seoul memang sedang memasuki pertengahan musim gugur. Hembusan angin yang membawa hawa sejuk itu memberikan ketenangan tersendiri.

Sama halnya dengan suasana di Hannyoung High School. Salah satu dari jejeran sekolah elite di kota Seoul. Saat ini memang sedang jam pelajaran jadi tidak heran jika suasana di sekolah ini sangat tenang dan sepi. Hanya suara gesekan kapur dengan papan tulis dan beberapa suara lantang dari guru yang terdengar. Semua siswa duduk dengan tenang. Entahlah mereka sedang memperhatikan pelajaran yang disampaikan atau memikirkan hal lain.

‘Kriiiiiingg..’ suara bel pulang itu memecah kesunyian. Satu persatu murid-murid Hannyoung High School meninggalkan kelasnya. Mereka berbincang-bincang dengan teman-teman mereka. Entah itu membicarakan banrang-barang mewah yang baru mereka beli atau apalah itu.

Berbeda dengan Park Hye Wool, gadis berlesung pipit ini hanya berjalan sendiri dalam diamnya. Dia sadar sampai kapan pun dia tidak bisa berada diantara mereka. Ya, Hye Wool memang berbeda dengan siwa-siwa Hannyoung High School lainnya. Dia hanyalah gadis miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk belajar disekolah yang didominasi orang-orang kaya ini.

Hye Wool terus berjalan menyusuri jalanan sepi ini. Sesekali dia merasakan kerikil kecil menghantam tubuhnya. Dia yakin ini semua ulah teman-teman sekolahnya yang tidak menyukainya. Dia sudah sering mengalami hal seperti ini. Tapi kali ini benar-benar keterlaluan. Ini bahkan hampir sampai di rumahnya tapi mereka masih saja melemparinya. Apa tidak ada hal lain yang menarik selain membullinya?

Hye Wool membalikkan tubuhnya. Ditatapnya namja yang hendak melemparinya itu. Berani sekali namja ini, bukannya lari dia malah melemparkan batu yang digenggamnya kearah Hye Wool.

“Yak!! Apa yang kau lakukan eoh?” teriak Hye Wool. Namja itu tampak terkejut mendengar teriakan Hye Wool. Dia mulai berjalan mendekati Hye Wool dengan wajah bingungnya.

“Kau.. kau bisa melihatku?” Hye Wool sontak mengerutkan keningnya. Apa maksudnya? Apa dia piker Hye Wool buta dan tidak melihatnya?

“Kau piker aku buta eoh?”

“Aniyo. Hanya saja orang lain tidak bisa melihatku.”

“Nde?” Hye Wool benar-benar bingung dengan ucapan namja ini.

“Aku bukan manusia Bumi. Aku berasal dari planet lain dan tak ada satu orang pun yang bisa melihatku.” Hye Wool mengerutkan keningnya sesaat. Setelah itu dia beranjak pergi. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan orang gila seperti namja ini.

“Yak! Kau mau kemana? Kumohon bantulah aku.” Namja ini mencegat Hye Wool dan memohon padanya.

“Untuk apa aku membantumu? Tak ada urusannya denganku” Hye Wool beranjak pergi tapi lagi-lagi tangannya ditahan namja itu.

“Jebal”

“Sudah kubilang tidak ada urusannya denganku. Pergilah dan berhenti menggangguku!!” Hye Wool menghempaskan tangan namja itu dan melangkah pergi

Hye Wool memasuki apartemen kecilnya. Tempat inilah yang menjadi saksi bisu kehidupan kelamnya. Ya, Hye Wool hanya tinggal sendiri disini. Orang tuanya meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan. Dan saat itulah kehidupan kelamnya dimulai. Setiap hari dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Menjadi pengantar susu dipagi hari dan kadang bekerja di kedai ramen milik imonya.

Hye Wool baru saja keluar dari kamar mandi. Dia benar-benar lelah hari ini. Ingin sekali dia merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Langkahnya terhenti seketika, betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang namja tengah berbaring di kasurnya.

“Annyeong” namja itu melambaikan tangannya. Ah namja gila itu lagi. Bagaimana dia bisa masuk? Padahal Hye Wool yakin sudah mengunci pintunya.

“Yak!! Kenapa kau disini eoh? Bagaimana bisa kau masuk?”

“Bukankah sudah ku bilang aku dari planet lain. Masuk ke kamar kecilmu ini bukan masalah besar untukku Hye Wool-ssi.”jawab namja itu

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

“Bukankah sudah ku bil…”

“Ash.. Arraso arraso. Sekarang cepat pergi dari kamarku! Aku tidak peduli dengan urusanmu” potong Hye Wool. Dia sudah muak dengan bualan-bualan namja itu.

“Shirreo.” Namja ini benar-benar keras kepala

“Huuh… terserahlah aku tidak peduli” Hye Wool menghela nafasnya. Percuma saja berdebat dengan namja ini. Hye Wool membaringkan tubuhnya, dia tidak peduli dengan namja diampingnya yang sedang mengoceh (?) tidak jelas itu.

“Kau harus membantuku menemukan Kristal biru. Dengan begitu kekuatanku akan abadi dan aku bisa…” Hye Wool menutup kepalanya dengan bantal. Namja disampingnya itu benar-benar berisik.

“Yak apa kau mendengarkanku Hye Wool-ssi?” namja itu mengguncang pelan tubuh Hye Wool. Hye Wool yang m,erasa terganggu pun menepisnya kasar.

“baiklah, sepertinya kau sangat lelah hari ini. Tidurlah!” namja itu merebahkan tubuhnya disamping Hye Wool.

“Ah aku hampir lupa. Namaku Wooyoung”

 

—***—

 

Sudah hampir dua minggu Wooyoung mengikuti Hye Wool tapi sikapnya tak juga berubah, tetap dingin dan tak peduli padanya. Belakangan ini baru dia ketahui bahwa Hye Wool tak hanya bersikap dingin padanya tapi pada semua orang. Bahkan di sekolah pun dia tidak memiliki teman. Pernah beberapa kali dia melihat Hye Wool dibulli temn-temannya tapi dia selalu marah saat tahu Wooyoung membantunya. Hye Wool memang mengizinkan Wooyoung tinggal di rumahnya tapi dia sangat melarang Wooyoung untuk mencampuri urusan pribadinya.

Hari ini Hye Wool pulang seperti biasanya. Dia berjalan sendirian karena memang Wooyoung tidak mengikutinya hari ini. Dia bilang ingin mencari Kristal itu sendiri. Entah kenapa terbersit perasaan rindu di hati Hye Wool. Tak bisa dipungkiri dia merasa hidupnya lebih berwarna semenjak ada Wooyoung. Mendengar ocehan Wooyoung memberikan ketenangan tersendiri dihatinya.

Tanpa disadari sejak tadi ada empat namja yang mengikuti Hye Wool. Mereka berniat melempari Hye Wool dengan kotoran. Wooyoung yang mengetahui hal itu langsung memindahkan batu kedepan kaki Hye Wool dengan kekuatannya. Hye Wool yang tidak mengetahui bahwa ada batu didepannya itupun tersandung dan jatuh ke tanah. Detik berikutnya dia melihat sekantong kotoran terjatuh tak jau dari tempatnya. Ini pasti ulah teman-teman sekolahnya.

Hye Wool menatap batu yang disandungnya tadi. Dia yakin ini semua pasti ulah Wooyoung. Pasti dia sengaja menaruh batu didepan kakinya. Dan benar saja, tak lama kemudian Wooyoung muncul dengan wajah paniknya.

“Gwenchana?” Wooyoung berjongkok didepan Hye Wool

“Bukankah sudah kubilang jangan ikut campur urusanku!!” Hye Wool menyentakkan tangan Wooyoung yang hendak membantunya berdiri. Dia beranjak pergi meninggalkan Wooyoung.

“Yak aku hanya ingin menolongmu.” Wooyoung berlari mengejar Hye Wool

Hye Wool terus saja berjalan meninggalkan Wooyoung. Dia memang tidak suka jika ada orang lain yang mencampuri urusannya. Saking kesalnya Hye Wool bahkan tidak menyadari jika dia sedang ada di persimpangan. Dia menyebrang begitu saja tanpa melihat keadaan sekitar.

‘Tiiiiiiiiin!!!!’ tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Hye Wool yang terkejut tak sanggup menggerakkan badannya untuk sekedar menghindar. Hye Wool hanya bisa menutup matanya pasrah. Mungkin sebentar lagi dia kan bertemu orang tuanya.

Lama Hye Wool menutup matanya tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Apa dia sudah benar-benar mati? Tapi samar-samar dia masih bisa mendengar suara mobil itu menjauh. Perlahan dia membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya dia Hye Wool saat dia mendapati tubuhnya berada diatas tubuh Wooyoung. Belum sempat jantungnya kembali normal setelah kecelakan tadi kini jantungnya justru berdetak tak terkendali saat melihat wajah Wooyoung dalam jarak sedekat ini. Tubuhnya seketika menegang saat tatapan mereka beradu.

Hye Wool kembali ke alam sadarnya. Dia segera bangkit dari posisi itu. Menormalkan kembali jantungnya yang berdetak tak karuan.

“Ehem.. Gomawo” Hye Wool berjalan meninggalkan Wooyoung. Dia berusaha menutupi kegugupannya.

 

—***—

 

Mentari mulai bangkit dari peraduannya, memancarkan sinar kehangatan ke seluruh penjuru dunia. Kicau burung bersahutan seolah ingin membangunkan setiap insane yang terlelap dalam mimpinya.

Tapi sepertinya kicauan burung itu tidak mengusik gadis ini sama sekali. Dia masih saja terlelap dalam mimpinya. Berbeda dengan namja yang ada disampingnya ini. Bahkan sejak tadi matanya tak berkedip menatap gadis itu. Gadis yang entah sejak kapan mencuri hatinya. Dia menatap setiap inchi wajah gadis itu. Mata bulatnya yang terpejam, hidung mancungnya, lesung pipitnya yang terlihat saat dia tersenyum dan bibirnya yang selalu mengucapkan kata-kata dingin itu. Entah sejak kapan dia sangat menyukai bibir gadis ini.

Namja itu menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Wajahnya benar-benar seperti malaikat saat sedang tidur. Perlahan namja itu mendekatkan wajahnya pada sang gadis. Detik berikutnya bibirnya menempel sempurna pada bibir favoritnya itu. Hanya sekedar menempel karena dia tidak ingin membangunkan gadis itu.

Gadis yang bernama Hye Wool itu merasakan sesuatu yang mengusik tidurnya. Perlahan dibukanya kudua mata bulatnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat wooyoung yang berada tepat dihadapannya. Hanya bayangan transparan memang tapi ini terlihat begitu nyata. Dia merasakan ada sesuatu yang menempel pada bibirnya. Astaga apa Wooyoung sedang menciumnya?

Hye Wool membulatkan matanya sempurna. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.  Entah apa yang kini dirasakannya. Seperti ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang memenuhi rongga hatinya.

Setelah beberapa saat Wooyoung melepaskan ciumannya. Dia bangkit dari posisinya dan tersenyum kikuk.

“Mianhe” Wooyoung menggaruk tengkuknya yang tidak gatak. Entah setan apa yang merasukinya sampai dia berbuat sejauh ini.

Hye Wool bangkit dari tidurnya. Sama seperti Wooyoung dia hanya bisa tersenyum kikuk. Ada apa dengannya? Harusnya dia marah karena Wooyoung masuk kamarnya tanpa izin dan yang lebih parah lagi dia berani menciumnya.

 

—***—

 

Semilir angin musim gugur yang berhembus sejuk menyambut Wooyoung dan Hye Wool saat memasuki area taman yang sepi ini. Hari ini Wooyoung sengaja mengajak Hye Wool ke taman ini. Awalnya Hye Wool menolak tapi setelah dipikir-pikir tak ada salahnya merilekskan pikiran sejenak, lagipula sudah lama Hye Wool tak mengunjungi tempat favoritnya itu.

Keheningan melanda mereka berdua. Hanya suara gesekan daun yang tertiup angin yang terdengar. Hye Wool sejak tadi hanya focus pada buku yang dibacanya. Sedangkan Wooyoung memilih untuk memejamkan matanya sambil menikmati semilir angin dibawah pohon ini.

Tak lama kemudian Wooyung merasakan sesuatu yang aneh pada pohon ini. Seperti ada yang bergetar didalam sana seolah memberikan sebuah sinyal padanya. Ah sinyal ini. Bukankah ini sinyal yang ditimbulkan dari Kristal biru? Itu artinya didalam pohon sana…

Wooyoung sontak bangkit dari posisinya. Dia berjalan memutari pohon sambil meraba-raba batangnya. Hal ini benar-benar mengganggu Hye Wool. Baru saja dia ingin memaki Wooyoung kini dia justru terperangah melihat apa yang ada dihadapannya. Sebuah Kristal berwarna biru keluar dari pohon tua itu dan melayang kearah wooyoung. Bagaimana bisa?

“Yee… akhirnya aku menemukannya. Dengan ini aku bisa membuktikan bahwa aku pantas menjadi penerus klan Farnius yang suci. Yeay..” Wooyoung melocat kegirangan. Akhirnya dia bisa menemukan apa yang dicarinya selama ini.

Hye Wool terpaku mendengar hal itu. Terbersit rasa sedih dihatinya. Entah kenapa dia seolah tidak ingin hal ini terjadi.

“Chukkae… apa ini artinya kau akan segera pergi?” ucap Hye Wool lirih. Ada apa dengannya? Bukankah seharusnya dia senang karena terbebas dari setan cerewet itu? Tapi apa yang dirasakannya saat ini? Ocehan dan bualan Wooyoung seolah menjadi candu baginya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya tanpa tingkah konyol Wooyoung.

Wooyoung terdiam seketika. Dipandangnya Hye Wool dan Kristal itu bergantian. Inilah pilihan terberat dalam hidupnya. Disatu sisi dia sangat ingin kembali ke planetnya. Tapi di sisi lain dia tidak ingin meninggalkan gadis yang dicintainnya sendiri di dunia ini.

Setelah beberapa saat akhirnya Wooyoung menentukan pilihannya.

“Kristal ini. Aku sudah tidak membutuhkannya.” Hye Wool sontak mendongakkan kepalanya. Dia menatap Wooyoung bingung. Apa maksudnya?

Mata Hye Wool membulat sempurna saat dilihantnya Wooyoung menjatuhkan Kristal itu dan ke tanah dan berniat menginjaknya.

“Wooyoung-ah andweee!!!” Terlambat. Teriakan Hye Wool tidak berhasil menghentikan Wooyoung. Kini Kristal itu telah hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba cahay putih berpendar disekitar pohon itu. Hye wool menyipitkan matanya saat melihat cahay yang menyilaukan itu. Perlahan cahaya itu mulai meredup. Betapa terkejutnya Hye Wool saat melihat sosok Wooyoung muncul dari balik cahaya putih tadi. Sosoknya yang dulu transparan kini terlihat begitu nyata.

“Wooyoung-ah k-kau..”

Wooyoung berjalan mendekati Hye Wool. Direngkuhnya tubuh mungil Hye Wool. Ya, Wooyoung memutuskan untuk tetap berada di Bumi ini bersama gadis yang entah sejak kapan mejadi oksigen baginya. Hye Wool membalas pelukan hangat Wooyoung.

“wae? Kenapa kau melakukan ini semua?” Tanya Hye Wool di sela pelukannya.

Wooyoung melepaskan pelukannya. Ditatapnya Hye Wool dalam.

“Mana mungkin aku meninggalkan seseorang yang sudah seperti oksigen bagiku sendirian? Sudah cukup kau hidup kesepian selama ini. Mulai sekarang dan seterusnya aku akan selalu berada disampingmu. Menemanimu dalam suka maupun duka”

“Wooyoung-ah” lirih Hye Wool. Dia tak mampu lagi berkata apapun. Kata-kata Wooyoung tadi benar-benar menyentuh hatinya. Dipeluknya lagi tubuh tegap Wooyoung. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan namja ini.

“Berjanjilah untuk selalu berada disampingku Wooyoung-ah”

“Ne. yaksokhae. Kau juga harus berjanji untuk selalu dalam jarak pandangku!”

Hye Wool mengangguk dalam pelukan Wooyoung. Dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Wooyoung, pelangi yang telah mewarnai hari-harinya yang kelam.

Daun-daun yang berguguran dan semilir angin musim gugur menjadi saksi bersatunya cinta dua insan itu. Inilah jalan yang dipilih Wooyoung, meninggalkan semua ambisinya dan tinggal di Bumi ini bersama gadis yang dicintainya. Satu hal yang diinginkannya saat ini, yaitu selalu bersama Hye Wool.

“I just wanna be with you Hye Wool-ah”

 

 

_END_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s